Catatan Hessy

Ini blog isinya adalah hal-hal yang melintas di otak kananku. Karena yang melintas banyak, jadi ku pikir perlu ku buat semacam catatan, supaya besok-besok kalo aku lupa, ku bukalah catatan ini. Ya mudah2an catatan ini tidak hanya berguna untukku, tapi juga bagi orang lain. Salam Hangat Hessy

Husband & Wife Relationship

RELASI SUAMI – ISTRI

Sebuah Tanggapan Terhadap Ceramah Mamah & AA

Oleh: Hessy Suprantio

Di Limus Pratama – Cilengsi

Jumat, 24 Syawal 1429 H

PENDAHULUAN:

Hari ini, Jumat 24 Oktober 2008, aku tidak berangkat ke kampus pagi buta seperti biasanya karena sekarang sedang periode ujian tengah semester di kampusku. Jadi setelah sholat subuh, aku menyetel TV untuk mendengarkan ceramah agama. Mendengar ceramah agama adalah kebiasaanku jika aku tidak harus berangkat ke kampus pagi-pagi sekali dan setelah itu dilanjutkan mendengar berita nasional dan internasional kemudian tentu tak luput juga berita infotainment sebagai penyeimbang jiwa.(Hua..ha..ha… masa berita infotainment jadi penyeimbang jiwas seh? Gile kalee…..)

Sebenarnya rata-rata stasiun TV menyiarkan ceramah rohani pada pagi hari, tapi aku lebih sering mendengarkan ceramah Mamah & AA – Curhat dong… Penggemar acara ini sepertinya cukup banyak terbukti dari banyaknya telpon dan e-mail yang masuk. Tema yang sering dibahas adalah tentang permasalahan seputar rumah tangga. Tema ini sering dibahas mungkin karena banyak orang yang bermasalah dengan rumah tangganya. Dan terbukti banyak yang ingin curhat kepada Mamah. Yang curhat bukan hanya ibu-ibu tapi ada juga bapak-bapak yang curhat mengenai ”kebandelan” istrinya.

Hari ini tema Mamah & AA adalah mengenai hubungan suami istri. Pada dasarnya tidak ada yang baru yang ku dengar dari ceramah ini. Semuanya sama dengan ceramah para ustad maupun ustadzah yang pernah ku dengar. Tadinya aku berharap mamah punya tafsiran progressif dan sedikit berbeda dibanding ustad/ustadzah yang sering ku dengar. Sayang hal itu tidak terjadi. Tafsiran Mamah sama saja dengan para ustad/ustadzah umumnya. Padahal pada ceramah hari Kamis, 23 Syawal kemarin Mamah sudah cukup bagus ku kira. Cukup seimbang dalam meletakkan porsi hak dan kewajiban antara istri dan suami.Biasanya Mamah seperti itu, makanya aku menyukai ceramah Mamah. Kemarin ada yang bertanya seperti ini:

Ibu X : Mah, bagaimana sikap istri terhadap suami yang terlalu suka mengatur, padahal istri bisa mencari nafkah sendiri. Istri adalah seorang PNS.

Mamah: Maksudnya mengatur bagaimana? Bisa lebih jelas?

Ibu X: Begini mah, suami suka melarang-larang istri jika ingin pergi-pergi. Padahal istri punya penghasilan sendiri, seorang PNS.

Mamah: Pada dasarnya memang seorang istri harus memperoleh izin dari suami jika ingin keluar rumah. Dan apa hebatnya seorang PNS dengan yang bukan? Sama saja, dia tetap harus dengan izin suami untuk dapat keluar rumah. Suami bertugas sebagai imam istri dan wajib mendidik istri. Jadi jika istri ingin pergi ke majlis taklim lalu dilarang sementara suami tidak mampu mendidik istri di rumah, itu baru salah. Jadi dilihat kasusnya dulu.

AA Abel (lalu nyeletuk): Jadi walaupun istri memiliki penghasilan sendiri kalau suami minta dibuatin kopi, tetap harus mau kan ya Mah? Kalau ga mau kan dosa ya mah?

Dengan dingin mamah menjawab: Tidak. Tidak berdosa, karena rasulullah jika ingin minum susu, dia akan memerah sendiri susu kambing. Tidak menyuruh istrinya. Jadi jika bapak-bapak mengakui sebagai umat Muhammad sebaiknya meniru perilaku rasul. Suka membantu istri jika istri sedang kerepotan.

Aku tertawa mendengar jawaban mamah, ibu-ibu pengajian yang hadir di TV juga tertawa. Tentu tertawa senang. Karena mamah telah memanusiakan wanita yang berperan sebagai seorang istri. AA tercengang dan terdiam mendengar jawaban mamah. Seperti yang kita ketahui, menurut tradisi kita, istri sangat ditekankan untuk melayani suami bahkan ada suami yang amat sangat menuntut pelayanan serta perhatian dari istrinya. Terkadang sampai-sampai tidak melihat kondisi istri. Sudahlah istri sedang kerepotan, hanya untuk sekedar minum atau mengambil saputangannya saja harus istri yang melakukan. Sungguh sangat keterlaluan suami yang berperilaku demikian. Dengan jawaban telak mamah terhadap Abel, berarti mamah telah memberikan pengumuman pada dunia (minimal dunia penonton TV Indosiar) bahwa tradisi yang berlaku adalah tradisi yang salah. Tidak demikian contoh nabi memperlakukan istrinya. Nabi selalu berusaha meringankan beban istrinya. Contoh lain perilaku nabi untuk meringankan beban kerja rumah tangga istri adalah: nabi menjahit kancing bajunya yang lepas sendiri.

Selain itu nabi pernah tidur di teras rumahnya karena pulang kemalaman, dan setelah mengetuk tiga kali istrinya belum bangun juga, maka nabi memilih untuk tidur di luar saja. Beliau berpikir, mungkin istriku sangat kecapean sehingga tertidur dan tidak mendengar ketukanku..Coba kalau suami-suami sekarang….mana mungkin mau tidur di luar..bisa-bisa terjadi perang dunia ke tiga jika istri tidak membukakan pintu bagi suami. Dari mulut suami juga bisa keluar kata-kata koleksi kebon binatang yang menghujat istri. Tapi tentu tidak semua suami demikian. Ada juga suami-suami yang berperilaku menyerupai nabi dan memperlakukan istrinya secara manusiawi.

Hari ini mamah kembali berceramah, kali ini mengenai hubungan intim suami istri dan juga pengelolaan keuangan. Ada bapak-bapak yang menelpon dan menyitir hadis nabi yang sudah kita ketahui semuanya.

Bapak itu berkata: ”Ada hadist yang berbunyi, jika engkau melihat sesuatu yang ”menarik” diluar rumah maka pulanglah engkau. Terus mah jika istri menolak suami, padahal istri sedang tidak mens atau capek, alasannya hanya sedang tidak mood saja, itu dosa kan mah?”

Mamah membenarkan bapak tersebut dan menjawab: ”Ya benar. Bagi para suami yang melihat sesuatu di luar rumah yang membangkitkan hawa nafsu, maka pulanglah karena ada yang sedang menunggu di rumah. Lampiaskanlah hal tersebut di rumah. Istri yang sedang tidak ada uzur lalu menolak suami, itu berdosa dan dikutuk malaikat.. Ada juga hadisyang mengatakan: jika suami mengajakmu walau sedang berada di atas onta (dulukan cuma ada onta, belum ada mobil), maka wajib untuk menyambutnya. Jadi jika ibu-ibu diajak bapak sedang di atas mobil, ya harus mau. Demikian ibu-ibu.” Ibu-ibu yang menonton mengangguk-angguk mendengar ceramah mamah. Mendengar jawaban mamah aku agak kecewa, kenapa mamah tidak mengelaborasi lebih jauh masalah ini. Kenapa mamah tidak membahas bagaimana perilaku nabi dalam hubungan suami istri ini?

Ada lagi yang membuatku agak kecewa dengan mamah. Ada lagi pemirsa yang bertanya soal nafkah yang diberikan suami terhadap istri. Begini diskusi yang terjadi.

Ibu Y: Mah, jika saya suka mengkalkulasi gaji yang diberikan suami kepada saya, apakah itu berarti saya tidak ikhlas dengan pemberian suami?

Mamah: Nah ibu sudah tau sendiri jawabannya. Tidak ikhlas. Suami tidak wajib memberikan seluruh nafkahnya kepada istrinya karena suami mempunyai kebutuhan sendiri, misalanya untuk membeli bensin, makan siang dan lain sebagainya.

Terus terang aku mempunyai pandangan yang berbeda mengenai permasalahan pemberian nafkah ini.

PEMBAHASAN

Dari ceramah mamah pagi tadi itu ada dua hal yang ingin aku tanggapi yi:

  1. Hubungan intim suami-istri
  2. Nafkah suami terhadap istri

Berikut adalah pembahasannya.

  1. Hubungan intim suami-istri. (Bersetubuh vs Bersejiwa)

Seringkali ustad/ustadzah menekankan hadist yang berisikan pengutukan terhadap istri yang menolak suaminya. Tapi hampir tidak ada yang membahas bagaimana hukumnya terhadap suami yang menolak istrinya.(Sebenarnya gw malah belum pernah dengar). Dalam hampir setiap ceramah agama yang ku dengar, paling sering adalah nasehat untuk wanita. Paling sering yang didengung-dengungkan adalah bagaimana menjadi istri yang sholeh. Jarang sekali yang menyinggung apalagi membahas bagaimana menjadi suami yang soleh. Bukankah wanita yang baik hanya untuk pria yang baik dan sebaliknya wanita pendosa hanya untuk pria pendosa?

Jadi menurut hematku, sebenarnya hadis di atas mungkin lebih cocok diinterpretasikan bahwa malaikat akan mengutuk pasangan yang menolak pasangannya yang lain. Tapi tentu saja penolakan tetap diperbolehkan asal ada alasan dan dilakukan dengan manis. Alasan tersebut tidak hanya sakit atau sedang mens bagi wanita. Menurutku alasan sedang tidak mood atau lagi tidak berselera juga harus dimasukkan sebagai sebuah alasan yang dapat diterima. Karena jika seorang pria atau wanita memaksakan ”kehendaknya” kepada pasangannya, padahal pasangannya sedang tidak ingin, menurutku itu termasuk KDRT juga, alias pemerkosaan. Hal ini menurutku sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Islam diturunkan untuk kemaslahatan umat bukan untuk memperkosa kebahagiaan umat. Berarti memperhatikan kemaslahatan, kebahagiaan pasangan adalah kewajiban bagi suami atau istri. Apalagi untuk urusan yang satu ini. Kedua belah pihak harus melakukannya dalam suasana batin yang bahagia dan senang atas satu sama lainnya. Tidak boleh ada perasaan keterpaksaan.

Lantas bagaimana kalau istri sedang tidak mood, sedang suami sudah ”terujung?”. Situasi ini juga tidak boleh dijadikan alasan untuk memaksa istri melayani suami dengan alasan lebih baik melayani seperti tunggul pisang daripada suami berzina dengan wanita lain.Pihak suami seharusnya paham atas kondisi psikis istri. Mana tau istri sedang ada masalah, banyak pikiran mengenai anak-anak atau bahkan suaminya sendiri yang jadi masalah bagi dia. Seorang suami yang baik seharusnya walau seterujung apapun tetap harus memperhatikan perasaan istrinya. Begitu juga sebaliknya. Mulut diciptakan Allah untuk berbicara, telinga diciptakan untuk mendengarkan. Jadi jika istri atau suami sedang tidak berselera, sementara pasangan sudah kebelet, pergunakanlah instrument mulut dan telinga itu untuk mengatasi selera itu. Jadi mulut jangan digunakan untuk menyicipi makanan, menjilat dan mencium saja. Fungsi yang tak kalah penting lainnya adalah untuk menjalin komunikasi. Tanyakan baik-baik mengapa pasangan kita tidak berselera. Apakah ada masalah? Apa yang mungkin bisa kita bantu. Dan pergunakan kuping baik-baik untuk mendengarkan (listening not just hearing. There is the difference between listening and hearing. Kalo listening = mendengarkan, informasi yang didengar akan diolah. Sementara hearing = mendengar, informasi yang masuk kuping kanan, kemudian lewat begitu saja, terus keluar melalui kuping kiri). Insha Allah jika instrumen tersebut dipergunakan dengan baik, masalah selera bisa teratasi berikut masalah terujung. Semua bisa berakhir dengan baik.

Suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik dalam segala aspek kehidupan. Begitu juga sebaliknya. Aku ingat, ada seorang sahabat yang bertanya kepada ummul mukminin, Aisyah RA, bagaimana baginda rasul memperlakukannya di dalam kamar. Aisyah menjawab: ”Subhanallah. Begitu indahnya rasul memperlakukan saya, sehingga sulit saya menceritakannya.” Contoh keindahan sikap rasul dalam menggauli istri adalahsetelah menggauli Aisyah, rasul tidak pernah meninggalkan Aisyah begitu saja. Bahkan untuk menghadap Tuhannya untuk melakukannya sholat malam, rasul menyempatkan diri untuk minta izin kepada Aisyah. Anda bisa bayangkan kan? Untuk menghadap Allah Azza wa Jallah, rasul minta ijin istri? Betapa dia menempatkan istrinya sedemikian rupa. Bagaimana coba perasaan Aisyah? Tentu banyak lagi hal-hal indah yang dilakukan rasul terhadap istri-istrinya dan hanya menjadi rahasia mereka. Tapi cerita di atas menunjukkan bahwa nabi selalu memperhatikan perasaan istrinya. Ga asal embat aja, asal dia puas. Tidak pernah. Begitulah seharusnya suami yang baik.

Yang aku sayangkan, mengapa mamah atau ustad/ustadzah jarang menyitir cerita Aisyah RA ini dalam ceramah mereka yang terkait rumah tangga. Malah mengambil hadist ”terujung di atas onta”. Terus malah menafsirkan berarti kalau suami meminta istri di atas mobil, ya istri harus mau. Masya Allah…. Seharusnya mamah menyadari bahwa pendengar beliau di TV terdiri dari berbagai strata masyarakat dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Segala tingkah polah artis saja ditiru apalagi jika seorang ustadzah memberikan ”fatwa”. Nanti jangan-jangan akan banyak kita temukan kijang bergoyang, panther bergoyang atau kuda bergoyang.Kalau kijang, kuda atau panther bergoyang di taman safari seh ga masalah, malah bagus, bisa jadi tontonan. Tapi jika ”kijang” atau ”panther” bergoyang di Ancol atau di halaman kantor atau di komplek karena tuannya sedang terujung, gimana hayo? Ntar kalo ditonton warga, mereka bisa bilang mamah bilang begitu di TV, dan mereka sah sebagai laki bini. Malu lah kita sebagai umat muslim. Padahal dalam islam ada hadist yang berbunyi: ”Malu itu sebagian dari iman.”Seharusnya jika mamah menyebutkan ayat tersebut, mamah juga harus mengatakan, tapi sebaiknya ibu-ibu atau bapak-bapak tetap harus menjaga adab dalam pergaulan suami istri. Sopan santun harus tetap dijaga. Mamah lupa menyeimbangkan ceramahnya pagi ini.

Jadi menurut hematku, hubungan suami istri bukan hanya sekedar pemenuhan hawa nafsu belaka. Jika itu dilakukan semata-mata hanya pemenuhan hawa nafsu, tak ada bedanya kita dengan warga taman safariyaitu pak kijang, pak panther, bu kuda dan bu mustang cs. Dalam islam hubungan suami istri dianggap ibadah. Jika sesuatu mempunyai nilai ibadah, tentu saja bukan hanya tubuh yang diwajibkan bekerja tapi juga hati dan jiwa. Anda ingatkan, jika kita sholat cuma sekedar ruku dan sujud, tapi hati kita, pikiran kita kemana-mana, alias tidak khusu’, sholat itu dilangit hanya dianggap sebagai kain rombeng. Puasa juga demikian. Jika hanya perut (tubuh) saja yang puasa, tapi hati tetap dengki, gosip jalan terus, ngenyek orang jadi hobi, puasa hanyalah sekedar menahan lapar dan haus. Tidak ada pahalanya, tidak ada nilainya dimata Tuhan. Lantas apa bedanya hubungan suami istri ini dengan ibadah-ibadah lain? Jelas tidak ada bedanya. Jadi hati harus diusahakan juga khusu’terhadap pasangansewaktu sedang melakukan ibadah tersebut. Jangan sampai sedang menggauli istri tapi mengkhayalkan si sexy Angelina Jolie, atau istri mengkhayalkan Brad Pitt. Tentu saja mengkhayal untuk meningkatkan selera sah-sah saja. Misalnya lagi makan tempe terus mengkhayal burger agar tempenya menjadi nikmat boleh-boleh saja. Tapi itukan hanya pada awalnya saja, setelah itu tetap kita sadar sedang menikmati tempe dan memang bisa menikmati tempe yang dianugerahkan Allah kepada kita tersebut dengan ikhlas dan rasa syukur. Sehingga yang terjadi bukan hanya sekedar bersetubuh tapi juga bersejiwa. Hubungan suami istri adalah pengejawantahan dari rasa cinta, rasa ikhlas dan penyerahan diri seutuhnya. Bukan sekedar pelepasan hawa nafsu. Itu adalah bentuk penyerahan yang tertinggi sehingga seharusnya bukan hanya tubuh yang bertemu, seyogyanya jiwa juga bertemu. Insha Allah kalau persejiwaan sudah tercapai, soal penolakan gara-gara hanya tidak mood bisa teratasi, dan mungkin juga masalah-masalah lainnya. Karena satu sama lain sudah menjadi satu jiwa berarti mengenal dengan baik pasangannya. Dan tentu saja karena pasangan hidup kita adalah jiwa kita, kita wajib menjaga dan memperlakukannya dengan baik. Karena jika kita menyakitinya berarti kita menyakiti jiwa kita sendiri.

  1. Nafkah suami terhadap istri.

Hal ini juga sering menjadi perhatianku. Aku pernah membahas pengelolaan uang rumah tangga dalam artikelku yang berjudul ”Merger vs Acquisition” yang menjelaskan berbagai tipe pengelolaan uang dalam rumah tangga. Tapi satu hal yang perlu diingat dimana pengelolaan uang rumah tangga harus diusahakan setransparan mungkin dan atas kesepakatan bersama. Hal ini untuk mengurangi rasa curiga satu sama lain.

Banyak ustad/ustadzah termasuk mamah selalu mengatakan bahwa nafkah suami tidak wajib diserahkan seluruhnya kepada istri. Aku menafsirkan bahwa seolah-olah ustad/ustadzah menganggap para istri ingin menguasai penghasilan suami. (Aku harap perasaanku ini salah. Kalau salah, maapin aye ye). Padahal mungkin banyak yang tidak berniat demikian. Banyak juga istri-istri yang memegang secara keseluruhan gaji / penghasilan suaminya ternyata tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari hak istimewa tersebut selain sebagai juru bayar alias kasir. Uang gaji yang diberikan suami tersebut hanya lewat saja ditangannya untuk membayar tagihan-tagihan telpon, air, listrik, SPP anak, bensin, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Bahkan banyak istri-istri yang harus berpikir 7 keliling hanya untuk memutuskan membeli daster baru penganti yang sudah bau asap dan cabik-cabik apalagi jika hanya sekedar membeli membeli lipstik atau bedak untuk mempercantik dirinya. Tak kalah banyaknya lagi yang masih harus bekerja untuk membantu roda perekonomian rumah tangga. (Emang dikira enak ngatur uang rumah tangga, apalagi kalau jumlahnya pas-pasan.). Jadi amat sangat wajar, jika seorang istri melakukan kalkulasi terhadap gaji suami. Sangat lumrah jika istri ingin mengetahui penghasilan suami. Tidak selalu hal tersebut berkonotasi negatif. Jadi tolonglah wahai para ustad, terutama ustadzah yang notabene adalah perempuan juga, tolonglah pahami bagaimana perempuan itu. Jangan berprasangka buruk terhadap perempuan jika mereka bertanya tentang sesuatu. Ayat atau hadist yang anda lontarkan, tolong lakukan dengan seimbang, bahas dengan proporsional. Karena jika anda hanya melontarkan sebagian-sebagian saja dan umat salah tafsir, itu akan menjadi tanggungjawab anda kelak di akhirat.

PENUTUP

Ada yang mengatakan bahwa laki-laki memiliki 9 akal dan 1 perasaaan, sebaliknya perempuan memiliki 1 akal dan 9 perasaan. Ditafsirkan laki-laki lebih rasional dari perempuan sementara wanita lebih emosional. Jadi dalam islam jika dalam sebuah transaksi misalnya hutang piutang dibutuhkan saksi, maka saksinya adalah dua orang pria. Sedangkan jika hanya ada 1 saksi pria, maka pengganti 1 pria lainnya adalah 2 saksi wanita. Lantas apakah ini berarti wanita lebih dodol dari pria? Ku rasa tidak. Akal berarti IQ. Emosi berarti EQ. Oleh karena itu Allah menciptakan wanita dan pria. Jika pria menikah dengan seorang wanita, maka hidupnya akan lebih baik. Cara berpikirnya akan lebih paripurna. Karena setelah menikah ada orang lain yaitu istrinya yang akan membantu dia berpikir, menimbang dengan sudut yang berbeda, sudut yang lebih manusiawi. Sebaliknya jika seorang wanita menikah, cara pandang, cara berpikir terhadap segala sesuatu akan menjadi lebih luas dan berbeda dari cara pandang dia biasanya. Hal ini bisa menjadi sebuah sinergi yang dahsyat jika disadari oleh kedua belah pihak.

Sinergi dahsyat ini hanya bisa terjadi jika satu sama lain saling menjaga perasaan (termasuk perasaan bersejiwa) dan adanya keterbukaan satu sama lain termasuk soal nafkah. Acapkali masalah tempat tidur atau uang bisa menjadi penghancur rumah tangga jika tidak dikelola dengan baik.

Akhirul kalam, ini hanyalah sebuah pemikiran seorang wanita biasa yang menginginkan adanya keseimbangan dalam muka bumi. Termasuk keseimbangan antara hak dan kewajiban suami istri. Aku hanya ingin wanita-wanita di muka bumi sadar akan jati dirinya sebagai manusia. Sadar akan hak-haknya sebagasi seorang istri. Aku hanya ingin wanita banyak berpikir, jangan mau ditipu ustad/ustadzah dengan kedok menjadi wanita sholihah, sementara hati merasa dizolimi. Jadi wanita harus pintar, harus banyak belajar supaya mempunyai pandangan yang lebih luas. Pandanganku, pemikiranku, tulisanku mungkin lebih banyak salahnya daripada benarnya. Tapi satu hal, aku berusaha untuk memikirkan setiap kejadian, setiap peristiwa setiap ceramah yang ku dengar. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, tidak menerima sesuatu dengan mentah-mentah (kadang-kadang ada juga seh..). Even Angel Asked!!! Bahkan malaikatpun bertanya……………………..

******* Kebenaran hanya datang dari Allah, *********

Kalo salah, maapin aye.

RAMADHAN JOURNEY TO GONTOR

By: Hessy Zainal

Oktober, 14 Syawal 1429 H

Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat (Hadith)

Tuntulah ilmu walau sampai ke negeri China (Hadith)

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu; “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Mujaadilah : 11)

Dan perumpamaan-perumpaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (Al ‘Ankabut :43)

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang-orang yg berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Fathir : 35)

Institusi pendidikan hanyalah sebagai jembatan untuk mengajari kita bagaimana untuk dapat terus belajar. Institusi pendidikan bukan tempat belajar yang sesungguhnya. Alam dan kehidupan itulah tempat belajar yang sesungguhnya (karangan gw)

PENDAHULUAN

Akhirnya selesai juga Zea, anak kami yang nomor dua, menuntut ilmu di pondok pesantren Gontor Putri III yang terletak di desa Widodaren – Ngawi – Jawa Timur. Kakak Zea, Halley sudah lulus dari Gontor Putri pada tahun 2004.

Walau aku tidak pernah mondok di pesantren seperti Zea, tapi aku sepertinya dapat merasakan aura kegembiraan Zea dan juga teman-temannya yang akan segera “menghirup udara bebas” setelah keluar dari “penjara” Ngawi. Aku merasa kegembiraan mereka mungkin melebihi kegembiraan anak-anak lain yang juga lulus sekolah dari sekolah biasanya. Kenapa?

1) Karena mondok di pesantren ini telah mereka jalani selama 4 tahun sampai dengan 6 tahun, bahkan ada yang lebih karena mungkin pernah tinggal kelas. Anak-anak yang masuk Gontor sedari tamat SD berarti telah 6 tahun berada di Gontor. Sedangkan anak-anak yang masuk Gontor setamat SMP berarti minimal telah 4 tahun berada di Gontor karena mengikuti penyetaraan selama 1 tahun. Empat (4) tahun apalagi enam (6) tahun hidup terpisah dari orang tua dan saudara-saudara sungguh bukan waktu yang singkat.

2) Hidup di pondok Gontor bukan hidup yang mudah. Banyak peraturan, banyak larangan, dan penuh dengan kesederhanaan (bayangkan saja, haree genee nyetrika aja kudu pake setrika arang).

Hari bahagia Zea dan teman-temannya tersebut telah dirayakan pada minggu, 7 September 2008 yang bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan 1429H. Kami selaku wali Zea dan kakak Zea, Halley, juga ikut menghadiri perayaan atau judisium kelulusan tersebut.

Jumat, 5 Ramadhan 1429 H

Hari ini adalah hari ke-5 umat muslim di dunia berpuasa. Seperti biasa, kami sekeluarga bangun jam 3.30 pagi untuk makan sahur. Biasanya setelah sahur kami sholat subuh, mandi lalu bersiap-siap untuk pergi ke tempat aktivitas rutin. Hanya saja hari ini berbeda dengan hari-hari yang lain. Setelah makan sahur, kami bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke Gontor Putri I untuk menghadiri judisium Zea.

Biasanya jika ke Gontor aku akan mempersiapkan makanan untuk makan siang dan juga sejumlah camilan untuk teman selama di perjalanan serta sebuah termos berisi air hangat untuk membuat secangkir kopi atau teh tarik. Karena ini bulan puasa semua persiapan menjadi lebih ringan, tidak ada bekal nasi untuk makan siang dan hanya sedikit camilan buat berjaga-jaga semata. Termos pun tidak ku bawa. (Ternyata keputusan tidak membawa termos adalah keputusan yang salah)

Kami mengambil jalur Selatan Jawa dengan pertimbangan jalur ini lebih sejuk daripada jalur pantai Utara. Aku memang tidak suka jalur Pantura, walau sebenarnya akan lebih dekat dan lebih cepat melewati Pantura daripada jalur Selatan. Setiap kali aku melewati jalur tersebut aku merasa hawa yang panas (walau di mobil pakai AC). Selain itu jalur tersebut terkesankumuh dan suram. Aku tidak suka auranya. Jalur Selatan lebih hijau royo-royo, perasaanku melewati jalur ini juga lebih adem.

Untuk menempuh jarak yang jauh dalam keadaan berpuasa tentu diperlukan perasaan yang adem biar ikhlas berpuasanya. (terus terang diantara semua ibadah wajib, ibadah yang paling sulit bagiku adalah berpuasa. Mending sholat malamlah daripada disuruh puasa). Walau menjadi musafir diberikan keringanan untuk berbuka, tapi kami bertiga memilih untuk tetap berpuasa. Jika tidak kuat baru berbuka. (Masalahnya berpuasa diluar bulan Ramadhan jauh lebih berat daripada puasa di bulan Ramadhan. Karena kalo di bulan Ramadhan semua orang puasa. Yg ga wajib puasa juga ga enak untuk makan. Jadi godaan lebih kecil)

Menjelang zuhur kami sudah sampai di kota Banjar. Karena hari ini adalah hari Jumat, maka kami berhenti di sebuah mesjid di jalan raya Banjar agar suamiku dapat menunaikan sholat Jumat. Aku dan Halley menunggu di mobil sementara suamiku sholat Jumat. Setelah suamiku sholat, kami pergi ke pompa bensin di dekat mesjid. Aku dan Halley sholat zuhur sedangkan “pak supir” tiduran dulu sejenak.

Setelah “pak supir” tidak mengantuk lagi, perjalanan pun dilanjutkan. Menjelang magrib kami sudah sampai di daerah Wates. Kami pun berhenti disebuah mesjid untuk berbuka. Sebenarnya sudah beberapa mesjid yang ingin kami singgahi untuk berbuka. Secara bercanda di mobil aku berkata: “Nanti kita mampir saja di sebuah mesjid supaya bisa berbuka gratis”.

Suamiku dan Halley tertawa, tapi setuju juga dengan ideku yang brillian itu. Lumayankan biar bisa ngirit biaya makan..(hua..ha..ha.. dasar Padang). Tapi ternyata melaksanakan ide brilian itu ternyata tidak mudah. Setiap kali akan berhenti, aku merasa tidak enak. Masa berhenti di mesjid terus ikutan orang berbuka. Padahal orang-orang yang berkumpul di mesjid-mesjid yang akan kami singgahi tadi itu sama sekali tidak mengenal kami. Nanti terlalu kentara kepengen berbuka gratisnya. Malu juga kan? Mana berbukanya masih agak cukup lama. Berarti kudu ngobrol-ngobrol dong ama yang hadir.

Akhirnya kami terus saja berjalan, sampai magrib datang menjelang. Mesjid Wates akhirnya menjadi tempat persinggahan kami. Mesjid di Wates ini halamannya cukup luas. Kami masuk ke areal parker mobil. Sebenarnya ada anak-anak pengajian yang sedang berbuka bersama di sana, tapi mereka sama sekali tidak menawari kami. Mungkin memang jatahnya pas-pasan untuk yang hadir. Kami juga tidak berusaha untuk mendekat. Azan magrib berkumandang, akhirnya kami berbuka dengan bekal apa adanya. Di sinilah aku mulai merasa keputusan tidak membawa termos adalah keputusan yang salah. Aku membawa kopi, teh celup dan teh tarik sachetan tapi tidak membawa air panas. Mau diseduh pakai apa semua benda-benda tsb? ‘

Perkiraanku tadinya pas magrib pasti kami akan berbuka di sebuah rumah makan, ternyata perkiraanku meleset. Beginilah jadinya. Kami hanya berbuka dengan aqua, kebetulan ada nutrisari, jadi ku tambahkan saja. Hanya saja minum nutrisari dengan air biasa kurang mantapkan? Kudunya diseduh dengan air dingin. Sebagai menu berbuka adalah biskuit. Setelah itu kami pun menunaikan sholat magrib.

Perut semakin lapar, akhirnya kami bertemu dengan warung Padang. Kami pun mampir. Warung Padang ini terletak di pinggir jalan menjelang masuk kota Yogya (kata orang namanya daerah Gamping).Memang ini lebih tepat disebut warung Padang bukan rumah makan Padang. Karena tempatnya kecil dan sederhanaTerus ada yang antik di warung ini, biar kecil tapi pengelolanya berusaha melakukan inovasi. Biasanya kalau kita makan di rumah makan Padang, lauknya dihidang. Sementara warung ini memilih cara prasmanan. Pengunjung mengambil sendiri nasi dan lauk yang dipajang di etalase warung. Hanya saja bentuknya sama sekali jauh dari menarik. Sistemnya sih ok juga. Cuma tampilan lauknya sesederhana warungnya. Tidak menerbitkan selera walau sudah berpuasa seharian penuh. Tapi memang harganya sangat murah. Semua lauk dihitung sama harganya. (Lagian mau murah tapi enak….mana ada…everything has price). Syukurlah es teh manisnya cukup menghibur. Rasanya standar, cukup untuk melepas dahaga.

Sekitar jam 7 malam kami sudah mendarat di Yogya, tepatnyadi kampung suamiku, Sleman. Kami beristirahat satu malam di rumah kakak suamiku. Kami tidak langsung menuju Gontor karena diperkirakan kami akan kesulitan memperoleh penginapan dan juga sahur jika langsung ke sana. Semua wali santri pasti sudah berada di Gontor, semua butuh penginapan. Sementara perjalanan masih panjang, puasa pun masih lama. Kami harus menjaga agar tubuh tetap sehat.

Sabtu, 6 Ramadhan 1429 H

Setelah sahur kami tidak langsung bersiap-siap menuju Ngawi. Selepas sholat subuh, kami masih melanjutkan tidur kami. Perjalanan menuju Ngawi dilakukan pada pukul 8 pagi. Setelah berpamitan kepada mba Nani, iparku, mobil pun melaju menuju Ngawi. Sekitar jam 12 siang kami sudah masuk daerah Jawa Timur. Kami sudah sampai di Mantingan, Gontor Putri I. Zea akan dijudisium di sini, bukan ditempat dia belajar.

Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari penginapan, ternyata dugaan kami tepat. Penginapan sudah penuh. Baik wisma Latansa, milik ponpes Gontor maupun penginapan di sekitarnya. Untunglah kami sudah melakukan persiapan untuk keadaan “darurat” seperti ini. Kami sudah membawa tenda, bantal dan selimut. Wali-wali santri lainnya juga ada yang membawa tenda. Tapi ada juga yang hanya membawa tikar. Tapi semua sepertinya sudah siap untuk berkemah. Halaman Gontor Putri I – Mantingan tak ubahnya seperti camping ground. Penuh dengan mobil-mobil dan orang-orang yang duduk-duduk di atas tikar dan di dalam tenda. Suasana sangat meriah. Sepertinya semua orang merasakan aura kegembiraan karena anak, keponakan, adik, cucu mereka telah berhasil menyelesaikan studinya di Gontor.

Anda bisa bayangkan betapa ramainya suasana. Ada keluarga yang sepertinya sengaja menyewa mobil minibus besar Elf untuk acara ini. Kebetulan mobil Elf tersebut parkir di sebelah mobil kami.Jadi aku memperhatikannya. Di dalamnya ada 2 kakek-kakek. Mungkin satu kakek dari ibu si santri dan satunya lagi kakek dari bapaknya. Belum lagi ayah, ibu dan adik-adiknya. Mobil tersebut penuh. Belum lagi mobil-mobil carry, sedan, innova dan lainnya. Rata-rata ada ayah, ibu, aa, teteh dan adik yang ikut. Semua wajah terlihat gembira.(Gw ampe kepikiran, ini acara piknik atau judisium? Belum pernah gw liat acara judisium atau wisuda semeriah ini)

Ramainya orang-orang berdampak pada penggunaan kamar mandi. Untuk mandi dan buang hajat, para campers menggunakan kamar mandi di dekat mesjid. Orangnya banyak, kamar mandi terbatas. Kudu sabar mengantri jika ingin mandi, termasuk kalau kebelet ke jamban.. Aku merasa sudah seperti di padang Arafah saja. Kebelet beol, kudu nahan. Kalau ngantri mandi masih mending, tapi kalo dah sakit perut? Belum lagi ga enak lama-lama di kamar mandi. Tapi herannya semua baik-baik saja. Tidak ada yang menggerutu waktu mengantri. Tidak ada yang menyela antrian. Bahkan kalau kita kebelet pipis, yang ngantri mandi masih bersedia mendahulukan kita, asal kita permisi. Tapi kita kudu tau diri. Jangan ijin pipis terus mandi. Kurang azar itu namanya. Ku pikir para wali santri ini hebring-hebring ya??..Semua ikhlas……

Berbuka di Mantingan lebih cepat dari di Jakarta. Untuk berbuka, pihak ponpes memberikan nasi kotak. Zea membawakan 3 buah nasi kotak untuk kami. Kami berbuka bersama di tenda kami. Walau isinya sederhana tapi karena suasana maka terasa nikmat saja. Sekali lagi aku merasa keputusan tidak membawa termos adalah keputusan yang salah. Coba kalau bawa termos, pasti lebih nikmat berbuka dengan teh hangat, bukan sekedar aqua gelas.

Para santri berbuka bersama keluarga masing-masing beratapkan langit dan beralaskan bumi. Tidur juga begitu. Alhamdulillah udara cerah. Coba kalau hujan. … bagaimana itu nasib yang cuma berbekal tikar? Mau tidur dimana? Yang berkemah juga ga asikkan kalau hujan? Kalau kemah tampias…kan refot zuga. Ternyata Allah tau juga jika umatnya sedang merayakan hari bahagia. (Ya iyalah, wong daun yang jatuh ke bumi aja Allah tau, apalagi ada judisium di Gontor J )

Acara Zea dimulai jam 8 malam. Acara ini sebagaimana malam perpisahan di sekolah-sekolah lain. Dihadiri oleh kiai, ustad, ustadzah pengajar serta para wali santri. Isinya adalah pidato-pidato dari wakil santri yang tamat, wakil santri yang ditinggal, wakil wali santri serta wejangan dari Kyai Pondok. Yang menarik ternyata pesantren ini punya lagu hymne sendiri. (judulnya gw lupa) Sewaktu menyanyikan hadirin diminta untuk berdiri. Ternyata lagu tidak diharamkan di Gontor.

Berhubung acara ini lama sekali, aku tidak menghadiri sampai selesai. Jam 11 malam aku balik ke kemah selain ngantuk, kasian anak kami Halley. Setibanya di Gontor, Halley terserang flu. Jadi Halley hanya berbaring di kemah. Untung puasanya tidak batal. Ayah Zea menyusul tak berapa lama setelah aku kembali ke kemah. Kami bertiga tidur di kemah. Jam 2 pagi, Zea datang. Acara sudah selesai. Zea datang dengan membawa nasi kotak untuk sahur. Dia membangunkan kami. Aku dan suamiku bangun tapi aku tidak ikutan sahur. Ku pikir masih terlalu pagi untuk sahur. Akhirnya hanya suamiku yang makan menemani Zea sahur. Zea tidak mungkin menunggu jam 3.30, dia sudah mengantuk. Aku sahur jam 3.30, sendirian. Halley tidak mau bangun. Halley masih sakit, jadi ayahnya berpendapat, Halley tidak usah berpuasa saja. Kenyataannya, Halley tetap berpuasa esoknya walau tidak sahur.

Ahad, 7 Ramadhan 1429 H

Judisium dimulai jam 7 pagi. Acara bertempat di taman tengah ponpes Gontor Putri I. (Halley mengatakan bahwa taman tersebut adalah sumbangan dari angkatannya). Para santri duduk di bawah tenda, sementara para kyai dan ustad berada di balkon. Para wali santri dan sanak saudara menonton acara tersebut dari selasar kelas yang berada di sekeliling taman. Acara Judisium berlangsung cukup lama. Judisium ini untuk mengumumkan siapa yang lulus dan tidak lulus serta penempatan tugas setelah lulus. Ada tradisi unik dari Gontor. Setiap santri yang lulus tidak akan menerima ijazah sampai menyelesaikan kewajiban untuk mengabdi selama satu tahun. Tempat mengabdi tergantung keputusan pihak ponpes. Ada yang wajib mengabdi di salah satu ponpes Gontor Putriyang berada di Aceh, Lampung, Ngawi atau Kendari. Ada yang wajib mengabdi di salah satu ponpes milik alumni Gontor yang tersebar di seluruh Nusantara. Ada juga yang bebas untuk memilih.

Tempat pengabdian merupakan nasib dan rejeki bagi para santri. Santri dan para wali sama-sama deg-degan menunggu pengumuman ini. Sistem pemanggilan dilakukan secara kelompok. Tiap kelompok yang dipanggil, berarti ditempatkan di tempat yang sama. Kelompok Zea adalah kelompok yang terakhir dipanggil. Menjelang jam 12 siang baru dipanggil. Aku sampai capai menunggunya. Kepanasan dipinggir taman. Aku sampai tidur-tiduran di ubin selasar. Aku menyontoh seorang ibu-ibu yang demikian. Dia cuek, aku cuek juga. Abis panek bo,..mana pantat sakit duduk di ubin, haus pula…(iman gw emang payah ya..kayaknya gw ga cucok ya jadi ibu-ibu…gaya gw masih seenaknya aja. Untung Halley ga heran liat kelakuan gw J Kalau laki gw mah dah maklum dengan kelakuan gw yang cuex bebex jika sudah kecapaian ).

Syukurlah Zea ditempatkan di pondok alumni Darunnajah yang terletak di Ulujami – Jakarta Selatan. Jadi Zea akan lebih mudah dikunjungi dan Zea juga bisa pulang ke rumah. Ada teman Zea yang ditempatkan di Lombok. Orang tuanya tinggal di Bali. Dia menangis tersedu-sedu. Dia inginnya di Bali saja tapi nasib berkata lain. Putri, teman akrab Zea ditempatkan di almamaternya, Gontor Putri III. Putri senang, ibu dan ayahnya juga senang karena sesuai dengan yang diharapkan. Sementara itu Sofie teman akrab Zea yang lain, bebas memilih. Bebas memilih enak-enak susah. Enaknya bisa di tempat yang kita inginkan, susahnya kudu nyari sendiri orang yang mau memperkerjakan santri di ponpesnya. Halley, kakak Zea dahulu kebagian bebas memilih. Halley mengabdi di ponpes Sawangan (Depok) setelah lulus dari Gontor Putri I.

Penutup

Dengan berakhirnya acara judisium, berakhir pulalah masa studi Zea dan teman-teman seangkatannya di Pondok Pesantren Gontor Putri III. Untuk sementara mereka bisa pulang ke rumah menikmati hawa segar dan modern. Tapi hal tersebut bukan berarti akhir dari menuntut ilmu. Zea dan teman-temannya masih harus terus belajar. Ijazah belum diterima. Di tempat yang baru mereka juga masih dalam tahap belajar. Tahap belajar menjadi ustadzah. Belajar mendidik, belajar untuk menjadi lebih dewasa, lebih mandiri dan lebih bertanggungjawab terhadap tugas-tugas yang diberikan. Insha Allah semua bekal ini akan berguna kelak bagi mereka.

Sebenarnya dengan sistem Gontor ini, Zea dan teman-temannya terlambat dua tahun untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Zea dan teman-temannya tamat setelah EBTANAS dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi berlalu. Satu tahun setelah pengabdian berarti setelah periode UMPTN juga berlalu. Mereka baru akan bisa ikut UMPTN tahun berikutnya. But its ok. Itu adalah konsekuensi dari sebuah pilihan. Belajar tidak harus dari sebuah institusi formal tapi sebenarnya banyak hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan ini. Institusi hanyalah sebagai jembatan untuk mengajari kita bagaimana untuk dapat terus belajar. Institusi bukan tempat belajar yang sesungguhnya. Alam dan kehidupan itulah tempat belajar yang sesungguhnya.

*** Tiada Kata Berhenti Untuk Belajar ***

JANGAN ANGGAP REMEH GARAM

JANGAN ANGGAP REMEH GARAM

&

JANGAN ANGGAP ENTENG SAKIT GIGI

By : Hessy Zainal

At Limus Pratama Regency

Tsalasa, 23 Ramadhan 1429 H

PENDAHULUAN

Bulan Ramadhan tahun ini berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Salah satu anggota keluarga kami yaitu kakak iparku, Yul Sandra jatuh sakit dan sempat mengalami koma selama dua hari. Ni Yul jatuh sakit di bulan Ramadhan. Sempat terpikir sewaktu Ni Yul koma, apakah Ni Yul akan kembali kepangkuan Tuhannya? Jika dia kembali, tentu ini saat kembali yang baik, sudahlah bulan Ramadhan, malam Jumat pula. Menurut agama Islam meninggal pada bulan Ramadhan atau malam Jumat adalah saat yang baik. Karena Ramadhan adalah bulan suci, dimana dosa-dosa kita dihapuskan. Tentu sangat baik menghadap Tuhan dalam keadaan bersih dari dosa. Atau jika hari Jumat, maka akan banyak yang menyolatkan. Katanya jika yang menyolatkan mayat lebih dari 40 orang, maka mayat akan terlepas dari siksa kubur.

Kenyataan berkata lain. Tuhan punya rencana yang lebih baik. Keadaan Ni Yul semakin membaik. Dia mulai sadar. Hanya saja Ni Yul yang sekarang berbeda dengan Ni Yul yang dulu. Ni Yul harus belajar menggerakkan anggota tubuhnya dari awal lagi. Ni Yul harus belajar mengingat semuanya lagi. Semua harus dari awal. Subhanallah. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia. Sungguh tidak sia-sia Allah menciptakan segala sesuatu. Tidak ada satu pun daun yang jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan Nya. Oleh karena itu, walau ini adalah cobaan berat bagi abangku dan kami sekeluarga tentu ada hikmah berharga dibalik semuanya. Allah tidak akan mencoba seseorang diluar batas kemampuannya. Semua yang menimpa kita, sudah tertulis di Lauhful Mahfuz.

Cerita ini dimulai pada hari Kamis, 18 September 2008.

Khomsa, 18 Ramadhan 1429H, 5.30 PM

Kring..kring..kring… HP ku berbunyi pas aku sedang membuka pintu rumah sepulang dari kampus. Tertulis nama Yul Sandra. Yul adalah istri dari abangku yang paling tua.

Batinku berkata, “Tumben nih, Uni Yul nelpon. Pasti mau nanya soal pulang bakonvoi ke Pekanbaru.”.

“Halo, assalamualaikum” aku mengucapkan salam seperti biasanya jika aku mengangkat telpon. “Hessy, segera ke Depok, Yul koma!”, terdengar suara panik Ningke disebrang sana. Ningke adalah iparku yang lainnya. Mereka tinggal berdekatan.

Aku jawab, “Yul? Yul mana ?” aku binggung, soalnya aku tidak ada mendengar saudaraku yg sedang sakit berat.

“Yul, ibu Yul istri Nas. Dia tadi muntah-muntah, terus kejang terus koma. Hessy segera ke sini ya.” Jawab Ningke

Tanpa pikir panjang, ku jawab, “Ya, aku akan segera kesana setelah berbuka dan mandi dulu”.

Aku lalu menelpon suamiku mengatakan bahwa Ni Yul sedang koma di RS Sentra Medika dan aku akan segera pergi ke Depok. Suamiku mengizinkan dan kami berjanji untuk bertemu di rumah sakit.

Singkat cerita aku sampai di RS, Ni Yul baru saja keluar dari ruang CT Scan dan sekarang menuju ruang ICU. Ni Yul tetap belum sadar. Aku masuk sebentar ke ruang ICU. NiYul sedang mengerang-erang, tangannya terlipat dan bergoyang-goyang ke atas (Terlipat dan bergoyang kaya orang joget dangdut). Ni Yul tidak sadar. Suara erangannya membuatku takut. Erangan kesakitan. Karena tidak kuat melihatnya aku lalu keluar. Lalu mulailah aku mencari informasi detail dari iparku Ningke. Ningke bercerita kalau hari Rabu, 17 Ramadhan 1429 H, Ni Yul sakit gigi, pipinya sampai bengkak. Lalu dia pergi ke dokter gigi. Karena gigi sedang sakit maka tidak bisa langsung ditambal. Akar giginya harus dirawat terlebih dahulu. Karena gigi yang sangat sakit maka dokter memberi antibiotik dengan kekuatan ekstra. Ternyata Ni Yul tidak cocok dengan obat ini. (note: hati-hati makan obat. Dokter suka kasi obat yang mahal, padahal obat generik saja sudah cukup. Jadi pasien kudu cerdas juga tampaknya. Jangan sampai dikadalin dokter). Setelah Ni Yul minum obat tersebut, Ni Yul muntah-muntah. Tapi Ni Yul masih sadar. Hari Kamis siang menjelang sore, Ni Yul masih muntah, badannya mulai dingin. Ningke, ketakutan, karena ingat pengalaman ibundanya yang setelah dingin, langsung check out dari bumi selamanya. Ningke membawa Yul ke RS. Di RS Ni Yul masih sadar tapi tiba-tiba kejang, kemudian tak sadar diri.

Dari hasil CT Scan, tidak terdapat pertambahan volume atau massa otak pada otak Ni Yul. Berarti penyebab koma bukan tumor otak. Oleh karena itu dokter mendiagnosis bahwa Ni Yul kena radang otak. Mendengar itu kita semua stress. Radang otak? Bukankah itu penyakit yang mengerikan. Otak ibarat CPU pada computer. Jika CPU kena, semua computer akan hang. Begitu juga dengan manusia. Ni Yul masih muda, baru berumur 41 tahun, anak-anaknya masih kecil. Bagaimana ini? Kalau hidup, tapi dengan otak terbatas pasti sangat tersiksa hidup demikian Apa lebih baik meninggal? Tapi anak-anak masih kecil. Masih butuh ibunya. Bukan pilihan yang mudah memang.

Jumuah, 19 Ramadhan 1429H

Kring..kring…kring, HP ku berbunyi pada saat aku sedang mengajar di kelas. “Halo, assalamualaikum”. Sapaku terhadap suami sepupuku disebrang sana.

“Hessy, ini Gamal, gimana kabar Ni Yul?” Tanya Gamal

“Ya, begitulah, kata dokter kena radang otak. Radang otak bisa sembuh ga sih? Kok bisa kena radang otak ya? Padahal kemarin-kemarin dia sehat-sehat aja tuh.” Balasku. Aku bertanya demikian karena Gamal adalah seorang dokter.

“Oh, radang otak ya? Meningitis dong ya? Kalo radang otak, risikonya sangat tinggi. Kemungkinan sembuh, tipis. Pasti Ni Yul mempunyai infeksi yang selama ini mungkin tidak dirasakan.” Jawab Gamal.

“Oh iya, dia sakit gigi, sampai tulang pipinya bengkak. Mungkin ga sih, sakit gigi menyebabkan radang otak?” timpalku

“Oh bisa banget. Nah itu dia sebabnya, virus digigi menyebar ke otak apalagi dah sampai ke tulang pipi. Orang emang suka anggap enteng sakit gigi, padahal kalau berat, bisa menyebabkan timbulnya sakit lain.” Jawab Gamal.

“Oh gitu ya..’” Aku mengangguk-angguk dan tambah stress mendengar penjelasan Gamal.

Gamal kemudian mengakhiri percakapan via telpon dan mendoakan agar Ni Yul bisa segera sadar.

Selesai mengajar aku kembali ke ruanganku dan mulai browsing mengenai penyakit meningitis. Ternyata meningitis memang berasal dari virus dan bisa menyebar lewat kontak badan. Ngeri juga aku membacanya. Wah gaswat dong dekat-dekat dengan orang sakit radang otak. Ntar bagaimana dengan kemaslahatan otak gw neh? Ga kena radang otak aja, otakku sudah agak rada-rada, kata teman-temanku. Ku baca lagi lebih teliti, ternyata hanya menular kalau melakukan close contact. Agak senanglah hatiku membacanya. Tapi yang herannya dari artikel-artikel yang ku baca kebanyakan meningitis menyerang anak-anak. Padahal Yul kan sudah bukan anak-anak lagi ya? Aku baru ingat mungkin meningitis memang bisa menyerang oang dewasa, makanya orang mau naik Haji disuntik anti meningitis. Berartikan penyakit ini termasuk jarang di Indonesia kan? Buktinya hanya orang yang mau naik Haji yang disuruh. Virus ini berkembang baik di Sahara katanya. Kok Yul bisa kena ya? Apa virus di giginya berasal dari Sahara trus sekarang lagi melancong ke Depok?

Sore sepulang dari kampus, aku mampir lagi ke RS. Ni Yul sudah lebih baik keadaannya. Ni Yul tidak mengerang lagi. Dia tampak seperti orang sedang tidur. Sepertinya obat sudah mulai bekerja. Di RS aku bertemu dengan adik Ni Yul. Dia bercerita bahwa ternyata Ni Yul tidak kena radang otak, melainkan kekurangan natrium, akibat muntah yang berlebihan. Kekurangan zat elektrolit mengganggu keseimbangan otak. Infus yang diberikan pada Ni Yul, semuanya adalah makanan untuk otak, bukan untuk tubuh. Oleh karena itu Ni Yul sudah agak tenang. Mendengar kabar demikian aku agak tenang. Dalam hatiku aku berkata “Syukur alhamdulillah, ternyata bukan radang otak. Hanya kekurangan garam di otak. Berarti bisa sembuh dong ya. Pasti penyakit ini tidak separah meningitis”. Ternyata aku salah besar.

Sabtu, 20 Ramadhan 1429H

Sabtu pagi, jam 11 aku datang lagi membezuk Ni Yul. Ni sudah ada kemajuan, sudah bisa membuka matanya dan sudah ada respon pada orang yang menyapanya walau dia masih suka mengerinyitkan muka seperti menahan sakit yang luar biasa. Di RS aku berbicara dengan nenek Dang, budenya Ni Yul. Aku dapat info terbaru mengenai Ni Yul. Info ini sangat tidak enak didengar. Nenek Dang bercerita kalau tadi dokter berkata, “Ibu, ibu yang sabar ya. Karena untuk pulih kembali cuma 50%. Butuh waktu lama untuk bisa bicara lagi dan berjalan lagi. Kemudian ibu juga jangan kaget, kadang anak ibu akan mengalami kemunduran setelah ada kemajuan”

Mendengar itu, tercenganglah aku. “Berarti Yul akan duduk di kursi roda dong?” tanyaku

“Biarlah..” kata nenek Dang.

“Tidak apa, yang penting dia ada di sekitar kita. Walau di kursi roda, dia masih bisa melihat anaknya. Yang susahkan kalau dia sudah tidak ada” Lanjut nenek Dang.

Aku diam saja akan tetapi pikiranku berkecamuk. Aku berdoa dalam hati, mudah2an ini hanya kelumpuhan temporer. Kasian abangku, kasian Ima dan Hana keponakanku. Walau Hana sempat berkata kepada Ningke, “Aku lebih beruntung daripada tante Ningke.”

“Kenapa?” Tanya Ningke

“Karena aku masih punya ibu, sedangkan tante sudah tidak punya ibu lagi” jawab Hana polos. Hana tidak tau betapa sakitnya ibunya saat ini. Hana cuma tau, dia masih punya ibu.

PENUTUP

Ada dua hal yang mungkin dapat dipetik dari ceritaku ini, yaitu:

  1. Jangan anggap remeh garam. Ada ungkapan yang mengatakan, seperti sayur tanpa garam. Ternyata garam penting sekali dalam tubuh. Banyak penyakit yang ditimbulkan karena kekurangan garam atau zat elektrolit, atau zat ion lainnya. Rizki keponakanku suka sakit dan kata dokter karena kekurangan ion. Jadi jika muntah berlebihan, segeralah minum oralit.
  2. Jangan anggap enteng sakit gigi atau infeksi kecil lainnya. Ternyata infeksi gigi bisa menyebabkan radang otak dan penyakit-penyakit berat lainnya. Termasuk jantung. Karena virus bisa pelesir kemana-mana dalam tubuh kita melalui pembuluh darah. Virus tersebut kemudian akan mencari tempat pondokan baru pada organ tubuh lainnya jika dirasa gigi sudah tidak lagi memadai sebagai tempat kos.

YU PECEL, JALAN KE SURGA & MLM

YU PECEL, JALAN KE SURGA & MLM

Selasa, 22 Juli 2008

(By : Hessy in S building, 5th floor)

Harta adalah perhiasan dunia

Ilmu adalah pelita hati

Anak-anak adalah cahaya dunia

Pagi ini setiba di kampus aku membeli pecel untuk tambahan sarapan. Kenapa tambahan? Karena sebenarnya aku tadi sudah sarapan dengan minum teh tarik dan sepotong kue kampung asal Makasar. Hari ini ada yang berbeda dengan tempat dagangan Yu Pecel. Tempat dagangan yang biasanya hanya sebuah meja yang dipenuhi dengan sayuran, gorengan dan krupuk sekarang berganti dengan etalase yang kinclong serta sebuah kithen set yang bersih. Belakang gedung L baru saja direnovasi sehingga semua pedagang mendapat tempat yang lebih layak untuk berdagang. Selain tempat yang berbeda, harga pecel juga menjadi berbeda sekarang. Biasanya sebungkus pecel bakwan  cukup ku bayar dengan uang Rp 3500,- atau Rp 4,000. (Jika diajak omong jawa, Yu hanya meminta uang Rp 3,500). Sekarang harganya menjadi Rp 5000,-. Sewaktu menyerahkan uang lembaran Rp 5000,- aku masih berharap ada kembalian Rp 1000,-. Ternyata itu hanya harapan kosong (halah…) Yu pecel langsung bilang matur nuwun. Aku bengong????  (dalam hatiku mahal kali pecel di

Jakarta

ya). Tapi aku tetap tersenyum, ku bilang saja “

Lima

ribu ya Yu?” “Iya” jawab yu pecel. Aku pun berlalu sambil tersenyum miring.

Di perjalanan menuju ruanganku aku berpikir untuk menenangkan hati karena kenaikan harga pecel. (Gile juga gw ya, uang Rp 1000 aja sampai membuatku berpikir..Mungkin hal ini disebabkan karena aku wanita, akuntan,

Padang

pula. Lengkaplah sudah kenapa aku sangat perhitungan terhadap setiap rupiah yang ku keluarkan..hua..ha..ha….). Ku pikir suatu hal yang wajar kenaikan tersebut. Yu pecel pasti harus membayar ongkos sewa tempat yang lebih dari biasa kepada pihak otorita kampus sehingga mau tidak mau Yu pecel harus menaikkan harga. Dalam hati aku berdoa mudah-mudahan pelanggan Yu pecel tidak pada kabur, Karena kadang-kadang orang hanya berpikir bagaimana mendapatkah harga yang murah tapi dengan kualitas prima…Sungguh sangat kapitalis cara berpikir demikian.

Lantas apa hubungan Yu pecel dengan jalan ke surga? Aku juga tidak tau. Kenapa tiba-tiba terlintas di kepalaku seperti itu. Aku hanya berpikir Yu pecel pasti juga ingin masuk surga. Yu pecel dengan segala kesederhaannya pasti juga tak ingin amalnya terputus setelah beliau check out dari muka bumi ini. Padahal menurut agama yang ku anut ada 3 amal yang akan berlanjut memberikan pahala walaupun seseorang sudah meninggal dunia. Ketiga amal tersebut adalah: 1) Harta yang diwakafkan 2) Ilmu yang diamalkan 3) anak yang soleh. Aku jadi berpikir Yu pecel apa punya harta yang banyak ya untuk diwakafkan? Kalo Cuma dagang pecel, tipis kemungkinannya. Terus kalau dari segi ilmu, apa yu pecel cukup mumpuni? Tipis juga ku lihat. Terakhir, yu punya anak.. Mudah2an yu pecel telah berhasil mendidik anaknya menjadi anak-anak yang sholeh..

Gara-gara Yu pecel aku jadi berpikir lebih jauh lagi. Kalo gitu kasian kali ya orang miskin, tak berilmu  lantas tak dianugerahi anak pula. Setelah dia check out, putuslah hubungannya dengan dunia. Sambil mengunyah daun-daun pecel berkuah kacang aku lantas membantah pikiranku sendiri. Kata sisi hatiku yang lain, Allah tidak sesempit itu. Allah tidak sepelit itu terhadap hambaNya. HambaNya saja yang guoblok dan sempit dalam penafsiran, pelit dalam berbagi, suka berprasangka tak elok pada Sang Maha Pemberi dan Pemurah.

Banyak orang di muka bumi ini yang kurang beruntung dalam hidupnya. 

Ada

yang terlahir miskin dan besarpun tetap tak berpunya.

Ada

yang lahir dari keluarga tak berilmu (dalam artian keluarga kurang intelek) tetap tak selesai sekolahnya setelah besar.

Ada

juga orang yang belum dipercaya Allah sampai akhir hayatnya untuk memperoleh keturunan langsung. Tapi apakah berarti jalan orang-orang tersebut ke surga menjadi buntu? Apakah jalan ke surga mereka yang kurang beruntung tersebut menjadi terhenti setelah mereka pergi meninggalkan dunia yang fana ini? Ku rasa tidak. Mungkin sebenarnya penafsiran ku saja yang sempit jangan-jangan sebenarnya penafsirannya seperti ini.

1)     Harta yang diwakafkan

Harta yang diwakafkan, tidak selalu harus bernominal besar. Besar kecil sumbangan itu relative bagi si penderma, sama halnya seperti konsep material dalam akuntansi. Rp 100.000 bagi seorang Ciputra yang konglomerat mungkin hanya piece of cake atau peanut lah. Maksudnya,  sekali Ciputra sarapan kue dan kacang di sebuah hotel  beliau akan merogoh uang Rp 100.000. Dan itu tidak material bagi beliau. Sedangkan bagi orang kebanyakan apalagi bagi Yu pecel, mungkin Rp 100.000 adalah omzet harian Yu pecel. Sudah bagus kalo Yu pecel dapat profit Rp 50.000 per hari. Jadi tentu saja jika Yu pecel mengeluarkan wakaf Rp 100.000 menjadi sangat besar dan juga mungkin berat bagi Yu pecel. Lantas kalau yu pecel cuma menyumbang Rp 5000 terus tidak bernilai dimata Tuhan (Orang kaya aja kalo nyumbang Rp 5000 aja masih mikir kok, gimana yu pecel

kan

?), kesian kali beliau

kan

? Tentu saja Tuhan tidak senaif itu dan aku yakin nilai sumbangan Yu pecel akan lebih besar dimataNya daripada sumbangan seorang Al-Amin sebesar Rp 50juta tapi hasil jual beli ijin pembalakan liar hutan di kampong gw. Yu pecel biar Rp 5000, tapi

kan

uang halal, murni hasil keringat. (Sementara Al-Amin bakaringek bukan untuk dapat pitih Rp 600 juta, tapi bakaringek di hotel dengan gadis bergaun putih   :>  ).

Kebanyakan juga kita mengartikan harta yang diwakafkan adalah harta tetap yang disumbangkan. Misalnya tanah yang disumbangkan untuk kepentingan umum seperti untuk dibangun mesjid, sekolah atau sarana lain. Jikalau harta yang diwakafkan sesempit itu susah juga orang-orang kaya gw (bukan orang kaya maksudnya). Boro-boro mau nyumbang tanah, tanah yang ada juga segini-gininya, cicilan belum lunas pula. Jadi mungkin maksud harta yang diwakafkan bisa juga berarti ikutan nyumbang untuk pembangunan sarana umum. Atau bisa juga bermakna walau kita cuma punya rumah satu, tapi rumah itu sering dipakai untuk pengajian ibu-ibu RT atau dipakai anak kita dan teman-temannya belajar bareng, atau halamannya digunakan untuk menanam pohon-pohon yang menyejukkan orang yang lewat, menyejukkan mata dan memberikan tambahan oksigen dapat diartikan juga berwakaf untuk kepentingan umum. Intinya harta kita tidak hanya bermanfaat untuk kita sekeluarga tapi juga untuk orang lain.

2)     Ilmu yang Diamalkan

Pahala yang tak terputus lainnya adalah ilmu yang diamalkan. Banyak ilmu dimuka bumi ini. Selama ilmu itu bermanfaat, yang mengajarkannya akan memperoleh pahala. Katanya profesi yang banyak mendapat pahala dari ilmu adalah guru. Profesi guru bergelar MBA (= Menabung Buat Akhirat). Kata temanku guru yang paling banyak mendapat pahala dari ilmu yang diamalkan adalah guru SD karena guru SD lah yang mengajarkan kita ilmu dasar calistung (baca, tulis, hitung). Ilmu calistung akan selalu terpakai sampai kita mati. Lantas bagaimana dengan yu pecel? Aku tidak tau apakah yu pecel bisa baca, tulis. Yang pasti yu pecel pasti bisa berhitung (kalo ga, bangkrut lah dia). Yang pasti lainnya adalah yu pecel sangat mumpuni dalam ilmu membuat pecel. Yu pecel juga guru. Guru bagi ibu-ibu pembeli yang suka bertanya bagaimana membuat bumbu pecel yang mantap rasanya. Sewaktu ibu-ibu tersebut mempraktekkan ilmu yang diperoleh dari yu pecel, yu pecel akan memperoleh pahala. Lalu jika ibu-ibu tersebut  menurunkan ilmu membuat pecelnya pada anak gadisnya (mungkin juga anak lelakinya, jika suka memasak), maka yu pecel masih memperoleh point MLK (Multi Level Knowledge). Begitu seterusnya.

3)     Anak yang sholeh

Yu pecel punyak anak, tidak tau berapa. Yg jelas yu pecel pernah cerita beberapa kali tentang anaknya, berarti beliau punya anak. Soal kadar kesolehan anaknya, aku tak tau. Aku juga tak tau indikator pasti anak sholeh. Apakah anak yang rajin sholat, puasa, ngaji tetapi suka melawan orang tua dianggap sudah soleh? Atau apakah anak yang sholatnya bolong-bolong, puasanya kadang penuh, kadang tidak, apalagi mengaji, setahun sekali belum tentu buka al quran tapi sangat santun dan bertanggungjawab terhadap kemaslahatan orang tuanya yang sudah tua renta dianggap  tidak sholeh? Kalo dia rajin sholat, puasa, ngaji, santun pada orang tua, jelaslah itu sholeh. Tapi

kan

tidak semua orang tua seberuntung itu. Punya anak sudah beruntung, punya anak yang sholeh berarti beruntung seqaleee…. Cuma kalo anak kita setengah sholeh, dapat pahala ga seh ortunya?

     Menurut hematku (berpikir aja ko’ pake hemat2 segala. Padahal berpikirkan  kaga pake pitih, jadi boros gpp. Belanja nah baru kudu hemat), Allah memberi pahala sama seperti dosen memberi nilai. Tergantung usaha. Jadi biar hasilnya kurang sempurna, tetap ada nilainya. Kalau salah, masih ada nilai, ongkos nulis namanya. (Ingat, ada ayat yang mengatakan bahwa anak yang baru lahir itu ibarat kertas putih, orang tuanya lah yang “menulisnya” menjadi nasrani, majusi atau lainnya). Jadi jika seseorang mempunyai anak cuma ¼ sholeh, atau ½ sholeh atau ¾ sholeh, nilainya atau pahala yang dia dapat dari anaknya ya sebesar itulah, sebesar kebenarannya dalam mendidik anaknya. Tapi kalau anaknya berhasil mendidik anaknya lagi (jadi cucunya) dengan baik, pointnya akan terakumulasi. So, I think reward from Allah just like point system in Multi Level Marketing. Kalau down line kita bekerja keras, up line juga yang akan beruntung. Keberhasilan down line tergantung keberhasilan up line mendidik down line. Jarang up line yang beruntung dimana tanpa mendidik, tanpa kerja keras dapat down line yang baik. Begitu juga orang tua, jarang orang tua yang kurang baik mendidik anaknya terus ujuk-ujuk dapat anak yang sholeh. Kalo pun ada, itu karena nasib alias takdir suratan tangannya bagus.

      Terus bagaimana dengan orang yang tidak diberi kepercayaan untuk memperoleh keturunan langsung? Apa tidak bisa membuat jalan ke surga melalui cara ini? Tuhan itu Maha Adil, Maha Pemurah. Jadi ku pikir pengertian anak harus diperluas. Anak bukan berarti harus darah daging kita, bukan berarti harus lahir dari rahim kita. Anak-anak di muka bumi adalah anak-anak kita semua. Kita bertanggungjawab terhadap kemaslahatan setiap anak di muka bumi. Seharusnya tidak boleh ada anak-anak yang menderita di muka bumi. Jadi apabila kita berbuat baik dalam artian ikut mendidik, membesarkan, mengarahkan anak siapa pun di muka bumi ini kita akan dapat point dari Allah. Guru akan mendapatkan point dari anak didiknya. Orang tua asuh akan dapat point dari anak asuhnya. Orang tua angkat akan mendapatkan point dari anak angkatnya. Orang tua tiripun akan terselamatkan oleh doa anak tirinya, selama dia mempunyai andil dalam hidup anak yang berada di bawah tanggungjawabnya tersebut.

     Kita secara pribadi tidak mungkin menyelamatkan semua anak di muka bumi. Tapi jika tiap manusia dewasa bertanggungjawab terhadap anak-anak yang berada di sekelilingnya, maka seluruh anak di muka bumi akan selamat. Hal yang besar dimulai dari hal yang kecil.

SIMPULAN

1.

Ada

keterkaitan antara 3 pahala yang tak terputus, fokusnya adalah ilmu dan usaha. Allah meninggikan derajat orang yang berilmu. Tapi ilmu itu haruslah diamalkan (usaha). Untuk mempunyai ilmu juga kudu usaha (belajar, berpikir, memahami, merenungkan).Supaya bisa kaya dan berharta agar bisa berwakaf, kudu pake ilmu. Agar harta menjadi bermanfaat kudu pake ilmu juga. Selanjutnya agar punya anak yang sholeh, kudu punya ilmu untuk mendidik anak agar mereka tidak salah jalan dan dapat menurunkan ilmunya lagi kepada turunan mereka masing-masing.

2. Ilmu bisa diperoleh dari mana saja bahkan dari seorang Yu pecel. Hari ini aku belajar dari Yu pecel. Yu pecel berhak dapat point untuk tulisan ini.

  1. Kalo punya ilmu tidak boleh pelit. Karena ilmu akan berguna jika diajarkan kepada orang lain. Dengan mengajarkan maka akan semakin paham, bahkan terkadang akan mendapatkan nuansa baru dari sebuah hal yang sama.

  1. Kalo punya harta juga ga boleh pelit. Karena yang dibawa mati adalah harta yang disedekahkan bukan yang ditabung di bank atau yang diinvestasikan direksadana. Jangan hanya mengingat tabungan hari tua. Mengingat tabungan akhirat jauh lebih penting karena sewaktu kita check out dari muka bumi yang kita bawa hanya kavling tipe 21 (2 meter x 1 meter) dan dua lembar kain (paling panjangnya 5 meter, 1 lembar untuk menutup bagian atas, 1 lagi untuk sarungnya).

  1. Jangan ragu-ragu menegur anak-anak yang anda liat berbuat salah. Mereka juga adalah anak-anak anda juga. Anda mempunyai kewajiban mendidik mereka. Kalau anda takut  ditegur orang tuanya karena anda telah berani-beraninya menegur anak mereka, anda plototin saja anak yang berbuat salah itu. Tapi pastikan anda memelotin anak tersebut dibelakan orang tuanya, biar muka anda selamat dari bogem mentah.

  1. Hati-hati dengan lidah, perbuatan dan tindakan anda. Akibatnya bisa kemana-mana bahkan tujuh turunan. Ingat teori multi level marketing. Siapa yang menanam padi akan dapat padi. Siapa yang menanam

    duren

    akan dapat

    duren

    . Ya iyalah…masa nanam padi tapi panennya

    duren

    ??? Aneh tapi nyata ngkaleee….

  1. Setiap orang mempunyai jalannya masing-masing ke surga. Tinggal pilih saja. Yang jelas tidak ada jalan pintas menuju surga. Tuhan anti korupsi, anti sogok. Yu pecel juga punya jalan menuju surga.

**** Salam Kompak ****

AHMADIYAH, FPI & BOLA

AHMADIYAH, FPI  & BOLA

(This article ordered by Heru Suprantio)

by : Hessy Zainal

Tuesday Morning,

June 24, 2008

Cerita Sekolahku

Sewaktu aku masih bersekolah di Rumbai, tanah kelahiranku, aku mempunyai seorang teman bernama Fadhlullah. Ipaz panggilannya. Ipaz adalah anak yang pintar, selalu juara I di kelas dan juga pernah menjabat sebagai ketua OSIS di  SMA ku. Ipaz juga pernah menjadi juara teladan di Riau dan dikirim ke

Jakarta

sebagaimana para juara teladan lainnya se

Indonesia

untuk bertemu

Presiden

RI

, Soeharto kala itu. Setamat dari SMA, Ipaz diterima di ITB melalui jalur PMDK. Ipaz anak yang pintar, baik dan beragama Ahmadiyah.

Walau Ipaz beragama Ahmadiyah, kami di sekolah tidak pernah bermasalah dengan Ipaz. Kami bermain dan berorganisasi dengan Ipaz. Ipaz jadi ketua OSIS dan Emmy yang muslim jadi Wakil Ketua, begitu juga aku yang memakai jilbab menjadi sekretaris OSIS. Tidak pernah ada masalah selama kepemimpinan Ipaz di OSIS. Terkadang ada perbedaan pendapat dalam organisasi, tapi semua bisa diselesaikan and no hurt feeling after that. Ipaz juga damai-damai saja sewaktu bermain bola dengan teman-teman berbagai agama di sekolahku. Bahkan guru agama islam tidak pernah menggugat kehadiran Ipaz di kelas sewaktu pelajaran agama. Ipaz banyak hapal ayat Al-Quran, nilai agama Ipaz juga bagus, sama bagusnya dengan nilai Hasnawati  yang berjilbab itu J . Sewaktu acara buka bersama pada bulan Ramadhan, Ipaz juga ikut serta sebagai panitia. Ipaz juga berpuasa.

Ipaz beragama Ahmadiyah Qadiyan. Kami yang muslim regular (gw bingung juga memberi nama Islam yang gw anut. Namanya Islam aja

kan

ya? Apa disebut IA kaya rumah makan SA (Sederhana Aja) untuk membedakan dengan SB (Sederhana Bintaro)? ) tau kalau agama Ipaz agak berbeda dengan Islam yang kami anut. Terkadang sewaktu jam keluar main Ipaz, Hasnawati, Marsdenia, Togar dan Albert yang beragama Kristen Protestan  suka berkumpul. Topik yang dibicarakan biasanya adalah mata pelajaran yang baru saja diajarkan dan agak sulit. Yang lebih pintar akan menjelaskan kepada yang agak kurang mengerti. Terkadang yang dibicarakan menyerempet masalah keyakinan. Jika sudah berbicara keyakinan diskusi menjadi seru. Togar pernah membawa buku karangan seorang muslim (gw lupa namanya) yang berpindah keyakinan menjadi Kristen. Seperti jamaknya buku-buku para mualaf pasti yang dikarang adalah kekurangan dan kelemahan agama terdahulu. Diskusi Islam Kristen sering terjadi antar  teman-temanku itu, terkadang agak sengit.  Kebetulan mereka adalah penganut agama yang cukup ketat kalau tidak bisa dibilang alim. Marsdenia, dan aku juga pernah bertanya pada Ipaz “Paz, bukankah Ahmadiyah sudah dilarang di

Indonesia

? Bukannya Ahmadiyah itu aliran sesat?”. Ipaz menjelaskan bagaimana ajaran agamanya tersebut dengan tenang dan tersenyum. Ipaz tidak marah ditanya demikian. Walau sering berdiskusi sengit (dan mungkin kadang menyakitkan hati karena sedikit merasa disalahkan mengenai agama yang dianut) tidak pernah terjadi penghinaan secara verbal apalagi perkelahian yang berdarah-darah hanya karena perbedaan keyakinan. Kami tetap bisa bermain bola bersama. (Gw ga main seh….maksudnya yang mau main bola, ya boleh-boleh aja, apa juga hubungan agama ama bola).

Ipaz sekarang sudah tiada. Ipaz meninggal dalam keadaan beragama Ahmadiyah dengan meninggalkan segala kenangan kebaikannya.

Cerita Negeriku

Pada suatu Minggu pagi dibulan Juni 2008, sekelompok orang di negeriku yang terdiri dari orang-orang berbagai suku bangsa dan keyakinan mengadakan demo solidaritas untuk Ahmadiyah di Monas. Lalu tiba-tiba datanglah segerombolan pasukan berjubah putih yang menamakan dirinya dengan FPI (Front Pembela Islam) membubarkan kelompok yang pertama. Pembubaran dilakukan dengan kekerasan. Kelompok yang diserang berusaha menyelamatkan diri, yang tertangkap oleh FPI ada yang digebuki, ditendang sampai berdarah-darah. Seorang bapak-bapak yang melindungi seorang anak dan seorang ibu juga menjadi korban. FPI tidak suka dengan aksi kelompok ini yang membela Ahmadiyah.FPI ingin memurnikan Islam dari sempalan-sempalan dan ajaran-ajaran sesat. Panglimanya Munarman yang menyatakan bertanggungjawab atas peristiwa tersebut melarikan diri dan membuat pernyataan baru akan menyerahkan diri jika pemerintah membubarkan. Drama ini berakhir dengan ditangkapnya Habib Ridziq dan beberapa pentolan FPI, dikeluarkannya SKB 3 menteri mengenai Ahmadiyah dan Munarman pun menyerahkan diri untuk diproses secara hukum.

Sebenarnya drama ini belum benar-benar berakhir. Secara underground polemik Ahmadiyah masih berlangsung. Aku menerima e-mail yang berjudul ”Dimana Gus Dur dan Habib Ridziq sebelum peristiwa Monas.” Kenapa Gus Dur? Gus Dur adalah orang yang suka membuat polemik lebih menjadi-jadi dengan mengeluarkan pernyataan yang aneh-aneh. Dari e-mail tersebut dikatakan bahwa 1 hari sebelumnya Gus Dur berada di Israel untuk menerima bintang kehormatan dari orang Yahudi sementara Habib Ridziq mengislamkan Steve Immanuel seorang artis sinetron. Terlihat implisit e-mail tersebut sedang mengadakan provokasi untuk membela Habib Ridziq.

Suamiku juga bercerita bahwa telah 3x sholat Jumat di kantornya,  khotib Jumat selalu meminta jamaah untuk berdoa untuk keselamatan Habib Ridziq. Suamiku jadinya agak jengkel. Katanya ”Wah payah juga nih khotibnya, tadinya khotbahnya sudah bagus-bagus eh dirusak terakhirnya dengan doa bersama untuk Habib Ridziq. Saya mau bilang sama pengurusnya agar khotib untuk Jumat depan jangan dari FPI  lagi atau Jumat minggu depan saya sholat di mesjid lain saja. Mesjid betawi dekat kantor aja lebih bagus khotbahnya” Suamiku tidak suka dengan Habib Ridziq dan hobi berkomentar tentang khotib atau penceramah agama yang didengarnya. Suamiku sebenarnya agamanya tidak terlalu jago (tapi anak-anaknya semuanya ustadzah lulusan Pesantren Gontor. Hua ha3x.. anaknya jauh lebih jago agamanya dari bapaknya), cuma hobi sekali berkomentar tentang ustadz. Ustadz di mushola komplekku juga tak luput dari komentar suamiku. Selain itu sekarang juga sudah terpasang spanduk yang berbunyi ”Bubarkan Ahmadiyah” di komplek rumahku. FPI juga ada di desa tempatku tinggal. Masyarakat juga masih tidak puas dengan keluarnya SKB 3 mentri, mereka berharap di keluarkan keppres untuk pembubaran Ahmadiyah. SKB 3 menteri dianggap masih tidak jelas.

Pendapatku tentang Negeriku

Kata orang negeriku adalah negeri yang kaya. Kaya akan sumber alam, kaya akan budaya, kaya akan ragam suku bangsa dan juga kaya akan beragam keyakinan. Kata kakek dan nenek jaman dulu negeri ini ”Gemah ripah loh jinawi”. Kata suamiku yang orang jawa artinya subur, makmur, sentosa (”Kalo ga salah lho” katanya. Suamiku Jawa palsu emang.. J). Begitu indahnya kata orang, kata nenek moyangku tentang negeriku. Tapi yang kulihat sekarang ini semua berbeda dengan kata orang dan kata nenek moyangku. Negeriku adalah negeri yg dari segi pendapatan perkapita penduduknya termasuk kategori under developing countries alias negara miskin padahal sudah pernah sempat dikategorikan sebagai macan Asia. Negeriku memang terdiri dari beragam suku bangsa, budaya dan keyakinan tapi negeriku juga penuh dengan konflik gara-gara keragaman tersebut. Dari konflik horizontal antar suku (perasaan kaya jamannya Winetou dan Old Shatterhand aja ada perang suku) dan perang antar agama sampai konflik kepentingan dan konflik politik. Konflik rumah tangga lebih banyak lagi, sampai masuk TV diacara infotainment.

Sebenarnya apakah begitu jeleknya negeri ini? Aku yakin sebenarnya negeri ini tidak sejelek itu. Aku yakin sebenarnya kata orang dan kata nenek moyang jaman dulu itu benar. Negeri adalah negeri yang kaya yang seharusnya penduduknya bisa hidup aman, makmur dan sentosa. Tidak seharusnya ada orang mati kelaparan di negeri ini. Tidak seharusnya ada orang tua yang mengajak anaknya bunuh diri bareng-bareng karena sudah putus asa dengan kondisi ekonomi yang mendera mereka. Tidak seharusnya ada pelecehan dengan pembagian BLT Rp 100.000/keluarga kepada anak bangsa akibat kemiskinan yang tak tertanggungkan. Tidak seharusnya ada bayi yang disandera di rumah sakit gara-gara orangtuanya tidak mampu melunasi ongkos rumah sakit. Banyak sekali kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi di negeri ini. Tapi kenapa terjadi juga?

Penduduk negeri ini katanya 80% mayoritas beragama Islam. Pemimpinnya beragama Islam. Akan sulit jika seorang capres mencalonkan diri jika dia non muslim. Tidak usahkan non muslim, jika anda muslim tapi anda kebetulan terlahir sebagai perempuan, lalu anda mencalonkan diri menjadi presiden, itu saja bisa menjadi polemik. (Megawati kebetulan aja jadi presiden, karena Gus Dur diturunkan). Syukurlah sekarang sudah ada gubernur dan bupati perempuan. Sepertinya negeri ini sangat islami. Sepertinya tapi kenyataannya tidak. Kenapa ku bilang tidak?

Banyak sekali yang bertentangan dengan Islam di negeri ini. Di negeri ini seolah-olah banyak orang yang ingin memurnikan Islam sehingga kalau ada ajaran sesat (dimata mereka) lalu mereka akan menghunus pedang. Seolah-olah jika ada orang yang berbeda  maka darah mereka menjadi halal. Mungkin Ahmadiyah memang sesat. Kenapa ku bilang mungkin? Karena sesat atau tidak sesat, indikator yang digunakan adalah indikator  keyakinan masing-masing. Angat relatif sifatnya. Menurut orang Islam, ya Islam lah yang paling benar, orang lain kafir. Bagi orang Hindu, ya Hindu yang paling benar, muslim kafir. Bagi orang Kristen dan Katolik juga begitu, jika anda tidak percaya pada Tuhan Yesus maka anda tidak akan selamat dunia akhirat. Bagi orang Ahmadiyah, ya Ahmadiyah adalah segala-galanya. Mereka akan rela mati untuk membela keyakinannya. Mereka juga merasa jika mati dalam membela Ahmadiyah berarti jihad. Lantas jika sudah begini apa kita akan bunuh-bunuhan? Sungguh sangat menyedihkan pemahaman seperti itu.

Keyakinan itu sifatnya sangat individual. Tidak bisa dipaksakan. Bahkan dalam islampun ada ayat yang berbunyi  ”La iqrahafiddin”. Tidak ada paksaan dalam agama, demikian artinya. Allah saja pemilik jagat raya ini tidak memaksakan agama yang sudah ditunjuknya sebagai ”agama di sisiKu” itu untuk semua umat manusia. Allah memberikan kebebasan berkehendak (free will) bagi manusia, tentu dengan segala konsekuensinya. Agama itu adalah hidayah dari Allah. Jika tidak mendapat hidayah tidak bisa. Lihat saja Abu Thalib paman nabi, pembela nabi nomor wahid, beliau mati dalam keadaan kafir. Nabi Muhammad SAW bahkan memohon kepada Allah untuk pamannya. Tapi jika Allah tidak memberi hidayah, ya tetap saja demikian. Nabi juga tidak lantas membunuh pamannya yang berbeda keyakinan itu kan? Lantas kita saja yang bukan nabi, wali juga bukan, kenapa begitu gampangnya menghalalkan darah orang yang sedikit berbeda dengan kita?  Apa hak kita? Memangnya ada perintah Tuhan seperti itu? Sependek pengetahuanku perang hanya boleh terjadi jika kita diserang duluan. Jika tidak, haram hukumnya. Ibarat kata ayahku ”Musuh itu pantang dicari, tapi jika datang pantang dielakkan”. Begitulah seharusnya seorang ksatria bersikap. Kalau orang ga ngapa-ngapain mengapa juga kita serang mereka. Apa bukan tindakan pengecut itu namanya?

Membela agama itu tentu saja boleh. Harus malah. Tapi lakukanlah dengan elegan. Jangan seperti orang jaman batu. Islam diturunkan untuk ”mencerdaskan” orang jahiliyah. Islam datang dengan damai. Bagaimana cara ”perang” yang elegan. Lakukan dengan pendidikan. Dengan dakwah bil hal dan bil lisan. Dengan sikap dan perbuatan yang elok. Tunjukkan bahwa Islam itu fun, menyenangkan, orang-orangnya cerdas, bijak bestari, rendah hati, suka menolong dan sikap-sikan nan elok lainnya. Aku yakin, pasti ”perang” dengan cara ini jauh lebih efektif dan berhasil

Tapi apa yang terjadi sekarang di negeri yang ”sok ngislami” ini. Sorry kalo ku bilang sok ngislami. Karena kenyataannya memang begitu. Islam hanya menjadi bungkus, bukan bagian dari kehidupan. Islam hanya retorika semata, bukan sikap hidup. Coba kita lihat disekeliling kita..Sinetron yang katanya religi, penuh dengan hantu-hantu yang jelas-jelas tidak ada dalam Islam. Dah gitu ustadz ikut pula memberi sepatah dua patah kata untuk sinetron yang ngislami itu. Kemudian lihat betapa makmurnya para dukun dan paranormal di negeri ini. Malah dukun pun buka situs, buka ”praktek” via sms..Reg Ki Joko Bodo…Reg Mama lauren…Apa ga sakit jiwa tu orang Islam di negeri ini?

Yang lebih parah lagi, kebijakan-kebijakan pemerintah yang jelas-jelas kapitalis dibiarkan saja. Membiarkan sektor usaha dikuasai pengusaha besar sehingga mematikan para usaha kecil, menyulitkan orang susah modal untuk berusaha. Membiarkan sistem pendidikan dikuasai oleh pasar, sehingga biaya pendidikan menjadi begitu sangat mahalnya sehingga orang miskin tetap miskin karena sulitnya akses terhadap pendidikan. Mau murah, pendidikannya juga murahan, bagaimana mau bersaing setelah lulus? Orang miskin sudah miskin, tetap bodoh pula. Orang-orang inilah yang mudah dihasut. Mereka lapar, mereka bodoh, mudah dimanipulir untuk kepentingan segelintir orang. Pemahaman terhadap ilmu rendah, begitu juga terhadap agama. Wawasan mereka sempit sehingga mudah diajak berjihad dengan mengatasnamakan agama. Kasian orang Islam di negeri ini. Dikadalin, diakalin dimanipulir dimanfaatkan oleh orang-orang yang berkedok Islam padahal sesungguhnya Setan, Iblis, Najis. (Wah gw jadi esmosi neh menulisnya. Terus terang gw geram dengan aktor-aktor intelektual ini. Mereka yang seharusnya dibunuh. Bukan Ahmadiyah. Ahmadiyah cukup didakwahi saja, kalau mau kembali ya syukur. Kalo ga, apa urusan kita? Toh yang masuk neraka mereka. Kita juga belum tentu masuk surga. Jangan-jangan malah ketemu di neraka, terus diledeikin ama orang Ahmadiyah kaya gini : ”Loh ente yang nyerang-nyerang ane, kok masuk sini juga? Bukannya ente dah yakin bener bakal masuk surga?”).

Banyak kebijakan-kebijakan di negeri ini yang menyengsarakan rakyat. Tarif telpon dan sms yang terlalu tinggi, sehingga menguntungkan pengusaha terlalu banyak. Mengambil keuntungan yang terlalu banyak juga tidak islami. Keuntungan haruslah sewajarnya. Belum lagi kolusi antara aparat penegak hukum dan maling negeri ini untuk menilep uang rakyat sehingga uang yang seharusnya bisa dipergunakan untuk dana pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan hilang tak tentu rimbanya. Para koruptor tersebut dalam kehidupan sehari-harinya juga sangat ngislami dimana tiap tahun naik haji minimal umroh. Kalau lebaran haji, berkorban 1 ekor sapi (Kalo kita korban kambing juga dah bagus kan?), trus kalo zakat bulan Ramadhan 10%. Emang mereka pikir zakat, haji, umroh bisa membersihkan harta mereka? Syariah laundring kalee….kayak mafia melakukan money laundring dari bisnis maksiat (judi, pelacuran) ke bisnis legal. Hal-hal seperti ini yang harus dimusnahkan dari negeri ini. Ini yang tidak Islami.

Makna jihad harus dipahami secara paripurna. Jangan secara sempit. Jika jihad dimaknai secara sempit maka islam menjadi tidak fun, menjadi mengerikan. Ingatkah saudara-saudaraku sesama muslim apa kata nabi kita setelah perang badar? Nabi junjungan kita berkata ”Setelah perang ini kita akan menghadapi perang yang lebih besar.”  ”Perang apakah itu ya nabi ?” tanya seorang sahabat. Jawab rasul ”Perang melawan hawa nafsu (berpuasa). Itulah perang terberat”. Kalimat ini sebenarnya sarat makna. Perang melawan hawa nafsu adalah perang sepanjang hayat. Pada dasarnya itulah jihad. Banyak sekali nafsu yang harus kita lawan dalam hidup ini. Perang melawan nafsu malas belajar, nafsu malas bekerja, berusaha. Perang melawan nafsu serakah. Perang melawan nafsu menzolimi orang lain, melawan nafsu menerima suap meski gaji kecil dan perang-perang terhadap nafsu buruk lainnya. Jadi sesungguhnya hidup itu sendiri sudah merupakan jihad. Tinggal bagaimana kita memaknainya saja. Kalau kita menyadari jihad seperti ini, maka orang Islam akan menjadi muslim yang sesungguhnya. Muslim yang diharapkan oleh Allah dan nabi. Muslim yang membawa rahmatan lil alamin. Dan efeknya pasti orang senang melihat Islam. Tanpa harus berdarah-darah orang-orang akan berbondong-bondong masuk islam Persis seperti masa jayanya islam dahulu kala. Islam menjadi sebuah tonggak sejarah..Banyak kemajuan baik ilmu dan kehidupan di masa kejayaan islam tersebut. Tak ada darah. Semua agama bisa hidup dalam damai di negeri yang dipimpin oleh seorang amirul mukminin.

Penutup

Pada tahun 1986, Heru Suprantio, seorang mantan wartawan bola (sekarang pemred koran online www.Ghabo.com) ditugasi untuk meliput pertandingan bola antara Tim Nasional Indonesia melawan Tim Nasional Korea Selatan di stadium olimpiade Seoul. Saat itu timnas Indonesia diawaki oleh Adolf Kabo asal Papua sebagai striker / penyerang, Zulkarnaen Lubis asal Medan sebagai gelandang, Wahyu Tanoto yang beretnis China pada posisi belakang (Back) dan Ponirin Meca yang bersuku Jawa sebagai Kiper dan Nurdahyar.  Seorang wartawan asing berkata kepada Heru Suprantio ”Tim negara anda akan sulit menang karena terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Sulit menyatukan sebuah tim seperti itu.”. Walau orang asing tersebut hanya mengatakan mengenai timnas sepakbola apakah itu juga mencerminkan negara kita? Bahwa sangat sulit menyatukan negara ini karena terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan berbagai agama? Apakah berarti negara ini tidak akan pernah sukses, karena potensi konflik yang disimpan akibat perbedaan-perbedaan tersebut? Aku tidak sependapat. Tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan alam semesta. Sesuatu bisa jadi baik atau buruk tergantung pada manusianya. Keadaan buruk bisa diubah menjadi baik, asal ada kemauan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. (Kok gw jadi berpepatah petitih)

Akhirul kalam, aku hanya ingin mengajak marilah kita beragama sebagaimana orang bermain bola. Beragama dengan fun. Walau kita berbeda-beda tapi kemenangan bisa kita raih secara bersama. Marilah kita berjihad dengan karya, bukan dengan pedang. Marilah berjihad secara elegan, secara cerdas. Tak perlu ada darah lagi yang tumpah di negeri ini. Sudah terlalu banyak orang yang tak bersalah menjadi korban. Cukup sudah…Mari berkarya..mari bekerja..mari terus belajar…perluas cakrawala…

*** Wassalam ***

EURO 2008 & LIFE

EURO 2008 & LIFE

(Inspired by Heru Suprantio a Soccer Maniac)

by: Hessy Zainal

Monday, June 23, 2008

Sekarang hampir semua penggila bola kena demam piala Eropa, tidak terkecuali suamiku. Tiap malam walau pulang sudah larut malam pasti dia akan menyempatkan diri menonton bola meski matanya tinggal 2 watt. Jika pulangnya agak pagian (pagian itu maksudnya sekitar jam 10 atau jam 11 malam) maka suamiku itu akan tidur dulu (belum sholat isha, walau sudah ku ingatkan. Katanya sholatnya ntar pas bangun untuk nonton bola), lalu nanti bangun sewaktu acara bola dimulai. Kalo orang muslim yang baikkan, harusnya bangun tengah malam untuk sholat tahajud ya, sedang suamiku tahajudnya adalah tahajud bola..(Bang, yang rajin dong sholat tahajud, sholat tahajud dapat pahala, nonton bola kagak !!!…)

Aku sebenarnya bukan pencinta bola, tapi ga buta-buta amat tentang bola. Aku lebih suka bulu tangkis karena pertama aku mengerti sistem permainannya, bisa memainkan dan yang penting jam tayang pertandingan bulu tangkis belum pernah bentrok dengan jadwal tidurku. Sedangkan tayangan bola selalu bentrok dengan jam tidurku sementara aku punya penyakit susah bangun. Penyakitku berbanding terbalik dengan suamiku yang susah tidur. Pertandingan bola yang ku ikuti (minimal lewat koran) hanyalah pertandingan piala dunia dan piala eropa. Kenapa? Karena aku lebih suka menonton pertandingan dan memegang jagoan berdasarkan negara. Kalau liga Itali, liga Inggris dan liga2 lain aku tidak mengikuti, karena pemain liga seperti itu berasal dari negara nano-nano. Jadi ga jelas mau pegang klub yang mana. Kalopun nonton karena pemain bola banyak yang cakep. Lumayanlah daripada nonton sinetron mulu yang ga jelas ceritanya. (Mane pale si abang suka pusing kalo liat istrinya nonton sinetron mulu. Katanya ”Istriku dosen, S2, tapi hobinya nonton infotainment ama sinetron. Tidak habis pikir saya.”.(Lagian emang tayangan TV adanya cuma itu.!))..

Pada tulisan kali ini aku tidak akan membahas permainan bola (lagian aku memang bukan pakar bola…kalo tentang bola, biar suamiku saja yang menulis). Aku akan menulis filosofi bola …(.Taela S3 belum., sok-sok an mo bicara filosofi pula. Tapi ku rasa tidak apa. Minimal filosofi kehidupan yang dapat dipetik dari permainan bola berdasarkan pandangan seorang palalok…hua..ha..ha..)

SOCCER GAME VS LIFE

Bola itu bundar, begitu juga dengan kehidupan. Hidup berputar seperti bola, terkadang arahnya sulit diprediksi. Seringkali hidup berjalan tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita buat, tidak sesuai dengan keinginan yang kita kehendaki. Kita pikir kita akan menang ternyata kita kalah. Sebaliknya seringkali pada saat orang-orang melihat kita sudah tidak punya harapan lagi, ternyata kita keluar sebagai pemenang. Sebenarnya apa yang paling dibutuhkan dalam hidup ini?

Dari pertandingan Euro 2008, aku melihat bahwa ada 3 (tiga) faktor penting yang mempengaruhi kesuksesan dan keberhasilan sebuah tim yang bisa kita analogikan sebagai kehidupan. Apa saja faktor tersebut? Faktor-faktor tersebut adalah: 1) Skill  2) Kerja keras 3) Nasib.  Untuk bisa menang, minimal sebuah tim harus memiliki 2 faktor. Syukur kalo bisa memiliki ke 3 nya, akan tetapi  jarang sekali ada tim yang sangat beruntung sehingga bisa mempunyai ketiga faktor tersebut. Untuk membuktikan hal tersebut mari kita evaluasi sejenak hasil sementara pertandingan Euro 2008.

Turki dan Rusia adalah tim yang tidak diunggulkan, hanya dipandang sebelah mata. Pemain-pemain Ay-Yildizlilar adalah pemain kelas dua atau tiga Eropa. Kebanyakan pemain Turki berasal dari klub lokal Turki dan kalaupun merumput (sapi kaleee..) di luar negeri, bermainnya juga di klub-klub medioker, liga-liga tak terdengar. Sementara tim Rusia lebih parah lagi hanya terdiri dari pemain-pemain yang namanya sayup-sayup sampai alias hampir tak pernah didengar namanya. (Sampai sekarang saja aku pun tak tau nama-nama pemainnya…Namanya susah kali diapal). Bandingkan dengan tim-tim unggulan seperti Belanda, Prancis, Portugal, Kroasia yang bertaburan pemain bintang (dan cakep pula). Tapi apa nyana? (Nyana itu bahasa Indonesia kan bang?) Tim-tim unggulan itu tersungkur dibawah telapak kaki Turki (the sick men  pada Perang Dunia I) dan Rusia siberuang merah.

Mengapa Belanda bisa kalah dari Rusia? Padahal sebelumnya Belanda dengan gagah perkasa melaju ke perempat final dengan mengalahkan tim-tim unggulan dengan skor telak yaitu; Itali 3-0, Prancis 4-1, Rumania 2-0. Pas melawan Rusia yang dilatih oleh orang Jawa Timur itu, Gus Hiddiink, malah kalah. (Apalagi lawan PSSI yang dilatih oleh Gus Dur atau Gus Mus ya, pasti Belanda lebih keok lagi…hua..ha..ha…). Semua orang tau bahwa dari segi teknik dan personil,  tim Belanda jauh lebih unggul dari tim Rusia.

Kita lihat lagi pertandingan Turki melawan Kroasia. Pada detik-detik terakhir yang sepertinya Turki akan kalah ternyata Turki mampu menyarangkan gol ke gawang Kroasia sehingga kedudukan menjadi 1-1 dan diselesaikan dengan adu penalti. Turki akhirnya menang

Menurut analisis seorang mantan  wartawan bola, Heru Suprantio (yang nonton bola dan suka mengajakku bercakap-cakap tentang bola pada dini hari walau mata dan telingaku hanya separo melihat dan mendengar), bahwa Belanda hanya bisa main bagus jika lawannya juga bagus. Makanya sewaktu Belanda melawan Itali, Perancis dan Rumania, negara ini menang. Sementara jika Belanda melawan tim yang skillnya berada dibawahnya maka Belanda akan ikut-ikutan bermain buruk. Kata beliau, Belanda lebih mengutamakan keindahan dalam bermain bola. Sedangkan untuk partai Turki melawan Kroasia, Turki menang karena ada keajaiban.

Aku yang tak terlalu paham bola mengangguk-angguk saja mendengar analisis wartawan senior tersebut. Tapi yang kulihat adalah perlu minimal dua faktor  dari tiga faktor untuk memenangkan sebuah pertandingan. Faktor manakah yang penting? Menurutku yang penting adalah faktor  1) Kerja keras tanpa putus asa 2) Nasib.  Sementara kalau sebuah tim memiliki 1) Skill 2) Kerja keras, belum tentu bisa menang jika lawannya punya nasib yang lebih baik.

Perhatikan Belanda. Sewaktu melawan tim-tim unggulan yang sama-sama mempunyai skill yang baik, Belanda menang. Kenapa? Karena tim-tim tersebut mempunyai competitive advantage yang sama dengan Belanda. Mereka sama-sama punya skill yang mumpuni dan sama-sama bekerja keras. Akhirnya yang memiliki skill yang lebih unggul lah yang menang.Sewaktu melawan Rusia, Belanda malah seperti kehilangan akal. Rusia yang diawaki oleh pemain-pemain muda usia berhasil mementahkan permainan Belanda. Hilanglah seni total football-nya Belanda. Rusia bekerja keras dan punya nasib yang baik. Faktor nasib yang menentukan.

Lihat lagi Turki.. Pemain-pemain kelas dua tersebut mampu membungkam Kroasia. Turki mengalami nasib baik sampai 3x. Sungguh ajaib..Tapi ga mungkin semata keajaibankan? Pemain Turki juga telah bekerja keras tanpa putus harapan sampai pluit berbunyi. Kerja keras mereka membuahkan hasil manis.

HIKMAH EURO 2008

Ada hikmah yang bisa dipetik dari permainan bola:

1)       Walaupun kita lebih goblok dibanding orang lain jangan pernah putus asa. Yang penting kerja keras mana tau nasib berpihak pada kita. Gusti Allah ora sare. Tapi jangan kerja keras tanpa arah, tetap harus belajar, tetap harus mengasah skill. Karena tidak mungkin Rusia menang melawan Belanda kalau mereka tidak berlatih, tidak belajar dari kekalahan. (Makanya tukang becak walau sudah kerja keras seharian, tidak berubah juga nasibnya. Gw rasa karena malas atau tidak belajar, bahwa berprofesi tukang becak mungkin sudah tidak lagi mempunyai keunggulan kompetitif. Coba becaknya dibuat jualan sayur, atau jualan mendoan keliling, mungkin tukang becak tersebut akan lebih banyak punya pitih J )

2)       Untuk bisa melihat kekurangan kita, seringkali kita butuh orang lain. Sulit untuk melihat kekurangan kita, orang lain akan lebih objektif menilai kita. Jadi jangan marah jika dikritik atau diberi nasehat oleh orang lain. Berterimakasihlah pada orang yang mengritik kita walaupun kritikan itu pedas. Karena sambel yang pedas membuat makanan menjadi nikmat. Begitu juga kritikan yang pedas akan menjadi nikmat jika kita bisa membalikkan kritikan menjadi sebuah kesuksesan.

3)       Pada saat kita sudah memiliki keahlian yang mumpuni, jangan belagu, jangan suka menganggap enteng orang-orang yang lebih guoblok dari kita. Ingat! Bola itu bulat. Mana tau orang yang kita anggap enteng itu suatu saat mengalahkan kita, mana tau malah jadi atasan kita, atau malah menolong kita. Tetaplah rendah hati, bantu-bantu orang yang kurang beruntung dibanding kita. Manfaatkan keahlian kita sebanyak mungkin untuk kemaslahatan orang banyak.

4)       Faktor nasib sebenarnya dekat dengan Tuhan. Jadi disamping kerja keras, belajar jangan lupa berdoa. Berharaplah pada kemurahan hati Tuhan, sehingga Tuhan akan berpihak pada kita. Karena sebuah keberhasilan bukanlah semata-mata karena usaha kita tapi lebih pada kemurahan hati Tuhan untuk memberikan kesuksesan pada kita. Berapa banyak orang yang sudah jungkir balik dalam kehidupan, tapi hidupnya begitu-begitu saja? Apa yang salah? Coba diteliti lagi. Apa karena salah strategi (berarti harus belajar lebih banyak lagi) atau karena nasib? (Jangan-jangan karena terlalu sombong atau karena niat yang kurang lurus dalam mencapai kesuksesan)

5)       Kesuksesan jangan selalu diterjemahkan dengan materi, uang atau kekayaan. Sukses berarti tercapainya tujuan  hidup. Makanya suksesnya sebuah tim bola diukur dengan berapa banyak GOAL yang bisa dibuat. GOAL = TUJUAN. Sekarang anda sendirilah yang tau tujuan hidup anda. Apabila anda menginginkan anak-anak yang sholeh dan anda memperolehnya walau anda tidak kaya secara materi, berarti anda sudah sukses. Minimal sukses mendidik anak. Jika anda bercita-cita menjadi musafir kelana dan anda sudah berhasil mengunjungi beberapa negara walau tidak sebagai musafir kelana tulen, anda sudah bolehlah sedikit berbahagia karena sebagian dari cita-cita anda sudah terpenuhi. Apabila anda mengartikan sukses = kaya, berarti definisi kaya yang harus dibenahi. Karena apabila anda mengartikan kaya dari segi materi semata anda tidak akan pernah menjadi kaya. KAYA = MERASA CUKUP. Jika anda bergaji Rp 5 juta dan anda merasa cukup dengan uang sebesar itu, anda adalah orang yang kaya. Sebaliknya jika anda punya uang berember-ember (miliaran) atau bertong-tong (trilyunan) akan tetapi masih juga merasa belum cukup, masih haus juga akan uang, anda adalah orang paling miskin di dunia.

6)       Menurut agama saya tujuan hidup manusia adalah menyembah Tuhan (”Tidak Ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah Ku”). Apakah berarti dengan rajin sholat, puasa atau rajin ke gereja berarti kita sudah sukses? Aku tidak setuju. Menyembah = beribadah. Setiap kegiatan adalah ibadah selama niatnya dikarenakan Allah semata. Ibadah yang baik adalah ibadah yang bermanfaat bagi banyak orang karena agama diturunkan untuk rahmatan lil alamin (rahmat sekalian alam). Jadi jika pekerjaan yang anda geluti sekarang banyak manfaatnya bagi orang lain walau anda hidup sederhana, anda sudah bisa dikatakan sukses. Contohnya adalah Butet, wanita yang mengabdikan dirinya untuk mengajar baca tulis orang-orang kubu di Jambi. Dengan mengajarkan membaca, Butet telah membuka cakrawala berpikir suku terbelakang tersebut. Butet bersedia hidup sangat bersahaja di hutan Jambi demi mencapai cita-citanya memajukan orang Kubu agar orang-orang Kubu tersebut tidak dikadali oleh orang-orang kota manakala berbelanja ke kota. Tujuan Butet sangat sederhana tapi sekaligus sangat-sangat mulia. Tidak semua orang mampu berbuat seperti Butet. Butet orang kaya. Kaya hati. Butet adalah manusia yang sukses.

*** the end ***

BBM oh… BBM

BBM  oh… BBM

by : Hessy Z.S

Akhirnya BBM jadi juga naik lagi karena harga minyak dunia yang terus meroket. Banyak Demo yang menentangnya. Dari ibu-ibu sampai mahasiswa , dari tukang becak sampai mantan ketua MPR menentang kenaikan BBM. Semua tahu bahwa jika BBM naik, dampaknya akan kemana-mana. Ongkos angkot naik, ongkos bis naik,

tempe

yang sudah mulai mahal akan semakin mahal, belum yang lain-lainnya, pasti ikut naik juga. Alhasil akan semakin banyak orang yang mendadak jatuh miskin.

Seorang teman di kampus berkata seperti ini: “Sebagai dosen aku mengerti mengapa BBM harus naik, tapi sebagai ibu rumah tangga aku menolaknya.” Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata bagi seorang dosen jurusan ekonomi studi pembangunan saja kenaikan BBM sulit diterima, walau theoretically dia paham mengapa harus naik. “Gimana emak tukang pijet di komplekku ya?” dalam hati aku membatin.

Kenaikan BBM sebenarnya bukan barang baru di negari ini. Setiap presiden RI pasti pernah menaikkan harga BBM. Bahkan pernah dalam 1 tahun 3x BBM naik harganya (gile ga tuh??).

Ada

lagi teman yang berkata “Kalau setiap harga minyak dunia naik, terus kebijakan presiden adalah menaikkan harga BBM, berarti setiap orang bisa dong jadi presiden. Apa tidak ada cara lain untuk mengatasinya?”. Ku pikir “Benar juga ya. Kalo cuma gitu doang, gw juga bisa dong jadi presiden.”

Diantara berbagai silang pendapat mengenai kenaikan BBM, yang paling menarik perhatianku adalah pendapat seorang pakar ekonomi di radio Ramako. Ku pikir pendapat beliau ini sangat perlu di perhatikan oleh para pejabat terkait. (Kalo bukan pejabat, paling ga buat kita-kita rakyat Indonesialah. Biar ga dibego-begoin terus ama yang pro kenaikan harga BBM. ceile..gaya kali…)Begini katanya:

“Sebenarnya kenaikan harga minyak dunia tidak harus berimbas dengan mengurangi subsidi harga minyak dalam negeri. Kenapa? Ternyata pengurangan subsidi tersebut adalah akibat utang-utang negeri ini terhadap negara-negara donatur. Orang yang berutang akan terikat kepada krediturnya, akan membuat tidak mandiri dalam mengambil keputusan. Itulah yang terjadi di negeri ini. Yang lebih menyedihkan ternyata negara ini telah membayar utangnya melebihi utang pokok yang ada. Semua itu gara-gara system riba alias bunga (terbukti system riba tidak baik). Untuk membayar bunga pinjaman, pemerintah menerbitkan obligasi negara yang notabene juga menggunakan system bunga. Harga minyak yang naik, menyebabkan subsidi BBM juga membengkak, sehingga dibilang memberatkan APBN. Nah menurut ekonom tersebut, jika kita tidak punya utang, sebenarnya Negara masih mampu menanggung subsidi BBM.  Tapi gara-gara utang yang tak kunjung selesai tersebut (walau sudah membayar melebihi hutang pokok), subsidi rakyatlah yang harus dikorbankan. (Sungguh terlalu….)

Selain itu sekarang

Indonesia

sudah menjadi pengimpor minyak dan sedang bersiap-siap untuk keluar dari OPEC. Ini juga gara-gara salah urus. Produksi minyak

Indonesia

berada dibawah kebutuhan minyak dalam negeri, sehingga kita harus mengimpor minyak dari luar.  Kata pengamat tersebut semua ini terjadi gara-gara UU Migas yang ada. Sebenarnya kapasitas produksi minyak dalam negeri melebihi produksi actual. Kapasitas produksi negara ini melebihi kebutuhan dalam negeri. Sebenarnya kita masih bisa mengekspor minyak. Tapi mengapa yang terjadi sebaliknya? Ya itu, UU Migas. UU Migas memberikan kewenangan sepenuhnya bagi pengelola untuk menentukan jumlah produksi. Seperti kita ketahui, ladang-ladang minyak negeri ini banyak yang hak pengelolaannya sudah dijual ke pihak asing dan pihak asing tersebut hanya mau berproduksi sebesar yang dia inginkan, bukan sebesar kebutuhan negara ini. Kita maklum dong ama pola pikir tukang jual. Yang penting mana yang menguntungkan mereka aza kan? Sekarang akibat kebijakan yang tidak bijak itu, beginilah nasib kita. (Itulah akibat menyalahi UUD 45 pasal 33 ayat 3. Masih pada ingatkan isinya?  Bumi, air dan kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negera. BBM itu

kan

menguasai hajat hidup orang banyak bukan? Kenapa dijual-jualin ya?   Yang ada orang asing pada buang hajat semua disini  he..he..he…) Trus kita kebagian apa coba? Harusnya kan jika harga minyak membumbung tinggi, kita sebagai salah satu negeri yang dianugerahi minyak bumi oleh Sang Pencipta harusnya ikut menikmati dong..Tapi ini????

Sebagai pembanding, Malaysia dengan Petronasnya yang merupakan pemain baru di dunia perminyakan tidak terlalu susah-susah amat dengan kenaikan harga minyak dunia. Harga premium di sana jauh..jauh…lebih murah dari disini. Jika di kurs hanya Rp 3500 per liter..Bandingkan dengan Rp 6000 per liter di Indonesia..Berapa sih ladang minyak Petronas itu? Negeri ini sibuk menjual-jual sumber daya dalam negeri…sementara Petronas sibuk membeli-beli sumber daya…Malaysia sibuk berinvestasi…Kita sibuk jualaaaaaaaaaaan…….. Menjual bangsa ini…(Mau jadi apa sebenarnya negeri ini ha???)

Kata bapak Andi Malarangeng di tipi  “Sudah saatnya kita mensubsidi orang, bukan mensubsidi barang”…. Tapi kok kayak-kayaknya model mensubsidi orang ini tidak mendidik ya…trus ku pikir-pikir kok seperti merendahkan harkat dan martabat manusia ya…Kesannya gimana gitu loh kalo nrima BLT….ga diterima gimana, kalo diterima ya kurang…Alangkah lebih baiknya iklim kesempatan berusaha yang diperbaiki..Orang akan lebih senang memakan hasil keringat dan jerih payah dari pada hasil kasihani, even yang mengasihani adalah Negara.. Trus lagian Rp 100.000 per bulan itu ya ndak cukup la yaw. Kenaikan harga barang yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM

kan

lebih dari Rp 100.000. Memang sih yang banyak menikmati subsidi BBM adalah kalangan menengah atas…tapi

kan

yang paling terhimpit, paling menderita akibat kenaikan harga BBM adalah warga menengah ke bawah. Mau berusaha juga susah…Mo jualan, ga ada modal. Untuk makan aja dah syuysah. Kalopun bisa dagang kecil-kecilan, yang beli juga dah sulit uang…yang ada modalnya abis juga….

Ada

yang bilang, kemiskinan di

Indonesia

adalah kemiskinan struktural, karena pola pikir rakyatnya yang salah…Makanya kemiskinan sulit diberantas di negeri ini. Kalo ku liat-liat dan ku pikir-pikir, kayanya bukan pola pikir rakyatnya yang salah, bukan rakyatnya yang malas. Jangan-jangan yang betul adalah kesalahan pola pikir para pengatur negeri ini, atau para pengatur negeri ini yang malas berpikir ? Wallahualam bi sahwab

Note: Selalu ada cahaya ditengah kegelapan….

UBER CUP & THOMAS CUP

SUSAHNYA MO NONTON LANGSUNG UBER & THOMAS CUP

Dari tanggal 11 s/d 18 Mei ini sedang berlangsung pertandingan Uber dan Thomas Cup di Istora Senayan. Sudah lama sebenarnya aku ingin menonton pertandingan bulu tangkis secara live. Walau aku sudah menjadi penduduk Jakarta dari tahun 1987 tapi belum pernah sekalipun aku menonton peristiwa olah raga berskala nasional apalagi internasional secara live. Aku ingin paling tidak sekali saja menonton atlet dunia secara langsung. Oleh karena itu pada hari Rabu tangggal 14 Mei kemarin aku mengajak seorang sahabat untuk menonton uber cup langsung di Istora. Kebetulan sahabatku ini juga sama gilanya dengan aku, jadi dia bersedia saja ku racuni dan meninggalkan kelasnya yang jam 10.30 demi menemaniku. Dia juga penggemar bulutangkis dan punya obsesi ingin menonton langsung.

Singkat cerita, jam 10.30 kami tiba di Istora dan langsung antri tiket di barisan khusus wanita. Banyak calo yang berkeliaran menawarkan tiket. Mereka bilang tiket sudah habis. Di lembar tiket tertera harga tiket Rp 50.000 tapi calo-calo tersebut menawarkan dengan harga 2x lipat. Aku dan temanku moh membeli dari calo. Sayang pitihnya. Belum lagi dari sesama pengantri yang mengatakan bahwa kalo di loket resmi yg sedang ku antri itu, harganya cuma Rp 20.000. Tambah malaslah beli dari calo.

Antrian makin lama makin panjang. Udara juga makin panas. Aku mulai lelah. Tetapi loket tiket tidak kunjung di buka. Dan yang paling menyebalkan tidak adanya pengumuman resmi yang mengatakan apakah tiket masih ada atau tidak. Sewaktu temanku bertanya pada polisi yang menjaga antrian, dibilang masih ada, sedang diambil. Kami para fans bulu tangkis masih berharap mendapat tiket dengan harga resmi. Tapi sampai dengan jam 12.30 siang, loket belum dibuka juga. Keterangan resmi tetap tidak ada. Yang ada hanya katanya…katanya…akan dibuka jam 1.30 siang setelah pertandingan berjalan 1/2 jam. Kepalaku mulai nyut-nyutan..

Akhirnya dengan perasaan kesal aku ajak saja temanku pulang. Aku sudah tidak kuat mengantri tanpa kejelasan… Ya sudahlah…singkat cerita aku menonton quarter final uber cup Indonesia VS Belanda di rumah. Alhamdulilah Indonesia menang dan masuk semifinal. Tadi malam Tim Uber Indonesia menang lagi melawan Jerman..Cihuiiiii Tim uber Indonesia masuk final…Nanti Sabtu akan melawan China…Mudah2an menang… Maju terus timb uber Indonesia.

                             Sekian

TOUR DE GONTOR

TOUR DE GONTOR

By : Hessy Zainal

Rabu, 7 Mei 2008

Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang berilmu (Ali Imran 152)

Dan janganlah kau tinggalkan keturunan yang lemah di belakangmu (Hadits apa Quran ya?)

Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat (Hadits)

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan; “ Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Mujaadilah 11)

Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang yang bertakwa. (An Nuur 34)

Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak,  yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun (An Nuur 40)

Every road has ended. Every problem has solution at the end. (Karangan gw)

PROLOG

Di dalam sebuah mobil yang sedang parkir di depan kantin, Fiza menangis terisak-isak sambil memegang dan menarik-narik ujung bawah baju ayahnya yang baru saja datang dari

Jakarta

.

“Papa, pokoknya Fiza sudah bete. Fiza mau jalan-jalan. Papa minta izin sama ustadzah” begitu rengekan Fiza pada ayahnya

“Lantas apa alasan yang harus papa katakan  pada ustadzah?” Tanya ayahnya

“Terserah papa. Bilang aja Fiza mau mau dibawa ke dokter.” Jawab Fiza

“Itu

kan

namanya berbohong Fiza. Papa tidak suka berbohong. Jauh-jauh papa menyekolahkan Fiza disini agar Fiza bisa jadi orang yang baik. Sekarang kok malah menyuruh papa berbohong kepada ustadzah. Papa tidak mau” sergah ayah Fiza

Rengekan Fiza semakin menjadi-jadi. Fiza tidak perduli dia menjadi tontonan para adik kelasnya. Dibenak Fiza yang ada hanyalah bagaimana caranya bisa keluar sejenak melepaskan stress di luar pesantren.

Di teras Bapenta, Upik menekuk mukanya dan  matanya merah sembab, karena air mata. Upik terlihat berusaha keras menahan tangis sambil mendengarkan petuah-petuah ayahandanya. Upik sudah tidak tahan lagi tinggal di pesantren. Upik ingin pulang dan tak kembali lagi ke pesantren.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan hal yang penting dalam hidup manusia. Manusia yang tidak mendapatkan pendidikan ibarat manusia yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh cahaya dalam hidupnya. Ibarat berjalan dalam kegelapan malam nan kelam, berjalan tanpa arah tujuan yang jelas,. Ibarat berjalan ditengah hutan belantara tanpa tongkat, peralatan dan senjata untuk bertahan hidup,. Ibarat berlayar di tengah lautan tanpa kompas penunjuk arah, tanpa perahu yang kuat untuk menahan topan, badai dan ombak yang dahsyat. Sungguh sebuah perjalanan yang mengerikan, penuh risiko dan berbahaya. Perjalanan hidup seperti itu adalah tragedi dalam sebuah kehidupan. Tidak ada orang yang ingin melakukan perjalanan sedahsyat itu dalam hidupnya.

Pendidikan atau ilmu itu penting, semua orang tahu tapi tidak semua orang menyadarinya secara penuh apalagi tau dengan pasti pendidikan atau ilmu apa yang dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup apalagi untuk meningkatkan hidup. Oleh karena itu banyak sekali orang mengalami kegagalan dalam hidup ini atau orang yang stagnan dalam hidupnya. Kegagalan atau keberhasilan yang dimaksud disini bukan bersifat materi tapi lebih luas dari itu. Karena bisa jadi sebuah kegagalan adalah sebuah proses pembelajaran dalam hidup, sehingga pada akhirnya meningkatkan kualitas manusia tersebut. Setiap orang pasti pernah ditimpa kegagalan, tapi bukan kegagalan tersebut yang menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana manusia tersebut mengambil hikmah atau pelajaran dari kegagalan tersebut, kemudian bangkit dari kegagalan tersebut. Kegagalan seperti ini berarti ibarat masuk sekolah, diuji, kemudian lulus dengan nilai memuaskan. Sebaliknya jika seseorang ditimpa kegagalan, dan tidak pernah bangkit lagi, ibarat masuk sekolah, diuji, kemudian tinggal kelas, bahkan bisa jadi diturunkan kelasnya karena tidak mampu memahami ”ilmu” yang sedang diberikan oleh ”Sang Invisible Hand”.

Sewaktu seorang anak manusia masih kecil, dia membutuhkan bantuan untuk menentukan pendidikan apa yang terbaik untuknya. Ilmu apa yang seharusnya dia pelajari. Ilmu apa yang seharusnya dia kuasai dengan baik. Disinilah peran orang tua. Orang tua adalah guru pertama yang memberikan ilmu kepada seorang anak manusia. Peran orang tua dalam mendidik anak sangatlah besar. Anak-anak yang tumbuh besar menjadi manusia yang gagal dalam masyarakat, bukan hanya menjadi beban keluarga tapi juga beban masyarakat (yang dimaksud bukan hanya bandit, tapi juga termasuk koruptor) besar kemungkinan karena kesalahan orang tua mereka. Orang tuanya telah salah menanamkan ilmu dalam diri anaknya.

Setiap orang tua pasti ingin menyekolahkan anaknya di tempat terbaik. Untuk itu dibutuhkan informasi yang memadai sebelum orang tua memutuskan untuk memasukkan putra-putrinya ke sebuah institusi pendidikan tertentu.

Aku adalah seorang pendidik. Karena aku seorang pendidik aku jadi suka mengamat-amati (walau tidak mengamati secara profesional) sistem pendidikan di suatu sekolah jika aku berkunjung ke sekolah tersebut. Minggu lalu aku berkunjung ke Gontor Putri 3 sebuah pesantren putri yang terletak di desa Karang Banyu – Ngawi – Jawa Timur. Pesantren ini yang ingin aku ceritakan. Artikel ini dibuat dengan tujuan sebagai tambahan informasi bagi orang tua yang ingin menyekolahkan putrinya.

TOUR DE GONTOR

Aku sudah sering mendengar tentang pesantren ini dan aku yakin banyak orang yang mengetahui keberadaan pesantren ini. Selama ini yang ku ketahui mengenai pesantren ini, sangatlah sedikit. Aku hanya mengetahui bahwa para santri wajib berbahasa Inggris dan Arab. Jika mereka bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia maka mereka akan kena hukuman. Selebihnya aku cuma berpikir mereka belajar ilmu agama dan ilmu pelajaran umum lainnya sama dengan sekolah-sekolah islam terpadu laninnya. Tapi setelah beberapa kali aku berkunjung aku melihat sesuatu yang berbeda dengan sistem di pondokan ini, yang mungkin tidak diterapkan di pondokan-pondokan lain atau boarding school lainnya.

Infrastruktur dan Lingkungan

Pertama kali aku mengunjungi pesantren putri 3 ini aku mendapatkan kesan sekolah ini jauh sekali ya, mana di tengah sawah pula. Jauh dari peradaban. Dalam hati aku berkata pasti tidak enak sekolah disini. Tapi setelah beberapa hari di sana dan beberapa kali mengunjungi pesantren tersebut aku mempunyai kesan tersendiri. Keadaan memang membuatku harus mengunjungi pesantren ini dan tiap kali mengunjungi pasti lebih dari 1 hari, minimal 3 hari.

Sebelum sampai di pesantren putri 3, aku melalui pesantren putri 1 dan 2. Kesan sekilas tentang putri 1, biasa-biasa saja. Pesantren putri 1 terletak di Mantingan, di pinggir jalan raya dan lingkungan sekitar masih agak lumayan. Walaupun kampung tapi ga kampung-kampung amatlah. Berbeda dengan pesantren putri 3 yang terletak 6 km dari pesantren putri 1 & 2. Untuk mencapai lokasi, kita melewati hutan, walau masih seram hutan di Sumatra, tapi lumayan gelap jika dilewati malam hari, tidak ada penerangan. Namanya juga lewat hutan. Soal jalan raya tidak masalah. Jalan raya cukup mulus, hanya saja harus berhati-hati karena rawan kecelakaan.Pesantren putri 3 tidak terletak di pinggir jalan, masih harus masuk ke jalan berbatu ke dalam sekitar 300 – 400 meter (Gw ga tau pastinya, soalnya gw waktu berkunjung ga bawa meteran n ga ngukur juga. Jadi kira-kira aja. Masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ongkos becak motor Rp 3000 dari jalan raya ke pondok).

Ketika memandang bangunan fisik sekolah dari kejauhan, terlihat bangunan ini adalah gedung  mewah satu-satunya di lingkungan tersebut. Sisanya adalah sawah yang ditanami padi dan diselang-selingi dengan tanaman tebu dan melon. Dikejauhan terlihat berdiri dengan kokohnya gunung tertinggi nomor dua di pulau Jawa yaitu gunung Lawu. Bangunan lain di pinggir jalan masuk pesantren hanyalah rumah-rumah penduduk yang semi permanen, warung bakso serta warung makan. Ada mesjid kecil permanen yang lumayan bagus di pinggir jalan sebelum jalan masuk ke pesantren (aku pernah bermalam di mesjid ini, karena kemalaman tiba di pesantren. Mau mencari penginapan sudah tanggung, sudah jam 12.30 malam, sedang subuh sebentar lagi dan aku sudah harus berada di pesantren saat itu).

Setelah masuk lebih jauh, kesan mewah menjadi berkurang. Aku mulai menapaki dan mengelilingi lingkungan gontor. Pertama kali masuk yang ku temui adalah pos penjagaan yang di jaga oleh seorang santriwati. Di sini pengunjung harus mencatat nama dan siapa yang akan dikunjungi. Setelah itu pengunjung bisa menuju Bapenta (Bagian Penerimaan Tamu). Di sini pengunjung melapor lagi kepada santriwati yang sedang bertugas untuk memanggil santriwati yang akan ditemui. Jika santriwati sedang belajar di kelas, maka pengunjung harus menunggu sampai santriwati selesai belajar.

a. Bapenta

Gedung Bapenta selain berfungsi sebagai tempat menerima tamu juga berfungsi sebagai tempat istirahat dan penginapan gratis bagi orang tua, aa, teteh, adik, encang, encing atau siapa saja yang mengunjungi santriwati. Terdapat tiga ruangan berukuran sedang disini. Satu ruangan untuk pengunjung pria, satu ruangan untuk pengunjung wanita serta satu ruangan yang berfungsi sebagai kantor penerima tamu. Untuk masing-masing ruangan dibelakangnya terdapat sebuah ruangan kecil untuk sholat dan 3 (tiga) buah kamar mandi. Di dekat kamar mandi terdapat jemuran. Jadi para orang tua atau pengunjung yang tidak membawa kendaraan atau ingin menunggui anak / ponakan secara paripurna bisa menginap di Bapenta ini. Hanya saja diperlukan mental yang cukup kuat untuk tinggal dan  menginap disini. Karena hanya tersedia dua ruangan, maka ruangan tersebut digunakan secara bersama-sama. Tidur pun seadanya, di lantai beralas karpet tipis dengan matras tipis, dan bantal seadanya. Matras serta bantal tersebut sudah dipakai oleh puluhan mungkin ratusan pengunjung. Jadi anda bisa bayangkan kondisinya. Tidak ada seprei untuk matras dan tidak ada sarung untuk bantal. Jadi ”wajah” matras dan bantal persis seperti negara kita ini yang terdiri dari pulau-pulau (pulau keringat maksudnya J ). Jika pengunjung sedang ramai, maka teras Bapenta pun digunakan untuk tidur para tamu. Walaupun kondisi ”tempat penampungan sementara” orang tua / pengunjung demikian sederhananya, tidak ku lihat wajah-wajah susah di sana. Semua orang terlihat biasa saja. Para orang tua saling menyapa dan bertukar cerita mengenai anak-anak mereka yang sedang belajar di pondok. Setiap kali ada yang baru datang di Bapenta akan disapa hangat, lalu akan disalami dan ditanya: ”Baru datang bu? Atau ”Baru datang pak, dari mana?”.

Usia pengunjung sangat bervariasi dari balita yang baru bisa main bola sampai nenek-nenek. Semua terlihat senang menunggui anak, kakak, adik atau ponakan yang sedang menuntut ilmu di pondok ini. Memandang  hal tersebut aku berkata dalam hati, memang sakti orang-orang ini. Dari cerita-cerita yang ku dengar ada orang tua yang sudah 7 tahun atau 10 tahun (tergantung berapa anak yang bersekolah di sini) menjalani hidup ”penuh penantian” seperti ini dan luntang lantung selama ”penantian”. Maksudnya jika anak / ponakan / santri sedang belajar maka pengunjung harus pintar-pintar mengisi waktunya. Pertemuan dengan santriwati hanya bisa dilakukan pada saat santriwati turun main atau sedang tidak ada kegiatan. Sementara sepertinya santriwati di sini selalu ada kegiatan. Siang belajar, malam pun ada kegiatan lain seperti pidato atau diskusi. Jadi walau orang tua beberapa hari di sini, total jam pertemuan tidak lah banyak. Malah lebih banyak total jam penantiannya.  Saat-saat penantian ini lah yang mungkin paling membosankan. Ku lihat ada yang mengisinya dengan berbincang-bincang sesama pengunjung, ada juga yang berjalan-jalan melemaskan kaki, ada juga yang tidur-tiduran atau bengong saja. Ada juga yang memanfaatkan jedda waktu ini untuk pergi keluar pesantren baik menggunakan kendaraan umum atau pribadi. Biasanya keluarga keluar pesantren untuk membeli keperluan santriwati yang tidak bisa diperoleh di pondokan.

b. Kantin

Yang menarik lagi dari pesantren Gontor ini adalah soal memenuhi kebutuhan pokok perut pengunjung. Soal mengisi perut juga bukan hal yang mudah, pengunjung harus sedikit taktis dan strategis jika tidak ingin kelaparan di sini. Mengapa? Seperti ku ceritakan tadi, pesantren putri 3 terletak agak jauh dari keramaian. Maka untuk mengisi perut biasanya para pengunjung mengandalkan kantin yang ada di komplek pesantren. Masalahnya kantin ini hanya buka pada jam-jam tertentu yaitu pada saat santriwati turun main. Kantin buka ditandai dengan terdengarnya lagu dari dalam kantin dan dinyalakannya lampu serta pintu di buka. Di luar jam turun main, kantin tutup. Jadi jika anda tidak ingin kelaparan selama masa penantian maka anda harus mempunyai stock makanan dan minuman. Belum lagi soal menu. Menu yang tersedia di sini adalah menu sederhana, seperti goreng tahu, tempe, mie, telur dadar dan oseng-oseng sayur. Kualitas nasi pun juga sederhana. Pada hari libur santri, hari Jumat, disediakan menu agak spesial. Sewaktu aku berkunjung kemarin, pada hari Jumat di kantin tersebut tersedia ayam goreng tepung dan hati ampela. Sistem kantin bersifat prasmanan, ambil sendiri sesuai yang anda inginkan. Jika anda menginginkan minuman panas, anda harus membuatnya sendiri di dapur. Biasanya santriwati yang membuatkan untuk keluarga yang sedang mengunjunginya. Setelah itu kita pergi ke kasir yang dijaga oleh santriwati senior yang dipanggil ustadzah.

Kantin ini hanya boleh dimasuki oleh santriwati yang sedang dikunjungi. Jika santriwati sedang makan di kantin bersama orang tua/keluarga, dia boleh membawa dua orang temannya. Saat-saat ini adalah saat-saat yang membahagiakan hati santriwati yang dikunjungi dan temannya santri. Kenapa? Karena makan di kantin merupakan sebuah kemewahan, dimana santriwati bisa ”beristirahat” sejenak dari menu harian yang menjadi jatah di pondok. Berarti anda bisa mengira-ngirakan bagaimana jatah para santriwati, jika makanan di kantin yang sederhana saja merupakan suatu kebahagiaan tersendiri? Bagi teman yang diajak ikut serta, juga ikut senang, karena ini kesempatan untuk ditraktir oleh orang tua / keluarga temannya.

c. Rayon

Mungkin membaca kata rayon anda akan menebak-nebak maksudnya. Rayon adalah sebutan untuk kamar-kamar asrama di mana santriwati tidur. Nama-nama rayon di pesantren putri 3 (juga di pesantren gontor lainnya) cukup unik. Kebanyakan mereka mengambil nama-nama di jazirah Arab. Di pesantren ini ada rayon bernama Ghaza, Thaif, Carbella, Andalusia dan lainnya. Setiap rayon berisikan sekitar 19 – 26 santriwati, tergantung luas rayon. Fasilitas rayon adalah kamar mandi dan jemuran yang dipakai secara bersama. Keadaan di dalam rayon sangatlah bersahaja. Ruangan yang berukuran sekitar 6m x 6m yang dihuni oleh 19 – 26 santri hanyalah berisikan kasur-kasur santriwati dan sebuah lemari kecil. Kasur-kasur tersebut harus digulung pada pagi hari dan disusun rapi. Hal ini memudahkan proses pembersihan ruangan. Sedangkan lemari berfungsi untuk menyimpan pakaian dan buku-buku pelajaran. Jadi area pribadi milik santriwati hanyalah seluas kasur dan lemari yang dimilikinya. Tebal tipis kasur terserah, karena kasur tidak disediakan pondok, harus dibeli sendiri.  Jadi kasur boleh tebal tapi tidak boleh lebar. Kasur yang diperkenankan adalah kasur ukuran single. Terkadang santriwati ada yang menambahkan karpet kecil di bawah kasurnya.

Karena luas area pribadi yang kecil, maka barang-barang yang diizinkan untuk dibawa juga dibatasi. Ditakutkan jika terlalu banyak membawa benda-benda maka akan mengganggu area santriwati lainnya. Jadi pakaian yang boleh dibawa hanya 7 stel. Secara berkala akan diadakan inspeksi, jika santriwati memiliki lebih dari 7 stel, maka pakaian tersebut akan “diamankan” ustadzah dan bisa diambil kembali oleh wali murid.

Selain itu di dinding-dinding rayon juga tertulis besar-besar kalimat-kalimat untuk memotivasi para santriwati. Kalimat-kalimat tersebut tertulis dalam bahasa Inggris. Contoh kalimat-kalimat tersebut adalah:

” Studying without thinking is useless. Thinking without studying is dangerous”

“Even the best can be improved”.

d. Fasilitas lain

Fasilitas lain yang terdapat di pesantren selain ruang kelas yg terletak di gedung bertingkat, dan kantor administrasi adalah aula, shoping center dan resto (tempat makan santriwati).. Uniknya sewaktu aku berjalan-jalan mengelilingi pesantren, di beberapa lokasi seperti di shoping center aku melihat ada karton yang ditempel yang berisikan kosa kata (vocabulary) Arab, Inggris dan Indonesia. Jika anda membaca kata shopping center jangan membayangkan tempat yang mewah. Shopping center tak lain hanyalah sebuah ruangan kecil yang menjual keperluan pokok santriwati seperti sabun, odol, pulpen, buku dan lain-lain. Di sini juga terdapat lapangan upacara yang sangat luas dan kadangkala berfungsi sebagai areal perkemahan.

Selain fasilitas untuk santriwati, di komplek pondokan juga terdapat rumah untuk para kiyai, wali kelas atau ustad/ustadzah yang sudah berkeluarga. Disamping itu juga ada guest house. Guest house biasanya diperuntukkan untuk menerima tamu-tamu pesantren yang memberikan ceramah bagi santriwati. Guest house ini berbeda dengan ruang-ruang lain yang ku lihat. Fasilitas guest house cukup mewah. Ada kursi tamu berukir, meja makan yang bagus dan ruang tidur yang nyaman. Guest house juga terkadang digunakan untuk rapat para ustadzah.

Sistem Pendidikan & Laboratorium Raksasa

Gontor seperti halnya pondok pesantren lainnya memadukan pendidikan dunia dan akhirat. Dalam artian santriwati wajib belajar ilmu-ilmu umum dan ilmu agama secara paripurna. Pendidikan dimulai dari kelas 1 (setara dengan kelas 1 SMP diluar) dan akan berakhir di kelas 6 (setara dengan kelas 3 SMU). Sebelum masuk ke kelas 1, biasanya para santriwati akan mendapat semacam matrikulasi untuk penyamaan tingkat ilmu. Karena banyak juga yang masuk ke pesantren belum mengenal huruf hijaiyah sama sekali, alias belum bisa mengaji.

Santriwati tidak harus memulai dari kelas 1 (tamat SD) tapi bisa juga masuk pesantren setelah menamatkan SMP di luar pondok. Dalam kasus ini maka santriwati akan masuk ke kelas intensif untuk mengejar ketertinggalan dari teman-teman kelas 4 yang berasal dari kelas 3 reguler. Nanti setelah itu kelas reguler dan intensif akan digabung. Setelah santriwati menamatkan studi di pondok, santriwati tidak langsung menerima ijazah. Mereka diwajibkan untuk mengabdi baik di pondok atau di luar pondok selama 1 tahun. Setelah menyelesaikan pengabdian, baru ijazah dapat diambil.

Melihat dari dua paragraf di atas, tidak ada yang istimewa dari sistem pendidikan di Gontor. Ya itu jika dilihat dari sistem kelas semata. Tapi jika dilihat lebih jauh, sebenarnya pesantren ini lebih menekan kan pendidikan mental. Atau dengan kata lain pesantren ini lebih menekankan kan untuk memberikan ilmu hidup dibandingkan ilmu pelajaran. Inilah mungkin yang membuat pesantren ini berbeda dibandingkan pesanten-pesantren lain. Pesantren ini seperti laboratorium raksasa untuk belajar hidup bagi para santriwati. Mengapa demikian?

Seringkali kita lihat dalam kehidupan ini orang-orang yang bersekolah di sekolah yang sangat maju, modern, canggih tapi ternyata cuma begitu-begitu aja di tengah masyarakat. Cuma begitu-begitu aja masih mending lah, ini tidak, sekolah sudah bagus, canggih tapi gagal juga dalam kehidupannya. Setelah besar, menikah, tak kunjung bekerja, kalaupun bekerja, tetap tidak mandiri, tetap masih harus disupport orang tua secara moril maupun materil (maksud gw, dikit-dikit mengeluh sama ortu, dikit-dikit harus dibesarkan hatinya, trus sudah tua masih juga minta doku ortu. Istilah kerennya: Uji Kelamin alias Usia Jigo kelakuan Minim). Ada juga alumni sekolah agama, tapi setelah besar jadi bandit, jadi koruptor. Berarti jadi sampah dan beban masyarakat kan? Ada juga alumni dari sekolah murahan, sekolah kampung di suatu dusun antah berantah yang di peta aja ga ada, bahkan dicari dengan menggunakan google earth juga ga nemu, malah berprestasi,  berhasil menggondol gelar Phd, menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Jadi sebenarnya model pendidikan seperti apakah yang dibutuhkan oleh seorang anak manusia?

Ini bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Kehidupan merupakan sesuatu yang kompleks. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang gagal atau berhasil dalam hidup dan kehidupannya. Faktor pendidikan hanyalah salah satu faktor. Walau begitu pendidikan merupakan faktor penting. Menuntut ilmu yang benar dan secara benar mutlak dilakukan seorang anak manusia. Lantas ilmu apa yang benar itu?

Menurut hematku di dunia ini ilmu dapat kita kategorikan jadi 2 (dua) golongan besar yaitu: 1) Ilmu pelajaran (sains) 2) Ilmu Hidup (bukan ilmu hayat lho..itu mah biologi, masuk ilmu pelajaran). Ilmu pelajaran adalah ilmu yang kita pelajari di bangku sekolah seperti matematika, kimia, fisika, ekonomi, ilmu bumi dlsb. Sedangkan ilmu hidup adalah ilmu yang lebih komplek, adanya di jalanan, lebih banyak diajarkan oleh ”invisible hand” melalui peristiwa-peristiwa yang kita lihat atau kita alami..

Ada perbedaan yang sangat besar antara ilmu pelajaran dengan ilmu hidup. Kalau kita menuntut ilmu pelajaran, kita bisa memilih ilmu pelajaran mana yang kita sukai dan ingin kita pelajari atau kita dalami. Untuk memahaminya bisa belajar di sekolah, diajarkan seorang guru atau membaca buku atau dengan melakukan uji laboratorium. Mempelajari ilmu sains, biasanya dilakukan secara sadar. Sebaliknya ilmu hidup adalah ilmu yang seringkali tidak kita sadari dalam kehidupan ini. Kita sering kali tidak sadar bahwa kita sedang belajar di ”sekolah kehidupan”. Tiap tarikan nafas manusia sebenarnya mengandung pelajaran yang sedang diberikan oleh ”Sang Invisible Hand”. Hanya saja tidak semua orang sadar akan hal tersebut. Ilmu yang sedang diajarkan sejak membuka mata di pagi hari seringkali lewat begitu saja seperti halnya oksigen yang kita hirup, tapi tidak kita sadari.

Disamping perbedaan tentu ada persamaan dari dua golongan ilmu tersebut. Persamaannya adalah diwaktu kita kecil kita butuh bantuan orang yang ”lebih berilmu” untuk membantu kita memahami ilmu tersebut. Setelah besar, kita bisa mencari sendiri. Untuk dapat memahami kedua ilmu tersebut diperlukan kecerdasan akal dan kecerdasan hati, hanya saja prosentasenya berbeda. Untuk sains tentu saja kecerdasan akal lebih menentukan tingkat pemahaman,  sedangkan untuk ilmu hidup, kecerdasan hati lebih berperan. Kedua ilmu ini penting sifatnya. Tapi mungkin ilmu hidup jauh lebih penting….

Gontor sebagai sebuah pesantren sepertinya sangat menyadari pentingnya ilmu hidup bagi seorang anak manusia untuk dapat survive dalam situasi atau kondisi apapun. Istilahnya mungkin: No matter how hard the life, u must survive, no complaint. Pada dasarnya menyesuaikan diri untuk kehidupan yang lebih baik tidaklah sulit. (Dari miskin jadi kaya pan ga susah lah yaw…). Yang susah adalah menyesuaikan diri tanpa mengeluh apabila yang terjadi adalah sebaliknya.

Seperti yang ku ditulis di atas, biasanya ilmu hidup kita peroleh dijalanan, diajarkan oleh ”Sang Invisible Hand”. Sementara itu pesantren Gontor secara sadar membuat sebuah lingkungan artifisal sedemikian rupa sehingga santriwati tanpa sadar telah belajar ilmu hidup. Persis seperti Tuhan menyuruh kita berpuasa. Perintah wajib berpuasa kalau dipikir-pikirkan sebenarnya sebuah kondisi artifisial yang dibuat Tuhan agar kita merasakan sulitnya, pedihnya, ga enaknya jadi orang miskin. Puasa mengasah hati kita untuk dapat berempati dengan penderitaan orang lain. Merasakan langsung penderitaan (walaupun artifisial) merupakan sebuah pelajaran hidup juga kan? Dan pelajaran mengenai penderitaan tidak akan menancap dalam hati jika hanya dibicarakan secara teori di depan kelas.

Lingkungan artifisial yang dibuat oleh Gontor adalah lingkungan yang sedemikian rupa sulitnya, sedemikan rupa menyebalkan melalui peraturan-peraturan aneh sehingga diharapkan setelah keluar dari Gontor, para santriwati akan mampu bertahan dalam situasi kondisi seadanya, situasi menekan dan serba terbatas, tanpa mengorbankan kejujuran, keikhlasan, kemauan berbagi dan berkorban untuk sesama. Dengan kata lain pondok membuat keadaan sulit tapi santriwati harus tetap bisa mempertahankan integritas dirinya.

Aku melihat berguru di pondok ini seperti pergi berguru untuk belajar kungfu ke gunung dengan seorang suhu ternama dan hanya menerima segelintir murid. Anda yang suka membaca cerita silat atau menonton kungfu pasti mengerti maksud saya. Dicerita-cerita silat, seringkali sang suhu menyuruh murid-muridnya melakukan hal-hal aneh yang sepertinya tidak ada hubungannya dengan pelajaran silat. Kenapa ku bilang sepertinya? Karena sebenarnya seorang guru yang mumpuni seringkali memberi perintah yang tidak masuk akal dengan tujuan tertentu. Hanya saja butuh waktu untuk bisa mengambil pelajaran dari perintah yang aneh bin ajaib tersebut. Hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan dan kekuatan hati yang mampu bertahan dan akhirnya mampu memahami ilmu yang diajarkan sang suhu.

Lalu apa yang aneh di Gontor ini? Banyak peraturan yang jika sepintas dilihat, nyaris tidak masuk akal. Tapi itulah Gontor. Seperti yang telah ku ceritakan di atas salah satunya adalah santriwati hanya boleh memiliki 7 stel baju. Jadi sekaya apapun orang tua santri, tetap saja dia hanya boleh memiliki 7 stel baju selama berada di pesantren. Disini santriwati harus mencuci sendiri. Jadi jika 2 baju kotor, 2 baju sedang di cuci, maka tinggal 2 baju disimpan dan 1 baju dipakai. Yang suka mencuci borongan akan susah sendiri jika hujan turun. Dia akan kekurangan baju bersih. Belum lagi kamar tidur yang harus berbagi dengan fasilitas secukup yang diperlukan.

Lalu soal makanan. Makanan disini sangatlah sederhana. Nasinya keras, menunya terbatas. Untuk nasi, boleh ambil sebanyak yang diinginkan, tapi menu dijatah. Tidak boleh jajan di warung luar pesantren jika tidak suka dengan menu. Jadi suka atau tidak suka santriwati harus menelan makanan sederhana tersebut. Syukur jika ada menu kiriman dari rumah atau ada kunjungan keluarga. Atau ada teman yang dapat izin keluar sehingga bisa nitip beli makanan enak. Tapi ada bagusnya juga sistem jatah ini. Santriwati tidak mungkin mati kelaparan di pondok, biar tidak punya uang karena ada jatah. Makanan di pondok banyak, tapi yang harus diberi makan juga banyak. Perlu sedikit kegesitan agar stabilitas perut santriwati terjaga. Terlambat sedikit, anda akan tau akibatnya.

Selanjutnya soal izin keluar. Izin keluar pondok tidaklah gampang bahkan pada hari libur (Jumat) sekalipun.Pondok hanya memberikan izin keluar untuk santriwati jika ada alasan yang kuat seperti berobat ke rumah sakit. Sedangkan alasan untuk jalan-jalan pelesir ke mal jelas tidak akan pernah diberikan.

Lebih jauh lagi. Potong rambut pun sulit disini. Panjang dan model rambut ada aturannya di sini. Jadi biasanya santriwati mempunyai rambut yang cukup panjang. Rambut pendek apalagi dengan model-model yang sedang trend tidak diperkenankan. Itu baru rambut. Belum lagi soal telpon seluler yang pada zaman ini sudah menjadi sebuah kebutuhan dan bukan kemewahan. Di sini santriwati biar sudah level ustadzah juga tidak boleh memilikih hand phone. Untuk menghubungi keluarga terdapat sebuah wartel. Wartel juga cuma 1 untuk melayani 1000 orang santri. Jadi santriwati harus rela antre di wartel menunggu giliran. Jika keluarga ingin menghubungi santriwati, maka bisa menghubungi telpon di dekat bagian pengasuhan. Tentu saja keluarga harus menelpon 2x, karena santriwati harus dipanggil dulu baru bisa dihubungi.

Hal-hal yang ku sebutkan tersebut merupakan peraturan di pondok dan haram hukumnya dilanggar. Jika dilanggar akan mendapatkan hukuman Bagi kita tidak ada yang aneh bagi seorang anak untuk jajan bakso atau mie ayam. Tapi merupakan pelanggaran di pondok. Bagi kita orang tua, tidak masalah anak kita sholat sendiri di kamar. Alhamdulillah sudah mau melaksanakan sholat. Di pondok, sholat sendiri merupakan pelanggaran. Wajib berjamaah tiap waktu sholat. Ada santriwati yang bertugas keliling untuk melihat anak-anak yang tidak datang ke majelis sholat.

Tinggal di pondok Gontor harus siap untuk hidup ”menderita”. Selain semuanya serba sederhana belum lagi tugas-tugas diluar belajar yang diberikan pondok. Setiap santriwati akan mendapatkan tugas untuk ikut serta dalam pengelolaan pondok. Jadi pondok itu dari santriwati untuk santriwati. Mulai dari ”satpam” pos jaga, yang membunyikan bel waktu belajar / turun main, menjaga bapenta, tukang kebun, jaga kantin, menjaga telpon dari keluarga, telpon wartel sampai ”satpam” yang bertugas ronda malam adalah santriwati semua. Begitu juga dengan para pengajar. Santriwati senior (kelas 6) akan mendapat tugas untuk mengajar santri junior. Santri senior diajar oleh santriwati yang sudah tamat, tapi sedang mengabdi di pondok atau sedang kuliah di pondok. Perlu diketahui para pengajar tidak mendapat honor. Mengajar saja tidak mendapat honor apalagi cuma mengoreksi ujian atau menjaga ujian. Semua dilakukan dengan alasan pengabdian.Fasilitas yang diterima  ustadzah yang mengajar (santriwati yang sedang kuliah) adalah penginapan dan makan gratis serta kuliah gratis. Lainnya tidak ada. Hand phone saja tidak boleh punya, walau beli sendiri. Tapi sistem ini memungkinkan pondok untuk mengenakan biaya yang relatif lebih murah untuk tiap santriwati yang mondok dibanding boarding school lainnya. Uang pangkal hanya sekitar  Rp 3.000.000 sedangkan biaya mondok per bulan Rp 300.000. Jadi siapa saja bisa bersekolah di sini. Dan kenyataannya semua strata sosial ada di pondok Gontor. Dari anak DPR sampai anak supir truk ada yang bersekolah disini.

PENUTUP

Hidup di Gontor ibarat hidup di gunung. Berguru ke Gontor ibarat berguru silat ke gunung. Jauh dari kemewahan, serba sederhana, serba terbatas dan penuh peraturan aneh yang mungkin agak sulit diterima pada situasi normal. Butuh mata hati, kegigihan dan kekuatan untuk dapat menyelesaikan studi di sini. Bukan hanya santriwati yang harus kuat, orang tua pun harus kuat. Karena seringkali santriwati akhirinya gagal karena orang tua tidak kuat melihat anaknya menderita.Tidak kuat dengan rengekan-rengekan anaknya. Tidak mampu meyakinkan anaknya bahwa pendidikan yang diberikan adalah pendidikan yang terbaik untuknya. Selain itu orang tua juga harus sanggup sama menderitanya dengan anaknya yang sedang mondok di sana. Salah satu penderitaan orang tua adalah sama-sama makan menu sederhana dan tidur ditempat yang sederhana sewaktu mengunjungi anaknya. (Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut adalah hal yang biasa, tapi bagiku tidur di Bapenta dan makan nasi keras adalah hal yang cukup berat untuk dijalani. Apalagi kalau harus menjalani bertahun-tahun…Sakti memang para orang tua santriwati Gontor ini)

Tidak ada niat untuk menilai sistem yg ada. Setiap sistem ada kelebihan maupun kekurangannya. Pada akhirnya manusianyalah yang paling menentukan. Gontor mempunyai sistem sendiri, boarding school lainnya juga mempunyai sistem sendiri. Setiap sekolah mempunyai pasar masing-masing, mempunyai peminat masing-masing. Hanya saja orang tua wajib memberikan pendidikan yang mereka rasa terbaik dan cocok untuk anak-anak mereka.

*** Sekian ***

POLYGAMI VS DEFINISI ADIL

POLYGAMI VS DEFINISI ADIL

Senin, 21 April 2008 (Ini Hari Kartini Lho….)

Hari ini aku menonton infotainment di salah satu stasiun TV. Topik yang diambil kali ini adalah polygami vs emansipasi wanita. Beberapa artis diwawancarai. Salah satu yang diwawancarai adalah artis ND yang bersuamikan pengacara FA. Digosipkan suami artis tersebut menikah lagi. Seperti diketahui, FA sudah sering menikahi wanita lain dibelakang atau tanpa sepengetahuan istri tuanya. Istri tua mungkin akhirnya tau dari para wartawan atau sumber lain. Dan dari beberapa kali kasus, pernikahan FA yang kedua atau yang kesekian tersebut berakhir dengan perceraian. Rumah tangga ND selamat untuk kesekian kalinya. Melihat ini lalu aku sms lah beberapa teman. Begini bunyi sms ku:

”Weih, gosip, misoa ND menikah lagi. Tapi herannya kok ND kuat-kuat aja ya dikadalin.:”

Dari tiga sahabat yang ku sms hanya 2 (dua) orang yang merespon. Satu teman yang sedang berada di rumah juga, dan satu lagi teman yang sedang mengawas ujian di kampus. Teman yang di rumah sudah menikah, sementara teman yang satunya lagi belum menikah. Dua orang ini ternyata mempunyai respon yang bertolak belakang.

Temanku yang di rumah, memberikan respon negatif. Dia berkata: ”Sepertinya ND mau duitnya aja kali ya, jadi pasrah aja di poligami”. Lantas aku membalas, ”Bukannya ND lebih kaya dari FA?. Jangan2 ND alah tamakan cirit barandang, jadi manuruik sajo apo nan dikecekkan dan apo nan dipabuek lakinyo tu.” (Maaf tidak diterjemahkan..). Temanku lalu membalas: ”Mungkin juga ya, gw juga heran, kok mau. Emang lu nonton infotainment apa sih?”.Ku beritaulah stasiun tv yg sedang ku tonton itu. Selesai sms dengan teman ini

Sementara itu, temanku yang satu lagi, lebih bijak bestari menanggapi poligami ini. Sms ku yang pertama ditanggapi dingin, dijawab sbg berikut: ”Ya ga pa palah, mungkin FA mau mendistribusikan pendapatan, dan ND mau masuk surga dari pintu tsb. Tapi apa ND tidak tau bahwa banyak pintu surga yang lain ya? Lagi poligami kan tidak dilarang agama ..Responku sbb : ”.Kalo FA ingin distribusi income, harusnya dia menikahi wanita miskin kalau perlu sudah tua dan tidak sanggup lagi menafkahi anak-anaknya. Cuma masalahnya kalo nenek2 yg dinikahi jangan-jangan tidak mampu bersikap adil. Kalo gitu gpp cantik, asal miskin..he..he..he… Btw artis DA berkata : Polygami kaya smack down, not everybody can do it, n d’ont try this at home”. Temanku yg satu ini emang doyan ngobrol, persis aku, jadi kalo bukan aku yg berhenti sms, pasti akan dibalas. Jadi dia balas lagi sms ku, begini bunyinya : ”.Ente sekarang ga jadi penganut poligami kan? Cantik/tidak, Miskin/Kaya itu semua relatif. Menurut orang cantik, bisa jadi menurut orang lain tidak cantik. Kalo menurut keluarga Cendana, gw miskin, tapi kalo menurut Apong (OB Kampus) gw kaya . Gw setuju dengan yang dikatakan oleh DA”.

Membaca respon ini, aku langsung membalas dengan sms yg cuku panjang begini balasanku : ”Gw ga anti, cuma ga mendukung juga.  Jadi poligami memang boleh dengan sekian banyak persyaratan. Sesuai agama aza. Jangan sampai ada yang teraniaya. Seperti artis Nita Thalia tu, bagus. Ternyata dia ister ke2  n akur dengan istri 1. Anaknya sering tidur dengan istri 1, waktu melahirkan juga ditunggui istri 1. Dia dinikahi sepengetahuan istri 1. Jadi istri 1 ga merasa dikadalain. Trus bisa berpikir apa mampu menerima istri 2 dengan ikhlas atau keluar dari merger. Memang untuk menikah lagi, tidak ada persyaratan izin dari istri 1. Tapi menurut hemat gw, makna adirl termasuk bahwa istri 1 harus ”.well informed”, sehingga bisa mengambil langkah yang sesuai dengan kata hatinya. Ini kan banyak yang nikah lagi dibalik punggung istri1, trus istri 1 tau dari orang lain. Begitu bu”.

Ternyata temanku ini setuju dengan pendapatku terbukti dari balasan smsnya yg berbunyi seperti ini ”.Betul, i setuju…as long as everybody who did it is happy, so its okey...Cuma memang kalo terjadi ke gw, iman gw belum bisa terima (baik jadi istri 1 or istri 2)…ya mending likuidasi (kalo dah jdi istri) or not admiss to partnership (jadi istri 2). He5x..Gw ga belain si FA..mgkn juga ND dah kasih ijin”. Dasar aku lagi ga ada kerjaan, sms itu ku balas lagi, ku bilang ”Ga mungkin ijin. Kalo dah ijin masa statement ND begitu. Ntar pasti istri ke2 atau yg kesekian itu dicerai lagi seperti yang sudah-sudah”. Sms ini tidak dibalas lagi oleh temanku. Mungkin dia juga setuju dengan argumenku atau dia capek melayani ku. (Tapi alasan ke2 itu bukan sifatnya, kemungkinan besar yg pertama J).

PENUTUP

Masalah poligami, jika dibahas tidak akan ada habisnya. Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda mengenai hal ini. Ini sah-sah saja, karena kebebasan berpendapat diakui dan dilindungi oleh negara. Kita tidak bisa memaksakan pandangan kita terhadap orang lain. Hanya saja bagi para pria yg setuju dan sudah mempraktekkan poligami atau yang berniat melakukan poligami, mungkin satu hal yang harus diingat, bahwa poligami memang diperbolehkan oleh agama tapi dengan segudang persyaratan. Salah satu syarat adalah mampu bersikap adil. Bersikap adil bukan perkara mudah, adil dari segi fisik saja sudah susah, apalagi adil secara hati (cinta / kasih sayang). Ketahuilah bahwa pada hakikatnya tidak ada wanita yang sudi diduakan, apalagi ditigakan atau diempatkan. Menurut riwayat, pada saat seorang pria memberitahu istrinya bahwa dia akan menikah lagi, maka jika diletakkan sebutir telur diletakkan digenggaman wanita tsb, maka telur itu akan menjadi ½ matang. Hal ini menggambarkan betapa ”.mendidihnya”. hati wanita tersebut. Hanya iman semata yang mampu membuatnya bertahan. Jadi menurut hematku, supaya anda tidak dilaknat oleh Tuhan atau istri tua anda merasa teraniaya kemudian mendoakan yang isinya mengutuk anda (dan insha Allah terkabul, krn doa orang yg teraniaya, pasti terkabul), sebelum anda mengambil istri baru hendaknyalah memberitahu istri tua anda tersebut. Ini termasuk upaya untuk bersikap adil. Dalam artian, anda memberi kebebasan dan waktu pada istri tua anda untuk berpikir, kemudian memutuskan mengenai langkah terbaik yang akan diambilnya berkaitan dengan ”informasi berharga” yang barusan diterimanya dari anda. Ada dua opsi yang bisa dipilih wanita tersebut, apakah akan meneruskan partnershipnya dengan anda dan dengan segala konsekuensi yang mengikuti atau melikuidasi partnership dengan anda, tentu juga dengan segala konsekuensi. Apapun pilihan wanita tersebut, itu sah secara agama dan baik. Memang perceraian adalah pekerjaan halal yang dibenci Tuhan. Tapi mungkin ini adalah bukti keadilan dan kearifan Tuhan. Dia tau, tidak semua orang setuju dengan poligami, jadi Dia juga memberi jalan keluarnya. Dibenci bukan berarti tidak bisa masuk surga. Surga itu kan pintunya banyak, kalo tidak dterima dari sebuah pintu, cobalah untuk mengetuk dan masuk dari pintu yang lain. (Bagi agama non Islam, mungkin poligami tidak diperbolehkan, tapi perceraian juga diharamkan. Ini merupakan konsistensi dari sebuah ajaran. Dalam Islam, Poligami boleh, cerai juga halal. Ingat ”boleh atau mubah” bukan sunnah..Gw kadang bingung kok ada yang mengartikan berpoligami sunnah ya, emang ada ayat al-quran atau hadis yang jelas-jelas mengatakan poligami itu sunnah, dalam artian jika melaksanakannya berpahala? Atau karena Rasul begitu? Apa setiap yang Rasul perbuat harus kita perbuat juga? Kalo gitu jangan naik mobil dong, naik onta aja..Nulis jangan pake komputer, pake tinta bulu aja dan diatas daun kurma. Kita kan tidak tau persis apa alasan Rasul beristri banyak… Yg gw tau sih, karena alasan politis dan ada juga untuk membuktikan bahwa anak angkat tetap bukan anak kita, jadi bekas istri anak angkat halal dinikahi. Trus para pria yang berpoligami itu niatnya apa?)

Sementara itu untuk wanita yang akan menjadi istri kedua atau kesekian, pastikan anda memang tidak dikadalin oleh calon suami anda tsb. Dalam artian bahwa anda diaku sebagai istri pertama, padahal sudah ada yang lebih pertama dari anda. Jika anda memang bersedia menjadi istri kedua, tolong pertimbangkan perasaan istri pertama. Tolong posisikan diri anda, jika anda adalah istri pertama, Jika anda sudah mantap dan haqqul yaqin setelah proses tersebut, pastikan bahwa istri pertama dari calon anda memang mengetahui keberadaan anda. Jangan sampai setelah anda dinikahi, anda dikejar-kejar layaknya buronan koruptor yang melarikan uang negara sebesar Rp 3 trilyun, padahal gaji lelaki yang anda nikahi tersebut tak lebih dari Rp 3juta/bulan. Sungguh tidak layak perlakuan yang anda terima, belum lagi hujatan dan pandangan sinis masyarakat terhadap anda, seolah-olah anda telah merebut seorang foto model dari pelukan istrinya, padahal wajah Tukul saja masih jauh lebih enak dipandang daripada wajah suami anda. Repot kan… Pastikan anda bisa hidup rukun dengan istri pertama. Hargai posisi istri pertama. Jika hal ini terjadi insha Allah tindakan yang dilakukan oleh semua pihak akan bernilai ibadah, baik untuk semua, dan semua akan masuk surga, karena semua pihak ikhlas menjalani perannya masing-masing, tidak ada yang merasa teraniaya.

(Remember: Aku bukan pendukung poligami, tapi juga tidak menentang. Di Malaysia praktik poligami adalah hal yang wajar. Waktu jaman kakek dan nenek kita dahulu kala, praktik  ini juga dianggap lumrah dan rumah tangga mereka aman-aman saja, anak-anak dari semua istri juga rukun-rukun saja. Hanya saja dengan berjalannya waktu, situasi berubah, pandangan berubah, dan wanitapun berubah. Oleh karena itu well informed and well educated untuk semua pihak sangatlah dibutuhkan. Intinya ajaran agama diturunkan untuk kemaslahatan umat, rahmatan lil alamin. Jangan sampai karena melaksanakan satu ayat ada manusia yang teraniaya. Akhirnya misi utama agama diturunkan ke bumi gagal terlaksana. Bukan agamanya atau ajarannya yang salah, tapi manusia-nyalah yang kurang arif menafsirkan ayat tersebut. Wallahualam bi sahwab)