"Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yg kamu senangi; dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yg kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya." (An-Nisaa’ ayat 3)
Sebenarnya apa hikmah yg tersembunyi dibalik ayat ini? Jelas ayat ini membolehkan poligami. Kebanyakan wanita tidak ada yg sudi diduakan oleh suaminya, apalagi ditigakan atau diempatkan. Mereka mengakui keberadaan ayat ini tapi menentang poligami. Alasannya tidak ada laki2 yang mampu berbuat ADIL. Dan pria yang melakukan poligami pasti krn alasan sex cuma mereka berdalih dengan alasan ibadah. Kalaupun ada yang menerima poligami, pasti dengan melihat istri kedua terlebih dahulu. Misalnya kalau istri kedua janda, miskin, jelek, bodoh, banyak anak dan benar2 butuh bantuan, mungkin bisa dikatakan poligami seperti itu bernilai ibadah. Yg menjadi pertanyaan sekarang, apabila seorang pria menikahi wanita yang jauh lebih jelek kualitasnya dari istri yang pertama, apa pria itu bisa bersikap adil? Apa malah tidak menganiaya istri yang kedua, karena bisa jadi pria tersebut malas mengunjungi dan lebih senang berlama-lama dengan istri yang lebih ‘bermutu’. Mungkin ada yang luput dari kita yg membaca ayat diatas. Ayat tersebut juga menyatakan: "maka nikahilah wanita2 yang kamu SENANGI". Logikanya selama pria itu manusia biasa, pasti menyenangi wanita yang cantik, cerdas dan baik. Dan Allah mengakomodasi hal tersebut dalam ayatnya.
Lalu timbul sebuah rasa tidak enak dalam hati. "Enak bener ya jadi laki-lak." Fenomena berpoligami seorang kyai panutan membuat saya merenungkan ayat tersebut. Lalu timbullah beberapa pemikiran dan sedikit pemahaman berikut ini.
Kalau dicermati, hukum-hukum Allah banyak yang "menentang" fitrah atau kodrat manusia. Seperti berpuasa. Pada dasarnya manusia tidak suka berpuasa, puasa apapun itu. Seperti saya, bagi saya berpuasa adalah pekerjaan maha berat, saya jarang sekali berpuasa sunat, saya hanya berpuasa dibulan Ramadhan dan mengganti puasa yang batal. Kalaupun saya puasa syawal, pasti niatnya digabung dengan puasa bayar. Teman-teman saya banyak yg protes, tapi saya bilang, "Niat awal saya bayar puasa, syukur2 dapat pahala puasa Syawal. Lagian Allah kan maha kaya, cuma bagi2 pahala kan ga ada susahnya." Saking susahnya saya puasa, sampai ada teman saya yg berkata: "Si Hessy kalau ada mazhab yang membolehkan tidak berpuasa dibulan Ramadhan, pasti dia ikut mazhab tersebut". Saya nyengir aja. Tapi itulah gambaran beratnya puasa, namun saya tetap melakukannya karena saya tahu hukumnya dan saya sudah "dilatih" dari kecil oleh orang tua saya untuk berpuasa. Setelah besar saya tau makna atau hikman dibalik kewajiban untuk berpuasa tersebut. Ternyata berpuasa banyak manfaatnya.
Kedua: Sholat. Sholat bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan secara tepat waktu dan lengkap bagi orang yang imannya pas-pasan. Pada saat sedang asik2nya kerja atau jalan2 di mal tiba2 masuk waktu sholat. Kadang kita suka mencuekkan kewajiban tersebut atau menjamaknya kemudian. Itu sholat wajib. Apalagi sholat tahajud. Lagi enak2nya tidur, kok harus bangun trus sholat. Jelas menentang kodrat manusia yang seharusnya beristirahat dengan nikmat dimalam hari. Tapi toh kita berusaha keras untuk melakukannya. Pertama karena takut dosa (iman yg terendah), kedua bisa jadi karena membutuhkannya (iman yg lebih tinggi). Ternyata kalau sholatnya benar, banyak sekali hikmah yg diperoleh dibalik perintah sholat. Sholat membuat batin kita lebih tenang, sejenak kembali ketitik nol, melepaskan segala tekanan batin dan stress yang menghimpit kehidupan kita sehari-hari. Sholat membuat stabilitas rohani kita terjaga. Selain itu ternyata gerakan2 sholat seperti gerakan yoga. Bisa membuat badan sehat. Kalo ga percaya, sholat aja yang rajin, banyak dan dinikmati. Maksudnya kalau sholat jangan buru2, ruku yang lama, dan sujud yang lama. Sujud ternyata membuat darah mengalir lebih deras ke otak, dan membuat otak jadi lebih sehat.
Ketiga: Zakat, infak dan sedekah. Kalaulah kita seorang kapitalis murni, kita tidak akan bisa memahami hadits yang menyatakan: "Dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin". It really doesnt make sense. Saya yang kerja susah-susah, dari pagi hingga malam, mbanting tulang, tapi harus menyisihkan sebagian hasil keringat saya untuk orang miskin. Mereka miskin pasti karena malas. Itu kalau kita kapitalis. Tapi karena kita muslim dan humanis kita paham hikmah dibalik zakat, infak, sedekah (ZIS). Ternyata ZIS adalah suatu mekanisme yg dibuat Allah untuk distribusi pendapatan. Menurut hukum optima Pareto: Kekayaan itu ibarat sebuah kue. Jika ada negara yang terlalu kaya maka akan ada negara yang sangat miskin karena tidak kebagian kue. Ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Jika ada orang yg rakus dalam berusaha, dia akan menutup kesempatan orang lain untuk berusaha mendapat rezeki. Praktek konglomerasi atau monopoli perlu dicermati dampak sosialnya. Maka benarlah hadits tsb diatas. Bayangkan kalau tidak ada ZIS, maka orang miskin akan terlantar, dan bisa timbul kerusuhan sosial karena ketimpangan yg terjadi dimasyarakat. Akhirnya dengan pemahaman ini, kita bisa dengan ikhlas mengeluarkan zakat, infak, sedekah, walau kadang terasa berat.
Kembali kemasalah poligami. Saya jadi berpikir. Pada dasarnya wanita diciptakan pelit dan pria diciptakan dengan hobi mencari, mengumpulkan dan mengoleksi. Terbukti dalam pembagian tugas secara tradisional dalam rumah tangga, pria yang mencari uang dan wanita yang menyimpan serta mengatur pengeluaran. Poligami jelas menentang kodrat. Wanita sulit berbagi, tidak usah suami, hal-hal lain saja belum tentu dengan mudah dibagi atau diberikan kepada orang lain. Sedang pria, kalau menuruti hawa nafsunya maunya punya koleksi istri atau cem-ceman lebih dari 4, tapi Allah membatasinya. Dari beberapa artikel yang pernah saya baca, ternyata praktek poligami bukan hanya ada dalam islam, tapi juga ada dalam agama lain. Tapi tidak dibatasi berapa istri. Kita bisa lihat cerita-cerita sejarah masa lalu. Raja2 inggris mempunyai banyak selir (mistress). Raja-raja dalam cerita India juga begitu.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan, seperti yang sering dikatakan oleh almarhum nenek saya dan ibu saya: "Alah salasai sadonyo jo Tuhan Allah". Maksudnya semua sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah. Pria yang hobi mengoleksi, dibatasi cuma 4, wanita yang pelit diajarkan untuk berbagi. Wanita yang mampu melakukan hal ini, pahalanya surga - Al Jannah. Tapi Allah tidak memaksa, karena paham benar dengan makhluk ciptaannya. Kalau wanita tidak sudi dimadu, boleh minta cerai. Meski cerai itu perbuatan yang dibenci Allah. Yg pentingkan halal, dan tetap bisa masuk surga, karena pintu surga banyak. Tapi mungkin supaya bisa masuk surga kudu beramal banyak2 karena pahala yang kita kumpulkan sedikit2. Maklumlah dimana2 berlaku ada harga ada barang. Sesuatu yang lebih sulit jelas rewardnya lebih banyak
Jadi mungkin kita bisa menerima poligami atau tidak, itu hanyalah masalah waktu. Waktu kecil tidak ada yang men"doktrin" kita atau yang mengajari kita tentang masalah poligami. Tidak seperti sholat, puasa, zakat dan naik haji, dari kecil kita sudah tau tentang hukum2nya, sehingga setelah besar kita bisa menerimanya sebagai suatu kewajiban.
This is just a thought from me who have only limited knowledge about islam. Wallahualam bi sahwab.