Catatan Hessy

Ini blog isinya adalah hal-hal yang melintas di otak kananku. Karena yang melintas banyak, jadi ku pikir perlu ku buat semacam catatan, supaya besok-besok kalo aku lupa, ku bukalah catatan ini. Ya mudah2an catatan ini tidak hanya berguna untukku, tapi juga bagi orang lain. Salam Hangat Hessy

Archive for March, 2007


Kissing, Love and Law

Kissing, Love and Law

Oleh: Hessy

Pertama kali aku mengenal dunia maya, seperti pertama kali mengunjungi  sebuah kota. Ada perasaan perasaan senang bercampur was-was sekaligus perasaan ingin tau yang besar untuk menjelajahi setiap sudut kota dan mengetahui karakter orang-orang yang mendiami kota tersebut. Semakin sering aku mengunjungi kota virtual ini, aku menjadi semakin akrab dengan sudut-sudut kota ini dan aku sedikit demi sedikit mulai memahami karakter orang yang juga mungkin mengunjungi kota ini seperti halnya aku. Aku juga mulai berkenalan dengan orang-orang tersebut. Terkadang dalam penjelajahanku di kota maya ini aku berjumpa dengan orang-orang yang sudah kukenal di kota realitas disamping orang-orang baru dari seluruh penjuru kota. Jika bertemu dengan orang yang ku kenal di kota realitas aku berhenti sejenak dari penjelajahanku di kotavirtual dan berbincang-bincang dengan mereka. Terkadang percakapan itu cukup panjang jika orang itu ku kenal akrab, dan juga berulang. Terkadang hanya sekedar menanyakan kabar. Pertemuan dengan orang yang sudah akrab di kota maya ini sangatlah menyenangkan, walau tidak bertemu secara fisik, tapi terasa dekat, walau sebenarnya di kota realitas terpisah  ribuan mil dan lautan. Disamping berbincang-bincang dengan orang-orang yg sudah ku kenal di kota realitas, aku juga sering bercakap-cakap dengan orang yang sama sekali tadinya tak ku kenal. Di kota realitas mereka bisa berada dimana saja, tapi kami bertemu di kotavirtual ini. Dari perkenalan itu ada yang berlanjut menjadi sahabat dan ada yang cuma berbincang satu kali lalu tak pernah bertemu lagi karena berbagai hal. Kenalan-kenalan baru ku ini mempunyai karakter yang bermacam-macam, ada yang normal dan ada yang aneh menurut standar kenormalanku. Jika menurutku terlalu aneh, biasanya aku enggan untuk bertemu kembali, kalaupun bertemu, aku pura-pura tak melihat. Dari sekian banyak perbincangan ku dengan kenalan baruku ada satu perbincangan yang menarik. Perbincangan ini terjadi tadi malam. Pertama kali pernyataannya keluar aku merasa geli, tapi setelah ku pikir menarik juga pernyataan tersebut. Begini ceritanya.

Pada awalnya kami cuma berbincang-bincang hal yang umum seperti menanyakan kabar. Lalu kami masuk ke topik berpacaran. Aku adalah orang yang menganut paham tidak suka berpacaran, dalam definisi pacaran umum, dimana kalau dalam berpacaran harus pakai ciuman segala. Sementara teman saya itu berpaham, ciuman adalah cerminan kasih sayang, bukan cerminan nafsu semata. Lalu dia bertanya kalau menurutku berciuman dalam masa pacaran itu haram, bagaimana dengan memandang wajah, apa juga haram. Aku menjawab, muka dan telapak tangan kan bukan aurat. Maksudku berarti boleh. Lalu dia menjawab, kalau muka bukan aurat, berarti boleh dicium dong. Hua…ha..ha..ha… Aku tertawa terpingkal-pingkal. Inilah yang ku maksud dengan pernyataan yang sangat menggelitik. Aku bilang baru sekali ini ada orang yang mengemukakan dalil yang mungkin saja masuk akal sehingga berciuman selama proses pacaran menjadi halal. Tapi setelah ku renung-renungkan, kok bisa ya ada sesuatu yang paradoks disini. Sesuatu yang bukan aurat tapi tak boleh di”sentuh” pada batasan tertentu. Aku lalu berpikir apa sebenarnya hikmah dibalik semua ini. Dan menurut hematku aku telah menemukan harta karun yang hilang itu. (note: Hikmah adalah harta karun orang muslim yang hilang (Ali bin Abi Thalib))

Dalam proses penemuan hikmah ini, aku bersandar pada ilmu yang kumiliki, yaitu ilmu akuntansi. (Sebagai seorang akuntan, konsistensi itu diperlukan untuk memudahkan analisis dan perbandingan laporan keuangan. Aku juga berusaha konsisten dalam menulis artikel. Sebagai CPMA (Certified Professional Marriage Accountant) jadi landasan berpijak untuk analisis adalah ilmu yg ku kuasai). Seperti ku ceritakan di atas, temanku berpendapat bahwa ciuman adalah cerminan kasih sayang. Logikanya boleh dong ciuman selagi pacaran, namanya juga lagi sayang-sayangan dan lagi pula muka bukan aurat. Tapi faktanya menurut hukum agama yang ku anut, hal tersebut diharamkan. Hanya diperbolehkan jika telah mendapat legalitas dalam hubungan dua insan. Aku lalu teringat akan pepatah tua yang masih relevan untuk masa kini, bunyinya kira-kira seperti ini: Jangan memberikan ikannya tapi berikanlah kailnya. Kita semua tahu makna pepatah tersebut. Memberi juga adalah cerminan kasih sayang terhadap sesama umat manusia. Tapi kenapa kita tidak boleh asal memberi, malah ada aturan segala. Ternyata secara tersirat pepatah itu mengandung prinsip responsibility (tanggungjawab) dan accountability (tanggunggugat). Garis tanggungjawab berasal dari atas ke bawah, sebaliknya tanggunggugat dari bawah ke atas. Berarti dalam memaknai kasih sayang, tidak bisa seenaknya, karena bisa berakibat fatal bagi yang diberi. Seseorang yang diberi ikan terus menerus bisa membuat dia menjadi malas berusaha, bisa menimbulkan ketergantungan. Disini berarti yang memberi tidak dapat bertanggungjawab akibat pemberiannya dan yang diberi tidak bisa bertanggunggugat atas pemberian tersebut. Sebaliknya jika diberi kail, pemberian ini jelas merupakan pemberian yang bertanggungjawab atas kelangsungan hidup manusia yang diberi, dimana memberi kesempatan sipenerima untuk berusaha dan suatu waktu bisa lepas dari ketergantungan pemberian. Dari sinipun aku jadi berpikir, bagaimana sebenarnya status pertanggungjawaban  sedekah yang kita berikan kepada fakir miskin selama ini. Apakah sedekah, sumbangan yang kita berikan itu merupakan pendidikan yang baik atau sebaliknya berakibat fatal bagi fakir miskin tersebut, dimana membentuk kepribadian mereka menjadi malas bekerja keras dan memilih mengemis atau sejenisnya. Inikah yang menyebabkan kemiskinan struktural bangsa ini sulit dihapuskan? Apakah tidak lebih baik sedekah, sumbangan atau zakat kita itu dikelola sedemikian rupa sehingga sedekah itu menjadi kail bagi fakir miskin dan mereka pun harus bertanggunggugat atas kail yang telah mereka terima? Tapi pertanyaannya lagi, jika ada pengelola, dapatkah mereka dipercaya? Kalau pemberian zakat, sedekah, infak, diatur sedemikian rupa menjadi  mekanisme pemberian kail yang bertanggungjawab dan bertanggunggugat kepada kaum duafa, aku punya keyakinan kemiskinan bisa diminimalisir di bumi pertiwi ini. Kira-kira zakat, infak, sedekah kita yang tidak bertanggungjawab itu harus dipertanggungjawabkan juga ga ya di akhirat nanti? Kalau nanti ditanya Allah, kudu jawab apa ya? :/

Kembali ke laptop. Berbicara mengenai memaknai pemberian kasih sayang ada contoh lain yaitu, pemberian kasih sayang terhadap anak. Kasih sayang yang dimaknai dengan pemberian berlebihan bisa fatal akibatnya bagi anak tersebut. Hal ini berarti tidak setiap permintaan anak harus dipenuhi, kadangkala malah harus ditolak sebagai pembelajaran hidup bagi anak tersebut. Nah, sehubungan dengan pembicaran ku dengan temanku itu, akhirnya aku bisa memahami mengapa ciuman selama pacaran diharamkan. (Selama ini aku memang tak pernah memikirkannya, aku cuma tau itu haram, berarti tak boleh dilakukan.). Menurut hasil renunganku itu, ciuman selama pacaran merupakan representasi kasih sayang yang tidak bertanggungjawab. Kenapa? Orang pacaran itu seperti Belanda minta tanah, dikasih sehasta minta sedepa. Dikasi sedepa minta sehektar, alias tidak ada puasnya. Begitu juga orang pacaran, mula-mula ciuman sepetak wajah, nanti meningkat sebesar pas foto. Setelah pas foto, meningkat seluruh tubuh. Lah trus kalo hamil, bagaimana pertanggungjawabannya? Inilah yang ditakutkan. Kalaupun tidak sampai hamil, tetap itu suatu perbuatan yang tidak bertanggungjawab. Pada dasarnya kasih sayang itu harus disertai keinginan untuk bertanggungjawab dan bertanggunggugat, bukan hanya sekedar permainan sesaat.

*** Sekian ***

Kumpulan Syair Pujangga

Kumpulan Syair Pujangga

Devoted to All of Accountants In The World

Created by: Hessy

A Poem from a husband to his wife

Honey, You are the most valuable asset in my life

Honey, You are my fixed asset for me

Honey, I record you in my hearth balance sheet

Honey, time goes by; I see great depreciation in your face

Honey, even you are already fully depreciated

I’ll keep record you in my hearth balance sheet

I’ll never disposed you until death do us separate apart

Honey, I love u.

A Poem from a wife to her husband

Darling, You are my main financial resource

Darling, You such a gold mine in my life

Darling, You make my cash flow liquid all the time

Darling, Now you are getting obsolete, your productivity is getting decrease

Darling, Please apology me, I must deplete u, to renew my gold mine

A Poem from a child to her parents

Mom, Dad, thanks to raise me up

Mom, Dad, thanks to educate me well

Your education is my equity to pursue valuable assets in the world

Your sacrifices for me are countless; accumulate time to time

Your sacrifices will be my long term liabilities in my whole life

The liabilities that will never due, will never be able to pay back.

Thanks Mom,

Thanks Dad,

I love u both. May God bless you wherever you are.

Betrayal Lover

Love, you made my hearth balance sheet became imbalance

Love, what you’ve done to me

Hurt my love equity

Break my commitment liabilities

Finally, drain my trust asset to you

Love, If like this

I can hold on any more to continue our merger

Even you offer capital love restructuring,

Your performance is worst, can hold on any more

Love, I knew, Your hearth is already acquisitioned by someone else

There’s no future for us, I want to liquidate our merger.

Ten Principles of IT Governance VS Ten Principles of Family Governance

Ten Principles of IT Governance VS Ten Principles of Family Governance

A Comparative Study

Oleh: Hessy

I. IT Governance

Dari hasil study yg dilakukan oleh Peter Weill dan Jeanne W. Ross terhadap ratusan perusahaan, mereka menyimpulkan ada 10 buah prinsip untuk mengelola TI sebuah perusahaan. Adapun kesepuluh prinsip tsb adalah sbb:

  1. Actively design governance

Setiap perusahaan mempunyai mekanisme tatakelola TI yg berbeda satu sama lain. Seringkali mekanisme ini tidak terkoordinasi dan timbul karena keadaan atau adanya masalah yg timbul. Mekanisme ini disebut taktik bertahan (defensive tactic). Taktik seperti ini membatasi kesempatan untuk mendapatkan nilai tambah sebagai dampak penerapan strategi yg diterapkan dg menggunakan TI. Untuk mendapatkan hasil yg maksimum diperlukan “actively design governance” yang melibatkan eksekutif senior untuk memimpin dan mengalokasikan sumber daya, perhatian dan dukungan bagi proses. Manajemen harus aktif dalam merancang IT Governance yang sesuai dengan tujuan perusahaan (enterprise’s objective) dan tujuan kinerja (performance goals). Untuk proses pelaksanaan bisa digunakan mekanisme umum seperti project review committee, benchmarking atau selective chargeback.

  1. Know when to redesign

Pemikiran ulang dari struktur tatakelola membutuhkan kemampuan individu untuk mempelajari peranan baru dan hubungan. Belajar butuh waktu, oleh karena itu governance redesign seharusnya tidak sering terjadi. Apabila ingin merubah berarti diharapkan juga akan terjadi perubahan dalam perilaku (behavior). Atau dengan kata lain IT Governance bisa digunakan sebagai alat untuk mendorong terjadinya perubahan.

  1. Involve senior managers

Dari hasil studi, perusahaan-perusahaan yang memiliki IT Governance yg efektif biasanya melibatkan manajer senior lebih banyak. CIO harus terlibat dalam kesuksesan IT Governance. Manajer senior lainnya harus berpartisipasi dalam komite, proses persetujuan dan review kinerja.  Untuk banyak perusahaan, keterlibatan ini merupakan perluasan alamiah dari aktifitas normal managemen senior.

  1. Make choices

Good governance, seperti halnya good strategy, membutuhkan pilihan. Mustahil sebuah IT Governance dapat memenuhi setiap tujuan, dan sebuah tatakelola bisa memunculkan (highlight) konflik tujuan untuk diperdebatkan.  Dari hasil studi ditemukan bahwa kebanyakan tatakelola yang tidak efektif berasal dari konflik tujuan. Ini banyak ditemukan pada sector pemerintah dimana banyak “arahan” dari berbagai pihak. Hasilnya adalah kebingungan, kerumitan dan kerancuan pesan (mixed message), sehingga akhirnya tatakelola diabaikan.

  1. Clarify the exception-handling process

Exception challenge the status quo, khususnya arsitektur IT dan infrastruktur. Beberapa pengecualian (exception) terlihat tidak masuk akal alias sembrono, tapi mungkin memang dibutuhkan untuk proses bisnis. Jika pengecualian yg diusulkan oleh sebuah unit bisnis mempunyai nilai, sebuah perubahan untuk arsitektur TI bisa mendatangkan manfaat bagi seluruh perusahaan.

  1. Provide the right incentives

Sistem reward dan insentif sudah banyak dipahami secara luas. Begitu juga jika IT Governance dirancang untuk mendorong synergy, autonomy unit bisnis atau kombinasi dari 2 hal tersebut, maka insentif untuk CEO perlu dikaitkan.

  1. Assign ownership and accountability for IT Governance

Seperti halnya pekerjaan lain, IT Governance harus ada pemilik dan yang bertanggunggugat (accountability). Akhirnya, dewan direksi bertanggungjawab terhadap semua tatakelola, akan tetapi dewan diharapkan untuk mendelegasikan hal ini kepada seseorang (misalnya: CEO atau CIO).

Ada

3 isu yg harus diperhatikan oleh penanggungjawab yi: a) IT Governance tidak bisa dirancang terisolasi dari asset kunci lainnya (spt: dana, manusia dll) b) IT Governance tidak bisa diimplementasikan sendirian atau perkelompok. c) IT Assets sangat-sangat penting bagi kinerja perusahaan secara keseluruhan.  Cost-effective, regulation-compliant, secure and strategic IT Portofolio harus sangat diperhatikan.

  1. Design governance at multiple organizational levels

Perusahaan dengan fungsi TI yg terpisah dalam divisi, unit usaha, atau geografi membutuhkan lapisan IT Governance yang terpisah tapi terhubung sehingga tercipta suatu synergy. Biasanya permintaan sinergi meningkat pada level yang rendah dan kebutuhan akan otonomi antar unit paling besar pada puncak organisasi.

  1. Provide transparency and education

Semakin transparan proses tatakelola, semakin baik (more confidence) tatakelola tersebut. Semakin tidak transparan, semakin sedikit orang yang akan mengikuti tatakelola tersebut. Dari hasil studi ditemukan bahwa perusahaan yg memiliki tatakelola yg efektif biasanya juga mempunyai tatakelola komunikasi yg efektif.

  1. Implement common mechanisms across the six key assets.

Enam asset kunci adalah: a) relationship assets b) IP assets c) human assets d) Information and IT asset e) physical assets f) financial assets. Setiap asset harus dikelola dg baik dan harus bisa bersinergy untuk memperoleh nilai tambah. Contoh implementasi tanpa sinergi: Sebuah perusahaan hanya mengimplementasikan satu cara untuk berhubungan dengan pelanggan untuk menciptakan keseragaman. Hanya mempunyai loyalitas pelanggan (relationship assets) tanpa produk untuk dijual (IP assets) akan menguras nilai. Tidak mempunyai orang2 yang terlatih (human assets) untuk berhubungan dengan pelanggan dan tanpa didukung oleh data dan teknologi yg baik (Information and IT assets) akan menguras nilai. Tidak memiliki gedung dan toko yg layak untuk membuat produk (physical assets) akan menguras nilai. Terakhir, tidak adanya koordinasi dalam melakukan investasi (financial assets) juga akan menguras nilai.

Note:

Peter Weill is the director of the Center for Information Systems Research  (CISR)

Jeane W. Ross is Principal Research Scientist at CISR

II. Family Governance

Family is just like enterprise. To get success we must have a good strategic planning and also a mechanism of good family governance. I suggest using IT governance’s model to govern a family. Need to remember, this is only an idea, it can be a crazy idea but maybe it can be a good idea which able to inspire a family how to govern theirs. :>

  1. Actively design governance

Setiap keluarga mempunyai sistem tersendiri dalam mengelola keluarga. Sistem yg diterapkan biasanya dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil tinggal dengan orang tua, ilmu pengetahuan yg dimiliki, kultur dan agama yang dianut.  Apapun sistem yang diterapkan pastikan keluarga anda mempunyai sistem dan tujuan . Jangan sampai keluarga anda mengambil keputusan hanya bersifat reaktif jika masalah muncul. Ini model defensive dimana kedua orang tua sibuk, anak2 hanya diasuh pembantu. Bisa diprediksi akhir cerita dari model keluarga defensive ini. Sebaiknya anda sudah tahu “grand design” dari keluarga anda. Misalnya anda bercita-cita membuat keluarga yg sakinah ma waddah wa rahmah. Apa yg telah anda lakukan untuk mencapainya? Tentunya cita2 tersebut tidak bisa dicapai tanpa ada mekanisme tertentu dalam rumah tangga. Untuk mencapainya mungkin anda bisa meniru disain rumah tangga Rasulullah saw.

  1. Know when to redesign

Merubah disain induk bukan suatu hal yang mudah. Orang-orang didalam keluarga sudah terbiasa dengan sebuah pola. Jadi tidak disarankan untuk merubah disain induk acapkali. Anda hanya perlu merubahnya jika dianggap pola lama sudah usang dan diperlukan sebuah pola baru dalam mengelola keluarga anda sehinga bisa merubah perilaku anggota keluarga dan menambah nilai bagi keseluruhan keluarga. Misalnya: Sewaktu anak2 kecil mereka terbiasa dilayani oleh pembantu. Dalam perjalanan anda melihat anak2 anda menjadi tidak mandiri dan manja. Mungkin anda perlu merubah pola ini. Tapi perlu diingat, learning needs time. Beri anak anda waktu untuk menyesuaikan diri dengan pola baru. Jangan cepat emosi bila sistem tidak berjalan seperti yang anda harapkan. Pola baru ini kalau berhasil (anak2 mjd mandiri dan tidak manja lg) tentu akan memberikan manfaat besar bagi keluarga secara keseluruhan.

  1. Involve senior managers

Keluarga juga mempunyai struktur. Bila diibaratkan sebuah bahtera, maka Bapak (Suami) adalah kapten kapal, Ibu (istri) adalah mualim, anak-anak adalah awak kapal (bisa berpangkat apa saja, mis: juru mesin, koki dll) dan pembantu adalah kelasi (bisa bertugas apa saja di low level). Untuk dapat mewujudkan tatakelola yg baik, maka keterlibatan top manajemen (berarti Bapak dan Ibu) harus signifikan. Mustahil keluarga bisa “sukses” jika top manajemennya cuek bebek dengan urusan internal kerluarga dan berharap awak kapal dan kelasi bisa menjalankan bahtera dengan lancar.  Jikalau anda tinggal dengan mertua atau orang tua anda, mereka juga perlu dilibatkan, tapi mungkin sebagai semacam penasehat. Anda tetap sebagai penanggungjawab utama.

  1. Make choices

Tersedia banyak pilihan di dunia. Every choice has price. Keputusan ada pada anda. Jika anda memandang sukses keluarga berada pada materi, anda bisa menjalankan sistem di keluarga dengan material values.  Misalnya pada saat anak anda minta uang jajan, anda menyuruh anak anda tersebut melakukan sesuatu untuk anda (misalnya: mencuci mobil), lalu anda bayar hasil kerjanya. Jika pola ini diterapkan, dijamin anak anda akan belajar menghargai uang amat sangat, menghargai pekerjaan dan bisa jadi pengusaha. Tapi hati-hati, setiap anda minta tolong, dia akan minta bayaran. That’s a price u must pay. :>  Sebaliknya jika anda ingin anak anda berjiwa sosial, anda bisa mendidiknya dengan cara setiap ada pengemis yang datang ke rumah anda, atau yang ditemui dijalan anda memintanya untuk memberikan sedekah. Warning: Jangan meletakkan uang pecahan besar disembarang tempat, bisa2 ada pengemis yg datang ke rumah anda, dia akan memberikan uang pecahan Rp100.000 itu (ini kejadian nyata teman saya lho :> ) . Jika anda ingin anak anda kelak menjadi kaya dan berjiwa social, anda temukanlah pola yang pas untuk mendidiknya.

  1. Clarify the exception-handling process

Exceptional atau pengecualian bisa ditemukan hamper disetiap keluarga. Misalnya anak yang ekstrem nakal, ekstrem bodoh, atau sebaliknya sangat pintar atau sangat berbakat. Bahkan ada keluarga yang kurang beruntung mempunyai anak yang cacat, atau autis. Ini semua perlu penanganan khusus. Kadangkala anak yang sangat berbakat suka meminta yang aneh-aneh, anda jangan langsung menilai negative terhadap anak anda. Selidiki dulu alasan permintaannya tsb. Banyak kasus para jagoan dunia bisa menjadi sukses, karena orangtuanya sudah mengetahui bakat anak tsb dari kecil. Kita lihat pebulu tangkis internasional, mereka sudah memegang raket dari kecil. Pemain catur cilik kita, berhasil mendapat gelar catur junior tk dunia  karena orangtuanya memfasilitasi bakat anaknya sepenuhnya dari usia dini.

  1. Provide the right incentives

Menurut ilmu psikologi, sistem reward bagus  diterapkan dalam keluarga. Reward tidak hanya berlaku bagi anak-anak, tapi juga bagi ibu dan bapak. Reward tidak harus dalam bentuk benda, pujian juga sudah merupakan reward. Anak yg berbuat baik akan senang kalau dibilang “anak sholeh”, istri yang dipuji masakannya akan merasa bahagia, suami yang dipuji kariernya juga begitu dan merasa didukung. Jika anggota keluarga terdiri dari orang-orang yg berbahagia karena saling menghargai dan saling mendukung akan tercipta sebuah sinergi yang harmonis.

  1. Assign ownership and accountability for IT Governance

Penanggungjawab utama tatakelola rumah tangga adalah Bapak.

Ada

ustad/ustadzah yang pernah berceramah, kira-kira isi ceramah spt ini: Diakhirat nanti, jika suami brengsek, istri tidak akan dipertanyakan masalah tsb, dia tetap bisa masuk surga selama amalnya baik. Sebaliknya jika istri brengsek, sedang suami adalah seorang yg sholeh, belum tentu pria tsb masuk surga, karena kelakuan istri adalah tanggungjawab suami. Jadi jelas siapa penanggungjawab umum dalam keluarga. Jika bapak sudah tiada, otomatis penanggungjawab tatakelola jatuh kepundak ibu sebagai mualim bahtera.

  1. Design governance at multiple organizational levels

Seperti saya sebutkan di atas, keluarga punya struktur, berarti ada hirarki. Pada point 7 disebutkan Bapak sebagai penanggungjawab utama, tapi tanggungjawab bisa didelegasikan ke level yang lebih bawah., sehingga perlu dibuat sistem tatakelola berjenjang bagi ibu, anak dan pembantu.

  1. Provide transparency and education

Tatakelola akan berjalan dengan efektif jika dikomunikasikan dengan jelas antar anggota keluarga. Misalnya: harus ada alasan yang jelas mengapa menolak permintaan anak anda untuk les piano, padahal dia merasa sangat berbakat dibidang musik. Anda misalnya bisa menjelaskan bagaimana tatakelola dana di rumah tangga anda, sehingga les piano tidak bisa dikabulkan.  Pendidikan juga sangat penting dalam keberhasilan tatakelola, bahkan pembantu pun harus anda didik supaya paham sistem dalam rumah tangga anda.

  1. Implement common mechanisms across the six key assets.

Asset kunci dalam rumah tangga: a) relationship assets b) IP assets c) human assets d) Information and IT asset e) physical assets f) financial assets. Semua asset ini harus dikelola dan diorganisir dengan baik. Hubungan yang buruk antar anggota keluarga (relationship assets) dan berjalan tanpa tujuan serta sistem yg jelas (IP assets) akan menguras nilai keluarga. Anggota keluarga yang tidak terdidik (human assets) serta tanpa data (contoh: orangtua tidak tau menau ttg aktivitas anak, sebaliknya anak2 tidak tau perihal orangtuanya) dan alat komunikasi yg baik untuk berhubungan (Information and IT Assets) akan menguras nilai keluarga. Rumah yang tidak nyaman, fasilitas yg serba minim (physical assets) dan selalu kekurangan uang (financial assets) tidak dapat dipungkiri dapat mempengaruhi kebahagiaan walau mungkin tidak menguras nilai sebuah keluarga. Tapi dalam jangka panjang jika iman tidak kuat, physical assets dan financial assets bisa menguras nilai sebuah keluarga.

Accounting Equation vs Marriage Equation

Accounting Equation vs Marriage Equation

An Elaboration

Oleh: Hessy, CPMA

Accounting Equation:

  • Pertama kali perusahaan didirikan, persamaan akuntansinya adalah:   

                                   Assets  =  Equities.

  • Setelah perusahaan bertambah besar dan butuh tambahan dana maka perusahaan mulai berhutang sehingga persamaan akuntansi menjadi :   

                                       Assets = Liabilities + Equities

  • Pada saat perusahaan mau dilikuidasi maka  harta (Assets) harus dicairkan alias dijual dan hasil penjualan pertama kali digunakan untuk melunasi utang-utang (Liabilities) perusahaan dan jika ada sisa, baru bisa dibagikan kepada para pemegang saham (stockholders)

Marriage Equation:

  • Pertama kali akan memulai hubungan antar 2 manusia, maka persamaannya adalah:

Trust  =   Love

  • Setelah hubungan mulai meningkat kepercayaan tidak bisa semata-mata di”danai” oleh cinta butuh komitmen, sehingga persamaan berubah menjadi:

Trust  =  Commitment  +  Love

  • Pada saat cinta mulai memudar, seringkali pernikahan masih bisa bertahan karena trust masih dapat exist dengan “didanai” oleh commitmen atau dengan kata lain masing-masing masih melaksanakan komitmen awal dengan baik. Pada hubungan yang sudah sangat rusak dan biasanya berakhir dengan “dilikuidasinya” rumah tangga, maka berakhir pulalah kepercayaan dari kedua belah pihak, akan tetapi “komitmen” tetap harus dilunasi seperti pendanaan terhadap anak-anak buah pernikahan dan pembagian harta gono gini. Soal cinta itu adalah bagian masa lalu dan kalau masih ada sisa, mungkin masih tetap bisa bersilaturahim, walau sudah tidak ada ikatan pernikahan lagi.

* Persamaan: Trust = Commitment + Love bisa dimaknai juga dari sudut pandangan islam. Dalam islam tidak dikenal konsep pacaran, jadi persamaan awal pernikahan adalah:   Trust  =   Commitment. Jadi kedua belah pihak berusaha untuk percaya pada niat baik pasangannya untuk menikah dengannya. Dengan berjalannya waktu, apabila kedua belah pihak terlihat telah menjalankan komitmen pada awal pernikahaan (tentunya sesuai dengan tuntunan agama) dengan baik, maka kepercayaan (trust) terhadap pasangan akan semakin besar karena adanya tambahan cinta (love) dalam hubungan mereka. Persis seperti hadits apa Qur’an ya, gw juga lupa neh, bunyinya kira-kira seperti ini “dan akan Kami anugerahkan rasa cinta dan berkah (mawaddah wa rahmah) pada mereka”.  Maka terciptalah rumah tangga yang sakinah.  Persamaan pernikahanpun menjadi : Trust = Commitment + Love. Jadi komitmen dulu baru cinta datang, kaya orang jawa bilang: witing tresno, jalaran soko kulino.

   

(Penulis adalah: Professional Independent Auditor, spesialisasi pernikahan sakinah ma waddah wa rahmah) J

Note: CPMA = Certified Professional Marriage Accountant

Little Garden

Little garden…little garden
Even u r little…I  like u
I always keep u tidy and beauty
Little garden…little garden
Even u r little… U mean so much to me
I always keep u tidy and beauty
Little garden …little garden
Even u r little… There’s so many plants inside
I always keep u tidy and beauty
Little garden …little garden
Even u r little… There’s butterfly and bee visit u
I always keep u tidy and beauty
I love u little garden

My home

My home…
is a litlle house side by the river
My home…
is a green house
My home…
Have a little garden

Home

Home….
A place to rest when u feel tire
Home….
A place to come back when u have no place to go
Home….
A place where u can sing loudly with no fear
Home….
A place where u can sleep as long as u want
Home …
A place where no need mask to wear
Home …
A place where u r accepted  no matter who u r

Good Marriage Governance

Good Marriage Governance

Oleh: Hessy

Agar rumah tangga utuh maka haruslah dikelola dengan baik (Good Marriage Governance / GMC). Untuk mencapai GMC ada beberapa hal yang harus diupayakan, yi:

  1. Usahakan agar neraca perkawinan (marriage balance sheet) selalu seimbang. Assets rumah tangga adalah: kepercayaan (trust), Liabilities rumah tangga adalah: Komitmen (commitment), Equities / modal perkawinan adalah : Cinta dan kasih saying (Love). Kepercayaan bisa stabil apabila komitmen perkawinan selalu dipenuhi setiap jatuh tempo (dimana temponya adalah setiap detik dalam perkawinan) dan cinta dapat dipelihara dengan baik.

  1. Usahakan agar kinerja perkawinan selalu meningkat. Kinerja perkawinan terlihat dari  marriage income statement. Karena judulnya adalah marriage income statement dan bukan marriage profit loss statement, jadi dapat diterjemahkan sebagai laporan laba perkawinan. Dari sini tersembunyi harapan bahwa rumah tangga yang dibangun diharapkan selalu beruntung (berbahagia). Rumus income statement = Revenues – Expenses. Revenues dalam rumah tangga adalah kebahagian yang diperoleh, sedangkan expenses adalah penderitaan dan pengorbanan yang dilakukan dan dialami selama menjalankan roda rumah tangga. Laporan ini harus dievaluasi secara berkala untuk melihat kemajuan / kinerja rumah tangga. Seperti halnya perusahaan, adakalanya dalam suatu periode mengalami kerugian baik disebabkan oleh krisis internal maupun external dan adakalanya mengalami keuntungan. Akan tetapi rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang menunjukkan kinerja yang cenderung meningkat secara grafis. Kebahagiaan yang diperoleh diharapkan harus melebihi dari pengorbanan yang telah dilakukan.

  1. Usahakan  agar marriage owner’s equity statement meningkat secara berkala. Seperti telah penulis sebutkan pada point 1, equity (modal) perkawinan adalah cinta dan kasih sayang. Cinta ibarat tanaman, akan tumbuh dengan subur jika dipelihara dan disirami dan sebaliknya. Matinya cinta sama dengan habisnya modal perusahaan. Biasanya kehabisan modal karena pengorbanan yang dilakukan terlalu banyak, tidak seimbang dengan kebahagiaan yang diperoleh. Modal habis, perusahaan bangkrut. Cinta mati, perkawinanpun berakhir. Kalaupun tidak bercerai, yang ada hanyalah room mate.

  1. Usahakan agar marriage cash flow statement lancar dan positif. Kas dalam perusahaan ibarat darah dalam tubuh manusia. Kurang darah membuat tubuh menjadi lesu. Demikian juga jika perusahaan kekurangan uang tunai, perusahaan akan mengalami kesulitan. Dalam perkawinan aspek cash flow ini juga sangat penting untuk diperhatikan. Menurut hasil penelitian, salah satu penyebab perceraian adalah kondisi arus kas rumah tangga yang negatif. Negatif tidak selalu berarti tidak punya uang, walau memang tidak dipungkiri kesulitan ekonomi bisa membuat rumah tangga sering ricuh dan akhirnya berujung perpisahan. Negatif bisa juga berarti dalam hal pengelolaan kas rumah tangga. Bisa saja penghasilan rumah tangga cukup memadai tapi pola belanja tidak sepadan sehingga menghasilkan cash flow negative dan utang bertumpuk. Dalam kasus lain pengelolaan yang buruk bukan karena besar pasak dari tiang, akan tetapi karena ketiadaan transparansi dalam pengelolaan rumah tangga. Dalam beberapa kasus ada istri yang tidak mengetahui jumlah pendapatan suaminya, investasi suaminya dan hal-hal yang berbau materi yang dimiliki suaminya. Dia hanya mendapat jatah perbulan untuk keperluan rumah tangga. Jika suami masih hidup dan jujur ini tidak menjadi masalah. Akan tetapi jika suami yang jujur itu sudah meninggal, bisa menjadi masalah. Ahli waris tidak mengetahui harta almarhum. Dari segi kelanjutan hidup rumah tangga almarhum jelas ini tidak baik, dan dari segi istri yang ditinggal jelas ini menyakitkan dan memalukan. Tidak tau apa2 tentang peninggalan almarhum. Disatu sisi ketiadaan transparansi pengelolaan kas rumah tangga juga mengandung risiko perselingkuhan. Sang istri tidak tau kemana sisa uang yang tidak dibicarakan dengannya. Bisa jadi untuk keperluan “berkolaborasi” dengan wanita lain. Jadi transparansi keuangan sangat penting sebagai pengendalian internal rumah tangga.

  1. Perlunya keberadaan Notes to Marriage Statement. Notes atau catatan atas laporan perkawinan berisikan kebijakan-kebijakan (policies) yang digunakan dalam menjalankan roda rumah tangga. Walaupun kebijakan ini tidak dinyatakan secara tertulis, haruslah dikomunikasikan dengan pasangan, agar saling memahami satu sama lain mengenai perasaan, keinginan dan harapan dari pasangan. Kebijakan yang tidak jelas bisa membuat kesalahpahaman dan berujung pertengkaran. Penting sekali untuk bersikap transparan kepada pasangan, karena pasangan kita bukanlah dukun atau peramal yang mengetahui hal-hal yang kita rasakan, inginkan dan harapkan.

Akhirul kalam mudah-mudahan tips ini berguna bagi pembaca. Dan jika ada terjadi sedikit masalah dalam perkawinan ingatlah sewaktu anda memilih pasangan hidup anda tersebut anda sudah mengauditnya dengan baik sebelumnya dan anda berani menikahinya karena anda beropini bahwa pasangan anda adalah WTS (Wanita Tanpa Syarat) atau PTS (Pria Tanpa Syarat) dalam artian dia bisa menerima anda dahulu kala tanpa  syarat. Kalaupun ada syarat itupun masih dalam batas keyakinan yang memadai (reasonable assurance). Jadi rasanya tak perlulah mengurus IMB (Izin Menikah Baru) atau HGB (Hak Gaul Baru) dari istri tercinta. :)

(Penulis adalah: Professional Independent Auditor, spesialisasi pernikahan sakinah ma waddah wa rahmah)

SIP = Sertifikat Istri Profesional

SIP = Sertifikat Istri Profesional

Oleh:  Hessy

Seorang teman mempunyai teori tersendiri mengenai masalah poligami, perselingkuhan. Menurut teman itu poligami merupakan pengejawantahan  teori kolaborasi dalam ilmu manajemen strategik. Paradigma ini mulai berkembang menggantikan teori kompetisi. Jade kalau dahulu perkawinan itu merupakan relasi one to one (teori kompetisi), sekarang mulai bergeser ke relasi one to many (aplikasi teori kolaborasi). Sedangkan perselingkuhan merupakan aplikasi dari teori mikro mengenai benda komplementer dan substitusi. Jadi jika ada yang kurang beres dalam perkawinan, pria akan mencari wanita lain sebagai pelengkap (complementary) istrinya , atau jika sang istri mempunyai kekurangan maka pria akan mencari wanita pengganti (substitution).

Penulis tidak ingin menilai atau menghakimi teori tersebut. Setiap orang boleh saja berteori. Hanya saja penulis merasa terpanggil untuk mencoba untuk berteori untuk menghindari rumah dari prahara akibat aplikasi dari teori manajemen strategic dan mikro tersebut. Untuk ini penulis mengambil pendekatan yg berbeda. Berikut ini pembahasannya.

Banyak pria yang berangan-angan mempunyai istri seorang artist, apalagi kalau sudah mulai muncul kepermukaan alias sudah jadi orang (no wonder artist seperti Angel Lelga bisa nikah siri berkali-kali J ). Berangan-angan sah-sah saja, selama tidak dikenakan pajak, why not. Angan-angan bisa berdampak positif dan bisa negative. Berangan-angan untuk mempunyai istri artist jika menggunakan pendekatan teori kolaborasi, komplimenter atau substitusi jelas bisa membawa prahara pada keutuhan rumah tangga. Menurut hemat penulis teori kolaborasi (poligami) baru boleh diaplikasikan jika keadaan sudah sangat terpaksa alias darurat. Teori komplimentary haram digunakan, karena perselingkuhan dilihat dari kacamata apapun tetap salah. Sedang teori substitusi, sebaiknya baru  digunakan kalau sang istri memang sudah harus digantikan karena sudah tidak berada dialam yang sama dengan sang suami, alias sudah meninggal dunia.

Selama perusahaan (rumah tangga) masih mampu untuk berdiri sendiri (independent), sumber daya internal haruslah diberdayakan. Jika sumber daya internal (istri) dirasa sudah kurang kompeten dalam mengikuti gerak top manajemen (suami), manajemen bisa meningkatkan kompetensi sdm-nya melalui penyetaraan. Dengan kata lain sdm internal tersebut diupayakan untuk mengikuti ujian sertifikasi untuk memperoleh sertifikat professional.  Ujian sertifikasi yang diikuti tergantung pada kebutuhan perusahaan. Berikut ini adalah ujian sertifikasi yang bisa diikuti oleh para istri:

-         

USAP (Ujian Sertifikasi Artist Publik), gelar: BAP (Bersertifikasi Artist Publik)

à Cocok untuk diikuti oleh para istri pejabat/pengusaha yang banyak berbicara dimuka public atau khalayak ramai. Jangkauan public: nasional.

à Mata kuliah yang diujikan: Public Speaking, Performance Act, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Budi Pekerti, Wawasan Kebangsaan

-         

CPA examination, gelar: CPA (Certified Public Artist)

à Cocok untuk diikuti oleh para istri pejabat/pengusaha yang membutuhkan kompetensi untuk berbicara dimuka public berskala internasional, sebagai konsekuensi mengikuti suami yang pekerjaannya mengharuskan melanglang buana..

à Mata kuliah yang diujikan: Public Speaking, Performance Act, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Asing lain, Budi Pekerti, Wawasan Kebangsaan dan Internasional

-         

CIA examination, gelar: CIA (Certified Internal Artist)

à Cocok diikuti oleh para istri yang mempunyai suami yang cukup menonjol ditengah keluarga atau lingkungan RT di tempat tinggal. Kompetensi ini lumayan untuk perayaan 17 Agustusan, pelaksanaan pos yandu dan memimpin majelis taklim.

à Mata kuliah yang diujikan: Public Speaking, Performance Act, Bahasa Indonesia, Wawasan lingkungan , Tata Krama

-         

CMA examination, gelar: CMA (Certified Marriage Arrangement) atau CPMA (Certified Professional Marriage Arrangement)

à Cocok diikuti oleh para istri yang kesulitan melakukan pembenahan dalam rumah tangganya.

à Mata kuliah yang diujikan: MKRT 1(Manajemen Keuangan Rumah Tangga), MKRT 2 (Manajemen Kebahagiaan Rumah Tangga), MKRTL (Manajemen Keutuhan Rumah Tangga Lanjutan), Tatakelola Rumah Tangga (Marriage Governance)

Jika para istri sudah berhasil memperoleh sertifikasi ini berarti kompetensi yang diharapkan sudah terpenuhi maka tidak ada alasan lagi bagi para suami untuk berkolaborasi dengan wanita lain atau mensubtitusi istrinya dengan wanita lain. Apa lagi hanya sekedar iseng berselingkuh, sekedar pelengkap saja.

(Penulis adalah: Professional Independent Auditor, spesialisasi pernikahan sakinah ma waddah wa rahmah)