When Two People do Merger, Acquisition
Hari ini aku bertindak sebagai penguji sidang akhir dari banyak mahasiswa, sampai aku rada-rada teler,enek and bete. Selain itu tensiku sempat sedikit agak naik karena dari beberapa mahasiswa tersebut ada yang jawabannya seolah-olah belum pernah belajar akuntansi sama sekali. Gimana ga naik spanning, ditanya jurnal yang gampang aja ga bisa, disuruh bikin laporan laba rugi asli acakadul. Masa ku tanya bagaimana cara mencari laba kotor, di jawab Sales + COGS. Huh… jengkel abis lah dengar jawaban kaya gitu, ku pikir tukang jual bubur ayam amigos (agak minggir got sedikit) aja pasti tau kalo ku tanya gimana cari laba kotor, cuma mungkin istilah yang dia pake ga keren azah..Pokoke walau ga makan sekolahan akuntansi, tukang buryam itu tau lah cari laba kotor, kalo ga tau, ga mungkin dia masih eksis jualan di amigos itu until now. Tul ga seeeh? Oh ya itu unek-unek ku hari ini. Salah satu judul skripsi mahasiswa yang ku uji hari adalah: Pengaruh Merger dan Akuisisi terhadap Kinerja Perusahaan2 yang terdaftar di BEJ. Sebenarnya sih skripsi dia biasa-biasa aja, dan aku juga bukan mau nulis tentang hasil penelitian mahasiswa itu. Lagian judul itu sudah banyak yang nulis kok, cuma replikasi biasalah. Tapi mahasiswa itu tadi kalo ga salah ku kasi nilai B+ untuk skripsinya dan C untuk ujian komprehensifnya. Aku Cuma teringat pada seorang teman yang ku temui di dunia maya ini. Kami pernah berdiskusi cukup hangat tentang masalah merger, akuisisi dan konsolidasi, via media maya ini juga. Cuma aku yakin teman ku tidak sadar kalo yang sedang kita diskusikan itu adalah masalah merger, akuisisi dan konsolidasi, hanya saja tidak terjadi pada perusahaan melainkan pada dua insan manusia. Ya jelaslah, wong latar pendidikan dia bukan akuntansi. Latar pendidikan dia berkaitan dengan beton dan dunia industri. Tapi aku melihat diskusi kami seperti halnya merger, akuisisi dan konsolidasi di perusahaan. Biasalah kadang latar belakang pendidikan mempengaruhi cara dan pola berpikir kita. Kalo di aku pribadi, bukan kadang, malah sering. Mungkin karena aku bertahun-tahun bergelut, bermain, bermain, menyelami kadang berkelahi dengan ilmu ini. Jadi sepertinya ilmu itu sudah merasuk sukmaku….taelah.. bombastis kali lah kayanya..
Sebelum membahas lebih lanjut diskusi dengan teman maya ku itu, aku ingin memberitahukan apa beda merger, akuisisi dan konsolidasi dari sudut pandang keilmuan akuntansi. Jika disederhanakan rumusnya adalah sebagai berikut:
AKUISISI
ð Company A + Company B = Company A + Company B,
ð Pada saat perusahaan A mengakuisisi perusahaan B, maka secara hukum dan entitas, perusahaan A masih eksis, begitu juga perusahaan B. Akuisisi bisa dilakukan dengan membeli saham perusahaan yang ingin diakuisisi. Jika saham yang dibeli >= 50% maka timbullah hubungan parent and subsidiary dan pada akhir periode perlu membuat “Consolidated Financial Statement”.
KONSOLIDASI
ð Company A + Company B = Company C
ð Artinya: Pada saat perusahaan A bergabung dengan perusahaan B, maka entitas kedua perusahaan itu lenyap dan menjadi sebuah perusahaan baru dengan nama baru dan badan hukum yang baru pula.
MERGER
ð Company A + Company B = Company A atau Company B
ð Artinya: Perusahaan A bergabung dengan perusahaan B, hasil akhir adalah sebuah perusahaan dengan bendera A dan perusahaan B hilang atau bisa juga perusahaan B yang masih eksis dan A lenyap.
Trus anda para pembaca pasti bingung, apa hubungannya teori akuntansi ini dengan hubungan dua insan manusia. Tapi sebagian mungkin sudah bisa menebak-nebak arah tulisan ini. Ya betul, aku itu mau nulis Perspektif pernikahan ditinjau dari sudut teori akuntansi.. (ha..ha..ha.. penelitian model apa pula ini? Tenang penelitian ini tidak akan menggunakan model regresi sederhana apalagi berganda. Penelitian ini hanya akan menggunakan ”Path Analysis” pernikahan umum dari orang-orang yang ku amati). Salah satunya adalah pandangan temanku di dunia maya itu.
AKUISISI DUA INSAN
Dari hasil beberapa kali diskusi panjang lebar dengan teman mayaku itu, aku melihat dia memandang penggabungan atau pernikahan dua insan seperti layaknya Akuisisi sebuah perusahaan. Mengapa demikian. Dia adalah orang yang menghargai wanita yang akan dinikahi dalam artian dia menghargai keberadaan dan intelektualitas wanita tersebut. Jadi menurut dia walau wanita itu menikah, tapi wanita itu tetap bisa eksis sebagaimana kala wanita itu sebelum menikah. Berarti pasangannya tetap boleh berkarya, berkreasi dan bekerja sebagaimana dulu. Ini adalah sisi positifnya menurutku. Tapi disatu pihak, sebagaimana teori akuisisi, tanggungjawab perusahaan yang mengakuisisi terhadap perusahaan yang diakuisisi hanyalah sebesar persentase saham yang dimiliki. Begitu juga dengan pembagian laba, perusahaan yang diakuisisi hanya akan membagi labanya sebesar persentase investasi yang dilakukan perusahaan yang mengakuisisi. Jadi kalau ku liat-liat, ku amat-amati rumah tangga yang menganut teori ini biasanya juga menerapkan separate legal entity. Antara dua belah pihak biasanya akan melakukan hitung-hitungan laba rugi. Mereka biasanya tidak mempercayai pasangannya secara penuh (ya jelas lah yaw, akuisisi
kan jarang yang dilakukan 100%, jadi percayanya sebesar persentase akuisis aza.). Suami hanya akan menafkahi istri dan keluarga sebesar yang dia rasa cukup, layak dan sebesar kemampuannya (ini kalo yang rada baik, kalo yang ga, sebesar yang dia mau aja). Trus kalo istri biasanya punya istilah lain lagi: uangmu uangku, sedang uangku adalah uangku. Akhirnya karena ada perbedaan ini mereka cenderung tidak terbuka satu sama lain mengenai penghasilan mereka. Sehingga aku pernah dengar ada istilah yang disebut uang laki-laki. Ini berarti uang diluar gaji, yang diperoleh suami dan tidak diketahui oleh istri..Nah berarti penggunaannnya juga dong….u know what I mean lah.. Selain itu hubungan antar keluarga besar juga sebatas silaturahim tidak terlalu dekat. Tanggungjawab terhadap keluarga besar adalah tanggungjawab masing-masing. (Mirip-mirip orang barat lah..masing-masing gitu lho)
Kalo kita analisis lebih lanjut pernikahan model ini agak-agak rentan juga. Mengapa? Sebagaimana akuisisi dua perusahaan, penggabungan model ini rentan bubar karena model akuisisi memang memudahkan perusahaan induk untuk melepaskan tanggungjawabnya terhadap anak. Pada saat induk merasa investasi pada anak not profitable anymore, dia bisa langsung bisa melepaskan sahamnya di bursa saham. Nah anda bisa bayangkan jika ini terjadi pada pernikahan dua insan, pada saat suami merasa istri sudah tidak profitable lagi dalam artian sudah tidak sesuai kriterianya, maka dia bisa “melepaskan” istrinya. Atau sebaliknya jika istri merasa suami sudah tidak menguntungkan sebagai investor, lebih baik cari investor barulah yaw… Weih gile tenan. Ku rasa analisis ku ini terlalu tajam..ups I mean terlalu mengada-ada, faktanya banyak juga kok pernikahan model ini yang bisa bertahan lama, tapi mungkin yang bertahan lama itu, karena kedua belah pihak masih merasakan benefit bergabung masih lebih besar dari cost yang telah mereka keluarkan. Nah temanku itu persis sama seperti ini pendapatnya, menurut dia hidup berdua harus lebih baik daripada hidup sendiri, jika tidak, pernikahan itu tidak layak untuk dipertahankan. So I have an advice for people who follow this pattern in their marriage. Agar pernikahan anda dapat langeng sampai kaki niki, sampai Datuak jo One, until Grandpa and Grandma, anda berdua harus berusaha keras agar anda secara pribadi profitable enough bagi pasangan anda. Terserah anda bagaimana menterjemahkan kosa kata menguntungkan itu.. Hitung-hitungan ada di tangan anda…
KONSOLIDASI DUA INSAN
Ini adalah model pernikahan beberapa orang di dekatku, baik saudara atau teman. Orang-orang yang menganut paham ini berpandangan, jika dua orang menikah berarti penggabungan dua fisik dan jiwa dimana walau fisik dua tapi satu jiwa.. (Taelah..romantis kali la). Biasanya mereka saling percaya sepenuhnya pada pasangan. Mereka saling terbuka satu sama lain mengenai hal apa saja. Dan pengelolaan uang juga begitu. Biasanya suami akan terbuka mengenai penghasilannya begitu juga istri, kemudian mereka menyatukan penghasilannya sehingga tidak ada lagi uangmu atau uangku, yang ada hanyalah uang kita. Setelah itu manajer keuangan lah (biasanya sih istri) yang akan mengatur pos-pos pengeluaran berdasarkan hasil diskusi bersama. Disini juga tidak ada istilah uang laki-laki, karena jika suami punya other income or gain biasanya langsung setor ke manajer keuangan.
Beberapa orang menganggap jika suami menyerahkan semua penghasilan dan pengelolaan kepada istri berarti tergabung dalam ISTI (Ikatan Suami Takut Istri). Akan tetapi aku tidak sependapat, selama itu dilakukan dengan kesadaran, keridhoan dan karena rasa percaya kepada pasangan, sistem pengelolaan keuangan satu pintu adalah cara yang cukup bijak. Apalagi bagi keluarga dengan penghasilan pas-pasan (maksudnya bukan pas lagi mo beli mobil, duit ada, pas mo renovasi rumah, uang proyek keluar, bukan loh. Maksudnya penghasilan hanya pas bener untuk sandang, pangan, papan dan bea sekolah anak). Sistem pengelolaan satu pintu akan memudahkan membuat perencanaan karena besarnya penghasilan dapat diketahui dengan pasti sehingga besarnya pengeluaran bisa disesuaikan pula dengan income yang diperoleh ke dua belah pihak. Istilahnya budgeted cash flow statement rumah tangga dapat diprediksi lebih akurat dan reliable gitu loh.
Model ini akan berjalan dengan baik dan menimbulkan synergy jika kedua belah pihak bertanggungjawab penuh untuk menjaga rasa percaya pasangannya, tidak ada pengkhianatan dan diperlukan seorang manajer keuangan yang handal. Karena walau menggunakan sistem satu pintu, jika manajer keuangan tidak handal, tetap bisa caur juga ntu konsolidasi. Konsolidasi bisa pailit juga. Oh ya, biasanya orang yang Timur menggunakan model ini. Selain itu ku liat juga, orang yang menerapkan model ini, biasanya keluarga besar ikut konsolidasi juga. Seperti yg sering kita liat, orang kita kalo menikah bukan hanya pernikahan antar dua insan tapi juga pernikahan dua keluarga besar. Jadi keluarga besar ikut2an jadi satu juga. Kalo terjadi apa-apa dengan keluarga besar, pasti pasangan ini siap turun tangan untuk membantu tanpa melihat itu keluarga pihak siapa. Sebaliknya juga begitu, kalo terjadi apa-apa dengan pasangan ini, keluarga besar biasanya akan campur tangan juga. So kalo mo memailitkan konsolidasi, kayaknya agak susah, karena pasti banyak halangan dan rintangan dari keluarga, disamping mungkin banyaknya rasa ga enak dan lain sebagainya. Saking kenal dan akrabnya dengan pihak keluarga pasangan gitu loh..jadi sungkan untuk membubarkan konsolidasi ini. Cuma apa ya rasanya hidup dengan orang tapi penuh rasa keterpaksaan dan rasa sungkan semata. Jiwa yang tadinya satu, sekarang mulai retak-retak, sudah tidak utuh lagi..Terus…gimana dong?
MERGER DUA INSAN
Model merger diartikan sebagai bergabungnya dua insan dan lenyapnya eksistensi salah satu pihak dalam pernikahan akibat dominasi pihak lain. Aku pernah liat model ini di infotainment, dimana waktu itu ada tuntutan dari pihak istri yang merasa suaminya sedang berusaha mematikan eksistensi dan jati dirinya. Sang suami merasa dia sedang menjalankan tugasnya sebagai pemimpin dalam keluarga dan istri harus tunduk, taat dan patuh kepada suami. Aku tau bahwa dalam hukum agama Islam memang seorang istri harus patuh kepada suami. Tapi definisi patuh itu sejauh apa sih? Apa harus sampai kehilangan jati diri begitu? Sependek yang ku tau (bukan sejauh ya, krn emang pengetahuanku pendek bgt soal ini) walau seorang wanita sudah menjadi istri keberadaannya tetaplah diakui, terbukti dari pemakaian nama ayah dibelakang namanya. Seperti sabda Rasul: panggillah mereka dengan nama ayah mereka. Jadi walau seorang wanita sudah menikah namanya kudu tetap eksis, ga otomatis namanya tinggal jadi Ny X. dan hilanglah nama gadisnya sebagaimana hilangnya jati dirinya.
Yang kuliat, istri-istri rasul tetap eksis di dunia mereka. Aisyah bahkan pernah menjadi pemimpin pasukan sewaktu perang melawan Ali bin Abi Thalib (walau ini termasuk perang yang sangat kontroversial dalam sejarah islam dan ummul mukminin itu akhirnya disarankan untuk kembali ke rumah). Disamping itu Aisyah adalah seorang nara sumber handal untuk hadis-hadis nabi. Terus banyak lagilah wanita-wanita muslimin yang cerdas bin hebat dalam sejarah tapi tetap menjadi istri yang patuh dan taat kepada suami sekaligus tetap eksis jati dirinya.
Nah model merger dalam pernikahan sehingga lenyapnya eksistensi salah satu pihak, menurut hematku tidak sehat dan tidak sesuai dengan ruh agama yang ku anut. (gw sok tau banget ya???) . Dominasi salah satu pihak atas pihak lain baik secara psikis atau fisik menurutku sudah termasuk KDRT alias Kekerasan Dalam Rumah Tangga. KDRT bukan hanya bisa terjadi pada pihak wanita loh..jangan salah..pria juga bisa mengalami KDRT..itu lo yang termasuk ISTI (Ikatan Suami Takut Istri). Biasanya KDRT yang dialami pria beda dengan wanita. Kalo wanita biasanya ditampar, ditabok ama lakinya, walau ada juga sih yang tidak ditampar, tapi disiksa secara psikis melalui hinaan dan celaan yang menafikan keberadaannya. Nah pria juga bisa mengalami hal seperti itu. Wanita kalo mulutnya sudah tajam kan lebih tajam dari silet, sampai kata-kata yang keluar serasa diiris sembilu dan membuat hati lakinya perih berdarah-darah…Kemampuan menghina, mengecilkan bahkan sampai mengerdilkan keberadaan pasangan, ku rasa cukup imbang untuk wanita dan pria. Itu kan tidak perlu olah fisik atau kebugaran body, itu hanya cukup kecerdasan dan kelihaian olah kata semata..tak lebih tak kurang, tapi efeknya bo…Dahsyaat men…Yang dihina dan dicela bisa merasa benar-benar kerdil, tak berarti dan kadang cuma merasa sebagai debu tak berguna dimuka bumi ini (kasian kali ya orang-orang yang mengalami hal ini..)
Penggabungan dua insan model ini biasanya rentan perselingkuhan. Orang yang merasa tidak nyaman berada di dekat pasangannya biasanya mudah jatuh, terlebih jika ada orang yang bisa sangat memahami “penderitaan” hidupnya. Trus ibarat menyimpan api dalam sekam, lama-lama penderitaan itu akan meledak juga. (lagi mana ada orang yang tahan dalam penderitaan ya..Doyan ngkaleee). Nah akhirnya merger ini bisa pailit juga ujung-ujungnya. Sekali lagi analisis ini mungkin terlalu mengada-ada, Adjusted R squarenya mungkin hanya 0.28. Artinya model tidak begitu bagus, kemampuan variabel independen menjelaskan variasi variabel dependen hanya 28%, sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor lain. Faktanya ada kok pernikahan model merger yang bertahan lama. Kenapa bisa bertahan..ya itulah karena pernikahan adalah sesuatu yang kompleks dan tidak bisa disederhanakan oleh dua variable saja..yaitu merger/akuisisi/ konsolidasi sebagai variabel independen dan kelanggengan sebagai variabel dependen dan proxy dari marriage performance.
PENUTUP
Penelitian ini memang sangat terlalu sederhana modelnya. Masih banyak keterbatasan seperti proxy dari marriage performance mungkin perlu ditambah.. terus mungkin ada variabel intervening atau moderate yang perlu ditambah. Trus mungkin path analysis gw sangat tidak valid, wong i’ve never been through that path, how come i able to know for sure about the path. Lah namanya juga tulisan iseng…