Catatan Hessy

Ini blog isinya adalah hal-hal yang melintas di otak kananku. Karena yang melintas banyak, jadi ku pikir perlu ku buat semacam catatan, supaya besok-besok kalo aku lupa, ku bukalah catatan ini. Ya mudah2an catatan ini tidak hanya berguna untukku, tapi juga bagi orang lain. Salam Hangat Hessy

Archive for September, 2007


SHOLAT: SEBUAH TAFSIRAN GAYA BEBAS

SHOLAT: SEBUAH TAFSIRAN

GAYA

BEBAS

Khomsa, 15 Ramadhan 1428H

Created by : Hessy Zainal

PROLOG

Salah satu hobi yang ku sukai adalah berenang. Berenang membuatku merasa riang bagaikan ikan di lautan. Apalagi kalau berenang di laut beneran yang ikan-ikan dan terumbu karangnya cantik alias snorkeling, aku lebih merasa senang lagi. Gaya berenang ada macam-macam, yi:gaya dada,gaya bebas,gaya punggung dan gaya kupu-kupu.Gaya yang ku kuasai dengan baik adalah gaya dada alias gaya kodok,gaya kupu-kupu agak lumayan,sedang gaya bebas dan gaya punggung aku tidak terlalu bisa,aku masih kesulitan cara mengambil nafasnya.Masing-masing gaya punya kelebihan,gaya dada kelebihannya kita tidak terlalu capek berenang,cuma lama nyampe ke titik finish,kalo gaya dada,bisa cepat sampai ke titik finish,tapi capek bo.Sedang gaya punggung sebenarnya bisa asik asal bisa tengadah terus,tapi kalo ga bisa,hidung bisa kemasukan air,terus muka jadi hitam karena langsung terpapar matahari.Gaya kupu-kupu lumayan juga sebenarnya,aku suka juga gaya ini, cuma agak capek juga berenang gaya ini dan berisik.

Itu sedikit cerita tentang hobiku, kali ini aku mau menulis tentang sholat dengan tafsiran

gaya

bebas. Kalo berpikir aku suka memakai

gaya

bebas, sebebas burung camar di langit dan seriang ikan-ikan di lautan. Walau bebas dan riang dalam berpikir, aku tetap berusaha menggunakan

gaya

dada alias menggunakan hati/qalbu  alias nurani dalam menuliskan pikiran-pikiran nyeleneh tersebut. Mudah-mudahan pikiran ini tidak terlalu melenceng dari koridor-koridor yang ada. Insya Allah…amin

PENDAHULUAN

Pada bulan Ramadhan ini kita sebagai umat muslim biasanya menjadi lebih rajin sholat, bukan hanya sholat wajib tapi juga sholat sunat dan berusaha melakukan sholat secara berjamaah. Tujuan kita rata-rata adalah mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya dibulan yang penuh barokah ini. Ibaratnya Allah sedang menjamu kita dengan hidangan yang maha lezat, masa mau disia-siakan. Para ustadz dan ustadzah di TV , radio, koran juga selalu mendengung-dengungkan pahala yang belipat ganda jika kita melakukan amal kebaikan dibulan suci ini.  Lama-lama aku berpikir, apakah sesederhana itu amalan-amalan kita, tak lain tak bukan hanya mengumpulkan pahala? Jika hanya berlomba-lomba mengumpulkan pahala dari amalan ritual, apa kita jadinya tidak sama dengan anak-anak dan ponakan-ponakan kita yang masih kecil, yang kita iming-imingi dengan hadiah jika puasa mereka penuh, tanpa batal satu haripun di bulan suci ini? Lalu timbul juga berbagai pertanyaan di benakku ini. Aku bertanya dalam hati, mengapa Allah sangat mengutamakan sholat berjamaah? Mengapa Rasul benci dengan para lelaki yang malas sholat berjamaah, sampai-sampai ingin membakar rumah mereka? Mengapa sholat rakaatnya berbeda-beda?  Mengapa sholat ada waktu-waktu tertentu dan kudu dilaksanakan tepat waktu? Mengapa sholat itu banyak sekali gayanya, ada gaya sholat selagi sehat (ini cuma satu gaya, tapi ada varian mazhab), ada gaya sholat sewaktu dalam ketakutan (kalo tidak salah ada 3 gaya), ada lagi cara sholat jika kita sedang sakit..terus mengapa sebelum sholat harus berwudhu, mengapa harus ada adzan? Mengapa Allah mengatur begitu detail cara untuk menyembahnya. Bukankah sebenarnya Allah itu Maha Besar, Maha Kuat, Maha Segalanya, Dia tidak butuh sholat kita, tidak butuh puasa kita, bahkan Dia tidak butuh kita sama sekali. Jadi sebenarnya kita mau menyembah dia dengan cara apapun sebenarnya tidak masalah kan? Tapi mengapa Dia mengaturnya sedemikian rupa dan harus ditaati pula, kalau tidak, sholat tidak sah. Itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dibenakku. Terus aku mencoba menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu, soalnya kalo ku tanyakan pada orang lain, apalagi kalo sama ustadz, jangan-jangan aku dianggap orang aneh..(Seaneh-anehnya gw, gw ogah lagi dianggap aneh, lagi kan zikir dan pikir itu disuruh sama Allah. Dan bertanya sebenarnya kan menandakan kita berpikir, cuma tidak semua orang bisa menerima jalan pikiran yang agak menyimpang)

SHOLAT vs STRATEGI PERANG vs STRATEGI BISNIS

Melihat tata cara sholat kita aku berpikir sebenarnya terkandung filofi dahsyat didalamnya yang ingin disampaikan Allah kepada umat Muhammad. Jika kita perhatikan ada tata cara tertentu yang harus kita patuhi dalam melakukan sholat. Dimulai dengan adzan, berwudhu, baru kemudian kita sholat. Tatacara sholat berjamaah juga di atur, harus ada yang bertindak sebagai imam, dimana imam punya syarat-syarat tertentu, kemudian makmum. Susunan shaff pun ada caranya, laki-laki di depan, perempuan di belakang. Shaff pun harus rapat, bahu bertemu bahu, mata kaki bertemu mata kaki. Aku melihatnya sebenarnya beginilah caranya kalau kita ingin berhasil dalam berbisnis atau bernegara atau berumah tangga. Jika kita memahami filosofi sholat kita bisa sukses dalam hidup ini. Jika semua umat muslim memahami filosofi sholat, islam sebagai rahmat sekalian alam itu pasti terwujud. Jangan-jangan mengapa umat islam tidak maju-maju sekarang ini, karena kita masih memaknai sholat sebatas ibadah ritual semata, sehingga tidak terejawantahkan dalam perilaku hidup kita sehari-hari, maka jadilah kita orang yang merugi walau kita sholat. Mari kita kupas satu per satu.

Waktu Sholat.

Sholat wajib tidak bisa seenaknya kita lakukan, ada waktu-waktunya. Tafsiranku ”timing” itu sangat penting dalam berperang atau berbinis. (Sun Tzu mengatakan berbisnis itu ibarat berperang). Jika timing salah, maka bisa kalah perang atau kalah dalam berbisnis. Sholat ada 5 waktu. Sholat subuh dilaksanakan sebelum matahari terbit. Matahari melambangkan dimulainya aktifitas manusia, tapi sholat subuh dilaksanakan sebelum matahari terbit. Berarti, Allah menginginkan agar umat muslim bergerak (memulai bisnis atau usaha apapun) sebelum umat lain bergerak, alias curi start. Bilangan rakaat cuma 2, enteng kan. Biar cuma 2, faktanya sholat subuh paling banyak ditinggalkan orang, karena masih ngantuk. Jadi dengan kata lain, memulai sesuatu yang orang lain belum melakukannya memanglah sulit, dan Allah menyuruh cuma 2, mungkin maksudnya, untuk langkah awal, boleh lah dimulai dengan usaha yang ringan. Zuhur dan Ashar bilangan rakaat ada 4. Cukup banyak rakaatnya. Siang dan sore melambangkan usaha yang kita lakukan sedang hot-hotnya (waktu zuhur dan ashar itu kan matahari lagi terang-terangnya toh?, makanya angek alias hot). Di siang hari, banyak orang sudah berusaha juga, sebagaimana kita berusaha, agar berhasil, kita harus berusaha lebih keras, ga bisa nyante-nyante kalau tidak mau kesalib. Magrib dilaksanakan setelah ufuk jingga merekah  di langit biru. Kalo puasanya saatnya kita berbuka. Tafsirannya, usaha kita sudah mulai keliatan hasilnya, boleh lah kita sedikit menikmatinya dan mengurangi sedikit ritme kerja kita.. Trus sholat isha, 4 rakaat lagi. Isha dilaksanakan saat hari telah gelap gulita. Gelap gulita perlambang buruk dalam bisnis, tiada cahaya, agar tetap survive kita harus berusaha keras kembali agar fajar muncul kembali dan matahari menyinari bisnis kita. Terbukti, setelah usaha keras malam hari, besok kita sholat subuh kan, fajar melingkupi rumah tangga kita, perusahaan kita, dan negara kita. Selalu ada harapan apabila kita mau berupaya.

Terus sholat juga diminta dilakukan pada awal waktu. Untuk soal waktu  Allah bahkan sampai bersumpah dalam surat Al-Ashr yg bunyinya: Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi (QS 103:1-2).  Lalu ayat ini ku kaitkan dengan surat Al-Maun yang bunyinya: Maka celakalah orang yang sholat. Yang mereka lalai dalam sholatnya. (QS 107:4-5). Disini Allah berbicara soal waktu. Implisit tersirat bahwa ”time is money”. Jika dalam berperang atau berbisnis, salah perhitungan waktu, kita bisa kalah besar atau rugi besar. Jadi walau kita sudah usaha (sholat) tapi terlambat memulainya (lalai) kadang usaha itu bisa menjadi sia-sia, karena orang dah mulai duluan. Alias rejekinya dah dipatok ayam duluan. Dalam berperang, musuh dah bergerak duluan, kita masih berleha-leha, pas kita bergerak, musuh sudah ada di depan benteng kita, matilah kita semuanya. Jadi umat muslim itu kudunya disiplin dengan waktu. Kira-kira begitulah tafsiran gaya bebasku mengenai waktu sholat.

Wudhu

Sebelum sholat kita wajib berwudhu, mengapa harus berwudhu? Wudhu ada tatacaranya, dimulai dengan muka, tangan hingga siku, rambut, telinga, kemudian kaki. Mungkin makna wudhu ini adalah sbb: Pertama membasuh muka. Muka adalah cerminan hati. Jika kita sedih atau gembira akan tercermin pada air muka kita. Makanya muka harus di basuh, Allah ingin kita membasuh hati kita pada saat kita memulai sesuatu apakah itu bisnis atau mengatur negara. Bersihkan hati dari hal-hal yang mengganggu niat kita untuk berusaha, mantapkan hati untuk mulai berusaha. Kemudian kita mulai membasuh kedua lengan kita. Maknanya, kita sudah mau mulai berusaha neh, jadi kudu singsingkan lengan, siap-siaplah untuk mulai bekerja keras dengan cara yang bersih, dengan cara yang halal. Selanjutnya rambut kita basuh juga, maknanya, untuk memulai suatu usaha, mulailah untuk berfikir jernih, apa yang harus kita lakukan, bagaimana cara melakukannya, apa strateginya dst..Trus kita membasuh kedua telinga kita. Maknanya: untuk memulai suatu usaha banyak-banyaklah mendengar, memperhatikan, sebagai bahan pertimbangan, tapi pastikan mendengar yang baik-baik saja, hal-hal yang mengganggu, yang mematahkan semangat untuk berusaha tak perlu didengar. Terakhir kita membasuh kedua kaki kita. Ini berarti kita sudah siap untuk melangkah, siap untuk memulai usaha tentu saja usaha yang halal, makanya kaki dibasuh. Jangan sampai salah dalam melangkah.

Adzan

Soal adzan sudah pernah ku bahas dalam artikel ”Kepergian, Leadeship, sholat”. Silakan baca disana

Sholat Berjamaah

Sholat berjamaah sebagian juga sudah ku bahas dalam artikel ”Kepergian, Leadeship, sholat”. Tapi ada beberapa hal lain yang ingin ku tafsirkan lagi.

Pertama: soal hadits nabi. Ada dua hadist nabi yang kutau mengenai sholat berjamaah ini yang mengatakan: bahwa nabi sangat membenci laki-laki yang tidak mau sholat berjamaah, hampir-hampir nabi membakar rumah para lelaki yang malas tersebut. Kedua sebaik-baik sholat wanita adalah di rumahnya. Bunyi haditsnya kira-kira begini: sesungguhnya teras rumahnya lebih baik dari masjidku, tengah rumahnya lebih baik dari terasnya, kamarnya lebih baik dari tengah rumahnya. (Pembaca yang budiman, kalo bunyi haditsnya salah-salah dikit maklum ajalah ya, soalnya aku tak punya buku kumpulan hadits. Yang ku punya Quran doang. Lagian ini kan ku dengar dari pengajian, jadi aku tak punyalah bukunya).

Aku ingin memaknai ulang ke dua hadits tersebut. Menurut hematku laki-laki dan perempuan dalam hadits tersebut merujuk kepada sifat bukan arti harafiah fisik. Jadi laki-laki maknanya adalah orang yang kuat, wanita menunjukkan orang yang lemah. Terkait dengan makna sholat sebagai miniatur berperang atau berusaha, maka tidak heran nabi benci pada orang yang kuat tapi tidak mau ikut dalam peperangan. Dimana-mana peperangan dilakukan dalam kelompok, untuk menang dalam berperang, kita harus menggalang kekuatan. Tidak bisa sendiri-sendiri. Begitu juga dalam berusaha, usaha bisa berhasil, kalau kita berhasil menggalang orang-orang yang ahli dalam bidangnya sehingga bisa timbul synergi, ibaratnya energi yang dahsyat yang muncul akibat fusi partikel (halah, ini mo ngomong fisika atau apa ini. Tapi kan dalam penciptaan langit bumi terdapat ayat-ayat Allah). Jadi orang-orang yang ahli, jika sendirian dia hanyalah partikel, mempunyai energi tapi tidak dahsyat dampaknya (kalau orang nasrani bilang, domba yang hilang. Cuma aku ga suka dianggap domba, masalahnya domba kalo dikumpulkan berarti sebentar lagi mau idul adha).

Trus mengapa perempuan malah lebih utama untuk sholat di rumah? Karena perempuan ku tafsirkan sebagai sifat lemah, jadi nyambung dengan penjelasan di atas. Orang-orang yang lemah, yang tidak punya skill apa-apa ibaratnya adalah partikel penganggu yang bisa mengurangi kedahsyatan energi fusi. Oleh karena itu mereka harus di pilah, disembunyikan. Lagian jika orang ga punya keahlian berperang disuruh berperang, itu namanya kan bunuh diri. Bunuh diri haram lagi hukumnya. Selain itu, jika orang lemah ikut berperang, nanti malah jadi titik lemah pasukan secara keseluruhan, jadi selain mikirin musuh, kudu mikirin orang bego..Banyak kali yang harus dipikirkan. Bisa kalahlah kita. Begitu juga, orang yang tidak punya skill apa-apa dalam berbisnis, trus kita modalin, yang ada usaha bangkrut, modal lenyap, trus berantem karena merasa dirugikan. Runyamkan. Mengenai strata, teras, tengah rumah, dan kamar, aku menafsirkan, makin bego tu orang, makin dalam dia harus disembunyikan. Karena dia adalah titik lemah pasukan, jangan sampai pasukan mengenali kelemahan tersebut. Tapi di rumah mereka kudu belajar. Bukankah wanita adalah tiang negara. Kalau wanitanya sholeh, negaranya kuat. Jadi tak mungkinlah kita menyembunyikan wanita, karena berarti menyembunyikan tiang. Jadi makna kalimat tersebut, tetap ada orang yang berkewajiban melatih, mengajari orang-orang lemah yang disembunyikan di rumah, sehingga setelah lulus mereka bisa diberdayakan. Jadi wanita adalah tiang negara, melalui proses mendidik pasukan di rumah.

Kedua: soal baris (shaff dalam sholat. (Soal imam dalam sholat sudah pernah ku bahas dalam artikel sebelumnya, jadi tak ku bahas lagi di sini) Terkait dengan shaff, ada hadits yang ku ingat, yang bunyinya: sebaik-baiknya shaff pria adalah  paling depan dan seburuk-buruknya shaff pria adalah paling belakang. Sedang sebaik-baik shaff wanita adalah paling belakang dan seburuk-buruknya adalah paling depan. Ku liat ada sinkronisasi hadits ini dengan 2 hadist sebelumnya. Mungkin maknanya seperti ini, jika keadaan darurat, kurang pasukan, orang lemah boleh ikut berperang / berbisnis. Tapi tetap yang paling kuat harus di depan dan yang paling lemah ditaruh di posisi paling buncit. Jika keadaan terbalik anda bisa bayangkan sendiri

kan

. (Jadi pls dong, jangan diartikan secara harafiah, masalahnya kalau semua laki-laki mau sholat paling depan, sementara shaff paling depan

kan

cuma 1 shaff. Trus kalo perempuan kudu sholat di shaff paling belakang, ga khusu’ lagi. Banyak anak-anak yang main-main sholatnya. Belum lagi kalo mikrofon mati, komando ustad di depan ga kedengaran..)

Selanjutnya, dalam tatacara shaff  sholat, diwajibkan untuk merapatkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki. (Ini susah kali dilaksanakan makmum wanita. Aku pernah merapatkan kakiku ke kaki jamaah disebelahku, eh dia malah bergeser. Sewaktu hal ini ku ceritakan ke ibuku, ibuku bilang “Ndak usah kaya gitu kalilah, yang penting dekat saja.” Ku pikir ibuku bijaksana juga ya. Akhirnya aku sekarang cuma mendekat saja, tidak sampai kaki ku bersentuhan dengan jamaah di sebelahku). Shaff yang tidak rapat membuat shaff putus dan jatuhnya menjadi sholat sendiri. (Ini juga tidak begitu dipahami banyak ibu-ibu di mushola dekat rumahku. Kalo sholat, suka bawa sajadah gede-gede, trus kadang suka sholat jarang-jarang. Soalnya kalo dempet-dempet panas kali ya). Sebenarnya  makna shaff  harus rapat itu

kan

, sama seperti dalam perang, yaitu merapatkan barisan. Bahu ketemu bahu, berarti dalam berperang atau berusaha, kita harus saling bahu membahu, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Kaki bersentuhan maknanya, seragamkan, samakan langkah. Dalam melakukan perang, berusaha, langkah yang diambil harus seirama, terkoordinasi, sesuai komando imam (panglima perang atau CEO perusahaan). Kalo ada shaff putus, artinya sama dengan berantakannya barisan pasukan, sama dengan tidak terkoordinasinya gerak langkah perusahaan dalam berusaha, yang nantinya akan memudahkan musuh / pesaing untuk menyerang.

Ketiga: Sholat menghadap kiblat. Kiblat kita cuma satu, yaitu menghadap ke ka’bah. Sebenarnya ka’bah hanyalah symbol, pada dasarnya sholat itu

kan

menghadap Allah, dan Allah ada dimana-mana. Tapi mengapa Allah mensyaratkan demikian? Tafsiranku, Allah ingin bilang kalau mau mulai berperang, mulai berusaha, kudu konsentrasi. Pikiran jangan bercabang-cabang, fokuslah pada satu titik, pada satu tujuan.

Keempat: tuma’ninah dalam sholat. Salah satu rukun sholat adalah tuma’ninah. Tuma’ninah artinya diam sejenak. Artinya sholat tidak boleh dilakukan terburu-buru ada jedda sesaat setelah melakukan gerakan. Aku menafsirkan gerakan-gerakan ruku, sujud, duduk antara dua sujud adalah gerak langkah atau upaya yang kita lakukan dalam berperang atau berusaha. Berarti dalam setiap gerak langkah dalam rangka berupaya, hendaknyalah tidak dilakukan secara terburu-buru (tuma’ninah). Lakukan dengan khidmat, dengan khusu’ dan tenang. Karena sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru biasanya hasilnya tidak baik.

Kelima: mengenai salam setelah tahyat akhir dan (bersalam-salaman). Pada penghujung sholat selalu dilakukan salam kekanan dan kekiri dengan mengucapkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Itu adalah sebuah doa keselamatan dan kesejahteraan yang kita ucapkan untuk orang lain. Aku memaknainya, bagaimanapun kita berusaha keras, bagaimanapun kita berbisnis, untung yang kita peroleh bukan milik kita pribadi, tetaplah akhirnya usaha tersebut harus memberikan manfaat, kesejahteraan pada orang-orang disekitar / dilingkungan kita. Hal ini mungkin terkait dengan corporate social responsibility yang lagi trendy saat ini. Sebenarnya islam sudah lama memperhatikan hal tersebut. Terbukti dengan ayat yang mengatakan bahwa Islam diturunkan untuk menjadi rahmat sekalian alam. Jadi hendaklah sholat (semua upaya dalam hidup) kita mempunyai dampak positif bagi orang sekitar kita. Bagaimana caranya? Banyak… salah satunya adalah memperhatikan orang-orang yang tidak punya akses kepada sumber daya ekonomi yaitu anak yatim dan orang miskin. (Ingat surat Al-Maun kan, yang berbunyi: “Adakah engkau ketahui orang yang mendustai agama? Yaitu orang-orang yang tidak memperdulikan anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin?” QS 107 – 1-3). Selain itu dalam berusaha lingkungan harus dirawat juga. Ingat kan ayat yang bebunyi: “Telah tampak kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan manusia”. Terlihat Allah tidak suka dengan orang yang merusak alam..

Gaya Dalam Sholat

Yang ku maksud dalam gaya sholat adalah tata cara sholat sesuai kondisi yang kita alami. Ada tatacara sholat dalam kondisi normal, ada cara jika kita sakit, ada cara sholat dalam kondisi ketakutan. Aku memaknainya: strategi dalam berperang / berusaha harus disesuaikan dengan kondisi lapangan yang sedang dihadapi. Jadi strategi itu bersifat fleksibel. Yang penting semua dilakukan dengan satu komando imam (panglima / CEO) dan terkoordinir. Terus mengapa jika kita sakit, tetap saja harus sholat. (Puasa aja boleh ditinggal kalo sakit, zakat aja ada PTKZ nya (Penghasilan Tidak Kena Zakat), naik haji hanya wajib jika mampu, tapi tidak ada excuse untuk sholat). Aku tafsirkan, seberapa burukpun kondisi atau keadaan hidup kita, kita wajib berusaha (sholat) semampu kita. Jadi orang miskin, bodoh, cacat (sakit) berusaha sesuai kemampuan kemiskinannya, kebodohannya, kecacatannya. Sedang orang kaya, sehat, pintar, apalagi, wajib-wajib banget berusaha dan berupaya sesuai dengan anugerah yang telah diberikan Allah pada mereka.

Sholat-sholat sunnah berjamaah

1. Sholat idul fitri & idul adha.

Diantara sholat sunnah, ada yang berjenis sholat sunnah mu’akad. Sholat sunnah yang dipentingkan, yaitu sholat idul fitri dan idul adha. Ini rutin dilaksanakan umat muslim 2x setahun. Disunnahkan untuk semua orang  hadir dalam sholat ini. Kupikir  sholat ini terkait dengan salam pada akhir sholat. Sholat harus mempunyai dampak positif pada lingkungan sekitar. Nah sholat idulfitri dan sholat idul adha ibaratnya seperti  Rapat Umum Pemegang Saham yang diadakan 2x setahun, untuk mempertanggung jawabkan usaha-usaha para pelaku ekonomi selama ini. Masyarakat adalah pemegang saham dari sumber daya alam yang digunakan oleh para pelaku ekonomi. Terbukti bahkan wanita yang sedang haid pun disunnahkan untuk hadir dalam “rapat umum tersebut”. Berarti semua masyarakat berhak untuk tahu. Dan kita tahu pula bahwa pada akhir puasa tersebut, diwajibkan bagi muslim yang mampu untuk membayar zakat fitrah dan pada hari raya idul adha, yang mampu diminta untuk melakukan Qurban. Ini bisa diibaratkan perusahaan yang berhasil meraih laba, membagi-bagikan deviden bagi para pemegang saham.

2. Sholat sunnah lain, sholat istisqo dan sholat gerhana

Sholat ini dilakukan sesuai keadaan yang dihadapi. Jadi kalo kemarau panjang, kita bisa memohon pada Allah melalui sholat minta hujan, dan jika ada gerhana kita juga disunnah kan untuk sholat. Aku memaknai ini adalah strategi alternatif dan pelengkap dalam kita berusaha. Adakalanya bisnis mengalami kemarau panjang, atau mengalami gerhana, alias tertutup oleh merek lain yang terkenal, sehingga produk kita cuma sedikit yang mengenalnya. Pada situasi khusus seperti ini tentu harus ada upaya tambahan,  strategi alternatif dan pelengkap dari upaya wajib yang kita lakukan selama ini.

PENUTUP

Pembaca yang dirahmati Allah,  sekarang kita bisa memaknai sholat-sholat yang kita lakukan dengan cara yang berbeda dengan yang biasa. Jadi jikalau kita sholat dan imam membaca ayat, dan kita mendengarkannya, kita bisa memaknai bahwa waktu pemimpin atau bos di kantor sedang bicara dalam rapat, berarti kita harus mendengarkannya, kalau bos kurang benar, kita kasi tau, kalau memang tau. Terus sekarang kita juga tau, mengapa setiap kali ada ayat mengenai sholat, sering digandeng dengan zakat..waaqimussholah, wa atauzzakah. Dirikanlah sholat dan bayarkanlah zakat. Kalo dipikir kenapa orang sholat trus kudu bayar zakat? Ya iyalah, kaya iklan pajak aja kan, orang baik taat pajak. Jadi orang yang rajin sholat itu kan berarti orang yang rajin berusaha. Kalau rajin berusaha kudunya kan termasuk orang beruntung alias dapat profit (laba). Dimana-mana laba usaha itu kena pajak, jadi bayarlah zakat. Zakat akhirnya akan digunakan untuk kemaslahatan umat. Berarti sholat memang membawa rahmat bagi sekalian alam. ”Jadi terlihatlah hasil sujud kita di muka  kita”. Ayat ini sering diartikan orang yang rajin sholat (lama sujudnya) maka hasilnya akan terlihat tanda biru dikeningnya (kapalan). Bayangkan jika semua umat islam mengartikan sesederhana ini. Yang ada kita ga kerja-kerja. Selayaknyalah itu diartikan: ”Hasil usaha atau kerja kerasmu (sholat) akan terlihat di depan (muka) mu”. Kalau kita rajin berusaha dan dengan cara yang benar, insha Allah hasil akan segera terlihat. Bayangkan jika semua umat muslim rajin berusaha dan dengan cara-cara yang lurus trus tidak lupa menafkahkan sebagian hasil usahanya untuk orang lain. Pasti tidak ada orang miskin, pasti tidak ada anak yatim gembel dan putus sekolah, pasti tidak ada global warming gara-gara eksploitasi sumber daya alam secara tidak bertanggungjawab, pasti lingkungan kita hijau dan menarik, pasti tidak ada kesulitan air bersih, tidak ada bencana kelaparan dan banyak pasti-pasti lainnya. Terbentuklah surga dunia itu. Maka terbuktilah islam adalah rahmatan lil alamin.

Terkait dengan hari akhir. Kita tau bahwa yang pertama kali yang dihisab adalah sholat kita. Jika sholat kita baik, maka akan dilanjutkan dengan perhitungan amal-amal lainnya. Jika tidak, maka amal-amal lain tidak dilihat. Jadi jika kita mengartikan sholat adalah usaha… (Waaaaaaaaaaaaaa. Kayanya sholat ku belum benar. Daku kayanya belum begitu berusaha keras dalam hidup ini….daku masih suka membuang-buang waktu untuk hal-hal tak bermanfaat, daku kadang masih suka cuek sama lingkungan, kadang suka malas menyirami bunga, tanaman yang sudah daku tanam sendiri, gimana dong ???) Tapi tidak heran mengapa sholat yang pertama kali dihisab. Karena sholat adalah tiang agama. Tiang rubuh maka rumah rubuh.  Bisa diartikan juga sholat juga adalah tiang sebuah negara. Sholat rubuh, negara rubuh. Jika umat suatu negara rajin sholat (rajin berusaha), maka orang-orang dalam negara itu adalah orang-orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain (menyebar keselamatan (salam) dan kesejahteraan (berkah)), maka negarapun akan adil dan sejahtera. Akhirul kalam biar kita tidak stres-stres amat mikirin apa sholat kita dah benar atau belum ada ayat yang mengatakan ”Sesungguhnya usaha kamu itu berbeda-beda”. (Makanya kita liat, lain mazhab kadang agak sedikit berbeda tatacara sholatnya. Yg penting tujuannya sama). Ayat ini agak sedikit menghibur. Karena Allah tau usaha kita itu berbeda-beda. Ada yang usaha jadi dosen, ada yang usaha jadi penulis, ada yang usaha jadi wartawan, ada yang usaha jadi pedagang, jadi dokter, jadi insinyur atau yang jadi mahasiswa, jadi murid, jadi tukang sampah, jadi tukang baso, jadi mbok jamu dlsb. Jadi sewaktu kita sedang bekerja, berarti kita sedang sholat. Dan ya kita usahalah bekerja dengan baik, dengan jujur, fokus penuh komitmen dan usahakan pekerjaan kita banyak bermanfaat bagi orang lain.. karena sebaik-baiknya orang adalah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain… So selama sudah usaha keras khusu’ (dalam artian seluas-luasanya) dalam bekerja  dalam berusaha (sholat), mungkin masih ada tempat buat kita di surga…(kudu tetap optimis dan berprasangka baik kan sama Allah). Amin

*** SEKIAN ***

SUNK COST, KEYNESIAN LAW VS TYPE OF MAN,

SUNK COST, KEYNESIAN LAW VS TYPE OF MAN,

MATCHING COST AGAINTS REVENUE

By : Hessy Zainal

Isnin, 12 Ramadhan 1428 H

Pada suatu hari aku mengajar Akuntansi Biaya untuk mahasiswa yang duduk di semester 3. Pada hari tersebut bab yang akan dibahas adalah bab mengenai konsep biaya. Pengenalan konsep biaya sangat penting bagi seorang akuntan maupun manajer karena terkait dengan pengambilan keputusan. Untuk memudahkan penjelasan, biasanya aku menggunakan contoh-contoh. Dari pengalaman mengajar belasan tahun, jika aku menggunakan contoh yang terlalu serius seperti yang  terjadi di dunia usaha, biasanya mahasiswa akan kesulitan untuk memahami contoh tersebut, apalagi konsepnya. Untuk itu aku biasanya akan mengambil contoh pada kehidupan yang dekat dengan mahasiswa, baru masuk ke contoh dunia bisnis. Metode ini biasanya lebih pas dan nyantol dibenak mahasiswa. Salah satu contoh adalah penjelasan mengenai konsep biaya kesempatan (opportunity cost). Jika secara definisi, opportunity cost adalah kesempatan yang hilang akibat memilih sebuah alternative. Aku biasanya memberi contoh sebagai berikut:

            Misalnya kamu cuma mempunyai uang Rp 10.000 untuk biaya makan siang. Dengan uang Rp 10.000 tersebut sebenarnya kamu mempunyai berbagai macam alternative pilihan sebagai menu makan siang. Kamu bisa pilih nasi ayam kremes, mie goreng, mie yamin atau mie baso, atau nasi

padang

. Jika kamu memilih untuk makan 1 porsi nasi

padang

, maka kamu kehilangan kesempatan untuk makan nasi ayam kremes, mie goreng, mie yamin, atau mie baso. Nah kesempatan yang hilang itulah yang disebut dengan opportunity cost. Jika dianalogikan ke perusahaan, uang Rp 10,000 adalah dana yang dimiliki perusahaan untuk melakukan investasi. Dengan dana sekian, perusahaan mempunyai berbagai alternative. Bisa investasi pada saham, investasi pada obligasi atau mungkin membuat sebuah proyek baru. Investasi yang tidak dipilih adalah opportunity cost. Biasanya mahasiswa manggut-manggut kalau urutan penjelasan seperti itu. Tapi kalau langsung, jangan harap mereka manggut-manggut, yang ada bengong menatapku..Paling satu, dua mahasiswa yang langsung paham. Tidak terpikir oleh mereka bahwa perusahaan pun sebenarnya mempunyai keterbatasan dana, sama seperti keterbatasan dana makan siang mereka.

Itu adalah salah satu contoh untuk menjelaskan konsep biaya. Yang sulit lagi adalah menjelaskan konsep biaya tertanam (sunk cost) dan biaya relevan (relevan cost).  Jika aku membacakan definisinya, seringkali mahasiswa bingung. Dengan pemberian contoh, baru mereka paham. Pada dasarnya sunk cost adalah biaya yang tidak perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan karena sudah terjadi, sedangkan yang relevan diperhatikan adalah differential cost yaitu perbedaan biaya diantara sejumlah alternative yang bisa dipilih. Seperti biasa aku akan mengambil contoh yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Dan biasanya contoh ini akan membuat kelas riuh rendah karena mereka tertawa. Tapi lumayan untuk menghangatkan suasana kelas. Apalagi jika aku mengajar siang hari, aku harus sedikit melucu agar mata mahasiswa tetap ON. Inilah contoh yang ku berikan:

            Misalkan kamu (yang cowok) sekarang sudah memiliki seorang pacar. Pacar kamu itu doyan sekali makan alias high cost kalo ngajak dia ngedate. Jadi kalo hari Sabtu ngedate sama dia neh, kudu nyiapin uang segepok. Karena sebelum nonton, harus makan siang dulu, dah gitu ga mau level warteg, minimal fast food. Waktu nonton kudu beli pop corn and soft drink. Setelah nonton minta ditraktir makan baso atau ice cream lagi sebagai hidangan penutup kencan. Kalo ice cream ga mau yang ice cream conenya Mc D, minimal Sundae Oreo. (Mahasiswa sudah tertawa biasanya, mereka pikir  ni cewek pasti gendut banget ya. Padahal

kan

ada orang yang makannya banyak tetap langsing ya?).

Terus saya bilang: “Tiba-tiba kamu naksir lagi seorang cewe lain, yang lebih oke dari pacar kamu yang sekarang. Kebetulan cewe itu juga naga-naganya naksir kamu juga. Nah kebetulan kamu juga dah empet banget sama pacar kamu yang sekarang, karena high cost nya itu. Pertanyaannya: Dalam mengambil keputusan untuk putus dari pacar yang lama dan beralih ke cewe yang baru, apakah kamu akan memikirkan uang kamu yang sudah “tertanam” ditubuh pacar kamu itu?

Kan

sudah banyak tu “investasi” kamu di dia. Sudah traktir makan berapa kali dan nonton sekian kali…Apa ga merasa rugi kalo mutusin dia?”  Biasanya serentak satu kelas akan menjawab: “Ga Buuuuuuuu…” Ku timpali lah kemudian. “Itulah yang dimaksud dengan sunk cost. Biaya yang sudah kamu keluarkan untuk mentraktir pacar kamu tadi itu, tidak relevan dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan untuk mutusin dia. Karena biaya itu sudah tertanam dan sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Jadi ikhlasin aja lah…lillahi taala, itung-itung ikut ngedein anak orang.”  Hua..ha..ha… kelas tambah riuh rendah.

Lalu untuk menjelaskan differential cost, saya memberi contoh berikut. “Ternyata kamu tidak hanya naksir satu cewe, ada 2 cewe yang kamu taksir. Dan alhamdulillah dua-duanya cantik dan sama-sama mau juga sama kamu. Nah timbul dilema

kan

.. Yang mana yang mau dipilih. Dua-duanya

kan

ga mungkin karena satu kampus. Ntar ketauan dong kamu berpoligami. Jadi kamu harus milih satu. Disamping itu ada keterbatasan dana kencan yang kamu miliki sehingga tidak memungkinkan untuk berpoligami..Cewe yang satu, cantik, langsing, ga suka makan, tapi suka dandan, maunya kemana-mana diantar pake mobil minimal taxi. Dandannya oke, karena branded alias bermerk semuanya. Sedang cewe yang satunya lagi ga secantik yang pertama sih, tapi lumayan manislah, langsing juga, ga doyan makan, dan dandannya sederhana dan bersedia ngedate naik bis.”. Lalu ku coba menunjuk salah seorang mahasiswa pria:

”Kamu pilih yang mana mas?”  Dia menjawab ”Pilih yang sederhana bu.” 

”Kenapa?” balik ku bertanya. Mahasiswa itu menjawab ”Ongkosnya lebih murah bu, ngirit”. Hua..ha..ha… teman-temannya tertawa.

”Nah itulah dia yang disebut dengan differential cost, ada perbedaan biaya antar dua alternative”. Kataku, dan kusambung sambil memandang mahasiswa wanita dan dengan setelan wajah jail ”Ntar jangan mau jadi cewenya ya, pelit soalnya… ”…Ha..ha…ha… kelas riuh rendah.

Eh tau-tau teman yang duduk disebelah mahasiswa pria yang  ku tanya tadi nyeletuk : ”Ga bu, kalo saya milihnya tergantung situasi kantong”. Wah ternyata dia berbeda pendapat, aku tidak membahasnya hanya tertawa saja. Tapi ini membuat ku berpikir ternyata ga semua cowo ya menganut hukum Keynes bapak Ekonomi itu.

Keynesian Law VS Type of Man

Berdasarkan cerita tadi aku jadi berkesimpulan, bahwa ada dua golongan besar atau type cowok di dunia (Tentu ada beberapa turunan varian, hanya tidak dibahas disini). Kelompok pertama adalah cowo kapitalis sejati. Mereka adalah penganut hukum Keynes dimana dengan modal sesedikit mungkin untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Kelompok inilah yang menggunakan biaya differential dalam mengambil keputusan untuk memilih pacarnya. Jadi pilihan akan jatuh pada gadis yang berbiaya rendah, ekonomis tapi cantik dan langsing. Ini seperti mahasiswa pria yang pertama ku tanya. Sedangkan golongan kedua adalah cowo kapitalis moderat. Kenapa dibilang kapitalis, karena masih tetap memperhitungkan biaya, hanya saja perhitungannya cukup moderat. Cowo tipe ini bisa saja memilih pacar dengan biaya yang agak tinggi, walaupun pada saat yang sama dia juga mempunyai pilihan untuk mempunyai pacar dengan biaya yang rendah. Adapun dasar pengambilan keputusan adalah:

Ada

barang ada harga. Jadi selama biaya yang dikeluarkan worth it, why not. Mereka berpikir ada intrinsic value yang mungkin diperoleh dari cewe high class. Misalnya menaikkan gengsi…Ini seperti mahasiswa pria yang nyeletuk tadi..

Matching Cost against Revenue

Ini adalah salah satu prinsip yang digunakan dalam akuntansi untuk menyusun laporan laba rugi (income statement) sebuah perusahaan. Menurut prinsip ini, yang boleh diperhitungkan dalam laporan laba rugi, adalah beban-beban (expenses) yang dikeluarkan pada periode yang sama untuk menghasilkan pendapatan (revenue) pada periode yang sama pula. Jadi jika ada pendapatan diterima dimuka, sedangkan pekerjaan belum dilaksanakan maka belum boleh dianggap sebagai pendapatan melainkan masih dianggap hutang. Terus apa hubungannya dengn topic kali ini. Ternyata ada. Aku sampai takjub. Ternyata  prinsip ini juga digunakan dalam siklus kehidupan manusia. Perhatikan dengan seksama:

 

Pada periode pacaran, focus pria ada pada pengeluaran. Untuk memilih pacar mereka akan menghitung-hitung berapa uang (expense) yang akan keluar untuk mendanai pacar atau kencan dengan pacarnya. Sedang wanita, pada periode ini akan fokus pada berapa banyak yang bisa dia peroleh (revenue) dari pria yang menjadi pacarnya. Jadi matching

kan

.. Pria melihat dari segi cost, wanita melihat dari segi revenue, Matching cost againts revenue, pada periode yang sama.

Pada periode menikah atau berumah tangga, masih matching, tapi dengan posisi terbalik. Sebagai kepala rumah tangga, pria akan focus mencari revenue sebanyak-banyaknya untuk membiayai rumah tangganya. Sedangkan sebaliknya wanita akan focus pada seberapa banyak pengeluaran (expense) yang bisa dilakukan berdasarkan revenue yang dihasilkan suami. Sekali lagi tetap matching

kan

? Tentu tetap harus pada periode yang sama…hua..ha..ha…

PENUTUP

Akhirul kalam tiada kata yang ingin ku ketikkan selain ternyata :  AKUNTANSI UNTUK SEMUA… (Kaya iklan SCTV aja ya, Ramadhan untuk semua, SCTV untuk Semua. Ternyata Akuntansi juga bisa untuk semua)…ha..ha…ha…

“KEPERGIAN”, LEADERSHIP, SHOLAT

“KEPERGIAN”, LEADERSHIP, SHOLAT,
STRATEGIC ALLIANCE & GENDER
Sabtu, 10 Ramadhan 1428 H
By: Hessy Zainal
(This article is inspired by Sisca Damayanti)

PROLOG
A Strategic Alliance is a formal relationship formed between two or more parties to pursue a set of agreed upon goals or to meet a critical business need while remaining independent organizations.
Partners may provide the strategic alliance with resources such as products, distribution channels, manufacturing capability, project funding, capital equipment, knowledge, expertise, or intellectual property. The alliance is a cooperation or collaboration which aims for a synergy where each partner hopes that the benefits from the alliance will be greater than those from individual efforts. The alliance often involves technology transfer (access to knowledge and expertise), economic specialization, shared expenses and shared risk.

Risks of Strategic Alliances
Strategic alliances can lead to competition rather than cooperation, to loss of competitive knowledge, to conflicts resulting from incompatible cultures and objectives, and to reduced management control (Chan and Heide, 1993). A study of almost 900 joint ventures found that less than half were mutually agreed to have been successful by all parties (Harrigan, 1986; Dacin et al , 1997 Spekman et al, 1996).
An alliance can fail for many reasons (Vyas et. al 1993; Duysters et al, 1999)
• failure to understand and adapt to a new style of management
• failure to learn and understand cultural differences between the organisations
• lack of commitment to succeed
• strategic goal divergence
• insufficient trust
• operational and geographical overlap
• unrealistic expectations

PENDAHULUAN
Kemarin sore, Jumat, 9 Ramadhan 1428 H, setelah aku selesai mengajar seperti biasa aku kembali ke ruanganku untuk menyimpan buku dan sholat ashar. Tidak ada yang aneh sebenarnya dengan kegiatanku pada hari tersebut, hanya saja sewaktu sedang menunggu lift di gedung S lt1, untuk mengangkutku ke lt 5, tempat ruanganku berada aku membaca sebuah pengumuman. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, telah meninggal suami dari salah seorang kolega kami yang bernama ibu Sisca Damayanti. Sebenarnya berita duka seperti itu juga adalah hal biasa dan sering ku baca jika sedang menunggu lift di gedung S. Hanya saja orang yang mengalami kemalangan itulah yang membuat ku tertegun dan akhirnya pikiranku melayang dan ujungnya menginspirasiku untuk menulis artikel ini.
Sebenarnya aku tidak terlalu akrab dengan Sisca, aku hanya mengenalnya sebagaimana aku mengenal teman-teman dosen lainnya. Tapi walau demikian aku mengetahui sedikit banyak “perjuangan hidup” Sisca. Dari berita yang kudengar, suami Sisca almarhum tersebut sudah lebih kurang 2 tahun menderita sakit. Sakitnya dimulai dengan stroke sehingga akhirnya suaminya tidak bisa bekerja lagi dan tinggal di rumah. Sejak suaminya menderita stroke maka Sisca otomatis menjadi penanggungjawab utama keluarga dalam urusan mencari nafkah. Yang ku tau, Sisca pun bukan dosen tetap di kampus tempat ku mengajar, dia hanya dosen honorer dan mengajar di beberapa tempat. Jadi aku bisa memperkirakan jumlah income yang diterimanya sementara suami sedang sakit berat. Ku pikir sungguh sangat berat perjuangan hidup Sisca, mana rumahnya di Bogor pula, jadi jika dia pulang kuliah malam ( Sisca sedang mengambil S2) maka bisa sampai di Bogor jam 12 malam, lalu untuk ke rumahnya pakai acara naik ojek segala. Padahal aku pulang magrib saja dari Grogol, kalo harus naik kendaraan umum, sudah cemas bin ngeper (mungkin aku terlalu penakut ya, besok-besok aku mau belajar berani ah). Yang kusalut dari Sisca adalah semua hal yang berat itu sama sekali tak terlihat pada gurat wajahnya. Untuk menambah income, Sisca juga berjualan penganan beku spt otak-otak, kentang, baso, nugget dan lainnya kepada kami teman-temannya. Banyak sih yang jualan di kampus, tapi biasanya cuma musiman, misalnya jualan baju atau jualan kue menjelang lebaran atau kalo ada bazaar. Sisca menjalani secara kontinu dan aku baru tau kemarin, untung satu bungkus cuma Rp 1000,-. (ya iyalah ya, kalo ambil untung banyak-banyak ntar malah ga ada yang beli). Aku pernah bercakap-cakap dengan Sisca tentang bisnisnya ini, Sisca bilang “alhamdulillah ada aja pesanan Hes.”. Aku ikut senang mendengarnya dan tambah salut, sesulit apapun hidupnya ternyata Sisca selalu bersyukur. Mungkin rasa syukur, kesabaran dan ketabahan itulah yang membuat Sisca keliatan tetap cantik dan tetap santai dalam menjalani kehidupan ini.

LEADERSHIP & GENDER
Perjuangan hidup Sisca membuatku teringat pada sebuah ayat di Al-Quranul Karim yang berbunyi: Arrijalu qowwamun ‘alannisaa’ dst (Annisaa’ :34) yang artinya Kaum laki-laki adalah pemimpin kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Lalu aku juga teringat pada ayat Al-Qur’an yang lain yang berbunyi: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. ( Al-Baqarah:187). Lalu aku mengaitkan kedua ayat tersebut dengan tulisan Sachiko Murata dalam Tao of Islam (ini buku yang ku beli tgl 8 Oktober 1996, dan tidak selesai ku baca, saking sarat makna setiap kata yang tertulis. Aku baru baca ¼ kepalaku dah nyut-nyutan. Jadi bacanya kayanya kudu dicicil. Emang beda baca buku yang di tulis professor dengan yang ditulis novelis ya. Kalo baca novel, cukup berdiri di toko buku, selesai deh aku baca  ). Dalam buku Sachiko ditulis sebait syair Rumi yang berbunyi:

Menurut akal, langit adalah pria dan bumi adalah wanita.
Apa saja yang diberikan oleh yang satunya, yang lainpun menerimanya.

Sachiko juga menuliskan bahwa pria menjadi pemimpin atas wanita bukan karena mereka lebih hebat dari wanita tapi karena Allah sudah menunjuk mereka untuk posisi tersebut. (Maaf pembaca, halamannya ga ketemu, jadi ini ku tulis berdasarkan ingatan semata, tidak persis redaksinya). Terus terang tulisan Sachiko yang walau cuma ku baca ¼ buku telah membuka cakrawala berpikir ku dan memperluas horizon akalku dalam melihat relasi gender. (Weissz, gaya kali kalimat yang ku gunakan ya).

Pembaca yang budiman (emang ada yang baca apa ya?), dengan meninggalnya suami Sisca, aku jadi memaknai ulang ke dua ayat Al-Qur’an di atas. Aku jadi berpikir jangan-jangan interpretasi surat Annisa ayat 34 itu tidak seperti yang tersurat. Apalagi dikaitkan dengan surat Al-Baqarah ayat 187 dan sajak Rumi dan kata-kata Sachiko. Mungkin maksud Allah di surat 4:34, dengan Arrijalu qowwamun alannisaa’ disana bukan pria dan wanita secara fisik akan tetapi lebih secara sifat dan karakter maskulin dan feminin. Boleh tidak jika aku menafsirkannya bahwa Allah mau memberi tahu kita melalui ayat tsb, bahwa seorang pemimpin yang baik harus berkarakter maskulin dalam artian harus kuat. Lalu kata-kata melindungi, dimaksudkan bahwa pemimpin itu harus bersifat melindungi (bisa diartikan harus punya hati). Dan wanita menunjukkan kaum yang lemah, bukan wanita secara fisik. Jadi jika disambung, begini kira-kira maknanya: ”Pemimpin harus kuat dan harus mampu melindungi kaum yang lemah”. Dan pemimpin itu tidak harus laki-laki, wanita yang berkarakter pemimpin juga bisa jadi pemimpin. Kenapa ku bilang seperti itu? Karena seperti dalam kasus Sisca, pada saat suaminya sakit, sudah pastilah Sisca menjadi pemimpin dalam rumah tangganya, dan pasti banyak Sisca Sisca lain di muka bumi ini. Itu dalam konteks kepemimpinan dalam rumah tangga.

Dalam konstelasi politik, wanita menurut hematku boleh juga menjadi pemimpin. Aku sangat tidak setuju kalau hadis yang menyatakan : ”Tunggulah kehancuran jika wanita menjadi pemimpin” ditafsirkan secara sempit. Aku yakin 300% tafsiran ayat tersebut tidak seperti yang tersurat, melainkan lebih kepada: ”Tunggulah kehancuran jika orang yang lemah diangkat menjadi pemimpin”. Terbukti tidak semua hal yang dipimpin oleh kaum pria sukses. Contohnya Louis ke XVI suami Maria Antoinnete. Sejarah kerajaan Perancis berakhir ditangan kepemimpinan pria lemah tersebut. Dan tidak terbukti sama sekali, setiap yang dipimpin wanita berakhir dengan kegagalan. Contoh: Dalam tataran sejarah nasional kita, perempuan Aceh memiliki keberanian yang dikagumi oleh lawan. Sultan Alaiddin Riayat Syah IV yang berkuasa pada tahun 1589-1604 di Aceh membentuk armada laut yang berkekuatan 2.000 prajurit. Mereka terdiri dari janda yang suaminya sahid bertempur di Selat Malaka atau Malaya melawan serdadu Portugis. Kapal itu dinakhodai Laksamana Malahayati yang juga inong balee (janda). Aceh tidak hanya memiliki Malahayati namun juga Cut Nyak Dhien yang melanjutkan perang gerilya melawan serdadu Belanda setelah suaminya Teuku Umar gugur. Masih ada sederetan pejuang perempuan lain seperti Ratu Safiatuddin yang memerintah Aceh selama 35 tahun dan sebagainya. Kita tahu persis bahwa Aceh adalah serambi Mekkah, ternyata banyak para pemimpin wanita lahir disana. Dan sama sekali tidak bermasalah. Contoh-contoh perempuan pemimpin jaman modern lebih banyak lagi spt Margareth Thacher, Bandraineke, CEO Temasek dlsb. Jadi nih teman-teman pembaca, kalo ada perempuan mencalonkan diri lagi jadi presiden di republik ini, biarin ajalah, as long as dia mampu dan berkarakter kuat sebagai pemimpin. Dan tolong ya para ulama, jangan suka memelintirkan ayat atau hadis untuk kepentingan pribadi atau kelompok tertentu ya..Soal menang atau kalahkan ntar biar publik yang menilai.

LEADERSHIP & SHOLAT

Sholat yang ku maksud disini adalah sholat berjamaah. Dalam sholat berjamaah ada seseorang yang bertindak sebagai imam dan ada yang bertindak sebagai makmum. Apa kaitan sholat dengan kepemimpinan? Jelas ada. Sholat berjamaah adalah miniatur dari tatanan rumah tangga, perusahaan dan negara. Allah sedang mengajarkan pada kita, bahwa untuk menjalankan rumah tangga, organisasi atau negara, harus ada strukturnya. Harus ada yang jadi pemimpin, dan sisanya adalah yang dipimpin. Terus apalagi? Tatacara sholat berjamaah, adalah tatacara untuk menjalankan roda rumah tangga, organisasi atau negara. Mari kita kupas satu persatu:

1. Sebelum mulai sholat berjamaah ada Adzan minimal iqomat
Aku menafsirkan adzan atau iqomat adalah komunikasi rencana strategis yang akan dilakukan ke depan. Jadi rencana jangan disimpan saja, tapi harus dikomunikasikan, diberitahukan kepada seluruh jamaah (bisa diartikan: anggota keluarga, karyawan perusahaan atau rakyat). Adzan atau Iqomat dimulai dengan Allahu Akbar berarti kita minta kekuatan (Akbar) dari yang Maha Besar untuk menjalankan rencana strategis kita. Lalu ada kata-kata “Hayya allasholah”. Arti harafiah mari mendirikan sholat. Aku menafsirkan mari kita mulai menjalankan rumah tangga kita, perusahaan kita atau negara kita. Terus ”Hayya allalfallah”, arti harafiah mari kita merebut kemenangan. Tafsiranku: Inilah goal (mission) yang ingin kita capai: meraih kemenangan dalam rumah tangga (keluarga sakinah ma waddah wa rahmah), meraih kemenangan dalam organisasi (sukses, menjadi besar, berkembang dlsb), meraih kemenangan dalam bernegara (masyarakat adil dan makmur).

2. Waktu sholat imam membaca surat Al-Fatihah dengan keras.
Surat Al-Fatihah adalah ummul Al-Quran, sebuah surat yang pendek tapi sarat makna. Dimulai dengan Bismillahirrohmanirohim. Tafsiran: mulailah menjalankan rumah tangga, perusahaan atau negara dengan nama Allah, dengan niat karena Allah semata. Alhamdulillahhirobbil alamin. Tafsiran: Syukurilah apa yang kamu peroleh dalam rumah tanggamu, dalam perusahaanmu atau dalam negaramu. Arrohmanirrohim. Tafsiran: Mudah2an rumah tangga kita, perusahaan kita, atau negara kita selalu dirahmati Allah. Malikiyawmiddin. Arti harafiah: yang memiliki hari kemudian. Tafsiran: Hasil akhir dari usaha kita ada ditangan Allah, yang penting usahe. Iyya kana’budu wa iyya kanas ta’in. Tafsiran. Dalam menjalankan RT, prsh, negara, cukup lah kepada Allah kita menghamba dan meminta tolong, alias percayalah kepada kemampuanmu dan Allah bersamamu. Ihdinashirotol mustaqim. Tafsiran: tunjukilah kami dalam berusaha, mudah2an dalam cara berusaha kita selalu berada dalam rel yang di ridhoiNyai, dan Insya Allah hasilnya halal. Shirotolladzi na anam taalaihim, ghoiril maghdu bialaihim, waldhoolin. Tafsiran: beri kami petunjuk sebagaimana engkau beri petunjuk kepada orang-orang yang sukses dalam menjalankan RT, prsh atau negaranya jangan kaya orang-orang yang gagal.

3. Setelah Al-Fatihah, makmum dan imam bersama-sama menyebut: Amin
Aku menafsirkan kata Amin disini adalah bahwa makmum setuju dan dengan rencana strategis dan keputusan-keputusan yang diambil oleh Imam (pemimpin) serta akan setia mengikutinya. Jadi kalau imam ruku’, makmum ruku, imam sujud, makmum juga sujud. Jadi ikut kata dan tindakan imam (pemimpin).

4. Pada saat bangun dari ruku’ kalimah yang disebut adalah: Sami’allahu liman hamidah.
Arti harafiah: Allah mendengar orang yang memujinya. Kata ustadz di TPI tafsirannya: pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengar kata orang yang dipimpinnya. (Sami’ = mendengar).

5. Jika imam lupa, makmum harus memberi tahu dengan mengeraskan suara (jika pria) atau menepuk tangan (jika wanita) jika tau.
Tafsiran: Pemimpin tidak selalu benar, adakala salah dan berbuat khilaf. Makmum (anggota keluarga, karyawan prsh, rakyat) yang mengetahui kesalahan tersebut, wajib memberi tahukan. Kalau yang punya kuasa (karakter maskulin) bisa dengan cara yang signifikan memberi tahu pemimpin (terserah dimaknai apa), kalau yang lemah (feminin), ya semampunya lah.

Itu dalam tatacara sholat berjamaah. Selain itu dalam sholat berjamaah ada tatacara dalam pemilihan imam. Disyaratkan bahwa yang menjadi imam itu adalah orang yang pengetahuan agamanya luas dan bacaannya bagus. Ini bisa ditafsirkan bahwa yang boleh jadi pemimpin itu adalah orang yang berpengetahuan luas dan cakap berkomunikasi. Kenapa harus begitu? Ya iyalah, namanya juga pemimpin, kalo pemimpin bego, gimana rakyatnya? pemimpin yang pintar berarti juga mencerminkan sebuah kekuatan dan kebijaksanaan. Pemimpin yang cakap berkomunikasi, dalam artian kalo ngomong itu jelas, bisa dipahami maksud dan maknanya oleh yang dipimpin. Kalo ngomong ga jelas, gimana mau dilaksanakan perintahnya oleh bawahannya. Terus dalam samiallahu hu liman hamidah, pemimpin itu harus mau mendengar, harus punya hati. Nah kalo dipikir-pikir, sholat berjamaah ini kan sinkron ya sama surat 4:34 di atas. Bahwa yang mau dibicarakan pada ayat tsb adalah karakter pemimpin.

(Note: Untuk sub judul ini, tafsiran ustadz cuma yang no.4, sisanya murni tafsiranku sendiri mengikuti pola pak ustadz. Kalo salah, maklum ajalah, aku belum pernah belajar tafsir secara formal, sekolah madrasah cuma sampai kelas 6 SD, sisanya cuma baca-baca buku dan dengar-dengar pengajian.)

LEADERSHIP, STRATEGIC ALLIANCE & RELASI GENDER

Definisi strategic alliance bisa dibaca pada prolog, begitu juga resikonya. Aku merasa surat 4:34, 2:187 dan sajak Rumi punya kaitan erat dengan teori strategic alliande. Terkait dengan ayat-ayat tersebut, aku punya tafsiran tersendiri mengenai relasi gender antara pria dan wanita. Pada surat 4:34 dikatakan bahwa “Kami telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. Aku berpendapat bahwa Allah hendak menjelaskan bahwa ada kelebihan tersendiri pada tiap individu baik pria dan wanita. Sedangkan laki-laki dan perempuan yang dimaksud dalam ayat tsb, semata-mata hanyalah merujuk pada sifat, bukan fisik. Terbukti kata laki-laki dan perempuan dalam kurung. Itu menunjukkan tafsiran pribadi si penafsir. Jadi menurut hematku, laki-laki dan perempuan masing-masing punya kelebihan. Dalam rumah tangga, tidak ada jaminan suami lebih hebat segala-galanya dari istri. Suami punya kelebihan, begitu juga istri. Masing-masing harus menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk melindungi pasangannya. Jadi jika suami penghasilan lebih tinggi, dia yang melindungi dalam hal perekonomian, tapi bisa jadi istri yang berpenghasilan lebih tinggi, jadi istrilah pelindung ekonomi rumah tangga. Atau bisa jadi istri lebih cakap dalam berpikir, cepat dalam mengambil keputusan, berani ambil risiko dibanding suami. Karakter istri yag kuat seperti ini bisa menjadi sumber kekuatan bagi suami untuk bergerak, mengambil keputusan yang berisiko, dengan kata lain, istri adalah payung atau pelindung untuk berpikir suami. Sedang suami sebagai pelaksana ide-ide istri, bisa jadi pelindung dari segi nafkah. Dan kasus-kasus ini banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang salah jika istri ada sedikit lebih dari suami. Yang jelas, yang punya kelebihanlah yang bertanggungjawab sebagai pelindung sesuai dengan kelebihan yang dimiliki.

Nah makna melindungi itulah menurutku yang dimaksudkan sebagai bahwa ” suami dan istri adalah pakaian satu sama lainnya.” dalam surat 2:187. Fungsi pakaian adalah melindungi dari panas, dingin, dan sekaligus penutup aurat. Jadi suami istri itu harus saling melindungi dan saling menutup aib masing-masing. Dengan kata lain jika prinsip ini dilaksanakan akan terjadi sebuah strategic alliance antar suami istri sehingga menciptakan sebuah sinergy yang kompak dalam menjalankan rumah tangga. Jadi suami istri itu saling melengkapi, suami adalah langit dan istri adalah bumi, dan mereka saling memberi.

Tidak setuju dengan tafsiranku ini? Oke aku punya argument lain untuk menguatkan tafsiranku.
Sesuai teori strategic alliance, “Partners may provide the strategic alliance with resources such as products, distribution channels, manufacturing capability, project funding, capital equipment, knowledge, expertise, or intellectual property.” Tahukah anda bahwa semua inilah yang disediakan oleh Siti Khadijah istri pertama dari Rasullullah yang tercinta dalam rangka proses menuju kenabian rasul. Dan ku pikir inilah yang menyebabkan Rasul amat sangat mencintai Khadijah. Aku pernah baca sebuah aritikel di koran (mana guntingannya hilang pula, jadi ga bisa ku sebut persis korannya tanggal berapa dan siapa penulisnya), mengenai perjalanan hidup nabi Muhammad sebelum diangkat menjadi Rasul. Terus terang artikel yang ku baca itu sebuah pengetahuan baru untukku. Jadi di artikel itu diceritakan bagaimana Khadijah “mempersiapkan” seorang Muhammad untuk menjadi seorang pilihan. Seperti yang kita ketahui, Khadijah adalah seorang bangsawan kaya raya, kalo dianalogikan jaman sekarang, Khadijah itu adalah seorang konglomerat. Seorang konglomerat selain kaya pastilah cerdas, dan Muhammad diminta untuk menjadi CEO yang menjalankan bisnisnya tsb. Khadijah sudah memperhatikan Muhammad sejak lama, sepak terjangnya, kejujurannya melalui seseorang budak. (Oh ya dalam sejarah jarang disebutkan agama Khadijah, ternyata Khadijah itu kristen lho. Makanya islam punya ikatan kuat dengan kristen, tapi bukan dengan kristen yang di Eropa). Terus keluarga Khadijah adalah keluarga yang berpengetahuan alias terdidik (berarti punya knowledge, expertise, intellectual property). Melalui kerabat-kerabatnya inilah Muhammad banyak belajar. Sampai akhirnya Nabi i’tiqaf di gua hira dan menerima wahyu pertama. Selanjutnya anda tau kan apa yang dilakukan Khadijah? Khadijah lah yang menentramkan hati nabi, Khadijahlah yang pertama kali mengakui kemampuan nabi, Khadijahlah yang menyediakan ”modal (capital)” untuk pembiayaan proyek (project funding) missi Muhammad. Khadijah mengorbankan semuanya, kenyamanan hidupnya, dirinya, hartanya untuk kesuksesan missi sang kekasih, Muhammad. Khadijah adalah pelindung utama Muhammad disamping pamannya Abu Thalib dan kakeknya Abdul Muthalib. Pengorbanan Khadijah tidak sia-sia, misi Muhammad sukses berat. Inilah bukti telah tercipta synergi akibat persekutuan seorang bangsawan konglomerat yang menyediakan sarana dan prasarana untuk misi besar partner hidupnya.

See Men, jadi melalui cerita ini terbukti kan, bahwa ada saatnya wanita bisa menjadi pelindung pria. Jadi menurut hematku tafsiran umum yang berlaku sekarang ini mengenai Ar rijallun qowwamun alannisaa itu harus kita reformasi. Arti yang benar, yang kuat melindungi yang lemah. Tidak selamanya laki-laki lebih kuat dari perempuan. Tidak selamanya pria lebih cerdas dari wanita. Adakalanya pria butuh menangis dan butuh wanita untuk menentramkan hatinya. Adakalanya pria jatuh dan butuh kekuatan dan semangat dari istrinya untuk bangkit. Jadi tidak selamanya wanita yang bermanja-manja dan dilindungi oleh pria. Tidak selamanya men…Gw Cuma mau bilang itu aja kok….

Oh ya belum selesai neh artikelnya. Pada prolog aku juga menuliskan resiko dari strategic alliance. Tujuan utama strategic alliance adalah menciptakan synergi. Tapi tidak selamanya synergi tercipta, kadang persekutuan dua belah pihak yang tadinya diniatkan untuk bekerja sama (collaboration), bisa berubah menjadi sebuah persaingan (competition) yang berujung pada konflik. Begitu juga dalam rumah tangga, boro-boro synergi, yang ada berantem terus. Kenapa hal ini bisa terjadi, sesuai teori inilah kemungkinan penyebabnya:

• failure to understand and adapt to a new style of management
Orang menikah berasal dari keluarga yang berbeda dengan pola asuh yang berbeda pula. Pada saat memasuki bahtera rumah tangga, dua orang ini menciptakan gaya manajemen rumah tangganya sendiri. Kadang ada manajemen otoriter, dimana gaya manajemen ditentukan oleh suami yang otoriter atau istri yang perkasa, tanpa kompromi dengan pasangan. Ini yang kadang-kadang membuat salah satu pihak sulit beradaptasi dengan manajemen baru ini. Misalnya: menurut manajemen baru, istri dilarang bekerja padahal selama ini istri sudah terbiasa bekerja. Karena patuh kepada suami (ceritanya istri yang sholeh gitu, jadi nurut) keluarlah istri dari pekerjaannya. Kalo kerjaan di rumah banyak, mungkin ga masalah, atau kalau istri ikhlas mungkin ga masalah juga. Tapi ada juga yang uring-uringan setelah keluar dari kerjaannya, merasa tidak berguna, tergantung secara ekonomi, ujung-ujungnya stress. Setiap ketemu suami, maunya marah-marah terus.

• failure to learn and understand cultural differences between the organisations
Ini terjadi jika dua orang berbeda suku atau kebangsaan menikah. Misalnya Sunda dengan Batak. Orang Sunda kan ngomongnya halus, semarah-marahnya orang Sunda, masih galak orang Batak yang ngomong biasa. Orang Sunda saking halusnya, sampai menyebut dirinya sebagai abdi.. Nah kalo orang Batak kan, bicara biasa aja sudah kaya orang marah-marah, apalagi kalo marah beneran, sudah kaya angin topan kali ya.. Apa jadinya jika pasangan ini tidak paham adat istiadat pasangannya. Bisa runyamkan? Itu baru beda suku, gimana beda bangsa dan ras, pasti lebih sulit lagi.

• lack of commitment to succeed
Sebuah synergi akan timbul jika ada komitmen untuk mencapai sukses dari kedua belah pihak. Jika salah satu tidak ada komitmen untuk mencapai sukses, percuma melakukan strategic alliance. Sukses sebuah rumah tangga jika berhasil mencapai rumah tangga sakinah ma waddah wa rahmah. Dan kedua belah pihak harus commit untuk mencapainya.

• strategic goal divergence
Ini terjadi jika terjadi perbedaan tujuan dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Apa yang dilakukan salah satu pasangan tidak sinkron, tidak mendukung apa yang dilakukan oleh pasangan yang lain. Synergy akan gagal tercipta.

• insufficient trust
Orang kalo berumah tangga harus saling percaya. Kalo sudah saling curiga, mending bubar aja kali ya. Gimana coba mau modalin orang yang tidak kita percaya. Percuma juga sharing thought sama orang yang ga percaya sama kita. Jangan-jangan malah dibilang nyinyir.

• operational and geographical overlap
Bagi-bagi tugas itu penting. Makanya biar kata dalam rumah tangga, kudu ada struktur. Job description masing-masing jabatan kudu jelas. Suami tugas apa, istri tugas apa, anak tugas apa, bahkan pembantu kudu jelas juga job descnya. Jangan sampai satu tugas dikerjakan banyak pihak. Boros bow. Ga efisien, buang-buang tenaga. Kerja itu ga penting keras, yang penting cerdas dan menghasilkan. Delegasikan tugas yang bisa didelegasikan. Kalo perlu outsourcing, ya outsourcing. (Warning: Tidak semua tugas istri boleh dioutsourcingkan lho.ha..ha..ha..)

• unrealistic expectations
Terakhir penyebab kegagalan strategic alliance rumah tangga adalah harapan yang berlebihan terhadap pasangan. Jadi harapan terhadap pasangan harus proporsional lah, sesuai kapasitas dan kemampuan dari pasangan. Jadi mungkin ada baiknya sebelum menikah masing-masing menanyakan ekspektasi calonnya terhadap rumah tangga yang akan dibentuk, biar ga kuciwa dikemudian hari… (btw, pernah ada seseorang yang bertanya pada ku mengenai hal ini, jadi ingat :) ).

PENUTUP

Dah dulu artikelnya. Sekian, dah malam. Aku mau bobok dulu kira-kira 2.5 jam terus makan sahur.. Tadi siang untung cukup lama boboknya. Abis mati listrik sih, jadi ga bisa berkreasi gw jadinya. Mudah2an de ga telat sahurnya. Kudu pasang alarm yang kenceng neh…

BALANCED SCORE CARD, LIFE, POLYGAMI, FASTING,

BALANCED SCORE CARD, LIFE, POLYGAMI, FASTING,

DEVIL & COMFORT ZONE, SUNNATULLAH

( 8 Ramadhan 1428H)

by: Hessy Zainal

PROLOG

Balanced Scorecard is: is simply a concise report featuring a set of measures that relate to the performance of an organization. By associating each measure with one or more expected values (targets), managers of the organization can be alerted when organizational performance is failing to meet their expectations.

The earliest Balanced Scorecards comprised simple tables broken into four sections - typically these ‘perspectives’ were labeled "Financial", "Customer", "Internal Business Processes", and "Learning & Growth". Designing the Balanced Scorecard simply required picking five or six good measures for each perspective. Many writers have since suggested alternative headings for these perspectives, and also suggested using either additional or fewer perspectives: these suggestions being triggered by a recognition that different but equivalent headings will yield alternative sets of measures.

PENDAHULUAN

Dual hari lalu aku meeting dengan teman-temanku di OSI Kebon Jeruk. Kami membahas mengenai 2 buah proyek yang sedang kami tangani. Salah satu proyek yang ditangani adalah mengenai Balanced Scorecard di sebuah rumah sakit. Disela-sela meeting seorang teman, JSL, sempat bercerita darimana dia mendapatkan ilmu Balanced Scorecard ini. JSL bercerita bahwa dia mengenal ilmu ini pada tahun 1997 dari bosnya di sebuah konsultan yang bernama Pak Mulyadi. Bapak ini juga seorang dosen UGM. Ceritanya JSL pernah ditanya oleh Pak Mulyadi mengenai arti Balance…”Setimbang” ku bilang. JSL, cerita kata pak Mul, itu terjemahannya.  Apakah 25% : 25% : 25% : 25% artinya sudah balance? Jadi apa arti Balance disini? Lalu ku jawab lagi: “Proporsional..”.  “Betul” tanggap JSL. Kenapa aku tau jawabannya proporsional? Ceritanya pada suatu waktu aku pernah berdebat dengan salah seorang teman mayaku mengenai konsep keadilan. Adil dan balance artinya sama

kan

. Nah temanku itu mengatakan dalam e-mailnya bahwa yang namanya adil itu tidak harus 1:1 melainkan proporsional. Ku pikir-pikir benar juga sih pendapat dia itu, belum tentu 1:1 itu adil, keadilan bersifat relatif, disesuaikan dengan kebutuhan dengan kata lain proporsional.  Temanku ini sebenarnya bukan orang ekonomi, tapi kok dia tau ya? Katanya sih dia eksekutif di kantornya, apa dia sudah menerapkan balance scorecard di tempat kerjanya atau apa itu pertanda sebuah kearifan dalam memaknai sesuatu? (Mboh lah). Cuma sayangnya temanku itu sepertinya meragukan kecerdasan ku dalam menangkap penjelasannya, sampai-sampai waktu copy darat, dia mengulang lagi arti adil itu. Mungkin dia ingin memastikan bahwa aku betul-betul sudah paham. Aku sih diam aja, dalam hati sedikit agak merengut, soalnya aku tu cukup 1x saja dibilangin, aku dah paham lagi. Ayu-ayu gini aku kan pernah 3x keluar masuk UI (dengan skor statistic, 2x keluar dengan terhormat, 1x keluar dengan kesadaran penuh dan secara sukarela..ha..ha..ha..). Tapi biasalah dalam pertemanan kadang ada sedikit kerikil yang mengganjal karena kita berbeda pendapat, tapi its ok, we still good friend until now. Singkat kata dari omong-omong dengan JSL itu tiba-tiba muncullah ide-ide aneh dalam benakku, yang membuat kepalaku penuh dan sempat malamnya membuat aku sulit tidur, sampai aku sahur terlambat. Untung ada sms dari salah seorang sobatku jadi aku terbangun dan masih sempat minum susu dan makan kue.. dan syukurnya malamnya aku dah makan banyak, kebetulan ditraktir berbuka oleh suami temanku. (Eits…temanku juga ikut, tapi yang bayar suaminya..thanks for

ur

treat ya Ri).

I.

BALANCED SCORECARD & LIFE

Dalam kehidupan konsep kesetimbangan yang proporsional sebenarnya selalu kita temui dan kita aplikasikan. Hanya saja mungkin kita tidak sadar. Contohnya: Jika kita ingin mengisi angin untuk ban mobil kita, pasti ukuran roda belakang berbeda dengan roda depan. Kenapa tidak dibuat sama ukurannya? Karena fungsi roda depan berbeda dengan roda belakang, sehingga dibuat berbeda sehingga mobil nyaman dikendarai. Itu kata ayahku. (Oh ya aku sebenarnya ga bisa nyetir, tapi teoritically aku tau fungsi-fungsi dan cara kerja mobil, berhubung ayah dan abangku suka memperbaiki mobil. Jadi percakapan mereka sering ku dengar dan kadang-kadang aku suka nanya-nanya juga).

Contoh lain adalah wajah manusia. Seringkali dalam sastra kita temu perandai-andaian seorang wanita cantik, dimana alisnya bak semut beriring, rambut seperti mayang terurai, pipi bak pauh dilayang, mata seperti bintang kejora. Bayangkan jika ada wanita dengan gambaran sempurna seperti itu, yang tercipta adalah seorang gendurowo, dengan rambut panjang, alis tebal, tulang pipi yang tinggi, dan mata berkilat-kilat..hua..ha..ha..Sering kita liat ada wajah yang kurang setimbang, misal pipi kiri tidak persis sama ukurannya dengan pipi kanan atau matanya indah tapi hidungnya agak pesek.. Tapi orang itu tetap menarik untuk diliat..Kok bisa? Karena  Allah telah menciptakan manusia sesuai proporsi yang pas untuk masing-masingnya, jadi biar tidak sempurna jika diliat satu-persatu, tapi setelah disatukan menjadi sempurna dan menarik. Ternyata letak kesempurnaan manusia justru pada ketidaksempurnaannya. Kalo semua persis sama ukurannya itu bukan manusia, melainkan robot. (tul ga seeeh?….)

Another example is dalam memperlakukan anak. Misal dalam pemberian jatah uang jajan. Anak yang masih duduk di bangku SD mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan anak yang duduk di bangku SMP, sehingga wajar jika uang jajan mereka juga berbeda. Apa ini berarti orang tua telah berlaku tidak adil pada anaknya? Tidak kan… Karena jikalau adil diartikan harus persis sama, bisa berbahaya. Karena bisa jadi pas lebaran kakaknya dibelikan baju ukuran L, berarti adiknya yang kecil juga harus L dong. Kaya apa tuh adiknya ntar mengenakan baju yang kedodoran. Jadi benarlah arti adil atau balance itu adalah proporsional dan bersifat relatif.

II. BALANCED SCORECARD & POLYGAMI

Sempat tercetus dari mulutku kepada JSL mengenai implementasi teori balanced scorecard dalam polygami. Ku bilang ”Jadi kalo punya istri lebih dari satu pembagian juga harus proporsional dong yang Pyan”. ”Kalo istri yang punya anak  4 orang berarti jatah nafkah harus 2x jatah istri yang beranak 2 dong?”  JSL, Cuma senyam senyum saja, dia bilang dia ga tau kalo soal itu. JSL seorang non muslim, tentu saja dia tidak paham konsep poligami. Tapi hal ini akhirnya jadi pemikiranku juga. Dalam islam seseorang diperbolehkan beristri lebih dari satu jika mampu bersikap adil dan jika tidak mampu sebaiknya cukup satu saja. Konsep bersikap adil ini sangat berat menurut hematku. Karena adil disini tidak ada standar ukuran pastinya, dan sangat bersifat judgmental.. Pasti amat sangat subyektif. Kalo praktek proporsional ban mobil dan perlakuan terhadap anak relatif lebih mudah untuk dilaksanakan. Tapi praktek bersikap proporsional terhadap istri-istri..gimana tuh? Apa KPI (key performance index) nya? Kita sepakat di atas bahwa adil/balance berarti bersikap proporsional sesuai kebutuhan. Jika kebutuhan hanya terbatas jumlah anak, memang mudah mengukurnya. Tapi kan kebutuhan istri lebih dari itu. Istri tua berbeda kebutuhan dengan istri yang umurnya lebih mudah. Istri pesolek punya kebutuhan lebih besar terhadap kosmetik dan benda-benda duniawi dibanding istri yang cuek. Itu baru dari segi pembagian materi. Belum lagi pembagian jumlah hari. Istri yang tua mungkin sudah menderita 4L (letih, lemah, lesu, lelah) karena dimakan umur dan banyak makan ati karena dimadu oleh semuanya. Jadi jika bertemu suami perasaannya juga 4L (Lu Lagi, Lu Lagi). Kalo istri muda mungkin sebaliknya masih semangat 45. Nah terus apa berarti istri tua cukup dikunjungi 1x dalam satu minggu sisa hari untuk istri muda?

Trus apa ini tidak pernah terpikir oleh para pelaku polygami? Dalam teori audit, auditor melakukan pemeriksaan untuk menemukan salah saji material (material misstatement) pada laporan keuangan. Sesuatu itu dianggap material (signifikan) jika informasi itu disajikan atau tidak disajikan akan mempengaruhi keputusan yang akan diambil. Jika ada kesalahan yang tidak material, maka auditor tidak akan melaporkannya, jika sebaliknya maka salah saji tersebut akan muncul dalam laporan audit. Jadi intinya kalo cuma salah-salah dikit, masih dimaafkan. Konsep materialitas juga bersifat relatif. Tidak balance Rp 100.000 bisa jadi material, bisa juga tidak, tergantung dari total assets perusahaan.

Loh apa hubungan audit dengan polygami? Ada dong… Pada saat dunia kiamat, perbuatan kita semua akan diaudit dan ditimbang. Hasil audit akan mempengaruhi jalan hidup kita selanjutnya. Opini dari malaikat Rakib Atid yang mencatat perbuatan kita seumur hidup. Jika hasil buku amaliyah kita terima dari kanan, berarti kita sudah dapat opini ”Unqualified” alias wajar tanpa syarat untuk masuk surga. Jika dari tangan kiri berarti dapat opini ”Adverse  alias semua perbuatan kita di dunia banyak salahnya jadi kita bebas untuk dimasukkan ke dalam neraka. Nah kalo 50:50 mungkin tergantung kita bisa survive atau tidak  melewati jembatan shirotol mustagqim.. Tapi yang jelas diakhirat nanti tidak akan ada opini ”Disclaimer”, alias menolak memberi opini.

Terkait dengan para pelaku polygami… apa mereka sudah bertindak adil terhadap istri-istri mereka, pasti akan diaudit oleh malaikat. Terus ukuran adil itu apa dong? Kalo menggunakan teori audit, berarti jangan sampai mereka-mereka itu melakukan material misstatement dalam hal penyajian nafkah materi dan hari. Kalo batin gimana? Apa harus adil juga.. Ini dia yang susah. Kalo nafkah batin juga harus adil…wah repot ini.. Soalnya dari hasil survey kecil-kecilan dan studi literature, dapat penulis simpulkan pada umumnya wanita itu seperti auditor sifatnya. Auditor harus memiliki sikap professional skepticism dalam melaksanakan tugasnya. Nah para wanita itu biasanya juga mengidap wife skepticism (ini pernah diakui sendiri oleh suami temanku, yang notabene project manajer dari proyek balance scorecard ini.). Wife skepticism ini akan menjadi-jadi jika wanita itu akuntan dan berprofesi sebagai auditor. (hua..ha..ha..) Tanpa punya saingan/madu, seorang istri pasti secara berkala akan ”mengaudit” suaminya sehubungan dengan profesinya sebagai istri yang secara naluri ingin ”melindungi” suaminya dari gangguan-gangguan external yang bisa membuat turbulunce dalam biduk rumah tangga mereka. Apalagi jika punya saingan.

Sebenarnya sifat skeptis tidaklah buruk asal bisa proporsional dan selama tidak menjurus pada wife jealousycism atau wife paranoid. Karena dengan bersikap skeptis berarti menyelamatkan suami dari bertindak zalim. Perlu diingat, jika istri tidak benar maka suami akan ikut mempertanggungjawabkan kesalahan-kesalahan istri diakhirat, karena berarti dia gagal melaksanakan tugasnya sebagai suami yang wajib mendidik istri. Sedangkan jika suami bertindak zalim dan istri ikhlas menerimanya, istri bisa lolos tanpa test untuk masuk surga. Jadi istri yang bersifat skeptis itu baik, karena bisa menyelamatkan suami dari banyak perbuatan dosa yang akan menjerumuskan dia ke neraka kelak. Nah terkait dengan konsep keadilan, penulis usul bahwa seorang suami dianggap sudah berlaku adil antara istri-istrinya jika  tidak terjadi material missfeeling (anak gaul sekarang bilangnya ilfeel.. Ilang feeling) pada salah satu atau salah dua istri, dalam hal pembagian nafkah lahir batin. Jadi kalo kurang-kurang pas melakukan pembagian nafkah as long as tidak ada dari istri-istri tersebut merasa missfeeling, ya ga apa-apa. (Berarti kudu nyari istri yang tingkat pemahamannya sudah advance terhadap polygami neh..). Untuk menghindari prasangka telah diperlakukan tidak adil sehingga bisa menimbulkan material missfeeling, para pelaku polygami hendaknya bersikap transparan (disclosure) terhadap semua istrinya. Terserah tingkat pengungkapan (transparansi) yang anda pilih. Bisa adequate disclosure (pengungkapan cukup) atau full disclosure (pengungkapan penuh). Andalah yang paling tau situasi di lapangan.

(Note: Sidang pembaca yang terhormat, dengan menulis artikel ini bukan berarti saya FBA (Fans Berat Astrid) lho, tapi saya juga bukan PBA (Penentang Berat Astrid), prinsip saya sih: all or out of nothing at all  (ini kan lagu air supply ya? J ).. trus???  Astrid adalah penyanyi ”jadikanlah aku yang ke 2")

III. BALANCED SCORECARD & FASTING

Kata ustad di Radio dan ustadzah di koran Sindo, puasa ada 3 macam yaitu:

  1. Puasa umum; hanya menahan lapar, haus dan sex

  2. Puasa khusus; selain menahan lapar, haus dan sex juga menahan mata, telinga dan mulut.

  3. Puasa khusus bil khusus; selain puasa dua diatas, pelakunya juga melakukan puasa pikiran dan batin.

Anda dalam hati bertanya apa hubungan jenis puasa dengan balanced scorecard? Selintas tak ada, tapi ternyata ada tuh dalam benak ku.. Aku ingin bertanya sebenarnya puasa tingkat 3 itu seperti apa? Sejauh mana pikiran harus di puasakan? Apakah pikiran yang nyeleneh, membuat puasa kita tidak sempurna? Masalahnya di otakku banyak sekali pikiran yang nyeleneh. Bedakan pikiran nyeleneh dengan fiktor (fikiran jorok), fikjat (fikiran jahat) dan fikjai (fikiran jail) ya. Fikiran nyeleneh (fikneh) adalah cara pandang dan cara pikir yang berada diluar pakem normal atau pakem umum. Salah satu bukti pikiran nyeleneh adalah artikel ini, tapi ga jorok kan?

Menurut hematku pada saat semua hal sudah diberangus, pada saat seluruh aspek kehidupan seorang manusia sudah kehilangan kemerdekaannya, ada satu hal yang tak mungkin direnggut kemerdekaannya, yaitu kemerdekaan untuk berpikir. Gimana coba mau merenggutnya wong berpikir itu ga keliatan kok, selama cuma ada dalam otak. Orang yang berpikir sama yang ga berpikir juga ga keliatan bedanya, kalau cuma diam aja. Trus ku pikir-pikir juga, sebenarnya pikiran nyeleneh itu tidak apa-apa, tidak akan membuat puasa menjadi tidak sempurna. Karena bisa jadi buah pikiran yang nyeleneh menjadi penyeimbang (balance) dalam kehidupan. Bisa jadi menjadi sebuah pencerahan bagi orang tersebut atau orang lain. Kan ada manfaatnya tuh. Malah jangan-jangan pikiran jail atau pikiran jahat sebenarnya juga ga apa-apa kali ya dalam bulan puasa asal yang memikirkannya tau bahwa itu jail dan jahat. (gw ga berani berpendapat untuk fiktor). Toh menurut ustad kalo niat baik walau belum dilakukan akan dicatat sebagai amaliah kita, sedangkan niat jahat, selama tidak dilaksanakan, tidak apa-apa. Nah niat kan berasal dari pikiran, terbukti niat jahat selama ga dilakukan ga dosa kok. Apalagi kalo cuma baru mikir-mikir dan belum berniat sama sekali. Allah Maha Tahu lah atas kekurangan ciptaannya dan aku yakin Allah tau juga fikneh, fikjai, fikjat, justru bisa membuat manusia itu seimbang dan proporsional dalam berpikir..Ya ga seeh…?

IV BALANCED SCORECARD vs DEVIL & COMFORT ZONE

Maha Suci Allah yang telah menciptakan seluruh jagat raya beserta isinya dan sesungguhnya lah tidak ada yang sia-sia yang diciptakan oleh Allah.

Kenapa sub judul ini dimulai dengan menyucikan Allah?  Aku menyebut asma Allah supaya dituntun dalam menulisnya..(Inikan bulan suci Ramadhan ya.. gw kan takut dosa juga, pengennya kan setelah ramadhan gw bisa jadi lebih baik dan lebih sholeh. Pengennya nulis artikel ini juga diberi point sama malaikat Rakib yang sedang ngawasin kegiatan gw sekarang ini). Selain itu, tulisan di atas itu adalah landasan berpikir dari sub judul ini. Ini mungkin sub judul yang paling nyeleneh dan kontroversial. Tapi mudah-mudahan tidak membawa sial bagi yang menulis dan yang membacanya. J

Dari prolog pada awal tulisan, sedikit banyak anda sudah tau apa itu balanced scorecard. Devil tentu anda juga sudah tau. Menurut Al-Quran, Devil adalah musuh manusia yang nyata. Cuma dalam praktek banyak yang menjadi sohibnya devil bahkan menjelma atau berubah menjadi devil sekalian (surat An-nas, minnal jinnatiwannas = dari segolongan jin dan manusia). Sedangkan comfort zone adalah sebuah teori yang sering digunakan oleh para pakar sumber daya manusia. Di radio Hard Rock FM, sering kali didengung-dengungkan kalimat ini: ”The great enemy of succeed is the good life”. Artinya musuh utama dari kesuksesan adalah hidup yang nyaman. Seseorang jika ingin maju dalam karir, tidak boleh merasa nyaman dengan apa yang diperolehnya sekarang. Dia harus berusaha keluar dari zona nyaman (comfort zone) tersebut, dia harus terus menerus mencari tantangan baru dalam karirnya, sehingga dia dapat terus berkembang. Begitulah kira-kira teorinya.

Sekarang apa kaitan antara Balance Scorecard, Satan/Devil dengan Comfort Zone? Kaitannya adalah sebagai berikut.

Selama ini yang kita ketahui adalah bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang paling sempurna. Boleh tidak kalo aku menterjemahkan sebagai sebuah Maha Karya? Yang ku tau mengapa manusia dianggap sebagai sebuah maha karya Allah adalah karena pada saat penciptaan manusia, Allah membekali dengan sifat-sifat ulluhiyahnya pada jiwa manusia. Perhatikan bahwa kita sebagai manusia mempunyai 99 sifat Allah, contoh, Allah Maha Rahman, manusia juga punya sifat pengasih. Allah Rahim, manusia juga punya sifat penyayang, AL Muttakkabir (Maha Sombong), kita sebagai manusia kadang bahkan mungkin sering juga sombong

kan

. Al Muhaimin (Maha Memelihara), kita juga suka

kan

memelihara (ntah harta, ntah hewan, ntah bunga, ntah juga istri muda J). Al Muhshi (Maha Menghitung), kita juga

kan

kadang-kadang suka itung-itungan ama sodara, teman apalagi ama orang yang ga kita kenal. Jadi singkat kata manusia adalah pencitraan sempurna dari Allah di muka bumi. Itu kata Sachiko Murata dalam bukunya The Tao of Islam. Manusia diciptakan dengan kedua belah tangan Allah, sedangkan iblis dan malaikat serta ciptaan lain hanya diciptakan dengan sebelah tangan (Malaikat dengan tangan kanan, Iblis dengan tangan kiri) sehingga mereka merupakan pencitraan Allah yang tidak sempurna. Oleh karena itu manusia di tugaskan untuk menjadi khalifah di muka bumi dimana sebelumnya tugas ini ditolak mentah-mentah oleh makhluk bumi lainnya. Sebenarnya penugasan manusia menjadi khalifah ini juga dipertanyakan oleh malaikat, tapi Allah menjawab bahwa Dia lebih tau terhadap apa yang diperbuatNya.

Selama ini juga banyak dari kita yang berpandangan bahwa Adam dan Hawa diturunkan ke muka bumi karena sebagai hukuman mereka memakan buah terlarang (buah khuldi). Menurut literature yang ku baca, itu pandangan yang salah. Bumi memang sudah diciptakan untuk di isi oleh manusia. Jadi pada saat Adam dan Hawa turun ke muka bumi, tidak ada hubungannya lagi dengan dosa buah terlarang, mereka berdua sudah di ampuni. Mereka turun ke bumi, karena memang sudah saatnya turun dan akan mempunyai keturunan untuk menjadi khalifah di muka bumi ini.

Itu sekilas tentang manusia. Sekarang tentang iblis. Semua orang membenci iblis maka saking bencinya kepada iblis jarang yang bisa melihat aspek positif yang bisa ditiru dari iblis beserta keturunannya. Mungkin aku termasuk orang yang jarang tersebut (hal ini mungkin karena aku  suka mikir nyeleneh). Menurutku dibalik sekian banyak sifat iblis yang buruk, terdapat hikmah atau hal positif yang bisa ditiru. Misalnya keteguhan hati (untuk menggoda), tak pernah putus asa walau mengalami kegagalan (menggoda), selalu penuh strategi (dalam menggoda), menempatkan setan yang tepat untuk orang yang tepat. (Hal-hal positif dari setan pernah ku tulis dalam artikel Mahabah Cinta..silakan baca). Sekarang pertanyaannya mengapa juga Allah ikut menurunkan Iblis ke muka bumi beserta manusia? Apakah penciptaan Iblis itu sia-sia? Tentu tidak, karena tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan Allah. Apa misi iblis sebenarnya di muka bumi? Yang kita tau kan misi iblis di muka bumi adalah menyesatkan umat manusia sebanyak-banyaknya. Kenapa iblis mempunyai misi itu? Karena dendamnya terhadap Adam yang membuatnya terlempar dari surga yang nyaman.

Dalam benakku  sebenarnya Iblis menjadi begitu, tidak mau sujud kepada Adam adalah skenario besar dari Sang Sutradara. Sebuah sinetron atau film yang menarik adalah film yang mengandung konflik. Bayangkan jika bumi ini hanya diisi oleh manusia tanpa setan. Berarti sama dengan surga dong. Orang-orang pada sholeh semua, ga ada yang jahil, ga ada yang merusak bumi sampai menderita global warming kaya sekarang… Bumi menjadi tidak menarik.Selain itu bisa jadi sifat-sifat Allah yang ada dalam diri manusia itu banyak yang idle nantinya.

Jika direnungkan lebih jauh, Iblis tidak mau bersujud di hadapan Adam (seorang manusia) sebenarnya bisa diliat dari sisi positif yaitu betapa dia tidak mau merendah pada makhluk lain kecuali hanya kepada Allah semata. Itu kan sebuah penghambaan yang dahsyat kan.. (Walaupun sebenarnya Iblis tidak mau sujud karena dia merasa lebih tinggi dari Adam. Cuma tetap saja bisa diliat dari sudut pandang yang berbeda kan?) Kita aja sekarang sering menghamba pada hal-hal yang ga penting, padahal ngakunya sholat, puasa dll.  Nah Iblis ini walau banyak menyuruh hal-hal buruk pada manusia tapi dia sendiri tidak pernah melakukan dosa yang tak terampuni yaitu mempersekutukan Allah. Jadi ada joke, pada saat manusia mempersekutukan Allah, bahkan setan pun berlari dari sisinya, karena Iblis berlepas diri dari perbuatan mensekutukan itu, yang paling di benci oleh Allah. Dari soal keimanan terhadap Allah juga, Iblis itu jauh lebih beriman terhadap Allah daripada manusia. Iman artinya percaya. Iblis jelas lebih beriman atas keberadaan Allah, wong dia pernah ketemu sama Allah kok. Sedang manusia, kadang percaya, kadang tidak, kadang ga peduli dengan keberadaan Allah.

Jadi menurut hematku, tadinya iblis itu adalah makhluk yang baik, cuma karena Allah mempunyai skenario terhadap manusia maka begitulah jadinya Iblis. Iblis diberi job description satu hal, yaitu menggoda manusia. Kenapa manusia perlu digoda? Karena Allah ingin tau siapa yang benar-benar beriman pada Nya, yang benar-benar cinta kepada Nya, yang benar-benar ikhlas pada Nya. Jadi Iblis itu sebenarnya diturunkan untuk mengganggu comfort zone nya manusia. Pada saat manusia sudah merasa nyaman dengan keimanannya Allah pasti akan mendatangkan cobaan, Iblis akan datang menggoda untuk mengacaukan zona nyaman keimanannya. Jadi Iblis adalah sarana untuk mencapai sukses keimanan yang lebih tinggi. Jadi kata-kata di Hard Rock FM itu bisa diganti menjadi: The great enemy of faith is a good life”. Seringkali kehidupan yang nyaman membuat kita lupa pada Allah. Kita terlena dengan kehidupan itu sendiri. Jadi perlu ada cobaan perlu ada Iblis. dimana tugas Iblis adalah mengacaukan kesetimbangan (balance) keimanan seorang manusia untuk mencapai titik kesetimbangan keimanan yang baru. Titik kesetimbangan ini bisa lebih tinggi, bisa lebih rendah.

Nah yang menjadi pertanyaan dalam hatiku sekarang, apa Iblis jadi jahat itu sebenarnya sudah takdir Iblis? Berarti Iblis itu memang sengaja diciptakan Allah untuk suatu misi tertentu kan? Trus aku juga jadi bertanya-tanya, jangan-jangan yang masuk neraka itu semuanya adalah manusia dan jin yang telah berhasil disesatkan iblis alias manusia dan jin setan. (ada yang bilang iblis itu yang ingkar jaman nabi Adam dulu, sementara setan adalah sifat-sifat iblis), sedang iblisnya ntah diletakkan dimana nanti. (Jangan-jangan ada  special penthouse for Iblis?  J )Kenapa aku sampai berpikir demikian. Karena dari literature yang ku baca tentang tour de inferno yang dilakukan nabi Muhammad SAW waktu isra’ mijrad, yang diceritakan adalah tempat-tempat manusia jahat semuanya. Misalnya neraka untuk yang suka berghibah, yang suka makan hak orang lain, yang suka berzina dlsbnya. Tidak ada diceritakan tempat iblis, cuma dibilang jadi kerak neraka. Padahal yang ku tau seperti halnya surga, neraka pun ada 7 type. (Perasaan kaya real estate aja ya, ada type 45, type 70 dlsbnya). Apa ditiap tipe ada keraknya?

PENUTUP

Pada dasarnya keseimbangan adalah sunnatullah. Allah selalu menciptakan berpasang-pasangan, ada jahat, ada baik; ada sehat ada sakit; ada sedih ada gembira,ada tawa ada airmata. Dibalik kesulitan ada kemudahan. Jadi sebagai manusia marilah kita menjaga keseimbangan dalam hidup kita ini, marilah kita bersikap seimbang dalam setiap aspek kehidupan kita. Bersikap adil terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Akhirul kalam aku mau mengutip kata-kata Sachiko Murata (38:1991) mengenai Keseimbangan Manusiawi:

”Semua makhluk lainnya selain manusia adalah baik, karena mereka adalah makhluk-makhluk Allah, tanda-tanda Allah, tempat-tempat manifestasi bagi kualitas-kualitas Allah dan tak bisa lebih dari itu. Manusia boleh jadi memiliki kebaikan alamiah tertentu sebagai tanda-tanda Allah. Hanya saja, berbeda dengan ciptaan lainnya, mereka juga bisa menjadi jahat jika mereka tak mampu menggunakan dengan tepat kemuliaan unik yang hanya dianugerahkan kepada mereka. Untuk benar-benar menjadi manusia seutuhnya dan sempurna, manusia harus mengaktualisasikan dalam dirinya semua kualitas, baik yang secara alami intrinsik (ada) dalam ciptaan. Akan tetapi pada saat yang sama, semuanya ini harus digunakan dengan keseimbangan dan keselarasan normatif. Kejahatan muncul manakala manusia meruntuhkan keseimbangan ini, atau berbuat menyimpang dari prinsip langit dan bumi.”

                                                 **** SEKIAN DULU YA   ******

Scandal Vs Sandal Vs Sambal

Scandal Vs Sandal Vs Sambal

&

Begundl Vs Sundl

Written by : Hessy,  CSA*

Inspired by David R. Hancox, CIA, CFGM

Hari Senin lalu tanggal 3 September aku mengajar mata kulian Audit Sistem Informasi. Salah satu artikel yang jadi pokok bahasan kuliah hari itu adalah mengenai “Equity Funding Scandal” Artikel inilah yang merupakan sumber ilham tulisan ini. Oh ya sebelum dilanjutkan, mungkin judul artikel ini keliatan agak kurang sopan, supaya agak sopan maka ada huruf yang aku hilangkan. Sebenarnya ada sinonim dari kedua kosa kata tersebut tapi jika diganti maka akan kehilangan makna serta cita rasa yang diharapkan (halah, emang mo nulis apaan seh, resep makanan ngkalee ya, pake cita rasa segala).

Sekarang ku jelaskan dulu secara singkat skandal yang terjadi di Equity Funding Corporation of Amerika. Skandal ini termasuk salah satu scandal yang mencoreng nama para auditor sedunia, karena bisa berlangsung cukup lama dan auditor perusahaan tersebut tidak tau (tepatnya seh pura-pura tak tau). Fraud alias kecurangan dimulai pada tahun 1965 dan berakhir dipengadilan pada November 1973.  Equity funding adalah sebuah perusahaan asuransi yang tumbuh sangat cepat pada era tersebut, dikomandani oleh seorang Chairman yang bernama Stanley Goldblum. (Dari namanya aja dah ketauan kalo dia doyan harta). Dengan bantuan seluruh karyawan perusahaan, Goldblum mampu “membodohi” akuntan publik yg melakukan audit di perusahaan tsb, sehingga skandal ini dapat aman berlangsung. Kehebatan skandal ini terlihat dari jumlah kecurangan yang mereka lakukan yaitu membuat 64,000 transaksi fiktif dengan nilai nominal $2 milyar, $25 juta obligasi palsu, dan $ 100 juta missing assets. Sebuah jumlah yang fantastis untuk zaman tersebut, (kayanya kalo jaman sekarang masih fantastis juga kan ya?). Soal detail ceritanya cari ndiri ngkalee, banyak yg dah ngebahas, ngapain juga ku bahas disini kan?

Trus apa hubungan skandal ini dengan judul artikel. Ternyata kalau dipikir-pikir, kemiripan bunyi pada kosa kata bisa jadi mempunyai kemiripan makna dan fungsi. 

1. Scandal Vs Sandal.

Seperti kita ketahui skandal adalah perbuatan yang hina dan rendah Sesuatu yang hina biasanya lebih pantas untuk diinjak-injak oleh kaki. Nah fungsi sandal kan untuk diinjak oleh kaki, jadi orang yang melakukan skandal sebenarnya mentalnya tak lebih baik daripada sebuah sandal jepit, walau mungkin kecerdasannya tak perlu diragukan. Orang yang melakukan skandal itu terkena ayat ini nih, yang berbunyi : ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat serendah-rendahnya”  (QS AT Tiin, 4-5). Jadi dia telah diciptakan oleh Allah  dengan sebuah kecerdasan yang sempurna malah berbuat zalim alias aniaya. Jadi pantaslah kembali ke tempat yang serendah-rendahnya di neraka.

2. Scandal Vs Sambal

Skandal kalo sering dilakukan dan tidak ada koridor hukum yang memberikan ganjaran setimpal atas perbuatan tersebut maka para pelaku biasanya hanya akan tobat-tobat sambal lado (sambal).  Sambal itu pedas tapi nikmat. Sekarang bilang tobat besok makan lagi. Begitu juga skandal, skandal itu nikmat, sekarang bilang tobat, besok lakukan lagi.. (kecuali yang dah tobat nasuha kali ya, yang bisa berhenti beneran)

3. Scandal Vs Begundl Vs Sundl

Apa pula hubungan ini sama artikel Equity Funding? Ternyata ada. Sebuah scandal biasanya dilakukan oleh begundl. Dalam kasus Equity Funding, ketua begundl adalah Stanley Goldblum dibantu oleh begundl cere lainnya yaitu para karyawan di perusahaan tersebut. Terus ama sundl hubungannya apa dong? Begundl dan Sundl biasanya teman akrab. Sundl adalah orang yang menjual dirinya untuk mendapatkan bayaran. Para profesional banyak yang menjual harga dirinya, profesionalitasnya, idealismenya hanya semata-mata demi uang. Just for the money sake. Yang membayar sundl biasanya begundl. Demikianlah yang terjadi pada skandal Equity Funding. Auditor perusahaan tersebut tidak mengungkapkan kecurangan yang jelas-jelas telah ditemukan karena telah “disuap” oleh si begundl Chairman Goldblum.

Pada kasus ini integritas dan independensi Auditor patut dipertanyakan karena: 1) Equity funding adalah klien terbesar KAP dimana Auditor bekerja dan mereka dibayar sebesar $300,000 pada tahun 1970, lebih dari 2x lipat yang dibayarkan oleh klien yang no.3 besar. 2) Auditor ke 2 diberi 300 lebar saham Equity funding pada tahun 1965 dengan menggunakan nama mantan istrinya sampai dijual pada tahun 1967. 3) Auditor ke 3, menerima pinjaman dari pejabat Equity funding sebesar $2,000. Nah dengan diberikan saham dan pinjaman jelas akan menimbulkan konflik kepentingan. Apa yang terjadi?

Pada tahun 1968, Goldblum membuat suatu scenario untuk menggelembungkan assets dari aslinya $11 juta menjadi $35 juta. Auditor pada awalnya menginformasikan perusahaan bahwa mereka akan mengungkapkan hal ini dalam laporan auditnya. Lalu para auditor dipanggil untuk mengadakan pertemuan / rapat dengan Goldblum. Ketika auditor keluar dari rapat tersebut, laporan audit telah disetujui dan dalam catatan kaki tertulis bahwa telah terjadi salah saji (misrepresent)  nilai assets. Padahal itu

kan

jelas-jelas window dressing, alias merupakan kreatifitas akunting (creative accounting) dari akuntan  perusahaan

kan

, bukan salah saji. Menurut anda apa istilah yang cocok untuk para akuntan yang sangat kreatif dalam melakukan pembukuan dan para auditor yang bisa dibayar sehingga membuat laporan sesuai kehendak klien selain  S…D….L. 

Ada

sih yang bilang akuntan jenis ini sebagai akuntan tukang jahit alias Tailor Accountant, tapi ku pikir istilah itu tidak terlalu pas. Karena tukang jahit

kan

pekerjaan yang halal, walau dia membuat baju sesuai dengan kehendak klien.  Karena tanggungjawab tukang jahit hanya sebatas klien. Tapi kalau tanggung jawab akuntan dan auditor

kan

bukan hanya sebatas klien yang menyewanya, melainkan lebih dari itu, termasuk tanggungjawab terhadap public yang menggunakan laporan keuangan yang dibuatnya atau yang sudah diauditnya.

***  The End  ***

Note :  CSA = Certified Sandal Accountant (maksudnya kemana-mana saya sering pake sandal keluaran pabrik yang sudah lulus sertifikasi ISO 9000) J

Another Elsi’s Poems

Holla Elsi, puisi mu ku taruh di Blog ku ya.. Kayanya betul-betul isi tumpahan hatimu neh..Ijin ya El….Dah banyak kemajuan puisi-puisi kamu El…

Catatan Sekip

During my stay in

Yogyakarta

, 7 July – 25 August 2007

-          Hana Zaira –

My Long Lost Friend

I should thank to God,

For giving me one more chance to know you

This friendship is hugging me so tight,

It’s more than what I wished,

It leads me in tracking back to the past

When we both pursuing our dreams

In different direction, though

The bitter sweet of life,

The dreams,

The facts,

-          I wish that I was there to support you –

My friend,

From you I learn about how to care,

From you I learn about how to live

Potongan Kisah di Perjalanan

Deru laju kereta,

Wajah-wajah ceria di deretan bangku kereta,

Ceritamu tentang masa yang telah lewat,

Itulah saat aku mengenalmu lebih baik

Saat aku mulai melihatmu dari sudut yang berbeda,

Tanpa pernah engkau sadari,

Tanpa pernah kurencanakan

Kenyataan

Kenyataannya adalah aku sedang belajar lagi,

Dan engkau tidak dapat menerimanya

Setidaknya, itulah kesanku

Kenyataannya adalah aku tak punya banyak waktu,

Dan engkau tidak dapat memahaminya,

Itulah pesan yang engkau sampaikan lewat diammu

Kenyataan dan kenyataan yang membenturkan kita,

Aku tak lagi yakin dengan kebersamaan ini,

Dan inilah kenyataan yang sebenarnya

May I Blame It on You?

May I blame it on you for making me feel this way?

Or should I trust that my stupidity works well once more?

Or it’s just a fate, a mutual action, a complex works of different receptor cells

In the different area of my brains

In a very perfect time and moment?

Or it’s just a coincidence?

The Flat Feeling

I don’t miss anyone,

Everything is under control,

And in the end of the day

I will go to bed and sleep

I have no partner to fight with,

I could not find unsolved problems,

And eventually,

I start to feel boring

A Stealer of Heart

Someone has stolen my heart,

And until now I still keep searching for the track

Of his journey,

I hope he’ll stop by for a while someday, somewhere

And at that time,

I could run after him,

I will not ask him anything,

Since I don’t think he knew about what he did to my heart,

But for ensuring myself that I still could trust him