SHOLAT: SEBUAH TAFSIRAN GAYA BEBAS
SHOLAT: SEBUAH TAFSIRAN
GAYA
BEBAS
Khomsa, 15 Ramadhan 1428H
Created by : Hessy Zainal
PROLOG
Salah satu hobi yang ku sukai adalah berenang. Berenang membuatku merasa riang bagaikan ikan di lautan. Apalagi kalau berenang di laut beneran yang ikan-ikan dan terumbu karangnya cantik alias snorkeling, aku lebih merasa senang lagi. Gaya berenang ada macam-macam, yi:gaya dada,gaya bebas,gaya punggung dan gaya kupu-kupu.Gaya yang ku kuasai dengan baik adalah gaya dada alias gaya kodok,gaya kupu-kupu agak lumayan,sedang gaya bebas dan gaya punggung aku tidak terlalu bisa,aku masih kesulitan cara mengambil nafasnya.Masing-masing gaya punya kelebihan,gaya dada kelebihannya kita tidak terlalu capek berenang,cuma lama nyampe ke titik finish,kalo gaya dada,bisa cepat sampai ke titik finish,tapi capek bo.Sedang gaya punggung sebenarnya bisa asik asal bisa tengadah terus,tapi kalo ga bisa,hidung bisa kemasukan air,terus muka jadi hitam karena langsung terpapar matahari.Gaya kupu-kupu lumayan juga sebenarnya,aku suka juga gaya ini, cuma agak capek juga berenang gaya ini dan berisik.
Itu sedikit cerita tentang hobiku, kali ini aku mau menulis tentang sholat dengan tafsiran
gaya
bebas. Kalo berpikir aku suka memakai
gaya
bebas, sebebas burung camar di langit dan seriang ikan-ikan di lautan. Walau bebas dan riang dalam berpikir, aku tetap berusaha menggunakan
gaya
dada alias menggunakan hati/qalbu alias nurani dalam menuliskan pikiran-pikiran nyeleneh tersebut. Mudah-mudahan pikiran ini tidak terlalu melenceng dari koridor-koridor yang ada. Insya Allah…amin
PENDAHULUAN
Pada bulan Ramadhan ini kita sebagai umat muslim biasanya menjadi lebih rajin sholat, bukan hanya sholat wajib tapi juga sholat sunat dan berusaha melakukan sholat secara berjamaah. Tujuan kita rata-rata adalah mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya dibulan yang penuh barokah ini. Ibaratnya Allah sedang menjamu kita dengan hidangan yang maha lezat, masa mau disia-siakan. Para ustadz dan ustadzah di TV , radio, koran juga selalu mendengung-dengungkan pahala yang belipat ganda jika kita melakukan amal kebaikan dibulan suci ini. Lama-lama aku berpikir, apakah sesederhana itu amalan-amalan kita, tak lain tak bukan hanya mengumpulkan pahala? Jika hanya berlomba-lomba mengumpulkan pahala dari amalan ritual, apa kita jadinya tidak sama dengan anak-anak dan ponakan-ponakan kita yang masih kecil, yang kita iming-imingi dengan hadiah jika puasa mereka penuh, tanpa batal satu haripun di bulan suci ini? Lalu timbul juga berbagai pertanyaan di benakku ini. Aku bertanya dalam hati, mengapa Allah sangat mengutamakan sholat berjamaah? Mengapa Rasul benci dengan para lelaki yang malas sholat berjamaah, sampai-sampai ingin membakar rumah mereka? Mengapa sholat rakaatnya berbeda-beda? Mengapa sholat ada waktu-waktu tertentu dan kudu dilaksanakan tepat waktu? Mengapa sholat itu banyak sekali gayanya, ada gaya sholat selagi sehat (ini cuma satu gaya, tapi ada varian mazhab), ada gaya sholat sewaktu dalam ketakutan (kalo tidak salah ada 3 gaya), ada lagi cara sholat jika kita sedang sakit..terus mengapa sebelum sholat harus berwudhu, mengapa harus ada adzan? Mengapa Allah mengatur begitu detail cara untuk menyembahnya. Bukankah sebenarnya Allah itu Maha Besar, Maha Kuat, Maha Segalanya, Dia tidak butuh sholat kita, tidak butuh puasa kita, bahkan Dia tidak butuh kita sama sekali. Jadi sebenarnya kita mau menyembah dia dengan cara apapun sebenarnya tidak masalah kan? Tapi mengapa Dia mengaturnya sedemikian rupa dan harus ditaati pula, kalau tidak, sholat tidak sah. Itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dibenakku. Terus aku mencoba menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu, soalnya kalo ku tanyakan pada orang lain, apalagi kalo sama ustadz, jangan-jangan aku dianggap orang aneh..(Seaneh-anehnya gw, gw ogah lagi dianggap aneh, lagi kan zikir dan pikir itu disuruh sama Allah. Dan bertanya sebenarnya kan menandakan kita berpikir, cuma tidak semua orang bisa menerima jalan pikiran yang agak menyimpang)
SHOLAT vs STRATEGI PERANG vs STRATEGI BISNIS
Melihat tata cara sholat kita aku berpikir sebenarnya terkandung filofi dahsyat didalamnya yang ingin disampaikan Allah kepada umat Muhammad. Jika kita perhatikan ada tata cara tertentu yang harus kita patuhi dalam melakukan sholat. Dimulai dengan adzan, berwudhu, baru kemudian kita sholat. Tatacara sholat berjamaah juga di atur, harus ada yang bertindak sebagai imam, dimana imam punya syarat-syarat tertentu, kemudian makmum. Susunan shaff pun ada caranya, laki-laki di depan, perempuan di belakang. Shaff pun harus rapat, bahu bertemu bahu, mata kaki bertemu mata kaki. Aku melihatnya sebenarnya beginilah caranya kalau kita ingin berhasil dalam berbisnis atau bernegara atau berumah tangga. Jika kita memahami filosofi sholat kita bisa sukses dalam hidup ini. Jika semua umat muslim memahami filosofi sholat, islam sebagai rahmat sekalian alam itu pasti terwujud. Jangan-jangan mengapa umat islam tidak maju-maju sekarang ini, karena kita masih memaknai sholat sebatas ibadah ritual semata, sehingga tidak terejawantahkan dalam perilaku hidup kita sehari-hari, maka jadilah kita orang yang merugi walau kita sholat. Mari kita kupas satu per satu.
Waktu Sholat.
Sholat wajib tidak bisa seenaknya kita lakukan, ada waktu-waktunya. Tafsiranku ”timing” itu sangat penting dalam berperang atau berbinis. (Sun Tzu mengatakan berbisnis itu ibarat berperang). Jika timing salah, maka bisa kalah perang atau kalah dalam berbisnis. Sholat ada 5 waktu. Sholat subuh dilaksanakan sebelum matahari terbit. Matahari melambangkan dimulainya aktifitas manusia, tapi sholat subuh dilaksanakan sebelum matahari terbit. Berarti, Allah menginginkan agar umat muslim bergerak (memulai bisnis atau usaha apapun) sebelum umat lain bergerak, alias curi start. Bilangan rakaat cuma 2, enteng kan. Biar cuma 2, faktanya sholat subuh paling banyak ditinggalkan orang, karena masih ngantuk. Jadi dengan kata lain, memulai sesuatu yang orang lain belum melakukannya memanglah sulit, dan Allah menyuruh cuma 2, mungkin maksudnya, untuk langkah awal, boleh lah dimulai dengan usaha yang ringan. Zuhur dan Ashar bilangan rakaat ada 4. Cukup banyak rakaatnya. Siang dan sore melambangkan usaha yang kita lakukan sedang hot-hotnya (waktu zuhur dan ashar itu kan matahari lagi terang-terangnya toh?, makanya angek alias hot). Di siang hari, banyak orang sudah berusaha juga, sebagaimana kita berusaha, agar berhasil, kita harus berusaha lebih keras, ga bisa nyante-nyante kalau tidak mau kesalib. Magrib dilaksanakan setelah ufuk jingga merekah di langit biru. Kalo puasanya saatnya kita berbuka. Tafsirannya, usaha kita sudah mulai keliatan hasilnya, boleh lah kita sedikit menikmatinya dan mengurangi sedikit ritme kerja kita.. Trus sholat isha, 4 rakaat lagi. Isha dilaksanakan saat hari telah gelap gulita. Gelap gulita perlambang buruk dalam bisnis, tiada cahaya, agar tetap survive kita harus berusaha keras kembali agar fajar muncul kembali dan matahari menyinari bisnis kita. Terbukti, setelah usaha keras malam hari, besok kita sholat subuh kan, fajar melingkupi rumah tangga kita, perusahaan kita, dan negara kita. Selalu ada harapan apabila kita mau berupaya.
Terus sholat juga diminta dilakukan pada awal waktu. Untuk soal waktu Allah bahkan sampai bersumpah dalam surat Al-Ashr yg bunyinya: Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi (QS 103:1-2). Lalu ayat ini ku kaitkan dengan surat Al-Maun yang bunyinya: Maka celakalah orang yang sholat. Yang mereka lalai dalam sholatnya. (QS 107:4-5). Disini Allah berbicara soal waktu. Implisit tersirat bahwa ”time is money”. Jika dalam berperang atau berbisnis, salah perhitungan waktu, kita bisa kalah besar atau rugi besar. Jadi walau kita sudah usaha (sholat) tapi terlambat memulainya (lalai) kadang usaha itu bisa menjadi sia-sia, karena orang dah mulai duluan. Alias rejekinya dah dipatok ayam duluan. Dalam berperang, musuh dah bergerak duluan, kita masih berleha-leha, pas kita bergerak, musuh sudah ada di depan benteng kita, matilah kita semuanya. Jadi umat muslim itu kudunya disiplin dengan waktu. Kira-kira begitulah tafsiran gaya bebasku mengenai waktu sholat.
Wudhu
Sebelum sholat kita wajib berwudhu, mengapa harus berwudhu? Wudhu ada tatacaranya, dimulai dengan muka, tangan hingga siku, rambut, telinga, kemudian kaki. Mungkin makna wudhu ini adalah sbb: Pertama membasuh muka. Muka adalah cerminan hati. Jika kita sedih atau gembira akan tercermin pada air muka kita. Makanya muka harus di basuh, Allah ingin kita membasuh hati kita pada saat kita memulai sesuatu apakah itu bisnis atau mengatur negara. Bersihkan hati dari hal-hal yang mengganggu niat kita untuk berusaha, mantapkan hati untuk mulai berusaha. Kemudian kita mulai membasuh kedua lengan kita. Maknanya, kita sudah mau mulai berusaha neh, jadi kudu singsingkan lengan, siap-siaplah untuk mulai bekerja keras dengan cara yang bersih, dengan cara yang halal. Selanjutnya rambut kita basuh juga, maknanya, untuk memulai suatu usaha, mulailah untuk berfikir jernih, apa yang harus kita lakukan, bagaimana cara melakukannya, apa strateginya dst..Trus kita membasuh kedua telinga kita. Maknanya: untuk memulai suatu usaha banyak-banyaklah mendengar, memperhatikan, sebagai bahan pertimbangan, tapi pastikan mendengar yang baik-baik saja, hal-hal yang mengganggu, yang mematahkan semangat untuk berusaha tak perlu didengar. Terakhir kita membasuh kedua kaki kita. Ini berarti kita sudah siap untuk melangkah, siap untuk memulai usaha tentu saja usaha yang halal, makanya kaki dibasuh. Jangan sampai salah dalam melangkah.
Adzan
Soal adzan sudah pernah ku bahas dalam artikel ”Kepergian, Leadeship, sholat”. Silakan baca disana
Sholat Berjamaah
Sholat berjamaah sebagian juga sudah ku bahas dalam artikel ”Kepergian, Leadeship, sholat”. Tapi ada beberapa hal lain yang ingin ku tafsirkan lagi.
Pertama: soal hadits nabi. Ada dua hadist nabi yang kutau mengenai sholat berjamaah ini yang mengatakan: bahwa nabi sangat membenci laki-laki yang tidak mau sholat berjamaah, hampir-hampir nabi membakar rumah para lelaki yang malas tersebut. Kedua sebaik-baik sholat wanita adalah di rumahnya. Bunyi haditsnya kira-kira begini: sesungguhnya teras rumahnya lebih baik dari masjidku, tengah rumahnya lebih baik dari terasnya, kamarnya lebih baik dari tengah rumahnya. (Pembaca yang budiman, kalo bunyi haditsnya salah-salah dikit maklum ajalah ya, soalnya aku tak punya buku kumpulan hadits. Yang ku punya Quran doang. Lagian ini kan ku dengar dari pengajian, jadi aku tak punyalah bukunya).
Aku ingin memaknai ulang ke dua hadits tersebut. Menurut hematku laki-laki dan perempuan dalam hadits tersebut merujuk kepada sifat bukan arti harafiah fisik. Jadi laki-laki maknanya adalah orang yang kuat, wanita menunjukkan orang yang lemah. Terkait dengan makna sholat sebagai miniatur berperang atau berusaha, maka tidak heran nabi benci pada orang yang kuat tapi tidak mau ikut dalam peperangan. Dimana-mana peperangan dilakukan dalam kelompok, untuk menang dalam berperang, kita harus menggalang kekuatan. Tidak bisa sendiri-sendiri. Begitu juga dalam berusaha, usaha bisa berhasil, kalau kita berhasil menggalang orang-orang yang ahli dalam bidangnya sehingga bisa timbul synergi, ibaratnya energi yang dahsyat yang muncul akibat fusi partikel (halah, ini mo ngomong fisika atau apa ini. Tapi kan dalam penciptaan langit bumi terdapat ayat-ayat Allah). Jadi orang-orang yang ahli, jika sendirian dia hanyalah partikel, mempunyai energi tapi tidak dahsyat dampaknya (kalau orang nasrani bilang, domba yang hilang. Cuma aku ga suka dianggap domba, masalahnya domba kalo dikumpulkan berarti sebentar lagi mau idul adha).
Trus mengapa perempuan malah lebih utama untuk sholat di rumah? Karena perempuan ku tafsirkan sebagai sifat lemah, jadi nyambung dengan penjelasan di atas. Orang-orang yang lemah, yang tidak punya skill apa-apa ibaratnya adalah partikel penganggu yang bisa mengurangi kedahsyatan energi fusi. Oleh karena itu mereka harus di pilah, disembunyikan. Lagian jika orang ga punya keahlian berperang disuruh berperang, itu namanya kan bunuh diri. Bunuh diri haram lagi hukumnya. Selain itu, jika orang lemah ikut berperang, nanti malah jadi titik lemah pasukan secara keseluruhan, jadi selain mikirin musuh, kudu mikirin orang bego..Banyak kali yang harus dipikirkan. Bisa kalahlah kita. Begitu juga, orang yang tidak punya skill apa-apa dalam berbisnis, trus kita modalin, yang ada usaha bangkrut, modal lenyap, trus berantem karena merasa dirugikan. Runyamkan. Mengenai strata, teras, tengah rumah, dan kamar, aku menafsirkan, makin bego tu orang, makin dalam dia harus disembunyikan. Karena dia adalah titik lemah pasukan, jangan sampai pasukan mengenali kelemahan tersebut. Tapi di rumah mereka kudu belajar. Bukankah wanita adalah tiang negara. Kalau wanitanya sholeh, negaranya kuat. Jadi tak mungkinlah kita menyembunyikan wanita, karena berarti menyembunyikan tiang. Jadi makna kalimat tersebut, tetap ada orang yang berkewajiban melatih, mengajari orang-orang lemah yang disembunyikan di rumah, sehingga setelah lulus mereka bisa diberdayakan. Jadi wanita adalah tiang negara, melalui proses mendidik pasukan di rumah.
Kedua: soal baris (shaff dalam sholat. (Soal imam dalam sholat sudah pernah ku bahas dalam artikel sebelumnya, jadi tak ku bahas lagi di sini) Terkait dengan shaff, ada hadits yang ku ingat, yang bunyinya: sebaik-baiknya shaff pria adalah paling depan dan seburuk-buruknya shaff pria adalah paling belakang. Sedang sebaik-baik shaff wanita adalah paling belakang dan seburuk-buruknya adalah paling depan. Ku liat ada sinkronisasi hadits ini dengan 2 hadist sebelumnya. Mungkin maknanya seperti ini, jika keadaan darurat, kurang pasukan, orang lemah boleh ikut berperang / berbisnis. Tapi tetap yang paling kuat harus di depan dan yang paling lemah ditaruh di posisi paling buncit. Jika keadaan terbalik anda bisa bayangkan sendiri
kan
. (Jadi pls dong, jangan diartikan secara harafiah, masalahnya kalau semua laki-laki mau sholat paling depan, sementara shaff paling depan
kan
cuma 1 shaff. Trus kalo perempuan kudu sholat di shaff paling belakang, ga khusu’ lagi. Banyak anak-anak yang main-main sholatnya. Belum lagi kalo mikrofon mati, komando ustad di depan ga kedengaran..)
Selanjutnya, dalam tatacara shaff sholat, diwajibkan untuk merapatkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki. (Ini susah kali dilaksanakan makmum wanita. Aku pernah merapatkan kakiku ke kaki jamaah disebelahku, eh dia malah bergeser. Sewaktu hal ini ku ceritakan ke ibuku, ibuku bilang “Ndak usah kaya gitu kalilah, yang penting dekat saja.” Ku pikir ibuku bijaksana juga ya. Akhirnya aku sekarang cuma mendekat saja, tidak sampai kaki ku bersentuhan dengan jamaah di sebelahku). Shaff yang tidak rapat membuat shaff putus dan jatuhnya menjadi sholat sendiri. (Ini juga tidak begitu dipahami banyak ibu-ibu di mushola dekat rumahku. Kalo sholat, suka bawa sajadah gede-gede, trus kadang suka sholat jarang-jarang. Soalnya kalo dempet-dempet panas kali ya). Sebenarnya makna shaff harus rapat itu
kan
, sama seperti dalam perang, yaitu merapatkan barisan. Bahu ketemu bahu, berarti dalam berperang atau berusaha, kita harus saling bahu membahu, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Kaki bersentuhan maknanya, seragamkan, samakan langkah. Dalam melakukan perang, berusaha, langkah yang diambil harus seirama, terkoordinasi, sesuai komando imam (panglima perang atau CEO perusahaan). Kalo ada shaff putus, artinya sama dengan berantakannya barisan pasukan, sama dengan tidak terkoordinasinya gerak langkah perusahaan dalam berusaha, yang nantinya akan memudahkan musuh / pesaing untuk menyerang.
Ketiga: Sholat menghadap kiblat. Kiblat kita cuma satu, yaitu menghadap ke ka’bah. Sebenarnya ka’bah hanyalah symbol, pada dasarnya sholat itu
kan
menghadap Allah, dan Allah ada dimana-mana. Tapi mengapa Allah mensyaratkan demikian? Tafsiranku, Allah ingin bilang kalau mau mulai berperang, mulai berusaha, kudu konsentrasi. Pikiran jangan bercabang-cabang, fokuslah pada satu titik, pada satu tujuan.
Keempat: tuma’ninah dalam sholat. Salah satu rukun sholat adalah tuma’ninah. Tuma’ninah artinya diam sejenak. Artinya sholat tidak boleh dilakukan terburu-buru ada jedda sesaat setelah melakukan gerakan. Aku menafsirkan gerakan-gerakan ruku, sujud, duduk antara dua sujud adalah gerak langkah atau upaya yang kita lakukan dalam berperang atau berusaha. Berarti dalam setiap gerak langkah dalam rangka berupaya, hendaknyalah tidak dilakukan secara terburu-buru (tuma’ninah). Lakukan dengan khidmat, dengan khusu’ dan tenang. Karena sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru biasanya hasilnya tidak baik.
Kelima: mengenai salam setelah tahyat akhir dan (bersalam-salaman). Pada penghujung sholat selalu dilakukan salam kekanan dan kekiri dengan mengucapkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Itu adalah sebuah doa keselamatan dan kesejahteraan yang kita ucapkan untuk orang lain. Aku memaknainya, bagaimanapun kita berusaha keras, bagaimanapun kita berbisnis, untung yang kita peroleh bukan milik kita pribadi, tetaplah akhirnya usaha tersebut harus memberikan manfaat, kesejahteraan pada orang-orang disekitar / dilingkungan kita. Hal ini mungkin terkait dengan corporate social responsibility yang lagi trendy saat ini. Sebenarnya islam sudah lama memperhatikan hal tersebut. Terbukti dengan ayat yang mengatakan bahwa Islam diturunkan untuk menjadi rahmat sekalian alam. Jadi hendaklah sholat (semua upaya dalam hidup) kita mempunyai dampak positif bagi orang sekitar kita. Bagaimana caranya? Banyak… salah satunya adalah memperhatikan orang-orang yang tidak punya akses kepada sumber daya ekonomi yaitu anak yatim dan orang miskin. (Ingat surat Al-Maun kan, yang berbunyi: “Adakah engkau ketahui orang yang mendustai agama? Yaitu orang-orang yang tidak memperdulikan anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin?” QS 107 – 1-3). Selain itu dalam berusaha lingkungan harus dirawat juga. Ingat kan ayat yang bebunyi: “Telah tampak kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan manusia”. Terlihat Allah tidak suka dengan orang yang merusak alam..
Gaya Dalam Sholat
Yang ku maksud dalam gaya sholat adalah tata cara sholat sesuai kondisi yang kita alami. Ada tatacara sholat dalam kondisi normal, ada cara jika kita sakit, ada cara sholat dalam kondisi ketakutan. Aku memaknainya: strategi dalam berperang / berusaha harus disesuaikan dengan kondisi lapangan yang sedang dihadapi. Jadi strategi itu bersifat fleksibel. Yang penting semua dilakukan dengan satu komando imam (panglima / CEO) dan terkoordinir. Terus mengapa jika kita sakit, tetap saja harus sholat. (Puasa aja boleh ditinggal kalo sakit, zakat aja ada PTKZ nya (Penghasilan Tidak Kena Zakat), naik haji hanya wajib jika mampu, tapi tidak ada excuse untuk sholat). Aku tafsirkan, seberapa burukpun kondisi atau keadaan hidup kita, kita wajib berusaha (sholat) semampu kita. Jadi orang miskin, bodoh, cacat (sakit) berusaha sesuai kemampuan kemiskinannya, kebodohannya, kecacatannya. Sedang orang kaya, sehat, pintar, apalagi, wajib-wajib banget berusaha dan berupaya sesuai dengan anugerah yang telah diberikan Allah pada mereka.
Sholat-sholat sunnah berjamaah
1. Sholat idul fitri & idul adha.
Diantara sholat sunnah, ada yang berjenis sholat sunnah mu’akad. Sholat sunnah yang dipentingkan, yaitu sholat idul fitri dan idul adha. Ini rutin dilaksanakan umat muslim 2x setahun. Disunnahkan untuk semua orang hadir dalam sholat ini. Kupikir sholat ini terkait dengan salam pada akhir sholat. Sholat harus mempunyai dampak positif pada lingkungan sekitar. Nah sholat idulfitri dan sholat idul adha ibaratnya seperti Rapat Umum Pemegang Saham yang diadakan 2x setahun, untuk mempertanggung jawabkan usaha-usaha para pelaku ekonomi selama ini. Masyarakat adalah pemegang saham dari sumber daya alam yang digunakan oleh para pelaku ekonomi. Terbukti bahkan wanita yang sedang haid pun disunnahkan untuk hadir dalam “rapat umum tersebut”. Berarti semua masyarakat berhak untuk tahu. Dan kita tahu pula bahwa pada akhir puasa tersebut, diwajibkan bagi muslim yang mampu untuk membayar zakat fitrah dan pada hari raya idul adha, yang mampu diminta untuk melakukan Qurban. Ini bisa diibaratkan perusahaan yang berhasil meraih laba, membagi-bagikan deviden bagi para pemegang saham.
2. Sholat sunnah lain, sholat istisqo dan sholat gerhana
Sholat ini dilakukan sesuai keadaan yang dihadapi. Jadi kalo kemarau panjang, kita bisa memohon pada Allah melalui sholat minta hujan, dan jika ada gerhana kita juga disunnah kan untuk sholat. Aku memaknai ini adalah strategi alternatif dan pelengkap dalam kita berusaha. Adakalanya bisnis mengalami kemarau panjang, atau mengalami gerhana, alias tertutup oleh merek lain yang terkenal, sehingga produk kita cuma sedikit yang mengenalnya. Pada situasi khusus seperti ini tentu harus ada upaya tambahan, strategi alternatif dan pelengkap dari upaya wajib yang kita lakukan selama ini.
PENUTUP
Pembaca yang dirahmati Allah, sekarang kita bisa memaknai sholat-sholat yang kita lakukan dengan cara yang berbeda dengan yang biasa. Jadi jikalau kita sholat dan imam membaca ayat, dan kita mendengarkannya, kita bisa memaknai bahwa waktu pemimpin atau bos di kantor sedang bicara dalam rapat, berarti kita harus mendengarkannya, kalau bos kurang benar, kita kasi tau, kalau memang tau. Terus sekarang kita juga tau, mengapa setiap kali ada ayat mengenai sholat, sering digandeng dengan zakat..waaqimussholah, wa atauzzakah. Dirikanlah sholat dan bayarkanlah zakat. Kalo dipikir kenapa orang sholat trus kudu bayar zakat? Ya iyalah, kaya iklan pajak aja kan, orang baik taat pajak. Jadi orang yang rajin sholat itu kan berarti orang yang rajin berusaha. Kalau rajin berusaha kudunya kan termasuk orang beruntung alias dapat profit (laba). Dimana-mana laba usaha itu kena pajak, jadi bayarlah zakat. Zakat akhirnya akan digunakan untuk kemaslahatan umat. Berarti sholat memang membawa rahmat bagi sekalian alam. ”Jadi terlihatlah hasil sujud kita di muka kita”. Ayat ini sering diartikan orang yang rajin sholat (lama sujudnya) maka hasilnya akan terlihat tanda biru dikeningnya (kapalan). Bayangkan jika semua umat islam mengartikan sesederhana ini. Yang ada kita ga kerja-kerja. Selayaknyalah itu diartikan: ”Hasil usaha atau kerja kerasmu (sholat) akan terlihat di depan (muka) mu”. Kalau kita rajin berusaha dan dengan cara yang benar, insha Allah hasil akan segera terlihat. Bayangkan jika semua umat muslim rajin berusaha dan dengan cara-cara yang lurus trus tidak lupa menafkahkan sebagian hasil usahanya untuk orang lain. Pasti tidak ada orang miskin, pasti tidak ada anak yatim gembel dan putus sekolah, pasti tidak ada global warming gara-gara eksploitasi sumber daya alam secara tidak bertanggungjawab, pasti lingkungan kita hijau dan menarik, pasti tidak ada kesulitan air bersih, tidak ada bencana kelaparan dan banyak pasti-pasti lainnya. Terbentuklah surga dunia itu. Maka terbuktilah islam adalah rahmatan lil alamin.
Terkait dengan hari akhir. Kita tau bahwa yang pertama kali yang dihisab adalah sholat kita. Jika sholat kita baik, maka akan dilanjutkan dengan perhitungan amal-amal lainnya. Jika tidak, maka amal-amal lain tidak dilihat. Jadi jika kita mengartikan sholat adalah usaha… (Waaaaaaaaaaaaaa. Kayanya sholat ku belum benar. Daku kayanya belum begitu berusaha keras dalam hidup ini….daku masih suka membuang-buang waktu untuk hal-hal tak bermanfaat, daku kadang masih suka cuek sama lingkungan, kadang suka malas menyirami bunga, tanaman yang sudah daku tanam sendiri, gimana dong ???) Tapi tidak heran mengapa sholat yang pertama kali dihisab. Karena sholat adalah tiang agama. Tiang rubuh maka rumah rubuh. Bisa diartikan juga sholat juga adalah tiang sebuah negara. Sholat rubuh, negara rubuh. Jika umat suatu negara rajin sholat (rajin berusaha), maka orang-orang dalam negara itu adalah orang-orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain (menyebar keselamatan (salam) dan kesejahteraan (berkah)), maka negarapun akan adil dan sejahtera. Akhirul kalam biar kita tidak stres-stres amat mikirin apa sholat kita dah benar atau belum ada ayat yang mengatakan ”Sesungguhnya usaha kamu itu berbeda-beda”. (Makanya kita liat, lain mazhab kadang agak sedikit berbeda tatacara sholatnya. Yg penting tujuannya sama). Ayat ini agak sedikit menghibur. Karena Allah tau usaha kita itu berbeda-beda. Ada yang usaha jadi dosen, ada yang usaha jadi penulis, ada yang usaha jadi wartawan, ada yang usaha jadi pedagang, jadi dokter, jadi insinyur atau yang jadi mahasiswa, jadi murid, jadi tukang sampah, jadi tukang baso, jadi mbok jamu dlsb. Jadi sewaktu kita sedang bekerja, berarti kita sedang sholat. Dan ya kita usahalah bekerja dengan baik, dengan jujur, fokus penuh komitmen dan usahakan pekerjaan kita banyak bermanfaat bagi orang lain.. karena sebaik-baiknya orang adalah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain… So selama sudah usaha keras khusu’ (dalam artian seluas-luasanya) dalam bekerja dalam berusaha (sholat), mungkin masih ada tempat buat kita di surga…(kudu tetap optimis dan berprasangka baik kan sama Allah). Amin
*** SEKIAN ***