Catatan Hessy

Ini blog isinya adalah hal-hal yang melintas di otak kananku. Karena yang melintas banyak, jadi ku pikir perlu ku buat semacam catatan, supaya besok-besok kalo aku lupa, ku bukalah catatan ini. Ya mudah2an catatan ini tidak hanya berguna untukku, tapi juga bagi orang lain. Salam Hangat Hessy

Archive for October, 2007


LOGIKA LANGIT, REPUBLIK MIMPI

LOGIKA LANGIT, REPUBLIK MIMPI DAN

MUTIARA HIKMAH RAMADHAN

Ahad, 25 Ramadhan 1428 H

By: Hessy Zainal

PROLOG:

“Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Telah menciptakan manusia daripada segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. Yang mengajarkan dengan perantaraan kalam.. Yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tiada diketahuinya” (QS: Al-Alaq 1-5)]

“Bangunlah (untuk sembahyang) dimalam hari, kecuali sedikit daripadanya. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. (Tartil). Seungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat” (QS: Al- Muzzammil 1-5)

“Sesungguhnya usaha kamu bermacam-macam. Adapun orang yang memberi (hartanya di jalan Allah) danber taqwa. Dan membenarkan adanya kebajikan. Maka akan Kami mudahkan baginya jalan yang mudah” (QS: Al-Lail 4-7)

”Tahukah engkau, apakah kesulitan itu? Ialah memerdekan budak. Atau memberi makan pada hari kelaparan. Kepada anak yatim yang berkarib. Atau orang miskin yang telah tidur di tanah (sangat miskin). Kemudian ia (orang yang mengerjakan demikian itu) tergolong orang-orang yang beriman dan berwasiat dengan sabar dan berwasiat dengan berkasih sayang.Mereka itulah golongan kanan (ahli surga)” (QS: Al Balad 12-18)

”Katakanlah:”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS 39:9)

PENDAHULUAN

Kemarin Sabtu, 24 Ramadhan aku berkunjung ke rumah adikku yg terletak di Ps Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudaraku biasanya jika liburku agak panjang dan pada saat itu aku tidak punya kerjaan yang harus segera diselesaikan atau tidak ada acara yang menarik. Nah akhir minggu kemarin ini karena acara buka bersama yang rencananya akan digelar seorang teman, batal dilaksanakan, maka aku mengundang diriku sendiri untuk buka bersama di rumah adikku. Ada 4 rumah yang dikarenakan status hukum mereka dan status hukumku (halah, emang gw residivis apa? J ) harus menerimaku baik secara terpaksa maupun tidak, karena scr hukum Islam aku berada dibawah perwalian mereka dan mereka wajib melindungiku. Tapi selama ini yang ku rasa belum ada dari 4 rumah tersebut yang merasa terpaksa menerimaku walau aku suka mendadak muncul di depan pintu rumah mereka tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Malah anak-anak mereka alias ponakan2ku sangat senang kalau aku berkunjung. Sepertinya aku adalah tante favorit mereka. Tante Idol kalo istilah Shanti si penyanyi. (Ge er dikit boleh dong). Apalagi Aji yang di Ps Minggu, kalau aku datang, maunya dia aku menginap di rumahnya. Kalo aku menginap 1 hari, masih ditawar harus 2 hari. Kalo sudah mau pulang, masih coba ditawar juga, pulangnya nanti sore aja. Kalo tawarannya tidak tembus, aku boleh pulang dengan cara sedikit ”menyuapnya”, agar dia tidak terlalu rewel sepeninggalku. Jumlah suap ini juga pake tawar-menawar..Ku pikir-pikir Aji ini cocok jadi businessman kelak kalau sudah besar. Kelas 2 SD aja, cukup alot tawar-menawar sama dia.

Nah ceritanya sholat Subuh tadi pagi, aku pergi sholat subuh dengan dikawal oleh Kiki dan Aji ke mesjid Pejaten. Selesai sholat subuh, ada kultum di mesjid tersebut. Walau ke dua pengawalku sudah datang menjemput di mulut tangga (mesjidnya terdiri dari dua lantai, perempuan di lt 2), aku kasi kode saja untuk tetap menunggu. Akhirnya pengawal yang bertahan Cuma Aji, sedang Kiki sudah kabur pulang.

Kultum pagi tadi itu berjudul ”Mutiara Hikmah Ramadhan”. Sungguh suatu judul yang indah, cuma sayang, mutiara yang disampaikan oleh ustadz gagal bersinar. Menurut hematku, ustadz gagal menggali harta karun orang islam yang hilang yaitu hikmah (kebetulan kali ini bahasannya adalah hikmah Ramadhan. Hikmah-hikmah lain yg belum ketemu masih banyak lagi ku rasa). Kenapa aku menilai demikian? Begini ceritanya……

Secara ringkas menurut ustadz ada 4 mutiara hikmah Ramadhan yi: 1) Qiyamul Lail 2) Sedekah 3) Baca Al-Qur’an 4) Lailatul Qadr. Yang sempat dibahas panjang lebar oleh ustadz adalah point 1 s/d 3, sedangkan yg ke 4, krn waktu sudah habis tidak dibahas. Oleh krn itu aku juga Cuma akan membahas 3 point tsb.

Qiyamul Lail

Qiyamul lail atau sholat malam adalah sholat sunnat yang diutamakan dan dianjurkan untuk diperbanyak di bulan suci ini. Dalam kaitannya ini ustadz mengajak umat untuk sholat berjamaah karena pahalanya 27x lipat atau 270% katanya. Terus ustadz juga cerita bagaimana gagah perkasanya pasukan islam sewaktu mengalahkan pasukan Romawi. Diceritakan bahwa pasukan Romawi yang terkenal gagah perkasa itu kucar-kacir sewaktu melawan tentara Islam. Sewaktu salah seorang prajurit ditanya, mengapa mereka lari, maka jawaban prajurit itu adalah: ”Pasukan islam itu hebat, pada malam hari mereka sholat, lalu mereka makan hanya seadanya dan jika ada tawanan, maka tawanan akan diperlakukan dengan baik dan penuh senyuman”. Jadi itulah kunci kemenangan Islam. Bahkan kata ustadz Hercules juga lari..Ha..ha..ha.. aku tertawa dalam hati. Bukannya Hercules itu cuma legenda? Dah gitu kalo aku ga salah legenda Yunani pula bukan Romawi. Karena aku ingat betul, Hercules itu manusia ½ dewa karena dia adalah anak dari Dewa Zeus, hasil perselingkuhan dengan wanita bumi. Selain itu dari buku-buku cerita dan film-film tentang Hercules yang ku tonton, musuh-musuh Hercules pastilah buatan Dewi Hera istri pertama Dewa Zeus yang benci sekali dengan anak tirinya itu. (Ternyata Dewa pun berpoligami dan bahkan seorang Dewi pun tidak bisa menerima hal tsb..hua..ha..ha..). Dan sama sekali tidak ada literature yg pernah ku baca Hercules melawan tentara Islam. Musuh2 Hercules biasanya BMB alias Bukan Makhluk Biasa atau Bukan Manusia Biasa, krn Hercules sendiri adalah BMB (Bukan Manusia Biasa). Atau ada buku cerita Hercules yg luput dari bacaanku?

Sedekah

Hal kedua yg diterangkan ustadz adalah mengenai sedekah. Ini yang paling parah menurutku dan perkataan ustadz ku jadikan judul artikel ini. Ustadz menyitir sebuah hadits yang mengatakan bahwa jika kita bersedekah maka kita akan diganjar sebanyak 700x. Aku juga sering mendengarkan hadist tsb. Untuk lebih menguatkan ganjaran 700x itu, ustadz pun menceritakan seseorang yang bersedekah, lalu dengan cepat secara tidak terduga orang tersebut mendapatkan uang berlipat ganda. Salah satunya juga karena menang undian. Pokoke ajaib banget de. ”Terbukti bukan, wahai bapak-bapak, ibu-ibu sekalian. Jika kita bersedekah, maka Allah akan segera membalasnya dengan berlipat ganda. Ini adalah Logika Langit!” Aku sampai terperangah mendengarnya. LOGIKA LANGIT? Bukannya kita ini makhluk bumi? Bukannya kata baginda Rasulullah SAW, kutinggalkan dua perkara yi: Al Qur’an dan Sunnahku, jikalau engkau mengikutinya maka engkau akan selamat”. Jadi menurut pendapatku pribadi apa-apa yang ada di Al-quran dan hadits itu seharusnya masuk akal dan menggunakan logika bumi. Masa logika langit sih? Kalo Al-Quran dan Hadits pake logika langit, berarti waktu nabi beserta para sahabat berhasil membuat negara Islam jadi sedemikian maju dan hebat, itu semua adalah Republik Mimpi dong. Dan mustahil zaman keemasan itu akan kembali, karena semuanya hanyalah mimpi belaka. Jadi gitu dong logikanya? Dan apa perkataan spt itu tidak berakibat fatal pada umat? Nanti jangan2 umat jadi lebih banyak bermimpi berharap keajaiban muncul untuk menyelesaikan masalah mereka,timbang berusaha keras untuk mewujudkan keajaiban itu menjadi nyata. Jangan-jangan emang spt itu, terbukti dari sinetron-sinetron religi, terlalu banyak menonjolkan aspek keajaiban yang tak masuk akal. Itulah yang jadi santapan sehari-hari umat, ternyata di masjid, santapannya juga sama.

Membaca Al-Quran

Seperti yang sudah bersama kita ketahui, banyak membaca Al-Quran juga disunnahkan pada bulan suci ini. Ustadz juga berkata demikian. Satu huruf akan memperoleh 10 kebaikan. Dan ustadz menanyakan apakah jamaah sudah mengkhatamkan Al-Qurannya. Ustadz bilang jika bisa khatam di bulan Ramadhan, pasti pada 11 bulan lainnya akan mudah mengkhatamkannya.

PEMBAHASAN

Dari sekian lama aku menjadi pemeluk Islam dan mendatangi berbagai pengajian serta ceramah, hanya sedikit kajian yang betul-betul merupakan kajian. Sedangkan sebagian besar  sisanya hanyalah sekedar membaca secara tekstual dari apa yang tertulis dalam Al-Quran dan hadits. Seharusnya kita tau, mengapa orang-orang tua kita dulu menyebut dengan kata mengaji sewaktu kita pergi belajar membaca Al-Quran. Karena yang diharapkan adalah semata-mata bukan belajar membacanya tapi juga menelaaah secara mendalam. Asal kata mengaji adalah kaji, dan kata itu lebih dari sekedar membaca. Diharapkan dari hasil kajian, kita akan mengetahui hikmah yang tersembunyi dari hal-hal yang kita baca. Kenapa aku sebut hal-hal dan bukan AlQuran? Karena pada dasarnya ayat-ayat Allah itu bertebaran di muka bumi, Al-Quran adalah sebagian dari ayat-ayat Allah yang harus kita baca.

Pada prolog ku tuliskan surat Al-Alaq 1-5. Surat itu adalah wahyu pertama yang diturunkan ke muka bumi. Kalau diartikan secara sederhana, berarti selama kita sudah pandai membaca al-quran berarti kita sudah mengamalkan ayat tsb. Padahal aku rasa tidaklah sesederhana itu. Menurutku  5 ayat tsb menyuruh kita untuk terus menerus belajar dan belajar, menelaah dan menelaah, berpikir dan berpikir sehingga pada akhirnya kita mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui melalui perantaraan Kalam Ilahi. Pada akhirnya diharapkan kita mampu untuk ”berkomunikasi” dengan Allah melalui ciptaanNya dan ilham yang diturunkan kedalam kalbu kita.

Lantas bagaimana cara mengaji al-quran yang benar? Jawabannya di surat Al-Muzzammil yang merupakan wahyu yang ke 3 turun. (Wahyu ke 2 adalah surat Al-Kalam, yang membela bahwa nabi bukan orang gila). Isi surat ini sungguh berat. (Gimana yg lain ya, padahal ini baru wahyu yang ke 3). Allah menyuruh kita bangun ditengah malam. Sebagian umat menafsirkan Allah menyuruh kita untuk sholat lail, ini terlihat ada dalam kurung. Tafsiran ini sah-sah saja. Tapi kalau kita mengaitkan dengan ayat ke 4 yang menyuruh baca Al-Quran, mungkin ayat 1 bisa ditafsirkan berbeda. Ayat pertama itu bisa ditafsirkan bangunlah dalam kegelapan untuk mencari pencerahan (melalui al-quran). Aku berpendapat ayat ini bukan menyuruh sholat, karena apa? Setau ku, perintah untuk sholat belum ada waktu ayat tsb turun. Jadi tafsiran untuk suruh sholat malam (sholat tahajut interpretasi kita selama ini), kurang tepat. (Gw pikir, gw belagu amat ya, nyalah2in tafsiran ulama, emang gw punya pendidikan apa dibidang tafsir? Ya beda pendapat kan ga dilarang asal niatnya baek). Lantas seharusnya kan wahyu 1, 2 dan 3 kudu nyambung. Masa lompat-lompat, wahyu pertama disuruh belajar, yang kedua Qalam (perkataan Ilahi) untuk menghibur nabi. Nah yang ketiga kudunya nyambung dong,tentunya masih terkait dengan perintah Iqra’. Dan sependek pengetahuanku surat-surat makiyah intinya menyuruh mentauhidkan Allah, belum ada ayat-ayat hukum. Perintaah ”bangun pada malam yang gelap” oleh Allah juga bisa dimaknai dengan perintah bangun atau bangkitlah dari kebodohan, dari kemiskinan dari kesulitan yang menghimpitmu.Kemiskinan, kebodohan, kesulitan adalah fase gelap pada kehidupan manusia. Surat Al-Muzammil artinya orang yang berselimut, selimut menandai adanya sesuatu yang menutupi. Singkirkan tabir penutup itu. Songsonglah hari yang lebih cerah, bangun potensi dirimu, bangun negaramu. Bagaimana cara bangkit dari segala hal yang buruk? Bacalah Al-Quran. Itu adalah tuntunan hidup. Kaji Al-Quran tersebut. Jangan tunggu keajaiban. Bangun..Bangkit … Usaha….

Kembali kepermasalahan cara mengaji al-quran yang benar. Jadi kalo menurut surat Al-Muzzammil ini, bangunlah seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu, bisa ditafsirkan mengajilah dalam kelompok yang jumlahnya 6 orang perkelompok atau kurang atau lebih. (Jika jam itu ada 12, jadi 1/2nya kan 6 tuh). Sistem ini dikenal dengan sistem Holaqoh. (kalau teroris juga pake sistem holaqoh, ada kantong-kantong yang berisi 5-7 orang per kantong. Tiap kantong belum tentu kenal. (Mungkin idenya dari tafsiran ayat ini juga). Kenapa harus dalam kelompok kecil? Karena kalo belajar dalam kelompok besar, transfer of knowledge kadang tidak merata. Ada murid yang luput dari perhatian mentor. (Ini pengalaman pribadi. Kalo aku mengajar di kelas yang mahasiswanya terlalu banyak, aku merasa begah, kesulitan menyampaikan materi, dan sulit untuk mengenali mereka satu persatu. Lalu antar mahasiswapun biasanya belum tentu mengenal di kelas yang besar itu. Jadi kelompok belajar yang kecil sangat baik dan efektif, karena disparitas intelektualpun jadi lebih sempit. Kalo mengaji orangnya terlalu banyak, lalu dg kapasitas berpikir yang sangat bervariasi, ini tentu sangat merepotkan. Kelompok kecil juga lebih mudah menjamin kontinuitas belajar.)

Terus mengaji itu harus tartil (ayat 4). Pada al-quran ku diterjemahkan perlahan-lahan. Tartil bisa diterjemahkan juga bacalah dengan benar. Benar bisa secara mahroj atau tajwid, ini kalo belajar membaca doang. Tapi bisa juga tartil berarti, bacalah dengan jelas. Jelas maknanya tentu maksud tartil tsb. Mentor yang mengajar harus memastikan bahwa para peserta didik paham dengan makna ayat, bukan sekedar membaca apa yang tersurat, melainkan juga dapat membaca apa yang tersirat pada ayat tersebut. Jadi menurut hematku bukan disuruh baca sampai khatam. Wong memahami 1 ayat aja susah dan lama gimana mau khatam. Makanya pahala ”membaca” 1 ayat itu besar. Karena memahami saja sudah susah, belum lagi tugas melaksanakannya. Memang para sahabat ada yang khatam al-quran dalam sehari, bahkan ada yang khatam 3x dalam sehari. Ya iyalah..itu kan sahabat, trus al-quran itu dalam bahasa mereka pula, terus pemahaman dia kan langsung dari nabi, jadi wajar bisa khatam. Gurunya langsung, ga kaya kita yang pake sistem MLM (Multi Level Mengaji). Saking multi levelnya, turun temurun kadang dah jadi ga jelas isi kajiannya. Trus kenapa mengaji al-quran harus tartil, karena memang isi al-quran itu berat. Jadi harus perlahan-lahan bacanya. Dan ku pikir-pikir sampai kita mati kita tidak akan pernah bisa khatam ”membaca” al-quran. Belum lagi al-quran yang bertebaran di muka bumi ini.

Kemudian tentang Qiyamul Lail dan perang dengan tentara Romawi. Beginilah tafsiran kalo ustadz menggunakan logika langit. Seharusnyakan ustadz itu menggali lebih jauh, mengapa dengan sholat tahajud, makan secukupnya dan bersikap ramah terhadap tawanan bisa membuat gentar hati lawan. Wong kenyataannya zaman sekarang  yang rajin sholat tahajud, rajin naik haji, umroh tapi justru merekalah para musuh rakyat. Sementara orang-orang yang tidak sholat, tidak puasa,  pada kenyataannya lebih islami cara hidupnya. Negara Finlandia sebagai contoh, mayoritas umat disana adalah nasrani. Tapi tingkat korupsi, tingkat polusi udara paling rendah sedunia. Dari hasil survey Helsinki, ibu kota Finlandia, adalah kota ternyaman untuk dihuni.  Warga negaranya tidak hidup berlebihan, sewajarnya saja. Tidak ada mobil mewah yang berseliweran spt di Jakarta yang notabene orang miskinnya juga banyak. Ternyata karena pemerintahan yang bersih  dan rakyat yang teratur, warga negara di Finlandia tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Tidak seperti negeri kita ini, sudah banting tulang, hutang masih menumpuk, keluarga tetap kelaparan, anak tetap tidak bisa sekolah. Padahal mesjid dimana-mana, yang sholat jumat banyak, yang mengadakan i’tikaf di mesjid-mesjid juga banyak. Yang sholat tahajud ku rasa banyak juga. Tapi mana hasil sujud itu?

Karena interpretasi itulah. Ku pikir kemenangan tentara Islam melawan tentara Romawi itu karena karakter pasukan yang sudah terbentuk dengan baik. Qiyamul lail adalah sholat yang sulit dilakukan karena dilakukan pada saat kita sedang mengantuk. Orang yang mampu melakukannya berarti orang yang mampu melawan sifat-sifat lemah dan hawa nafsu dalam dirinya. Bisa dikatakan orang itu gigih dalam berjuang mencapai cita-citanya. Cuma zaman sekarang, gigihnya jadi berbeda, ada yang gigih korupsi, ada yang gigih mengejar jabatan, padahal rajin tahajud. Krn sebatas itulah pemahaman tahajudnya. Dan pada masa perang itu, Qiyamul lail dilaksanakan secara berjamaah. Berarti membentuk rasa kesatuan pada pasukan Islam. Mereka akan saling mendukung satu sama lain, dan mereka saling percaya satu sama lain. Nah kalo umat islam sekarang spt itu kan bagus.

Terus makan secukupnya, berarti sikap hidup yang sederhana, tidak berlebih-lebihan. Dan ramah terhadap tawanan berarti sebuah sikap sopan santun tanpa pandang bulu dan strata sosial. Jadi kalo seorang umat Islam, jadi tukang jual, kudunya harus ramah, sopan pada pelanggan, jangan liat apa ini orang kaya atau miskin, trus baru dilayani. Kalo kita santun dan ramah pada setiap orang, orang kan jadi senang sama kita, urusan jd bisa lebih lancar. Nah kalo begini tafsirannya, kan jauh lebih membumi. Apa-apa yang dilakukan secara teratur, secara terorganisir, dan dengan keteguhan hati, saling bahu-membahu, saling percaya satu sama lain, tentu hasilnya akan lebih baik.

Terakhir soal sedekah dengan 1000 keajaiban. Makna shodaqoh yang sebenarnya adalah membenarkan. Perhatikan surat Al-Lail ayat 6 yang bunyinya: Washodaqo bil husna (Dan membenarkan adanya kebajikan). Jadi shodaqoh itu bukan berarti semata-mata berderma. Setiap kebajikan adalah shodaqoh. Senyum adalah shodaqoh, mengambil paku dijalan adalah shodaqoh, menyiram bunga adalah shodaqoh, memberi makan kucing tetangga adalah shodaqoh. Setiap kita melakukan amal kebajikan berarti kita telah membenarkan ayat-ayat Allah.

Aku pernah membaca suatu hadits bahwa sedekah mencegah bencana. Setelah ku pikir-pikir lagi betul juga ayat itu. Kalau semua orang melakukan shodaqoh, dalam artian melakukan amal kebajikan yang berarti membenarkan semua perkataan Allah beserta rasulnya, maka banyak bencana yg mungkin bisa dihindari. Bencana kelaparan, bencana kemiskinan, bencana kebodohan, bencana moral dlsb. Tapi apa yang terjadi sekarang? Shodaqoh diartikan berderma pada fakir miskin. Fakir miskin paham benar ayat yang menyatakan ”bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin”. Yang terjadi menjelang puasa dan idul fitri gepeng (gembel dan pengemis) makin banyak. Malah gepeng dijadikan profesi dan ironisnya sebagian besar mereka islam, malah kadang berkedok minta sumbangan untuk pembangunan mesjid. Yang terjadi adalah bencana dekadensi moral dan akhlak umat. Bencana kebodohan. Bencana kemalasan. Umat tidak malu jadi pengemis. Ya iyalah mending mengemis timbang mati kelaparankan. Salah siapa ini? Jelas salah kita-kita yang berpendidikan, salah ulama, salah pemimpin negri. Kenapa ayat ”bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin”, yang nyantol dibenak kaum duafa itu, mengapa bukan ”tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”.

Mengapa ku bilang salah orang yang berpendidikan? Karena tugas orang yang lebih tau untuk memberi tau. Orang2 Islam yang berpendidikan gagal mengamalkan wahyu pertama, surat Al-Alaq 1-5. Surat itu ruhnya menyuruh kita untuk belajar dan memberikan pelajaran atau memberikan pendidikan pada orang lain yang tidak terdidik. Awalnya kan Allah mendidik Rasul, trus Rasul mendidik umat, terus kudunya umat yang sudah terdidik, mendidik yang belum terdidik begitu seterusnya. Trus mungkin kita akan berkilah dengan mengatakan bahwa orang-orang miskin itu malas, tidak mau merubah nasibnya. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia adalah kemiskinan struktural. Mungkin benar mereka malas, tapi mungkin itu disebabkan mereka bodoh. Sekarang bagaimana supaya tidak bodoh, mereka harus dididik. Kalo mau sekolah sekarang butuh uang, mereka tidak punya uang itu. Untuk makan aja susah gimana mau sekolah? Terus bagaimana caranya memutuskan rantai kemiskinan ini? Untuk itulah ada mekanisme zakat dalam Islam. Cuma sayangnya zakat ini pun kenyataannya belum menunjukkan hasil nyata untuk memberantas kemiskinan.

Zakat ada dua jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Zakat maal terbagi lagi. Setiap jenis zakat ada aturan mainnya. Allah mengatur sedemikian rupa zakat ini. Zakat diwajibkan pada umat muslim karena Allah tidak suka dengan sistem kapitalis dimana modal hanya bertumpuk pada golongan tertentu. Sistem kapitalis menutup akses orang-orang miskin terhadap faktor-faktor ekonomi. Oleh karena itu ada ayat diatas yang menyatakan ”bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin”. Tapi pemberian akses pada faktor-faktor perekonomian dengan menekankan pada faktor permodalan (yg berasal dari zakat) tidak otomatis akan merubah nasib orang miskin. Mereka kudu mau usaha juga. Untuk merangsang mereka mau usaha, maka dibilanglah: ”tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah”. Cuma sekarang kok jadi begini umat islam di negeri kita. Sama sekali tidak merasa hina menadahkan tangan. Negara ini juga, tidak malu-malu minta bantuan dari luar negeri. Selalu beranggapan yang berasal dari luar negeri pasti bagus. Katanya itu ciri khas manusia Indonesia kan ya?

Pada zaman nabi dan kekhalifaan khulafaur rasyidin ada yang namanya Baitul Maal. Lembaga inilah yang mengurusi zakat harta orang-orang kaya. Seperti departemen pajak zaman sekaranglah kira-kira. Fungsi zakat sebenarnya untuk menggerakkan perekonomian sebuah negara. Pada prinsipnya Islam tidak suka dengan orang-orang yang menumpuk harta. Oleh karena itu kita liat, harta yang disimpan, tidak disertakan dalam usaha, kena zakat lebih tinggi. Emas mengendap kena zakat lebih tinggi. Tapi kalau emas itu dijadikan modal usaha, malah tidak kena zakat, karena dengan membuka usaha berarti membuka peluang kerja, perekonomian bergerak, islam menghargai hal tsb, yang kena hanyalah laba usaha. Perekonomian bergerak, dampaknya berantai, multiplier effect istilah ekonominya. Kemiskinan berkurang, anak-anak bisa sekolah, kebodohan berkurang dstnya. (Jadi benar kalo bershodaqoh pahalanya 700x lipat. Maksudnya multiplier effect yang tercipta itu loh). Trus dimana letak salahnya negeri ini? Pajak sudah, zakat kayanya banyak tu yang bayar zakat. Tapi yang miskin tetap banyak, dan orang Islam pula. Sedang zaman nabi dan para sahabat, kemiskinan bisa ditekan melalui mekanisme zakat ini. Kupikir ada bbrp hal yang menyebabkan zakat gagal memutuskan rantai kemiskinann: 1) Zakat dilakukan scr sporadis tidak terorganisir. 2) Kalaupun ada yang bersedia mengorganisir, masih banyak muzakki yang meragukan kejujuran lembaga, 3) Penyaluran zakat oleh organisasi yang mungkin terlalu banyak birokrasi, membuat mustahik sulit kebagian haknya.

Coba ya tiap mesjid mengorganisir zakat dengan baik. Lalu zakat itu dijadikan modal usaha. Terus setiap yang menerima zakat (mustahik) juga bertanggungjawab terhadap modal yang dia terima. Jadi ada mekanisme tanggungjawab (responsibility) dan tanggunggugatnya (accountability) antara yang memberi dan yang menerima. Ya tentu saja dalam berusaha mustahik tak bisa dilepas, mereka harus didampingi, harus dididik terus menerus. Sebenarnya sistem ini adalah sistem yang digunakan dalam penyaluran kredit UKM, cuma alangkah lebih baiknya apabila zakat kita juga dikelola spt kredit UKM itu. Mana kan tidak perlu dikembalikan. Cuma kadang kita sebagai penganut islam tradisional (termasuk saya) seringkali merasa tidak afdol kalau tidak memberikan langsung zakat kepada mustahik, suka bertindak sendiri-sendiri, tidak mau berjamaah. Yang terjadi bukanlah proses pendidikan, proses pemutusan rantai kemiskinan, malah zakat berakhir di septic tank dan roda kemiskinan terus berlanjut.

PENUTUP

”Tahukah engkau, apakah kesulitan itu? Ialah memerdekan budak. Atau memberi makan pada hari kelaparan. Kepada anak yatim yang berkarib. Atau orang miskin yang telah tidur di tanah (sangat miskin). Kemudian ia (orang yang mengerjakan demikian itu) tergolong orang-orang yang beriman dan berwasiat dengan sabar dan berwasiat dengan berkasih sayang.Mereka itulah golongan kanan (ahli surga)” (QS: Al Balad 12-18).

Sungguh al-quran adalah sebuah perkataan yang berat. Sebenarnya bukan memberi makan orang miskin itu yang susah (Cuma ngasi makan 1x, berbuka bersama kayanya ga susah-susah amat kan?). Yang susah adalah menjamin bahwa mereka akan tidak akan pernah kelaparan lagi, memerdekan mereka dari kemisikinan, memerdekakan mereka dari kebodohan, memerdekakan mereka dari orang-orang yang ”memperbudak” mereka akibat kebodohan dan kemiskinan mereka. Dan itu adalah misi Islam dimuka bumi, rahmatan lil alamin. Dan misi ini hanya bisa diemban oleh orang-orang berakal yang menggunakan logika bumi bukan logika langit. AYO BANGUN, AYO BANGKIT JANGAN HANYA MENUNGGU KEAJAIBAN DATANG. KEAJAIBAN ITU HARUS KITA CIPTAKAN.

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri  (QS Ar-Ra’d 11)