Catatan Hessy

Ini blog isinya adalah hal-hal yang melintas di otak kananku. Karena yang melintas banyak, jadi ku pikir perlu ku buat semacam catatan, supaya besok-besok kalo aku lupa, ku bukalah catatan ini. Ya mudah2an catatan ini tidak hanya berguna untukku, tapi juga bagi orang lain. Salam Hangat Hessy

Archive for November, 2007


PULANG KAMPUANG

PULANG  KAMPUANG

Allahuakbar 3x

Laailaahaillallahuallahuakbar

Allahuakbar walillah ilham

Pemerintah menetapkan bahwa 1 Syawal 1428H jatuh pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007. PP Muhamadiyah jauh-jauh hari telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1428H jatuh pada hari Jumat, 12 Oktober 2007. Gara-gara perbedaan ini banyak keluarga di

Indonesia

terpecah dalam berhari raya. Salah satu keluarga yang terpecah adalah sebuah keluarga yang berdiam di Jl. Riau gg Harapan II Pekanbaru. Itu adalah keluargaku. Muncul dua kubu dalam menentukan akhir puasa. Kubu pertama terdiri dari Ayahku, aku dan Reza yg meyakini 1 Syawal jatuh pada hari Jumat. Jadi anggota kubu 1 tidak sahur pada jumat dini hari. Kubu kedua terdiri dari ibuku, Iredh dan suaminya, serta Ami dan Mira. Sebenarnya Ami dan Mira sudah tidak ingin berpuasa lagi, tapi berhubung mereka masih dibawah umur  untuk mengambil keputusan (Ami baru kelas 5 SD, sedangkan Mira baru kelas 1 SD) jadilah mereka tetap sahur pada Jumat dini hari. Sedangkan Reza karena sudah kelas 3 SMP jadi lebih berani dan tetap tidur.  Tapi ada kejadian lucu dengan perbedaan pendapat ini, siang harinya aku dan Reza makan es krim, kebetulan kakakku sekeluarga pergi ke pasar. Akan tetapi sewaktu es krim belum habis mereka pulang, terbirit-biritlah kami masuk ke kamar, karena ingin menghormati keyakinan yang masih berpuasa dan untuk menjaga perasaan kleine-kleine yang 2 orang itu. Ternyata Ami dan Mira tau bahwa kami berdua bersembunyi di kamar lalu mereka mengetuk-ngetuk pintu. Terus tau ga? Ami berkata, “Papa bilang boleh batalin puasa”. Bingunglah aku dan Reza mendengarnya? “Loh kok boleh? Ga konsisten neh”. Lalu mereka ikutan makan es krim. Aku pun sempat memberi nasehat kepada Ami, begini bunyinya: “Ami, kalau Ami tidak ingin berpuasa sebenarnya boleh-boleh saja dari tadi, asal Ami punya alasan yang kuat untuk itu. Tidak apa-apa berbeda pendapat dengan orang tua.”. Ami hanya menatapku sambil makan es krim. Ku pikir-pikir, aku ini  tante gokil juga kali ya.. Lagian apa nasehatku itu tidak ketinggian untuk anak yang baru duduk di kelas 5 SD? Jangan sampai ponakan-ponakanku jadi ”liar” tak menentu gara-gara nasehatku tadi. Masalahnya Reza ikutan mendengarnya, dan Reza ini sudah agak-agak ”liar” juga. Yang lebih lucu lagi, ibuku malah marah-marah melihat kedua cucunya yang manis itu membatalkan puasa..Ha..ha..ha…kenapa nenek marah ya? Padahal di Arab memang sudah idul fitri pada hari Jumat tersebut. Masa Indonesia yang waktunya lebih duluan, malah telat hari rayanya.

Untuk soal 1 Syawal, kami boleh berbeda, tapi untuk pelaksanaan soal sholat idul fitri kami semua sepakat bahwa kami akan melaksanakannya pada hari Sabtu. Sebenarnya ini tidak konsisten ya. Harusnya kan kalo lebaran Jumat, sholatnya Jumat juga ya. Tapi pada dasarnya kan sholat idul fitri itu tidak wajib. Ekstrimnya kalo tidak melaksanakannya kan juga tidak berdosa. Jadi ndak apa-apalah kalo tidak konsisten. Kami sekeluarga sholat idul fitri di mesjid Agung Pekanbaru. Tapi idul fitri kali ini bisa dibilang ”wet idul fitri”, berhubung sering turun hujan. Karena hujan turun, maka sholat dilaksanakan didalam mesjid. Aku dan kakak serta ponakan mendapat tempat diteras mesjid. Ada yang bikin aku jengkel pada pagi hari pelaksanaan sholat kali ini. Sudah tau hari hujan, jemaah sudah membludak, banyak yang kehujanan, masak sholat belum dimulai-mulai juga. Bagaimana ini khotibnya, tidak mengerti kondisi umat. Mungkin ini cerminan para pemimpin di negeri ini, sering tidak paham kondisi lapangan, karena mereka berada ditempat yang nyaman. Pada saat sholat dimulai hujan mulai agak reda, sehingga jamaah yang tidak kebagian tempat sholat di rumput mesjid.

Idul Fitri di Pekanbaru tidak seperti Idul Fitri di kampung-kampung lain. Namanya saja yang aku balik kampung, mengunjungi tempat kelahiranku, tapi idul fitri disini tidak terasa setelah sholat usai. Kota ini sepi jika hari libur. Dikoran setempat aku baca, tingkat hunian hotel justru anjlok menjadi 30% saat idul fitri, sementara pada hari kerja, tingkat hunian hotel rata-rata 70%. Ini memang kota bisnis. Jika libur, penduduk menghilang pergi keluar kota. Oleh karena libur masih panjang, maka aku dan kakakku sekeluarga juga memutuskan untuk pergi berlibur ke Sumatera Barat pada hari Minggu, 14 Oktober 2007.

Minggu, 14 Okt 2007, tepat jam 7.30 WIP (Waktu Indonesia Bagian Pekanbaru) tour de west sumatra dimulai. Mobil sempat berbalik ke rumah karena lupa membawa bantal. Jam 10.00 kami berhenti sejenak untuk makan soto di Rantau Berangin. Di Rantau Berangin ini banyak para pemudik yang berhenti. Ada yang mudik naik mobil, ada yang naik motor ada juga yang beramai-ramai naik truk. Ada yang unik di Rantau Berangin dan sepanjang jalan yg termasuk wilayah Riau ini, yaitu banyaknya parabola. Walaupun rumahnya jelek, tapi ada parabola. Sepertinya kebutuhan informasi sangat tinggi  di daerah ini. Cuma ga jelas juga informasi apa yang mereka butuhkan. Kayanya sih informasi hiburan lah yaw. Tapi paling tidak menunjukkan orang Riau sadar informasi, tul ga seh?

Setelah perut kenyang, perjalanan dilanjutkan. Sesampai di daerah Rimbo Data perjalanan tersendat. Ada antrian kendaraan cukup panjang. Hal ini sudah diprediksi, karena menurut berita ada jalan longsor yang membuat Riau Sumbar sempat putus. Tapi jalan itu sudah bisa dilalui hanya saja harus bergiliran. Ternyata kami termasuk yang beruntung karena berangkat pagi sehingga tidak terlalu lama mengantri. Orang-orang yang berangkat dari Pekanbaru agak siang, terkena macet cukup lama di daerah ini. Sekitar jam 13.30 siang kami mendarat di Bukittingi, beberapa hotel didaerah sekitar jam Gadang yang ditelpon menyatakan fully booked. Lalu kami mencoba peruntungan di hotel Griya Muslim di jalan Landbow (Skrg nama jalan itu adalah Jl. Hamka kalo ga salah. Gw ingatnya nama yg lama, soale disinilah terletak eks rumah alm nenek). Alhamdulillah masih ada 3 kamar kosong, dan kami hanya butuh 2 kamar. Kami lalu makan siang dengan bekal yang dibawa dari rumah. Tadinya bekal ini diniatkan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di tengah jalan. Setelah makan dan beristirahat sejenak, kami berjalan kaki untuk melihat bekas rumah nenek. Rumah tersebut sekarang sudah menjadi ruko. Aku ingat dulu waktu masih kecil, kalo pulang kampuang, selalu menginap di rumah ini. Rumah ini menyimpan banyak kenangan. Disini aku belajar mengambil air dari sumur. Dulu dibelakang rumah nenekku terhampar sawah menghijau. Aku dan sepupu suka bermain disana lalu naik ke atas bukit. Sekarang sawah sudah menjadi rumah, dan di bukit sudah ada hotel.

Setelah melihat-lihat dan memotret 3x klik rumah nenekku, kita kembali ke hotel, mandi dan sholat ashar. Setelah itu kita berjalan-jalan ke panorama. Dari namanya kita sudah tau, yang dijual dari tempat ini adalah pemandangan (panorama) Sianok Canyon alias ngarai Sianok. Menurut kisah turun temurun (taelah) alkisah nenek moyangku berasal dari Sianok Canyon ini.  Kata ibuku aslinya awak ko urang lambah lalu nenek awak naiak ka Sianok kemudian mambuek rumah disinan. Jadi rumah gadang nenek moyangku ada di sebuah kampung yang bernama Sianok. Aku bisa dihitung dengan jari ke Sianok  dan sama sekali belum pernah bermalam di rumah gadang itu. Rumah gadang itu sekarang sudah hampir runtuh, karena turunan nenekku sebagian besar merantau. Ada pepatah di minangkabau yang berbunyi (ini ku dengar dari ayahku):

Sayang kampuang ditingga kan (Sayang kampung ditinggalkan (merantau)

Sayang anak di lacuik… (Sayang anak dipukul)

Aneh kan bunyi pepatahnya. Mengandung paradox. Ada lagi ni bunyi pepatah yang mengandung paradok:

Kalau taimpik nak di ateh (Jika terhimpit ingin di atas)

Kalau takuruang nak di lua (Jika terkurung ingin di luar)

Ku pikir-pikir memang mantap dan cerdik cendikia orang Minang ini. Orang-orang baru abad ini mengenal konsep paradok, orang Minang sudah lama punya filosofi dan praktek soal nilai-nilai global paradok. Ha…ha..ha… Cuma gara2 pepatah kampung ditinggakan, rata-rata kampung di Sumatera Barat jadi sepi dan hanya ramai sewaktu Lebaran. Dan kalau konsep sayang anak di lacuik masih di praktekkan, salah-salah semua orang tua di Sumbar bisa dilaporkan ke komnas HAM perlindungan anak..Sedangkan pepatah kedua menunjukkan betapa cerdiknya orang Minang (Cerdik ato licik ato mau enaknya sendiri? Beda tipis kan?)

Kembali ke kisah tour d West Sumatra.  Di panorama ini ada lobang jepang. Lobang Jepang ini peninggalan penjajahan Jepang dan dibangun oleh para pekerja paksa (romusha). Konon romusha yang menggali lobang ini langsung dibunuh, agar persembunyian Jepang itu tidak diketahui. Lobang ini tembus ke ngarai. Setelah magrib menjelang kami kembali ke hotel.

Malam hari di hotel kakakku Iredh dan suaminya keluar untuk membeli makan malam. Tinggallah aku menjadi baby sitter untuk 3 kurcaci. Ponakan-ponakanku ini memang seperti kurcaci, lincah dan rada resek. Nah ceritanya ada seorang teman yang suka menelponku  dan 3 kurcaci ini selalu ingin tau terutama kurcaci nomor 1 dan kurcaci nomor 2. Temanku itu malah memberi nama mereka turbulentor. Karena kalau mereka masih ON pasti banyak gangguan alias turbulence sehingga sulit berbicara. Karena rasa ingin tahu mereka yang cukup besar atas temanku itu akhirnya ku ajak saja mereka berkenalan. Mereka menyambut dengan antusias, begitu juga dengan temanku yang di Jakarta itu. Lalu temanku memberikan kuis dengan hadiah jika menjawab dengan tepat hadiahnya adalah liburan ke Jogjakarta. Reza sebagai peserta kuis pertama gagal menjawab dengan tepat dan pemenangnya adalah Ami. Ami sangat senang dengan kemenangan yang diraihnya, sampai menceritakan kemenangannya itu pada mamanya dan nenekknya sewaktu sudah sampai ke pekanbaru lagi. Trus akibatnya setiap kali temanku itu menelpon pasti Ami akan berkata ” Tante Hessy tolong tanyakan jadi Ami ke Jogja?”…Begitulah anak-anak sekali sudah berjanji akan melekat dibenaknya.

Pagi hari, Senin, 15 Oktober 2007. Hujan membasahi kota Bukittingi. Jam 7.00 sarapan diantar ke kamar. Kami lalu sarapan dengan nasi goreng dan teh hangat. Jam 7.30 petualangan dimulai.  Ditengah guyuran hujan kendaraan melaju meninggalkan kota Bukittingi menuju Sawahlunto. Tujuan adalah tempat wisata water boom, kami sudah siap dengan peralatan renang. Sudah terbayang dibenak kami akan berenang dengan air gunung. Keluar dari kota Bukittinggi hujan mulai reda. Perjalanan sungguh menyenangkan udara sejuk dan di kiri kanan sawah terhampar dikelilingi oleh bukit barisan. Abang iparku mencoba rute baru menuju Sawah Lunto. Biasanya untuk ke Sawah lunto kita melalui Solok, tapi kali ini tidak. Kita sempat mampir di Padang Panjang. Disini kita membeli pergede jagung untuk camilan ditengah jalan.

Jam 11.30 kami tiba di Sawah lunto. Ternak di perut sudah meronta-ronta minta ransum. Untuk memenuhi hak-hak perut lalu kami berhenti di sebuah rumah makan yang khusus menjual soto. Ramai pengunjung di sana. Sotonya lumayan enak (gw kok jadi lapar ya pas nulis ini). Setelah perut kenyang kami melanjutkan perjalanan menuju water boom yang jaraknya sudah tidak jauh lagi. Tapi onde mande setelah sampai di TKP, panuah urang-urang dari kampuang di sinan. Indak jadilah kami jadinyo turun. Tampeknyo ketek, urang-urang sagarubak. Lah pasti bantuak cindua urang-urang di kolam tu. Terlihat dari luar, tempat wisata ini tidak dikelola dengan baik. Tiga kurcaci sedikit kuciwa karena tidak jadi berenang, padahal mereka sudah pernah ke water boom di Jakarta. Tapi setelah diberi pengertian, mereka dapat memahaminya. Akhirnya kami meneruskan perjalanan dengan tujuan danau Singkarak.

Ternyata hari ini bukan hari keberuntungan kami. Untuk menuju danau Singkarak, membutuhkan waktu berjam-jam karena lalu lintas yang macet di desa Sumani. Wah daku betul-betul tersiksa dengan kemacetan parah ini. Mobil asli tidak bergerak. Karena mobil cuma 1300 cc maka alat pendingin tidak dapat berfungsi dengan baik jika laju kendaraan sangat pelan. Karena takut overheated maka AC dimatikan. Bayangkan ditengah terik cuaca siang hari, jalanan macet dan tiada  AC. Bekuah lah kami di dalam mobil itu. Asiklah kami bakipeh-kipeh dek angeknyo udaro.  Usut punya usut ternyata kemacetan ini disebabkan oleh runtuhnya sebuah jembatan akibat gempa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Jadi jembatan yang ada adalah jembatan darurat dan hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Jadi kudu nunggu giliran lah yaw.

Dengan penuh perjuangan dan peluh disekujur tubuh akhirnya kami berhasil menyelesaikan misi melalui jembatan darurat. (Halah emang misi apa seeeh?) Sungguh melegakan setelah melalui jembatan tersebut, mobil bisa melaju, AC bisa dinyalakan kembali…Thx God…Jam 4 sore kami berhasil mencapai danau Singkarak. Di Singkarak kebetulan ada teman kantor abang iparku, maka kami mampir sejenak ke rumahnya untuk numpang sholat sekalian melepas lelah sekalian berhari raya. Lumayanlah…Oh ya sewaktu kami mampir di sini, temanku itu menelpon lagi dan ku perkenalkanlah dia dengan kakak perempuanku. Kali ini dia tidak memberikan kuis spt pada para turbulentor, tapi menjelaskan kepada kakakku kalo dia tertarik dengan tulisanku yang ada di blog, lebih tepatnya telah jatuh cinta dengan tulisan-tulisanku di blog (trus sama penulisnya juga kayanya)…hua..ha..ha…aku sebenarnya heranlah ada orang yang bisa jatuh cinta melalui tulisan, padahal sama sekali belum pernah bertemu dengan penulisnya. Kalo sekedar senang atau tertarik, okelah ya. Tapi fall in love? Oh no man….its very weird…Aku sebagai penulisnya saja heran, gimana dengan kakakku. Dia tersenyum-senyum saja sewaktu bercakap-cakap via telpon dengan temanku itu. Tentu saja kakakku senyam senyum, soalnya kakakku sama sekali tidak pernah membaca apa yang ku tulis di blogku. Bahkan tidak ada satu orang pun dari anggota keluargaku yang akan tau kalau aku punya blog jika aku tidak memberi tahu. Selain itu walau sudah ku beri tau, aku jamin 1000% tidak satupun anggota keluargaku yang pernah membaca tulisanku. Mungkin dalam hati kakakku orang ini sedang ngombal, minimal sedeng…ha..ha..ha…ha… (sorry jika ada yang merasa tersungging…tapi aku yakin tidak ada yang tersungging).

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Danau Singkarak nan elok cuma kami pandangi dari atas mobil. Kami hanya berhenti sebentar untuk memotret 3x klik. Tadinya kami berniat untuk mampir sebentar di rumah sepupu abang ipar di Padang Panjang, tetapi karena senja mulai merambat niat ini dibatalkan dan kendaraan terus melaju ke kota Bukittingi. Mendekati kota Bukittingi tepatnya  di Padang Luar terlihat antrian panjang kendaraan.  Muacet berat. Onde Mande…iyolah sabana rami urang-urang di Bukiktinggi ko. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di rumah makan Samba Lado. Kami makan malam karena perut sudah keroncongan. Rumah makan ini juga banyak pengunjungnya dan sepertinya pelayannya juga sudah kelelahan melayani para pengunjung, sehingga kami sedikit agak terlantar. Permintaan ayam goreng tambahan diabaikan. Sebenarnya mau marah, tapi berusaha untuk maklum, mungkin uda nan dimintai tolong alah panek seharian bakarajo melayani urang nan datang ka kadainyo ko. Kami juga menunaikan sholat magrib di rumah makan ini. Setelah itu perjalanan dilanjutkan mengikuti parade mobil menuju Bukittinggi. Asli kemacetan lalu lintas menuju pusat kota Bukittingi arah jam gadang sangat parah. Alhamdulillah  hotel kami tidak terletak di kawasan jam gadang, sehingga kami bisa berbelok arah ke aur kuning untuk menuju hotel. Jam 19.30 setelah perjuangan panjang nan melelahkan kami berhasil mencapai hotel dan langsung tewas.  Kesimpulan: Hari ini hanya mengukur jalan seharian. Tidak ada objek wisata yang dikunjungi dan dinikmati.

Selasa pagi, 16 Oktober 2007. Rencana semula kami akan balik ke Pekanbaru hari ini, tetapi karena kemarin hanya mengukur jalan, kami memutuskan untuk extend 1 hari lagi. Di pagi yang gerimis kami memulai petualangan hari ini menuju puncak Lawang. Puncak Lawang adalah tempat start / take off para pemain terbang layang (gantole) dan lokasinya tidak terlalu jauh dari kota Bukittinggi. Walau tidak terlalu jauh kami sempat nyasar ke desa Palembayan. Seingatku desa Palembayan ini kampung temanku si Riri Satria. (Ri, ternyata kampung lu lebih dusun daripada kampung gw ya… Asli sepi dan hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana). Setelah bertanya kepada seorang nenek, akhirnya kami berbalik arah dan berhasil menemukan puncak Lawang. Pada saat itu puncak Lawang tertutup kabut tebal sehingga pemandangan danau maninjau tertutup. Tapi setelah agak lama, kabut berangsur-angsur pergi dan pemandangan danau maninjau mulai terkuak…(kaya misteri aja,, pake bahasa terkuak segala..). Cuaca disini sejuk dan pemandangan indah sehingga membuat perut lapar. Cuma sayang yang jualan tidak menjual makanan hangat. Mereka cuma jualan makanan kering seperti biskuit dan kripik-kripik chiki and chitatos. Ku pikir kurang kreatif kalilah orang kampung puncak Lawang ni. Sudah tau daerahnya dingin, mbok ya jualan baso, soto atau sop atau apalah yang hangat dan mengenyangkan. Minimal jual kacang rebus. Ini malah jualan makanan kering. Manalah asoi makan kaya gitu dipuncak gunung macam ni.

Jam 9.30 akhirnya kami memutuskan untuk turun dari puncak Lawang dan mencari makanan hangat di desa dibawah puncak. Ternyata di desa Matur itu, susah juga cari makan. Yang banyak orang jualan kacang goreng..Aku sampai agak kesal, ku pikir apa orang di sini tidak pernah jajan ya, makannya kacang aja apa? Kok kaya makanan ”saudara tua”ya? Mungkin karena sekarang lagi lebaran, jadi yang jualan juga cuti jualan. Syukurlah akhirnya kami berhasil menemukan kedai baso. Untuk diketahui kalo di Sumbar ini yang jualan baso (disebut miso (mie baso)) bisa dipastikan orang Jawa. Terus antiknya lagi miso di Sumbar biasanya hanya terdiri dari bihun, jarang ada mie kuning. Kayanya mie kuning barang langka di Sumbar.

Setelah itu kami meneruskan tour menuju danau Maninjau dengan menuruni kelok 44. Selama menuruni kelok 44, Reza menutup matanya, tidur. Reza ini tidak tahan jalan berkelok-kelok, dia takut muntah. Sesampai di bawah, kami berhenti di Mesjid Raya Bayua. Mesjid ini sungguh indah arsitekturnya begitu juga landscapenya. Kami berhenti sejenak untuk sholat zuhur. Selesai sholat kami meneruskan perjalanan menyusuri tepian danau lalu berhenti makan siang di sebuah rumah makan. Rumah makan ini ramai pengunjung. Salah satu rombongan keluarga pengunjung membawa ”saudara tua” berbulu hitam dan diberi pampers. Saking ramenya pengunjung pelayanan disini juga kurang maksimal. Sama seperti rumah makan lain yang kami kunjungi selama tour de West Sumatra. Teh es tidak dingin, minta tambahan kripik rinuak, kripiknya habis. Alasannya ikan rinuak mahal (Rp 20.000/kg) dan karena lebaran, nelayan cuti melaut. Selesai makan siang kami melanjutkan perjalanan. Rencana awal kami mau melewati Painan untuk menuju Bukittinggi, tapi karena takut kesorean memasuki kota Bukittinggi, kami membatalkan rencana tersebut.

Jam 15.30 kami memasuki kota Bukittingi, hujan deras mengguyur kota ini dan lalu lintas macet. Rencana ingin ke pasar ateh dibatalkan dan kami kembali ke hotel. Sesampai di hotel kami sholat ashar. Ternyata setelah sholat, hujan agak reda dan kami memutuskan untuk ke pasar dengan berjalan kaki. Ternyata pasar tumpah ruah dengan pengunjung. Sama sekali tidak nyaman untuk berbelanja, sudahlah padat, becek pula. Niat membeli krupuk-krupuk untuk oleh-oleh dibatalkan. Di pasar ini kami hanya membeli kalung grafir untuk 3 kurcaci. Aku juga lumayan beruntung berhasil membeli titipan saudara yaitu klenengan sapi ganda. Tapi aku juga membeli 2 genta tunggal yang menyerupai lonceng, yang kemudian satunya ku berikan kepada temanku. J

Jam 17.00 kami sudahi acara shopping dan mencari ATM karena sudah kehabisan dana. Di dekat gerai ATM ada yang jualan es krim. Walau cuaca rintik-rintik yang namanya es krim sulit dihindari.

Para

kurcaci minta dibelikan, dan kebetulan ice cream is one of  my favorite meal.  Setelah dari ATM kami menuju kampuang Cino untuk mencari makan malam. Di rumah makan ini kakakku dan 3 anaknya memilih mie goreng, aku memilih lotek. Rasa loteknya lumayan, tapi gara-gara sudah makan es krim, kenikmatannya berkurang. Akan tetapi mie gorengnya tidak begitu enak kata kakakku. Alah tagang mie nyo…Selanjutnya kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Mira, kurcaci terkecil, mengeluh capek..tapi toh akhirnya Mira mampu bertahan sampai hotel, karena semua juga capek dan tak ada yang sanggup menggendongnya. Sesampai di hotel, mandi terus ke pulau kapuk.

Rabu, 17 Oktober 2007. Hari ini adalah hari ulang tahun ayahku. Jam 7.30 kami check out dari hotel untuk menuju Pekanbaru. Udara cerah berawan. Kami sempat sarapan pagi yang ke dua kalinya di kota Payakumbuh. Disini kami makan lontong gulai paku. Ngeri kali ya makanan orang Minang, paku sampai di gulai lalu dimakan. Ku pikir ini ada hubungannya dengan asal usul orang Minang. Konon menurut sejarah, orang Minang itu turunan dari Bundo Kanduang (ya iyalah, mana ada juga orang turunan ibu tiri, dah pasti dari bunda kandung). Bundo Kanduang punya anak namanya Cindua Mato dan Cindua Mato punya kuda yang hebat bernama Gumarang. Tau tidak, Bundo Kanduang sekeluarga adalah orang Bunian. Orang Bunian itu…..adalah makhluk halus…hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii seram kali lah…Makanya makannya paku..ha…ha..ha..ha…just kidding…paku adalah sayur pakis..dan rasanya eunak tenan… Dari semua makanan yang ku telan selama di tour de Sumatra selama 3 hari, baru inilah makanan yang badaso di lidah ambo. Selain tu lalu se rasonyo.

Dalam perjalanan kami mampir di Lubuk Bangku untuk membeli oleh-oleh krupuk khas Sumbar. Sesampai di Rimbo Data tempat longsor, ternyata ada truk yang mogok di puncak tanjakan. Untung lalu lintas sepi, jika tidak, sudah dapat dipastikan akan terjadi kemacetan lagi. Jam 11.00 kami sudah berada di daerah Riau. Karena hari masih siang, kami memutuskan untuk mampir ke situs sejarah yaitu Candi Muara Takus. Candi ini terletak di kecamatan XIII Koto Kampar. Kebetulan kami memang belum pernah melihat candi ini. Ada cerita lucu. Sewaktu kami akan berbelok menuju arah candi, kami sempat bertanya dengan seorang anak muda tentang jarak candi dari jalan raya. Dia bilang kira-kira 2 km. Kami pikir dekatlah itu. Ternyata para pembaca yang budiman……………. anak muda itu tidak punya meteran. Sudah 12 km, lokasi candi belum ditemukan. Aktualnya jarak candi ke jalan raya kira-kira 17 km. Sepanjang jalan menuju candi banyak anak-anak muda minta sumbangan yang tidak jelas. Kasian kali anak-anak muda ini ya.. Apa tidak ada lagi pekerjaan yang lebih terhormat daripada minta-minta pada kendaraan  yang lewat. Mana kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari. Sekalian dong mintanya di jalan raya Bangkinang, pasti lebih banyak yg bisa dimintai, tanggung amat. Candi Muara Takus ini peninggalan kerajaan Hindu terlihat dari arsitekturnya (Gw sok tau kali ya…Kalo ga kerajaan Hindu ya Budha lah..tapi kayanya Hindu sih). Pada saat kami sampai di lokasi udara sangat panas..jadi tidak nyaman. Dan sewaktu melihatnya, abang iparku berkomentar…”Ooooh cuma itu doang, Seonggok batu”…ha..ha..ha… tertawalah aku..ya iyalah…Dimana-mana candi di seluruh dunia memang cuma tumpukan batu. Mau kaya apa lagi..Candi borobudur yang termasuk keajaiban dunia juga kumpulan onggokan batu, cuma gede aja…Akhirnya setelah bergaya se klik, dua klik kami meninggalkan kawasan ini yang juga merupakan tempat gusuran ’korban” PLTA Koto Panjang. Dibilang korban, karena untuk membuat PLTA ada sekitar 13 desa yang ditenggelamkan untuk dibuat danau buatan. Lalu mereka dipindahkan ke daerah ini. Tapi keliatannya mereka tidak betah tinggal disini. Hal ini terlihat dari beberapa rumah yang ditinggalkan terlantar oleh pemiliknya. Daerah ini sangat sepi. Candi Muara Takus tidak dikelola secara profesional oleh pemda Riau. Mbok ya dibuat apa gitu supaya orang bisa berlama-lama di daerah wisata ini. Sehingga bisa menumbuhkan perekonomian warga setempat. Kayanya pemda Riau dan pemda Sumbar setali tiga uang. Tidak bisa menghargai apa yang dimiliki. Karena tidak bisa menghargai, jadi tidak bisa menjual juga sesuatu yang berharga yang dimilikinya itu. Ga kaya negeri jiran Malaysia. Barang jelek aja bisa mereka kemas sedemikian rupa, sehingga seolah-olah bagus, lalu mereka iklankan lah. Trus banyak pula orang Indonesia yang tertipu dan membelinya. Setelah datang ke sana, komentar kita..oooooooo cuma gitu doank..Masih bagusan kampung gw. Mana asli lagi, disana kebanyakan obyek wisatanya artifisial. Kayanya kita perlu banyak belajar bagaimana mengelola asset bangsa yang berharga ini sehingga bisa mendatangkan kemakmuran buat bangsa. (Halah ngapain juga gw pikirin ya. Emangnya gw mau nyalonin diri jadi DPRD Riau atau Sumbar gitu? Anggota DPRD aja ga mikirin).

Setelah dari candi Muara Takus kami makan siang di rumah makan Mira Sari yang letaknya tak terlalu jauh dari lokasi candi, tepatnya di Rantau Berangin. Wah disini aku sangat puas dengan makanannya. Ada udang sungai, ada ikan sungai, ada samba lado, ado pucuak ubi,  dan ada krupuk kesenangan Reza yaitu Karupuak Jariang…Reza suka malu-malu, padahal dia suka sekali dengan jariang crispy ini. Inilah makanan terlezat selama tour 3 hari ini. Riau still is the best for food…Jam 13.30 kami sholat zuhur di Mesjid Raya Bangkinang. Jam 15.30 kami sudah mendarat di rumah pekanbaru… Happy birthday Dad

SEKIAN

BALIK KAMPONG

BALIK KAMPONG

Lancang Kuning, Lancang Kuning berlayar malam, hai berlayar malam.

Haluan menuju, haluan menuju ke laut lepas

Tepat pada hari Selasa, 9 Oct 2007 (26 Ramadhan 1428 H) aku melaksanakan agenda rutin tahunanku yaitu balik kampong ke bumi lancang kuning. Aku berangkat dari puri hijauku di Limus pratama jam 6.20 di antar oleh abangku Iid dan istrinya Ningke. Sebenarnya penerbanganku di jadwalkan jam 11.00, tetapi karena takut terkena macet jadilah aku berangkat pagi-pagi sekali. Kan lebih baik kecepatan tiba di bandara daripada terlambat. Ternyata jalan raya pada hari tersebut cukup lengang, sehingga pada pukul 8.00 WIB kami sudah sampai di mesjid tempat peristirahatan sebelum masuk ke kawasan bandara. Lalu kami berhenti di sana dan melaksanakan sholat dhuha. Karena jadwal penerbanganku masih lama, jadi berhentinya cukup lama, lebih kurang 1 jam dan abangku tidur di mobil. Sebenarnya aku juga agak mengantuk dan sedikit pusing karena pada hari Seninnya aku pulang dari kampus sudah malam, terus harus bebenah barang2 yang akan dibawa ke pekanbaru ditambah lagi aku kena flu. Dah gitu kan sahur jam 3 sudah bangun dan aku tidak tidur lagi. Aku sepertinya kurang tidur. Ada beberapa hal yang bisa membuatku sakit jika kekurangan, salah satunya adalah kurang tidur. Yang lainnya aku tidak boleh telat makan, apalagi kurang makan. Kalo mau kurang makan, sekalian puasa aja, malah ga apa-apa. Yang ga boleh lagi adalah kurang duit..(hua..ha..ha.. kurasa semua orang tidak suka kekurangan hal yg satu ini). Kalo kurang kasih sayang, aku belum tau efeknya padaku, karena sepertinya aku belum pernah mengalaminya. Orang-orang disekitarku sepertinya sangat menyayangi dan memperhatikanku. (gw ke ge er-an ngkaleee ya?). Tapi mending GR dibanding minder. Tapi ku rasa perasaanku itu bener lho. Buktinya kalo aku lama ga muncul-muncul di depok pasti ditelponin, ditanyain kenapa ga datang-datang. Begitu juga kalo jarang mengunjungi Aji dan Kiki di ps minggu. Kata mama mereka, pasti Aji nanya-nanya ke mamanya, ”Kenapa tante Hessy ga ke sini?”, trus biasanya Aji heboh ngajak and rada maksa mamanya ke limus, walaupun hasil pemaksaannya sering tidak berhasil daripada berhasil. Belum lagi tetangga-tetangga limus yang sangat perhatian padaku. Kalo aku pulang cepat pasti ditanya: ”Dah pulang mba Hessy?”. Kalo pulang malam: ”Kok pulangnya telat mba Hessy?”. Kalo ga pulang dua hari, pasti juga ditanyain: ”Kemana mba Hessy, kok ga ada di rumah, nginep ya?”. Kalo ga masuk kerja: ”Ga ngajar hari ini mba Hessy?”. (gw kadang-kadang sampai bingung, jadi harusnya gw boleh pulang ke rumah gw sendiri jam berapa neh? Kalo libur apa harus lapor tetangga?). Kalo teman-teman akrab kampus juga begitu. Kalo aku ga muncul pada jadwal mengajarku, pasti di sms atau di telpon..”Kenapa lu ga masuk, lu sakit?” padahal aku cuma males aja dan bolos.. Jadi biasanya kalo aku mau bolos ngajar aku akan memberitahukan teman-teman, biar mereka tidak cemas. Taelaah…Karena agak mengantuk lalu aku juga mencoba untuk mengaso di atas mobil tapi cuma bisa sebentar, akhirnya aku ngobrol-ngobrol saja dengan kakak iparku.

Tepat jam 9.00 WIB aku di drop di bandara lalu abangku dan istrinya pulang. Aku tidak mau ditunggui karena kasian yang ngantar  kalo harus nungguin aku, mana inikan bulan puasa,  jadi ku suruh saja mereka pulang. Lalu aku masuk, check ini dan menuju ruang tunggu. Ternyata ruang tunggu penuh, jadi aku duduk di kursi yang di luar ruang tunggu dan membaca buku sambil mendengar radio. Aku sudah mempersiapkan buku untuk menemaniku menunggu burung besi Garuda mengangkutku ke Pekanbaru. Sewaktu aku sedang asik membaca, lalu ada telpon, ternyata telpon dari seseorang yang baru ku kenal kira-kira pada pertengahan puasa di Friendster. Selama ini kami hanya berkomunikasi melalui e-mail, karena aku mau balek kampong akhirnya ku berikan nomor HP ku. Dan ternyata temanku itu menelponku dan ternyata lagi menelponku sekarang menjadi kebiasaan barunya (i guess), sebaliknya menerima dan berbicara di telpon dengan temanku itu menjadi acara rutinku tiap hari, setidaknya sampai cerita ini ku tulis. J 

Jam 11.00 WIB burung besi terbang menuju tanah dimana darahku tumpah untuk pertama kalinya yaitu kota Pekanbaru, kota kelahiranku. Lebih kurang 1,5 jam kemudian burung besi selamat mendarat di bandara St Syarif Kasim II. Aku sudah dijemput oleh Ibu, kakakku dan 3 ponakan tercinta. Cuaca di Pekanbaru hari itu sangatlah panas, tapi ponakan2ku tetap berpuasa, even Mira yang baru kelas 1 SD. Kata mamanya puasa Mira belum ada yang batal.

Kepulanganku ke bumi lancang kuning membuat kenanganku di masa kecil kembali. Kota ini sudah sangat jauh berubah dibanding aku masih tinggal di sini. Sudah banyak kemajuan fisik yang dicapai oleh kota Pekanbaru. Kalo di bilang indah, ya lumayanlah, kota ini juga lebih bersih, hanya saja aku merasa kota ini sangat panas di siang hari dibanding aku masih kecil dahulu, bahkan dibanding dengan Depok atau Cilengsi (mungkin perasaanku saja ya, dan kebetulan cuaca memang tidak bersahabat, di Jakarta juga siangnya panas banget pas puasa tahun ini).

Aku dilahirkan di Rumbai salah satu distrik yang dibangun oleh PT Caltex Pacific Indonesia sebuah perusahaan minyak terkenal. Rumbai adalah pusat administrasi, sedangkan ladang minyak Caltex ada di Distrik Minas dan Duri. Kata ayahku, minyak Minas adalah minyak yang terbaik di dunia. Kualitas no. 1, numero uno. Distrik Dumai adalah kota pelabuhan, tempat minyak-minyak dari Minas dan Duri dikirimkan ke seluruh penjuru dunia.

Selain dilahirkan aku juga bersekolah dari TK sampai SMA di wilayah ini, tepatnya aku selalu bersekolah di tempat yang sama yi di Sekolah Cendana Rumbai. Ada yang unik dari anak-anak pegawai Caltex ini. Kita bersekolah di sekolah yang sama dari TK sampai SMA, jadi teman-teman kita dari TK sampai SMA ya itu-itu aja. Tidak seperti masyarakat pada umumnya, pasti punya teman SD yang berbeda dengan teman SMP dengan teman SMA. Kalo aku temannya nyaris sama. Murid baru sangat sedikit di sekolah ku itu, ada murid baru paling karena pindahan dari distrik yang lain. Biasanya malah sudah kenal, karena mungkin dulu SD nya di Rumbai, terus ayahnya dipindahkan ke Duri, lalu balik lagi ke Rumbai. Ayahku tidak pernah dipindah ke distrik lain, jadi otomatis teman-temanku hanyalah anak Rumbai dan anak Minas. Trus kita juga biasanya kenal dengan kakak atau adik dari teman kita. Sekolahku itu pada zamanku hanya menerima anak pegawai Caltex saja, tidak menerima murid dari luar. Kebijaksanaan ini akhirnya tidak bisa diteruskan pada tahun 1984 karena dilarang oleh P&K. Setelah tahun itu sekolah Cendana baik yang di Rumbai maupun di Duri menerima murid yang orang tuanya non pegawai Caltex. Tapi tetap persentase orang luar yang bersekolah di sinipun sangat kecil di zamanku. (Kalo sekarang sudah banyak orang luar yang bersekolah di Cendana)

Kehidupan di kompleks Caltex ini banyak suka dibanding duka. Semua sarana prasarana tersedia dan yang paling penting gratis. Berenang gratis, nonton film gratis, bahkan sekolah pun nyaris gratis karena biaya yang sangat murah dan buku-buku teks dipinjamkan. Selain itu listrik, telpon dan air juga ga perlu bayar. Bahkan air ledeng di kompleks Caltex dijamin hygienis dan bisa langsung minum. (Aku baru tau setelah aku besar bahwa air ledeng di kompleks itu tidak apa-apa kalo langsung di minum. Pan kalo menurut ajaran bu Guru, air harus direbus dulu baru boleh diminum. Nah makanya aku juga setelah besar baru mengerti kenapa waktu bulan puasa dan aku pura-pura cuci muka, padahal waktu kumur-kumur ada yang sedikit diminum, tapi ga sakit perut..hua..ha..ha..) Di sekolahku tersedia water cooler jadi setelah bermain kita ngantri di water cooler untuk minum. Di tempat-tempat tertentu seperti gedung olah raga juga tersedia water cooler. Kompleks Caltex ini dibilang orang luar sebagai little American karena dari bentuk rumah dan fasilitas dirancang mirip dengan asal tempat expatriat yang bekerja ditempat ini. Bahkan bus sekolah ku pun berwarna kuning, kaya di film-film Holywood itu loh. Kita menyebutnya bus kuning. Tapi dengan berjalannya waktu bus sekolah juga tidak berwarna kuning lagi. Terus ada lagi yang disebut dengan bus panjang. Bus ini memang panjang. Bus panjang ini untuk bus raun (kalo orang pekanbaru bilang keliling-keliling adalah raun-raun dari round-round ngkalee ya) keliling komplek.  Kita tidak perlu bayar. Yang perlu bayar adalah taxi komplek. Tapi ongkosnya juga sangat murah hanya Rp 25 sekali antar.

Yang indah lagi tinggal di komplek adalah suasana yang hijau. Banyak hutan yang dipelihara oleh pihak perusahaan. Rumah tempat aku dibesarkan dari lahir sampai TK nol besar terletak persis di depan hutan. Aku biasa main ke hutan dengan saudara dan teman-teman dekat rumah. Main di hutan tidak di tengah hutan sih, dipinggir-pingir hutan aja. Di sana kami suka mencari mata air, lalu kalau sudah ketemu juga suka mencari ikan-ikan kecil atau melihat gerundang (berudu). Selain mencari mata air, kami juga suka mencari buah selatut (aku tak tau bahasa latinnya, yg ku tau kita menyebutnya buah selatut, karena kalo dipencet berbunyi ”tut”) lalu memakannya. Selain itu kita juga suka mencari daun sabun. Maksudnya daun yang kalo digosokkan ketangan jadi kaya ada sabunnya. Oh ya, waktu kecil selain suka makan buah selatut, aku dan teman-teman suka juga menghisap sari dari bunga asoka, rasanya enak kala itu. Tapi kenapa setelah besar ku coba, kok tidak seenak sewaktu aku kecil ya rasanya? Mungkin bagi semua anak kecil semuanya enak.  Yg seru lagi tinggal di Rumbai adalah cerita ibuku (soalnya aku tidak menyaksikan sendiri), kalo malam pulang dari mesjid suka ada harimau yang nangkring depan rumah. Jadi ibuku dan ayahku masuk rumah melalui pintu belakang. Di Rumbai ini hewan-hewan liar memang bisa hidup nyaman, karena berburu di hutan dilarang oleh perusahaan. Jadi banyak hewan liar tinggal di hutan Rumbai dan aku sering melihatnya seperti burung enggang, babi liar, dan cingkuak. Mungkin dari pembaca ada yang tidak tau cingkuak itu apa. Cingkuak adalah sejenis monyet berbulu hitam (beda dengan lutung) dan tiap pagi dan sore suka berteriak-teriak dan bunyinya ”kuak, kuak. Kuak”. Jadilah kita menyebutnya Cingkuak, mboh la bahasa latinnya. Abangku dan teman-temannya suka bermain ke tengah hutan dan mereka biasanya pulang-pulang suka membawa nangka hutan (buahnya kecil dan panjang), terus juga gasing. Gasing hutan beda lho sama gasing yang dijual ditoko. Makanya sewaktu aku ke Jakarta aku heran, mengapa disini gasing dibeli? Padahal waktu aku kecil gasing dibuat sendiri, ndak usah beli. (Asli orang hutan gw ya, gasing dijual di toko aja bingung)

Setelah TK ayahku dipindahkan lagi ke rumah yang lain. Nah rumah ini dekat dengan sekolah dan rumah sakit. Jadi aku jalan kaki ke sekolah atau ke rumah sakit. Oh ya rumah sakit juga gratis disini. Dari SD aku sudah berani pergi ke rumah sakit sendiri. Dokternya, susternya  kan ayah atau ibu temanku. Trus waktu tinggal di rumah yang ini, abang tertuaku Nasrun dan temannya Amran Dalimunte pernah berhasil menangkap kera besar (aku tidak tau persis spesiesnya, pokoke sejenis kera tapi lebih gede). Lalu kera itu diikat di garasi mobil, aku senang melihatnya, ku pikir kami akan punya peliharaan baru. Tapi sayang kera itu cuma sebentar di rumah kami, karena akhirnya kera tersebut berhasil melepaskan diri dan kabur. Di rumah ini juga pernah ada ular nyasar. Waktu itu kita semua pergi ke sekolah, hanya ibuku di rumah, dan beliau berhasil membunuh ular tersebut..(Wah ibuku memang TOP Be Ge Te de..asli pemberani).

Dari rumah ini ke madrasah tempat aku mengaji cukup jauh, tapi masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sebenarnya ada bus yang bisa ku naiki tapi aku lebih suka berjalan kaki. Ke madrasah biasanya aku lewat memotong rumah sakit . Tapi kalo pulang kadang aku main dulu ke rumah teman dan mengambil jalan memotong lewat hutan. Oh ya ada kejadian lucu soal hutan ini. Aku ingat sekali dengan adikku Nana. Waktu itu dia masih SD kelas 1 (kalo tidak salah). Harusnya kan anak kelas 1 SD pulangnya jam 10. Adikku ini tidak pulang-pulang, lalu ibuku sibuklah mencari di rumah teman-temannya yang dekat rumah. Dia tidak ditemui. Tau-tau dia muncul sore hari. Ibuku memarahinya, mungkin karena ibuku panik. Tapi adikku karena masih kecil malah dengan enteng cerita kalo tadi main ke rumah temannya dan pulang menyusuri hutan dan dengar suara szzzz..szzz. Lah itu kan suara ular ya..Namanya juga anak-anak, manalah mengerti bahaya suara itu. Di Rumbai ini juga ada sungai ambang dan di sungai ini banyak ular tikar. Ularnya kaya tikar katanya (masalahnya aku ndak pernah liat sendiri. Aku cuma pernah liat sungainya saja, tapi tidak berani bermain-main disana). Selain itu ada daerah di tengah hutan yang disebut dengan tanah merah. Semua anak Rumbai pasti tau tanah merah karena biasanya pernah bermain di sana. Disebut tanah merah karena memang tanahnya berwarna merah. Kalo di foto bagus de.

Itu tentang hal-hal indah tinggal di kompleks Caltex. Tapi bukan berarti tidak ada yang kurang dari kompleks ini. Yang kurang menyenangkan tinggal di kompleks adalah susunan tempat tinggal. Maksudku, cluster perumahan di Caltex disusun seperti perumahan militer. Jadi ada stratanya. Sebuah cluster berarti menunjukkan jabatan penghuni. Perumahan staff berbeda dengan perumahan associate (non staff). Dari nomor badge juga terlihat strata sosial ini. Sehingga ada istilah anak atas dan anak bawah di kompleks ini. Terus juga ada sebutan anak Pekan, untuk anak-anak yang tinggal di luar komplek (di Pekanbaru). Walau tidak terlalu terlihat jelas, tapi dalam pergaulan, strata sosial cukup terasa. Seorang anak bawah bisa cukup populer di sekolahanku minimal harus punya salah satu dari hal berikut: kalo tidak cantik/ganteng, paling ga berprestasi di bidang olahraga atau juara kelas. Kalo dia tidak memiliki salah satu dari 3 hal tersebut, dijamin dia ga bakal dianggap sama anak atas, mainnya paling sesama anak bawah. Bahkan yang lebih tidak enaknya lagi, anak-anak pegawai non staff banyak yang tidak mau bersekolah di Cendana. Mereka kebanyakan bersekolah di sekolah negeri yang terletak di dekat cluster rumah mereka. Aku ingat salah satu SDN di sana adalah SDN 5. Kita anak Cendana menyebutnya SD Limper (singkatan lima perak). Biasalah anak-anak suka jail bikin istilah.

Sekarang Caltex telah diakuisisi oleh Chevron, dan pegawainya sudah banyak berkurang karena sistem outsourcing yang diterapkan. Pegawai Chevron pun sekarang lebih banyak tinggal di luar komplek. Sewaktu kemarin aku berjalan-jalan ke Rumbai, komplek itu terasa sangat sepi, lengang. Tidak seperti masa kecilku yang penuh dengan anak-anak bermain di luar rumah. Mungkin ini ada hubungannya dengan kemajuan teknologi yg membuat anak-anak tidak bermain di luar rumah lagi.

Oh ya, aku tinggal di Rumbai cuma sampai kelas 5 SD, lalu ayahku memutuskan untuk pindah ke luar komplek. Ayahku membangun rumah dengan bantuan perusahaan di jalan Riau. Rumah di Pekanbaru ini jauh lebih besar daripada rumah di kompleks. Tapi  untuk mengurusi rumah ini orangtuaku tidak menyewa seorang pembantu pun. Kami berlima anak-anaknyalah yang jadi pembantu. Sistemnya bagi-bagi tugas. Kakakku memasak dan menyapu rumah, aku menyetrika, ibuku mencuci baju, adikku cuci piring. Yang enak ayah dan dua abang lelakiku, dinas cuma kalo libur sekolah, nyuci mobil, nyapu halaman, sama cukur rumput. Itupun kalo cukur rumput aku juga dikaryakan untuk bantu menyapu rumput-rumput itu. Kalo mobil rusak itu juga tugas kaum pria. Tapi kan mobil ga rusak tiap hari ya..memasak, menyetrika, nyuci baju, itu pan tiap hari. Aku suka protes dengan pembagian tugas yang tidak adil ini. Oh ya aku paling sebal kalo disuruh memasak. Ibuku kayaknya juga sebal lama-lama menyuruhku (maapin ane ya Nyak J) Setiap kali disuruh aku cuma mengerjakan apa yang disuruh, setelah itu aku kabur. Dipanggil lagi, nanti begitu lagi. Kalo ibuku marah, aku akan bilang, ”Mendingan disuruh mengerjakan soal matematika 100 buah daripada disuruh memasak”. Lain hari dimarahi lagi, aku jawab lagi, ”Nanti kalo Hessy sudah besar orang-orang sudah tidak perlu memasak lagi, karena semua orang akan makan pil dan sudah kenyang. Ndak perlu susah-susah kaya ini”. Ibu lalu bilang ”Ya sudah kamu ciptakan saja pil itu”. Lain kali dimarahi, aku jawab lagi; ”Selama orang bisa membaca, pasti bisa memasak (maksudku baca aja resep, ga usah pake praktek kebanyakan)”. Ku pikir ibuku pasti mengurut dada punya anak kaya aku. Dan terbukti sekarang, dua saudara perempuanku yang nurut sama ibuku mewarisi ilmu memasak ibuku. Sedang aku cuma mewarisi 1/100 ilmu memasak ibuku. Ya ndak pa pa lah, yang penting masih dapat warisan walau seiprit…hua..ha..ha…

Tinggal di rumah Pekanbaru ini sebenarnya sangat menyenangkan. Selain rumah yang lebih besar, halamannya juga luas (sisi minusnya, capek nyapunya). Dipekarangan yang luas tersebut tumbuh 6 buah pohon rambutan, 1 buah pohon jambu air, 1 buah pohon jambu bol, 1 buah pohon mangga, beberapa buah pohon jambu bangkok , 1 buah pohon sarikaya, pohon nangka dan pohon pisang. Belum pohon jeruk nipis dan empon-empon tanaman ibuku. Rambutan di rumahku itu disebut rambutan Tampan. Rasanya jangan di tanya, buahnya besar, lekang dan maniiiss sekali. Kalo lagi musim rambutan kita bersaudara pulang sekolah langsung memanjat pohon dan duduk di atas menikmati rambutan. Sering juga rambutan ini ku bawa ke sekolah dan ku bagi ke teman-temanku. Kadang teman-teman kami juga datang ke rumah untuk pesta rambutan. Jambu bangkok juga sering berbuah. Pertama-tama berbuah kami senang memakannya, lama-lama bosan juga. Kalo jambu air enaknya di rujak, seringnya dibiarkan jatuh. Kalo pisang, ya lumayan enak apalagi kalo pisang batu digoreng. Kalo panen pisang kebanyakan, ibuku membuatnya menjadi kripik pisang. Kalo kebanyakan, bosan juga makannya. Jadi kalo panen buah berlimpah, tetangga-tetangga juga kebagian. Mangga baru berbuah setelah aku kuliah di Jakarta. Tapi aku sempat dikirimi mangga dari Pekanbaru sampai ibu kos ku heran. Akibat aku sudah biasa memakan buah gratis, langsung petik dari pohonnya, sekarang ini kalo aku disuruh membeli rambutan atau jambu air aku merasa enggan. Ku pikir kenapa harus keluar uang untuk buah kaya gitu. Dulu semua bisa ku peroleh tanpa uang.

Selain itu ibuku juga memelihara ayam. Jadi kita sering makan telur ayam kampung. Cuma yang lucunya kalo ibuku memasak ayam hasil ternak, ayahku tidak mau memakannya. Jadi ibuku sempat protes “Kalo begitu buat apa pelihara ayam kalo tidak mau dimakan”.  Kami juga punya kucing dan memelihara anjing. Oh ya ada yang unik dari anjing dan kucingku ini. Biasanya kan anjing dan kucing tidak pernah akur kan. Tapi anjingku Brin-Brin dan kucingku Pixy bersahabat akrab. Mereka sering bergelut dan bercanda bersama. Tapi kalo Brin-Brin melihat kucing lain masuk rumah, sudah pasti dikejar. Dan ada satu ekor kucing tetangga yang tewas dengan sukses di moncong Brin-Brin. Bicara mengenai Pixy aku jadi ingat dengan kakakku Redh. Kakakku ini tidak suka dengan kucing itu. Padahal semua orang suka, karena Pixy itu cantik bulunya dan lucu tingkahnya. Hanya saja Pixy suka tidur di sofa dan meninggalkan bulunya yang rontok. Kakakku sebal, karena tugas dia untuk membersihkan sofa yang tercemar bulu Pixy. Jadi kadang kakakku memukul Pixy dengan sapu lidi. Mungkin karena Pixy jengkel dipukul kakakku lalu dia balas dendam. Tau ga Pixy pernah pipis disepatu kakakku dan menggigit sampai robek rok kakakku yang sedang digantung..hua..ha..ha.. kok Pixy tau ya yang mana milik kakakku…Animal instinc.

Tapi semua hal indah di rumah Pekanbaru itu hanya tinggal kenangan. Setelah Pekanbaru mengalami modernisasi, sepanjang jalan Riau yang tadinya penuh ditumbuhi pohon rambutan dan pohon karet berubah drastis menjadi ruko. Aku bersaudara dan teman-teman dulu terbiasa jalan kaki dari persimpangan jalan Riau menuju rumah. Jarak ini sebenarnya cukup jauh, tapi tidak terasa karena adanya pohon-pohon yang menaungi jalan, bahkan walau kita berjalan kaki disiang hari yang terik. Berbeda jauh dengan kondisi sekarang.Jalan Riau sangat padat lalu lintasnya, tidak adalagi pohon-pohon rambutan yang berbuah ranum dipinggir jalan menaungi pejalan kaki. Selain itu pembangunan di kota ini tidak memikirkan dengan baik soal drainage. Jadilah rumah ayahku di Pekanbaru ini sedikit kebanjiran jika hujan lebat. Lama-lama tanah menjadi sangat lembab dan akhirnya pohon-pohon di pekarangan rumah mati. Yang tumbuh dengan hijau hanyalah rumput. Jadi halaman belakang rumah sekarang kaya lapangan bola. Tinggal halaman depan yang masih ada tumbuhan. Masa jaya rambutan Tampan berakhir sudah. Rumah Pekanbaru juga sudah lama tidak memelihara hewan-hewan sejak munculnya berbagai penyakit yang ditularkan hewan, seperti toxoplasma dan flu burung.

Itulah kota kelahiranku, modern tapi sudah tidak senyaman dahulu lagi. Sekarang kota Pekanbaru juga macet. Padahal dulu jarak Rumbai-Pekanbaru bisa ditempuh dalam 10 menit (oleh ayahku). Ada cerita tersendiri soal perjalanan tiap pagi hari Rumbai-Pekanbaru. Ceritanya kami semua kan bersekolah di Rumbai masuk jam 7.15, begitu juga ayahku bekerja di Rumbai tapi masuknya lebih pagi yaitu jam 7.00. Di perusahaan Caltex ini peraturan sangat ketat, pegawai tidak  boleh terlambat. Nah ayahku itu sangat disiplin soal waktu masuk kerja, cuma soal waktu bangun tidurnya beliau kurang disiplin. Jadi biar kami berangkat jam berapa pun, pasti sampai di Rumbai jam 7.00 teng. Ayahku emang jagonya ngebut. Berangkat jam 6.30 maupun 6.50 hasilnya pasti jam 7.00 sampai Rumbai. Bakatnya ini menurun pada abangku Iid dan Nana adikku. Mereka jago ngebut. Kalo dididik dengan baik mungkin ayah, abangku dan adikku bisa jadi pembalap F1 yang handal..ha..ha..ha…Herannya bakat ini tak terlihat nyata padaku..kenapa ya?

Pekanbaru dan Rumbai dipisah oleh sebuah sungai yang bernama sungai Siak. Untuk menghubungkan Pekanbaru dan Rumbai ada dua jembatan yang sudah dibangun oleh pemkot Riau yaitu jembatan Siak I dan  jembatan Siak II. Jembatan Siak II relatif lebih baru dari Jembatan Siak I. Jembatan Siak I sudah ada sejak dari aku SD. Sebelum ada jembatan Siak I, Rumbai dan Pekanbaru dihubungkan oleh sebuah jembatan Ponton. Aku ingat sekali waktu masih kecil saat ayahku membawa kita raun-raun ke Pekanbaru, kita harus melewati jembatan Ponton yang terletak di Bom baru. Yang menarik dari jembatan Ponton adalah kalau kapal melewati sungai, maka jembatan Ponton akan terbelah dua dan mobil-mobil harus mengalah membiarkan kapal lewat. Sejak jembatan Siak I dibangun, pemandangan menarik ini juga hilang karena jembatan Ponton itu langsung dihancurkan. Sewaktu jembatan Siak I dibangun aku senang karena ke Pekanbaru tidak perlu pakai acara ngantri jembatan. Cuma sekarang ku pikir-pikir harusnya jembatan Ponton itu tidak dihancurkan ya, itu kan menarik juga untuk dilihat-lihat dan tidak semua manusia di muka bumi pernah melihat jembatan Ponton yang terbelah lalu melihat kapal melintasi sungai. Selain itu pencemaran sungai Siak juga tinggi. Di pinggir sungai Siak ada pabrik karet, pabrik karet ini sering mengeluarkan bau yang tidak sedap. Limbah di buang ke sungai, banyak ikan mati, kasian nelayan dan penduduk yang tinggal dibantaran sungai karena pencemaran ini. Ngomong-ngomong soal ikan, kalau aku pulang ke Pekanbaru, jika kita makan ikan pasti yang dimakan adalah ikan sungai. Ikan sungai itu enak, lebih enak daripada ikan laut, cuma harganya bow..mahal beeng. Ya ada harga, ada barang. Yang terkenal masakan orang Riau adalah gulai ikan patin. Ikan patin yang enak adalah ikan patin liar, kalau sudah hasil penangkaran biasanya kurang enak. Seorang temanku yang jago memasak pernah memberi tip kalo mau memasak ikan hasil penangkaran, baik ikan mas atau ikan patin, agar tidak terasa lumpur, maka sebelum dimasak ikan yang masih hidup dimasukkan ke dalam kolam bersih dulu sejenak. Tapi itu berarti kudu punya kolam di rumah dong..Susah juga untuk melaksanakan tip memasak tersebut. Weih karangan ini ga runtun banget ya, masak dari cerita jembatan trus aku cerita gulai ikan patin seh..

SEKIAN