PULANG KAMPUANG
PULANG KAMPUANG
Allahuakbar 3x
Laailaahaillallahuallahuakbar
Allahuakbar walillah ilham
Pemerintah menetapkan bahwa 1 Syawal 1428H jatuh pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007. PP Muhamadiyah jauh-jauh hari telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1428H jatuh pada hari Jumat, 12 Oktober 2007. Gara-gara perbedaan ini banyak keluarga di
Indonesia
terpecah dalam berhari raya. Salah satu keluarga yang terpecah adalah sebuah keluarga yang berdiam di Jl. Riau gg Harapan II Pekanbaru. Itu adalah keluargaku. Muncul dua kubu dalam menentukan akhir puasa. Kubu pertama terdiri dari Ayahku, aku dan Reza yg meyakini 1 Syawal jatuh pada hari Jumat. Jadi anggota kubu 1 tidak sahur pada jumat dini hari. Kubu kedua terdiri dari ibuku, Iredh dan suaminya, serta Ami dan Mira. Sebenarnya Ami dan Mira sudah tidak ingin berpuasa lagi, tapi berhubung mereka masih dibawah umur untuk mengambil keputusan (Ami baru kelas 5 SD, sedangkan Mira baru kelas 1 SD) jadilah mereka tetap sahur pada Jumat dini hari. Sedangkan Reza karena sudah kelas 3 SMP jadi lebih berani dan tetap tidur. Tapi ada kejadian lucu dengan perbedaan pendapat ini, siang harinya aku dan Reza makan es krim, kebetulan kakakku sekeluarga pergi ke pasar. Akan tetapi sewaktu es krim belum habis mereka pulang, terbirit-biritlah kami masuk ke kamar, karena ingin menghormati keyakinan yang masih berpuasa dan untuk menjaga perasaan kleine-kleine yang 2 orang itu. Ternyata Ami dan Mira tau bahwa kami berdua bersembunyi di kamar lalu mereka mengetuk-ngetuk pintu. Terus tau ga? Ami berkata, “Papa bilang boleh batalin puasa”. Bingunglah aku dan Reza mendengarnya? “Loh kok boleh? Ga konsisten neh”. Lalu mereka ikutan makan es krim. Aku pun sempat memberi nasehat kepada Ami, begini bunyinya: “Ami, kalau Ami tidak ingin berpuasa sebenarnya boleh-boleh saja dari tadi, asal Ami punya alasan yang kuat untuk itu. Tidak apa-apa berbeda pendapat dengan orang tua.”. Ami hanya menatapku sambil makan es krim. Ku pikir-pikir, aku ini tante gokil juga kali ya.. Lagian apa nasehatku itu tidak ketinggian untuk anak yang baru duduk di kelas 5 SD? Jangan sampai ponakan-ponakanku jadi ”liar” tak menentu gara-gara nasehatku tadi. Masalahnya Reza ikutan mendengarnya, dan Reza ini sudah agak-agak ”liar” juga. Yang lebih lucu lagi, ibuku malah marah-marah melihat kedua cucunya yang manis itu membatalkan puasa..Ha..ha..ha…kenapa nenek marah ya? Padahal di Arab memang sudah idul fitri pada hari Jumat tersebut. Masa Indonesia yang waktunya lebih duluan, malah telat hari rayanya.
Untuk soal 1 Syawal, kami boleh berbeda, tapi untuk pelaksanaan soal sholat idul fitri kami semua sepakat bahwa kami akan melaksanakannya pada hari Sabtu. Sebenarnya ini tidak konsisten ya. Harusnya kan kalo lebaran Jumat, sholatnya Jumat juga ya. Tapi pada dasarnya kan sholat idul fitri itu tidak wajib. Ekstrimnya kalo tidak melaksanakannya kan juga tidak berdosa. Jadi ndak apa-apalah kalo tidak konsisten. Kami sekeluarga sholat idul fitri di mesjid Agung Pekanbaru. Tapi idul fitri kali ini bisa dibilang ”wet idul fitri”, berhubung sering turun hujan. Karena hujan turun, maka sholat dilaksanakan didalam mesjid. Aku dan kakak serta ponakan mendapat tempat diteras mesjid. Ada yang bikin aku jengkel pada pagi hari pelaksanaan sholat kali ini. Sudah tau hari hujan, jemaah sudah membludak, banyak yang kehujanan, masak sholat belum dimulai-mulai juga. Bagaimana ini khotibnya, tidak mengerti kondisi umat. Mungkin ini cerminan para pemimpin di negeri ini, sering tidak paham kondisi lapangan, karena mereka berada ditempat yang nyaman. Pada saat sholat dimulai hujan mulai agak reda, sehingga jamaah yang tidak kebagian tempat sholat di rumput mesjid.
Idul Fitri di Pekanbaru tidak seperti Idul Fitri di kampung-kampung lain. Namanya saja yang aku balik kampung, mengunjungi tempat kelahiranku, tapi idul fitri disini tidak terasa setelah sholat usai. Kota ini sepi jika hari libur. Dikoran setempat aku baca, tingkat hunian hotel justru anjlok menjadi 30% saat idul fitri, sementara pada hari kerja, tingkat hunian hotel rata-rata 70%. Ini memang kota bisnis. Jika libur, penduduk menghilang pergi keluar kota. Oleh karena libur masih panjang, maka aku dan kakakku sekeluarga juga memutuskan untuk pergi berlibur ke Sumatera Barat pada hari Minggu, 14 Oktober 2007.
Minggu, 14 Okt 2007, tepat jam 7.30 WIP (Waktu Indonesia Bagian Pekanbaru) tour de west sumatra dimulai. Mobil sempat berbalik ke rumah karena lupa membawa bantal. Jam 10.00 kami berhenti sejenak untuk makan soto di Rantau Berangin. Di Rantau Berangin ini banyak para pemudik yang berhenti. Ada yang mudik naik mobil, ada yang naik motor ada juga yang beramai-ramai naik truk. Ada yang unik di Rantau Berangin dan sepanjang jalan yg termasuk wilayah Riau ini, yaitu banyaknya parabola. Walaupun rumahnya jelek, tapi ada parabola. Sepertinya kebutuhan informasi sangat tinggi di daerah ini. Cuma ga jelas juga informasi apa yang mereka butuhkan. Kayanya sih informasi hiburan lah yaw. Tapi paling tidak menunjukkan orang Riau sadar informasi, tul ga seh?
Setelah perut kenyang, perjalanan dilanjutkan. Sesampai di daerah Rimbo Data perjalanan tersendat. Ada antrian kendaraan cukup panjang. Hal ini sudah diprediksi, karena menurut berita ada jalan longsor yang membuat Riau Sumbar sempat putus. Tapi jalan itu sudah bisa dilalui hanya saja harus bergiliran. Ternyata kami termasuk yang beruntung karena berangkat pagi sehingga tidak terlalu lama mengantri. Orang-orang yang berangkat dari Pekanbaru agak siang, terkena macet cukup lama di daerah ini. Sekitar jam 13.30 siang kami mendarat di Bukittingi, beberapa hotel didaerah sekitar jam Gadang yang ditelpon menyatakan fully booked. Lalu kami mencoba peruntungan di hotel Griya Muslim di jalan Landbow (Skrg nama jalan itu adalah Jl. Hamka kalo ga salah. Gw ingatnya nama yg lama, soale disinilah terletak eks rumah alm nenek). Alhamdulillah masih ada 3 kamar kosong, dan kami hanya butuh 2 kamar. Kami lalu makan siang dengan bekal yang dibawa dari rumah. Tadinya bekal ini diniatkan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di tengah jalan. Setelah makan dan beristirahat sejenak, kami berjalan kaki untuk melihat bekas rumah nenek. Rumah tersebut sekarang sudah menjadi ruko. Aku ingat dulu waktu masih kecil, kalo pulang kampuang, selalu menginap di rumah ini. Rumah ini menyimpan banyak kenangan. Disini aku belajar mengambil air dari sumur. Dulu dibelakang rumah nenekku terhampar sawah menghijau. Aku dan sepupu suka bermain disana lalu naik ke atas bukit. Sekarang sawah sudah menjadi rumah, dan di bukit sudah ada hotel.
Setelah melihat-lihat dan memotret 3x klik rumah nenekku, kita kembali ke hotel, mandi dan sholat ashar. Setelah itu kita berjalan-jalan ke panorama. Dari namanya kita sudah tau, yang dijual dari tempat ini adalah pemandangan (panorama) Sianok Canyon alias ngarai Sianok. Menurut kisah turun temurun (taelah) alkisah nenek moyangku berasal dari Sianok Canyon ini. Kata ibuku aslinya awak ko urang lambah lalu nenek awak naiak ka Sianok kemudian mambuek rumah disinan. Jadi rumah gadang nenek moyangku ada di sebuah kampung yang bernama Sianok. Aku bisa dihitung dengan jari ke Sianok dan sama sekali belum pernah bermalam di rumah gadang itu. Rumah gadang itu sekarang sudah hampir runtuh, karena turunan nenekku sebagian besar merantau. Ada pepatah di minangkabau yang berbunyi (ini ku dengar dari ayahku):
Sayang kampuang ditingga kan (Sayang kampung ditinggalkan (merantau)
Sayang anak di lacuik… (Sayang anak dipukul)
Aneh kan bunyi pepatahnya. Mengandung paradox. Ada lagi ni bunyi pepatah yang mengandung paradok:
Kalau taimpik nak di ateh (Jika terhimpit ingin di atas)
Kalau takuruang nak di lua (Jika terkurung ingin di luar)
Ku pikir-pikir memang mantap dan cerdik cendikia orang Minang ini. Orang-orang baru abad ini mengenal konsep paradok, orang Minang sudah lama punya filosofi dan praktek soal nilai-nilai global paradok. Ha…ha..ha… Cuma gara2 pepatah kampung ditinggakan, rata-rata kampung di Sumatera Barat jadi sepi dan hanya ramai sewaktu Lebaran. Dan kalau konsep sayang anak di lacuik masih di praktekkan, salah-salah semua orang tua di Sumbar bisa dilaporkan ke komnas HAM perlindungan anak..Sedangkan pepatah kedua menunjukkan betapa cerdiknya orang Minang (Cerdik ato licik ato mau enaknya sendiri? Beda tipis kan?)
Kembali ke kisah tour d West Sumatra. Di panorama ini ada lobang jepang. Lobang Jepang ini peninggalan penjajahan Jepang dan dibangun oleh para pekerja paksa (romusha). Konon romusha yang menggali lobang ini langsung dibunuh, agar persembunyian Jepang itu tidak diketahui. Lobang ini tembus ke ngarai. Setelah magrib menjelang kami kembali ke hotel.
Malam hari di hotel kakakku Iredh dan suaminya keluar untuk membeli makan malam. Tinggallah aku menjadi baby sitter untuk 3 kurcaci. Ponakan-ponakanku ini memang seperti kurcaci, lincah dan rada resek. Nah ceritanya ada seorang teman yang suka menelponku dan 3 kurcaci ini selalu ingin tau terutama kurcaci nomor 1 dan kurcaci nomor 2. Temanku itu malah memberi nama mereka turbulentor. Karena kalau mereka masih ON pasti banyak gangguan alias turbulence sehingga sulit berbicara. Karena rasa ingin tahu mereka yang cukup besar atas temanku itu akhirnya ku ajak saja mereka berkenalan. Mereka menyambut dengan antusias, begitu juga dengan temanku yang di Jakarta itu. Lalu temanku memberikan kuis dengan hadiah jika menjawab dengan tepat hadiahnya adalah liburan ke Jogjakarta. Reza sebagai peserta kuis pertama gagal menjawab dengan tepat dan pemenangnya adalah Ami. Ami sangat senang dengan kemenangan yang diraihnya, sampai menceritakan kemenangannya itu pada mamanya dan nenekknya sewaktu sudah sampai ke pekanbaru lagi. Trus akibatnya setiap kali temanku itu menelpon pasti Ami akan berkata ” Tante Hessy tolong tanyakan jadi Ami ke Jogja?”…Begitulah anak-anak sekali sudah berjanji akan melekat dibenaknya.
Pagi hari, Senin, 15 Oktober 2007. Hujan membasahi kota Bukittingi. Jam 7.00 sarapan diantar ke kamar. Kami lalu sarapan dengan nasi goreng dan teh hangat. Jam 7.30 petualangan dimulai. Ditengah guyuran hujan kendaraan melaju meninggalkan kota Bukittingi menuju Sawahlunto. Tujuan adalah tempat wisata water boom, kami sudah siap dengan peralatan renang. Sudah terbayang dibenak kami akan berenang dengan air gunung. Keluar dari kota Bukittinggi hujan mulai reda. Perjalanan sungguh menyenangkan udara sejuk dan di kiri kanan sawah terhampar dikelilingi oleh bukit barisan. Abang iparku mencoba rute baru menuju Sawah Lunto. Biasanya untuk ke Sawah lunto kita melalui Solok, tapi kali ini tidak. Kita sempat mampir di Padang Panjang. Disini kita membeli pergede jagung untuk camilan ditengah jalan.
Jam 11.30 kami tiba di Sawah lunto. Ternak di perut sudah meronta-ronta minta ransum. Untuk memenuhi hak-hak perut lalu kami berhenti di sebuah rumah makan yang khusus menjual soto. Ramai pengunjung di sana. Sotonya lumayan enak (gw kok jadi lapar ya pas nulis ini). Setelah perut kenyang kami melanjutkan perjalanan menuju water boom yang jaraknya sudah tidak jauh lagi. Tapi onde mande setelah sampai di TKP, panuah urang-urang dari kampuang di sinan. Indak jadilah kami jadinyo turun. Tampeknyo ketek, urang-urang sagarubak. Lah pasti bantuak cindua urang-urang di kolam tu. Terlihat dari luar, tempat wisata ini tidak dikelola dengan baik. Tiga kurcaci sedikit kuciwa karena tidak jadi berenang, padahal mereka sudah pernah ke water boom di Jakarta. Tapi setelah diberi pengertian, mereka dapat memahaminya. Akhirnya kami meneruskan perjalanan dengan tujuan danau Singkarak.
Ternyata hari ini bukan hari keberuntungan kami. Untuk menuju danau Singkarak, membutuhkan waktu berjam-jam karena lalu lintas yang macet di desa Sumani. Wah daku betul-betul tersiksa dengan kemacetan parah ini. Mobil asli tidak bergerak. Karena mobil cuma 1300 cc maka alat pendingin tidak dapat berfungsi dengan baik jika laju kendaraan sangat pelan. Karena takut overheated maka AC dimatikan. Bayangkan ditengah terik cuaca siang hari, jalanan macet dan tiada AC. Bekuah lah kami di dalam mobil itu. Asiklah kami bakipeh-kipeh dek angeknyo udaro. Usut punya usut ternyata kemacetan ini disebabkan oleh runtuhnya sebuah jembatan akibat gempa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Jadi jembatan yang ada adalah jembatan darurat dan hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Jadi kudu nunggu giliran lah yaw.
Dengan penuh perjuangan dan peluh disekujur tubuh akhirnya kami berhasil menyelesaikan misi melalui jembatan darurat. (Halah emang misi apa seeeh?) Sungguh melegakan setelah melalui jembatan tersebut, mobil bisa melaju, AC bisa dinyalakan kembali…Thx God…Jam 4 sore kami berhasil mencapai danau Singkarak. Di Singkarak kebetulan ada teman kantor abang iparku, maka kami mampir sejenak ke rumahnya untuk numpang sholat sekalian melepas lelah sekalian berhari raya. Lumayanlah…Oh ya sewaktu kami mampir di sini, temanku itu menelpon lagi dan ku perkenalkanlah dia dengan kakak perempuanku. Kali ini dia tidak memberikan kuis spt pada para turbulentor, tapi menjelaskan kepada kakakku kalo dia tertarik dengan tulisanku yang ada di blog, lebih tepatnya telah jatuh cinta dengan tulisan-tulisanku di blog (trus sama penulisnya juga kayanya)…hua..ha..ha…aku sebenarnya heranlah ada orang yang bisa jatuh cinta melalui tulisan, padahal sama sekali belum pernah bertemu dengan penulisnya. Kalo sekedar senang atau tertarik, okelah ya. Tapi fall in love? Oh no man….its very weird…Aku sebagai penulisnya saja heran, gimana dengan kakakku. Dia tersenyum-senyum saja sewaktu bercakap-cakap via telpon dengan temanku itu. Tentu saja kakakku senyam senyum, soalnya kakakku sama sekali tidak pernah membaca apa yang ku tulis di blogku. Bahkan tidak ada satu orang pun dari anggota keluargaku yang akan tau kalau aku punya blog jika aku tidak memberi tahu. Selain itu walau sudah ku beri tau, aku jamin 1000% tidak satupun anggota keluargaku yang pernah membaca tulisanku. Mungkin dalam hati kakakku orang ini sedang ngombal, minimal sedeng…ha..ha..ha…ha… (sorry jika ada yang merasa tersungging…tapi aku yakin tidak ada yang tersungging).
Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Danau Singkarak nan elok cuma kami pandangi dari atas mobil. Kami hanya berhenti sebentar untuk memotret 3x klik. Tadinya kami berniat untuk mampir sebentar di rumah sepupu abang ipar di Padang Panjang, tetapi karena senja mulai merambat niat ini dibatalkan dan kendaraan terus melaju ke kota Bukittingi. Mendekati kota Bukittingi tepatnya di Padang Luar terlihat antrian panjang kendaraan. Muacet berat. Onde Mande…iyolah sabana rami urang-urang di Bukiktinggi ko. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di rumah makan Samba Lado. Kami makan malam karena perut sudah keroncongan. Rumah makan ini juga banyak pengunjungnya dan sepertinya pelayannya juga sudah kelelahan melayani para pengunjung, sehingga kami sedikit agak terlantar. Permintaan ayam goreng tambahan diabaikan. Sebenarnya mau marah, tapi berusaha untuk maklum, mungkin uda nan dimintai tolong alah panek seharian bakarajo melayani urang nan datang ka kadainyo ko. Kami juga menunaikan sholat magrib di rumah makan ini. Setelah itu perjalanan dilanjutkan mengikuti parade mobil menuju Bukittinggi. Asli kemacetan lalu lintas menuju pusat kota Bukittingi arah jam gadang sangat parah. Alhamdulillah hotel kami tidak terletak di kawasan jam gadang, sehingga kami bisa berbelok arah ke aur kuning untuk menuju hotel. Jam 19.30 setelah perjuangan panjang nan melelahkan kami berhasil mencapai hotel dan langsung tewas. Kesimpulan: Hari ini hanya mengukur jalan seharian. Tidak ada objek wisata yang dikunjungi dan dinikmati.
Selasa pagi, 16 Oktober 2007. Rencana semula kami akan balik ke Pekanbaru hari ini, tetapi karena kemarin hanya mengukur jalan, kami memutuskan untuk extend 1 hari lagi. Di pagi yang gerimis kami memulai petualangan hari ini menuju puncak Lawang. Puncak Lawang adalah tempat start / take off para pemain terbang layang (gantole) dan lokasinya tidak terlalu jauh dari kota Bukittinggi. Walau tidak terlalu jauh kami sempat nyasar ke desa Palembayan. Seingatku desa Palembayan ini kampung temanku si Riri Satria. (Ri, ternyata kampung lu lebih dusun daripada kampung gw ya… Asli sepi dan hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana). Setelah bertanya kepada seorang nenek, akhirnya kami berbalik arah dan berhasil menemukan puncak Lawang. Pada saat itu puncak Lawang tertutup kabut tebal sehingga pemandangan danau maninjau tertutup. Tapi setelah agak lama, kabut berangsur-angsur pergi dan pemandangan danau maninjau mulai terkuak…(kaya misteri aja,, pake bahasa terkuak segala..). Cuaca disini sejuk dan pemandangan indah sehingga membuat perut lapar. Cuma sayang yang jualan tidak menjual makanan hangat. Mereka cuma jualan makanan kering seperti biskuit dan kripik-kripik chiki and chitatos. Ku pikir kurang kreatif kalilah orang kampung puncak Lawang ni. Sudah tau daerahnya dingin, mbok ya jualan baso, soto atau sop atau apalah yang hangat dan mengenyangkan. Minimal jual kacang rebus. Ini malah jualan makanan kering. Manalah asoi makan kaya gitu dipuncak gunung macam ni.
Jam 9.30 akhirnya kami memutuskan untuk turun dari puncak Lawang dan mencari makanan hangat di desa dibawah puncak. Ternyata di desa Matur itu, susah juga cari makan. Yang banyak orang jualan kacang goreng..Aku sampai agak kesal, ku pikir apa orang di sini tidak pernah jajan ya, makannya kacang aja apa? Kok kaya makanan ”saudara tua”ya? Mungkin karena sekarang lagi lebaran, jadi yang jualan juga cuti jualan. Syukurlah akhirnya kami berhasil menemukan kedai baso. Untuk diketahui kalo di Sumbar ini yang jualan baso (disebut miso (mie baso)) bisa dipastikan orang Jawa. Terus antiknya lagi miso di Sumbar biasanya hanya terdiri dari bihun, jarang ada mie kuning. Kayanya mie kuning barang langka di Sumbar.
Setelah itu kami meneruskan tour menuju danau Maninjau dengan menuruni kelok 44. Selama menuruni kelok 44, Reza menutup matanya, tidur. Reza ini tidak tahan jalan berkelok-kelok, dia takut muntah. Sesampai di bawah, kami berhenti di Mesjid Raya Bayua. Mesjid ini sungguh indah arsitekturnya begitu juga landscapenya. Kami berhenti sejenak untuk sholat zuhur. Selesai sholat kami meneruskan perjalanan menyusuri tepian danau lalu berhenti makan siang di sebuah rumah makan. Rumah makan ini ramai pengunjung. Salah satu rombongan keluarga pengunjung membawa ”saudara tua” berbulu hitam dan diberi pampers. Saking ramenya pengunjung pelayanan disini juga kurang maksimal. Sama seperti rumah makan lain yang kami kunjungi selama tour de West Sumatra. Teh es tidak dingin, minta tambahan kripik rinuak, kripiknya habis. Alasannya ikan rinuak mahal (Rp 20.000/kg) dan karena lebaran, nelayan cuti melaut. Selesai makan siang kami melanjutkan perjalanan. Rencana awal kami mau melewati Painan untuk menuju Bukittinggi, tapi karena takut kesorean memasuki kota Bukittinggi, kami membatalkan rencana tersebut.
Jam 15.30 kami memasuki kota Bukittingi, hujan deras mengguyur kota ini dan lalu lintas macet. Rencana ingin ke pasar ateh dibatalkan dan kami kembali ke hotel. Sesampai di hotel kami sholat ashar. Ternyata setelah sholat, hujan agak reda dan kami memutuskan untuk ke pasar dengan berjalan kaki. Ternyata pasar tumpah ruah dengan pengunjung. Sama sekali tidak nyaman untuk berbelanja, sudahlah padat, becek pula. Niat membeli krupuk-krupuk untuk oleh-oleh dibatalkan. Di pasar ini kami hanya membeli kalung grafir untuk 3 kurcaci. Aku juga lumayan beruntung berhasil membeli titipan saudara yaitu klenengan sapi ganda. Tapi aku juga membeli 2 genta tunggal yang menyerupai lonceng, yang kemudian satunya ku berikan kepada temanku. J
Jam 17.00 kami sudahi acara shopping dan mencari ATM karena sudah kehabisan dana. Di dekat gerai ATM ada yang jualan es krim. Walau cuaca rintik-rintik yang namanya es krim sulit dihindari.
Para
kurcaci minta dibelikan, dan kebetulan ice cream is one of my favorite meal. Setelah dari ATM kami menuju kampuang Cino untuk mencari makan malam. Di rumah makan ini kakakku dan 3 anaknya memilih mie goreng, aku memilih lotek. Rasa loteknya lumayan, tapi gara-gara sudah makan es krim, kenikmatannya berkurang. Akan tetapi mie gorengnya tidak begitu enak kata kakakku. Alah tagang mie nyo…Selanjutnya kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Mira, kurcaci terkecil, mengeluh capek..tapi toh akhirnya Mira mampu bertahan sampai hotel, karena semua juga capek dan tak ada yang sanggup menggendongnya. Sesampai di hotel, mandi terus ke pulau kapuk.
Rabu, 17 Oktober 2007. Hari ini adalah hari ulang tahun ayahku. Jam 7.30 kami check out dari hotel untuk menuju Pekanbaru. Udara cerah berawan. Kami sempat sarapan pagi yang ke dua kalinya di kota Payakumbuh. Disini kami makan lontong gulai paku. Ngeri kali ya makanan orang Minang, paku sampai di gulai lalu dimakan. Ku pikir ini ada hubungannya dengan asal usul orang Minang. Konon menurut sejarah, orang Minang itu turunan dari Bundo Kanduang (ya iyalah, mana ada juga orang turunan ibu tiri, dah pasti dari bunda kandung). Bundo Kanduang punya anak namanya Cindua Mato dan Cindua Mato punya kuda yang hebat bernama Gumarang. Tau tidak, Bundo Kanduang sekeluarga adalah orang Bunian. Orang Bunian itu…..adalah makhluk halus…hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii seram kali lah…Makanya makannya paku..ha…ha..ha..ha…just kidding…paku adalah sayur pakis..dan rasanya eunak tenan… Dari semua makanan yang ku telan selama di tour de Sumatra selama 3 hari, baru inilah makanan yang badaso di lidah ambo. Selain tu lalu se rasonyo.
Dalam perjalanan kami mampir di Lubuk Bangku untuk membeli oleh-oleh krupuk khas Sumbar. Sesampai di Rimbo Data tempat longsor, ternyata ada truk yang mogok di puncak tanjakan. Untung lalu lintas sepi, jika tidak, sudah dapat dipastikan akan terjadi kemacetan lagi. Jam 11.00 kami sudah berada di daerah Riau. Karena hari masih siang, kami memutuskan untuk mampir ke situs sejarah yaitu Candi Muara Takus. Candi ini terletak di kecamatan XIII Koto Kampar. Kebetulan kami memang belum pernah melihat candi ini. Ada cerita lucu. Sewaktu kami akan berbelok menuju arah candi, kami sempat bertanya dengan seorang anak muda tentang jarak candi dari jalan raya. Dia bilang kira-kira 2 km. Kami pikir dekatlah itu. Ternyata para pembaca yang budiman……………. anak muda itu tidak punya meteran. Sudah 12 km, lokasi candi belum ditemukan. Aktualnya jarak candi ke jalan raya kira-kira 17 km. Sepanjang jalan menuju candi banyak anak-anak muda minta sumbangan yang tidak jelas. Kasian kali anak-anak muda ini ya.. Apa tidak ada lagi pekerjaan yang lebih terhormat daripada minta-minta pada kendaraan yang lewat. Mana kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari. Sekalian dong mintanya di jalan raya Bangkinang, pasti lebih banyak yg bisa dimintai, tanggung amat. Candi Muara Takus ini peninggalan kerajaan Hindu terlihat dari arsitekturnya (Gw sok tau kali ya…Kalo ga kerajaan Hindu ya Budha lah..tapi kayanya Hindu sih). Pada saat kami sampai di lokasi udara sangat panas..jadi tidak nyaman. Dan sewaktu melihatnya, abang iparku berkomentar…”Ooooh cuma itu doang, Seonggok batu”…ha..ha..ha… tertawalah aku..ya iyalah…Dimana-mana candi di seluruh dunia memang cuma tumpukan batu. Mau kaya apa lagi..Candi borobudur yang termasuk keajaiban dunia juga kumpulan onggokan batu, cuma gede aja…Akhirnya setelah bergaya se klik, dua klik kami meninggalkan kawasan ini yang juga merupakan tempat gusuran ’korban” PLTA Koto Panjang. Dibilang korban, karena untuk membuat PLTA ada sekitar 13 desa yang ditenggelamkan untuk dibuat danau buatan. Lalu mereka dipindahkan ke daerah ini. Tapi keliatannya mereka tidak betah tinggal disini. Hal ini terlihat dari beberapa rumah yang ditinggalkan terlantar oleh pemiliknya. Daerah ini sangat sepi. Candi Muara Takus tidak dikelola secara profesional oleh pemda Riau. Mbok ya dibuat apa gitu supaya orang bisa berlama-lama di daerah wisata ini. Sehingga bisa menumbuhkan perekonomian warga setempat. Kayanya pemda Riau dan pemda Sumbar setali tiga uang. Tidak bisa menghargai apa yang dimiliki. Karena tidak bisa menghargai, jadi tidak bisa menjual juga sesuatu yang berharga yang dimilikinya itu. Ga kaya negeri jiran Malaysia. Barang jelek aja bisa mereka kemas sedemikian rupa, sehingga seolah-olah bagus, lalu mereka iklankan lah. Trus banyak pula orang Indonesia yang tertipu dan membelinya. Setelah datang ke sana, komentar kita..oooooooo cuma gitu doank..Masih bagusan kampung gw. Mana asli lagi, disana kebanyakan obyek wisatanya artifisial. Kayanya kita perlu banyak belajar bagaimana mengelola asset bangsa yang berharga ini sehingga bisa mendatangkan kemakmuran buat bangsa. (Halah ngapain juga gw pikirin ya. Emangnya gw mau nyalonin diri jadi DPRD Riau atau Sumbar gitu? Anggota DPRD aja ga mikirin).
Setelah dari candi Muara Takus kami makan siang di rumah makan Mira Sari yang letaknya tak terlalu jauh dari lokasi candi, tepatnya di Rantau Berangin. Wah disini aku sangat puas dengan makanannya. Ada udang sungai, ada ikan sungai, ada samba lado, ado pucuak ubi, dan ada krupuk kesenangan Reza yaitu Karupuak Jariang…Reza suka malu-malu, padahal dia suka sekali dengan jariang crispy ini. Inilah makanan terlezat selama tour 3 hari ini. Riau still is the best for food…Jam 13.30 kami sholat zuhur di Mesjid Raya Bangkinang. Jam 15.30 kami sudah mendarat di rumah pekanbaru… Happy birthday Dad…
SEKIAN