HIDUP, KEHIDUPAN, MAKNA HIDUP
vs
UANG, MANUSIA SEJATI
Inspired by: Dik Doank
( Minggu, 30 Maret 2008)
”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (Al Munaafiquun 9)
”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar” (Al Anfaal 28)
”(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: ”Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. ”Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu”. (Shaad 31-33)
”Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (Al Kahfi 7)
”Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberi Nya kesenangan, maka dia berkata: ”Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata ”Tuhanku menghinaku”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil). Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (Al Fajr (15-20)
Dunia akan tersenyum jika engkau tersenyum. Dunia akan tetap tersenyum, jika engkau menangis (bukan karangn gw, gw pernah baca tapi ntah dimana)
Sesungguhnya kebahagian sejati adalah apabila kita mampu membuat orang lain tersenyum (karangan gw dari hasil survey kehidupan sehari-hari)
Senyum Tuhan ada pada senyuman kaum Duafa. (Karangan gw, yang gw yakini. Adaptasi dari ”Vox Populi, Vox Dei)
Manusia sejati adalah manusia yang paling banyak membuat manusia lain tersenyum (Karangan gw, adaptasi dari: ”Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang banyak manfaatnya bagi orang lain”)
Setiap tarikan nafas, denyut nadi, tetes darah dalam kehidupan tak lain adalah barokah sekaligus cobaan (karangan gw)
Hidup bagaikan dua sisi mata uang (Wisdom of the street)
Money is not everything but everything needs money (Wisdom of the street)
PENDAHULUAN
Hari ini harian Kompas Minggu menurunkan artikel yang berjudul “Kandang Dik Doank yang membebaskan”. Berikut cuplikan artikel tersebut:
“Bagi Dik Doank, kandang adalah symbol pembebasan. Kandang tanpa isi binatang peliharaan, maknanya adalah cinta yang membebaskan. “Kalau kita cinta kepada binatang, kita harus membiarkan binatang itu hidup di alam bebas,” kata Dik Doank….”
“Di Kandank Jurank Doang, Dik Doang mendidik sekitar 2500 anak untuk belajar mencari ilmu. Ilmu yang diajarkan tidak ada kurikulumnya. Anak-anak diajak bermaindan didorong untuk mencipta. Pelajaran utamanya adalah menggambar. Menurut Dik Doank, menggambar adalah salah satu bentuk proses mencipta”
“Dengan merelakan halaman depan rumahnya sebagai ruang public untuk anak-anak, Dik Doank merasa bisa menemukan kebahagiaan sejatinya. “Bahagia adalah bisa berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain”. Tutur Dik Doank
”Dengan segala materi yang dimiliki, Dik Doank mencoba hidup bersahaja. Ia bahkan tidak lagi memiliki mobil pribdi. Sebuah mobil kecil berwarna kuning yang terparkir di garasi adalah milik istrinya. “Saya tidak punya mobil lagi. Kalalu ada acara, saya selalu minta dijemput oleh penyelenggara.”
Pada pagi dan hari yang sama, sebuah stasiun televisi menurunkan berita mengenai pidato Presiden dan wawancara Wakil
Presiden
RI
(= Republik Ini J ). Dalam pidatonya
Presiden
RI
mengungkapkan rasa keprihatinannya terhadap harga minyak tanah, minyak goreng dan kebutuhan pokok yang terus meningkat sehingga menyengsarakan rakyat kecil. Setelah itu televisi tersebut juga menayangkan wawancara dengan
Wapres
RI
. Dalam wawancara tersebut wapres RI mengatakan bahwa kenaikan harga-harga saat ini mengindikasikan bahwa semakin banyaknya uang yang beredar di tangan rakyat kecil.
Tiga berita ini terus terang menggelitik hatiku. Berita Dik Doank membuatku merenung akan hidup, kehidupan dan makna hidup. Pidato presiden sebenarnya adalah pidato yang biasa-biasa saja karena memang tugas seorang presiden mengatur dan menyelamatkan perekonomian bangsa yang notabene akan menyelamatkan banyak anak bangsa. Dalam hati, aku hanya berharap, mudah-mudahan
Presiden
RI
akan melakukan suatu tindakan atas rasa prihatinnya itu, jangan hanya sekedar prihatin semata melihat semakin banyak orang yang sengsara. Tapi yang paling membuatku muangkel dan akhirnya mengeluarkan kata-kata yang cukup kasar sampai suamiku kaget mendengarnya adalah pernyataan
Wapres
RI
. Bagaimana tidak muangkel berat, bisa-bisanya seorang pejabat negara mengatakan bahwa kenaikan harga-harga saat ini mengindikasikan bahwa semakin banyaknya uang yang beredar di tangan rakyat kecil. Terus terang aku kecewa berat dengan Wapres ini, sekaligus merasa putus asa, pantesan negara ini ga pernah beres. Boro-boro beres, yang keliatannya malah makin parah keadaannya. (Aku menggunakan kata keliatan karena memang hasil penglihatan semata, aku tidak melakukan pemeriksaan terhadap data statistic indicator kemajuan sebuah negara seperti kenaikan income per capita, Gross National Product (GNP), Gross Domestic Product (GDP) atau Gross National Happiness (GNH). Tapi aku yakin jikalau pun dilakukan pemeriksaan terhadap indicator-indikator tersebut hasilnya akan sama dengan hasil survey kasat mata. Yang jelas pendapatan per kapita sekarang kalaupun tidak turun yang jelas tidak lebih baik, Karena tidak lebih baik, dengan kenaikan inflasi yang sangat tinggi membuat daya beli (purchasing power) masyarakat semakin menurun. (Buktinya semakin banyak ibu-ibu yang mengeluh soal belanja dapur). Kalau data GNP dan GDP aku memang tidak punya. Tapi kalau mau tau tinggal klik internet juga tau. Tapi malas lah nengoknya. Ga ngaruh dengan kehidupan gw. Sedangkan untuk indeks kebahagiaan nasional (GNH), haqqul yaqin makin buruk karena makin banyak orang yang merasa tertekan dalam hidup ini karena semakin terpuruknya kehidupan perekonomian mereka. Untuk melihat indeks yang satu ini tidak perlu susah payah, cukup baca Koran saja. Dari berita TV maupun Koran baru-baru ini diberitakan ada beberapa ibu yang membunuh anaknya. Di dunia ini normalnya seorang ibu akan berbuat apa saja untuk membahagiakan anak-anaknya. Tapi kenapa kok ada ibu yang tega membunuh anaknya. Pasti ada yang salah. Keras dugaan bahwa ibu-ibu tersebut menderita gangguan jiwa. Kenapa jiwa ibu-ibu itu terganggu? Kuat dugaan juga karena tekanan ekonomi. Jadi kesimpulannya? …..Ya betul, makin banyak orang yang tidak bahagia..
HIDUP, KEHIDUPAN
Sebuah kehidupan dimulai pada saat Sang Pencipta meniupkan ruh kedalam janin yang sedang dikandung seorang perempuan. Peniupan ruh tersebut diperkirakan sekitar 120 hari kehamilan, pada saat itu dinyatakan janin tersebut hidup, sehingga menurut kode etik kedokteran praktek aborsi tanpa alasan kuat yang dilakukan setelah 120 hari sama dengan sebuah pembunuhan (kalo ga salah ni ye). Pada saat seorang perempuan mengetahui ada kehidupan yang tumbuh di dalam rahimnya, biasanya perempuan akan berusaha sebaik-baiknya menjaga kehidupan tersebut dengan makan minum yang bergizi, tidur yang teratur dan berusaha menjaga emosi. Selain itu ada juga perempuan dalam masa kehamilan yang menambahkan asupan gizi rohani untuk janin yang dikandungnya, misalnya dengan lebih rajin beribadah, menjaga perkataan, mendengarkan musik klasik dan lain sebagainya. Semua ini dilakukan untuk menjaga agar janin tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik kemudian bisa lahir dengan selamat dan sehat,dan kelak bisa jadi manusia sejati.
Setelah janin tersebut lahir, maka dimulailah babak baru dalam kehidupan seorang anak manusia. Dia tidak lagi terlindungi secara sepenuhnya sebagaimana sewaktu masih dalam rahin ibunda. Sedikit demi sedikit dalam fase kehidupannya dia belajar memenuhi kebutuhan hidupnya. Seluruh fase kehidupan seorang anak manusia adalah fase belajar dan pembelajaran dari kehidupan. Ada yang berhasil belajar, ada yang sama sekali tidak mampu menarik pelajaran dari pahit getirnya kehidupan yang dialaminya, apa lagi yang dialami oleh orang lain. Sungguh sangat merugi orang seperti itu. Orang-orang yang mempunyai kemampuan belajar dari kehidupan pada akhirnya akan menemukan makna hidup dan kehidupan dan pada akhirnya kalaupun tidak menjadi manusia sejati, minimal akan lebih manusiawi daripada yang tidak atau gagal belajar dari kehidupan.
Apakah orang yang gagal belajar dari kehidupan pasti adalah orang yang tidak pernah mengalami pahit getirnya kehidupan? Apakah yang bisa belajar hanya orang-orang yang pernah merasakan pahitnya kehidupan? Apa indikator sebuah kepahitan? Apakah menjadi anak orang kaya, sukses berkarir berarti tidak ada kepahitan dalam hidup?
Hidup bagaikan dua sisi mata uang. Ada susah, ada senang. Ada sakit, ada sehat. Ada miskin ada kaya. Ada tua, ada muda. Ada hidup ada mati. Setiap manusia pasti akan merasakan senang susahnya kehidupan dalam kadar dan variasi yang beraneka ragam. Tidak ada orang yang senang terus dan sebaliknya tidak ada orang yang (perasaannya) susah terus. Apakah orang yang berkecukupan materi hatinya akan senang terus? Tentu saja tidak. Harta bukan jaminan hati akan bahagia. Sebaliknya apakah seorang gelandangan, gembel dijalanan tidak pernah tertawa bahagia? Jangan-jangan malah lebih sering daripada orang yang memiliki uang trilyunan. Kok bisa? Ya bisalah…Gelandangan, anak gembel dapat uang Rp 500 saja sudah senang, apalagi kalau ada pembagian nasi bungkus, lebih senang lagi. Anak-anak ojek payung, bergembira sewaktu hujan turun, karena berarti ada rezeki. Untuk bisa tidur, mereka tidak perlu pikir panjang, bentangan bumi adalah kasur mereka, langit adalah atap rumah mereka. Bintang dan bulan adalah penerang mereka. Mau mandi sauna, tidak perlu repot ke spa, wong tiap hari mandi sauna. Tiap hari berkuah diterpa sengatan matahari. Mau berjemur, tidak usah ke Bali, tiap hari sudah berjemur kok. Sementara manusia dengan harta trilyunan mungkin bisa membeli semua yang ada di muka bumi ini, tapi belum tentu berbahagia, karena kebahagiaan tidak bisa dibeli. Seperti kata orang bijak, anda mungkin bisa membeli makanan mahal, tapi anda tidak bisa membeli nikmatnya makanan. Anda mungkin bisa membeli kasur termahal, tapi anda tidak bisa membeli tidur yang nyenyak. Maybe you can buy a house, but you can not buy a home. (Terpaksa pake English, aku tidak tau padanan kata house dan home dalam bahasa
Indonesia
. Dua kata tersebut diartikan rumah, tapi mempunyai makna yang berbeda dalam bahasa inggris). Anda mungkin punya banyak teman, banyak relasi, tapi belum tentu anda punya sahabat.
Terus apa hubungan hidup bagaikan dua sisi mata uang dengan kemampuan belajar dari kehidupan? Sangat erat hubungannya. Karena hidup bagaikan dua sisi mata uang, jadi setiap manusia pernah mengalami masa susah dan masa senang. Masa bahagia dan masa menderita. Tidak perduli dia kaya atau dia miskin secara materi, karena susah dan senang, pahit getir, tidak selamanya terkait dengan materi. Bahagia menderita adalah masalah hati. Oleh karena itu setiap manusia pada hakikatnya punya kesempatan untuk belajar dari kehidupan. Persoalannya tinggal pada manusia tersebut, apakah dia mau berusaha untuk menarik hikmah, menarik pelajaran dari setiap fase kehidupannya atau tidak. Sewaktu masih kecil, tugas orang tualah untuk mengajarkan anak-anaknya untuk belajar mengenai kehidupan, sehingga setelah dewasa mereka akan mampu belajar mandiri mengenai kehidupan. Tugas orangtualah untuk menyadarkan anak-anaknya sekaligus dirinya sendiri bahwa setiap tarikan nafas, denyut nadi, tetes darah dalam kehidupan tak lain adalah barokah sekaligus cobaan Dan kita harus dapat mengambil pelajaran dari setiap barokah dan cobaan hidup yang kita alami. Menjadi kaya atau menjadi miskin, menjadi pintar atau kurang cerdas, mempunyai tubuh yang sempurna atau tubuh cacat adalah barokah sekaligus cobaan, tergantung bagaimana kita memandang dan memanfaatkan sesuatu yang sudah menjadi bagian kita tersebut.
MAKNA HIDUP vs UANG
Jika seseorang ditanya “Apa tujuan hidup mereka?”. Pasti secara naluri akan menjawab, “Ingin hidup bahagia lahir batin. Ingin hidup bahagia dunia dan akhirat”. Untuk tujuan hidup mungkin bisa dikatakan jawaban hampir seragam yaitu : Hidup Bahagia. Akan tetapi setiap orang menempuh jalan yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan hidup mereka tersebut. Setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda dalam memaknai arti kata bahagia.
Ada
yang mengartikan bahagia berarti mempunyai banyak uang atau sukses dalam berkarir atau punya banyak rumah, banyak perusahaan, atau punya pasangan yang cantik atau tampan atau punya keturunan yang hebat-hebat. Tapi ada juga yang mengartikan kebahagian adalah jika dapat membahagiakan orang lain…Pemaknaan terhadap kosa kata bahagia biasanya sangat erat dengan kemampuan belajar dan menarik pelajaran dari kehidupan.
Menurut teori Maslow, kebutuhan manusia dibagi dalam 5 tingkatan. Kebutuhan paling bawah adalah kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fisik (physical needs) yang merupakan kebutuhan dasar dan yang tertinggi adalah kebutuhan aktulisasi diri. Orang-orang dengan ekonomi pas-pasan biasanya bekerja untuk kebutuhan dasar. Semakin baik tingkat ekonomi seseorang, maka kebutuhannya pun akan meningkat. Sehingga akhirnya pada saat seseorang sudah mapan secara ekonomi, dia akan bekerja bukan untuk mencari uang tapi untuk aktualisasi diri. Jadi dilihat teori tersebut dapat kita simpulkan bahwa orang dengan tingkat ekonomi pas-pasan mungkin sudah cukup berbahagia jika kebutuhan dasarnya dapat terpenuhi dengan baik. Sebaliknya orang dengan ekonomi mapan baru bisa berbahagia jika dapat mengaktualisasi dirinya dengan baik. (Teori ini sebenarnya banyak mendapat kritik bahkan Maslow pun menjelang akhir hayatnya merevisi teori ini. Soale kebutuhan keempat adalah harga diri (self esteem). Masak kita kudu nunggu kaya dulu terus baru mikirin harga diri. Jadi jika teori ini ditelan mentah-mentah seolah-olah semua orang miskin ga punya harga diri dong, ga bisa mengaktualisasikan diri dong. Bisa-bisa banyak yang tersungging ntar neh. Lagian ajang aktualisasi diri juga dah banyak, kaya ikut KDI dangdut, ikut kontes idol-idol lainnya yang lama-lama emang bikin kita jadi pada dodol…hua..ha..ha..3x)
Cara tiap orang untuk mengaktualisasi diri juga berbeda-beda. Karena pada umumnya orang-orang yang sudah sampai tingkat ini adalah orang-orang kaya, maka uang bukanlah suatu masalah bagi mereka. Dengan uang yang mereka miliki mereka bisa membeli apa saja yang mereka inginkan. Mereka bisa bergaya sesuai zaman, sesuai selera yang mereka suka. Bahkan dengan uang yang mereka miliki, mereka bisa menambah kekayaan mereka. (Ya iyalah..uang tersebut tinggal diinvestasikan lagi, hasilnya buat belanja lagi, belanja lagi..). Tapi ada juga yang mengaktualisasikan diri dengan cara yang jauh dari glamour. Mereka memilih untuk hidup bersahaja, mereka berbagi uang dan harta yang mereka miliki dengan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengan mereka. Dik Doank adalah salah satunya. Seorang manusia bisa memilih menggunakan uang untuk kepentingan pribadinya atau memilih membagi-bagikan uangnya untuk kebahagian orang lain dan secara bersamaan ikut merasa bahagia.
MANUSIA SEJATI
Tidak setiap orang yang lahir di muka bumi ini pantas disebut sebagai manusia apalagi manusia sejati. Banyak manusia yang berperilaku seperti hewan, yang dipikirkan hanya pemenuhan kebutuhan nafsu atau kebutuhan pribadi semata. Dalam bertindak tidak punya nurani, tidak pernah berpikir bagaimana akibat dari perkataan dan perbuatannya terhadap orang lain. Orang-orang seperti ini tidak pantas disebut sebagai manusia. Akan tetapi tidaklah mudah menjadi manusia sejati. Karena itulah Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan 3 hal yi: Akal, Nurani dan Nafsu, agar manusia bisa menjadi manusia yang benar-benar manusia alias manusia sejati. Akal berfungsi untuk mengarahkan hidup manusia, nurani bertindak sebagai kontrol dan nafsu berguna untuk dapat merasakan kenikmatan dunia. Manusia sejati adalah manusia yang dapat bertindak dan bersikap rasional dengan kontrol nurani dan dapat mengendalikan hawa nafsunya dalam setiap denyut nadi dan tarikan nafasnya. (Weih susah kali dong jadi manusia sejati…lah iyalah namanya juga sejati, berarti sempurna kan?). Jika menggunakan definisi ini, ku rasa tidak ada manusia sejati di muka bumi ini, bahkan nabi atau rasul sekalipun mempunyai cacat perilaku. Nabi Musa punya cacat, beliau pernah membunuh seseorang dalam sebuah perkelahian (berarti gagal mengendalikan nafsu amarah pada saat itu), Nabi Sulaiman pernah terpesona dengan kuda-kuda yang dimilikinya sampai hampir melupakan Tuhan seperti tertera dalam surat Shaad 32. Nabi Muhammad juga pernah ditegur Allah, akibat mengabaikan orang miskin yang ingin masuk Islam karena pada saat yang bersamaan beliau sedang berbincang-bincang dengan seorang yang terpandang. Kalau nabi saja bukan manusia sejati 100% bagaimana kita? Tentunya hampir mustahil untuk mengontrol perilaku kita dalam tiap denyut nadi dan tarikan nafas. Mungkin definisi manusia sejati bisa lebih disederhanakan dalam tataran yang bisa diimplementasikan. Untuk itu kita gunakan saja definisi menurut Al Quran yaitu Sebaik-baiknya manusia (manusia sejati)adalah yang paling banyak memberi manfaat pada orang lain. Kosa kata memberi manfaat bisa diterjemahkan seluas-luasnya.
Dik Doank adalah salah satu manusia yang mungkin bisa dikatakan manusia sejati. Dengan media Kandang Juranknya, Dik telah berbagi kebahagiaan. Dik bukan hanya memberikan manfaat pada banyak anak, bahkan lebih jauh dari itu, Dik telah memberikan kehidupan bagi 2500 anak-anak didiknya. Tanpa disadari mungkin apa yang diperbuat Dik, akan banyak manfaatnya bagi republik ini, dimana anak-anak yang dididik dengan orang yang bernurani seperti Dik, kelak besar akan menjadi manusia sejati seperti Dik pula dan akan menyebarkan kebahagiaan kepada lebih banyak orang. Dik dengan harta yang dimilikinya memilih untuk hidup bersahaja, memilih untuk mengorbankan kemewahan yang dimilikinya demi kebahagiaan anak-anak yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya. Dik yang bukan seorang pendidik, bukan seorang pejabat, tapi malah punya nurani seperti pendidik dengan menciptakan kurikulum yang manusiawi, sekaligus bersikap seperti pejabat dengan bukti konkrit berusaha memerangi kemiskinanan melalui perang terhadap kebodohan. Sungguh sebuah kerja yang hebat, tidak semua orang mampu untuk melakukan seperti yang dilakukan Dik walau punya kemampuan finansial. Untuk bisa melakukan seperti yang Dik lakukan tidak hanya dibutuhkan kemampuan finansial, tapi dibutuhkan kekuatan akal dan kekuatan nurani untuk mengendalikan hawa nafsu dari daya tarik gemerlap kehidupan mewah duniawi. Tapi bukan berarti jika kita tidak mempunyai uang banyak tidak bisa menjadi manusia sejati. Uang hanyalah sebuah jalan, sebuah media untuk mempermudah jalan. Pada hakikatnya selama yang kita lakukan, selama yang kita kerjakan itu bermanfaat bagi orang banyak kita sudah berada di jalan yang benar menuju manusia sejati.
PENUTUP
Banyak orang-orang yang gagal belajar dan memaknai hidup dan kehidupannya sehingga seringkali tanpa sadar pernyataan dan perilaku mereka menyakiti bahkan merusak dan merugikan orang lain. Ironisnya seringkali orang-orang seperti ini duduk di posisi-posisi strategis negara ini. Terkadang aku berharap sungguh republik ini akan menjadi tempat layak untuk berdiam apabila semakin banyak orang-orang seperti Dik Doank. Mereka bertindak tanpa harus menjadi pejabat terlebih dahulu. Mereka bertindak tanpa pretensi apa-apa. Mereka bertindak dengan akal dan nurani mereka. Merekalah manusia-manusia sejati yang tampaknya lebih layak memimpin republik ini.