BBM oh… BBM
BBM oh… BBM
by : Hessy Z.S
Akhirnya BBM jadi juga naik lagi karena harga minyak dunia yang terus meroket. Banyak Demo yang menentangnya. Dari ibu-ibu sampai mahasiswa , dari tukang becak sampai mantan ketua MPR menentang kenaikan BBM. Semua tahu bahwa jika BBM naik, dampaknya akan kemana-mana. Ongkos angkot naik, ongkos bis naik,
tempe yang sudah mulai mahal akan semakin mahal, belum yang lain-lainnya, pasti ikut naik juga. Alhasil akan semakin banyak orang yang mendadak jatuh miskin.
Seorang teman di kampus berkata seperti ini: “Sebagai dosen aku mengerti mengapa BBM harus naik, tapi sebagai ibu rumah tangga aku menolaknya.” Aku tersenyum mendengarnya. Ternyata bagi seorang dosen jurusan ekonomi studi pembangunan saja kenaikan BBM sulit diterima, walau theoretically dia paham mengapa harus naik. “Gimana emak tukang pijet di komplekku ya?” dalam hati aku membatin.
Kenaikan BBM sebenarnya bukan barang baru di negari ini. Setiap presiden RI pasti pernah menaikkan harga BBM. Bahkan pernah dalam 1 tahun 3x BBM naik harganya (gile ga tuh??).
Ada lagi teman yang berkata “Kalau setiap harga minyak dunia naik, terus kebijakan presiden adalah menaikkan harga BBM, berarti setiap orang bisa dong jadi presiden. Apa tidak ada cara lain untuk mengatasinya?”. Ku pikir “Benar juga ya. Kalo cuma gitu doang, gw juga bisa dong jadi presiden.”
Diantara berbagai silang pendapat mengenai kenaikan BBM, yang paling menarik perhatianku adalah pendapat seorang pakar ekonomi di radio Ramako. Ku pikir pendapat beliau ini sangat perlu di perhatikan oleh para pejabat terkait. (Kalo bukan pejabat, paling ga buat kita-kita rakyat Indonesialah. Biar ga dibego-begoin terus ama yang pro kenaikan harga BBM. ceile..gaya kali…)Begini katanya:
“Sebenarnya kenaikan harga minyak dunia tidak harus berimbas dengan mengurangi subsidi harga minyak dalam negeri. Kenapa? Ternyata pengurangan subsidi tersebut adalah akibat utang-utang negeri ini terhadap negara-negara donatur. Orang yang berutang akan terikat kepada krediturnya, akan membuat tidak mandiri dalam mengambil keputusan. Itulah yang terjadi di negeri ini. Yang lebih menyedihkan ternyata negara ini telah membayar utangnya melebihi utang pokok yang ada. Semua itu gara-gara system riba alias bunga (terbukti system riba tidak baik). Untuk membayar bunga pinjaman, pemerintah menerbitkan obligasi negara yang notabene juga menggunakan system bunga. Harga minyak yang naik, menyebabkan subsidi BBM juga membengkak, sehingga dibilang memberatkan APBN. Nah menurut ekonom tersebut, jika kita tidak punya utang, sebenarnya Negara masih mampu menanggung subsidi BBM. Tapi gara-gara utang yang tak kunjung selesai tersebut (walau sudah membayar melebihi hutang pokok), subsidi rakyatlah yang harus dikorbankan. (Sungguh terlalu….)
Selain itu sekarang
Indonesia sudah menjadi pengimpor minyak dan sedang bersiap-siap untuk keluar dari OPEC. Ini juga gara-gara salah urus. Produksi minyak
Indonesia berada dibawah kebutuhan minyak dalam negeri, sehingga kita harus mengimpor minyak dari luar. Kata pengamat tersebut semua ini terjadi gara-gara UU Migas yang ada. Sebenarnya kapasitas produksi minyak dalam negeri melebihi produksi actual. Kapasitas produksi negara ini melebihi kebutuhan dalam negeri. Sebenarnya kita masih bisa mengekspor minyak. Tapi mengapa yang terjadi sebaliknya? Ya itu, UU Migas. UU Migas memberikan kewenangan sepenuhnya bagi pengelola untuk menentukan jumlah produksi. Seperti kita ketahui, ladang-ladang minyak negeri ini banyak yang hak pengelolaannya sudah dijual ke pihak asing dan pihak asing tersebut hanya mau berproduksi sebesar yang dia inginkan, bukan sebesar kebutuhan negara ini. Kita maklum dong ama pola pikir tukang jual. Yang penting mana yang menguntungkan mereka aza kan? Sekarang akibat kebijakan yang tidak bijak itu, beginilah nasib kita. (Itulah akibat menyalahi UUD 45 pasal 33 ayat 3. Masih pada ingatkan isinya? Bumi, air dan kekayaan alam yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negera. BBM itu
kan menguasai hajat hidup orang banyak bukan? Kenapa dijual-jualin ya? Yang ada orang asing pada buang hajat semua disini he..he..he…) Trus kita kebagian apa coba? Harusnya kan jika harga minyak membumbung tinggi, kita sebagai salah satu negeri yang dianugerahi minyak bumi oleh Sang Pencipta harusnya ikut menikmati dong..Tapi ini????
Sebagai pembanding, Malaysia dengan Petronasnya yang merupakan pemain baru di dunia perminyakan tidak terlalu susah-susah amat dengan kenaikan harga minyak dunia. Harga premium di sana jauh..jauh…lebih murah dari disini. Jika di kurs hanya Rp 3500 per liter..Bandingkan dengan Rp 6000 per liter di Indonesia..Berapa sih ladang minyak Petronas itu? Negeri ini sibuk menjual-jual sumber daya dalam negeri…sementara Petronas sibuk membeli-beli sumber daya…Malaysia sibuk berinvestasi…Kita sibuk jualaaaaaaaaaaan…….. Menjual bangsa ini…(Mau jadi apa sebenarnya negeri ini ha???)
Kata bapak Andi Malarangeng di tipi “Sudah saatnya kita mensubsidi orang, bukan mensubsidi barang”…. Tapi kok kayak-kayaknya model mensubsidi orang ini tidak mendidik ya…trus ku pikir-pikir kok seperti merendahkan harkat dan martabat manusia ya…Kesannya gimana gitu loh kalo nrima BLT….ga diterima gimana, kalo diterima ya kurang…Alangkah lebih baiknya iklim kesempatan berusaha yang diperbaiki..Orang akan lebih senang memakan hasil keringat dan jerih payah dari pada hasil kasihani, even yang mengasihani adalah Negara.. Trus lagian Rp 100.000 per bulan itu ya ndak cukup la yaw. Kenaikan harga barang yang diakibatkan oleh kenaikan harga BBM
kan lebih dari Rp 100.000. Memang sih yang banyak menikmati subsidi BBM adalah kalangan menengah atas…tapi
kan yang paling terhimpit, paling menderita akibat kenaikan harga BBM adalah warga menengah ke bawah. Mau berusaha juga susah…Mo jualan, ga ada modal. Untuk makan aja dah syuysah. Kalopun bisa dagang kecil-kecilan, yang beli juga dah sulit uang…yang ada modalnya abis juga….
Ada yang bilang, kemiskinan di
Indonesia adalah kemiskinan struktural, karena pola pikir rakyatnya yang salah…Makanya kemiskinan sulit diberantas di negeri ini. Kalo ku liat-liat dan ku pikir-pikir, kayanya bukan pola pikir rakyatnya yang salah, bukan rakyatnya yang malas. Jangan-jangan yang betul adalah kesalahan pola pikir para pengatur negeri ini, atau para pengatur negeri ini yang malas berpikir ? Wallahualam bi sahwab
Note: Selalu ada cahaya ditengah kegelapan….