TOUR DE GONTOR
TOUR DE GONTOR
By : Hessy Zainal
Rabu, 7 Mei 2008
Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yang berilmu (Ali Imran 152)
Dan janganlah kau tinggalkan keturunan yang lemah di belakangmu (Hadits apa Quran ya?)
Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat (Hadits)
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan; “ Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (Al-Mujaadilah 11)
Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penerangan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan pelajaran bagi orang yang bertakwa. (An Nuur 34)
Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun (An Nuur 40)
Every road has ended. Every problem has solution at the end. (Karangan gw)
PROLOG
Di dalam sebuah mobil yang sedang parkir di depan kantin, Fiza menangis terisak-isak sambil memegang dan menarik-narik ujung bawah baju ayahnya yang baru saja datang dari
Jakarta .
“Papa, pokoknya Fiza sudah bete. Fiza mau jalan-jalan. Papa minta izin sama ustadzah” begitu rengekan Fiza pada ayahnya
“Lantas apa alasan yang harus papa katakan pada ustadzah?” Tanya ayahnya
“Terserah papa. Bilang aja Fiza mau mau dibawa ke dokter.” Jawab Fiza
“Itu
kan namanya berbohong Fiza. Papa tidak suka berbohong. Jauh-jauh papa menyekolahkan Fiza disini agar Fiza bisa jadi orang yang baik. Sekarang kok malah menyuruh papa berbohong kepada ustadzah. Papa tidak mau” sergah ayah Fiza
Rengekan Fiza semakin menjadi-jadi. Fiza tidak perduli dia menjadi tontonan para adik kelasnya. Dibenak Fiza yang ada hanyalah bagaimana caranya bisa keluar sejenak melepaskan stress di luar pesantren.
Di teras Bapenta, Upik menekuk mukanya dan matanya merah sembab, karena air mata. Upik terlihat berusaha keras menahan tangis sambil mendengarkan petuah-petuah ayahandanya. Upik sudah tidak tahan lagi tinggal di pesantren. Upik ingin pulang dan tak kembali lagi ke pesantren.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan hal yang penting dalam hidup manusia. Manusia yang tidak mendapatkan pendidikan ibarat manusia yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh cahaya dalam hidupnya. Ibarat berjalan dalam kegelapan malam nan kelam, berjalan tanpa arah tujuan yang jelas,. Ibarat berjalan ditengah hutan belantara tanpa tongkat, peralatan dan senjata untuk bertahan hidup,. Ibarat berlayar di tengah lautan tanpa kompas penunjuk arah, tanpa perahu yang kuat untuk menahan topan, badai dan ombak yang dahsyat. Sungguh sebuah perjalanan yang mengerikan, penuh risiko dan berbahaya. Perjalanan hidup seperti itu adalah tragedi dalam sebuah kehidupan. Tidak ada orang yang ingin melakukan perjalanan sedahsyat itu dalam hidupnya.
Pendidikan atau ilmu itu penting, semua orang tahu tapi tidak semua orang menyadarinya secara penuh apalagi tau dengan pasti pendidikan atau ilmu apa yang dibutuhkan untuk dapat bertahan hidup apalagi untuk meningkatkan hidup. Oleh karena itu banyak sekali orang mengalami kegagalan dalam hidup ini atau orang yang stagnan dalam hidupnya. Kegagalan atau keberhasilan yang dimaksud disini bukan bersifat materi tapi lebih luas dari itu. Karena bisa jadi sebuah kegagalan adalah sebuah proses pembelajaran dalam hidup, sehingga pada akhirnya meningkatkan kualitas manusia tersebut. Setiap orang pasti pernah ditimpa kegagalan, tapi bukan kegagalan tersebut yang menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana manusia tersebut mengambil hikmah atau pelajaran dari kegagalan tersebut, kemudian bangkit dari kegagalan tersebut. Kegagalan seperti ini berarti ibarat masuk sekolah, diuji, kemudian lulus dengan nilai memuaskan. Sebaliknya jika seseorang ditimpa kegagalan, dan tidak pernah bangkit lagi, ibarat masuk sekolah, diuji, kemudian tinggal kelas, bahkan bisa jadi diturunkan kelasnya karena tidak mampu memahami ”ilmu” yang sedang diberikan oleh ”Sang Invisible Hand”.
Sewaktu seorang anak manusia masih kecil, dia membutuhkan bantuan untuk menentukan pendidikan apa yang terbaik untuknya. Ilmu apa yang seharusnya dia pelajari. Ilmu apa yang seharusnya dia kuasai dengan baik. Disinilah peran orang tua. Orang tua adalah guru pertama yang memberikan ilmu kepada seorang anak manusia. Peran orang tua dalam mendidik anak sangatlah besar. Anak-anak yang tumbuh besar menjadi manusia yang gagal dalam masyarakat, bukan hanya menjadi beban keluarga tapi juga beban masyarakat (yang dimaksud bukan hanya bandit, tapi juga termasuk koruptor) besar kemungkinan karena kesalahan orang tua mereka. Orang tuanya telah salah menanamkan ilmu dalam diri anaknya.
Setiap orang tua pasti ingin menyekolahkan anaknya di tempat terbaik. Untuk itu dibutuhkan informasi yang memadai sebelum orang tua memutuskan untuk memasukkan putra-putrinya ke sebuah institusi pendidikan tertentu.
Aku adalah seorang pendidik. Karena aku seorang pendidik aku jadi suka mengamat-amati (walau tidak mengamati secara profesional) sistem pendidikan di suatu sekolah jika aku berkunjung ke sekolah tersebut. Minggu lalu aku berkunjung ke Gontor Putri 3 sebuah pesantren putri yang terletak di desa Karang Banyu – Ngawi – Jawa Timur. Pesantren ini yang ingin aku ceritakan. Artikel ini dibuat dengan tujuan sebagai tambahan informasi bagi orang tua yang ingin menyekolahkan putrinya.
TOUR DE GONTOR
Aku sudah sering mendengar tentang pesantren ini dan aku yakin banyak orang yang mengetahui keberadaan pesantren ini. Selama ini yang ku ketahui mengenai pesantren ini, sangatlah sedikit. Aku hanya mengetahui bahwa para santri wajib berbahasa Inggris dan Arab. Jika mereka bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia maka mereka akan kena hukuman. Selebihnya aku cuma berpikir mereka belajar ilmu agama dan ilmu pelajaran umum lainnya sama dengan sekolah-sekolah islam terpadu laninnya. Tapi setelah beberapa kali aku berkunjung aku melihat sesuatu yang berbeda dengan sistem di pondokan ini, yang mungkin tidak diterapkan di pondokan-pondokan lain atau boarding school lainnya.
Infrastruktur dan Lingkungan
Pertama kali aku mengunjungi pesantren putri 3 ini aku mendapatkan kesan sekolah ini jauh sekali ya, mana di tengah sawah pula. Jauh dari peradaban. Dalam hati aku berkata pasti tidak enak sekolah disini. Tapi setelah beberapa hari di sana dan beberapa kali mengunjungi pesantren tersebut aku mempunyai kesan tersendiri. Keadaan memang membuatku harus mengunjungi pesantren ini dan tiap kali mengunjungi pasti lebih dari 1 hari, minimal 3 hari.
Sebelum sampai di pesantren putri 3, aku melalui pesantren putri 1 dan 2. Kesan sekilas tentang putri 1, biasa-biasa saja. Pesantren putri 1 terletak di Mantingan, di pinggir jalan raya dan lingkungan sekitar masih agak lumayan. Walaupun kampung tapi ga kampung-kampung amatlah. Berbeda dengan pesantren putri 3 yang terletak 6 km dari pesantren putri 1 & 2. Untuk mencapai lokasi, kita melewati hutan, walau masih seram hutan di Sumatra, tapi lumayan gelap jika dilewati malam hari, tidak ada penerangan. Namanya juga lewat hutan. Soal jalan raya tidak masalah. Jalan raya cukup mulus, hanya saja harus berhati-hati karena rawan kecelakaan.Pesantren putri 3 tidak terletak di pinggir jalan, masih harus masuk ke jalan berbatu ke dalam sekitar 300 – 400 meter (Gw ga tau pastinya, soalnya gw waktu berkunjung ga bawa meteran n ga ngukur juga. Jadi kira-kira aja. Masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ongkos becak motor Rp 3000 dari jalan raya ke pondok).
Ketika memandang bangunan fisik sekolah dari kejauhan, terlihat bangunan ini adalah gedung mewah satu-satunya di lingkungan tersebut. Sisanya adalah sawah yang ditanami padi dan diselang-selingi dengan tanaman tebu dan melon. Dikejauhan terlihat berdiri dengan kokohnya gunung tertinggi nomor dua di pulau Jawa yaitu gunung Lawu. Bangunan lain di pinggir jalan masuk pesantren hanyalah rumah-rumah penduduk yang semi permanen, warung bakso serta warung makan. Ada mesjid kecil permanen yang lumayan bagus di pinggir jalan sebelum jalan masuk ke pesantren (aku pernah bermalam di mesjid ini, karena kemalaman tiba di pesantren. Mau mencari penginapan sudah tanggung, sudah jam 12.30 malam, sedang subuh sebentar lagi dan aku sudah harus berada di pesantren saat itu).
Setelah masuk lebih jauh, kesan mewah menjadi berkurang. Aku mulai menapaki dan mengelilingi lingkungan gontor. Pertama kali masuk yang ku temui adalah pos penjagaan yang di jaga oleh seorang santriwati. Di sini pengunjung harus mencatat nama dan siapa yang akan dikunjungi. Setelah itu pengunjung bisa menuju Bapenta (Bagian Penerimaan Tamu). Di sini pengunjung melapor lagi kepada santriwati yang sedang bertugas untuk memanggil santriwati yang akan ditemui. Jika santriwati sedang belajar di kelas, maka pengunjung harus menunggu sampai santriwati selesai belajar.
a. Bapenta
Gedung Bapenta selain berfungsi sebagai tempat menerima tamu juga berfungsi sebagai tempat istirahat dan penginapan gratis bagi orang tua, aa, teteh, adik, encang, encing atau siapa saja yang mengunjungi santriwati. Terdapat tiga ruangan berukuran sedang disini. Satu ruangan untuk pengunjung pria, satu ruangan untuk pengunjung wanita serta satu ruangan yang berfungsi sebagai kantor penerima tamu. Untuk masing-masing ruangan dibelakangnya terdapat sebuah ruangan kecil untuk sholat dan 3 (tiga) buah kamar mandi. Di dekat kamar mandi terdapat jemuran. Jadi para orang tua atau pengunjung yang tidak membawa kendaraan atau ingin menunggui anak / ponakan secara paripurna bisa menginap di Bapenta ini. Hanya saja diperlukan mental yang cukup kuat untuk tinggal dan menginap disini. Karena hanya tersedia dua ruangan, maka ruangan tersebut digunakan secara bersama-sama. Tidur pun seadanya, di lantai beralas karpet tipis dengan matras tipis, dan bantal seadanya. Matras serta bantal tersebut sudah dipakai oleh puluhan mungkin ratusan pengunjung. Jadi anda bisa bayangkan kondisinya. Tidak ada seprei untuk matras dan tidak ada sarung untuk bantal. Jadi ”wajah” matras dan bantal persis seperti negara kita ini yang terdiri dari pulau-pulau (pulau keringat maksudnya J ). Jika pengunjung sedang ramai, maka teras Bapenta pun digunakan untuk tidur para tamu. Walaupun kondisi ”tempat penampungan sementara” orang tua / pengunjung demikian sederhananya, tidak ku lihat wajah-wajah susah di sana. Semua orang terlihat biasa saja. Para orang tua saling menyapa dan bertukar cerita mengenai anak-anak mereka yang sedang belajar di pondok. Setiap kali ada yang baru datang di Bapenta akan disapa hangat, lalu akan disalami dan ditanya: ”Baru datang bu? Atau ”Baru datang pak, dari mana?”.
Usia pengunjung sangat bervariasi dari balita yang baru bisa main bola sampai nenek-nenek. Semua terlihat senang menunggui anak, kakak, adik atau ponakan yang sedang menuntut ilmu di pondok ini. Memandang hal tersebut aku berkata dalam hati, memang sakti orang-orang ini. Dari cerita-cerita yang ku dengar ada orang tua yang sudah 7 tahun atau 10 tahun (tergantung berapa anak yang bersekolah di sini) menjalani hidup ”penuh penantian” seperti ini dan luntang lantung selama ”penantian”. Maksudnya jika anak / ponakan / santri sedang belajar maka pengunjung harus pintar-pintar mengisi waktunya. Pertemuan dengan santriwati hanya bisa dilakukan pada saat santriwati turun main atau sedang tidak ada kegiatan. Sementara sepertinya santriwati di sini selalu ada kegiatan. Siang belajar, malam pun ada kegiatan lain seperti pidato atau diskusi. Jadi walau orang tua beberapa hari di sini, total jam pertemuan tidak lah banyak. Malah lebih banyak total jam penantiannya. Saat-saat penantian ini lah yang mungkin paling membosankan. Ku lihat ada yang mengisinya dengan berbincang-bincang sesama pengunjung, ada juga yang berjalan-jalan melemaskan kaki, ada juga yang tidur-tiduran atau bengong saja. Ada juga yang memanfaatkan jedda waktu ini untuk pergi keluar pesantren baik menggunakan kendaraan umum atau pribadi. Biasanya keluarga keluar pesantren untuk membeli keperluan santriwati yang tidak bisa diperoleh di pondokan.
b. Kantin
Yang menarik lagi dari pesantren Gontor ini adalah soal memenuhi kebutuhan pokok perut pengunjung. Soal mengisi perut juga bukan hal yang mudah, pengunjung harus sedikit taktis dan strategis jika tidak ingin kelaparan di sini. Mengapa? Seperti ku ceritakan tadi, pesantren putri 3 terletak agak jauh dari keramaian. Maka untuk mengisi perut biasanya para pengunjung mengandalkan kantin yang ada di komplek pesantren. Masalahnya kantin ini hanya buka pada jam-jam tertentu yaitu pada saat santriwati turun main. Kantin buka ditandai dengan terdengarnya lagu dari dalam kantin dan dinyalakannya lampu serta pintu di buka. Di luar jam turun main, kantin tutup. Jadi jika anda tidak ingin kelaparan selama masa penantian maka anda harus mempunyai stock makanan dan minuman. Belum lagi soal menu. Menu yang tersedia di sini adalah menu sederhana, seperti goreng tahu, tempe, mie, telur dadar dan oseng-oseng sayur. Kualitas nasi pun juga sederhana. Pada hari libur santri, hari Jumat, disediakan menu agak spesial. Sewaktu aku berkunjung kemarin, pada hari Jumat di kantin tersebut tersedia ayam goreng tepung dan hati ampela. Sistem kantin bersifat prasmanan, ambil sendiri sesuai yang anda inginkan. Jika anda menginginkan minuman panas, anda harus membuatnya sendiri di dapur. Biasanya santriwati yang membuatkan untuk keluarga yang sedang mengunjunginya. Setelah itu kita pergi ke kasir yang dijaga oleh santriwati senior yang dipanggil ustadzah.
Kantin ini hanya boleh dimasuki oleh santriwati yang sedang dikunjungi. Jika santriwati sedang makan di kantin bersama orang tua/keluarga, dia boleh membawa dua orang temannya. Saat-saat ini adalah saat-saat yang membahagiakan hati santriwati yang dikunjungi dan temannya santri. Kenapa? Karena makan di kantin merupakan sebuah kemewahan, dimana santriwati bisa ”beristirahat” sejenak dari menu harian yang menjadi jatah di pondok. Berarti anda bisa mengira-ngirakan bagaimana jatah para santriwati, jika makanan di kantin yang sederhana saja merupakan suatu kebahagiaan tersendiri? Bagi teman yang diajak ikut serta, juga ikut senang, karena ini kesempatan untuk ditraktir oleh orang tua / keluarga temannya.
c. Rayon
Mungkin membaca kata rayon anda akan menebak-nebak maksudnya. Rayon adalah sebutan untuk kamar-kamar asrama di mana santriwati tidur. Nama-nama rayon di pesantren putri 3 (juga di pesantren gontor lainnya) cukup unik. Kebanyakan mereka mengambil nama-nama di jazirah Arab. Di pesantren ini ada rayon bernama Ghaza, Thaif, Carbella, Andalusia dan lainnya. Setiap rayon berisikan sekitar 19 – 26 santriwati, tergantung luas rayon. Fasilitas rayon adalah kamar mandi dan jemuran yang dipakai secara bersama. Keadaan di dalam rayon sangatlah bersahaja. Ruangan yang berukuran sekitar 6m x 6m yang dihuni oleh 19 – 26 santri hanyalah berisikan kasur-kasur santriwati dan sebuah lemari kecil. Kasur-kasur tersebut harus digulung pada pagi hari dan disusun rapi. Hal ini memudahkan proses pembersihan ruangan. Sedangkan lemari berfungsi untuk menyimpan pakaian dan buku-buku pelajaran. Jadi area pribadi milik santriwati hanyalah seluas kasur dan lemari yang dimilikinya. Tebal tipis kasur terserah, karena kasur tidak disediakan pondok, harus dibeli sendiri. Jadi kasur boleh tebal tapi tidak boleh lebar. Kasur yang diperkenankan adalah kasur ukuran single. Terkadang santriwati ada yang menambahkan karpet kecil di bawah kasurnya.
Karena luas area pribadi yang kecil, maka barang-barang yang diizinkan untuk dibawa juga dibatasi. Ditakutkan jika terlalu banyak membawa benda-benda maka akan mengganggu area santriwati lainnya. Jadi pakaian yang boleh dibawa hanya 7 stel. Secara berkala akan diadakan inspeksi, jika santriwati memiliki lebih dari 7 stel, maka pakaian tersebut akan “diamankan” ustadzah dan bisa diambil kembali oleh wali murid.
Selain itu di dinding-dinding rayon juga tertulis besar-besar kalimat-kalimat untuk memotivasi para santriwati. Kalimat-kalimat tersebut tertulis dalam bahasa Inggris. Contoh kalimat-kalimat tersebut adalah:
” Studying without thinking is useless. Thinking without studying is dangerous”
“Even the best can be improved”.
d. Fasilitas lain
Fasilitas lain yang terdapat di pesantren selain ruang kelas yg terletak di gedung bertingkat, dan kantor administrasi adalah aula, shoping center dan resto (tempat makan santriwati).. Uniknya sewaktu aku berjalan-jalan mengelilingi pesantren, di beberapa lokasi seperti di shoping center aku melihat ada karton yang ditempel yang berisikan kosa kata (vocabulary) Arab, Inggris dan Indonesia. Jika anda membaca kata shopping center jangan membayangkan tempat yang mewah. Shopping center tak lain hanyalah sebuah ruangan kecil yang menjual keperluan pokok santriwati seperti sabun, odol, pulpen, buku dan lain-lain. Di sini juga terdapat lapangan upacara yang sangat luas dan kadangkala berfungsi sebagai areal perkemahan.
Selain fasilitas untuk santriwati, di komplek pondokan juga terdapat rumah untuk para kiyai, wali kelas atau ustad/ustadzah yang sudah berkeluarga. Disamping itu juga ada guest house. Guest house biasanya diperuntukkan untuk menerima tamu-tamu pesantren yang memberikan ceramah bagi santriwati. Guest house ini berbeda dengan ruang-ruang lain yang ku lihat. Fasilitas guest house cukup mewah. Ada kursi tamu berukir, meja makan yang bagus dan ruang tidur yang nyaman. Guest house juga terkadang digunakan untuk rapat para ustadzah.
Sistem Pendidikan & Laboratorium Raksasa
Gontor seperti halnya pondok pesantren lainnya memadukan pendidikan dunia dan akhirat. Dalam artian santriwati wajib belajar ilmu-ilmu umum dan ilmu agama secara paripurna. Pendidikan dimulai dari kelas 1 (setara dengan kelas 1 SMP diluar) dan akan berakhir di kelas 6 (setara dengan kelas 3 SMU). Sebelum masuk ke kelas 1, biasanya para santriwati akan mendapat semacam matrikulasi untuk penyamaan tingkat ilmu. Karena banyak juga yang masuk ke pesantren belum mengenal huruf hijaiyah sama sekali, alias belum bisa mengaji.
Santriwati tidak harus memulai dari kelas 1 (tamat SD) tapi bisa juga masuk pesantren setelah menamatkan SMP di luar pondok. Dalam kasus ini maka santriwati akan masuk ke kelas intensif untuk mengejar ketertinggalan dari teman-teman kelas 4 yang berasal dari kelas 3 reguler. Nanti setelah itu kelas reguler dan intensif akan digabung. Setelah santriwati menamatkan studi di pondok, santriwati tidak langsung menerima ijazah. Mereka diwajibkan untuk mengabdi baik di pondok atau di luar pondok selama 1 tahun. Setelah menyelesaikan pengabdian, baru ijazah dapat diambil.
Melihat dari dua paragraf di atas, tidak ada yang istimewa dari sistem pendidikan di Gontor. Ya itu jika dilihat dari sistem kelas semata. Tapi jika dilihat lebih jauh, sebenarnya pesantren ini lebih menekan kan pendidikan mental. Atau dengan kata lain pesantren ini lebih menekankan kan untuk memberikan ilmu hidup dibandingkan ilmu pelajaran. Inilah mungkin yang membuat pesantren ini berbeda dibandingkan pesanten-pesantren lain. Pesantren ini seperti laboratorium raksasa untuk belajar hidup bagi para santriwati. Mengapa demikian?
Seringkali kita lihat dalam kehidupan ini orang-orang yang bersekolah di sekolah yang sangat maju, modern, canggih tapi ternyata cuma begitu-begitu aja di tengah masyarakat. Cuma begitu-begitu aja masih mending lah, ini tidak, sekolah sudah bagus, canggih tapi gagal juga dalam kehidupannya. Setelah besar, menikah, tak kunjung bekerja, kalaupun bekerja, tetap tidak mandiri, tetap masih harus disupport orang tua secara moril maupun materil (maksud gw, dikit-dikit mengeluh sama ortu, dikit-dikit harus dibesarkan hatinya, trus sudah tua masih juga minta doku ortu. Istilah kerennya: Uji Kelamin alias Usia Jigo kelakuan Minim). Ada juga alumni sekolah agama, tapi setelah besar jadi bandit, jadi koruptor. Berarti jadi sampah dan beban masyarakat kan? Ada juga alumni dari sekolah murahan, sekolah kampung di suatu dusun antah berantah yang di peta aja ga ada, bahkan dicari dengan menggunakan google earth juga ga nemu, malah berprestasi, berhasil menggondol gelar Phd, menemukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Jadi sebenarnya model pendidikan seperti apakah yang dibutuhkan oleh seorang anak manusia?
Ini bukan pertanyaan yang mudah untuk dijawab. Kehidupan merupakan sesuatu yang kompleks. Banyak faktor yang menyebabkan seseorang gagal atau berhasil dalam hidup dan kehidupannya. Faktor pendidikan hanyalah salah satu faktor. Walau begitu pendidikan merupakan faktor penting. Menuntut ilmu yang benar dan secara benar mutlak dilakukan seorang anak manusia. Lantas ilmu apa yang benar itu?
Menurut hematku di dunia ini ilmu dapat kita kategorikan jadi 2 (dua) golongan besar yaitu: 1) Ilmu pelajaran (sains) 2) Ilmu Hidup (bukan ilmu hayat lho..itu mah biologi, masuk ilmu pelajaran). Ilmu pelajaran adalah ilmu yang kita pelajari di bangku sekolah seperti matematika, kimia, fisika, ekonomi, ilmu bumi dlsb. Sedangkan ilmu hidup adalah ilmu yang lebih komplek, adanya di jalanan, lebih banyak diajarkan oleh ”invisible hand” melalui peristiwa-peristiwa yang kita lihat atau kita alami..
Ada perbedaan yang sangat besar antara ilmu pelajaran dengan ilmu hidup. Kalau kita menuntut ilmu pelajaran, kita bisa memilih ilmu pelajaran mana yang kita sukai dan ingin kita pelajari atau kita dalami. Untuk memahaminya bisa belajar di sekolah, diajarkan seorang guru atau membaca buku atau dengan melakukan uji laboratorium. Mempelajari ilmu sains, biasanya dilakukan secara sadar. Sebaliknya ilmu hidup adalah ilmu yang seringkali tidak kita sadari dalam kehidupan ini. Kita sering kali tidak sadar bahwa kita sedang belajar di ”sekolah kehidupan”. Tiap tarikan nafas manusia sebenarnya mengandung pelajaran yang sedang diberikan oleh ”Sang Invisible Hand”. Hanya saja tidak semua orang sadar akan hal tersebut. Ilmu yang sedang diajarkan sejak membuka mata di pagi hari seringkali lewat begitu saja seperti halnya oksigen yang kita hirup, tapi tidak kita sadari.
Disamping perbedaan tentu ada persamaan dari dua golongan ilmu tersebut. Persamaannya adalah diwaktu kita kecil kita butuh bantuan orang yang ”lebih berilmu” untuk membantu kita memahami ilmu tersebut. Setelah besar, kita bisa mencari sendiri. Untuk dapat memahami kedua ilmu tersebut diperlukan kecerdasan akal dan kecerdasan hati, hanya saja prosentasenya berbeda. Untuk sains tentu saja kecerdasan akal lebih menentukan tingkat pemahaman, sedangkan untuk ilmu hidup, kecerdasan hati lebih berperan. Kedua ilmu ini penting sifatnya. Tapi mungkin ilmu hidup jauh lebih penting….
Gontor sebagai sebuah pesantren sepertinya sangat menyadari pentingnya ilmu hidup bagi seorang anak manusia untuk dapat survive dalam situasi atau kondisi apapun. Istilahnya mungkin: No matter how hard the life, u must survive, no complaint. Pada dasarnya menyesuaikan diri untuk kehidupan yang lebih baik tidaklah sulit. (Dari miskin jadi kaya pan ga susah lah yaw…). Yang susah adalah menyesuaikan diri tanpa mengeluh apabila yang terjadi adalah sebaliknya.
Seperti yang ku ditulis di atas, biasanya ilmu hidup kita peroleh dijalanan, diajarkan oleh ”Sang Invisible Hand”. Sementara itu pesantren Gontor secara sadar membuat sebuah lingkungan artifisal sedemikian rupa sehingga santriwati tanpa sadar telah belajar ilmu hidup. Persis seperti Tuhan menyuruh kita berpuasa. Perintah wajib berpuasa kalau dipikir-pikirkan sebenarnya sebuah kondisi artifisial yang dibuat Tuhan agar kita merasakan sulitnya, pedihnya, ga enaknya jadi orang miskin. Puasa mengasah hati kita untuk dapat berempati dengan penderitaan orang lain. Merasakan langsung penderitaan (walaupun artifisial) merupakan sebuah pelajaran hidup juga kan? Dan pelajaran mengenai penderitaan tidak akan menancap dalam hati jika hanya dibicarakan secara teori di depan kelas.
Lingkungan artifisial yang dibuat oleh Gontor adalah lingkungan yang sedemikian rupa sulitnya, sedemikan rupa menyebalkan melalui peraturan-peraturan aneh sehingga diharapkan setelah keluar dari Gontor, para santriwati akan mampu bertahan dalam situasi kondisi seadanya, situasi menekan dan serba terbatas, tanpa mengorbankan kejujuran, keikhlasan, kemauan berbagi dan berkorban untuk sesama. Dengan kata lain pondok membuat keadaan sulit tapi santriwati harus tetap bisa mempertahankan integritas dirinya.
Aku melihat berguru di pondok ini seperti pergi berguru untuk belajar kungfu ke gunung dengan seorang suhu ternama dan hanya menerima segelintir murid. Anda yang suka membaca cerita silat atau menonton kungfu pasti mengerti maksud saya. Dicerita-cerita silat, seringkali sang suhu menyuruh murid-muridnya melakukan hal-hal aneh yang sepertinya tidak ada hubungannya dengan pelajaran silat. Kenapa ku bilang sepertinya? Karena sebenarnya seorang guru yang mumpuni seringkali memberi perintah yang tidak masuk akal dengan tujuan tertentu. Hanya saja butuh waktu untuk bisa mengambil pelajaran dari perintah yang aneh bin ajaib tersebut. Hanya orang-orang yang memiliki kecerdasan dan kekuatan hati yang mampu bertahan dan akhirnya mampu memahami ilmu yang diajarkan sang suhu.
Lalu apa yang aneh di Gontor ini? Banyak peraturan yang jika sepintas dilihat, nyaris tidak masuk akal. Tapi itulah Gontor. Seperti yang telah ku ceritakan di atas salah satunya adalah santriwati hanya boleh memiliki 7 stel baju. Jadi sekaya apapun orang tua santri, tetap saja dia hanya boleh memiliki 7 stel baju selama berada di pesantren. Disini santriwati harus mencuci sendiri. Jadi jika 2 baju kotor, 2 baju sedang di cuci, maka tinggal 2 baju disimpan dan 1 baju dipakai. Yang suka mencuci borongan akan susah sendiri jika hujan turun. Dia akan kekurangan baju bersih. Belum lagi kamar tidur yang harus berbagi dengan fasilitas secukup yang diperlukan.
Lalu soal makanan. Makanan disini sangatlah sederhana. Nasinya keras, menunya terbatas. Untuk nasi, boleh ambil sebanyak yang diinginkan, tapi menu dijatah. Tidak boleh jajan di warung luar pesantren jika tidak suka dengan menu. Jadi suka atau tidak suka santriwati harus menelan makanan sederhana tersebut. Syukur jika ada menu kiriman dari rumah atau ada kunjungan keluarga. Atau ada teman yang dapat izin keluar sehingga bisa nitip beli makanan enak. Tapi ada bagusnya juga sistem jatah ini. Santriwati tidak mungkin mati kelaparan di pondok, biar tidak punya uang karena ada jatah. Makanan di pondok banyak, tapi yang harus diberi makan juga banyak. Perlu sedikit kegesitan agar stabilitas perut santriwati terjaga. Terlambat sedikit, anda akan tau akibatnya.
Selanjutnya soal izin keluar. Izin keluar pondok tidaklah gampang bahkan pada hari libur (Jumat) sekalipun.Pondok hanya memberikan izin keluar untuk santriwati jika ada alasan yang kuat seperti berobat ke rumah sakit. Sedangkan alasan untuk jalan-jalan pelesir ke mal jelas tidak akan pernah diberikan.
Lebih jauh lagi. Potong rambut pun sulit disini. Panjang dan model rambut ada aturannya di sini. Jadi biasanya santriwati mempunyai rambut yang cukup panjang. Rambut pendek apalagi dengan model-model yang sedang trend tidak diperkenankan. Itu baru rambut. Belum lagi soal telpon seluler yang pada zaman ini sudah menjadi sebuah kebutuhan dan bukan kemewahan. Di sini santriwati biar sudah level ustadzah juga tidak boleh memilikih hand phone. Untuk menghubungi keluarga terdapat sebuah wartel. Wartel juga cuma 1 untuk melayani 1000 orang santri. Jadi santriwati harus rela antre di wartel menunggu giliran. Jika keluarga ingin menghubungi santriwati, maka bisa menghubungi telpon di dekat bagian pengasuhan. Tentu saja keluarga harus menelpon 2x, karena santriwati harus dipanggil dulu baru bisa dihubungi.
Hal-hal yang ku sebutkan tersebut merupakan peraturan di pondok dan haram hukumnya dilanggar. Jika dilanggar akan mendapatkan hukuman Bagi kita tidak ada yang aneh bagi seorang anak untuk jajan bakso atau mie ayam. Tapi merupakan pelanggaran di pondok. Bagi kita orang tua, tidak masalah anak kita sholat sendiri di kamar. Alhamdulillah sudah mau melaksanakan sholat. Di pondok, sholat sendiri merupakan pelanggaran. Wajib berjamaah tiap waktu sholat. Ada santriwati yang bertugas keliling untuk melihat anak-anak yang tidak datang ke majelis sholat.
Tinggal di pondok Gontor harus siap untuk hidup ”menderita”. Selain semuanya serba sederhana belum lagi tugas-tugas diluar belajar yang diberikan pondok. Setiap santriwati akan mendapatkan tugas untuk ikut serta dalam pengelolaan pondok. Jadi pondok itu dari santriwati untuk santriwati. Mulai dari ”satpam” pos jaga, yang membunyikan bel waktu belajar / turun main, menjaga bapenta, tukang kebun, jaga kantin, menjaga telpon dari keluarga, telpon wartel sampai ”satpam” yang bertugas ronda malam adalah santriwati semua. Begitu juga dengan para pengajar. Santriwati senior (kelas 6) akan mendapat tugas untuk mengajar santri junior. Santri senior diajar oleh santriwati yang sudah tamat, tapi sedang mengabdi di pondok atau sedang kuliah di pondok. Perlu diketahui para pengajar tidak mendapat honor. Mengajar saja tidak mendapat honor apalagi cuma mengoreksi ujian atau menjaga ujian. Semua dilakukan dengan alasan pengabdian.Fasilitas yang diterima ustadzah yang mengajar (santriwati yang sedang kuliah) adalah penginapan dan makan gratis serta kuliah gratis. Lainnya tidak ada. Hand phone saja tidak boleh punya, walau beli sendiri. Tapi sistem ini memungkinkan pondok untuk mengenakan biaya yang relatif lebih murah untuk tiap santriwati yang mondok dibanding boarding school lainnya. Uang pangkal hanya sekitar Rp 3.000.000 sedangkan biaya mondok per bulan Rp 300.000. Jadi siapa saja bisa bersekolah di sini. Dan kenyataannya semua strata sosial ada di pondok Gontor. Dari anak DPR sampai anak supir truk ada yang bersekolah disini.
PENUTUP
Hidup di Gontor ibarat hidup di gunung. Berguru ke Gontor ibarat berguru silat ke gunung. Jauh dari kemewahan, serba sederhana, serba terbatas dan penuh peraturan aneh yang mungkin agak sulit diterima pada situasi normal. Butuh mata hati, kegigihan dan kekuatan untuk dapat menyelesaikan studi di sini. Bukan hanya santriwati yang harus kuat, orang tua pun harus kuat. Karena seringkali santriwati akhirinya gagal karena orang tua tidak kuat melihat anaknya menderita.Tidak kuat dengan rengekan-rengekan anaknya. Tidak mampu meyakinkan anaknya bahwa pendidikan yang diberikan adalah pendidikan yang terbaik untuknya. Selain itu orang tua juga harus sanggup sama menderitanya dengan anaknya yang sedang mondok di sana. Salah satu penderitaan orang tua adalah sama-sama makan menu sederhana dan tidur ditempat yang sederhana sewaktu mengunjungi anaknya. (Mungkin bagi sebagian orang hal tersebut adalah hal yang biasa, tapi bagiku tidur di Bapenta dan makan nasi keras adalah hal yang cukup berat untuk dijalani. Apalagi kalau harus menjalani bertahun-tahun…Sakti memang para orang tua santriwati Gontor ini)
Tidak ada niat untuk menilai sistem yg ada. Setiap sistem ada kelebihan maupun kekurangannya. Pada akhirnya manusianyalah yang paling menentukan. Gontor mempunyai sistem sendiri, boarding school lainnya juga mempunyai sistem sendiri. Setiap sekolah mempunyai pasar masing-masing, mempunyai peminat masing-masing. Hanya saja orang tua wajib memberikan pendidikan yang mereka rasa terbaik dan cocok untuk anak-anak mereka.
*** Sekian ***
June 4th, 2008 at 8:54 am
Luar biasa ! memang benar bu, mondok di Gontor ibarat belajar di Shaolin, jauh dari hingar bingar kota, asing dari gaya hidup materialis dan feodalis, penuh disiplin keras yang sebenarnya sudah tidak lazim di abad 21 ini. Tapi dibalik semua itu, tersimpan sebuah mutu pendidikan dan pengajaran yang luar biasa. ” Apa yang kita lihat, dengar, rasakan itulah pendidikan” demikian kurang lebih falsafah pendidikan ala Gontor. Saya baru merasakan pendidikan Gontor selepas menamatkan dengan perjuangan yang luar biasa dan saya bangga dan bersyukur pernah ditempa di laboratorium raksasa kehidupan ala Gontor. Dan tentunya kesyukuran itu masih berlanjut dengan mengaplikasikan semua nilai dan falsafah hidup Gontor, seperti ” tampil menjadi perekat Umat” ditengah carut-marutnya kondisi umat islam dewasa ini, “Berdiri di atas dan untuk semua golongan ” bersikap netral, tidak memihak siapa pun, berusaha menjadi penengah dan problem solver di setiap persoalan bangsa, ” siap memimpin dan siap dipimpin ” berani tampil di muka menjadi seorang pemimpin yang tangguh, tapi tidak otoriter karena ia memahami kepemimpinan sebagai sebuah amanah bukan sebagai fasilitas kekuasaan dsb. Semoga kesyukuran ini menjadi rangkaian rutinitas untuk menjadi ” khoiru ummah anfauhum linnas”, dan ” waladun sholeh yad’uu li walidaihi” Amin. Terima kasih atas tulisannya bu, sungguh berkesan.
June 5th, 2008 at 10:52 pm
Ass Mike,
Nah ini dia yang saya sukai dari alumni-alumni Gontor (walau ada juga seh yg menyimpang) “Berdiri di atas dan untuk semua golongan. Bersikap netral, tidak memihak siapapun. Berusaha menjadi problem solver bukan problem maker. Siap memimpin dan dipimpin”. That’s the point of being a good moslem. Coba ya semua orang muslim di negeri ini begitu. Pasti bangsa ini tidak akan terpuruk seperti sekarang. Kenyataan yang ada sekarang, orang muslim berebut kursi kepemimpinan tanpa memahami hakekat kepemimpinan. Orang muslim merasa golongannyalah yang paling benar, golongan lain kafir semua sehingga darahnya menjadi halal. Sungguh mengerikan. Akibatnya yang ada muslim di negeri ini jadi mudah sekali diadu domba dengan saudara sesama muslim sendiri….Onde mande…Mudah2an de generasi muda seperti kamu Mike, baik muslim maupun tidak, yg telah mengecap pendidikan di tempat yang benar dan dengan cara yang benar, yg bisa lebih terbuka dalam memandang suatu hal, bisa membawa perubahan yg mendasar di negeri ini. Ayo masuk partai!!! (Weih apa hubungannya? Biar yang muda2, berwawasan luas dan berhati baja ajalah yang memimpin negeri ini maksud saya)
January 16th, 2009 at 4:35 am
asSalamUalaikUm bu,,
kbetulan saya anak gontor putRi 3 tp saya sudah kluar skitar 1 thun yg lalu.Dan kebetulan saya mengenal k’zea,dy sempat mengajar saya wktu saya klas 2 walaupun hanya sbagai pengganti tman’y yg berhalangan mengajar klas saya waktu itu..kl boleh tw angkatannya k’zea apakah lulus 100%?dan salam juga untuk k’zea!!skarang k’zea kuliah dimana?
February 16th, 2009 at 2:46 pm
Salam kenal bu
mashaALLAh….uraian cerita ini mengingatkan saya akan memori2 lalu.saya alhamdulillah berkesemptan mencari ilmu di pondok Gontor. Kebetulan saya adalah alumni gontor 1 n gontor 3 juga. dari kelas 1-5 saya mashi di Gontr putri 1 dan usai penmbangunan pondok ini, saya beserta 41 orang lainya dipindah ke GOntor 3 saat kenaikan kelas 6. sempat jua kuliah di ISID selama 1 tahun disana, tapi sekarang saya memutuskan untuk kuliah di LN. saya alumni 2003, beres pengabdian tahun 2004.
adapun peraturan2 yang berlaku punya filosofi tersendiri, ada yang mudah “dicerna” dan yang sult juga ada.
Tulisan ibu sangat menggugah saya dan membuat saya rindu gontor terlebih gontor putri 3 moga saya bisa siltrahmi kembali ke sana…amee.
Untuk ustadzah sebenarnya memang tidak digaji tapi ada sedikit uang ihsan, yang jumlahnya sekedarnya tidak terlalu besar tapi ok untuk jajan2 kecil2an para ustadzah yang diberikan tiap bulannya.
April 1st, 2009 at 5:35 am
To: Novety
Waalaikumsalam ww, Nov
Wah ternyata ada juga alumni Gontor 3 yang membaca tulisan ini ya…Senang juga mengetahuinya. Angkatan Zea ada beberapa orang yang tidak lulus, sekitar 3 atau 4 orang (lupa pastinya). Sekarang kuliah di universitas mana dan mengambil jurusan apa? Zea masih dalam masa pengabdian sekarang. Kebetulan ketempatan di ponpes Darunnajah Ulujami.
April 1st, 2009 at 6:20 am
To Rida,
Ass Rida…Salam kenal juga… Sekarang Rida kuliah dimana dan jurusan apa? Mana tau kita bisa berkolaborasi dalam melakukan penelitian. Kebetulan saya adalah seorang dosen. Btw, Rida kenal Halley kakaknya Zea ga? Halley alumni gontor putri 1, tamat tahun 2004. Kalo ga salah Halley itu cukup TOP dari segi kebadungannya..he..he..he..
Sukses buat Rida and wassalam
October 12th, 2009 at 1:09 am
Salam ukhuwah….
menarik…, pengalaman yang terbesit dan tergoreskan dalam sebuah memo…
kita tunggu kelanjutannya bu…