AHMADIYAH, FPI & BOLA
AHMADIYAH, FPI & BOLA
(This article ordered by Heru Suprantio)
by : Hessy Zainal
Tuesday Morning,
June 24, 2008
Cerita Sekolahku
Sewaktu aku masih bersekolah di Rumbai, tanah kelahiranku, aku mempunyai seorang teman bernama Fadhlullah. Ipaz panggilannya. Ipaz adalah anak yang pintar, selalu juara I di kelas dan juga pernah menjabat sebagai ketua OSIS di SMA ku. Ipaz juga pernah menjadi juara teladan di Riau dan dikirim ke
Jakarta sebagaimana para juara teladan lainnya se
Indonesia untuk bertemu
Presiden RI , Soeharto kala itu. Setamat dari SMA, Ipaz diterima di ITB melalui jalur PMDK. Ipaz anak yang pintar, baik dan beragama Ahmadiyah.
Walau Ipaz beragama Ahmadiyah, kami di sekolah tidak pernah bermasalah dengan Ipaz. Kami bermain dan berorganisasi dengan Ipaz. Ipaz jadi ketua OSIS dan Emmy yang muslim jadi Wakil Ketua, begitu juga aku yang memakai jilbab menjadi sekretaris OSIS. Tidak pernah ada masalah selama kepemimpinan Ipaz di OSIS. Terkadang ada perbedaan pendapat dalam organisasi, tapi semua bisa diselesaikan and no hurt feeling after that. Ipaz juga damai-damai saja sewaktu bermain bola dengan teman-teman berbagai agama di sekolahku. Bahkan guru agama islam tidak pernah menggugat kehadiran Ipaz di kelas sewaktu pelajaran agama. Ipaz banyak hapal ayat Al-Quran, nilai agama Ipaz juga bagus, sama bagusnya dengan nilai Hasnawati yang berjilbab itu J . Sewaktu acara buka bersama pada bulan Ramadhan, Ipaz juga ikut serta sebagai panitia. Ipaz juga berpuasa.
Ipaz beragama Ahmadiyah Qadiyan. Kami yang muslim regular (gw bingung juga memberi nama Islam yang gw anut. Namanya Islam aja
kan ya? Apa disebut IA kaya rumah makan SA (Sederhana Aja) untuk membedakan dengan SB (Sederhana Bintaro)? ) tau kalau agama Ipaz agak berbeda dengan Islam yang kami anut. Terkadang sewaktu jam keluar main Ipaz, Hasnawati, Marsdenia, Togar dan Albert yang beragama Kristen Protestan suka berkumpul. Topik yang dibicarakan biasanya adalah mata pelajaran yang baru saja diajarkan dan agak sulit. Yang lebih pintar akan menjelaskan kepada yang agak kurang mengerti. Terkadang yang dibicarakan menyerempet masalah keyakinan. Jika sudah berbicara keyakinan diskusi menjadi seru. Togar pernah membawa buku karangan seorang muslim (gw lupa namanya) yang berpindah keyakinan menjadi Kristen. Seperti jamaknya buku-buku para mualaf pasti yang dikarang adalah kekurangan dan kelemahan agama terdahulu. Diskusi Islam Kristen sering terjadi antar teman-temanku itu, terkadang agak sengit. Kebetulan mereka adalah penganut agama yang cukup ketat kalau tidak bisa dibilang alim. Marsdenia, dan aku juga pernah bertanya pada Ipaz “Paz, bukankah Ahmadiyah sudah dilarang di
Indonesia ? Bukannya Ahmadiyah itu aliran sesat?”. Ipaz menjelaskan bagaimana ajaran agamanya tersebut dengan tenang dan tersenyum. Ipaz tidak marah ditanya demikian. Walau sering berdiskusi sengit (dan mungkin kadang menyakitkan hati karena sedikit merasa disalahkan mengenai agama yang dianut) tidak pernah terjadi penghinaan secara verbal apalagi perkelahian yang berdarah-darah hanya karena perbedaan keyakinan. Kami tetap bisa bermain bola bersama. (Gw ga main seh….maksudnya yang mau main bola, ya boleh-boleh aja, apa juga hubungan agama ama bola).
Ipaz sekarang sudah tiada. Ipaz meninggal dalam keadaan beragama Ahmadiyah dengan meninggalkan segala kenangan kebaikannya.
Cerita Negeriku
Pada suatu Minggu pagi dibulan Juni 2008, sekelompok orang di negeriku yang terdiri dari orang-orang berbagai suku bangsa dan keyakinan mengadakan demo solidaritas untuk Ahmadiyah di Monas. Lalu tiba-tiba datanglah segerombolan pasukan berjubah putih yang menamakan dirinya dengan FPI (Front Pembela Islam) membubarkan kelompok yang pertama. Pembubaran dilakukan dengan kekerasan. Kelompok yang diserang berusaha menyelamatkan diri, yang tertangkap oleh FPI ada yang digebuki, ditendang sampai berdarah-darah. Seorang bapak-bapak yang melindungi seorang anak dan seorang ibu juga menjadi korban. FPI tidak suka dengan aksi kelompok ini yang membela Ahmadiyah.FPI ingin memurnikan Islam dari sempalan-sempalan dan ajaran-ajaran sesat. Panglimanya Munarman yang menyatakan bertanggungjawab atas peristiwa tersebut melarikan diri dan membuat pernyataan baru akan menyerahkan diri jika pemerintah membubarkan. Drama ini berakhir dengan ditangkapnya Habib Ridziq dan beberapa pentolan FPI, dikeluarkannya SKB 3 menteri mengenai Ahmadiyah dan Munarman pun menyerahkan diri untuk diproses secara hukum.
Sebenarnya drama ini belum benar-benar berakhir. Secara underground polemik Ahmadiyah masih berlangsung. Aku menerima e-mail yang berjudul ”Dimana Gus Dur dan Habib Ridziq sebelum peristiwa Monas.” Kenapa Gus Dur? Gus Dur adalah orang yang suka membuat polemik lebih menjadi-jadi dengan mengeluarkan pernyataan yang aneh-aneh. Dari e-mail tersebut dikatakan bahwa 1 hari sebelumnya Gus Dur berada di Israel untuk menerima bintang kehormatan dari orang Yahudi sementara Habib Ridziq mengislamkan Steve Immanuel seorang artis sinetron. Terlihat implisit e-mail tersebut sedang mengadakan provokasi untuk membela Habib Ridziq.
Suamiku juga bercerita bahwa telah 3x sholat Jumat di kantornya, khotib Jumat selalu meminta jamaah untuk berdoa untuk keselamatan Habib Ridziq. Suamiku jadinya agak jengkel. Katanya ”Wah payah juga nih khotibnya, tadinya khotbahnya sudah bagus-bagus eh dirusak terakhirnya dengan doa bersama untuk Habib Ridziq. Saya mau bilang sama pengurusnya agar khotib untuk Jumat depan jangan dari FPI lagi atau Jumat minggu depan saya sholat di mesjid lain saja. Mesjid betawi dekat kantor aja lebih bagus khotbahnya” Suamiku tidak suka dengan Habib Ridziq dan hobi berkomentar tentang khotib atau penceramah agama yang didengarnya. Suamiku sebenarnya agamanya tidak terlalu jago (tapi anak-anaknya semuanya ustadzah lulusan Pesantren Gontor. Hua ha3x.. anaknya jauh lebih jago agamanya dari bapaknya), cuma hobi sekali berkomentar tentang ustadz. Ustadz di mushola komplekku juga tak luput dari komentar suamiku. Selain itu sekarang juga sudah terpasang spanduk yang berbunyi ”Bubarkan Ahmadiyah” di komplek rumahku. FPI juga ada di desa tempatku tinggal. Masyarakat juga masih tidak puas dengan keluarnya SKB 3 mentri, mereka berharap di keluarkan keppres untuk pembubaran Ahmadiyah. SKB 3 menteri dianggap masih tidak jelas.
Pendapatku tentang Negeriku
Kata orang negeriku adalah negeri yang kaya. Kaya akan sumber alam, kaya akan budaya, kaya akan ragam suku bangsa dan juga kaya akan beragam keyakinan. Kata kakek dan nenek jaman dulu negeri ini ”Gemah ripah loh jinawi”. Kata suamiku yang orang jawa artinya subur, makmur, sentosa (”Kalo ga salah lho” katanya. Suamiku Jawa palsu emang.. J). Begitu indahnya kata orang, kata nenek moyangku tentang negeriku. Tapi yang kulihat sekarang ini semua berbeda dengan kata orang dan kata nenek moyangku. Negeriku adalah negeri yg dari segi pendapatan perkapita penduduknya termasuk kategori under developing countries alias negara miskin padahal sudah pernah sempat dikategorikan sebagai macan Asia. Negeriku memang terdiri dari beragam suku bangsa, budaya dan keyakinan tapi negeriku juga penuh dengan konflik gara-gara keragaman tersebut. Dari konflik horizontal antar suku (perasaan kaya jamannya Winetou dan Old Shatterhand aja ada perang suku) dan perang antar agama sampai konflik kepentingan dan konflik politik. Konflik rumah tangga lebih banyak lagi, sampai masuk TV diacara infotainment.
Sebenarnya apakah begitu jeleknya negeri ini? Aku yakin sebenarnya negeri ini tidak sejelek itu. Aku yakin sebenarnya kata orang dan kata nenek moyang jaman dulu itu benar. Negeri adalah negeri yang kaya yang seharusnya penduduknya bisa hidup aman, makmur dan sentosa. Tidak seharusnya ada orang mati kelaparan di negeri ini. Tidak seharusnya ada orang tua yang mengajak anaknya bunuh diri bareng-bareng karena sudah putus asa dengan kondisi ekonomi yang mendera mereka. Tidak seharusnya ada pelecehan dengan pembagian BLT Rp 100.000/keluarga kepada anak bangsa akibat kemiskinan yang tak tertanggungkan. Tidak seharusnya ada bayi yang disandera di rumah sakit gara-gara orangtuanya tidak mampu melunasi ongkos rumah sakit. Banyak sekali kejadian yang seharusnya tidak boleh terjadi di negeri ini. Tapi kenapa terjadi juga?
Penduduk negeri ini katanya 80% mayoritas beragama Islam. Pemimpinnya beragama Islam. Akan sulit jika seorang capres mencalonkan diri jika dia non muslim. Tidak usahkan non muslim, jika anda muslim tapi anda kebetulan terlahir sebagai perempuan, lalu anda mencalonkan diri menjadi presiden, itu saja bisa menjadi polemik. (Megawati kebetulan aja jadi presiden, karena Gus Dur diturunkan). Syukurlah sekarang sudah ada gubernur dan bupati perempuan. Sepertinya negeri ini sangat islami. Sepertinya tapi kenyataannya tidak. Kenapa ku bilang tidak?
Banyak sekali yang bertentangan dengan Islam di negeri ini. Di negeri ini seolah-olah banyak orang yang ingin memurnikan Islam sehingga kalau ada ajaran sesat (dimata mereka) lalu mereka akan menghunus pedang. Seolah-olah jika ada orang yang berbeda maka darah mereka menjadi halal. Mungkin Ahmadiyah memang sesat. Kenapa ku bilang mungkin? Karena sesat atau tidak sesat, indikator yang digunakan adalah indikator keyakinan masing-masing. Angat relatif sifatnya. Menurut orang Islam, ya Islam lah yang paling benar, orang lain kafir. Bagi orang Hindu, ya Hindu yang paling benar, muslim kafir. Bagi orang Kristen dan Katolik juga begitu, jika anda tidak percaya pada Tuhan Yesus maka anda tidak akan selamat dunia akhirat. Bagi orang Ahmadiyah, ya Ahmadiyah adalah segala-galanya. Mereka akan rela mati untuk membela keyakinannya. Mereka juga merasa jika mati dalam membela Ahmadiyah berarti jihad. Lantas jika sudah begini apa kita akan bunuh-bunuhan? Sungguh sangat menyedihkan pemahaman seperti itu.
Keyakinan itu sifatnya sangat individual. Tidak bisa dipaksakan. Bahkan dalam islampun ada ayat yang berbunyi ”La iqrahafiddin”. Tidak ada paksaan dalam agama, demikian artinya. Allah saja pemilik jagat raya ini tidak memaksakan agama yang sudah ditunjuknya sebagai ”agama di sisiKu” itu untuk semua umat manusia. Allah memberikan kebebasan berkehendak (free will) bagi manusia, tentu dengan segala konsekuensinya. Agama itu adalah hidayah dari Allah. Jika tidak mendapat hidayah tidak bisa. Lihat saja Abu Thalib paman nabi, pembela nabi nomor wahid, beliau mati dalam keadaan kafir. Nabi Muhammad SAW bahkan memohon kepada Allah untuk pamannya. Tapi jika Allah tidak memberi hidayah, ya tetap saja demikian. Nabi juga tidak lantas membunuh pamannya yang berbeda keyakinan itu kan? Lantas kita saja yang bukan nabi, wali juga bukan, kenapa begitu gampangnya menghalalkan darah orang yang sedikit berbeda dengan kita? Apa hak kita? Memangnya ada perintah Tuhan seperti itu? Sependek pengetahuanku perang hanya boleh terjadi jika kita diserang duluan. Jika tidak, haram hukumnya. Ibarat kata ayahku ”Musuh itu pantang dicari, tapi jika datang pantang dielakkan”. Begitulah seharusnya seorang ksatria bersikap. Kalau orang ga ngapa-ngapain mengapa juga kita serang mereka. Apa bukan tindakan pengecut itu namanya?
Membela agama itu tentu saja boleh. Harus malah. Tapi lakukanlah dengan elegan. Jangan seperti orang jaman batu. Islam diturunkan untuk ”mencerdaskan” orang jahiliyah. Islam datang dengan damai. Bagaimana cara ”perang” yang elegan. Lakukan dengan pendidikan. Dengan dakwah bil hal dan bil lisan. Dengan sikap dan perbuatan yang elok. Tunjukkan bahwa Islam itu fun, menyenangkan, orang-orangnya cerdas, bijak bestari, rendah hati, suka menolong dan sikap-sikan nan elok lainnya. Aku yakin, pasti ”perang” dengan cara ini jauh lebih efektif dan berhasil
Tapi apa yang terjadi sekarang di negeri yang ”sok ngislami” ini. Sorry kalo ku bilang sok ngislami. Karena kenyataannya memang begitu. Islam hanya menjadi bungkus, bukan bagian dari kehidupan. Islam hanya retorika semata, bukan sikap hidup. Coba kita lihat disekeliling kita..Sinetron yang katanya religi, penuh dengan hantu-hantu yang jelas-jelas tidak ada dalam Islam. Dah gitu ustadz ikut pula memberi sepatah dua patah kata untuk sinetron yang ngislami itu. Kemudian lihat betapa makmurnya para dukun dan paranormal di negeri ini. Malah dukun pun buka situs, buka ”praktek” via sms..Reg Ki Joko Bodo…Reg Mama lauren…Apa ga sakit jiwa tu orang Islam di negeri ini?
Yang lebih parah lagi, kebijakan-kebijakan pemerintah yang jelas-jelas kapitalis dibiarkan saja. Membiarkan sektor usaha dikuasai pengusaha besar sehingga mematikan para usaha kecil, menyulitkan orang susah modal untuk berusaha. Membiarkan sistem pendidikan dikuasai oleh pasar, sehingga biaya pendidikan menjadi begitu sangat mahalnya sehingga orang miskin tetap miskin karena sulitnya akses terhadap pendidikan. Mau murah, pendidikannya juga murahan, bagaimana mau bersaing setelah lulus? Orang miskin sudah miskin, tetap bodoh pula. Orang-orang inilah yang mudah dihasut. Mereka lapar, mereka bodoh, mudah dimanipulir untuk kepentingan segelintir orang. Pemahaman terhadap ilmu rendah, begitu juga terhadap agama. Wawasan mereka sempit sehingga mudah diajak berjihad dengan mengatasnamakan agama. Kasian orang Islam di negeri ini. Dikadalin, diakalin dimanipulir dimanfaatkan oleh orang-orang yang berkedok Islam padahal sesungguhnya Setan, Iblis, Najis. (Wah gw jadi esmosi neh menulisnya. Terus terang gw geram dengan aktor-aktor intelektual ini. Mereka yang seharusnya dibunuh. Bukan Ahmadiyah. Ahmadiyah cukup didakwahi saja, kalau mau kembali ya syukur. Kalo ga, apa urusan kita? Toh yang masuk neraka mereka. Kita juga belum tentu masuk surga. Jangan-jangan malah ketemu di neraka, terus diledeikin ama orang Ahmadiyah kaya gini : ”Loh ente yang nyerang-nyerang ane, kok masuk sini juga? Bukannya ente dah yakin bener bakal masuk surga?”).
Banyak kebijakan-kebijakan di negeri ini yang menyengsarakan rakyat. Tarif telpon dan sms yang terlalu tinggi, sehingga menguntungkan pengusaha terlalu banyak. Mengambil keuntungan yang terlalu banyak juga tidak islami. Keuntungan haruslah sewajarnya. Belum lagi kolusi antara aparat penegak hukum dan maling negeri ini untuk menilep uang rakyat sehingga uang yang seharusnya bisa dipergunakan untuk dana pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan hilang tak tentu rimbanya. Para koruptor tersebut dalam kehidupan sehari-harinya juga sangat ngislami dimana tiap tahun naik haji minimal umroh. Kalau lebaran haji, berkorban 1 ekor sapi (Kalo kita korban kambing juga dah bagus kan?), trus kalo zakat bulan Ramadhan 10%. Emang mereka pikir zakat, haji, umroh bisa membersihkan harta mereka? Syariah laundring kalee….kayak mafia melakukan money laundring dari bisnis maksiat (judi, pelacuran) ke bisnis legal. Hal-hal seperti ini yang harus dimusnahkan dari negeri ini. Ini yang tidak Islami.
Makna jihad harus dipahami secara paripurna. Jangan secara sempit. Jika jihad dimaknai secara sempit maka islam menjadi tidak fun, menjadi mengerikan. Ingatkah saudara-saudaraku sesama muslim apa kata nabi kita setelah perang badar? Nabi junjungan kita berkata ”Setelah perang ini kita akan menghadapi perang yang lebih besar.” ”Perang apakah itu ya nabi ?” tanya seorang sahabat. Jawab rasul ”Perang melawan hawa nafsu (berpuasa). Itulah perang terberat”. Kalimat ini sebenarnya sarat makna. Perang melawan hawa nafsu adalah perang sepanjang hayat. Pada dasarnya itulah jihad. Banyak sekali nafsu yang harus kita lawan dalam hidup ini. Perang melawan nafsu malas belajar, nafsu malas bekerja, berusaha. Perang melawan nafsu serakah. Perang melawan nafsu menzolimi orang lain, melawan nafsu menerima suap meski gaji kecil dan perang-perang terhadap nafsu buruk lainnya. Jadi sesungguhnya hidup itu sendiri sudah merupakan jihad. Tinggal bagaimana kita memaknainya saja. Kalau kita menyadari jihad seperti ini, maka orang Islam akan menjadi muslim yang sesungguhnya. Muslim yang diharapkan oleh Allah dan nabi. Muslim yang membawa rahmatan lil alamin. Dan efeknya pasti orang senang melihat Islam. Tanpa harus berdarah-darah orang-orang akan berbondong-bondong masuk islam Persis seperti masa jayanya islam dahulu kala. Islam menjadi sebuah tonggak sejarah..Banyak kemajuan baik ilmu dan kehidupan di masa kejayaan islam tersebut. Tak ada darah. Semua agama bisa hidup dalam damai di negeri yang dipimpin oleh seorang amirul mukminin.
Penutup
Pada tahun 1986, Heru Suprantio, seorang mantan wartawan bola (sekarang pemred koran online www.Ghabo.com) ditugasi untuk meliput pertandingan bola antara Tim Nasional Indonesia melawan Tim Nasional Korea Selatan di stadium olimpiade Seoul. Saat itu timnas Indonesia diawaki oleh Adolf Kabo asal Papua sebagai striker / penyerang, Zulkarnaen Lubis asal Medan sebagai gelandang, Wahyu Tanoto yang beretnis China pada posisi belakang (Back) dan Ponirin Meca yang bersuku Jawa sebagai Kiper dan Nurdahyar. Seorang wartawan asing berkata kepada Heru Suprantio ”Tim negara anda akan sulit menang karena terdiri dari bermacam-macam suku bangsa. Sulit menyatukan sebuah tim seperti itu.”. Walau orang asing tersebut hanya mengatakan mengenai timnas sepakbola apakah itu juga mencerminkan negara kita? Bahwa sangat sulit menyatukan negara ini karena terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan berbagai agama? Apakah berarti negara ini tidak akan pernah sukses, karena potensi konflik yang disimpan akibat perbedaan-perbedaan tersebut? Aku tidak sependapat. Tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan alam semesta. Sesuatu bisa jadi baik atau buruk tergantung pada manusianya. Keadaan buruk bisa diubah menjadi baik, asal ada kemauan. Dimana ada kemauan di situ ada jalan. (Kok gw jadi berpepatah petitih)
Akhirul kalam, aku hanya ingin mengajak marilah kita beragama sebagaimana orang bermain bola. Beragama dengan fun. Walau kita berbeda-beda tapi kemenangan bisa kita raih secara bersama. Marilah kita berjihad dengan karya, bukan dengan pedang. Marilah berjihad secara elegan, secara cerdas. Tak perlu ada darah lagi yang tumpah di negeri ini. Sudah terlalu banyak orang yang tak bersalah menjadi korban. Cukup sudah…Mari berkarya..mari bekerja..mari terus belajar…perluas cakrawala…
*** Wassalam ***