EURO 2008 & LIFE
EURO 2008 & LIFE
(Inspired by Heru Suprantio a Soccer Maniac)
by: Hessy Zainal
Monday, June 23, 2008
Sekarang hampir semua penggila bola kena demam piala Eropa, tidak terkecuali suamiku. Tiap malam walau pulang sudah larut malam pasti dia akan menyempatkan diri menonton bola meski matanya tinggal 2 watt. Jika pulangnya agak pagian (pagian itu maksudnya sekitar jam 10 atau jam 11 malam) maka suamiku itu akan tidur dulu (belum sholat isha, walau sudah ku ingatkan. Katanya sholatnya ntar pas bangun untuk nonton bola), lalu nanti bangun sewaktu acara bola dimulai. Kalo orang muslim yang baikkan, harusnya bangun tengah malam untuk sholat tahajud ya, sedang suamiku tahajudnya adalah tahajud bola..(Bang, yang rajin dong sholat tahajud, sholat tahajud dapat pahala, nonton bola kagak !!!…)
Aku sebenarnya bukan pencinta bola, tapi ga buta-buta amat tentang bola. Aku lebih suka bulu tangkis karena pertama aku mengerti sistem permainannya, bisa memainkan dan yang penting jam tayang pertandingan bulu tangkis belum pernah bentrok dengan jadwal tidurku. Sedangkan tayangan bola selalu bentrok dengan jam tidurku sementara aku punya penyakit susah bangun. Penyakitku berbanding terbalik dengan suamiku yang susah tidur. Pertandingan bola yang ku ikuti (minimal lewat koran) hanyalah pertandingan piala dunia dan piala eropa. Kenapa? Karena aku lebih suka menonton pertandingan dan memegang jagoan berdasarkan negara. Kalau liga Itali, liga Inggris dan liga2 lain aku tidak mengikuti, karena pemain liga seperti itu berasal dari negara nano-nano. Jadi ga jelas mau pegang klub yang mana. Kalopun nonton karena pemain bola banyak yang cakep. Lumayanlah daripada nonton sinetron mulu yang ga jelas ceritanya. (Mane pale si abang suka pusing kalo liat istrinya nonton sinetron mulu. Katanya ”Istriku dosen, S2, tapi hobinya nonton infotainment ama sinetron. Tidak habis pikir saya.”.(Lagian emang tayangan TV adanya cuma itu.!))..
Pada tulisan kali ini aku tidak akan membahas permainan bola (lagian aku memang bukan pakar bola…kalo tentang bola, biar suamiku saja yang menulis). Aku akan menulis filosofi bola …(.Taela S3 belum., sok-sok an mo bicara filosofi pula. Tapi ku rasa tidak apa. Minimal filosofi kehidupan yang dapat dipetik dari permainan bola berdasarkan pandangan seorang palalok…hua..ha..ha..)
SOCCER GAME VS LIFE
Bola itu bundar, begitu juga dengan kehidupan. Hidup berputar seperti bola, terkadang arahnya sulit diprediksi. Seringkali hidup berjalan tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita buat, tidak sesuai dengan keinginan yang kita kehendaki. Kita pikir kita akan menang ternyata kita kalah. Sebaliknya seringkali pada saat orang-orang melihat kita sudah tidak punya harapan lagi, ternyata kita keluar sebagai pemenang. Sebenarnya apa yang paling dibutuhkan dalam hidup ini?
Dari pertandingan Euro 2008, aku melihat bahwa ada 3 (tiga) faktor penting yang mempengaruhi kesuksesan dan keberhasilan sebuah tim yang bisa kita analogikan sebagai kehidupan. Apa saja faktor tersebut? Faktor-faktor tersebut adalah: 1) Skill 2) Kerja keras 3) Nasib. Untuk bisa menang, minimal sebuah tim harus memiliki 2 faktor. Syukur kalo bisa memiliki ke 3 nya, akan tetapi jarang sekali ada tim yang sangat beruntung sehingga bisa mempunyai ketiga faktor tersebut. Untuk membuktikan hal tersebut mari kita evaluasi sejenak hasil sementara pertandingan Euro 2008.
Turki dan Rusia adalah tim yang tidak diunggulkan, hanya dipandang sebelah mata. Pemain-pemain Ay-Yildizlilar adalah pemain kelas dua atau tiga Eropa. Kebanyakan pemain Turki berasal dari klub lokal Turki dan kalaupun merumput (sapi kaleee..) di luar negeri, bermainnya juga di klub-klub medioker, liga-liga tak terdengar. Sementara tim Rusia lebih parah lagi hanya terdiri dari pemain-pemain yang namanya sayup-sayup sampai alias hampir tak pernah didengar namanya. (Sampai sekarang saja aku pun tak tau nama-nama pemainnya…Namanya susah kali diapal). Bandingkan dengan tim-tim unggulan seperti Belanda, Prancis, Portugal, Kroasia yang bertaburan pemain bintang (dan cakep pula). Tapi apa nyana? (Nyana itu bahasa Indonesia kan bang?) Tim-tim unggulan itu tersungkur dibawah telapak kaki Turki (the sick men pada Perang Dunia I) dan Rusia siberuang merah.
Mengapa Belanda bisa kalah dari Rusia? Padahal sebelumnya Belanda dengan gagah perkasa melaju ke perempat final dengan mengalahkan tim-tim unggulan dengan skor telak yaitu; Itali 3-0, Prancis 4-1, Rumania 2-0. Pas melawan Rusia yang dilatih oleh orang Jawa Timur itu, Gus Hiddiink, malah kalah. (Apalagi lawan PSSI yang dilatih oleh Gus Dur atau Gus Mus ya, pasti Belanda lebih keok lagi…hua..ha..ha…). Semua orang tau bahwa dari segi teknik dan personil, tim Belanda jauh lebih unggul dari tim Rusia.
Kita lihat lagi pertandingan Turki melawan Kroasia. Pada detik-detik terakhir yang sepertinya Turki akan kalah ternyata Turki mampu menyarangkan gol ke gawang Kroasia sehingga kedudukan menjadi 1-1 dan diselesaikan dengan adu penalti. Turki akhirnya menang
Menurut analisis seorang mantan wartawan bola, Heru Suprantio (yang nonton bola dan suka mengajakku bercakap-cakap tentang bola pada dini hari walau mata dan telingaku hanya separo melihat dan mendengar), bahwa Belanda hanya bisa main bagus jika lawannya juga bagus. Makanya sewaktu Belanda melawan Itali, Perancis dan Rumania, negara ini menang. Sementara jika Belanda melawan tim yang skillnya berada dibawahnya maka Belanda akan ikut-ikutan bermain buruk. Kata beliau, Belanda lebih mengutamakan keindahan dalam bermain bola. Sedangkan untuk partai Turki melawan Kroasia, Turki menang karena ada keajaiban.
Aku yang tak terlalu paham bola mengangguk-angguk saja mendengar analisis wartawan senior tersebut. Tapi yang kulihat adalah perlu minimal dua faktor dari tiga faktor untuk memenangkan sebuah pertandingan. Faktor manakah yang penting? Menurutku yang penting adalah faktor 1) Kerja keras tanpa putus asa 2) Nasib. Sementara kalau sebuah tim memiliki 1) Skill 2) Kerja keras, belum tentu bisa menang jika lawannya punya nasib yang lebih baik.
Perhatikan Belanda. Sewaktu melawan tim-tim unggulan yang sama-sama mempunyai skill yang baik, Belanda menang. Kenapa? Karena tim-tim tersebut mempunyai competitive advantage yang sama dengan Belanda. Mereka sama-sama punya skill yang mumpuni dan sama-sama bekerja keras. Akhirnya yang memiliki skill yang lebih unggul lah yang menang.Sewaktu melawan Rusia, Belanda malah seperti kehilangan akal. Rusia yang diawaki oleh pemain-pemain muda usia berhasil mementahkan permainan Belanda. Hilanglah seni total football-nya Belanda. Rusia bekerja keras dan punya nasib yang baik. Faktor nasib yang menentukan.
Lihat lagi Turki.. Pemain-pemain kelas dua tersebut mampu membungkam Kroasia. Turki mengalami nasib baik sampai 3x. Sungguh ajaib..Tapi ga mungkin semata keajaibankan? Pemain Turki juga telah bekerja keras tanpa putus harapan sampai pluit berbunyi. Kerja keras mereka membuahkan hasil manis.
HIKMAH EURO 2008
Ada hikmah yang bisa dipetik dari permainan bola:
1) Walaupun kita lebih goblok dibanding orang lain jangan pernah putus asa. Yang penting kerja keras mana tau nasib berpihak pada kita. Gusti Allah ora sare. Tapi jangan kerja keras tanpa arah, tetap harus belajar, tetap harus mengasah skill. Karena tidak mungkin Rusia menang melawan Belanda kalau mereka tidak berlatih, tidak belajar dari kekalahan. (Makanya tukang becak walau sudah kerja keras seharian, tidak berubah juga nasibnya. Gw rasa karena malas atau tidak belajar, bahwa berprofesi tukang becak mungkin sudah tidak lagi mempunyai keunggulan kompetitif. Coba becaknya dibuat jualan sayur, atau jualan mendoan keliling, mungkin tukang becak tersebut akan lebih banyak punya pitih J )
2) Untuk bisa melihat kekurangan kita, seringkali kita butuh orang lain. Sulit untuk melihat kekurangan kita, orang lain akan lebih objektif menilai kita. Jadi jangan marah jika dikritik atau diberi nasehat oleh orang lain. Berterimakasihlah pada orang yang mengritik kita walaupun kritikan itu pedas. Karena sambel yang pedas membuat makanan menjadi nikmat. Begitu juga kritikan yang pedas akan menjadi nikmat jika kita bisa membalikkan kritikan menjadi sebuah kesuksesan.
3) Pada saat kita sudah memiliki keahlian yang mumpuni, jangan belagu, jangan suka menganggap enteng orang-orang yang lebih guoblok dari kita. Ingat! Bola itu bulat. Mana tau orang yang kita anggap enteng itu suatu saat mengalahkan kita, mana tau malah jadi atasan kita, atau malah menolong kita. Tetaplah rendah hati, bantu-bantu orang yang kurang beruntung dibanding kita. Manfaatkan keahlian kita sebanyak mungkin untuk kemaslahatan orang banyak.
4) Faktor nasib sebenarnya dekat dengan Tuhan. Jadi disamping kerja keras, belajar jangan lupa berdoa. Berharaplah pada kemurahan hati Tuhan, sehingga Tuhan akan berpihak pada kita. Karena sebuah keberhasilan bukanlah semata-mata karena usaha kita tapi lebih pada kemurahan hati Tuhan untuk memberikan kesuksesan pada kita. Berapa banyak orang yang sudah jungkir balik dalam kehidupan, tapi hidupnya begitu-begitu saja? Apa yang salah? Coba diteliti lagi. Apa karena salah strategi (berarti harus belajar lebih banyak lagi) atau karena nasib? (Jangan-jangan karena terlalu sombong atau karena niat yang kurang lurus dalam mencapai kesuksesan)
5) Kesuksesan jangan selalu diterjemahkan dengan materi, uang atau kekayaan. Sukses berarti tercapainya tujuan hidup. Makanya suksesnya sebuah tim bola diukur dengan berapa banyak GOAL yang bisa dibuat. GOAL = TUJUAN. Sekarang anda sendirilah yang tau tujuan hidup anda. Apabila anda menginginkan anak-anak yang sholeh dan anda memperolehnya walau anda tidak kaya secara materi, berarti anda sudah sukses. Minimal sukses mendidik anak. Jika anda bercita-cita menjadi musafir kelana dan anda sudah berhasil mengunjungi beberapa negara walau tidak sebagai musafir kelana tulen, anda sudah bolehlah sedikit berbahagia karena sebagian dari cita-cita anda sudah terpenuhi. Apabila anda mengartikan sukses = kaya, berarti definisi kaya yang harus dibenahi. Karena apabila anda mengartikan kaya dari segi materi semata anda tidak akan pernah menjadi kaya. KAYA = MERASA CUKUP. Jika anda bergaji Rp 5 juta dan anda merasa cukup dengan uang sebesar itu, anda adalah orang yang kaya. Sebaliknya jika anda punya uang berember-ember (miliaran) atau bertong-tong (trilyunan) akan tetapi masih juga merasa belum cukup, masih haus juga akan uang, anda adalah orang paling miskin di dunia.
6) Menurut agama saya tujuan hidup manusia adalah menyembah Tuhan (”Tidak Ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah Ku”). Apakah berarti dengan rajin sholat, puasa atau rajin ke gereja berarti kita sudah sukses? Aku tidak setuju. Menyembah = beribadah. Setiap kegiatan adalah ibadah selama niatnya dikarenakan Allah semata. Ibadah yang baik adalah ibadah yang bermanfaat bagi banyak orang karena agama diturunkan untuk rahmatan lil alamin (rahmat sekalian alam). Jadi jika pekerjaan yang anda geluti sekarang banyak manfaatnya bagi orang lain walau anda hidup sederhana, anda sudah bisa dikatakan sukses. Contohnya adalah Butet, wanita yang mengabdikan dirinya untuk mengajar baca tulis orang-orang kubu di Jambi. Dengan mengajarkan membaca, Butet telah membuka cakrawala berpikir suku terbelakang tersebut. Butet bersedia hidup sangat bersahaja di hutan Jambi demi mencapai cita-citanya memajukan orang Kubu agar orang-orang Kubu tersebut tidak dikadali oleh orang-orang kota manakala berbelanja ke kota. Tujuan Butet sangat sederhana tapi sekaligus sangat-sangat mulia. Tidak semua orang mampu berbuat seperti Butet. Butet orang kaya. Kaya hati. Butet adalah manusia yang sukses.
*** the end ***
June 23rd, 2008 at 7:54 am
Beste Hessy, istriku, perempuan yang selalu menikmati hari-harinya di sebuah desa di Limus Nunggal..
Saya gembira membaca tulisan di atas. Kita memang wajib share pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain lewat media apa pun, termasuk blog/friendster ini. Sepakbola memberikan inspirasi yang luar biasa kepada siapa pun. Tidak terbayangkan, hanya dalam tempo dua menit, para pemain Turki bisa membuat jutaan warga Kroasia bersedih lantaran tim mereka tersingkir. Para pemain Turki telah membuktikan kepada kita bahwa manusia pantang putus asa. Dan dalam Islam, agama kita, putus asa adalah dosa terbesar (dosanya lebih besar dibandingkan menyekutukan Allah Swt…). Sebab, berputus asa itu sama artinya tidak percaya adanya Allah, sedangkan menyekutukan Allah itu masih menganggap ada Allah dan kesalahannya “hanya mensejajarkan” dengan yang lain.
Saya gembira juga disebut sebagai soccer maniac, meski saya nyaris tidak pernah mengeluarkan piti serupiah pun untuk menikmati pertandingan sepakbola di tingkat mana pun, tingkat kelurahan, kecamatan, kota, provinsi, nasional, atau internasional. Dengan nonton sepakbola, saya justru mendapatkan piti…
Saya bela-belain nonton siaran langsung Euro 2008 pada dinihari supaya tidak kelihatan “katro” kalo diajak diskusi sepakbola. Kalau lihat para suporter sepakbola di tribun, saya cuma teringat masa-masa beberapa tahun silam, ketika saya berada di tengah-tengah suporter Belanda, suporter Italia, suporter Jerman. Jadi, ada sedikit “nostal-gila”.
Saya dan istri saya, Hessy, selalu berdiskusi tentang banyak hal, terutama yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Mulai dari soal bulutangkis, sepakbola, korupsi di kejaksaan agung, bentrokan para pendukung FPI (Front Pembela Islam) dan barisan kebebesan beragama dan berkeyakinan, unjuk rasa mahasiswa sampai hal-hal remeh-temeh yang lain.
Saya menyarankan kepada istri untuk menulis tentang niat baik FPI yang diterapkan dengan cara yang salah kaprah (menggunakan kekerasan). Seharusnya, orang-orang FPI itu justru memerangi para koruptor yang ada di kejaksaan agung. Sebab, para koruptor di kejaksanaan agung kebanyakan orang Islam. Perilaku mereka yang korup telah menghancurkan nama baik Islam. Kelakuan para koruptor sangat bertentangan dengan Islam, jadi harus dilawan, harus dibasmi, harus dienyahkan. Inilah yang seharusnya dilakukan oleh teman-teman di FPI.
Saya dan istri bisa diskusikan panjang lebar di “sebuah istana” di Limus Nunggal lantaran kami hanya tinggal berdua. Kedua anak kami sibuk dengan pekerjaan dan sekolah masing. Anak kami yang pertama, lulusan Pondok Gontor kini sedang kuliah dan ngajar bahasa Arab di sebuah tsanawiyah di Depok. Sedangkan anak kami yang kedua sekarang masih mondok di Gontor, kelas enam (kelas 3 SMA) yang insya Allah ramadhan tahun 2008 ini selasai. Amin.
Jadi, saya dan istri selalu bertukar pikiran, saling memberikan inspirasi, baik ketika berada di meja makan, di dapur, di halaman, di dalam mobil, kamar tidur, atau pada blog seperti yang ditulis ini.
Salam
June 23rd, 2008 at 5:58 pm
Luar biasa…hikmah bisa diambil darimana saja ya mba..thanks for sharing