Catatan Hessy

Ini blog isinya adalah hal-hal yang melintas di otak kananku. Karena yang melintas banyak, jadi ku pikir perlu ku buat semacam catatan, supaya besok-besok kalo aku lupa, ku bukalah catatan ini. Ya mudah2an catatan ini tidak hanya berguna untukku, tapi juga bagi orang lain. Salam Hangat Hessy

Archive for July, 2008


YU PECEL, JALAN KE SURGA & MLM

YU PECEL, JALAN KE SURGA & MLM

Selasa, 22 Juli 2008

(By : Hessy in S building, 5th floor)

Harta adalah perhiasan dunia

Ilmu adalah pelita hati

Anak-anak adalah cahaya dunia

Pagi ini setiba di kampus aku membeli pecel untuk tambahan sarapan. Kenapa tambahan? Karena sebenarnya aku tadi sudah sarapan dengan minum teh tarik dan sepotong kue kampung asal Makasar. Hari ini ada yang berbeda dengan tempat dagangan Yu Pecel. Tempat dagangan yang biasanya hanya sebuah meja yang dipenuhi dengan sayuran, gorengan dan krupuk sekarang berganti dengan etalase yang kinclong serta sebuah kithen set yang bersih. Belakang gedung L baru saja direnovasi sehingga semua pedagang mendapat tempat yang lebih layak untuk berdagang. Selain tempat yang berbeda, harga pecel juga menjadi berbeda sekarang. Biasanya sebungkus pecel bakwan  cukup ku bayar dengan uang Rp 3500,- atau Rp 4,000. (Jika diajak omong jawa, Yu hanya meminta uang Rp 3,500). Sekarang harganya menjadi Rp 5000,-. Sewaktu menyerahkan uang lembaran Rp 5000,- aku masih berharap ada kembalian Rp 1000,-. Ternyata itu hanya harapan kosong (halah…) Yu pecel langsung bilang matur nuwun. Aku bengong????  (dalam hatiku mahal kali pecel di

Jakarta

ya). Tapi aku tetap tersenyum, ku bilang saja “

Lima

ribu ya Yu?” “Iya” jawab yu pecel. Aku pun berlalu sambil tersenyum miring.

Di perjalanan menuju ruanganku aku berpikir untuk menenangkan hati karena kenaikan harga pecel. (Gile juga gw ya, uang Rp 1000 aja sampai membuatku berpikir..Mungkin hal ini disebabkan karena aku wanita, akuntan,

Padang

pula. Lengkaplah sudah kenapa aku sangat perhitungan terhadap setiap rupiah yang ku keluarkan..hua..ha..ha….). Ku pikir suatu hal yang wajar kenaikan tersebut. Yu pecel pasti harus membayar ongkos sewa tempat yang lebih dari biasa kepada pihak otorita kampus sehingga mau tidak mau Yu pecel harus menaikkan harga. Dalam hati aku berdoa mudah-mudahan pelanggan Yu pecel tidak pada kabur, Karena kadang-kadang orang hanya berpikir bagaimana mendapatkah harga yang murah tapi dengan kualitas prima…Sungguh sangat kapitalis cara berpikir demikian.

Lantas apa hubungan Yu pecel dengan jalan ke surga? Aku juga tidak tau. Kenapa tiba-tiba terlintas di kepalaku seperti itu. Aku hanya berpikir Yu pecel pasti juga ingin masuk surga. Yu pecel dengan segala kesederhaannya pasti juga tak ingin amalnya terputus setelah beliau check out dari muka bumi ini. Padahal menurut agama yang ku anut ada 3 amal yang akan berlanjut memberikan pahala walaupun seseorang sudah meninggal dunia. Ketiga amal tersebut adalah: 1) Harta yang diwakafkan 2) Ilmu yang diamalkan 3) anak yang soleh. Aku jadi berpikir Yu pecel apa punya harta yang banyak ya untuk diwakafkan? Kalo Cuma dagang pecel, tipis kemungkinannya. Terus kalau dari segi ilmu, apa yu pecel cukup mumpuni? Tipis juga ku lihat. Terakhir, yu punya anak.. Mudah2an yu pecel telah berhasil mendidik anaknya menjadi anak-anak yang sholeh..

Gara-gara Yu pecel aku jadi berpikir lebih jauh lagi. Kalo gitu kasian kali ya orang miskin, tak berilmu  lantas tak dianugerahi anak pula. Setelah dia check out, putuslah hubungannya dengan dunia. Sambil mengunyah daun-daun pecel berkuah kacang aku lantas membantah pikiranku sendiri. Kata sisi hatiku yang lain, Allah tidak sesempit itu. Allah tidak sepelit itu terhadap hambaNya. HambaNya saja yang guoblok dan sempit dalam penafsiran, pelit dalam berbagi, suka berprasangka tak elok pada Sang Maha Pemberi dan Pemurah.

Banyak orang di muka bumi ini yang kurang beruntung dalam hidupnya. 

Ada

yang terlahir miskin dan besarpun tetap tak berpunya.

Ada

yang lahir dari keluarga tak berilmu (dalam artian keluarga kurang intelek) tetap tak selesai sekolahnya setelah besar.

Ada

juga orang yang belum dipercaya Allah sampai akhir hayatnya untuk memperoleh keturunan langsung. Tapi apakah berarti jalan orang-orang tersebut ke surga menjadi buntu? Apakah jalan ke surga mereka yang kurang beruntung tersebut menjadi terhenti setelah mereka pergi meninggalkan dunia yang fana ini? Ku rasa tidak. Mungkin sebenarnya penafsiran ku saja yang sempit jangan-jangan sebenarnya penafsirannya seperti ini.

1)     Harta yang diwakafkan

Harta yang diwakafkan, tidak selalu harus bernominal besar. Besar kecil sumbangan itu relative bagi si penderma, sama halnya seperti konsep material dalam akuntansi. Rp 100.000 bagi seorang Ciputra yang konglomerat mungkin hanya piece of cake atau peanut lah. Maksudnya,  sekali Ciputra sarapan kue dan kacang di sebuah hotel  beliau akan merogoh uang Rp 100.000. Dan itu tidak material bagi beliau. Sedangkan bagi orang kebanyakan apalagi bagi Yu pecel, mungkin Rp 100.000 adalah omzet harian Yu pecel. Sudah bagus kalo Yu pecel dapat profit Rp 50.000 per hari. Jadi tentu saja jika Yu pecel mengeluarkan wakaf Rp 100.000 menjadi sangat besar dan juga mungkin berat bagi Yu pecel. Lantas kalau yu pecel cuma menyumbang Rp 5000 terus tidak bernilai dimata Tuhan (Orang kaya aja kalo nyumbang Rp 5000 aja masih mikir kok, gimana yu pecel

kan

?), kesian kali beliau

kan

? Tentu saja Tuhan tidak senaif itu dan aku yakin nilai sumbangan Yu pecel akan lebih besar dimataNya daripada sumbangan seorang Al-Amin sebesar Rp 50juta tapi hasil jual beli ijin pembalakan liar hutan di kampong gw. Yu pecel biar Rp 5000, tapi

kan

uang halal, murni hasil keringat. (Sementara Al-Amin bakaringek bukan untuk dapat pitih Rp 600 juta, tapi bakaringek di hotel dengan gadis bergaun putih   :>  ).

Kebanyakan juga kita mengartikan harta yang diwakafkan adalah harta tetap yang disumbangkan. Misalnya tanah yang disumbangkan untuk kepentingan umum seperti untuk dibangun mesjid, sekolah atau sarana lain. Jikalau harta yang diwakafkan sesempit itu susah juga orang-orang kaya gw (bukan orang kaya maksudnya). Boro-boro mau nyumbang tanah, tanah yang ada juga segini-gininya, cicilan belum lunas pula. Jadi mungkin maksud harta yang diwakafkan bisa juga berarti ikutan nyumbang untuk pembangunan sarana umum. Atau bisa juga bermakna walau kita cuma punya rumah satu, tapi rumah itu sering dipakai untuk pengajian ibu-ibu RT atau dipakai anak kita dan teman-temannya belajar bareng, atau halamannya digunakan untuk menanam pohon-pohon yang menyejukkan orang yang lewat, menyejukkan mata dan memberikan tambahan oksigen dapat diartikan juga berwakaf untuk kepentingan umum. Intinya harta kita tidak hanya bermanfaat untuk kita sekeluarga tapi juga untuk orang lain.

2)     Ilmu yang Diamalkan

Pahala yang tak terputus lainnya adalah ilmu yang diamalkan. Banyak ilmu dimuka bumi ini. Selama ilmu itu bermanfaat, yang mengajarkannya akan memperoleh pahala. Katanya profesi yang banyak mendapat pahala dari ilmu adalah guru. Profesi guru bergelar MBA (= Menabung Buat Akhirat). Kata temanku guru yang paling banyak mendapat pahala dari ilmu yang diamalkan adalah guru SD karena guru SD lah yang mengajarkan kita ilmu dasar calistung (baca, tulis, hitung). Ilmu calistung akan selalu terpakai sampai kita mati. Lantas bagaimana dengan yu pecel? Aku tidak tau apakah yu pecel bisa baca, tulis. Yang pasti yu pecel pasti bisa berhitung (kalo ga, bangkrut lah dia). Yang pasti lainnya adalah yu pecel sangat mumpuni dalam ilmu membuat pecel. Yu pecel juga guru. Guru bagi ibu-ibu pembeli yang suka bertanya bagaimana membuat bumbu pecel yang mantap rasanya. Sewaktu ibu-ibu tersebut mempraktekkan ilmu yang diperoleh dari yu pecel, yu pecel akan memperoleh pahala. Lalu jika ibu-ibu tersebut  menurunkan ilmu membuat pecelnya pada anak gadisnya (mungkin juga anak lelakinya, jika suka memasak), maka yu pecel masih memperoleh point MLK (Multi Level Knowledge). Begitu seterusnya.

3)     Anak yang sholeh

Yu pecel punyak anak, tidak tau berapa. Yg jelas yu pecel pernah cerita beberapa kali tentang anaknya, berarti beliau punya anak. Soal kadar kesolehan anaknya, aku tak tau. Aku juga tak tau indikator pasti anak sholeh. Apakah anak yang rajin sholat, puasa, ngaji tetapi suka melawan orang tua dianggap sudah soleh? Atau apakah anak yang sholatnya bolong-bolong, puasanya kadang penuh, kadang tidak, apalagi mengaji, setahun sekali belum tentu buka al quran tapi sangat santun dan bertanggungjawab terhadap kemaslahatan orang tuanya yang sudah tua renta dianggap  tidak sholeh? Kalo dia rajin sholat, puasa, ngaji, santun pada orang tua, jelaslah itu sholeh. Tapi

kan

tidak semua orang tua seberuntung itu. Punya anak sudah beruntung, punya anak yang sholeh berarti beruntung seqaleee…. Cuma kalo anak kita setengah sholeh, dapat pahala ga seh ortunya?

     Menurut hematku (berpikir aja ko’ pake hemat2 segala. Padahal berpikirkan  kaga pake pitih, jadi boros gpp. Belanja nah baru kudu hemat), Allah memberi pahala sama seperti dosen memberi nilai. Tergantung usaha. Jadi biar hasilnya kurang sempurna, tetap ada nilainya. Kalau salah, masih ada nilai, ongkos nulis namanya. (Ingat, ada ayat yang mengatakan bahwa anak yang baru lahir itu ibarat kertas putih, orang tuanya lah yang “menulisnya” menjadi nasrani, majusi atau lainnya). Jadi jika seseorang mempunyai anak cuma ¼ sholeh, atau ½ sholeh atau ¾ sholeh, nilainya atau pahala yang dia dapat dari anaknya ya sebesar itulah, sebesar kebenarannya dalam mendidik anaknya. Tapi kalau anaknya berhasil mendidik anaknya lagi (jadi cucunya) dengan baik, pointnya akan terakumulasi. So, I think reward from Allah just like point system in Multi Level Marketing. Kalau down line kita bekerja keras, up line juga yang akan beruntung. Keberhasilan down line tergantung keberhasilan up line mendidik down line. Jarang up line yang beruntung dimana tanpa mendidik, tanpa kerja keras dapat down line yang baik. Begitu juga orang tua, jarang orang tua yang kurang baik mendidik anaknya terus ujuk-ujuk dapat anak yang sholeh. Kalo pun ada, itu karena nasib alias takdir suratan tangannya bagus.

      Terus bagaimana dengan orang yang tidak diberi kepercayaan untuk memperoleh keturunan langsung? Apa tidak bisa membuat jalan ke surga melalui cara ini? Tuhan itu Maha Adil, Maha Pemurah. Jadi ku pikir pengertian anak harus diperluas. Anak bukan berarti harus darah daging kita, bukan berarti harus lahir dari rahim kita. Anak-anak di muka bumi adalah anak-anak kita semua. Kita bertanggungjawab terhadap kemaslahatan setiap anak di muka bumi. Seharusnya tidak boleh ada anak-anak yang menderita di muka bumi. Jadi apabila kita berbuat baik dalam artian ikut mendidik, membesarkan, mengarahkan anak siapa pun di muka bumi ini kita akan dapat point dari Allah. Guru akan mendapatkan point dari anak didiknya. Orang tua asuh akan dapat point dari anak asuhnya. Orang tua angkat akan mendapatkan point dari anak angkatnya. Orang tua tiripun akan terselamatkan oleh doa anak tirinya, selama dia mempunyai andil dalam hidup anak yang berada di bawah tanggungjawabnya tersebut.

     Kita secara pribadi tidak mungkin menyelamatkan semua anak di muka bumi. Tapi jika tiap manusia dewasa bertanggungjawab terhadap anak-anak yang berada di sekelilingnya, maka seluruh anak di muka bumi akan selamat. Hal yang besar dimulai dari hal yang kecil.

SIMPULAN

1.

Ada

keterkaitan antara 3 pahala yang tak terputus, fokusnya adalah ilmu dan usaha. Allah meninggikan derajat orang yang berilmu. Tapi ilmu itu haruslah diamalkan (usaha). Untuk mempunyai ilmu juga kudu usaha (belajar, berpikir, memahami, merenungkan).Supaya bisa kaya dan berharta agar bisa berwakaf, kudu pake ilmu. Agar harta menjadi bermanfaat kudu pake ilmu juga. Selanjutnya agar punya anak yang sholeh, kudu punya ilmu untuk mendidik anak agar mereka tidak salah jalan dan dapat menurunkan ilmunya lagi kepada turunan mereka masing-masing.

2. Ilmu bisa diperoleh dari mana saja bahkan dari seorang Yu pecel. Hari ini aku belajar dari Yu pecel. Yu pecel berhak dapat point untuk tulisan ini.

  1. Kalo punya ilmu tidak boleh pelit. Karena ilmu akan berguna jika diajarkan kepada orang lain. Dengan mengajarkan maka akan semakin paham, bahkan terkadang akan mendapatkan nuansa baru dari sebuah hal yang sama.

  1. Kalo punya harta juga ga boleh pelit. Karena yang dibawa mati adalah harta yang disedekahkan bukan yang ditabung di bank atau yang diinvestasikan direksadana. Jangan hanya mengingat tabungan hari tua. Mengingat tabungan akhirat jauh lebih penting karena sewaktu kita check out dari muka bumi yang kita bawa hanya kavling tipe 21 (2 meter x 1 meter) dan dua lembar kain (paling panjangnya 5 meter, 1 lembar untuk menutup bagian atas, 1 lagi untuk sarungnya).

  1. Jangan ragu-ragu menegur anak-anak yang anda liat berbuat salah. Mereka juga adalah anak-anak anda juga. Anda mempunyai kewajiban mendidik mereka. Kalau anda takut  ditegur orang tuanya karena anda telah berani-beraninya menegur anak mereka, anda plototin saja anak yang berbuat salah itu. Tapi pastikan anda memelotin anak tersebut dibelakan orang tuanya, biar muka anda selamat dari bogem mentah.

  1. Hati-hati dengan lidah, perbuatan dan tindakan anda. Akibatnya bisa kemana-mana bahkan tujuh turunan. Ingat teori multi level marketing. Siapa yang menanam padi akan dapat padi. Siapa yang menanam

    duren

    akan dapat

    duren

    . Ya iyalah…masa nanam padi tapi panennya

    duren

    ??? Aneh tapi nyata ngkaleee….

  1. Setiap orang mempunyai jalannya masing-masing ke surga. Tinggal pilih saja. Yang jelas tidak ada jalan pintas menuju surga. Tuhan anti korupsi, anti sogok. Yu pecel juga punya jalan menuju surga.

**** Salam Kompak ****