Catatan Hessy

Ini blog isinya adalah hal-hal yang melintas di otak kananku. Karena yang melintas banyak, jadi ku pikir perlu ku buat semacam catatan, supaya besok-besok kalo aku lupa, ku bukalah catatan ini. Ya mudah2an catatan ini tidak hanya berguna untukku, tapi juga bagi orang lain. Salam Hangat Hessy

Archive for September, 2008


JANGAN ANGGAP REMEH GARAM

JANGAN ANGGAP REMEH GARAM

&

JANGAN ANGGAP ENTENG SAKIT GIGI

By : Hessy Zainal

At Limus Pratama Regency

Tsalasa, 23 Ramadhan 1429 H

PENDAHULUAN

Bulan Ramadhan tahun ini berbeda dengan Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Salah satu anggota keluarga kami yaitu kakak iparku, Yul Sandra jatuh sakit dan sempat mengalami koma selama dua hari. Ni Yul jatuh sakit di bulan Ramadhan. Sempat terpikir sewaktu Ni Yul koma, apakah Ni Yul akan kembali kepangkuan Tuhannya? Jika dia kembali, tentu ini saat kembali yang baik, sudahlah bulan Ramadhan, malam Jumat pula. Menurut agama Islam meninggal pada bulan Ramadhan atau malam Jumat adalah saat yang baik. Karena Ramadhan adalah bulan suci, dimana dosa-dosa kita dihapuskan. Tentu sangat baik menghadap Tuhan dalam keadaan bersih dari dosa. Atau jika hari Jumat, maka akan banyak yang menyolatkan. Katanya jika yang menyolatkan mayat lebih dari 40 orang, maka mayat akan terlepas dari siksa kubur.

Kenyataan berkata lain. Tuhan punya rencana yang lebih baik. Keadaan Ni Yul semakin membaik. Dia mulai sadar. Hanya saja Ni Yul yang sekarang berbeda dengan Ni Yul yang dulu. Ni Yul harus belajar menggerakkan anggota tubuhnya dari awal lagi. Ni Yul harus belajar mengingat semuanya lagi. Semua harus dari awal. Subhanallah. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia. Sungguh tidak sia-sia Allah menciptakan segala sesuatu. Tidak ada satu pun daun yang jatuh ke bumi tanpa sepengetahuan Nya. Oleh karena itu, walau ini adalah cobaan berat bagi abangku dan kami sekeluarga tentu ada hikmah berharga dibalik semuanya. Allah tidak akan mencoba seseorang diluar batas kemampuannya. Semua yang menimpa kita, sudah tertulis di Lauhful Mahfuz.

Cerita ini dimulai pada hari Kamis, 18 September 2008.

Khomsa, 18 Ramadhan 1429H, 5.30 PM

Kring..kring..kring… HP ku berbunyi pas aku sedang membuka pintu rumah sepulang dari kampus. Tertulis nama Yul Sandra. Yul adalah istri dari abangku yang paling tua.

Batinku berkata, “Tumben nih, Uni Yul nelpon. Pasti mau nanya soal pulang bakonvoi ke Pekanbaru.”.

“Halo, assalamualaikum” aku mengucapkan salam seperti biasanya jika aku mengangkat telpon. “Hessy, segera ke Depok, Yul koma!”, terdengar suara panik Ningke disebrang sana. Ningke adalah iparku yang lainnya. Mereka tinggal berdekatan.

Aku jawab, “Yul? Yul mana ?” aku binggung, soalnya aku tidak ada mendengar saudaraku yg sedang sakit berat.

“Yul, ibu Yul istri Nas. Dia tadi muntah-muntah, terus kejang terus koma. Hessy segera ke sini ya.” Jawab Ningke

Tanpa pikir panjang, ku jawab, “Ya, aku akan segera kesana setelah berbuka dan mandi dulu”.

Aku lalu menelpon suamiku mengatakan bahwa Ni Yul sedang koma di RS Sentra Medika dan aku akan segera pergi ke Depok. Suamiku mengizinkan dan kami berjanji untuk bertemu di rumah sakit.

Singkat cerita aku sampai di RS, Ni Yul baru saja keluar dari ruang CT Scan dan sekarang menuju ruang ICU. Ni Yul tetap belum sadar. Aku masuk sebentar ke ruang ICU. NiYul sedang mengerang-erang, tangannya terlipat dan bergoyang-goyang ke atas (Terlipat dan bergoyang kaya orang joget dangdut). Ni Yul tidak sadar. Suara erangannya membuatku takut. Erangan kesakitan. Karena tidak kuat melihatnya aku lalu keluar. Lalu mulailah aku mencari informasi detail dari iparku Ningke. Ningke bercerita kalau hari Rabu, 17 Ramadhan 1429 H, Ni Yul sakit gigi, pipinya sampai bengkak. Lalu dia pergi ke dokter gigi. Karena gigi sedang sakit maka tidak bisa langsung ditambal. Akar giginya harus dirawat terlebih dahulu. Karena gigi yang sangat sakit maka dokter memberi antibiotik dengan kekuatan ekstra. Ternyata Ni Yul tidak cocok dengan obat ini. (note: hati-hati makan obat. Dokter suka kasi obat yang mahal, padahal obat generik saja sudah cukup. Jadi pasien kudu cerdas juga tampaknya. Jangan sampai dikadalin dokter). Setelah Ni Yul minum obat tersebut, Ni Yul muntah-muntah. Tapi Ni Yul masih sadar. Hari Kamis siang menjelang sore, Ni Yul masih muntah, badannya mulai dingin. Ningke, ketakutan, karena ingat pengalaman ibundanya yang setelah dingin, langsung check out dari bumi selamanya. Ningke membawa Yul ke RS. Di RS Ni Yul masih sadar tapi tiba-tiba kejang, kemudian tak sadar diri.

Dari hasil CT Scan, tidak terdapat pertambahan volume atau massa otak pada otak Ni Yul. Berarti penyebab koma bukan tumor otak. Oleh karena itu dokter mendiagnosis bahwa Ni Yul kena radang otak. Mendengar itu kita semua stress. Radang otak? Bukankah itu penyakit yang mengerikan. Otak ibarat CPU pada computer. Jika CPU kena, semua computer akan hang. Begitu juga dengan manusia. Ni Yul masih muda, baru berumur 41 tahun, anak-anaknya masih kecil. Bagaimana ini? Kalau hidup, tapi dengan otak terbatas pasti sangat tersiksa hidup demikian Apa lebih baik meninggal? Tapi anak-anak masih kecil. Masih butuh ibunya. Bukan pilihan yang mudah memang.

Jumuah, 19 Ramadhan 1429H

Kring..kring…kring, HP ku berbunyi pada saat aku sedang mengajar di kelas. “Halo, assalamualaikum”. Sapaku terhadap suami sepupuku disebrang sana.

“Hessy, ini Gamal, gimana kabar Ni Yul?” Tanya Gamal

“Ya, begitulah, kata dokter kena radang otak. Radang otak bisa sembuh ga sih? Kok bisa kena radang otak ya? Padahal kemarin-kemarin dia sehat-sehat aja tuh.” Balasku. Aku bertanya demikian karena Gamal adalah seorang dokter.

“Oh, radang otak ya? Meningitis dong ya? Kalo radang otak, risikonya sangat tinggi. Kemungkinan sembuh, tipis. Pasti Ni Yul mempunyai infeksi yang selama ini mungkin tidak dirasakan.” Jawab Gamal.

“Oh iya, dia sakit gigi, sampai tulang pipinya bengkak. Mungkin ga sih, sakit gigi menyebabkan radang otak?” timpalku

“Oh bisa banget. Nah itu dia sebabnya, virus digigi menyebar ke otak apalagi dah sampai ke tulang pipi. Orang emang suka anggap enteng sakit gigi, padahal kalau berat, bisa menyebabkan timbulnya sakit lain.” Jawab Gamal.

“Oh gitu ya..’” Aku mengangguk-angguk dan tambah stress mendengar penjelasan Gamal.

Gamal kemudian mengakhiri percakapan via telpon dan mendoakan agar Ni Yul bisa segera sadar.

Selesai mengajar aku kembali ke ruanganku dan mulai browsing mengenai penyakit meningitis. Ternyata meningitis memang berasal dari virus dan bisa menyebar lewat kontak badan. Ngeri juga aku membacanya. Wah gaswat dong dekat-dekat dengan orang sakit radang otak. Ntar bagaimana dengan kemaslahatan otak gw neh? Ga kena radang otak aja, otakku sudah agak rada-rada, kata teman-temanku. Ku baca lagi lebih teliti, ternyata hanya menular kalau melakukan close contact. Agak senanglah hatiku membacanya. Tapi yang herannya dari artikel-artikel yang ku baca kebanyakan meningitis menyerang anak-anak. Padahal Yul kan sudah bukan anak-anak lagi ya? Aku baru ingat mungkin meningitis memang bisa menyerang oang dewasa, makanya orang mau naik Haji disuntik anti meningitis. Berartikan penyakit ini termasuk jarang di Indonesia kan? Buktinya hanya orang yang mau naik Haji yang disuruh. Virus ini berkembang baik di Sahara katanya. Kok Yul bisa kena ya? Apa virus di giginya berasal dari Sahara trus sekarang lagi melancong ke Depok?

Sore sepulang dari kampus, aku mampir lagi ke RS. Ni Yul sudah lebih baik keadaannya. Ni Yul tidak mengerang lagi. Dia tampak seperti orang sedang tidur. Sepertinya obat sudah mulai bekerja. Di RS aku bertemu dengan adik Ni Yul. Dia bercerita bahwa ternyata Ni Yul tidak kena radang otak, melainkan kekurangan natrium, akibat muntah yang berlebihan. Kekurangan zat elektrolit mengganggu keseimbangan otak. Infus yang diberikan pada Ni Yul, semuanya adalah makanan untuk otak, bukan untuk tubuh. Oleh karena itu Ni Yul sudah agak tenang. Mendengar kabar demikian aku agak tenang. Dalam hatiku aku berkata “Syukur alhamdulillah, ternyata bukan radang otak. Hanya kekurangan garam di otak. Berarti bisa sembuh dong ya. Pasti penyakit ini tidak separah meningitis”. Ternyata aku salah besar.

Sabtu, 20 Ramadhan 1429H

Sabtu pagi, jam 11 aku datang lagi membezuk Ni Yul. Ni sudah ada kemajuan, sudah bisa membuka matanya dan sudah ada respon pada orang yang menyapanya walau dia masih suka mengerinyitkan muka seperti menahan sakit yang luar biasa. Di RS aku berbicara dengan nenek Dang, budenya Ni Yul. Aku dapat info terbaru mengenai Ni Yul. Info ini sangat tidak enak didengar. Nenek Dang bercerita kalau tadi dokter berkata, “Ibu, ibu yang sabar ya. Karena untuk pulih kembali cuma 50%. Butuh waktu lama untuk bisa bicara lagi dan berjalan lagi. Kemudian ibu juga jangan kaget, kadang anak ibu akan mengalami kemunduran setelah ada kemajuan”

Mendengar itu, tercenganglah aku. “Berarti Yul akan duduk di kursi roda dong?” tanyaku

“Biarlah..” kata nenek Dang.

“Tidak apa, yang penting dia ada di sekitar kita. Walau di kursi roda, dia masih bisa melihat anaknya. Yang susahkan kalau dia sudah tidak ada” Lanjut nenek Dang.

Aku diam saja akan tetapi pikiranku berkecamuk. Aku berdoa dalam hati, mudah2an ini hanya kelumpuhan temporer. Kasian abangku, kasian Ima dan Hana keponakanku. Walau Hana sempat berkata kepada Ningke, “Aku lebih beruntung daripada tante Ningke.”

“Kenapa?” Tanya Ningke

“Karena aku masih punya ibu, sedangkan tante sudah tidak punya ibu lagi” jawab Hana polos. Hana tidak tau betapa sakitnya ibunya saat ini. Hana cuma tau, dia masih punya ibu.

PENUTUP

Ada dua hal yang mungkin dapat dipetik dari ceritaku ini, yaitu:

  1. Jangan anggap remeh garam. Ada ungkapan yang mengatakan, seperti sayur tanpa garam. Ternyata garam penting sekali dalam tubuh. Banyak penyakit yang ditimbulkan karena kekurangan garam atau zat elektrolit, atau zat ion lainnya. Rizki keponakanku suka sakit dan kata dokter karena kekurangan ion. Jadi jika muntah berlebihan, segeralah minum oralit.
  2. Jangan anggap enteng sakit gigi atau infeksi kecil lainnya. Ternyata infeksi gigi bisa menyebabkan radang otak dan penyakit-penyakit berat lainnya. Termasuk jantung. Karena virus bisa pelesir kemana-mana dalam tubuh kita melalui pembuluh darah. Virus tersebut kemudian akan mencari tempat pondokan baru pada organ tubuh lainnya jika dirasa gigi sudah tidak lagi memadai sebagai tempat kos.