Catatan Hessy

Ini blog isinya adalah hal-hal yang melintas di otak kananku. Karena yang melintas banyak, jadi ku pikir perlu ku buat semacam catatan, supaya besok-besok kalo aku lupa, ku bukalah catatan ini. Ya mudah2an catatan ini tidak hanya berguna untukku, tapi juga bagi orang lain. Salam Hangat Hessy

Archive for October, 2008


Husband & Wife Relationship

RELASI SUAMI – ISTRI

Sebuah Tanggapan Terhadap Ceramah Mamah & AA

Oleh: Hessy Suprantio

Di Limus Pratama – Cilengsi

Jumat, 24 Syawal 1429 H

PENDAHULUAN:

Hari ini, Jumat 24 Oktober 2008, aku tidak berangkat ke kampus pagi buta seperti biasanya karena sekarang sedang periode ujian tengah semester di kampusku. Jadi setelah sholat subuh, aku menyetel TV untuk mendengarkan ceramah agama. Mendengar ceramah agama adalah kebiasaanku jika aku tidak harus berangkat ke kampus pagi-pagi sekali dan setelah itu dilanjutkan mendengar berita nasional dan internasional kemudian tentu tak luput juga berita infotainment sebagai penyeimbang jiwa.(Hua..ha..ha… masa berita infotainment jadi penyeimbang jiwas seh? Gile kalee…..)

Sebenarnya rata-rata stasiun TV menyiarkan ceramah rohani pada pagi hari, tapi aku lebih sering mendengarkan ceramah Mamah & AA – Curhat dong… Penggemar acara ini sepertinya cukup banyak terbukti dari banyaknya telpon dan e-mail yang masuk. Tema yang sering dibahas adalah tentang permasalahan seputar rumah tangga. Tema ini sering dibahas mungkin karena banyak orang yang bermasalah dengan rumah tangganya. Dan terbukti banyak yang ingin curhat kepada Mamah. Yang curhat bukan hanya ibu-ibu tapi ada juga bapak-bapak yang curhat mengenai ”kebandelan” istrinya.

Hari ini tema Mamah & AA adalah mengenai hubungan suami istri. Pada dasarnya tidak ada yang baru yang ku dengar dari ceramah ini. Semuanya sama dengan ceramah para ustad maupun ustadzah yang pernah ku dengar. Tadinya aku berharap mamah punya tafsiran progressif dan sedikit berbeda dibanding ustad/ustadzah yang sering ku dengar. Sayang hal itu tidak terjadi. Tafsiran Mamah sama saja dengan para ustad/ustadzah umumnya. Padahal pada ceramah hari Kamis, 23 Syawal kemarin Mamah sudah cukup bagus ku kira. Cukup seimbang dalam meletakkan porsi hak dan kewajiban antara istri dan suami.Biasanya Mamah seperti itu, makanya aku menyukai ceramah Mamah. Kemarin ada yang bertanya seperti ini:

Ibu X : Mah, bagaimana sikap istri terhadap suami yang terlalu suka mengatur, padahal istri bisa mencari nafkah sendiri. Istri adalah seorang PNS.

Mamah: Maksudnya mengatur bagaimana? Bisa lebih jelas?

Ibu X: Begini mah, suami suka melarang-larang istri jika ingin pergi-pergi. Padahal istri punya penghasilan sendiri, seorang PNS.

Mamah: Pada dasarnya memang seorang istri harus memperoleh izin dari suami jika ingin keluar rumah. Dan apa hebatnya seorang PNS dengan yang bukan? Sama saja, dia tetap harus dengan izin suami untuk dapat keluar rumah. Suami bertugas sebagai imam istri dan wajib mendidik istri. Jadi jika istri ingin pergi ke majlis taklim lalu dilarang sementara suami tidak mampu mendidik istri di rumah, itu baru salah. Jadi dilihat kasusnya dulu.

AA Abel (lalu nyeletuk): Jadi walaupun istri memiliki penghasilan sendiri kalau suami minta dibuatin kopi, tetap harus mau kan ya Mah? Kalau ga mau kan dosa ya mah?

Dengan dingin mamah menjawab: Tidak. Tidak berdosa, karena rasulullah jika ingin minum susu, dia akan memerah sendiri susu kambing. Tidak menyuruh istrinya. Jadi jika bapak-bapak mengakui sebagai umat Muhammad sebaiknya meniru perilaku rasul. Suka membantu istri jika istri sedang kerepotan.

Aku tertawa mendengar jawaban mamah, ibu-ibu pengajian yang hadir di TV juga tertawa. Tentu tertawa senang. Karena mamah telah memanusiakan wanita yang berperan sebagai seorang istri. AA tercengang dan terdiam mendengar jawaban mamah. Seperti yang kita ketahui, menurut tradisi kita, istri sangat ditekankan untuk melayani suami bahkan ada suami yang amat sangat menuntut pelayanan serta perhatian dari istrinya. Terkadang sampai-sampai tidak melihat kondisi istri. Sudahlah istri sedang kerepotan, hanya untuk sekedar minum atau mengambil saputangannya saja harus istri yang melakukan. Sungguh sangat keterlaluan suami yang berperilaku demikian. Dengan jawaban telak mamah terhadap Abel, berarti mamah telah memberikan pengumuman pada dunia (minimal dunia penonton TV Indosiar) bahwa tradisi yang berlaku adalah tradisi yang salah. Tidak demikian contoh nabi memperlakukan istrinya. Nabi selalu berusaha meringankan beban istrinya. Contoh lain perilaku nabi untuk meringankan beban kerja rumah tangga istri adalah: nabi menjahit kancing bajunya yang lepas sendiri.

Selain itu nabi pernah tidur di teras rumahnya karena pulang kemalaman, dan setelah mengetuk tiga kali istrinya belum bangun juga, maka nabi memilih untuk tidur di luar saja. Beliau berpikir, mungkin istriku sangat kecapean sehingga tertidur dan tidak mendengar ketukanku..Coba kalau suami-suami sekarang….mana mungkin mau tidur di luar..bisa-bisa terjadi perang dunia ke tiga jika istri tidak membukakan pintu bagi suami. Dari mulut suami juga bisa keluar kata-kata koleksi kebon binatang yang menghujat istri. Tapi tentu tidak semua suami demikian. Ada juga suami-suami yang berperilaku menyerupai nabi dan memperlakukan istrinya secara manusiawi.

Hari ini mamah kembali berceramah, kali ini mengenai hubungan intim suami istri dan juga pengelolaan keuangan. Ada bapak-bapak yang menelpon dan menyitir hadis nabi yang sudah kita ketahui semuanya.

Bapak itu berkata: ”Ada hadist yang berbunyi, jika engkau melihat sesuatu yang ”menarik” diluar rumah maka pulanglah engkau. Terus mah jika istri menolak suami, padahal istri sedang tidak mens atau capek, alasannya hanya sedang tidak mood saja, itu dosa kan mah?”

Mamah membenarkan bapak tersebut dan menjawab: ”Ya benar. Bagi para suami yang melihat sesuatu di luar rumah yang membangkitkan hawa nafsu, maka pulanglah karena ada yang sedang menunggu di rumah. Lampiaskanlah hal tersebut di rumah. Istri yang sedang tidak ada uzur lalu menolak suami, itu berdosa dan dikutuk malaikat.. Ada juga hadisyang mengatakan: jika suami mengajakmu walau sedang berada di atas onta (dulukan cuma ada onta, belum ada mobil), maka wajib untuk menyambutnya. Jadi jika ibu-ibu diajak bapak sedang di atas mobil, ya harus mau. Demikian ibu-ibu.” Ibu-ibu yang menonton mengangguk-angguk mendengar ceramah mamah. Mendengar jawaban mamah aku agak kecewa, kenapa mamah tidak mengelaborasi lebih jauh masalah ini. Kenapa mamah tidak membahas bagaimana perilaku nabi dalam hubungan suami istri ini?

Ada lagi yang membuatku agak kecewa dengan mamah. Ada lagi pemirsa yang bertanya soal nafkah yang diberikan suami terhadap istri. Begini diskusi yang terjadi.

Ibu Y: Mah, jika saya suka mengkalkulasi gaji yang diberikan suami kepada saya, apakah itu berarti saya tidak ikhlas dengan pemberian suami?

Mamah: Nah ibu sudah tau sendiri jawabannya. Tidak ikhlas. Suami tidak wajib memberikan seluruh nafkahnya kepada istrinya karena suami mempunyai kebutuhan sendiri, misalanya untuk membeli bensin, makan siang dan lain sebagainya.

Terus terang aku mempunyai pandangan yang berbeda mengenai permasalahan pemberian nafkah ini.

PEMBAHASAN

Dari ceramah mamah pagi tadi itu ada dua hal yang ingin aku tanggapi yi:

  1. Hubungan intim suami-istri
  2. Nafkah suami terhadap istri

Berikut adalah pembahasannya.

  1. Hubungan intim suami-istri. (Bersetubuh vs Bersejiwa)

Seringkali ustad/ustadzah menekankan hadist yang berisikan pengutukan terhadap istri yang menolak suaminya. Tapi hampir tidak ada yang membahas bagaimana hukumnya terhadap suami yang menolak istrinya.(Sebenarnya gw malah belum pernah dengar). Dalam hampir setiap ceramah agama yang ku dengar, paling sering adalah nasehat untuk wanita. Paling sering yang didengung-dengungkan adalah bagaimana menjadi istri yang sholeh. Jarang sekali yang menyinggung apalagi membahas bagaimana menjadi suami yang soleh. Bukankah wanita yang baik hanya untuk pria yang baik dan sebaliknya wanita pendosa hanya untuk pria pendosa?

Jadi menurut hematku, sebenarnya hadis di atas mungkin lebih cocok diinterpretasikan bahwa malaikat akan mengutuk pasangan yang menolak pasangannya yang lain. Tapi tentu saja penolakan tetap diperbolehkan asal ada alasan dan dilakukan dengan manis. Alasan tersebut tidak hanya sakit atau sedang mens bagi wanita. Menurutku alasan sedang tidak mood atau lagi tidak berselera juga harus dimasukkan sebagai sebuah alasan yang dapat diterima. Karena jika seorang pria atau wanita memaksakan ”kehendaknya” kepada pasangannya, padahal pasangannya sedang tidak ingin, menurutku itu termasuk KDRT juga, alias pemerkosaan. Hal ini menurutku sama sekali tidak bertentangan dengan agama. Islam diturunkan untuk kemaslahatan umat bukan untuk memperkosa kebahagiaan umat. Berarti memperhatikan kemaslahatan, kebahagiaan pasangan adalah kewajiban bagi suami atau istri. Apalagi untuk urusan yang satu ini. Kedua belah pihak harus melakukannya dalam suasana batin yang bahagia dan senang atas satu sama lainnya. Tidak boleh ada perasaan keterpaksaan.

Lantas bagaimana kalau istri sedang tidak mood, sedang suami sudah ”terujung?”. Situasi ini juga tidak boleh dijadikan alasan untuk memaksa istri melayani suami dengan alasan lebih baik melayani seperti tunggul pisang daripada suami berzina dengan wanita lain.Pihak suami seharusnya paham atas kondisi psikis istri. Mana tau istri sedang ada masalah, banyak pikiran mengenai anak-anak atau bahkan suaminya sendiri yang jadi masalah bagi dia. Seorang suami yang baik seharusnya walau seterujung apapun tetap harus memperhatikan perasaan istrinya. Begitu juga sebaliknya. Mulut diciptakan Allah untuk berbicara, telinga diciptakan untuk mendengarkan. Jadi jika istri atau suami sedang tidak berselera, sementara pasangan sudah kebelet, pergunakanlah instrument mulut dan telinga itu untuk mengatasi selera itu. Jadi mulut jangan digunakan untuk menyicipi makanan, menjilat dan mencium saja. Fungsi yang tak kalah penting lainnya adalah untuk menjalin komunikasi. Tanyakan baik-baik mengapa pasangan kita tidak berselera. Apakah ada masalah? Apa yang mungkin bisa kita bantu. Dan pergunakan kuping baik-baik untuk mendengarkan (listening not just hearing. There is the difference between listening and hearing. Kalo listening = mendengarkan, informasi yang didengar akan diolah. Sementara hearing = mendengar, informasi yang masuk kuping kanan, kemudian lewat begitu saja, terus keluar melalui kuping kiri). Insha Allah jika instrumen tersebut dipergunakan dengan baik, masalah selera bisa teratasi berikut masalah terujung. Semua bisa berakhir dengan baik.

Suami wajib memperlakukan istrinya dengan baik dalam segala aspek kehidupan. Begitu juga sebaliknya. Aku ingat, ada seorang sahabat yang bertanya kepada ummul mukminin, Aisyah RA, bagaimana baginda rasul memperlakukannya di dalam kamar. Aisyah menjawab: ”Subhanallah. Begitu indahnya rasul memperlakukan saya, sehingga sulit saya menceritakannya.” Contoh keindahan sikap rasul dalam menggauli istri adalahsetelah menggauli Aisyah, rasul tidak pernah meninggalkan Aisyah begitu saja. Bahkan untuk menghadap Tuhannya untuk melakukannya sholat malam, rasul menyempatkan diri untuk minta izin kepada Aisyah. Anda bisa bayangkan kan? Untuk menghadap Allah Azza wa Jallah, rasul minta ijin istri? Betapa dia menempatkan istrinya sedemikian rupa. Bagaimana coba perasaan Aisyah? Tentu banyak lagi hal-hal indah yang dilakukan rasul terhadap istri-istrinya dan hanya menjadi rahasia mereka. Tapi cerita di atas menunjukkan bahwa nabi selalu memperhatikan perasaan istrinya. Ga asal embat aja, asal dia puas. Tidak pernah. Begitulah seharusnya suami yang baik.

Yang aku sayangkan, mengapa mamah atau ustad/ustadzah jarang menyitir cerita Aisyah RA ini dalam ceramah mereka yang terkait rumah tangga. Malah mengambil hadist ”terujung di atas onta”. Terus malah menafsirkan berarti kalau suami meminta istri di atas mobil, ya istri harus mau. Masya Allah…. Seharusnya mamah menyadari bahwa pendengar beliau di TV terdiri dari berbagai strata masyarakat dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Segala tingkah polah artis saja ditiru apalagi jika seorang ustadzah memberikan ”fatwa”. Nanti jangan-jangan akan banyak kita temukan kijang bergoyang, panther bergoyang atau kuda bergoyang.Kalau kijang, kuda atau panther bergoyang di taman safari seh ga masalah, malah bagus, bisa jadi tontonan. Tapi jika ”kijang” atau ”panther” bergoyang di Ancol atau di halaman kantor atau di komplek karena tuannya sedang terujung, gimana hayo? Ntar kalo ditonton warga, mereka bisa bilang mamah bilang begitu di TV, dan mereka sah sebagai laki bini. Malu lah kita sebagai umat muslim. Padahal dalam islam ada hadist yang berbunyi: ”Malu itu sebagian dari iman.”Seharusnya jika mamah menyebutkan ayat tersebut, mamah juga harus mengatakan, tapi sebaiknya ibu-ibu atau bapak-bapak tetap harus menjaga adab dalam pergaulan suami istri. Sopan santun harus tetap dijaga. Mamah lupa menyeimbangkan ceramahnya pagi ini.

Jadi menurut hematku, hubungan suami istri bukan hanya sekedar pemenuhan hawa nafsu belaka. Jika itu dilakukan semata-mata hanya pemenuhan hawa nafsu, tak ada bedanya kita dengan warga taman safariyaitu pak kijang, pak panther, bu kuda dan bu mustang cs. Dalam islam hubungan suami istri dianggap ibadah. Jika sesuatu mempunyai nilai ibadah, tentu saja bukan hanya tubuh yang diwajibkan bekerja tapi juga hati dan jiwa. Anda ingatkan, jika kita sholat cuma sekedar ruku dan sujud, tapi hati kita, pikiran kita kemana-mana, alias tidak khusu’, sholat itu dilangit hanya dianggap sebagai kain rombeng. Puasa juga demikian. Jika hanya perut (tubuh) saja yang puasa, tapi hati tetap dengki, gosip jalan terus, ngenyek orang jadi hobi, puasa hanyalah sekedar menahan lapar dan haus. Tidak ada pahalanya, tidak ada nilainya dimata Tuhan. Lantas apa bedanya hubungan suami istri ini dengan ibadah-ibadah lain? Jelas tidak ada bedanya. Jadi hati harus diusahakan juga khusu’terhadap pasangansewaktu sedang melakukan ibadah tersebut. Jangan sampai sedang menggauli istri tapi mengkhayalkan si sexy Angelina Jolie, atau istri mengkhayalkan Brad Pitt. Tentu saja mengkhayal untuk meningkatkan selera sah-sah saja. Misalnya lagi makan tempe terus mengkhayal burger agar tempenya menjadi nikmat boleh-boleh saja. Tapi itukan hanya pada awalnya saja, setelah itu tetap kita sadar sedang menikmati tempe dan memang bisa menikmati tempe yang dianugerahkan Allah kepada kita tersebut dengan ikhlas dan rasa syukur. Sehingga yang terjadi bukan hanya sekedar bersetubuh tapi juga bersejiwa. Hubungan suami istri adalah pengejawantahan dari rasa cinta, rasa ikhlas dan penyerahan diri seutuhnya. Bukan sekedar pelepasan hawa nafsu. Itu adalah bentuk penyerahan yang tertinggi sehingga seharusnya bukan hanya tubuh yang bertemu, seyogyanya jiwa juga bertemu. Insha Allah kalau persejiwaan sudah tercapai, soal penolakan gara-gara hanya tidak mood bisa teratasi, dan mungkin juga masalah-masalah lainnya. Karena satu sama lain sudah menjadi satu jiwa berarti mengenal dengan baik pasangannya. Dan tentu saja karena pasangan hidup kita adalah jiwa kita, kita wajib menjaga dan memperlakukannya dengan baik. Karena jika kita menyakitinya berarti kita menyakiti jiwa kita sendiri.

  1. Nafkah suami terhadap istri.

Hal ini juga sering menjadi perhatianku. Aku pernah membahas pengelolaan uang rumah tangga dalam artikelku yang berjudul ”Merger vs Acquisition” yang menjelaskan berbagai tipe pengelolaan uang dalam rumah tangga. Tapi satu hal yang perlu diingat dimana pengelolaan uang rumah tangga harus diusahakan setransparan mungkin dan atas kesepakatan bersama. Hal ini untuk mengurangi rasa curiga satu sama lain.

Banyak ustad/ustadzah termasuk mamah selalu mengatakan bahwa nafkah suami tidak wajib diserahkan seluruhnya kepada istri. Aku menafsirkan bahwa seolah-olah ustad/ustadzah menganggap para istri ingin menguasai penghasilan suami. (Aku harap perasaanku ini salah. Kalau salah, maapin aye ye). Padahal mungkin banyak yang tidak berniat demikian. Banyak juga istri-istri yang memegang secara keseluruhan gaji / penghasilan suaminya ternyata tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari hak istimewa tersebut selain sebagai juru bayar alias kasir. Uang gaji yang diberikan suami tersebut hanya lewat saja ditangannya untuk membayar tagihan-tagihan telpon, air, listrik, SPP anak, bensin, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Bahkan banyak istri-istri yang harus berpikir 7 keliling hanya untuk memutuskan membeli daster baru penganti yang sudah bau asap dan cabik-cabik apalagi jika hanya sekedar membeli membeli lipstik atau bedak untuk mempercantik dirinya. Tak kalah banyaknya lagi yang masih harus bekerja untuk membantu roda perekonomian rumah tangga. (Emang dikira enak ngatur uang rumah tangga, apalagi kalau jumlahnya pas-pasan.). Jadi amat sangat wajar, jika seorang istri melakukan kalkulasi terhadap gaji suami. Sangat lumrah jika istri ingin mengetahui penghasilan suami. Tidak selalu hal tersebut berkonotasi negatif. Jadi tolonglah wahai para ustad, terutama ustadzah yang notabene adalah perempuan juga, tolonglah pahami bagaimana perempuan itu. Jangan berprasangka buruk terhadap perempuan jika mereka bertanya tentang sesuatu. Ayat atau hadist yang anda lontarkan, tolong lakukan dengan seimbang, bahas dengan proporsional. Karena jika anda hanya melontarkan sebagian-sebagian saja dan umat salah tafsir, itu akan menjadi tanggungjawab anda kelak di akhirat.

PENUTUP

Ada yang mengatakan bahwa laki-laki memiliki 9 akal dan 1 perasaaan, sebaliknya perempuan memiliki 1 akal dan 9 perasaan. Ditafsirkan laki-laki lebih rasional dari perempuan sementara wanita lebih emosional. Jadi dalam islam jika dalam sebuah transaksi misalnya hutang piutang dibutuhkan saksi, maka saksinya adalah dua orang pria. Sedangkan jika hanya ada 1 saksi pria, maka pengganti 1 pria lainnya adalah 2 saksi wanita. Lantas apakah ini berarti wanita lebih dodol dari pria? Ku rasa tidak. Akal berarti IQ. Emosi berarti EQ. Oleh karena itu Allah menciptakan wanita dan pria. Jika pria menikah dengan seorang wanita, maka hidupnya akan lebih baik. Cara berpikirnya akan lebih paripurna. Karena setelah menikah ada orang lain yaitu istrinya yang akan membantu dia berpikir, menimbang dengan sudut yang berbeda, sudut yang lebih manusiawi. Sebaliknya jika seorang wanita menikah, cara pandang, cara berpikir terhadap segala sesuatu akan menjadi lebih luas dan berbeda dari cara pandang dia biasanya. Hal ini bisa menjadi sebuah sinergi yang dahsyat jika disadari oleh kedua belah pihak.

Sinergi dahsyat ini hanya bisa terjadi jika satu sama lain saling menjaga perasaan (termasuk perasaan bersejiwa) dan adanya keterbukaan satu sama lain termasuk soal nafkah. Acapkali masalah tempat tidur atau uang bisa menjadi penghancur rumah tangga jika tidak dikelola dengan baik.

Akhirul kalam, ini hanyalah sebuah pemikiran seorang wanita biasa yang menginginkan adanya keseimbangan dalam muka bumi. Termasuk keseimbangan antara hak dan kewajiban suami istri. Aku hanya ingin wanita-wanita di muka bumi sadar akan jati dirinya sebagai manusia. Sadar akan hak-haknya sebagasi seorang istri. Aku hanya ingin wanita banyak berpikir, jangan mau ditipu ustad/ustadzah dengan kedok menjadi wanita sholihah, sementara hati merasa dizolimi. Jadi wanita harus pintar, harus banyak belajar supaya mempunyai pandangan yang lebih luas. Pandanganku, pemikiranku, tulisanku mungkin lebih banyak salahnya daripada benarnya. Tapi satu hal, aku berusaha untuk memikirkan setiap kejadian, setiap peristiwa setiap ceramah yang ku dengar. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, tidak menerima sesuatu dengan mentah-mentah (kadang-kadang ada juga seh..). Even Angel Asked!!! Bahkan malaikatpun bertanya……………………..

******* Kebenaran hanya datang dari Allah, *********

Kalo salah, maapin aye.

RAMADHAN JOURNEY TO GONTOR

By: Hessy Zainal

Oktober, 14 Syawal 1429 H

Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat (Hadith)

Tuntulah ilmu walau sampai ke negeri China (Hadith)

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu; “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Mujaadilah : 11)

Dan perumpamaan-perumpaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (Al ‘Ankabut :43)

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang-orang yg berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Fathir : 35)

Institusi pendidikan hanyalah sebagai jembatan untuk mengajari kita bagaimana untuk dapat terus belajar. Institusi pendidikan bukan tempat belajar yang sesungguhnya. Alam dan kehidupan itulah tempat belajar yang sesungguhnya (karangan gw)

PENDAHULUAN

Akhirnya selesai juga Zea, anak kami yang nomor dua, menuntut ilmu di pondok pesantren Gontor Putri III yang terletak di desa Widodaren – Ngawi – Jawa Timur. Kakak Zea, Halley sudah lulus dari Gontor Putri pada tahun 2004.

Walau aku tidak pernah mondok di pesantren seperti Zea, tapi aku sepertinya dapat merasakan aura kegembiraan Zea dan juga teman-temannya yang akan segera “menghirup udara bebas” setelah keluar dari “penjara” Ngawi. Aku merasa kegembiraan mereka mungkin melebihi kegembiraan anak-anak lain yang juga lulus sekolah dari sekolah biasanya. Kenapa?

1) Karena mondok di pesantren ini telah mereka jalani selama 4 tahun sampai dengan 6 tahun, bahkan ada yang lebih karena mungkin pernah tinggal kelas. Anak-anak yang masuk Gontor sedari tamat SD berarti telah 6 tahun berada di Gontor. Sedangkan anak-anak yang masuk Gontor setamat SMP berarti minimal telah 4 tahun berada di Gontor karena mengikuti penyetaraan selama 1 tahun. Empat (4) tahun apalagi enam (6) tahun hidup terpisah dari orang tua dan saudara-saudara sungguh bukan waktu yang singkat.

2) Hidup di pondok Gontor bukan hidup yang mudah. Banyak peraturan, banyak larangan, dan penuh dengan kesederhanaan (bayangkan saja, haree genee nyetrika aja kudu pake setrika arang).

Hari bahagia Zea dan teman-temannya tersebut telah dirayakan pada minggu, 7 September 2008 yang bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan 1429H. Kami selaku wali Zea dan kakak Zea, Halley, juga ikut menghadiri perayaan atau judisium kelulusan tersebut.

Jumat, 5 Ramadhan 1429 H

Hari ini adalah hari ke-5 umat muslim di dunia berpuasa. Seperti biasa, kami sekeluarga bangun jam 3.30 pagi untuk makan sahur. Biasanya setelah sahur kami sholat subuh, mandi lalu bersiap-siap untuk pergi ke tempat aktivitas rutin. Hanya saja hari ini berbeda dengan hari-hari yang lain. Setelah makan sahur, kami bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke Gontor Putri I untuk menghadiri judisium Zea.

Biasanya jika ke Gontor aku akan mempersiapkan makanan untuk makan siang dan juga sejumlah camilan untuk teman selama di perjalanan serta sebuah termos berisi air hangat untuk membuat secangkir kopi atau teh tarik. Karena ini bulan puasa semua persiapan menjadi lebih ringan, tidak ada bekal nasi untuk makan siang dan hanya sedikit camilan buat berjaga-jaga semata. Termos pun tidak ku bawa. (Ternyata keputusan tidak membawa termos adalah keputusan yang salah)

Kami mengambil jalur Selatan Jawa dengan pertimbangan jalur ini lebih sejuk daripada jalur pantai Utara. Aku memang tidak suka jalur Pantura, walau sebenarnya akan lebih dekat dan lebih cepat melewati Pantura daripada jalur Selatan. Setiap kali aku melewati jalur tersebut aku merasa hawa yang panas (walau di mobil pakai AC). Selain itu jalur tersebut terkesankumuh dan suram. Aku tidak suka auranya. Jalur Selatan lebih hijau royo-royo, perasaanku melewati jalur ini juga lebih adem.

Untuk menempuh jarak yang jauh dalam keadaan berpuasa tentu diperlukan perasaan yang adem biar ikhlas berpuasanya. (terus terang diantara semua ibadah wajib, ibadah yang paling sulit bagiku adalah berpuasa. Mending sholat malamlah daripada disuruh puasa). Walau menjadi musafir diberikan keringanan untuk berbuka, tapi kami bertiga memilih untuk tetap berpuasa. Jika tidak kuat baru berbuka. (Masalahnya berpuasa diluar bulan Ramadhan jauh lebih berat daripada puasa di bulan Ramadhan. Karena kalo di bulan Ramadhan semua orang puasa. Yg ga wajib puasa juga ga enak untuk makan. Jadi godaan lebih kecil)

Menjelang zuhur kami sudah sampai di kota Banjar. Karena hari ini adalah hari Jumat, maka kami berhenti di sebuah mesjid di jalan raya Banjar agar suamiku dapat menunaikan sholat Jumat. Aku dan Halley menunggu di mobil sementara suamiku sholat Jumat. Setelah suamiku sholat, kami pergi ke pompa bensin di dekat mesjid. Aku dan Halley sholat zuhur sedangkan “pak supir” tiduran dulu sejenak.

Setelah “pak supir” tidak mengantuk lagi, perjalanan pun dilanjutkan. Menjelang magrib kami sudah sampai di daerah Wates. Kami pun berhenti disebuah mesjid untuk berbuka. Sebenarnya sudah beberapa mesjid yang ingin kami singgahi untuk berbuka. Secara bercanda di mobil aku berkata: “Nanti kita mampir saja di sebuah mesjid supaya bisa berbuka gratis”.

Suamiku dan Halley tertawa, tapi setuju juga dengan ideku yang brillian itu. Lumayankan biar bisa ngirit biaya makan..(hua..ha..ha.. dasar Padang). Tapi ternyata melaksanakan ide brilian itu ternyata tidak mudah. Setiap kali akan berhenti, aku merasa tidak enak. Masa berhenti di mesjid terus ikutan orang berbuka. Padahal orang-orang yang berkumpul di mesjid-mesjid yang akan kami singgahi tadi itu sama sekali tidak mengenal kami. Nanti terlalu kentara kepengen berbuka gratisnya. Malu juga kan? Mana berbukanya masih agak cukup lama. Berarti kudu ngobrol-ngobrol dong ama yang hadir.

Akhirnya kami terus saja berjalan, sampai magrib datang menjelang. Mesjid Wates akhirnya menjadi tempat persinggahan kami. Mesjid di Wates ini halamannya cukup luas. Kami masuk ke areal parker mobil. Sebenarnya ada anak-anak pengajian yang sedang berbuka bersama di sana, tapi mereka sama sekali tidak menawari kami. Mungkin memang jatahnya pas-pasan untuk yang hadir. Kami juga tidak berusaha untuk mendekat. Azan magrib berkumandang, akhirnya kami berbuka dengan bekal apa adanya. Di sinilah aku mulai merasa keputusan tidak membawa termos adalah keputusan yang salah. Aku membawa kopi, teh celup dan teh tarik sachetan tapi tidak membawa air panas. Mau diseduh pakai apa semua benda-benda tsb? ‘

Perkiraanku tadinya pas magrib pasti kami akan berbuka di sebuah rumah makan, ternyata perkiraanku meleset. Beginilah jadinya. Kami hanya berbuka dengan aqua, kebetulan ada nutrisari, jadi ku tambahkan saja. Hanya saja minum nutrisari dengan air biasa kurang mantapkan? Kudunya diseduh dengan air dingin. Sebagai menu berbuka adalah biskuit. Setelah itu kami pun menunaikan sholat magrib.

Perut semakin lapar, akhirnya kami bertemu dengan warung Padang. Kami pun mampir. Warung Padang ini terletak di pinggir jalan menjelang masuk kota Yogya (kata orang namanya daerah Gamping).Memang ini lebih tepat disebut warung Padang bukan rumah makan Padang. Karena tempatnya kecil dan sederhanaTerus ada yang antik di warung ini, biar kecil tapi pengelolanya berusaha melakukan inovasi. Biasanya kalau kita makan di rumah makan Padang, lauknya dihidang. Sementara warung ini memilih cara prasmanan. Pengunjung mengambil sendiri nasi dan lauk yang dipajang di etalase warung. Hanya saja bentuknya sama sekali jauh dari menarik. Sistemnya sih ok juga. Cuma tampilan lauknya sesederhana warungnya. Tidak menerbitkan selera walau sudah berpuasa seharian penuh. Tapi memang harganya sangat murah. Semua lauk dihitung sama harganya. (Lagian mau murah tapi enak….mana ada…everything has price). Syukurlah es teh manisnya cukup menghibur. Rasanya standar, cukup untuk melepas dahaga.

Sekitar jam 7 malam kami sudah mendarat di Yogya, tepatnyadi kampung suamiku, Sleman. Kami beristirahat satu malam di rumah kakak suamiku. Kami tidak langsung menuju Gontor karena diperkirakan kami akan kesulitan memperoleh penginapan dan juga sahur jika langsung ke sana. Semua wali santri pasti sudah berada di Gontor, semua butuh penginapan. Sementara perjalanan masih panjang, puasa pun masih lama. Kami harus menjaga agar tubuh tetap sehat.

Sabtu, 6 Ramadhan 1429 H

Setelah sahur kami tidak langsung bersiap-siap menuju Ngawi. Selepas sholat subuh, kami masih melanjutkan tidur kami. Perjalanan menuju Ngawi dilakukan pada pukul 8 pagi. Setelah berpamitan kepada mba Nani, iparku, mobil pun melaju menuju Ngawi. Sekitar jam 12 siang kami sudah masuk daerah Jawa Timur. Kami sudah sampai di Mantingan, Gontor Putri I. Zea akan dijudisium di sini, bukan ditempat dia belajar.

Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari penginapan, ternyata dugaan kami tepat. Penginapan sudah penuh. Baik wisma Latansa, milik ponpes Gontor maupun penginapan di sekitarnya. Untunglah kami sudah melakukan persiapan untuk keadaan “darurat” seperti ini. Kami sudah membawa tenda, bantal dan selimut. Wali-wali santri lainnya juga ada yang membawa tenda. Tapi ada juga yang hanya membawa tikar. Tapi semua sepertinya sudah siap untuk berkemah. Halaman Gontor Putri I – Mantingan tak ubahnya seperti camping ground. Penuh dengan mobil-mobil dan orang-orang yang duduk-duduk di atas tikar dan di dalam tenda. Suasana sangat meriah. Sepertinya semua orang merasakan aura kegembiraan karena anak, keponakan, adik, cucu mereka telah berhasil menyelesaikan studinya di Gontor.

Anda bisa bayangkan betapa ramainya suasana. Ada keluarga yang sepertinya sengaja menyewa mobil minibus besar Elf untuk acara ini. Kebetulan mobil Elf tersebut parkir di sebelah mobil kami.Jadi aku memperhatikannya. Di dalamnya ada 2 kakek-kakek. Mungkin satu kakek dari ibu si santri dan satunya lagi kakek dari bapaknya. Belum lagi ayah, ibu dan adik-adiknya. Mobil tersebut penuh. Belum lagi mobil-mobil carry, sedan, innova dan lainnya. Rata-rata ada ayah, ibu, aa, teteh dan adik yang ikut. Semua wajah terlihat gembira.(Gw ampe kepikiran, ini acara piknik atau judisium? Belum pernah gw liat acara judisium atau wisuda semeriah ini)

Ramainya orang-orang berdampak pada penggunaan kamar mandi. Untuk mandi dan buang hajat, para campers menggunakan kamar mandi di dekat mesjid. Orangnya banyak, kamar mandi terbatas. Kudu sabar mengantri jika ingin mandi, termasuk kalau kebelet ke jamban.. Aku merasa sudah seperti di padang Arafah saja. Kebelet beol, kudu nahan. Kalau ngantri mandi masih mending, tapi kalo dah sakit perut? Belum lagi ga enak lama-lama di kamar mandi. Tapi herannya semua baik-baik saja. Tidak ada yang menggerutu waktu mengantri. Tidak ada yang menyela antrian. Bahkan kalau kita kebelet pipis, yang ngantri mandi masih bersedia mendahulukan kita, asal kita permisi. Tapi kita kudu tau diri. Jangan ijin pipis terus mandi. Kurang azar itu namanya. Ku pikir para wali santri ini hebring-hebring ya??..Semua ikhlas……

Berbuka di Mantingan lebih cepat dari di Jakarta. Untuk berbuka, pihak ponpes memberikan nasi kotak. Zea membawakan 3 buah nasi kotak untuk kami. Kami berbuka bersama di tenda kami. Walau isinya sederhana tapi karena suasana maka terasa nikmat saja. Sekali lagi aku merasa keputusan tidak membawa termos adalah keputusan yang salah. Coba kalau bawa termos, pasti lebih nikmat berbuka dengan teh hangat, bukan sekedar aqua gelas.

Para santri berbuka bersama keluarga masing-masing beratapkan langit dan beralaskan bumi. Tidur juga begitu. Alhamdulillah udara cerah. Coba kalau hujan. … bagaimana itu nasib yang cuma berbekal tikar? Mau tidur dimana? Yang berkemah juga ga asikkan kalau hujan? Kalau kemah tampias…kan refot zuga. Ternyata Allah tau juga jika umatnya sedang merayakan hari bahagia. (Ya iyalah, wong daun yang jatuh ke bumi aja Allah tau, apalagi ada judisium di Gontor J )

Acara Zea dimulai jam 8 malam. Acara ini sebagaimana malam perpisahan di sekolah-sekolah lain. Dihadiri oleh kiai, ustad, ustadzah pengajar serta para wali santri. Isinya adalah pidato-pidato dari wakil santri yang tamat, wakil santri yang ditinggal, wakil wali santri serta wejangan dari Kyai Pondok. Yang menarik ternyata pesantren ini punya lagu hymne sendiri. (judulnya gw lupa) Sewaktu menyanyikan hadirin diminta untuk berdiri. Ternyata lagu tidak diharamkan di Gontor.

Berhubung acara ini lama sekali, aku tidak menghadiri sampai selesai. Jam 11 malam aku balik ke kemah selain ngantuk, kasian anak kami Halley. Setibanya di Gontor, Halley terserang flu. Jadi Halley hanya berbaring di kemah. Untung puasanya tidak batal. Ayah Zea menyusul tak berapa lama setelah aku kembali ke kemah. Kami bertiga tidur di kemah. Jam 2 pagi, Zea datang. Acara sudah selesai. Zea datang dengan membawa nasi kotak untuk sahur. Dia membangunkan kami. Aku dan suamiku bangun tapi aku tidak ikutan sahur. Ku pikir masih terlalu pagi untuk sahur. Akhirnya hanya suamiku yang makan menemani Zea sahur. Zea tidak mungkin menunggu jam 3.30, dia sudah mengantuk. Aku sahur jam 3.30, sendirian. Halley tidak mau bangun. Halley masih sakit, jadi ayahnya berpendapat, Halley tidak usah berpuasa saja. Kenyataannya, Halley tetap berpuasa esoknya walau tidak sahur.

Ahad, 7 Ramadhan 1429 H

Judisium dimulai jam 7 pagi. Acara bertempat di taman tengah ponpes Gontor Putri I. (Halley mengatakan bahwa taman tersebut adalah sumbangan dari angkatannya). Para santri duduk di bawah tenda, sementara para kyai dan ustad berada di balkon. Para wali santri dan sanak saudara menonton acara tersebut dari selasar kelas yang berada di sekeliling taman. Acara Judisium berlangsung cukup lama. Judisium ini untuk mengumumkan siapa yang lulus dan tidak lulus serta penempatan tugas setelah lulus. Ada tradisi unik dari Gontor. Setiap santri yang lulus tidak akan menerima ijazah sampai menyelesaikan kewajiban untuk mengabdi selama satu tahun. Tempat mengabdi tergantung keputusan pihak ponpes. Ada yang wajib mengabdi di salah satu ponpes Gontor Putriyang berada di Aceh, Lampung, Ngawi atau Kendari. Ada yang wajib mengabdi di salah satu ponpes milik alumni Gontor yang tersebar di seluruh Nusantara. Ada juga yang bebas untuk memilih.

Tempat pengabdian merupakan nasib dan rejeki bagi para santri. Santri dan para wali sama-sama deg-degan menunggu pengumuman ini. Sistem pemanggilan dilakukan secara kelompok. Tiap kelompok yang dipanggil, berarti ditempatkan di tempat yang sama. Kelompok Zea adalah kelompok yang terakhir dipanggil. Menjelang jam 12 siang baru dipanggil. Aku sampai capai menunggunya. Kepanasan dipinggir taman. Aku sampai tidur-tiduran di ubin selasar. Aku menyontoh seorang ibu-ibu yang demikian. Dia cuek, aku cuek juga. Abis panek bo,..mana pantat sakit duduk di ubin, haus pula…(iman gw emang payah ya..kayaknya gw ga cucok ya jadi ibu-ibu…gaya gw masih seenaknya aja. Untung Halley ga heran liat kelakuan gw J Kalau laki gw mah dah maklum dengan kelakuan gw yang cuex bebex jika sudah kecapaian ).

Syukurlah Zea ditempatkan di pondok alumni Darunnajah yang terletak di Ulujami – Jakarta Selatan. Jadi Zea akan lebih mudah dikunjungi dan Zea juga bisa pulang ke rumah. Ada teman Zea yang ditempatkan di Lombok. Orang tuanya tinggal di Bali. Dia menangis tersedu-sedu. Dia inginnya di Bali saja tapi nasib berkata lain. Putri, teman akrab Zea ditempatkan di almamaternya, Gontor Putri III. Putri senang, ibu dan ayahnya juga senang karena sesuai dengan yang diharapkan. Sementara itu Sofie teman akrab Zea yang lain, bebas memilih. Bebas memilih enak-enak susah. Enaknya bisa di tempat yang kita inginkan, susahnya kudu nyari sendiri orang yang mau memperkerjakan santri di ponpesnya. Halley, kakak Zea dahulu kebagian bebas memilih. Halley mengabdi di ponpes Sawangan (Depok) setelah lulus dari Gontor Putri I.

Penutup

Dengan berakhirnya acara judisium, berakhir pulalah masa studi Zea dan teman-teman seangkatannya di Pondok Pesantren Gontor Putri III. Untuk sementara mereka bisa pulang ke rumah menikmati hawa segar dan modern. Tapi hal tersebut bukan berarti akhir dari menuntut ilmu. Zea dan teman-temannya masih harus terus belajar. Ijazah belum diterima. Di tempat yang baru mereka juga masih dalam tahap belajar. Tahap belajar menjadi ustadzah. Belajar mendidik, belajar untuk menjadi lebih dewasa, lebih mandiri dan lebih bertanggungjawab terhadap tugas-tugas yang diberikan. Insha Allah semua bekal ini akan berguna kelak bagi mereka.

Sebenarnya dengan sistem Gontor ini, Zea dan teman-temannya terlambat dua tahun untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Zea dan teman-temannya tamat setelah EBTANAS dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi berlalu. Satu tahun setelah pengabdian berarti setelah periode UMPTN juga berlalu. Mereka baru akan bisa ikut UMPTN tahun berikutnya. But its ok. Itu adalah konsekuensi dari sebuah pilihan. Belajar tidak harus dari sebuah institusi formal tapi sebenarnya banyak hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan ini. Institusi hanyalah sebagai jembatan untuk mengajari kita bagaimana untuk dapat terus belajar. Institusi bukan tempat belajar yang sesungguhnya. Alam dan kehidupan itulah tempat belajar yang sesungguhnya.

*** Tiada Kata Berhenti Untuk Belajar ***