RAMADHAN JOURNEY TO GONTOR
By: Hessy Zainal
Oktober, 14 Syawal 1429 H
Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat (Hadith)
Tuntulah ilmu walau sampai ke negeri China (Hadith)
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu; “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Mujaadilah : 11)
Dan perumpamaan-perumpaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu (Al ‘Ankabut :43)
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (orang-orang yg berilmu). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Fathir : 35)
Institusi pendidikan hanyalah sebagai jembatan untuk mengajari kita bagaimana untuk dapat terus belajar. Institusi pendidikan bukan tempat belajar yang sesungguhnya. Alam dan kehidupan itulah tempat belajar yang sesungguhnya (karangan gw)
PENDAHULUAN
Akhirnya selesai juga Zea, anak kami yang nomor dua, menuntut ilmu di pondok pesantren Gontor Putri III yang terletak di desa Widodaren – Ngawi – Jawa Timur. Kakak Zea, Halley sudah lulus dari Gontor Putri pada tahun 2004.
Walau aku tidak pernah mondok di pesantren seperti Zea, tapi aku sepertinya dapat merasakan aura kegembiraan Zea dan juga teman-temannya yang akan segera “menghirup udara bebas” setelah keluar dari “penjara” Ngawi. Aku merasa kegembiraan mereka mungkin melebihi kegembiraan anak-anak lain yang juga lulus sekolah dari sekolah biasanya. Kenapa?
1) Karena mondok di pesantren ini telah mereka jalani selama 4 tahun sampai dengan 6 tahun, bahkan ada yang lebih karena mungkin pernah tinggal kelas. Anak-anak yang masuk Gontor sedari tamat SD berarti telah 6 tahun berada di Gontor. Sedangkan anak-anak yang masuk Gontor setamat SMP berarti minimal telah 4 tahun berada di Gontor karena mengikuti penyetaraan selama 1 tahun. Empat (4) tahun apalagi enam (6) tahun hidup terpisah dari orang tua dan saudara-saudara sungguh bukan waktu yang singkat.
2) Hidup di pondok Gontor bukan hidup yang mudah. Banyak peraturan, banyak larangan, dan penuh dengan kesederhanaan (bayangkan saja, haree genee nyetrika aja kudu pake setrika arang).
Hari bahagia Zea dan teman-temannya tersebut telah dirayakan pada minggu, 7 September 2008 yang bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan 1429H. Kami selaku wali Zea dan kakak Zea, Halley, juga ikut menghadiri perayaan atau judisium kelulusan tersebut.
Jumat, 5 Ramadhan 1429 H
Hari ini adalah hari ke-5 umat muslim di dunia berpuasa. Seperti biasa, kami sekeluarga bangun jam 3.30 pagi untuk makan sahur. Biasanya setelah sahur kami sholat subuh, mandi lalu bersiap-siap untuk pergi ke tempat aktivitas rutin. Hanya saja hari ini berbeda dengan hari-hari yang lain. Setelah makan sahur, kami bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke Gontor Putri I untuk menghadiri judisium Zea.
Biasanya jika ke Gontor aku akan mempersiapkan makanan untuk makan siang dan juga sejumlah camilan untuk teman selama di perjalanan serta sebuah termos berisi air hangat untuk membuat secangkir kopi atau teh tarik. Karena ini bulan puasa semua persiapan menjadi lebih ringan, tidak ada bekal nasi untuk makan siang dan hanya sedikit camilan buat berjaga-jaga semata. Termos pun tidak ku bawa. (Ternyata keputusan tidak membawa termos adalah keputusan yang salah)
Kami mengambil jalur Selatan Jawa dengan pertimbangan jalur ini lebih sejuk daripada jalur pantai Utara. Aku memang tidak suka jalur Pantura, walau sebenarnya akan lebih dekat dan lebih cepat melewati Pantura daripada jalur Selatan. Setiap kali aku melewati jalur tersebut aku merasa hawa yang panas (walau di mobil pakai AC). Selain itu jalur tersebut terkesankumuh dan suram. Aku tidak suka auranya. Jalur Selatan lebih hijau royo-royo, perasaanku melewati jalur ini juga lebih adem.
Untuk menempuh jarak yang jauh dalam keadaan berpuasa tentu diperlukan perasaan yang adem biar ikhlas berpuasanya. (terus terang diantara semua ibadah wajib, ibadah yang paling sulit bagiku adalah berpuasa. Mending sholat malamlah daripada disuruh puasa). Walau menjadi musafir diberikan keringanan untuk berbuka, tapi kami bertiga memilih untuk tetap berpuasa. Jika tidak kuat baru berbuka. (Masalahnya berpuasa diluar bulan Ramadhan jauh lebih berat daripada puasa di bulan Ramadhan. Karena kalo di bulan Ramadhan semua orang puasa. Yg ga wajib puasa juga ga enak untuk makan. Jadi godaan lebih kecil)
Menjelang zuhur kami sudah sampai di kota Banjar. Karena hari ini adalah hari Jumat, maka kami berhenti di sebuah mesjid di jalan raya Banjar agar suamiku dapat menunaikan sholat Jumat. Aku dan Halley menunggu di mobil sementara suamiku sholat Jumat. Setelah suamiku sholat, kami pergi ke pompa bensin di dekat mesjid. Aku dan Halley sholat zuhur sedangkan “pak supir” tiduran dulu sejenak.
Setelah “pak supir” tidak mengantuk lagi, perjalanan pun dilanjutkan. Menjelang magrib kami sudah sampai di daerah Wates. Kami pun berhenti disebuah mesjid untuk berbuka. Sebenarnya sudah beberapa mesjid yang ingin kami singgahi untuk berbuka. Secara bercanda di mobil aku berkata: “Nanti kita mampir saja di sebuah mesjid supaya bisa berbuka gratis”.
Suamiku dan Halley tertawa, tapi setuju juga dengan ideku yang brillian itu. Lumayankan biar bisa ngirit biaya makan..(hua..ha..ha.. dasar Padang). Tapi ternyata melaksanakan ide brilian itu ternyata tidak mudah. Setiap kali akan berhenti, aku merasa tidak enak. Masa berhenti di mesjid terus ikutan orang berbuka. Padahal orang-orang yang berkumpul di mesjid-mesjid yang akan kami singgahi tadi itu sama sekali tidak mengenal kami. Nanti terlalu kentara kepengen berbuka gratisnya. Malu juga kan? Mana berbukanya masih agak cukup lama. Berarti kudu ngobrol-ngobrol dong ama yang hadir.
Akhirnya kami terus saja berjalan, sampai magrib datang menjelang. Mesjid Wates akhirnya menjadi tempat persinggahan kami. Mesjid di Wates ini halamannya cukup luas. Kami masuk ke areal parker mobil. Sebenarnya ada anak-anak pengajian yang sedang berbuka bersama di sana, tapi mereka sama sekali tidak menawari kami. Mungkin memang jatahnya pas-pasan untuk yang hadir. Kami juga tidak berusaha untuk mendekat. Azan magrib berkumandang, akhirnya kami berbuka dengan bekal apa adanya. Di sinilah aku mulai merasa keputusan tidak membawa termos adalah keputusan yang salah. Aku membawa kopi, teh celup dan teh tarik sachetan tapi tidak membawa air panas. Mau diseduh pakai apa semua benda-benda tsb? ‘
Perkiraanku tadinya pas magrib pasti kami akan berbuka di sebuah rumah makan, ternyata perkiraanku meleset. Beginilah jadinya. Kami hanya berbuka dengan aqua, kebetulan ada nutrisari, jadi ku tambahkan saja. Hanya saja minum nutrisari dengan air biasa kurang mantapkan? Kudunya diseduh dengan air dingin. Sebagai menu berbuka adalah biskuit. Setelah itu kami pun menunaikan sholat magrib.
Perut semakin lapar, akhirnya kami bertemu dengan warung Padang. Kami pun mampir. Warung Padang ini terletak di pinggir jalan menjelang masuk kota Yogya (kata orang namanya daerah Gamping).Memang ini lebih tepat disebut warung Padang bukan rumah makan Padang. Karena tempatnya kecil dan sederhanaTerus ada yang antik di warung ini, biar kecil tapi pengelolanya berusaha melakukan inovasi. Biasanya kalau kita makan di rumah makan Padang, lauknya dihidang. Sementara warung ini memilih cara prasmanan. Pengunjung mengambil sendiri nasi dan lauk yang dipajang di etalase warung. Hanya saja bentuknya sama sekali jauh dari menarik. Sistemnya sih ok juga. Cuma tampilan lauknya sesederhana warungnya. Tidak menerbitkan selera walau sudah berpuasa seharian penuh. Tapi memang harganya sangat murah. Semua lauk dihitung sama harganya. (Lagian mau murah tapi enak….mana ada…everything has price). Syukurlah es teh manisnya cukup menghibur. Rasanya standar, cukup untuk melepas dahaga.
Sekitar jam 7 malam kami sudah mendarat di Yogya, tepatnyadi kampung suamiku, Sleman. Kami beristirahat satu malam di rumah kakak suamiku. Kami tidak langsung menuju Gontor karena diperkirakan kami akan kesulitan memperoleh penginapan dan juga sahur jika langsung ke sana. Semua wali santri pasti sudah berada di Gontor, semua butuh penginapan. Sementara perjalanan masih panjang, puasa pun masih lama. Kami harus menjaga agar tubuh tetap sehat.
Sabtu, 6 Ramadhan 1429 H
Setelah sahur kami tidak langsung bersiap-siap menuju Ngawi. Selepas sholat subuh, kami masih melanjutkan tidur kami. Perjalanan menuju Ngawi dilakukan pada pukul 8 pagi. Setelah berpamitan kepada mba Nani, iparku, mobil pun melaju menuju Ngawi. Sekitar jam 12 siang kami sudah masuk daerah Jawa Timur. Kami sudah sampai di Mantingan, Gontor Putri I. Zea akan dijudisium di sini, bukan ditempat dia belajar.
Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari penginapan, ternyata dugaan kami tepat. Penginapan sudah penuh. Baik wisma Latansa, milik ponpes Gontor maupun penginapan di sekitarnya. Untunglah kami sudah melakukan persiapan untuk keadaan “darurat” seperti ini. Kami sudah membawa tenda, bantal dan selimut. Wali-wali santri lainnya juga ada yang membawa tenda. Tapi ada juga yang hanya membawa tikar. Tapi semua sepertinya sudah siap untuk berkemah. Halaman Gontor Putri I – Mantingan tak ubahnya seperti camping ground. Penuh dengan mobil-mobil dan orang-orang yang duduk-duduk di atas tikar dan di dalam tenda. Suasana sangat meriah. Sepertinya semua orang merasakan aura kegembiraan karena anak, keponakan, adik, cucu mereka telah berhasil menyelesaikan studinya di Gontor.
Anda bisa bayangkan betapa ramainya suasana. Ada keluarga yang sepertinya sengaja menyewa mobil minibus besar Elf untuk acara ini. Kebetulan mobil Elf tersebut parkir di sebelah mobil kami.Jadi aku memperhatikannya. Di dalamnya ada 2 kakek-kakek. Mungkin satu kakek dari ibu si santri dan satunya lagi kakek dari bapaknya. Belum lagi ayah, ibu dan adik-adiknya. Mobil tersebut penuh. Belum lagi mobil-mobil carry, sedan, innova dan lainnya. Rata-rata ada ayah, ibu, aa, teteh dan adik yang ikut. Semua wajah terlihat gembira.(Gw ampe kepikiran, ini acara piknik atau judisium? Belum pernah gw liat acara judisium atau wisuda semeriah ini)
Ramainya orang-orang berdampak pada penggunaan kamar mandi. Untuk mandi dan buang hajat, para campers menggunakan kamar mandi di dekat mesjid. Orangnya banyak, kamar mandi terbatas. Kudu sabar mengantri jika ingin mandi, termasuk kalau kebelet ke jamban.. Aku merasa sudah seperti di padang Arafah saja. Kebelet beol, kudu nahan. Kalau ngantri mandi masih mending, tapi kalo dah sakit perut? Belum lagi ga enak lama-lama di kamar mandi. Tapi herannya semua baik-baik saja. Tidak ada yang menggerutu waktu mengantri. Tidak ada yang menyela antrian. Bahkan kalau kita kebelet pipis, yang ngantri mandi masih bersedia mendahulukan kita, asal kita permisi. Tapi kita kudu tau diri. Jangan ijin pipis terus mandi. Kurang azar itu namanya. Ku pikir para wali santri ini hebring-hebring ya??..Semua ikhlas……
Berbuka di Mantingan lebih cepat dari di Jakarta. Untuk berbuka, pihak ponpes memberikan nasi kotak. Zea membawakan 3 buah nasi kotak untuk kami. Kami berbuka bersama di tenda kami. Walau isinya sederhana tapi karena suasana maka terasa nikmat saja. Sekali lagi aku merasa keputusan tidak membawa termos adalah keputusan yang salah. Coba kalau bawa termos, pasti lebih nikmat berbuka dengan teh hangat, bukan sekedar aqua gelas.
Para santri berbuka bersama keluarga masing-masing beratapkan langit dan beralaskan bumi. Tidur juga begitu. Alhamdulillah udara cerah. Coba kalau hujan. … bagaimana itu nasib yang cuma berbekal tikar? Mau tidur dimana? Yang berkemah juga ga asikkan kalau hujan? Kalau kemah tampias…kan refot zuga. Ternyata Allah tau juga jika umatnya sedang merayakan hari bahagia. (Ya iyalah, wong daun yang jatuh ke bumi aja Allah tau, apalagi ada judisium di Gontor J )
Acara Zea dimulai jam 8 malam. Acara ini sebagaimana malam perpisahan di sekolah-sekolah lain. Dihadiri oleh kiai, ustad, ustadzah pengajar serta para wali santri. Isinya adalah pidato-pidato dari wakil santri yang tamat, wakil santri yang ditinggal, wakil wali santri serta wejangan dari Kyai Pondok. Yang menarik ternyata pesantren ini punya lagu hymne sendiri. (judulnya gw lupa) Sewaktu menyanyikan hadirin diminta untuk berdiri. Ternyata lagu tidak diharamkan di Gontor.
Berhubung acara ini lama sekali, aku tidak menghadiri sampai selesai. Jam 11 malam aku balik ke kemah selain ngantuk, kasian anak kami Halley. Setibanya di Gontor, Halley terserang flu. Jadi Halley hanya berbaring di kemah. Untung puasanya tidak batal. Ayah Zea menyusul tak berapa lama setelah aku kembali ke kemah. Kami bertiga tidur di kemah. Jam 2 pagi, Zea datang. Acara sudah selesai. Zea datang dengan membawa nasi kotak untuk sahur. Dia membangunkan kami. Aku dan suamiku bangun tapi aku tidak ikutan sahur. Ku pikir masih terlalu pagi untuk sahur. Akhirnya hanya suamiku yang makan menemani Zea sahur. Zea tidak mungkin menunggu jam 3.30, dia sudah mengantuk. Aku sahur jam 3.30, sendirian. Halley tidak mau bangun. Halley masih sakit, jadi ayahnya berpendapat, Halley tidak usah berpuasa saja. Kenyataannya, Halley tetap berpuasa esoknya walau tidak sahur.
Ahad, 7 Ramadhan 1429 H
Judisium dimulai jam 7 pagi. Acara bertempat di taman tengah ponpes Gontor Putri I. (Halley mengatakan bahwa taman tersebut adalah sumbangan dari angkatannya). Para santri duduk di bawah tenda, sementara para kyai dan ustad berada di balkon. Para wali santri dan sanak saudara menonton acara tersebut dari selasar kelas yang berada di sekeliling taman. Acara Judisium berlangsung cukup lama. Judisium ini untuk mengumumkan siapa yang lulus dan tidak lulus serta penempatan tugas setelah lulus. Ada tradisi unik dari Gontor. Setiap santri yang lulus tidak akan menerima ijazah sampai menyelesaikan kewajiban untuk mengabdi selama satu tahun. Tempat mengabdi tergantung keputusan pihak ponpes. Ada yang wajib mengabdi di salah satu ponpes Gontor Putriyang berada di Aceh, Lampung, Ngawi atau Kendari. Ada yang wajib mengabdi di salah satu ponpes milik alumni Gontor yang tersebar di seluruh Nusantara. Ada juga yang bebas untuk memilih.
Tempat pengabdian merupakan nasib dan rejeki bagi para santri. Santri dan para wali sama-sama deg-degan menunggu pengumuman ini. Sistem pemanggilan dilakukan secara kelompok. Tiap kelompok yang dipanggil, berarti ditempatkan di tempat yang sama. Kelompok Zea adalah kelompok yang terakhir dipanggil. Menjelang jam 12 siang baru dipanggil. Aku sampai capai menunggunya. Kepanasan dipinggir taman. Aku sampai tidur-tiduran di ubin selasar. Aku menyontoh seorang ibu-ibu yang demikian. Dia cuek, aku cuek juga. Abis panek bo,..mana pantat sakit duduk di ubin, haus pula…(iman gw emang payah ya..kayaknya gw ga cucok ya jadi ibu-ibu…gaya gw masih seenaknya aja. Untung Halley ga heran liat kelakuan gw J Kalau laki gw mah dah maklum dengan kelakuan gw yang cuex bebex jika sudah kecapaian ).
Syukurlah Zea ditempatkan di pondok alumni Darunnajah yang terletak di Ulujami – Jakarta Selatan. Jadi Zea akan lebih mudah dikunjungi dan Zea juga bisa pulang ke rumah. Ada teman Zea yang ditempatkan di Lombok. Orang tuanya tinggal di Bali. Dia menangis tersedu-sedu. Dia inginnya di Bali saja tapi nasib berkata lain. Putri, teman akrab Zea ditempatkan di almamaternya, Gontor Putri III. Putri senang, ibu dan ayahnya juga senang karena sesuai dengan yang diharapkan. Sementara itu Sofie teman akrab Zea yang lain, bebas memilih. Bebas memilih enak-enak susah. Enaknya bisa di tempat yang kita inginkan, susahnya kudu nyari sendiri orang yang mau memperkerjakan santri di ponpesnya. Halley, kakak Zea dahulu kebagian bebas memilih. Halley mengabdi di ponpes Sawangan (Depok) setelah lulus dari Gontor Putri I.
Penutup
Dengan berakhirnya acara judisium, berakhir pulalah masa studi Zea dan teman-teman seangkatannya di Pondok Pesantren Gontor Putri III. Untuk sementara mereka bisa pulang ke rumah menikmati hawa segar dan modern. Tapi hal tersebut bukan berarti akhir dari menuntut ilmu. Zea dan teman-temannya masih harus terus belajar. Ijazah belum diterima. Di tempat yang baru mereka juga masih dalam tahap belajar. Tahap belajar menjadi ustadzah. Belajar mendidik, belajar untuk menjadi lebih dewasa, lebih mandiri dan lebih bertanggungjawab terhadap tugas-tugas yang diberikan. Insha Allah semua bekal ini akan berguna kelak bagi mereka.
Sebenarnya dengan sistem Gontor ini, Zea dan teman-temannya terlambat dua tahun untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Zea dan teman-temannya tamat setelah EBTANAS dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi berlalu. Satu tahun setelah pengabdian berarti setelah periode UMPTN juga berlalu. Mereka baru akan bisa ikut UMPTN tahun berikutnya. But its ok. Itu adalah konsekuensi dari sebuah pilihan. Belajar tidak harus dari sebuah institusi formal tapi sebenarnya banyak hal yang bisa kita pelajari dari kehidupan ini. Institusi hanyalah sebagai jembatan untuk mengajari kita bagaimana untuk dapat terus belajar. Institusi bukan tempat belajar yang sesungguhnya. Alam dan kehidupan itulah tempat belajar yang sesungguhnya.
*** Tiada Kata Berhenti Untuk Belajar ***
July 30th, 2009 at 4:02 am
Mdh2an 6 tahun yang akan datang saya menyusul….
Anak saya th ini (2009) masuk Gontor Putri 2