HUNTING SOUL MATE THROUGH INTERNET
A TRUE STORY
By: Hessy Z. Suprantio
Jum’at, 11 Januari 2008 ( 8 Muharram 1429H)
Dia yang membentangkan bumi dan menjadikan di atasnya gunung-gunung dan sungai-sungai. Dari tiap-tiap buah-buahan Dia jadikan sepasang-sepasang (jantan dan betina). Dia tutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada demikian itu menjadi tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan. (Ar Ra’du – 3)
Di bumi ada beberapa potong (bidang) yang berdekatan dan beberapa kebun dari anggur dan tanam-tanaman dan pohon korma, yang bercabang dan tiada bercabang (semuanya) disiriami dengan air yang satu. (Dalam pada itu) Kami lebihkan setengahnya dari yang lain tentang rasa buahnya. Sesungguhnya pada demikian itu menjadi keterangan (atas ada Allah) bagi kaum yang memikirkan (Ar Ra’du 4)
Bagi manusia ada (malaikat) yang berganti-ganti mengintipnya, di hadapannya dan di belakangnya, mereka itu menjaganya dari perintah Allah. Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki kejahatan pada suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolakkannya dan tidak ada bagim mereka wali, selain dari padaNya. (Ar Ra’du 11)
PROLOG
Banyak sudah artikel atau tulisan yang membahas mengenai perjodohan atau menemukan jodoh melalui internet di koran atau blog yang ku baca. Tapi dari kebanyakan artikel tersebut hanya membahas secara dangkal karena ditulis hanya berdasarkan wawancara singkat dengan pelaku atau hanya sebagai saksi mata. Ada juga tulisan dari pelaku dan biasanya merupakan kesaksian (testimony) yang ditulis di situs di mana mereka menemukan pasangan hidup mereka. Dan biasanya ini hanya membahas soal keberhasilan semata. Atau ada juga yang ku baca dari sebuah koran Minggu mengenai kesialan mencari jodoh di internet. Melihat ini ku pikir artikel-artikel tersebut masih perlu ditambahkan oleh seorang pelaku dengan sudut pandang yang lebih berimbang. Hal inilah yang menggerakkan tanganku untuk menekan keyboard komputerku. Aku adalah salah seorang pelaku yang berburu pasangan jiwa melalu internet. Artikel ini akan menceritakan jatuh bangunnya, rasa senang campur ketar-ketir berburu teman hidup.
PENDAHULUAN
Kata jatuh bangun, mengingatkanku pada lagu Kristina Dangdut. Tapi memang itulah yang ku rasakan dalam ikhtiarku mencari pasangan jiwaku. Oleh karena itu pada judul ku tulis True Story alias kisah nyata. Memang mungkin bagi beberapa orang yang membaca tulisan ini, judul tersebut terlihat terlalu bombastis. Terlalu membesar-besarkan masalah. Mungkin ada benarnya pendapat yang mengatakan judul tersebut terlalu bombastis. Aku tak menyalahkannya karena mungkin orang tersebut amat sangat diberikan kemudahan oleh Tuhan dalam menemukan jodohnya. Tapi tidak dapat dipungkiri banyak orang yang senasib denganku, sulit sekali menemukan pasangan jiwanya. Aku ingin berbagi dengan orang-orang yang senasib denganku.
Seperti yang kita ketahui ada 3 hal yang sudah ditetapkan Allah pada saat Allah meniupkan roh kedalam tubuh kita. Ketiga hal tersebut adalah umur, rezeki dan jodoh. Untuk dua hal pertama alhamdulillah sampai umurku sekarang ini aku tidak mengalami kesulitan yang berarti. Dalam artian, umur atau masa hidup yang Allah berikan padaku alhamdulillah sebagian besar adalah masa hidup yang menyenangkan. Aku punya orangtua yang lengkap, saudara-saudara yang menyayangiku dan teman-teman yang perhatian padaku. Bukankah itu sebuah masa hidup yang menyenangkan? Soal rezeki, aku juga tidak pernah merasakan kesulitan yang berarti. Walalupun orang tuaku tidak kaya, tapi alhamdulillah dapat memenuhi semua kebutuhan dasarku, aku makan makanan yang enak, punya baju yang cukup layak, sepatu yang layak, bersekolah ditempat yang bagus bahkan kuliahpun aku kuliah di sebuah universitas negeri ternama dinegeri ini, di mana tidak semua orang bisa bersekolah di sana walau dia kaya. Aku juga tidak perlu usaha keras untuk mendapatkan nilai bagus di sekolah. Dengan sedikit konsentrasi di kelas sewaktu guru atau dosen menerangkan, sedikit mengulang di rumah pas akan ujian, aku bisa mendapatkan nilai yang cukup memuaskan. Anak-anak lain setengah mati belajar matematika, apalagi sewaktu bab identitas, aku malah heran kenapa mereka tidak bisa mengerjakan soal yang gampang tersebut. Soal kesulitan belajar baru ku rasakan sewaktu aku kuliah di arsitek, ada satu mata kuliah yang tidak ku kuasai walaupun aku sudah jungkir balik yi mata kuliah studio, pelajaran menggambar kreatif. Karena ini adalah jantungnya untuk jadi arsitek aku keluar dari fakultas teknik dan pindah ke fak. ekonomi. (Tidak semua orang bisa lulus sipenmaru dua kali kan, di universitas bergengsi dan fakultas yang tinggi saingannya pula). Di fakultas ini semua terasa mudah. Nilaiku memang tidak A semua, tapi itu lebih karena sifatku yang agak angin-anginan. Kalau aku sedang kumat rajinnya IP ku bagus, tapi kalo kumat malasnya IP ku sedang-sedang saja. Tapi alhamdulillah tidak satu mata kuliahpun yang pernah ku ulang. Semalas-malasnya aku, aku masih bisa dapat C.
Setelah tamat kuliahpun aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pekerjaaan. Setelah itu aku juga diberi kemudahan untuk kuliah S2 di sebuah universitas negeri di Jakarta ini. Semuanya relatif mudah. Aku juga bisa memenuhi hobiku untuk jalan-jalan ke luar negeri dengan gajiku yang kalau dihitung-hitung secara matematis cuma pas-pasan untuk hidup melajang di ibu kota yang serba mahal ini. Tapi ntah kenapa hobiku yang mahal itu tetap bisa ku jalani dan aku tetap bisa bayar zakat, berkorban, mengirim uang untuk orangtuaku, tetap bisa punya tabungan, bisa naik haji dan bisa beli rumah. Aneh kan? Itu semua karena mungkin takdir menetapkan kemudahan untukku rezeki dibidang materi. Tapi jangan tanya soal mencari pasangan jiwa, aku jungkir balik untuk mendapatkannya. Inilah kisah nyataku dalam berburu pasangan jiwaku.
SOUL MATE
Soul mate atau pasangan jiwa adalah sebuah sebutan yang lebih mendalam daripada sekedar jodoh atau suami atau istri. Untuk mencari jodoh atau suami atau istri sebenarnya relatif lebih mudah dibanding mencari pasangan jiwa. Aku yakin sekali setiap orang hanya mempunyai satu pasangan jiwa, hanya saja karena pasangan jiwa ini cuma satu, terkadang sulit menemukannya. Pasangan jiwa bagi pria itulah tulang rusuknya yang hilang. Dia harus menemukan tulang rusuknya itu, yang dekat dengan hatinya. Untuk mencari suami atau istri asal berani mengambil resiko hidup merana, minimal tak bahagia karena merasa terjebak dalam suatu ikatan atau risiko bercerai, anda bisa menikahi siapa saja yang juga punya prinsip dan tujuan yang sama dengan anda yi punya suami atau istri dan berkeluarga. Banyak orang yang menikah, tapi mungkin hanya segelintir orang yang betul-betul beruntung menemukan pasangan jiwanya dan berbahagia dalam pernikahannya. Banyak kepedihan dalam pernikahan di sekeliling kita. Banyak orang yang kelihatannya menikah tapi sebenarnya tak lebih hanya tinggal dalam satu atap, karena mempertahankan reputasi yang notabene hanyalah mempertahankan sehelai kertas yang secara hukum membuat mereka tinggal bersama. Atau banyak juga rumah tangga yang tetap bertahan walau tidak pantas lagi disebut sebuah rumah tangga, karena sendi-sendi tangga rumahnya yang sudah dimakan oleh rayap kedisharmonisan dengan alasan kebahagianan anak. Sungguh suatu pengorbanan yang maha berat, bertahan dalam kepedihan, dalam rumah tangga yang keropos. (Anda bisakan membayangkan hidup dalam rumah yang atap atau kusennya dimakan rayap?). Hal ini lah yang terkadang membuatku takut menikah. Aku tidak mau kehilangan kebahagiaan hidupku gara-gara menikah. Aku maunya hidup berdua harus lebih baik daripada hidup sendiri. Dan selama aku melalui masa lajangku, aku cukup berbahagia. Paling tidak, aku tidak sengsara, tidak merana, tidak teraniaya dan tidak terjajah oleh siapapun. Kalau ku analisis dari sudut psikologis mungkin aku termasuk perempuan dengan ego yang tinggi. Dan aku yakin salah satu faktor yang menyebabkan perempuan terlambat menikah adalah ego yang tinggi. Menikah berarti bersedia menekan ego pribadi. Menikah berarti harus mau mengalah, malah bagi perempuan harus sangat banyak mengalah agar tidak menyinggung ego suami. Sungguh sangat berat menikah itu (Ya iyalah, makanya menikah itu setengah dari agama. Kalo ga berat masa Allah mau bilang ½ dari agama, naik haji aja rewardnya ga segitu-gitu amat).
Lantas kenapa akhirnya aku berani untuk menikah? Mungkin karena aku telah menemukan pasangan jiwaku. Tapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat, mengapa walau ada rasa takut, tapi aku tetap berniat menikah? To tell u the truth aku baru benar-benar ingin menikah dan serius mencari jodoh pada saat usiaku menginjak sekitar 35 tahun (gw emang rada-rada telmi untuk hal satu ini. Orang lain waktu kuliah sudah punya pacar, tamat kuliah, kerja setahun lalu menikah. Ga usah mikir nikah, pacaran aja tak ada dalam benakku) Sebelum usia tersebut aku cuma bermain-main saja, asik dengan hobi jalan-jalanku (abis cita-citaku keliling dunia seh, bagiku menikah bukan cita-cita tapi sebuah kewajiban, semua orang wajib menikah). Banyak teman yang mengenalkan aku dengan pria lajang lain, tapi semua lewat begitu saja. Tapi karena beberapa hal, akhirnya aku mulai serius memikirkan untuk menikah.
Ada banyak hal yang mendorongku untuk menikah. Salah satunya adalah sebagai seorang muslim menikah adalah wajib hukumnya, selama tidak ada cacat permanen yang menghalangi untuk menikah, misalnya kurang waras. Aku memang agak ”sinting” dalam berpikir, tapi belum termasuk kategori yang boleh tidak menikah. Aku juga tidak punya cacat fisik, malah sebenarnya aku lumayan berparas manis (hua..ha..ha..itu kataku, kalo suamiku malah beranggapan aku cantik buanget..hua..ha..ha.. kata teman-temanku, suamiku perlu kacamata karena mungkin kurang jelas melihatku..hua..ha..ha…). Terus menurut hadits kalo orang tidak menikah berarti bukan umat Muhammad. Lah lantas kalau aku mati ntar mo ikutan nabi yang mana neh? Selain itu lagi-lagi menurut agamaku, anak perempuan yang belum menikah adalah utang ayahnya. Di akhirat kelak ayahnya akan ditanya mengenai kewajiban yang belum lunas ini. (Badung-badung gini, aku masih punya nurani, aku tak mau ayahku, ibuku gagal masuk surga gara-gara aku kan?). Trus seperti yang ku tulis di atas, menikah adalah ½ dari agama. Jadi walau aku rajin sholat, rajin puasa, rajin sedekah, sudah naik haji, itu semua belum tentu ½ dari agama yang ku jalani. Wong semua yang kulakukukan itu belum tentu sempurna, belum tentu juga diterima (tapi mudah-mudahan diterimalah ya. Kan harus berprasangka baek sama Gusti Allah). Itulah sebagian alasanku untuk tetap memelihara niat untuk menikah. Tapi itu semua tidak cukup untuk mengeksekusi niat tersebut. Niat kalau tidak dieksekusi sama saja bohong kan. Aku sih usaha, tapi usaha sekedarnya. Tujuannya satu, jaim (alias jaga image) di depan Allah. Pokoke Gusti Allah liat, aku tu usaha nyari jodoh, trus kalo ndak dapat, bukan karena aku ndak mau nikah, tapi karena takdir yang menetapkan begitu. (Kadang-kadang ku pikir aku ini emang agak sinting, di depan Allah ko mau main akal-akalan, mau sok jaim segala. Padahal Allah itu kan Maha Tahu akan apa yan disembunyikan dalam hati..)
Tapi mungkin pada dasarnya Allah amat sangat menyintaiku dan ingin agar aku benar-benar menjalankan ½ agama tersebut, pada saat usiaku mulai menginjak 35 tahun, banyak peristiwa yang membuat aku berusaha keras mengeksekusi niatku. Apa saja peristiwa itu? Peristiwa tersebut sangat menjengkelkan dan membuat hatiku panas. Melalui peristiwa-peristiwa tersebut seolah-olah dunia mentertawai kesendirianku. Peristiwa pertama dan merupakan peristiwa yang paling menjengkelkan adalah tukang bubur kacang ijo, kita sebut saja Burjo Gate. Burjo Gate dimulai pada suatu pagi, dimana aku membeli semangkuk bubur kacang ijo untuk sarapan pagiku. Setelah aku menyerahkan mangkuk, aku bermaksud ke dalam rumah untuk mengambil uang. Tiba-tiba tukang burjo bertanya: ”Mbak kapan merit?” Aku terperangah mendengarnya. Ku pikir aku salah dengar. Lantas aku balik bertanya ”Apa mas?”. Tukang burjo mengulangi pertannyaannya ”Kapan merit mbak?” . Kagetlah aku…Dalam hati…Apa urusan mas ini, aku mau nikah kek, enggak kek..Yang penting aku kan ga pernah ngutang beli burjo nya…Aku mangkel seharian karena pertanyaan ini. Ini peristiwa pertama dari serangkaian peristiwa menjengkelkan.
Peristiwa kedua adalah sewaktu diangkot yang ku naiki di Slipi Jaya. Aku mau wawancara di sebuah universitas. Ada laki-laki yang bertanya ”Mau ngajar ya mbak?” (kebetulan aku lagi baca buku). ”Ya mas” ku jawab. Trus dia nanya lagi ”Anaknya berapa mbak?”. Ku jawab: ”Belum punya anak mas”. Dia nanya lagi ”Udah merit mbak?” . Dengan jujur aku menggelengkan kepala. Tau ga reaksinya. Mas-mas itu langsung ngasi tau tempat kerjanya. Berulang-ulang pula. Trus nawarin aku datang ke tempat kerjanya. Ku pikir gila juga orang ini. Apa dijidatku ada tulisan sedang mencari jodoh gitu? Pernah lagi di bis Damri Airport, pulang dari Jogja. Kebetulan aku duduk bersebelahan dengan seorang pria. Lumayan cakep. Dia mengawali pembicaraan. Aku pada dasarnya memang senang ngobrol, jadi ya aku ngobrol aja. Dia cerita kalao dia ke jakarta mau melihat wanita yang dijodohkan untuknya. Alias mengunjungi calon istrinya. Trus dia nanya statusku lagi. Lagi-lagi dengan polos ku jawab bahwa aku belum menikah. Eh dia langsung ngajak kenalan dengan maksud mana tau jodoh..Gila kali ya kupikir. Dah tau mau melihat calon istri, di jalan masih ngelaba. Dunia memang sinting. Pantes aku jadi agak sinting juga.
Trus adalagi orang yang naksir aku dikomplekku. Orang ini adalah orang yang tak pernah ku duga, apalagi ku harapkan. Belum lagi ada istri ustad yang menanyakan aku melalui seorang tetangga mengenai apakah aku sudah punya pacar atau belum. Mungkin istri ustads punya stok untuk aku. Aku menghargai ”perhatian” tersebut. Tapi sekaligus membuatku mulai merasa amat tidak nyaman dengan statusku. Ternyata hidup baik-baik, menjaga tingkah laku, tidak mengganggu suami orang, tidak menjamin kita tidak akan jadi bahan pembicaraan para tetangga. Dalam hatiku, tukang bubur saja sampai bertanya seperti itu, pastilah tetangga-tetangga juga mikir yang sama. Cuma mereka lebih sopan aja, jadi ga langsung nanya ke aku. Ga tau dibelakangku. Atau jangan-jangan mereka cemas suami mereka tertarik padaku? (Hua..ha..ha… ge er kali aku). Akhirnya dengan kesadaran penuh dan memasang tekad kuat aku mulai hunting my soul mate.
HUNTING SOULMATE
Aku mau menikah. Aku hanya mau menikah sekali dalam seumur hidup dan ingin bahagia dalam pernikahanku. Untuk itu aku hanya mau menikah dengan pasangan jiwaku yang tentunya mengerti akan jiwaku dan akupun memahami jiwanya. Aku tidak mau menikah dengan sembarang lelaki hanya untuk merubah huruf n (dari Nn) menjadi y (jadi Ny). Bagiku pernikahan bukan sekedar ganti status atau meredam gosip. Terus terang memang yang membuat tekadku menjadi kuat adalah tekanan sosial, tapi aku tidak mau jadi sial karena merasa tertekan dalam pernikahan. Dengan basmalah ku mulai perburuan ini.
Pada dasarnya ada beberapa alternatif media dan sarana untuk mencari jodoh. Bisa melalui karib kerabat, teman-teman, mengikuti biro jodoh, ikut klub hobi untuk memperluas kenalan, nongkrong di ruang publik atau melalui media teknologi alias internet. Dalam rangka ikhtiar aku melakukan dua hal yaitu minta bantuan teman-teman untuk dikenal-kenalkan dan pria yang punya niat sama dan melalui internet. Aku memilih kedua media itu karena merasa kedua media itu yang paling cocok dan aman untukku. Aku mengenakan jilbab, jadi aku merasa risi dan tidak nyaman kalau hanya duduk-duduk nongkrong di ruang publik tanpa tujuan. Mau ikutan klub, aku tidak punya hobi yang membutuhkan klub. Aku hobinya jalan-jalan, berkebun, baca buku, dengar musik, duet nyanyi keras-keras dengan penyanyi dikasetku dan ngeblog. Semua hobiku tidak perlu ikutan klub khusus. Ga pake ikutan klub, hobiku tetap bisa jalan. Lagian aku orangnya juga suka malas bepergian kalau tidak penting-penting amat, kecuali jalan-jalan pelesir. Apalagi Jakarta macet begini. Mau ikutan biro jodoh konvensional apalagi. Males lah ikut pertemuan yang diatur begitu. Terus terpaksa ngobrol dengan banyak orang yang mungkin belum tentu cocok dan nyambung pembicaraannya dengan kita. Dah gitu bayar pula.
Banyak sekali teman-teman yang membantu, malah ada sahabat karibku yang beberapa kali yang mengenalkanku tapi gatot semua. Setiap orang bertanya ”kapan menikah”, aku selalu menjawab ”mbok ya ditolongin” atau ”punya stock ga?”. Aku menanggapi dengan santai saja dan tidak ragu minta dikenalkan. Ku pikir cuma kenalan saja, tak masalah kan. Toh tidak ada kewajiban untuk harus jadian. Ada kelebihan dikenalkan oleh teman atau saudara, kita bisa bertanya melalui pihak ke 3 mengenai orang tersebut. Cuma saja sayangnya seringkali matchmaker alias comblang kadang tidak terlalu memikirkan kesesuaian karakter kliennya. Mereka cuma berpikir bahwa dua orang ini punya niat yang sama, kita kenalkan lalu selanjutnya terserah anda. Ini mungkin yang membuat percomblangan oleh teman atau saudara gatot (ya iyalah, mereka kan bukan CPM alias Certified Professional Matchmaker).
Selain melalui teman aku juga ikhtiar melalui internet. Pada awalnya ini cuma pekerjaan iseng yang kulakukan. Aku cuma ingin menjajal berbagai situs pertemanan, mencari teman chatting untuk ngobrol malam hari sekaligus mengasah kecakapan berbahasa Inggris. Apalagi internet waktu itu barang baru bagiku. Semua fitur ingin ku coba. Aku pasang yahoo messenger, aku ingin tau cara kerjanya. Berarti harus punya kenalan dong. Ya kenalan aja sama siapa aja di dunia maya. Tapi ternyata dunia ini jugalah yang mempertemukanku dengan soul mate ku itu.
Ada banyak situs jodoh di dunia maya, dari yang berbahasa Indonesia sampai berbahasa Inggris. Aku mengikuti kira-kira 3-4 siitus jodoh. Satu yang berbasis di Singapura, satu yang Arab, satu India, satu lagi aku kurang tau basis situs tersebut, karena beragam suku bangsa ada disitu. Dari berbagai situs tersebut aku banyak mendapat teman. Dari yang berprofesi dokter, pekerja sosial, dosen, insinyur. Dari hasil pengelanaanku di dunia maya tersebut, ternyata banyak para lonelyner di muka bumi ini yang sedang mencari pasangan hidup. Disinilah kelebihan teknologi internet. Anda bisa menemui dan berkenalan dengan segala suku bangsa. Jika anda tidak terlalu banyak persyaratan dan berani ambil resiko, kemungkinan akan berhasil mendapat pasangan hidup melalui internet sangatlah besar. Aku sudah membuktikan sendiri. Teknologi internet tergolong cukup aman untuk mencari jodoh asal dipergunakan dengan waras dan bijaksana. Melalui teknologi ini pilihan sangat banyak, dan jika anda tidak suka dengan teman maya anda, anda bisa missing in action. Sebagai perkenalan awal, anda juga tidak perlu bertemu secara fisik, anda bisa mempergunakan semua teknologi yang ada untuk menjajal kesesuaian karakter target anda. Anda bisa menggunakan fasilitas chatting, web cam, e-mail, hand phone untuk bercakap-cakap. Dari percakapan yang intens biasanya kita bisa menilai kejujuran, kebaikan bahkan kadar intelektual seseorang. Banyak orang aneh dan punya niat aneh di dunia maya. Tutur kata, pilihan kata, konsistensi percakapan harus diperhatikan.. Tutur kata, pilihan kata, dan isi percakapan menunjukkan kadar kesopanan dan intelektual target anda. Konsistensi cerita menunjukkan kejujuran hati. Wajah bisa menipu tapi tulisan tidak mampu menipu. Tapi tentu saja anda harus punya sense dalam menilai tulisan seseorang. Tapi saya punya keyakinan bahwa manusia dilengkapi dengan radar sensor untuk menilai hati seseorang. Setiap orang memancarkan aura. Aura itu bisa baik, bisa buruk. Aura itu juga terpancar melalui media teknologi. Aktifkan sensor aura anda.
Dari sekian orang yang ku kenal, ada beberapa orang yang berniat serius denganku. Pertamakali dari situs yang berbasis di Singapur. Aku berkenalan dengan orang berkebangsaan Norwegia asal Irak. Pria yang berprofesi sebagai dosen musik disebuah universitas Norwegia ini lumayan cakep (Arab bo) dan satu agama denganku (satu agama adalah syarat mutlak bagiku). Dari e-mail2an hubungan ini berlanjut lewat telpon dan sms. Aku merasa senang menjalaninya. Karena ku pikir akhirnya aku punya somebody in my life. Setelah berjalan cukup serius, aku menceritakannya kepada ibuku. Ku pikir ibuku akan turut berbahagia mendengar anaknya sudah punya calon, ternyata tau kah apa yang terjadi? Esok hari setelah aku menelpon ibuku di Pekanbaru mengenai kabar gembira (menurutku), aku dapat sms dari kakakku yang mengabarkan ibuku jatuh sakit. Usut punya usut ternyata ibuku tak sudi bermenantukan orang asing. Dia tak ikhlas aku pergi keluar Indonesia. Kalaupun aku mau tinggal di luar negeri boleh, dengan alasan melanjutkan studi atau mengikuti suami yang notabene harus produk lokal. Ibuku ternyata sangat cinta produk lokal. Akhirnya dengan sangat terpaksa ku putuskan saja untuk mengakhiri hubungan ini. Aku tidak mungkin berbahagia tanpa restu ibuku. Tapi ku pikir2 tetap ada hikmahnya kejadian ini. Kalau aku jadi menikah dengan orang Norwegia itu, belum tentu juga aku bahagia. Wong Norwegia itu dingin sekali kan, aku di Bandung saja bersin-bersin melulu. Selain itu, bahasa inggris orang itu tidak terlalu lancar, tulisan di e-mailnya saja suka salah-salah, berhubung masih tulisan, aku masih paham. Yang susah pas di nelpon, kadang aku ga mudeng apa yang dia bicarakan. Gimana mau cocok, bicara aja sering ga nyambung, lama-lama ntar bis korsleting kan.
Walau gagal, aku tetap optimis. Aku lalu buka account baru disitus
India
dan Arab. Kenapa aku buka disini, pertimbangannya disini banyak muslimnya. Aku berharap ada melayu juga disini. Tapi ternyata banyakan turunan
India
,
Pakistan
,
Bangladesh
, trus timur tengah.
Ada
juga muslim dari eropa tapi kulit hitam. Beberapa ada yang serius. Tadinya e-mail mereka ku layani, dengan niat berteman dan latihan mengarang dalam bahasa Inggris. Tapi jika ada yang serius dan ngajak menikah aku langsung missing in action. Aku takut la…nanti ibuku jatuh pingsan lagi. Pokoke perburuan jalan terus walau belum bertemu makhluk made in
Indonesia
. Jadi persyaratan mutlakku bertambah sekarang selain muslim, mutlak produk local.
Akhirnya tiada usaha yang sia-sia. Seperti dalam Ar Ra’du 11, yang bisa merubah nasib kita sendiri adalah kita sendiri. Yang penting usaha. Akhirnya ada juga produk lokal yang mengajakku berkenalan, ini dari situs yang ku bilang anggotanya dari seluruh penjuru dunia. Situs ini juga yang paling banyak anggota dari Indonesia. Pria ini cukup oke, lulusan ITB dan S2 di Amrik. Akhirnya setelah e-mail2an beberapa kali, pria ini ngajak copy darat. (Ini bukan copy darat yang pertama bagiku, aku pernah copy darat dengan seorang pria dari Dubai. Tapi tidak ada yang menarik untuk diceritakan). Ajakan itu ku sambut dengan baik. Tapi ternyata blind date alias kencan buta ini bukan hal yang mudah untuk ku jalani. Kenapa? Ceritanya beberapa hari sebelum aku melakukan pertemuan, sewaktu aku pulang kerja naik angkot, aku mendengarkan percakapan dua orang gadis remaja. Gadis itu bercerita bahwa temannya ada yang tertipu, dimana telpon selularnya dibawa kabur sewaktu copy darat dengan teman chatting. Lantas gadis tersebut berkomentar, ”lagian ngapain sih chating2 segala, yang kita kenal aja kan juga banyak”. Dalam hati aku berkata, ”Lah itu kan kerjaan gw. Chatting kalo malam lagi ga ada kerjaan”. Trus sebelum pertemuan itu aku juga membaca sebuah artikel berjudul ”Seorang wanita tewas, dibunuh oleh kenalan chatting”. Hatiku berkata ”Matilah gw. Gw besok Sabtu kan mau copy darat neh. Gimana kalo nasib gw naas seperti itu?”. Akhirnya tau tidak apa yang ku lakukan sewaktu akan melakukan pertemuan itu? Tadinya aku tidak mau memberi tahukan siapapun mengenai blind date ini. Ku pikir orang lain tak perlu tau urusanku. Akhirnya gara-gara gadis di angkot dan artikel tersebut, aku menulis sms pada seorang sahabat. Isinya kira-kira begini; ”Mba, hari ini aku mau kencan dengan orang bernama X, di tempat CJ, jam 12 siang. Orang ini bekerja disini, no Hpnya ini. Jika dalam 1×24 jam, mba tidak mendengar kabar dariku, tolong telpon polisi. Makasi ya. Wish me luck”. Temanku juga menjawab dengan serius dan mengiringiku dengan seribu nasehat uintuk kencan pertama, tak lupa komat-kamit berdoa. Aku ingat, sahabatku itu sedang dalam perjalanan Bandung-Jakarta, selama di mobil dia komat-kamit mendoakanku, sampai suaminya bingung dan bertanya ”Kamu lagi ngapain sih?”. Tapi temanku tidak bercerita kepada suaminya tentang perburuanku itu.
Alhamdulillah ternyata pria yang ku temui ini adalah pria yang sopan dan baik. Aku bisa merasakannya sewaktu mulai berinteraksi. Kami bisa bercakap-cakap dan cukup nyambung. Tapi ternyata hubungan ini tidak dapat berlanjut karena ternyata setelah 3 bulan berinteraksi ada persyaratannya yang tidak dapat ku penuhi. Aku berpendapat, mencari pasangan hidup, tidak ubahnya mencari orang yang akan bekerja dengan kita. Maksudnya orang yang akan bekerjasama dalam membangun kehidupan dimasa datang. Untuk dapat bekerja sama tentu saja kedua belah pihak mempunyai beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh orang yang akan bekerjasama dengannya. Aku dan temanku itu sama-sama melakukan dealing layaknya orang yang akan melakukan kontrak bisnis. Melalui e-mail, aku dan dia menceritakan harapan terhadap pasangan dan model rumah tangga yang akan dibangun.Selama menjalani penjajakan kami berdua berusaha saling mencari tau dan mengenal satu sama lain. Dan ternyata kesimpulannya aku harus mengundurkan diri dan membatalkan penandatangan kontrak pernikahan dengannya. Tapi karena diawal perkenalan kami sudah sepakat bahwa apapun yang terjadi harus tetap ”no hurt feeling”, maka walau tak berhasil sampai tahap penandatanganan kontrak, aku masih berteman dengannya.
Walau aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini, aku tidak merasakan perasaan down yang amat sangat dalam hatiku, tidak sampai remuk redam seperti dalam novel-novel roman. Aku adalah orang yang sangat menjaga hati. Ku pikir, hatiku cuma satu, dan hanya akan kuserahkan seutuhnya kepada yang berhak dan sudah menandatangani kontrak dengan ku. Kalau masih dalam tahap proposal, cukuplah sampai taraf suka saja. Jangan sampai jatuh hati. Namanya juga jatuh, berarti ada risiko terluka karena jatuh ditempat yang tidak pas. Makanya berusahalah jatuh ditempat yang empuk agar bukan saja tidak terluka tapi juga merasa nyaman. Dan karena aku juga berniat serius untuk menikah, aku menjalani hubungan dengan cepat. Aku tidak mau berlama-lama dengan orang yang tidak serius atau orang yang aku tidak merasa cocok dengannya. Aku tidak mau membuang-buang waktuku.
Setelah putus dengan temanku itu, aku bermaksud ingin cooling down dulu. Kebetulan sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan 1428 H. Lalu aku mulai rajin menulis, mengisi blog ku di friendster. Hobi menulis ini membuat aku tidak chatting lagi. Ku pikir chatting sudah tidak menarik lagi dan menghabiskan pulsa telponku saja. Lebih baik menulis saja. Lalu aku juga jedda sebentar di situs perjodohan. Ku pikir aku baru akan mulai hunting lagi setelah lebaran berakhir. Aku ingin mengisi Ramadhan ini dengan hal-hal yang bermanfaat saja. Ceritanya aku mau memperbaiki diri. Tetapi Allah ternyata berkehendak lain. Allah menampakkan kuasanya atas makhluknya. Allah menjawab do’a-do’aku selama ini. Ku pikir-pikir sebenarnya Allah sangat sayang kepadaku, setiap doaku selalu dikabulkan. Doa minta jodoh sebenarnya juga dijawab sama Allah. Buktinya cukup banyak (walau ndak banyak kalee, kesannya gimana gitu loh) pria yang berminat kepadaku. Cuma bubar ditengah jalan. Dan itu biasanya karena ulahku. Jadi terkadang ada rasa takut dalam hatiku jangan sampai Allah marah padaku karena aku banyak cincong dalam memilih jodoh. Ternyata Allah paham akan makhluknya yang satu ini. Aku masih diberi kesempatan untuk berkenalan lagi.
Ceritanya pada pertengahan puasa, tepatnya tanggal 23 September 2007 datanglah sebuah e-mail dari seorang pria mengajak berkenalan. Pria tersebut berkata bahwa dia tertarik dengan tulisan-tulisan yang ada di blogku. Lalu dia juga memberi komentar pada setiap artikel yang ku tulis. Aku merasa senang karenanya. Bukan apa-apa, aku hanya merasa senang karena ada orang yang mengapresiasi tulisan, yang ku pikir tidak ada yang membacanya selain teman-teman yang sudah mengenalku dengan baik. Sebelumnya hanya dua orang yang rajin berkomentar mengenai tulisanku yaitu seorang sahabat yg sedang kuliah di Jepang dan suami dari sahabatku. Tak pernah ada orang lain. Orang ini datang begitu saja. Beliau berprofesi sebagai editor dan aktifis lingkungan. Dari komentar-komentarnya di blogku, aku bisa meraba bahwa bapak ini cerdas dan banyak pengalaman. Aku merasa senang berkenalan dengan orang yang pintar dan merasa ada teman yang bisa ku ajak bercakap-cakap (yang lebih bermutu gitu maksudnya). Tetapi aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan bapak ini. Anehnya apa? Masa mengirim e-mail bisa 3x dalam 1 hari. Kaya minum obat saja. Feelingku walau bapak ini menulis dengan bahasa yang sopan dan teratur, pasti dia punya maksud lain kepadaku. Malah dalam salah satu e-mailnya dia mengatakan dia “menyelidiki” aku. Ku jawab saja e-mailnya bahwa aku adalah orang baik-baik, tidak pernah terlibat narkoba, sex bebas apalagi trafficking. Dan aku memberikan jaminan bahwa berteman dengan ku 300% aman. Terus walau aku tidak membalas e-mailnya dia terus mengirim e-mail kepadaku. Lazimnya kan orang nunggu balasan dulu, baru nulis e-mail lagikan? (Ternyata setelah copy darat aku baru tau, kalau bapak ini stress jika e-mailnya dalam sehari tak ku jawab).
Singkat cerita, kami bertukar cerita melalui e-mail di friendster dan Ramadhanpun hampir berakhir. Saatnya aku pulang kampung. Agar fansku ini tidak kecewa, aku lalu memberi tahukan bahwa aku akan pulang kampung untuk beberapa saat lamanya, oleh karena itu aku tidak akan membalas e-mail2nya, sampai liburan berakhir. Lantas dia bertanya melalui e-mail bagaimana cara agar bisa tetap berhubungan denganku. Aku bilang paling hanya melalui HP. Lalu beliau langsung memberikan semua no telponnya yang bisa ku hubungi, dari telpon rumah, HP, dan telpon kantornya, dengan harapan aku akan memberikan no HP ku. Sampai 2x ditulis e-mail yang menyertakan no telpon. Tapi e-mail ini tidak langsung ku respon dengan memberi no HP ku. Aku hanya membalas e-mail dengan cerita saja. Aku merasa bahwa jika aku memberikan no HP ku, pasti aku akan ditelpon terus2an. Wong e-mail aja bisa 3x sehari. Sebelum memberikan no HP, aku merasa perlu berdiskusi dengan sahabatku. Kebetulan 2 hari sebelum aku pulang ke Pekanbaru, aku ada rapat dengan sahabatku. Lalu aku menceritakan soal e-mail2 bapak ini, dan permintaan beliau akan no HP ku. Lalu temanku dengan suaminya bilang: “Ayo kita check dulu profilnya”. Lantas di rumah sahabatku itu kami bertiga membuka profil bapak ini. Setelah membaca dan melihat-lihat foto sahabat mayaku itu, suami temanku berkata, “He’s ok, he looks smart”. Kata-kata dukungan moril inilah yang membuat jalan hidupku berubah. Sebelum aku pulang, sahabatku juga berkata ”Sudahlah, kasi aja no HP elu. Apa lagi sih? Jangan terlalu banyak cincong lah. Ga ada orang yang sempurna. Emang elu sempurna apa?”. Perkataan ini menyadarkan aku, kenapa tidak dicoba?. Akhirnya pada malam hari menjelang aku take off ke Pekanbaru, aku membalas e-mail dan memberikan no HP ku. Ternyata dugaanku mengenai akan ditelpon terus menerus, tidak meleset. Pagi hari di bandara adalah telpon pertama dan besok-besoknya HP ku selalu berdering dari orang yang sama. Belum lagi sms. Sampai ponakan-ponakan yang di Pekanbaru terheran-heran. Tapi karena beliau rajin menelpon, pada saat aku bertemu alias copy darat aku merasa seperti sudah mengenal lama. Pada awal-awal percakapan via telpon, bapak ini selalu memulai percakapan mengenai pekerjaan. Aku malah sempat kesenangan tadinya, ku pikir aku akan dapat proyek. Pada salah satu e-mailku, aku pernah mengatakan bahwa selain menjadi pendidik aku juga bekerja sebagai konsultan. Bapak tersebut bertanya mengenai fee seorang konsultan dan sempat bertanya-tanya mengenai masalah teknologi informasi dan manajemen keuangan padaku. Dalam hatiku, lumayan juga neh dapat proyek ntar setelah lebaran. Ternyata…..
Pertama kali aku bertemu dengannya di bandara Soekarno Hatta pada hari Sabtu, 20 Oktober 2007. Teman mayaku itu menjemput kedatanganku kembali ke ibukota. Sewaktu turun dari pesawat, jantungku berdebar-debar, tapi aku berusaha menenangkan diri. Aku anggap aku akan bertemu dengan seorang klien saja. Pada saat aku keluar bandara sambil mendorogn trolly, aku sempat clingak clinguk mencari temanku itu. Aku sudah melihat fotonya di friendster dan berusaha mencari orang yang mirip dengan foto tersebut. Ternyata orang itu ada di mulut koridor jalan keluar. Dia memakai topi, baju kaus dan sandal. Terlihat tampil seadanya. Aku agak kaget juga. Ni orang cuek banget ya, hatiku berkata. Biasanya kan pada pertemuan pertama orang berusaha tampil mengesankan. Tapi ini orang tampil apa adanya banget yach. Tau gitu gw pake baju kaos n celana jin and amburadul juga ya. Ada sedikit protes dalam hatiku. Jangan-jangan dia mau ngetes gw lagi. Awas ya dalam hatiku, emang lu doang yg bisa ngetes, gw juga jago ngetes orang. Gw kan dosen, menguji adalah makanan gw sehari-hari. Tapi disatu sisi, nurani ku berkata, “Don’t judge the book by its cover”. Mana tau covernya doang yang amburadul tapi isinya bermutu. Akhirnya aku berusaha menetralisir hatiku dan tetap bersikap hangat. Lalu kami makan siang bersama dan bercakap-cakap. Sewaktu pertemuanku dulu dengan teman terdahulu, aku berusaha jaim dan jaga sikap. Sekarang karena ku lihat orang ini tampil cuek, akupun ngomongnya cuek juga. Akupun tampil sebagaimana biasanya aku berperilaku. Dalam hatiku bodo amat dia mau suka atau enggak ama gw. Kalopun dia ga jadi nganter gw pulang, gw berani inilah pulang sendiri. Ternyata hal tersebut tidak terjadi. Bapak ini lalu mengajak aku ke kantornya. Mengapa? Karena sesuai dengan kesepakatan via telpon, aku mau berteman lebih jauh jika aku mengetahui dengan persis siapa dia, bekerja dimana, dan status perkawinannya bagaimana. Jika hanya teman maya, aku tidak akan menyelidiki terlalu jauh. Begitu juga jika hanya menjadi klien. Hal-hal tersebut tidak akan aku usut. Tapi berhubung bapak ini memintaku untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya aku harus tau persis siapa dia. Gila apa asal nikah aja. Jadi di kantornya, bapak itu memperlihatkan dokumen-dokumen penting yang harus ku ketahui. Validasi tahap pertama dilewati dengan baik. Terus terang aku menggunakan teknik audit untuk meyakinkan diriku. Aku melakukan verifikasi dokumen, menyelidiki fakta lapangan serta melakukan konfirmasi pada pihak ke 3…Auditor kaleee ya..Aku akhirnya diantar pulang ke limus setelah melakukan verifikasi mayor atas status pernikahan dan pekerjaaan serta dokumen mengenai anak kandungnya. Walaupun bapak ini sudah susah-susah menjemputku di bandara dan mengantarkan ku ke Cilengsi, setiba di rumah aku tidak mempersilakan masuk. Tepatnya aku melarangnya masuk. Didalam perjalanan aku sudah mengatakan ”Maaf ya, aku belum bisa mengajak masuk ke rumahku hari ini. Maybe some other time”. Lantas dia jawab ”Mudah-mudahan tidak dalam waktu yang terlalu lama”. Aku hanya tersenyum. Aku mempunyai alasan untuk tidak mempersilakan dia masuk, pertama rumahku kotor setelah dua minggu ditinggal dan alasan utama adalah orang ini baru saja ku kenal.
Sebenarnya aku mengajukan dua persyaratan agar proposal bapak tersebut dapat ku terima. Pertama orang tuaku harus setuju dengan bapak tersebut, dan yang kedua, anak bapak tersebut harus setuju dengan aku dan ikhlas ayahnya menikahiku. Salah satu syarat tidak terpenuhi maka proposal dianggap gagal. Bapak ini setuju. Persyaratan pertama sudah dipenuhi, dia sudah memintaku pada ibuku via telpon sewaktu aku masih di Pekanbaru dan ibuku sudah setuju. Tinggal persyaratan kedua. Untuk persyaratan kedua ini, aku melakukan pengechekan independen. Aku melakukan pertemuan dengan anak tertua beliau tanpa sepengetahuan beliau. Kebetulan beliau telah memberikan no Hpnya pada ku. Pada hari Selasa, 23 Oktober aku sms saja anaknya dan mengajak bertemu di Plaza Semanggi dan sepakat bertemu pada hari Kamis sore, tanggal 25 Oktober 2007. Sebelumnya foto anak beliau sudah dipasang di friendster, jadi sewaktu bertemu di Plangi aku langsung mengenalnya. Pertama kali bertemu di Centro, anak bapak tersebut mencium tanganku. Anaknya berjilbab, cantik dan terkesan sopan. Ku pikir kalo anaknya baik, tentu ayahnya juga baik. Seperti kata pepatah, buah tidak akan jauh-jauh jatuhnya dari pohonnya. Lalu aku mengajak, sebut saja Leyla, untuk makan sore di Platinum. Kami lalu berbincang-bincang. Perbincangan berjalan dengan sangat lancar. Leyla anak yang menyenangkan diajak ngobrol dan akupun memperlakukannya sebagai temanku. Pada pertemuan itu kami berusaha untuk saling mengenal. Leyla bertanya dimana aku bertemu dengan papanya. Aku menceritakan apa adanya saja. Dia heran juga bapaknya maen di friendster. Soalnya friendster itukan tempat gaulnya anak-anak seusia Leyla. Leyla sudah kuliah semester 3. Ternyata punya ayah gaul dan bakal punya step mom yang gaul juga. Dia kira aku adalah teman kantor ayahnya atau dikenalkan oleh teman kantor ayahnya.
Lalu aku juga menceritakan persyaratanku kepada Leyla. Aku hanya akan menikah dengan ayahnya jika dia setuju. Jika dia tidak setuju aku akan menghilang dari kehidupan ayahnya. Aku tidak mau dia bersedih gara-gara aku. Aku juga meminta dia untuk menjawab sejujur-jujurnya. Dan aku bilang tidak usah takut pada ayahnya. Jika Leyla tidak setuju, saya sendiri yang akan mengatakan pada ayah Leyla. Begitu kataku. Leyla menjawab bahwa persoalan ini sangat berat baginya, walau dia tau hal ini mungkin baik bagi dirinya. Dia juga berkata perasaan beratnya sama beratnya dengan sewaktu dia akan mulai masuk asrama Gontor. Aku menjawab bahwa aku paham sekali dengan apa yang dia rasakan. Ku bilang, bahwa hal ini juga sama beratnya bagiku. Tak pernah terbayangkan dalam hidupku bahwa suatu hari aku akan menjadi seorang step mom, dan dari dua anak yang sudah cukup dewasa pula. Dan aku juga mengatakan bahwa aku menawarkan sebuah persahabatan dengannya. Hanya itu yang bisa ku tawarkan. Aku juga berkata bahwa aku tidak menawarkan menjadi ibunya, karena pertama aku bukan ibunya dan kedua aku tidak berpengalaman menjadi seorang ibu. Tapi kalau menjadi seorang teman, aku bisa, karena aku berpengalaman dan punya banyak teman. Leyla terdiam sejenak, kemudian dia berkata; ”Apa Leyla setuju saja tante?”. Ku jawab: ”Tidak perlu menjawab sekarang, Leyla pikir saja dahulu. Kalo sudah mantap baru menjawab. Nanti kita akan bertemu lagi pada hari Sabtu tgl 27 Oktober di Cibubur Junction dengan papa Leyla.” Trus aku juga mengajak Leyla berkolaborasi ”ngerjain” ayahnya. Ku bilang sama dia jangan pernah bercerita pada ayahnya bahwa sudah pernah bertemu denganku. Dan nanti di depan ayahnya, ku minta Leyla berpura-pura tidak menyukaiku. Eh Leyla mau. Dalam hatiku, kalau sudah mau diajak ngerjain ayahnya, pasti juga mau jadi my step daughter neh. Sewaktu aku mau sholat magrib, Leylapun menawarkan untuk menemaniku, padahal aku telah memintanya untuk pulang duluan karena dia sedang tidak sholat. Hatiku berkata: “dapet neh anaknya, tak perlu pengakuan verbal lagi”. Pada saat di halte bis, aku berkata kepada Leyla: “Ley, apapun yang terjadi diantara kita, walaupun tante tidak jadi menikah dengan ayah Leyla, kita tetap berteman ya”. Leyla hanya mengangguk. Lalu kami pulang, Leyla ikut taxiku sampai pancoran dengan tak lupa bilang “terimakasih tante” dan mencium tanganku lagi. Aku meneruskan perjalananku ke green castle.
Pada hari sabtu tanggal 27 Oktober, aku dan teman mayaku itu janjian bertemu kembali di Cibubur Junction. Aku lebih dahulu tiba di mal dan menunggu mereka berdua di toko buku. Tak lama kemudian temanku datang. Penampilannya pada hari tersebut sudah sangat jauh lumayan dibanding waktu di bandara. Dalam hatiku aku berkata: “lumayanlah, paling ga, ga malu2in diajak kondangan”. Tapi aku heran kenapa dia sendirian? Ternyata Leyla sudah menunggu di restoran. Sewaktu mendekati restoran, aku bertanya “Yang mana Leyla?”. Lalu temanku itu menunjuk gadis berjilbab yang sedang meneliti menu restoran. Aku nyengir dalam hati…Gw kan dah kenal ama anak elu. Gotcha..Sandiwara terus berlangsung. Aku lalu menyalami Leyla dan menyebutkan namaku, demikian juga Leyla. Kami berlagak seperti baru pertama kali bertemu. Kami lalu memesan makanan dan makan. Leyla melaksanakan tugasnya dengan baik. Selama makan bertiga, aku dicuekin abis. Dia hanya bercakap-cakap dengan ayahnya dan hanya menjawab pertanyaanku secara singkat. Aku pun berakting seolah-olah berusaha keras agar bisa menjalin percakapan dengan Leyla. Ku pikir kami berdua berhak masuk nominasi Panasonic Award sebagai pendatang baru berbakat. Hua..ha..ha.. Setelah makanan habis kami santap, temanku berkata, “Saya tinggal dulu ya, biar bercakap-cakapnya lebih leluasa”. Setelah temanku itu pergi, kita berdua langsung tertawa. Lalu kami ngobrol-ngobrol santai saja berdua. Setengah jam kemudian, temanku itu menelponku menanyakan keadaan kami berdua. Aku berkata “Susah nih, aku dah tau jawabannya, kesini aja deh”. Lalu temanku itu nongol, aku langsung duduk menjauh dari Leyla dan pasang muka datar. Temanku lalu mengajakku agak menjauh dan berbicara empat mata. Aku pamit sebentar pada Leyla dan berkata “Sebentar ya Le, tante mau bicara dulu dengan ayah Leyla”. Leyla hanya mengangguk. Lalu kami berbicara sambil berdiri. Aku berkata: “Kayanya susah masuknya nih. Kayanya Leyla tidak suka dengan aku. Aku kesulitan berbicara dengan dia. Tiap kali aku nanya, dia jawabnya singkat-singkat saja”. Terus temanku menjawab:” Mungkin karena baru pertama kali ya..Mungkin kita harus sering bertemu”. Aku langsung menyangkal “Bukan itu masalahnya. Dia memang tidak suka dengan aku. Selama ini aku tidak pernah mengalami kesulitan mengajak orang berbicara. Ketemu di bis aja, orang bisa ngobrol panjang lebar padaku. Orang yang ga ku kenal, biasanya langsung suka padaku”. Temanku menjawab: “ Itukan orang di bis, tidak ada konsekuensinya. Kalau ini kan beda”. Ku balas “Ga lah. Aku yakin Leyla tidak menyukaiku. Jadi sesuai dengan kesepakatan awal, kita jadi teman biasa aja ya. Dan aku akan menghilang dari kehidupanmu. Aku tidak mau membuat orang sedih gara-gara aku. Aku mohon maaf jika pernah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan”. Lalu aku mengulurkan tanganku untuk berjabatan tangan. Untuk sepersekian detik, paras temanku terlihat agak pucat dengan statementku dan tidak menyambut uluran tanganku.Tapi dia sepertinya adalah orang yang bisa mengendalikan emosi, sesaat kemudian, mukanya terlihat biasa dan berkata “Kok jadi putus asa begitu?”. Kubilang “Aku tidak putus asa. Ini soal kesepakatan awal. Jika Leyla tidak setuju, kita juga ga jadi”. Tampaknya temanku ini orang yang gigih dan tak mempan digertak, dia langsung saja berkata “Kalo begitu langsung kita tanyakan saja pada Leyla, dan kita dengar bersama jawabannya”. “Oke, ayo kita dengar bersama kalau tidak percaya denganku” kataku. Lalu kita kembali ke restoran, temanku membayar tagihan dan aku duduk kembali di sebelah Leyla. Aku menceritakan kejadian tadi dengan Leyla. Pada saat ayahnya kembali, kami diam lagi. Lantas kami bertiga beranjak dari restoran tersebut.
Ternyata Leyla tak kuat lama-lama bersandiwara, padahal aku berkata, kita akan menahan diri sampai seminggu. Jadi baru minggu depan mengatakan pada papanya bahwa kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Tapi Leyla tak tega meliat air muka ayahnya yang keruh. Jadi sewaktu ayahnya bertanya: “Gimana Le?” Leyla langsung tertawa terbahak-bahak sambil berkata bahwa sebelumnya kami sudah pernah bertemu. Ayah Leyla bingung. Lantas Leyla menceritakan bahwa pada hari Kamis, 2 hari yang lalu kami sudah bertemu di plaza Semanggi. Langsung ayahnya berkata “Dasar bandit dua orang ini”. Kita bertiga lalu tertawa bersama. Setelah itu temanku itu bertanya lagi pada Leyla “Jdi gimana Le, papa boleh menikah dengan tante Hessy?” Leyla menjawab, “Terserah papa saja”. “Jangan terserah dong” kata temanku. “Ya boleh” Kata leyla. Persyaratan kedua terpenuhi. Selanjutnya aku masih melakukan beberapa verifikasi minor. (Verifikasi mayor adalah status pernikahan, anak dan pekerjaan).
Verifikasi minor adalah mengenal saudara-saudaranya dan teman-temannya. Aku selalu berusaha bersikap imbang terhadap setiap orang. Kalau aku ingin mengenal saudara-saudaranya, tentunya dia pun ingin mengenal saudara-saudaraku. Kebetulan pada tanggal 3 November 2007, adikku yang tinggal di pasar minggu mengundang aku bersaudara untuk acara halal bi halal. Lantas aku bercerita mengenai temanku itu. Adikku menyarankan untuk memperkenalkan temanku pada acara halal bi halal tersebut biar praktis dan langsung bertemu dengan semua saudara kandungku yang ada di Jakarta. Singkat kata aku memperkenalkan saudara-saudaraku pada acara tersebut. Pada hari Kamis, 8 November aku dan keluargaku yang gantian mengunjungi keluarganya di Depok. Setelah semua verifikasi dilakukan akhirnya pada tanggal 21 November orangtuaku datang ke Jakarta. Malamnya temanku langsung menemui orangtuaku dan mengatakan niatnya, memintaku secara langsung kepada ayahku. Ayahku menerimanya. Malam itu aku pun diantar pulang ke limus. Setiba di depan rumahku, temanku itu berkata dengan wajah memohon ”Boleh tidak aku masuk ke rumahmu? Sebentaaaaaaaaaar saja. Kalau tidak boleh, paling tidak masuk ke dalam halaman dan melihat tamannya saja. Ya itu juga kalau diijinkan. Kalau tidak, ya tidak apa-apa” Aku tertawa terbahak-bahak mendengar permohonan yang disertai wajah memelas itu. Ku jawab, ”Ha..ha..ha… ya boleh tapi ga boleh lama-lama, hanya sebatas secangkir kopi. Jika kopinya habis, harus pulang”. Dia tertawa senang ”Ya nanti ngabisin kopinya yang lama aja”. Ha..ha..ha.. kami tertawa bersama. Tapi temanku ini cukup tau diri, dia tidak lama di rumahku dan setelah kopinya habis, dia pamit. Aku memang sedikit agak keras soal aturan laki-laki masuk ke rumahku. Masalahnya aku tinggal sendiri dan mengenakan jilbab. Aku tidak mau tetangga menggunjingkan aku, karena ada lelaki yang bukan muhrim masuk ke rumahku. Aku sangat menjaga sikapku agar tidak menjadi bahan gunjingan orang. Kasihan orang berdosa gara-gara aku.
Singkat cerita setelah itu aku dilamar secara resmi pada tanggal 1 Desember 2007 di Depok. Ada cerita lucu juga pada peristiwa lamaran ini. Malam hari sebelum acara, temanku menelponku, bertanya mengenai acara lamaran. Aku bilang acaranya sederhana saja. Dia juga bertanya pakai baju apa, iparku nyeletuk “Pakai batik”. (aku berbicara via HP dan menggunakan speaker). Lalu paginya, dia menelpon lagi menanyakan hal yang sama dan memastikan bahwa acaranya tidak akan memakai adat segala. Ku bilang “Tidak. Acaranya santai saja, tidak akan ada pepatah, petitih dari ninik mamakku. Masalahnya juga ga ada yang bisa.”.. “Syukurlah kalau demikian” katanya. Tapi tahukah apa yang terjadi pada saat keluarga mereka datang? Aku yang melihat dari dalam kamar kaget setengah mati. Onde mande, temanku itu datang dengan baju biasa dan bercelana jeans. Padahal aku memakai baju kurung melayu dan dandan abis. Begitu juga dengan keluargaku memakai baju setengah resmi. Keluarga dia, yang tua-tua memakai baju batik dan setengah resmi sih, cuma dianya kenapa pakai jeans, belel pula? Untung saja insiden kecil ini tidak berpengaruh pada jalannya acara. Ternyata usut punya usut dia sebenarnya membawa 2 buah baju batik dalam mobilnya, tapi karena aku mengatakan bahwa ini acaranya santai saja, dia tidak jadi memakai batiknya. Setelah acara selesai dia langsung minta maaf kepada ibu dan ayahku atas ”ketidak sopanannya” itu. Untung ayahku juga tidak begitu mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu, walau ada om dan makdangku yang sedikit berkomentar tidak enak. Bagiku yang penting ayah dan ibuku. Orang lain boleh saja berkata apa saja. The show must go on. Tepat pada tanggal 27 Desember 2007, jam 10.00 pagi, di Pekanbaru aku resmi menjadi istri Heru Suprantio. Itulah nama teman mayaku yang sekarang menjadi suamiku.
Bersamaan dengan resminya aku menjadi istri Heru Suprantio, lunas jugalah utang ayahku kepada Allah. Ayahku menangis sewaktu memelukku. Itu adalah satu-satunya airmata yang pernah jatuh dari kelima pernikahan anak ayahku. Terlihat ayahku begitu lega dengan menikahnya aku. Ternyata aku adalah beban yang sangat memberati dan menyesakkan rongga dada ayahku walau selama ini dia tidak pernah setitikpun memperlihatkan kecemasannya tersebut. Sampai aku pernah merasa bahwa ayahku tidak ambil pusing dengan belum menikahnya aku. Selama ini ku pikir hanya ibuku yang resah, tetapi ternyata aku salah besar. Ayahku adalah orang yang keras hati dan bukanlah orang yang ekspresif tapi dia menangis disaat pernikahanku, di depan para sanak saudara dan teman-temannya. Sebuah tangisan haru dan kelegaan yang tak tertahankan oleh sepotong hati tua. Maafkan Hessy pa, telah membuat susah papa. Akhirnya aku dapat bernafas lega karena akhirnya rongga dada itu tidak sesak lagi. Mudah-mudahan sebelum ayah ibuku pergi, mereka bisa melihat cucunya dariku. Amin
PENUTUP
Hanya butuh lebih kurang tiga bulan dari awal perkenalan sampai akhirnya aku menikah dengan teman mayaku. Sungguh waktu yang sangat singkat untuk mengenal seseorang dan tentu saja mengandung resiko yang sangat tinggi. Jika seseorang tidak berani mengambil risiko, orang itu tidak akan pernah melangkah. Orang yang tidak pernah berbuat salah, berarti orang yang tidak pernah melakukan apa-apa. Tentu saja tidak ada orang yang ingin salah pilih pasangan hidup. Tapi kita juga tidak akan tau apakah orang itu adalah pasangan jiwa kita atau tidak jika tidak melangkah kan?
Satu hal yang ku yakini, setiap usaha, setiap tindakan, pasti mengandung risiko dan jika Allah sudah menetapkan sesuatu hal, tidak akan ada yang bisa membatalkannya, biar setan sekalipun. Semua yang terjadi padaku tidak terlepas dari ketetapan takdirku. Aku sudah berusaha seoptimal mungkin untuk meminimalisir risiko yang mungkin timbul, and I’ll let Allah to take care the rest. Aku sangat percaya, bahwa apa yang diberikan Allah kepadaku, pasti yang terbaik bagiku. Walaupun mungkin menurut mata manusia tidak baik.
Terkadang aku juga suka bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ya aku bersedia menerima orang ini menjadi suamiku? Kenapa orang-orang terdahulu ku biarkan lewat begitu saja? Apa karena dia pintar atau karena aku bisa menjadi diriku sendiri atau karena aku ingin melunasi utangku sekaligus utang orang tuaku kepada Allah atau karena usaha dia yang begitu gigih untuk mendapatkanku? Atau mungkin karena semuanya? Apa rahasia dibalik semua ini? Wallahualam bi sahwab. Yang jelas sekarang dia menjadi suamiku dan aku telah menjadi istrinya. Berarti semua kewajiban sebagai istri wajib untuk ku jalankan dan hak sebagai seorang istri, berhak untuk ku peroleh. Begitu juga sebaliknya. Until now, so far so good.
THE END