Catatan Hessy

Ini blog isinya adalah hal-hal yang melintas di otak kananku. Karena yang melintas banyak, jadi ku pikir perlu ku buat semacam catatan, supaya besok-besok kalo aku lupa, ku bukalah catatan ini. Ya mudah2an catatan ini tidak hanya berguna untukku, tapi juga bagi orang lain. Salam Hangat Hessy

HIDUP, KEHIDUPAN, MAKNA HIDUP

HIDUP, KEHIDUPAN, MAKNA HIDUP

vs

UANG, MANUSIA SEJATI

Inspired by: Dik Doank

( Minggu, 30 Maret 2008)

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi” (Al Munaafiquun 9)

”Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah lah pahala yang besar” (Al Anfaal 28)

”(Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: ”Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan. ”Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu”. (Shaad 31-33)

”Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (Al Kahfi 7)

”Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberi Nya kesenangan, maka dia berkata: ”Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata ”Tuhanku menghinaku”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim. Dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin. Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil). Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan. (Al Fajr  (15-20)

Dunia akan tersenyum jika engkau tersenyum. Dunia akan tetap tersenyum, jika engkau menangis  (bukan karangn gw, gw pernah baca tapi ntah dimana)

Sesungguhnya kebahagian sejati adalah apabila kita mampu membuat orang lain tersenyum (karangan gw dari hasil survey kehidupan sehari-hari)

Senyum Tuhan ada pada senyuman kaum Duafa. (Karangan gw, yang gw yakini. Adaptasi dari ”Vox Populi, Vox Dei)

Manusia sejati adalah manusia yang paling banyak membuat manusia lain tersenyum (Karangan gw, adaptasi dari: ”Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang banyak manfaatnya bagi orang lain”)

Setiap tarikan nafas, denyut nadi, tetes darah dalam kehidupan tak lain adalah barokah sekaligus cobaan (karangan gw)

Hidup bagaikan dua sisi mata uang (Wisdom of the street)

Money is not everything but everything needs money (Wisdom of the street)

PENDAHULUAN

Hari ini harian Kompas Minggu menurunkan artikel yang berjudul “Kandang Dik Doank yang membebaskan”. Berikut cuplikan artikel tersebut:

“Bagi Dik Doank, kandang adalah symbol pembebasan. Kandang tanpa isi binatang peliharaan, maknanya adalah cinta yang membebaskan. “Kalau kita cinta kepada binatang, kita harus membiarkan binatang itu hidup di alam bebas,” kata Dik Doank….”

“Di Kandank Jurank Doang, Dik Doang mendidik sekitar 2500 anak untuk belajar mencari ilmu. Ilmu yang diajarkan tidak ada kurikulumnya. Anak-anak diajak bermaindan didorong untuk mencipta. Pelajaran utamanya adalah menggambar. Menurut Dik Doank, menggambar adalah salah satu bentuk proses mencipta”

“Dengan merelakan halaman depan rumahnya sebagai ruang public untuk anak-anak, Dik Doank merasa bisa menemukan kebahagiaan sejatinya. “Bahagia adalah bisa berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain”. Tutur Dik Doank

”Dengan segala materi yang dimiliki, Dik Doank mencoba hidup bersahaja. Ia bahkan tidak lagi memiliki mobil pribdi. Sebuah mobil kecil berwarna kuning yang terparkir di garasi adalah milik istrinya. “Saya tidak punya mobil lagi. Kalalu ada acara, saya selalu minta dijemput oleh penyelenggara.”

Pada pagi dan hari yang sama, sebuah stasiun televisi menurunkan berita mengenai pidato Presiden dan wawancara Wakil

Presiden

 

RI

(= Republik Ini J ).  Dalam pidatonya

Presiden

 

RI

mengungkapkan rasa keprihatinannya terhadap harga minyak tanah, minyak goreng dan kebutuhan pokok yang terus meningkat sehingga menyengsarakan rakyat kecil. Setelah itu televisi tersebut juga menayangkan wawancara dengan

Wapres

 

RI

. Dalam wawancara tersebut wapres RI mengatakan bahwa kenaikan harga-harga saat ini mengindikasikan bahwa semakin banyaknya uang yang beredar di tangan rakyat kecil.

Tiga berita ini terus terang menggelitik hatiku. Berita Dik Doank membuatku merenung akan hidup, kehidupan dan makna hidup. Pidato presiden sebenarnya adalah pidato yang biasa-biasa saja karena memang tugas seorang presiden mengatur dan menyelamatkan perekonomian bangsa yang notabene akan menyelamatkan banyak anak bangsa. Dalam hati, aku hanya berharap, mudah-mudahan

Presiden

 

RI

akan melakukan suatu tindakan atas rasa prihatinnya itu, jangan hanya sekedar prihatin semata melihat semakin banyak orang yang sengsara. Tapi yang paling membuatku muangkel dan akhirnya mengeluarkan kata-kata yang cukup kasar sampai suamiku kaget mendengarnya adalah pernyataan

Wapres

 

RI

. Bagaimana tidak muangkel berat, bisa-bisanya seorang pejabat negara mengatakan bahwa kenaikan harga-harga saat ini mengindikasikan bahwa semakin banyaknya uang yang beredar di tangan rakyat kecil. Terus terang aku kecewa berat dengan Wapres ini, sekaligus merasa putus asa, pantesan negara ini ga pernah beres. Boro-boro beres, yang keliatannya malah makin parah keadaannya. (Aku menggunakan kata keliatan karena memang hasil penglihatan semata, aku tidak melakukan pemeriksaan terhadap data statistic indicator kemajuan sebuah negara seperti kenaikan income per capita, Gross National Product (GNP), Gross Domestic Product (GDP) atau Gross National Happiness (GNH). Tapi aku yakin jikalau pun dilakukan pemeriksaan terhadap indicator-indikator tersebut hasilnya akan sama dengan hasil survey kasat mata. Yang jelas pendapatan per kapita sekarang kalaupun tidak turun yang jelas tidak lebih baik, Karena tidak lebih baik, dengan kenaikan inflasi yang sangat tinggi membuat daya beli (purchasing power) masyarakat semakin menurun. (Buktinya semakin banyak ibu-ibu yang mengeluh soal belanja dapur). Kalau data GNP dan GDP aku memang tidak punya. Tapi kalau mau tau tinggal klik internet juga tau. Tapi malas lah nengoknya. Ga ngaruh dengan kehidupan gw. Sedangkan untuk indeks kebahagiaan nasional (GNH), haqqul yaqin makin buruk karena makin banyak orang yang merasa tertekan dalam hidup ini karena semakin terpuruknya kehidupan perekonomian mereka. Untuk melihat indeks yang satu ini tidak perlu susah payah, cukup baca Koran saja. Dari berita TV maupun Koran baru-baru ini diberitakan ada beberapa ibu yang membunuh anaknya. Di dunia ini normalnya seorang ibu akan berbuat apa saja untuk membahagiakan anak-anaknya. Tapi kenapa kok ada ibu yang tega membunuh anaknya. Pasti ada yang salah. Keras dugaan bahwa ibu-ibu tersebut menderita gangguan jiwa. Kenapa jiwa ibu-ibu itu terganggu? Kuat dugaan juga karena tekanan ekonomi. Jadi kesimpulannya? …..Ya betul, makin banyak orang yang tidak bahagia..

HIDUP, KEHIDUPAN

Sebuah kehidupan dimulai pada saat Sang Pencipta meniupkan ruh kedalam janin yang sedang dikandung seorang perempuan. Peniupan ruh tersebut diperkirakan sekitar 120 hari kehamilan, pada saat itu dinyatakan janin tersebut hidup, sehingga menurut kode etik kedokteran praktek aborsi tanpa alasan kuat yang dilakukan setelah 120 hari sama dengan sebuah pembunuhan (kalo ga salah ni ye).  Pada saat seorang perempuan mengetahui ada kehidupan yang tumbuh di dalam rahimnya, biasanya perempuan akan berusaha sebaik-baiknya menjaga kehidupan tersebut dengan makan minum yang bergizi, tidur yang teratur dan berusaha menjaga emosi. Selain itu ada juga perempuan dalam masa kehamilan yang menambahkan asupan gizi rohani untuk janin yang dikandungnya, misalnya dengan lebih rajin beribadah, menjaga perkataan, mendengarkan musik klasik dan lain sebagainya. Semua ini dilakukan untuk menjaga agar janin tersebut tumbuh dan berkembang dengan baik kemudian bisa lahir dengan selamat dan sehat,dan kelak bisa jadi manusia sejati.

Setelah janin tersebut lahir, maka dimulailah babak baru dalam kehidupan seorang anak manusia. Dia tidak lagi terlindungi secara sepenuhnya sebagaimana sewaktu masih dalam rahin ibunda. Sedikit demi sedikit dalam fase kehidupannya dia belajar memenuhi kebutuhan hidupnya. Seluruh fase kehidupan seorang anak manusia adalah fase belajar dan pembelajaran dari kehidupan. Ada yang berhasil belajar, ada yang sama sekali tidak mampu menarik pelajaran dari pahit getirnya kehidupan yang dialaminya, apa lagi yang dialami oleh orang lain. Sungguh sangat merugi orang seperti itu. Orang-orang yang mempunyai kemampuan belajar dari kehidupan pada akhirnya akan menemukan makna hidup dan kehidupan dan pada akhirnya kalaupun tidak menjadi manusia sejati, minimal akan lebih manusiawi daripada yang tidak atau gagal belajar dari kehidupan.

Apakah orang yang gagal belajar dari kehidupan pasti adalah orang yang tidak pernah mengalami pahit getirnya kehidupan? Apakah yang bisa belajar hanya orang-orang yang pernah merasakan pahitnya kehidupan? Apa indikator sebuah kepahitan? Apakah menjadi anak orang kaya, sukses berkarir berarti tidak ada kepahitan dalam hidup?

Hidup bagaikan dua sisi mata uang. Ada susah, ada senang. Ada sakit, ada sehat. Ada miskin ada kaya. Ada tua, ada muda. Ada hidup ada mati. Setiap manusia pasti akan merasakan senang susahnya kehidupan dalam kadar dan variasi yang beraneka ragam. Tidak ada orang yang senang terus dan sebaliknya tidak ada orang yang (perasaannya) susah terus. Apakah orang yang berkecukupan materi hatinya akan senang terus? Tentu saja tidak. Harta bukan jaminan hati akan bahagia. Sebaliknya apakah seorang gelandangan, gembel dijalanan tidak pernah tertawa bahagia? Jangan-jangan malah lebih sering daripada orang yang memiliki uang trilyunan. Kok bisa? Ya bisalah…Gelandangan, anak gembel dapat uang Rp 500 saja sudah senang, apalagi kalau ada pembagian nasi bungkus, lebih senang lagi. Anak-anak ojek payung, bergembira sewaktu hujan turun, karena berarti ada rezeki. Untuk bisa tidur, mereka tidak perlu pikir panjang, bentangan bumi adalah kasur mereka, langit adalah atap rumah mereka. Bintang dan bulan adalah penerang mereka. Mau mandi sauna, tidak perlu repot ke spa, wong tiap hari mandi sauna. Tiap hari berkuah diterpa sengatan matahari. Mau berjemur, tidak usah ke Bali, tiap hari sudah berjemur kok. Sementara manusia dengan harta trilyunan mungkin bisa membeli semua yang ada di muka bumi ini, tapi belum tentu berbahagia, karena kebahagiaan tidak bisa dibeli. Seperti kata orang bijak, anda mungkin bisa membeli makanan mahal, tapi anda tidak bisa membeli nikmatnya makanan. Anda mungkin bisa membeli kasur termahal, tapi anda tidak bisa membeli tidur yang nyenyak. Maybe you can buy a house, but you can not buy a home. (Terpaksa pake English, aku tidak tau padanan kata house dan home dalam bahasa

Indonesia

. Dua kata tersebut diartikan rumah, tapi mempunyai makna yang berbeda dalam bahasa inggris). Anda mungkin punya banyak teman, banyak relasi, tapi belum tentu anda punya sahabat.

Terus apa hubungan hidup bagaikan dua sisi mata uang dengan kemampuan belajar dari kehidupan? Sangat erat hubungannya. Karena hidup bagaikan dua sisi mata uang, jadi setiap manusia pernah mengalami masa susah dan masa senang. Masa bahagia dan masa menderita. Tidak perduli dia kaya atau dia miskin secara materi, karena susah dan senang, pahit getir, tidak selamanya terkait dengan materi. Bahagia menderita adalah masalah hati. Oleh karena itu setiap manusia pada hakikatnya punya kesempatan untuk belajar dari  kehidupan. Persoalannya tinggal pada manusia tersebut, apakah dia mau berusaha untuk menarik  hikmah, menarik pelajaran dari setiap fase kehidupannya atau tidak. Sewaktu masih kecil, tugas orang tualah untuk mengajarkan anak-anaknya untuk belajar mengenai kehidupan, sehingga setelah dewasa mereka akan mampu belajar mandiri mengenai kehidupan. Tugas orangtualah untuk menyadarkan anak-anaknya sekaligus dirinya sendiri bahwa setiap tarikan nafas, denyut nadi, tetes darah dalam kehidupan tak lain adalah barokah sekaligus cobaan Dan kita harus dapat mengambil pelajaran dari setiap barokah dan cobaan hidup yang kita alami. Menjadi kaya atau menjadi miskin, menjadi pintar atau kurang cerdas, mempunyai tubuh yang sempurna atau tubuh cacat adalah barokah sekaligus cobaan, tergantung bagaimana kita memandang dan memanfaatkan sesuatu yang sudah menjadi bagian kita tersebut.

MAKNA HIDUP vs UANG

Jika seseorang ditanya “Apa tujuan hidup mereka?”. Pasti secara naluri akan menjawab, “Ingin hidup bahagia lahir batin. Ingin hidup bahagia dunia dan akhirat”. Untuk tujuan hidup mungkin bisa dikatakan jawaban hampir seragam yaitu : Hidup Bahagia. Akan tetapi setiap orang menempuh jalan yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan hidup mereka tersebut. Setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda dalam memaknai arti kata bahagia.

Ada

yang mengartikan bahagia berarti mempunyai banyak uang atau sukses dalam berkarir atau punya banyak rumah, banyak perusahaan, atau punya pasangan yang cantik atau tampan atau punya keturunan yang hebat-hebat. Tapi  ada juga yang mengartikan kebahagian adalah jika dapat membahagiakan orang lain…Pemaknaan terhadap kosa kata bahagia biasanya sangat erat dengan kemampuan belajar dan menarik pelajaran dari kehidupan.

Menurut teori Maslow, kebutuhan manusia dibagi dalam 5 tingkatan. Kebutuhan paling bawah adalah kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan fisik (physical needs) yang merupakan kebutuhan dasar dan yang tertinggi adalah kebutuhan aktulisasi diri. Orang-orang dengan ekonomi pas-pasan biasanya bekerja untuk  kebutuhan dasar. Semakin baik tingkat ekonomi seseorang, maka kebutuhannya pun akan meningkat. Sehingga akhirnya pada saat seseorang sudah mapan secara ekonomi, dia akan bekerja bukan untuk mencari uang tapi untuk aktualisasi diri. Jadi dilihat teori tersebut dapat kita simpulkan bahwa orang dengan tingkat ekonomi pas-pasan mungkin sudah cukup berbahagia jika kebutuhan dasarnya dapat terpenuhi dengan baik. Sebaliknya orang dengan ekonomi mapan baru bisa berbahagia jika dapat mengaktualisasi dirinya dengan baik. (Teori ini sebenarnya banyak mendapat kritik bahkan Maslow pun menjelang akhir hayatnya merevisi teori ini. Soale kebutuhan keempat adalah harga diri (self esteem). Masak kita kudu nunggu kaya dulu terus baru mikirin harga diri. Jadi jika teori ini ditelan mentah-mentah seolah-olah semua orang miskin ga punya harga diri dong, ga bisa mengaktualisasikan diri dong. Bisa-bisa banyak yang tersungging ntar neh. Lagian ajang aktualisasi diri juga dah banyak, kaya ikut KDI dangdut, ikut kontes idol-idol lainnya yang lama-lama emang bikin kita jadi pada dodol…hua..ha..ha..3x)

Cara tiap orang untuk mengaktualisasi diri juga berbeda-beda. Karena pada umumnya orang-orang yang sudah sampai tingkat ini adalah orang-orang kaya, maka uang bukanlah suatu masalah bagi mereka. Dengan uang yang mereka miliki mereka bisa membeli apa saja yang mereka inginkan. Mereka bisa bergaya sesuai zaman, sesuai selera yang mereka suka. Bahkan dengan uang yang mereka miliki, mereka bisa menambah kekayaan mereka. (Ya iyalah..uang tersebut tinggal diinvestasikan lagi, hasilnya buat belanja lagi, belanja lagi..). Tapi ada juga yang mengaktualisasikan diri dengan cara yang jauh dari glamour. Mereka memilih untuk hidup bersahaja, mereka berbagi uang dan harta yang mereka miliki dengan orang lain yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengan mereka. Dik Doank adalah salah satunya. Seorang manusia bisa memilih menggunakan uang untuk kepentingan pribadinya atau memilih membagi-bagikan uangnya untuk kebahagian orang lain dan secara bersamaan ikut merasa bahagia.

MANUSIA SEJATI

Tidak setiap orang yang lahir di muka bumi ini pantas disebut sebagai manusia apalagi manusia sejati. Banyak manusia yang berperilaku seperti hewan, yang dipikirkan hanya pemenuhan kebutuhan nafsu atau kebutuhan pribadi semata. Dalam bertindak tidak punya nurani, tidak pernah berpikir bagaimana akibat dari perkataan dan perbuatannya terhadap orang lain. Orang-orang seperti ini tidak pantas disebut sebagai manusia. Akan tetapi tidaklah mudah menjadi manusia sejati. Karena itulah Tuhan menciptakan manusia dilengkapi dengan 3 hal yi: Akal, Nurani dan Nafsu, agar manusia bisa menjadi manusia yang benar-benar manusia alias manusia sejati. Akal berfungsi untuk mengarahkan hidup manusia, nurani bertindak sebagai kontrol dan nafsu berguna untuk dapat merasakan kenikmatan dunia. Manusia sejati adalah manusia yang dapat bertindak dan bersikap rasional dengan kontrol nurani dan dapat mengendalikan hawa nafsunya dalam setiap denyut nadi dan tarikan nafasnya. (Weih susah kali dong jadi manusia sejati…lah iyalah namanya juga sejati, berarti sempurna kan?). Jika menggunakan definisi ini, ku rasa tidak ada manusia sejati di muka bumi ini, bahkan nabi atau rasul sekalipun mempunyai cacat perilaku. Nabi Musa punya cacat, beliau pernah membunuh seseorang dalam sebuah perkelahian (berarti gagal mengendalikan nafsu amarah pada saat itu), Nabi Sulaiman pernah terpesona dengan kuda-kuda yang dimilikinya sampai hampir melupakan Tuhan seperti tertera dalam surat Shaad 32.  Nabi Muhammad juga pernah ditegur Allah, akibat mengabaikan  orang miskin yang ingin masuk Islam karena pada saat yang bersamaan beliau sedang berbincang-bincang dengan seorang yang terpandang. Kalau nabi saja bukan manusia sejati 100% bagaimana kita? Tentunya hampir mustahil untuk mengontrol perilaku kita dalam tiap denyut nadi dan tarikan nafas. Mungkin definisi manusia sejati bisa lebih disederhanakan dalam tataran yang bisa diimplementasikan. Untuk itu kita gunakan saja definisi menurut Al Quran yaitu Sebaik-baiknya manusia (manusia sejati)adalah yang paling banyak memberi manfaat pada orang lain. Kosa kata memberi manfaat bisa diterjemahkan seluas-luasnya.

Dik Doank adalah salah satu manusia yang mungkin bisa dikatakan manusia sejati. Dengan media Kandang Juranknya, Dik telah berbagi kebahagiaan. Dik bukan hanya memberikan manfaat pada banyak anak, bahkan lebih jauh dari itu, Dik telah memberikan kehidupan bagi 2500 anak-anak didiknya. Tanpa disadari mungkin apa yang diperbuat Dik, akan banyak manfaatnya bagi republik ini, dimana anak-anak yang dididik dengan orang yang bernurani seperti Dik, kelak besar akan menjadi manusia sejati seperti Dik pula dan akan menyebarkan kebahagiaan kepada lebih banyak orang. Dik dengan harta yang dimilikinya memilih untuk hidup bersahaja, memilih untuk mengorbankan kemewahan yang dimilikinya demi kebahagiaan anak-anak yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya. Dik yang bukan seorang pendidik, bukan seorang pejabat, tapi malah punya nurani seperti pendidik dengan menciptakan kurikulum yang manusiawi, sekaligus bersikap seperti pejabat dengan bukti konkrit berusaha memerangi kemiskinanan melalui perang terhadap kebodohan. Sungguh sebuah kerja yang hebat, tidak semua orang mampu untuk melakukan seperti yang dilakukan Dik walau punya kemampuan finansial. Untuk bisa melakukan seperti yang Dik lakukan tidak hanya dibutuhkan kemampuan finansial, tapi dibutuhkan kekuatan akal dan kekuatan nurani untuk mengendalikan hawa nafsu dari daya tarik gemerlap kehidupan mewah duniawi. Tapi bukan berarti jika kita tidak mempunyai uang banyak tidak bisa menjadi manusia sejati. Uang hanyalah sebuah jalan, sebuah media untuk mempermudah jalan. Pada hakikatnya selama yang kita lakukan, selama yang kita kerjakan itu bermanfaat bagi orang banyak kita sudah berada di jalan yang benar menuju manusia sejati.

PENUTUP

Banyak orang-orang yang gagal belajar dan memaknai hidup dan kehidupannya sehingga seringkali tanpa sadar pernyataan dan perilaku mereka menyakiti bahkan merusak  dan merugikan orang lain. Ironisnya seringkali orang-orang seperti ini duduk di posisi-posisi strategis negara ini. Terkadang aku berharap sungguh republik ini akan menjadi tempat layak untuk berdiam apabila semakin banyak orang-orang seperti Dik Doank. Mereka bertindak tanpa harus menjadi pejabat terlebih dahulu. Mereka bertindak tanpa pretensi apa-apa. Mereka bertindak dengan akal dan nurani mereka. Merekalah manusia-manusia sejati yang tampaknya lebih layak memimpin republik ini.

HUNTING SOUL MATE THROUGH INTERNET

HUNTING SOUL MATE THROUGH INTERNET

A TRUE STORY

By: Hessy Z. Suprantio

Jum’at, 11 Januari 2008  ( 8 Muharram 1429H)

Dia yang membentangkan bumi dan menjadikan di atasnya gunung-gunung dan sungai-sungai. Dari tiap-tiap buah-buahan Dia jadikan sepasang-sepasang (jantan dan betina). Dia tutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada demikian itu menjadi tanda-tanda bagi kaum yang memikirkan. (Ar Ra’du – 3)

Di bumi ada beberapa potong (bidang) yang berdekatan dan beberapa kebun dari anggur dan tanam-tanaman dan pohon korma, yang bercabang dan tiada bercabang (semuanya) disiriami dengan air yang satu. (Dalam pada itu) Kami lebihkan setengahnya dari yang lain tentang rasa buahnya. Sesungguhnya pada demikian itu menjadi keterangan (atas ada Allah) bagi kaum yang memikirkan (Ar Ra’du 4)

Bagi manusia ada (malaikat) yang berganti-ganti mengintipnya, di hadapannya dan di belakangnya, mereka itu menjaganya dari perintah Allah. Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki kejahatan pada suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolakkannya dan tidak ada bagim mereka wali, selain dari padaNya. (Ar Ra’du 11)

PROLOG

Banyak sudah artikel atau tulisan yang membahas mengenai perjodohan atau menemukan jodoh melalui internet di koran atau blog yang ku baca. Tapi dari kebanyakan artikel tersebut hanya membahas secara dangkal karena ditulis hanya berdasarkan wawancara singkat dengan pelaku atau hanya sebagai saksi mata. Ada juga tulisan dari pelaku dan biasanya merupakan kesaksian (testimony) yang ditulis di situs di mana mereka menemukan pasangan  hidup mereka. Dan biasanya ini hanya membahas soal keberhasilan semata. Atau ada juga yang ku baca dari sebuah koran Minggu mengenai kesialan mencari jodoh di internet. Melihat ini ku pikir artikel-artikel tersebut masih perlu ditambahkan oleh seorang pelaku dengan sudut pandang yang lebih berimbang. Hal inilah yang menggerakkan tanganku untuk menekan keyboard komputerku. Aku adalah salah seorang pelaku yang berburu pasangan jiwa melalu internet. Artikel ini akan menceritakan jatuh bangunnya,  rasa senang campur ketar-ketir berburu teman hidup.

PENDAHULUAN

Kata jatuh bangun, mengingatkanku pada lagu Kristina Dangdut. Tapi memang itulah yang ku rasakan dalam ikhtiarku mencari pasangan jiwaku. Oleh karena itu pada judul ku tulis True Story alias kisah nyata. Memang mungkin bagi beberapa orang  yang membaca tulisan ini, judul tersebut terlihat terlalu bombastis. Terlalu membesar-besarkan masalah. Mungkin ada benarnya pendapat yang mengatakan judul tersebut terlalu bombastis. Aku tak menyalahkannya karena mungkin orang tersebut amat sangat diberikan kemudahan oleh Tuhan dalam menemukan jodohnya. Tapi tidak dapat dipungkiri banyak orang yang senasib denganku, sulit sekali menemukan pasangan jiwanya. Aku ingin berbagi dengan orang-orang yang senasib denganku.

Seperti yang kita ketahui ada 3 hal yang sudah ditetapkan Allah pada saat Allah meniupkan roh kedalam tubuh kita. Ketiga hal tersebut adalah umur, rezeki dan jodoh. Untuk dua hal pertama alhamdulillah sampai umurku sekarang ini aku tidak mengalami kesulitan yang berarti. Dalam artian, umur atau masa hidup yang Allah berikan padaku alhamdulillah sebagian besar adalah masa hidup yang menyenangkan. Aku punya orangtua yang lengkap, saudara-saudara yang menyayangiku dan teman-teman yang perhatian padaku. Bukankah itu sebuah masa hidup yang  menyenangkan? Soal rezeki, aku juga tidak pernah merasakan kesulitan yang berarti. Walalupun orang tuaku tidak kaya, tapi alhamdulillah dapat memenuhi semua kebutuhan dasarku, aku makan makanan yang enak, punya baju yang cukup layak, sepatu yang layak, bersekolah ditempat yang bagus bahkan kuliahpun aku kuliah di sebuah universitas negeri ternama dinegeri ini, di mana tidak semua orang bisa bersekolah di sana walau dia kaya. Aku juga tidak perlu usaha keras untuk mendapatkan nilai bagus di sekolah. Dengan sedikit konsentrasi di kelas sewaktu guru atau dosen menerangkan, sedikit mengulang di rumah pas akan ujian, aku bisa mendapatkan nilai yang cukup memuaskan. Anak-anak lain setengah mati belajar matematika, apalagi sewaktu bab identitas, aku malah heran kenapa mereka tidak bisa mengerjakan soal yang gampang tersebut. Soal kesulitan belajar baru ku rasakan sewaktu aku kuliah di arsitek, ada satu mata kuliah yang tidak ku kuasai walaupun aku sudah jungkir balik yi mata kuliah studio, pelajaran menggambar kreatif. Karena ini adalah jantungnya untuk jadi arsitek aku keluar dari fakultas teknik dan pindah ke fak. ekonomi. (Tidak semua orang bisa lulus sipenmaru dua kali kan, di universitas bergengsi dan fakultas yang tinggi saingannya pula). Di fakultas ini semua terasa  mudah. Nilaiku memang tidak A semua, tapi itu lebih karena sifatku yang agak angin-anginan. Kalau aku sedang kumat rajinnya IP ku bagus, tapi kalo kumat malasnya IP ku sedang-sedang saja. Tapi alhamdulillah tidak satu mata kuliahpun yang pernah ku ulang. Semalas-malasnya aku, aku masih bisa dapat C.

Setelah tamat kuliahpun aku tidak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pekerjaaan. Setelah itu aku juga diberi kemudahan untuk kuliah S2 di sebuah universitas negeri di Jakarta ini. Semuanya relatif mudah. Aku juga bisa memenuhi hobiku untuk  jalan-jalan ke luar negeri dengan gajiku yang kalau dihitung-hitung secara matematis cuma pas-pasan untuk hidup melajang di ibu kota yang serba mahal ini. Tapi ntah kenapa hobiku yang mahal itu tetap bisa ku jalani dan aku tetap bisa bayar zakat, berkorban, mengirim uang untuk orangtuaku, tetap bisa punya tabungan, bisa naik haji dan bisa beli rumah. Aneh kan? Itu semua karena mungkin takdir menetapkan kemudahan untukku rezeki dibidang materi. Tapi jangan tanya soal mencari pasangan jiwa, aku jungkir balik untuk mendapatkannya. Inilah kisah nyataku dalam berburu pasangan jiwaku.

SOUL MATE

Soul mate atau pasangan jiwa adalah sebuah sebutan yang lebih mendalam daripada sekedar jodoh atau suami atau istri. Untuk mencari jodoh atau suami atau istri sebenarnya relatif lebih mudah dibanding mencari pasangan jiwa. Aku yakin sekali setiap orang hanya mempunyai satu pasangan jiwa, hanya saja karena pasangan jiwa ini cuma satu, terkadang sulit menemukannya. Pasangan jiwa bagi pria itulah tulang rusuknya yang hilang. Dia harus menemukan tulang rusuknya itu, yang dekat dengan hatinya. Untuk mencari suami atau istri asal berani mengambil resiko hidup merana, minimal tak bahagia karena merasa terjebak dalam suatu ikatan atau risiko bercerai, anda bisa menikahi siapa saja yang juga punya prinsip dan tujuan yang sama dengan anda yi punya suami atau istri dan berkeluarga. Banyak orang yang menikah, tapi mungkin hanya segelintir orang yang betul-betul beruntung menemukan pasangan jiwanya dan berbahagia dalam pernikahannya. Banyak kepedihan dalam pernikahan di sekeliling kita. Banyak orang yang kelihatannya menikah tapi sebenarnya tak lebih hanya tinggal dalam satu atap, karena mempertahankan reputasi yang notabene hanyalah mempertahankan sehelai kertas yang secara hukum membuat mereka tinggal bersama. Atau banyak juga rumah tangga yang tetap bertahan walau tidak pantas lagi disebut sebuah rumah tangga, karena sendi-sendi tangga rumahnya yang sudah dimakan oleh rayap kedisharmonisan dengan alasan kebahagianan anak. Sungguh suatu pengorbanan yang maha berat, bertahan dalam kepedihan, dalam rumah tangga yang keropos. (Anda bisakan membayangkan hidup dalam rumah yang atap atau kusennya dimakan rayap?).  Hal ini lah yang terkadang membuatku takut menikah. Aku tidak mau kehilangan kebahagiaan hidupku gara-gara menikah. Aku maunya hidup berdua harus lebih baik daripada hidup sendiri. Dan selama aku melalui masa lajangku, aku cukup berbahagia. Paling tidak, aku tidak sengsara, tidak merana, tidak teraniaya dan tidak terjajah oleh siapapun. Kalau ku analisis dari sudut psikologis mungkin aku termasuk perempuan dengan ego yang tinggi. Dan aku yakin salah satu faktor yang menyebabkan perempuan terlambat menikah adalah ego yang tinggi. Menikah berarti bersedia menekan ego pribadi. Menikah berarti harus mau mengalah, malah bagi perempuan harus sangat banyak mengalah agar tidak menyinggung ego suami. Sungguh sangat berat menikah itu (Ya iyalah, makanya menikah itu setengah dari agama. Kalo ga berat masa Allah mau bilang ½ dari agama, naik haji aja rewardnya ga segitu-gitu amat).

Lantas kenapa akhirnya aku berani untuk menikah? Mungkin karena aku telah menemukan pasangan jiwaku. Tapi mungkin pertanyaan yang lebih tepat, mengapa walau ada rasa takut, tapi aku tetap berniat menikah? To tell u the truth aku baru benar-benar ingin menikah dan serius mencari jodoh pada saat usiaku menginjak sekitar 35 tahun (gw emang rada-rada telmi untuk hal satu ini. Orang lain waktu kuliah sudah punya pacar, tamat kuliah, kerja setahun lalu menikah. Ga usah mikir nikah, pacaran aja tak ada dalam benakku) Sebelum usia tersebut aku cuma bermain-main saja, asik dengan hobi jalan-jalanku (abis cita-citaku keliling dunia seh, bagiku menikah bukan cita-cita tapi sebuah kewajiban, semua orang wajib menikah). Banyak teman yang mengenalkan aku dengan pria lajang lain,  tapi semua lewat begitu saja. Tapi karena beberapa hal, akhirnya aku mulai serius memikirkan untuk menikah.

Ada banyak hal yang mendorongku untuk menikah. Salah satunya adalah sebagai seorang muslim menikah adalah wajib hukumnya, selama tidak ada cacat permanen yang menghalangi untuk menikah, misalnya kurang waras. Aku memang agak ”sinting” dalam berpikir, tapi belum termasuk kategori yang boleh tidak menikah. Aku juga tidak punya cacat fisik, malah sebenarnya aku lumayan berparas manis (hua..ha..ha..itu kataku, kalo  suamiku malah beranggapan aku cantik buanget..hua..ha..ha.. kata teman-temanku, suamiku perlu kacamata karena mungkin kurang jelas melihatku..hua..ha..ha…). Terus menurut hadits kalo orang tidak menikah berarti bukan umat Muhammad. Lah lantas kalau aku mati ntar mo ikutan nabi yang mana neh? Selain itu lagi-lagi menurut agamaku, anak perempuan yang belum menikah adalah utang ayahnya. Di akhirat kelak ayahnya akan ditanya mengenai kewajiban yang belum lunas ini. (Badung-badung gini, aku masih punya nurani, aku tak mau ayahku, ibuku gagal masuk surga gara-gara aku kan?). Trus seperti yang ku tulis di atas, menikah adalah ½ dari agama. Jadi walau aku rajin sholat, rajin puasa, rajin sedekah, sudah naik haji, itu semua belum tentu ½ dari agama yang ku jalani. Wong semua yang kulakukukan itu belum tentu sempurna, belum tentu juga diterima (tapi mudah-mudahan diterimalah ya. Kan harus berprasangka baek sama Gusti Allah). Itulah sebagian alasanku untuk tetap memelihara niat untuk menikah. Tapi itu semua tidak cukup untuk mengeksekusi niat tersebut. Niat kalau tidak dieksekusi sama saja bohong kan. Aku sih usaha, tapi usaha sekedarnya. Tujuannya satu, jaim (alias jaga image) di depan Allah. Pokoke Gusti Allah liat, aku tu usaha nyari jodoh, trus kalo ndak dapat, bukan karena aku ndak mau nikah, tapi karena takdir yang menetapkan begitu. (Kadang-kadang ku pikir aku ini emang agak sinting, di depan Allah ko mau main akal-akalan, mau sok jaim segala. Padahal Allah itu kan Maha Tahu akan apa yan disembunyikan dalam hati..)

Tapi mungkin pada dasarnya Allah amat sangat menyintaiku dan ingin agar aku benar-benar menjalankan ½ agama tersebut, pada saat usiaku mulai menginjak 35 tahun, banyak peristiwa yang membuat aku berusaha keras mengeksekusi niatku. Apa saja peristiwa itu? Peristiwa tersebut sangat menjengkelkan dan membuat hatiku panas. Melalui peristiwa-peristiwa tersebut seolah-olah dunia mentertawai kesendirianku. Peristiwa pertama dan merupakan peristiwa yang paling menjengkelkan adalah tukang bubur kacang ijo, kita sebut saja Burjo Gate. Burjo Gate dimulai pada suatu pagi, dimana aku membeli semangkuk bubur kacang ijo untuk sarapan pagiku. Setelah aku menyerahkan mangkuk, aku bermaksud ke dalam rumah untuk mengambil uang. Tiba-tiba tukang burjo bertanya: ”Mbak kapan merit?” Aku terperangah mendengarnya. Ku pikir aku salah dengar. Lantas aku balik bertanya ”Apa mas?”. Tukang burjo mengulangi pertannyaannya ”Kapan merit mbak?” . Kagetlah aku…Dalam hati…Apa urusan mas ini, aku mau nikah kek, enggak kek..Yang penting aku kan ga pernah ngutang beli burjo nya…Aku mangkel seharian karena pertanyaan ini. Ini peristiwa pertama dari serangkaian peristiwa menjengkelkan.

Peristiwa kedua adalah sewaktu diangkot yang ku naiki di Slipi Jaya. Aku mau wawancara di sebuah universitas. Ada laki-laki yang bertanya ”Mau ngajar ya mbak?” (kebetulan aku lagi baca buku). ”Ya mas” ku jawab. Trus dia nanya lagi ”Anaknya berapa mbak?”. Ku jawab: ”Belum punya anak mas”. Dia nanya lagi ”Udah merit mbak?” . Dengan jujur aku menggelengkan kepala. Tau ga reaksinya. Mas-mas itu langsung ngasi tau tempat kerjanya. Berulang-ulang pula. Trus nawarin aku datang ke tempat kerjanya. Ku pikir gila juga orang ini. Apa dijidatku ada tulisan sedang mencari jodoh gitu? Pernah lagi di bis Damri Airport, pulang dari Jogja. Kebetulan aku duduk bersebelahan dengan seorang pria. Lumayan cakep. Dia mengawali pembicaraan. Aku pada dasarnya memang senang ngobrol, jadi ya aku ngobrol aja. Dia cerita kalao dia ke jakarta mau melihat wanita yang dijodohkan untuknya. Alias mengunjungi calon istrinya. Trus dia nanya statusku lagi. Lagi-lagi dengan polos ku jawab bahwa aku belum menikah. Eh dia langsung ngajak kenalan dengan maksud mana tau jodoh..Gila kali ya kupikir. Dah tau mau melihat calon istri, di jalan masih ngelaba. Dunia memang sinting. Pantes aku jadi agak sinting juga.

Trus adalagi orang yang naksir aku dikomplekku. Orang ini adalah orang yang tak pernah ku duga, apalagi ku harapkan. Belum lagi ada istri ustad yang menanyakan aku melalui seorang tetangga mengenai apakah aku sudah punya pacar atau belum. Mungkin istri ustads punya stok untuk aku. Aku menghargai ”perhatian” tersebut. Tapi sekaligus membuatku mulai merasa amat tidak nyaman dengan statusku. Ternyata hidup baik-baik, menjaga tingkah laku, tidak mengganggu suami orang, tidak menjamin kita tidak akan jadi bahan pembicaraan para tetangga. Dalam hatiku, tukang bubur saja sampai bertanya seperti itu, pastilah tetangga-tetangga juga mikir yang sama. Cuma mereka lebih sopan aja, jadi ga langsung nanya ke aku. Ga tau dibelakangku. Atau jangan-jangan mereka cemas suami mereka tertarik padaku? (Hua..ha..ha… ge er kali aku). Akhirnya dengan kesadaran penuh dan memasang tekad kuat aku mulai hunting my soul mate.

HUNTING SOULMATE

Aku mau menikah. Aku hanya mau menikah sekali dalam seumur hidup dan ingin bahagia dalam pernikahanku. Untuk itu aku hanya mau menikah dengan pasangan jiwaku yang tentunya mengerti akan jiwaku dan akupun memahami jiwanya. Aku tidak mau menikah dengan sembarang lelaki hanya untuk merubah huruf n (dari Nn) menjadi y (jadi Ny). Bagiku pernikahan bukan sekedar ganti status atau meredam gosip. Terus terang memang  yang membuat tekadku menjadi kuat adalah tekanan sosial, tapi aku tidak mau jadi sial karena merasa tertekan dalam pernikahan. Dengan basmalah ku mulai perburuan ini.

Pada dasarnya ada beberapa alternatif media dan sarana untuk mencari jodoh. Bisa melalui karib kerabat, teman-teman, mengikuti biro jodoh, ikut klub hobi untuk memperluas kenalan, nongkrong di ruang publik atau melalui media teknologi alias internet. Dalam rangka ikhtiar aku melakukan dua hal yaitu minta bantuan teman-teman untuk dikenal-kenalkan dan pria yang punya niat sama dan melalui internet. Aku memilih kedua media itu karena merasa kedua media itu yang paling cocok dan aman untukku. Aku mengenakan jilbab, jadi aku merasa risi dan tidak nyaman kalau hanya duduk-duduk nongkrong di ruang publik tanpa tujuan. Mau ikutan klub, aku tidak punya hobi yang membutuhkan klub. Aku hobinya jalan-jalan, berkebun, baca buku, dengar musik, duet nyanyi keras-keras dengan penyanyi dikasetku dan ngeblog.  Semua hobiku tidak perlu ikutan klub khusus. Ga pake ikutan klub, hobiku tetap bisa jalan. Lagian aku orangnya juga suka malas bepergian kalau tidak penting-penting amat, kecuali jalan-jalan pelesir. Apalagi Jakarta macet begini. Mau ikutan biro jodoh konvensional apalagi. Males lah ikut pertemuan yang diatur begitu. Terus terpaksa ngobrol dengan banyak orang yang mungkin belum tentu cocok dan nyambung pembicaraannya dengan kita. Dah gitu bayar pula.

Banyak sekali teman-teman yang membantu, malah ada sahabat karibku yang beberapa kali yang mengenalkanku tapi gatot semua. Setiap orang bertanya ”kapan menikah”, aku selalu menjawab ”mbok ya ditolongin” atau ”punya stock ga?”. Aku menanggapi dengan santai saja dan tidak ragu minta dikenalkan. Ku pikir cuma kenalan saja, tak masalah kan. Toh tidak ada kewajiban untuk harus jadian. Ada kelebihan dikenalkan oleh teman atau saudara, kita bisa bertanya melalui pihak ke 3 mengenai orang tersebut. Cuma saja sayangnya seringkali matchmaker alias comblang kadang tidak terlalu memikirkan kesesuaian karakter kliennya. Mereka cuma berpikir bahwa dua orang ini punya niat yang sama, kita kenalkan lalu selanjutnya terserah anda. Ini mungkin yang membuat percomblangan oleh teman atau saudara gatot (ya iyalah, mereka kan bukan CPM alias Certified Professional Matchmaker).

Selain melalui teman aku juga ikhtiar melalui internet. Pada awalnya ini cuma pekerjaan iseng yang kulakukan. Aku cuma ingin menjajal berbagai situs pertemanan, mencari teman chatting untuk ngobrol malam hari sekaligus mengasah kecakapan berbahasa Inggris. Apalagi internet waktu itu barang baru bagiku. Semua fitur ingin ku coba. Aku pasang yahoo messenger, aku ingin tau cara kerjanya. Berarti harus punya kenalan dong. Ya kenalan aja sama siapa aja di dunia maya. Tapi ternyata dunia ini jugalah yang mempertemukanku dengan soul mate ku itu.

Ada banyak situs jodoh di dunia maya, dari yang berbahasa Indonesia sampai berbahasa Inggris. Aku mengikuti kira-kira 3-4 siitus jodoh. Satu yang berbasis di Singapura, satu yang Arab, satu India, satu lagi aku kurang tau basis situs tersebut, karena beragam suku bangsa ada disitu. Dari berbagai situs tersebut aku banyak mendapat teman. Dari yang berprofesi dokter, pekerja sosial, dosen, insinyur. Dari hasil pengelanaanku di dunia maya tersebut, ternyata banyak para lonelyner di muka bumi ini yang sedang mencari pasangan hidup. Disinilah kelebihan teknologi internet. Anda bisa menemui dan berkenalan dengan segala suku bangsa. Jika anda tidak terlalu banyak persyaratan dan berani ambil resiko, kemungkinan akan berhasil mendapat pasangan hidup melalui internet sangatlah besar. Aku sudah membuktikan sendiri. Teknologi internet tergolong cukup aman untuk mencari jodoh asal dipergunakan dengan waras dan bijaksana. Melalui teknologi ini pilihan sangat banyak, dan jika anda tidak suka dengan teman maya anda, anda bisa missing in action. Sebagai perkenalan awal, anda juga tidak perlu bertemu secara fisik, anda bisa mempergunakan semua teknologi yang ada untuk menjajal kesesuaian  karakter target anda. Anda bisa menggunakan fasilitas chatting, web cam, e-mail, hand phone untuk bercakap-cakap. Dari percakapan yang intens biasanya kita bisa menilai kejujuran, kebaikan bahkan kadar intelektual seseorang. Banyak orang aneh dan punya niat aneh di dunia maya. Tutur kata, pilihan kata, konsistensi percakapan  harus diperhatikan.. Tutur kata, pilihan kata, dan isi percakapan menunjukkan kadar kesopanan dan intelektual target anda. Konsistensi cerita menunjukkan kejujuran hati. Wajah bisa menipu tapi tulisan tidak mampu menipu. Tapi tentu saja anda harus punya sense dalam menilai tulisan seseorang. Tapi saya punya keyakinan bahwa manusia dilengkapi dengan radar sensor untuk menilai hati seseorang. Setiap orang memancarkan aura. Aura itu bisa baik, bisa buruk. Aura itu juga terpancar melalui media teknologi. Aktifkan sensor aura anda.

Dari sekian orang yang ku kenal, ada beberapa orang yang berniat serius denganku. Pertamakali dari situs yang berbasis di Singapur. Aku berkenalan dengan orang berkebangsaan Norwegia asal Irak. Pria yang berprofesi sebagai dosen musik disebuah universitas Norwegia ini lumayan cakep (Arab bo) dan satu agama denganku (satu agama adalah syarat mutlak bagiku). Dari e-mail2an hubungan ini berlanjut lewat telpon dan sms. Aku merasa senang menjalaninya. Karena ku pikir akhirnya aku punya somebody in my life. Setelah berjalan cukup serius, aku menceritakannya kepada ibuku. Ku pikir ibuku akan turut berbahagia mendengar anaknya sudah punya calon, ternyata tau kah apa yang terjadi? Esok hari setelah aku menelpon ibuku di Pekanbaru mengenai kabar gembira (menurutku), aku dapat sms dari kakakku yang mengabarkan ibuku jatuh sakit. Usut punya usut ternyata ibuku tak sudi bermenantukan orang asing. Dia tak ikhlas aku pergi keluar Indonesia. Kalaupun aku mau tinggal di luar negeri boleh, dengan alasan melanjutkan studi atau mengikuti suami yang notabene harus produk lokal. Ibuku ternyata sangat cinta produk lokal. Akhirnya dengan sangat terpaksa ku putuskan saja untuk mengakhiri hubungan ini. Aku tidak mungkin berbahagia tanpa restu ibuku. Tapi ku pikir2 tetap ada hikmahnya kejadian ini. Kalau aku jadi menikah dengan orang Norwegia itu, belum tentu juga aku bahagia. Wong Norwegia itu dingin sekali kan, aku di Bandung saja bersin-bersin melulu. Selain itu, bahasa inggris orang itu tidak terlalu lancar, tulisan di e-mailnya saja suka salah-salah, berhubung masih tulisan, aku masih paham. Yang susah pas di nelpon, kadang aku ga mudeng apa yang dia bicarakan. Gimana mau cocok, bicara aja sering ga nyambung, lama-lama ntar bis korsleting kan.

Walau gagal, aku tetap optimis. Aku lalu buka account baru disitus

India

dan Arab. Kenapa aku buka disini, pertimbangannya disini banyak muslimnya. Aku berharap ada melayu juga disini. Tapi ternyata banyakan turunan

India

,

Pakistan

,

Bangladesh

, trus timur tengah.

Ada

juga muslim dari eropa tapi kulit hitam. Beberapa ada yang serius. Tadinya e-mail mereka ku layani, dengan niat berteman dan latihan mengarang dalam bahasa Inggris. Tapi jika ada yang serius dan ngajak menikah aku langsung missing in action. Aku takut la…nanti ibuku jatuh pingsan lagi. Pokoke perburuan jalan terus walau belum bertemu makhluk made in

Indonesia

. Jadi persyaratan mutlakku bertambah sekarang selain muslim, mutlak produk local.

Akhirnya tiada usaha yang sia-sia. Seperti dalam Ar Ra’du 11, yang bisa merubah nasib kita sendiri adalah kita sendiri. Yang penting usaha. Akhirnya ada juga produk lokal yang mengajakku berkenalan, ini dari situs yang ku bilang anggotanya dari seluruh penjuru dunia. Situs ini juga yang paling banyak anggota dari Indonesia. Pria ini cukup oke, lulusan ITB dan S2 di Amrik. Akhirnya setelah e-mail2an beberapa kali, pria ini ngajak copy darat. (Ini bukan copy darat yang pertama bagiku, aku pernah copy darat dengan seorang pria dari Dubai. Tapi tidak ada yang menarik untuk diceritakan). Ajakan itu ku sambut dengan baik. Tapi ternyata blind date alias kencan buta ini bukan hal yang mudah untuk ku jalani. Kenapa? Ceritanya beberapa hari sebelum aku melakukan pertemuan, sewaktu aku pulang kerja naik angkot, aku mendengarkan percakapan dua orang gadis remaja. Gadis itu bercerita bahwa temannya ada yang tertipu, dimana telpon selularnya dibawa kabur sewaktu copy darat dengan teman chatting. Lantas gadis tersebut berkomentar, ”lagian ngapain sih chating2 segala, yang kita kenal aja kan juga banyak”. Dalam hati aku berkata, ”Lah itu kan kerjaan gw. Chatting kalo malam lagi ga ada kerjaan”. Trus sebelum pertemuan itu aku juga membaca sebuah artikel berjudul ”Seorang wanita tewas, dibunuh oleh kenalan chatting”. Hatiku berkata ”Matilah gw. Gw besok Sabtu kan mau copy darat neh. Gimana kalo nasib gw naas seperti itu?”. Akhirnya tau tidak apa yang ku lakukan sewaktu akan melakukan pertemuan itu? Tadinya aku tidak mau memberi tahukan siapapun mengenai blind date ini. Ku pikir orang lain tak perlu tau urusanku. Akhirnya gara-gara gadis di angkot dan artikel tersebut, aku menulis sms pada seorang sahabat. Isinya kira-kira begini; ”Mba, hari ini aku mau kencan dengan orang bernama X, di tempat CJ, jam 12 siang. Orang ini bekerja disini, no Hpnya ini. Jika dalam 1×24 jam, mba tidak mendengar kabar dariku, tolong telpon polisi. Makasi ya. Wish me luck”. Temanku juga menjawab dengan serius dan mengiringiku dengan seribu nasehat uintuk kencan pertama, tak lupa komat-kamit berdoa. Aku ingat, sahabatku itu sedang dalam perjalanan Bandung-Jakarta, selama di mobil dia komat-kamit mendoakanku, sampai suaminya bingung dan bertanya ”Kamu lagi ngapain sih?”. Tapi temanku tidak bercerita kepada suaminya tentang perburuanku itu.

Alhamdulillah ternyata pria yang ku temui ini adalah pria yang sopan dan baik. Aku bisa merasakannya sewaktu mulai berinteraksi. Kami bisa bercakap-cakap dan cukup nyambung. Tapi ternyata hubungan ini tidak dapat berlanjut karena ternyata setelah 3 bulan berinteraksi ada persyaratannya yang tidak dapat ku penuhi. Aku berpendapat, mencari pasangan hidup, tidak ubahnya mencari orang yang akan bekerja dengan kita. Maksudnya orang yang akan bekerjasama dalam membangun kehidupan dimasa datang. Untuk dapat bekerja sama tentu saja kedua belah pihak mempunyai beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh orang yang akan bekerjasama dengannya. Aku dan temanku itu sama-sama melakukan dealing layaknya orang yang akan melakukan kontrak bisnis. Melalui e-mail, aku dan dia menceritakan harapan terhadap pasangan dan model rumah tangga yang akan dibangun.Selama menjalani penjajakan kami berdua berusaha saling mencari tau dan mengenal satu sama lain. Dan ternyata kesimpulannya aku harus mengundurkan diri dan membatalkan penandatangan kontrak pernikahan dengannya. Tapi karena diawal perkenalan kami sudah sepakat bahwa apapun yang terjadi harus tetap ”no hurt feeling”, maka walau tak berhasil sampai tahap penandatanganan kontrak, aku masih berteman dengannya.

Walau aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini, aku tidak merasakan perasaan down yang amat sangat dalam hatiku, tidak sampai remuk redam seperti dalam novel-novel roman. Aku adalah orang yang sangat menjaga hati. Ku pikir, hatiku cuma satu, dan hanya akan kuserahkan seutuhnya kepada yang berhak dan sudah menandatangani kontrak dengan ku. Kalau masih dalam tahap proposal, cukuplah sampai taraf suka saja. Jangan sampai jatuh hati. Namanya juga jatuh, berarti ada risiko terluka karena jatuh ditempat yang tidak pas. Makanya berusahalah jatuh ditempat yang empuk agar bukan saja tidak terluka tapi juga merasa nyaman. Dan karena aku juga berniat serius untuk menikah, aku menjalani hubungan dengan cepat. Aku tidak mau berlama-lama dengan orang yang tidak serius atau orang yang aku tidak merasa cocok dengannya. Aku tidak mau membuang-buang waktuku.

Setelah putus dengan temanku itu, aku bermaksud ingin cooling down dulu. Kebetulan sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan 1428 H. Lalu aku mulai rajin menulis, mengisi blog ku di friendster. Hobi menulis ini membuat aku tidak chatting lagi. Ku pikir chatting sudah tidak menarik lagi dan menghabiskan pulsa telponku saja. Lebih baik menulis saja. Lalu aku juga jedda sebentar di situs perjodohan. Ku pikir aku baru akan mulai hunting lagi setelah lebaran berakhir. Aku ingin mengisi Ramadhan ini dengan hal-hal yang bermanfaat saja. Ceritanya aku mau memperbaiki diri. Tetapi Allah ternyata berkehendak lain. Allah menampakkan kuasanya atas makhluknya. Allah menjawab do’a-do’aku selama ini. Ku pikir-pikir sebenarnya Allah sangat sayang kepadaku, setiap doaku selalu dikabulkan. Doa minta jodoh sebenarnya juga dijawab sama Allah. Buktinya cukup banyak (walau ndak banyak kalee, kesannya gimana gitu loh) pria yang berminat kepadaku. Cuma bubar ditengah jalan. Dan itu biasanya karena ulahku. Jadi terkadang ada rasa takut dalam  hatiku jangan sampai Allah marah padaku karena aku banyak cincong dalam memilih jodoh. Ternyata Allah paham akan makhluknya yang satu ini. Aku masih diberi kesempatan untuk berkenalan lagi.

Ceritanya pada pertengahan puasa, tepatnya tanggal 23 September 2007 datanglah sebuah e-mail dari seorang pria mengajak berkenalan. Pria tersebut berkata bahwa dia tertarik dengan tulisan-tulisan yang ada di blogku. Lalu dia juga memberi komentar pada setiap artikel yang ku tulis. Aku merasa senang karenanya. Bukan apa-apa, aku hanya merasa senang karena ada orang yang mengapresiasi tulisan, yang ku pikir tidak ada yang membacanya selain teman-teman yang sudah mengenalku dengan baik. Sebelumnya hanya dua orang yang rajin berkomentar mengenai tulisanku yaitu seorang sahabat yg sedang kuliah di Jepang dan suami dari sahabatku. Tak pernah ada orang lain. Orang ini datang begitu saja. Beliau berprofesi sebagai editor dan aktifis lingkungan. Dari komentar-komentarnya di blogku, aku bisa meraba bahwa bapak ini cerdas dan banyak pengalaman. Aku merasa senang berkenalan dengan orang yang pintar dan merasa ada teman yang bisa ku ajak bercakap-cakap (yang lebih bermutu gitu maksudnya). Tetapi aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan bapak ini. Anehnya apa? Masa mengirim e-mail bisa 3x dalam 1  hari. Kaya minum obat saja. Feelingku walau bapak ini menulis dengan bahasa yang sopan dan teratur, pasti dia punya maksud lain kepadaku. Malah dalam salah satu e-mailnya dia mengatakan dia “menyelidiki” aku. Ku jawab saja e-mailnya bahwa aku adalah orang baik-baik, tidak pernah terlibat narkoba, sex bebas apalagi trafficking. Dan aku memberikan jaminan  bahwa berteman dengan ku 300% aman. Terus walau aku tidak membalas e-mailnya dia terus mengirim e-mail kepadaku. Lazimnya kan orang nunggu balasan dulu, baru nulis e-mail lagikan?  (Ternyata setelah copy darat aku baru tau, kalau bapak ini stress jika e-mailnya dalam sehari tak ku jawab).

Singkat cerita, kami bertukar cerita melalui e-mail di friendster dan Ramadhanpun hampir berakhir. Saatnya aku pulang kampung. Agar fansku ini tidak kecewa, aku lalu memberi tahukan bahwa aku akan pulang kampung untuk beberapa saat lamanya, oleh karena itu aku tidak akan membalas e-mail2nya, sampai liburan berakhir. Lantas dia bertanya melalui e-mail bagaimana cara agar bisa tetap berhubungan denganku. Aku bilang paling hanya melalui HP. Lalu beliau langsung memberikan semua no telponnya yang bisa ku hubungi, dari telpon rumah, HP, dan telpon kantornya, dengan harapan aku akan memberikan no HP ku. Sampai 2x ditulis e-mail yang menyertakan no telpon. Tapi e-mail ini tidak langsung ku respon dengan memberi no HP ku. Aku hanya membalas e-mail dengan cerita saja. Aku merasa bahwa jika aku memberikan no HP ku, pasti aku akan ditelpon terus2an. Wong e-mail aja bisa 3x sehari. Sebelum memberikan no HP, aku merasa perlu berdiskusi dengan sahabatku. Kebetulan 2 hari sebelum aku pulang ke Pekanbaru, aku ada rapat dengan sahabatku. Lalu aku menceritakan soal e-mail2 bapak ini, dan permintaan beliau akan no HP ku. Lalu temanku dengan suaminya bilang: “Ayo kita check dulu profilnya”. Lantas di rumah sahabatku itu kami bertiga membuka profil bapak ini. Setelah membaca dan melihat-lihat foto sahabat mayaku itu, suami temanku berkata, “He’s ok, he looks smart”. Kata-kata dukungan moril inilah yang membuat jalan hidupku berubah. Sebelum aku pulang, sahabatku juga berkata ”Sudahlah, kasi aja no HP elu. Apa lagi sih? Jangan terlalu banyak cincong lah. Ga ada orang yang sempurna. Emang elu sempurna apa?”. Perkataan ini menyadarkan aku, kenapa tidak dicoba?. Akhirnya pada malam hari menjelang aku take off ke Pekanbaru, aku membalas e-mail dan memberikan no HP ku. Ternyata dugaanku mengenai akan ditelpon terus menerus, tidak meleset. Pagi hari di bandara adalah telpon pertama dan besok-besoknya HP ku selalu berdering dari orang yang sama. Belum lagi sms. Sampai ponakan-ponakan yang di Pekanbaru terheran-heran. Tapi karena beliau rajin menelpon, pada saat aku bertemu alias copy darat aku merasa seperti sudah mengenal lama. Pada awal-awal percakapan via telpon, bapak ini selalu memulai percakapan mengenai pekerjaan. Aku malah sempat kesenangan tadinya, ku pikir aku akan dapat proyek. Pada salah satu e-mailku, aku pernah mengatakan bahwa selain menjadi pendidik aku juga bekerja sebagai konsultan. Bapak tersebut bertanya mengenai fee seorang konsultan dan sempat bertanya-tanya mengenai masalah teknologi informasi dan manajemen keuangan padaku. Dalam hatiku, lumayan juga neh dapat proyek ntar setelah lebaran. Ternyata…..

Pertama kali aku bertemu dengannya di bandara Soekarno Hatta pada hari Sabtu, 20 Oktober 2007. Teman mayaku itu menjemput kedatanganku kembali ke ibukota. Sewaktu turun dari pesawat, jantungku berdebar-debar, tapi aku berusaha menenangkan diri. Aku anggap aku akan bertemu dengan seorang klien saja. Pada saat aku keluar bandara sambil mendorogn trolly, aku sempat clingak clinguk mencari temanku itu. Aku sudah melihat fotonya di friendster dan berusaha mencari orang yang mirip dengan foto tersebut. Ternyata orang itu ada di mulut koridor jalan keluar. Dia memakai topi, baju kaus dan sandal. Terlihat tampil seadanya. Aku agak kaget juga. Ni orang cuek banget ya, hatiku berkata. Biasanya kan pada pertemuan pertama orang berusaha tampil mengesankan. Tapi ini orang tampil apa adanya banget yach. Tau gitu gw pake baju kaos n celana jin and amburadul juga ya. Ada sedikit protes dalam hatiku. Jangan-jangan dia mau ngetes gw lagi. Awas ya dalam hatiku, emang lu doang yg bisa ngetes, gw juga jago ngetes orang. Gw kan dosen, menguji adalah makanan gw sehari-hari. Tapi disatu sisi, nurani ku berkata, “Don’t judge the book by its cover”. Mana tau covernya doang yang amburadul tapi isinya bermutu. Akhirnya aku berusaha menetralisir hatiku dan tetap bersikap hangat. Lalu kami makan siang bersama dan bercakap-cakap. Sewaktu pertemuanku dulu dengan teman terdahulu, aku berusaha jaim dan jaga sikap. Sekarang karena ku lihat orang ini tampil cuek, akupun ngomongnya cuek juga. Akupun tampil sebagaimana biasanya aku berperilaku. Dalam hatiku bodo amat dia mau suka atau enggak ama gw. Kalopun dia ga jadi nganter gw pulang, gw berani inilah pulang sendiri. Ternyata hal tersebut tidak terjadi. Bapak ini lalu mengajak aku ke kantornya. Mengapa? Karena sesuai dengan kesepakatan via telpon, aku mau berteman lebih jauh jika aku mengetahui dengan persis siapa dia, bekerja dimana, dan status perkawinannya bagaimana. Jika hanya teman maya, aku tidak akan menyelidiki terlalu jauh. Begitu juga jika hanya menjadi klien. Hal-hal tersebut tidak akan aku usut. Tapi berhubung bapak ini memintaku untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya aku harus tau persis siapa dia. Gila apa asal nikah aja. Jadi di kantornya, bapak itu memperlihatkan dokumen-dokumen penting yang harus ku ketahui. Validasi tahap pertama dilewati dengan baik. Terus terang aku menggunakan teknik audit untuk meyakinkan diriku. Aku melakukan verifikasi dokumen, menyelidiki fakta lapangan serta melakukan konfirmasi pada pihak ke 3…Auditor kaleee ya..Aku akhirnya diantar pulang ke limus setelah melakukan verifikasi mayor atas status pernikahan dan pekerjaaan serta dokumen mengenai anak kandungnya. Walaupun bapak ini sudah susah-susah menjemputku di bandara dan mengantarkan ku ke Cilengsi, setiba di rumah aku tidak mempersilakan masuk. Tepatnya aku melarangnya masuk. Didalam perjalanan aku sudah mengatakan ”Maaf ya, aku belum bisa mengajak masuk ke rumahku hari ini. Maybe some other time”. Lantas dia jawab ”Mudah-mudahan tidak dalam waktu yang terlalu lama”. Aku hanya tersenyum. Aku mempunyai alasan untuk tidak mempersilakan dia masuk, pertama rumahku kotor setelah dua minggu ditinggal dan alasan utama adalah orang ini baru saja ku kenal.

Sebenarnya aku mengajukan dua persyaratan agar proposal bapak tersebut dapat ku terima. Pertama orang tuaku harus setuju dengan bapak tersebut, dan yang kedua, anak bapak tersebut harus setuju dengan aku dan ikhlas ayahnya menikahiku. Salah satu syarat tidak terpenuhi maka proposal dianggap gagal. Bapak ini setuju. Persyaratan pertama sudah dipenuhi, dia sudah memintaku pada ibuku via telpon sewaktu aku masih di Pekanbaru dan ibuku sudah setuju. Tinggal persyaratan kedua. Untuk persyaratan kedua ini, aku melakukan pengechekan independen. Aku melakukan pertemuan dengan anak tertua beliau tanpa sepengetahuan beliau. Kebetulan beliau telah memberikan no Hpnya pada ku. Pada hari Selasa, 23 Oktober aku sms saja anaknya dan mengajak bertemu di Plaza Semanggi dan sepakat bertemu pada hari Kamis sore, tanggal 25 Oktober 2007. Sebelumnya foto anak beliau sudah dipasang di friendster, jadi sewaktu bertemu di Plangi aku langsung mengenalnya. Pertama kali bertemu di Centro, anak bapak tersebut mencium tanganku. Anaknya berjilbab, cantik dan terkesan sopan. Ku pikir kalo anaknya baik, tentu ayahnya juga baik. Seperti kata pepatah, buah tidak akan jauh-jauh jatuhnya dari pohonnya. Lalu aku mengajak, sebut saja Leyla, untuk makan sore di Platinum. Kami lalu berbincang-bincang. Perbincangan berjalan dengan sangat lancar. Leyla anak yang menyenangkan diajak ngobrol dan akupun memperlakukannya sebagai temanku.  Pada pertemuan itu kami berusaha untuk saling mengenal. Leyla bertanya dimana aku bertemu dengan papanya. Aku menceritakan apa adanya saja. Dia heran juga bapaknya maen di friendster. Soalnya friendster itukan tempat gaulnya anak-anak seusia Leyla. Leyla sudah kuliah semester 3. Ternyata punya ayah gaul dan bakal punya step mom yang gaul juga. Dia kira aku adalah teman kantor ayahnya atau dikenalkan oleh teman kantor ayahnya.

Lalu aku juga menceritakan persyaratanku kepada Leyla. Aku hanya akan menikah dengan ayahnya jika dia setuju. Jika dia tidak setuju aku akan menghilang dari kehidupan ayahnya. Aku tidak mau dia bersedih gara-gara aku. Aku juga meminta dia untuk menjawab sejujur-jujurnya. Dan aku bilang tidak usah takut pada ayahnya. Jika Leyla tidak setuju, saya sendiri yang akan mengatakan pada ayah Leyla. Begitu kataku. Leyla menjawab bahwa persoalan ini sangat berat baginya, walau dia tau hal ini mungkin baik bagi dirinya. Dia juga berkata perasaan beratnya sama beratnya dengan sewaktu dia akan mulai masuk asrama Gontor. Aku menjawab bahwa aku paham sekali dengan apa yang dia rasakan. Ku bilang, bahwa hal ini juga sama beratnya bagiku. Tak pernah terbayangkan dalam hidupku bahwa suatu hari aku akan menjadi seorang step mom, dan dari dua anak yang sudah cukup dewasa pula. Dan aku juga mengatakan bahwa aku menawarkan sebuah persahabatan dengannya. Hanya itu yang bisa ku tawarkan. Aku juga berkata bahwa aku tidak menawarkan menjadi ibunya, karena pertama aku bukan ibunya dan kedua aku tidak berpengalaman menjadi seorang ibu. Tapi kalau menjadi seorang teman, aku bisa, karena aku berpengalaman dan punya banyak teman. Leyla terdiam sejenak, kemudian dia berkata; ”Apa Leyla setuju saja tante?”. Ku jawab: ”Tidak perlu menjawab sekarang, Leyla pikir saja dahulu. Kalo sudah mantap baru menjawab. Nanti kita akan bertemu lagi pada hari Sabtu tgl 27 Oktober di Cibubur Junction dengan papa Leyla.” Trus aku juga mengajak Leyla berkolaborasi ”ngerjain” ayahnya. Ku bilang sama dia jangan pernah bercerita pada ayahnya bahwa sudah pernah bertemu denganku. Dan nanti di depan ayahnya, ku minta Leyla berpura-pura tidak menyukaiku. Eh Leyla mau. Dalam hatiku, kalau sudah mau diajak ngerjain ayahnya, pasti juga mau jadi my step daughter neh. Sewaktu aku mau sholat magrib, Leylapun menawarkan untuk menemaniku, padahal aku telah memintanya untuk pulang duluan karena dia sedang tidak sholat. Hatiku berkata: “dapet neh anaknya, tak perlu pengakuan verbal lagi”.  Pada saat di halte bis, aku berkata kepada Leyla: “Ley, apapun yang terjadi diantara kita, walaupun tante tidak jadi menikah dengan ayah Leyla, kita tetap berteman ya”. Leyla hanya mengangguk. Lalu kami pulang, Leyla ikut taxiku sampai pancoran dengan tak lupa bilang “terimakasih tante” dan mencium tanganku lagi. Aku meneruskan perjalananku ke green castle.

Pada hari sabtu tanggal 27 Oktober, aku dan teman mayaku itu janjian bertemu kembali di Cibubur Junction. Aku lebih dahulu tiba di mal dan menunggu mereka berdua di toko buku. Tak lama kemudian temanku datang. Penampilannya pada hari tersebut sudah sangat jauh lumayan dibanding waktu di bandara. Dalam hatiku aku berkata: “lumayanlah, paling ga, ga malu2in diajak kondangan”. Tapi aku heran kenapa dia sendirian? Ternyata Leyla sudah menunggu di restoran. Sewaktu mendekati restoran, aku bertanya “Yang mana Leyla?”. Lalu temanku itu menunjuk gadis berjilbab yang sedang meneliti menu restoran. Aku nyengir dalam hati…Gw kan dah kenal ama anak elu. Gotcha..Sandiwara terus berlangsung. Aku lalu menyalami Leyla dan menyebutkan namaku, demikian juga Leyla. Kami berlagak seperti baru pertama kali bertemu. Kami lalu memesan makanan dan makan. Leyla melaksanakan tugasnya dengan baik. Selama makan bertiga, aku dicuekin abis. Dia hanya bercakap-cakap dengan ayahnya dan hanya menjawab pertanyaanku secara singkat. Aku pun berakting seolah-olah berusaha keras agar bisa menjalin percakapan dengan Leyla. Ku pikir kami berdua berhak masuk nominasi Panasonic Award sebagai pendatang baru berbakat. Hua..ha..ha.. Setelah makanan habis kami santap, temanku berkata, “Saya tinggal dulu ya, biar bercakap-cakapnya lebih leluasa”. Setelah temanku itu pergi, kita berdua langsung tertawa. Lalu kami ngobrol-ngobrol santai saja berdua. Setengah jam kemudian, temanku itu menelponku menanyakan keadaan kami berdua. Aku berkata “Susah nih, aku dah tau jawabannya, kesini aja deh”. Lalu temanku itu nongol, aku langsung duduk menjauh dari Leyla dan pasang muka datar. Temanku lalu mengajakku agak menjauh dan berbicara empat mata. Aku pamit sebentar pada Leyla dan berkata “Sebentar ya Le, tante mau bicara dulu dengan ayah Leyla”. Leyla hanya mengangguk. Lalu kami berbicara sambil berdiri. Aku berkata: “Kayanya susah masuknya nih. Kayanya Leyla tidak suka dengan aku. Aku kesulitan berbicara dengan dia. Tiap kali aku nanya, dia jawabnya singkat-singkat saja”. Terus temanku menjawab:” Mungkin karena baru pertama kali ya..Mungkin kita harus sering bertemu”. Aku langsung menyangkal “Bukan itu masalahnya. Dia memang tidak suka dengan aku. Selama ini aku tidak pernah mengalami kesulitan mengajak orang berbicara. Ketemu di bis aja, orang bisa ngobrol panjang lebar padaku. Orang yang ga ku kenal, biasanya langsung suka padaku”. Temanku menjawab: “ Itukan orang di bis, tidak ada konsekuensinya. Kalau ini kan beda”. Ku balas “Ga lah. Aku yakin Leyla tidak menyukaiku. Jadi sesuai dengan kesepakatan awal, kita jadi teman biasa aja ya. Dan aku akan menghilang dari kehidupanmu. Aku tidak mau membuat orang sedih gara-gara aku. Aku mohon maaf jika pernah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan”. Lalu aku mengulurkan tanganku untuk berjabatan tangan. Untuk sepersekian detik, paras temanku terlihat agak pucat dengan statementku dan tidak menyambut uluran tanganku.Tapi dia sepertinya adalah orang yang bisa mengendalikan emosi, sesaat kemudian, mukanya terlihat biasa dan berkata  “Kok jadi putus asa begitu?”. Kubilang “Aku tidak putus asa. Ini soal kesepakatan awal. Jika Leyla tidak setuju, kita juga ga jadi”. Tampaknya temanku ini orang yang gigih dan tak mempan digertak, dia langsung saja berkata “Kalo begitu langsung kita tanyakan saja pada Leyla, dan kita dengar bersama jawabannya”. “Oke, ayo kita dengar bersama kalau tidak percaya denganku” kataku. Lalu kita kembali ke restoran, temanku membayar tagihan dan aku duduk kembali di sebelah Leyla. Aku menceritakan kejadian tadi dengan Leyla. Pada saat ayahnya kembali, kami diam lagi. Lantas kami bertiga beranjak dari restoran tersebut.

Ternyata Leyla tak kuat lama-lama bersandiwara, padahal aku berkata, kita akan menahan diri sampai seminggu. Jadi baru minggu depan mengatakan pada papanya bahwa kita sudah pernah bertemu sebelumnya. Tapi Leyla tak tega meliat air muka ayahnya yang keruh. Jadi sewaktu ayahnya bertanya: “Gimana Le?”  Leyla langsung tertawa terbahak-bahak sambil berkata bahwa sebelumnya kami sudah pernah bertemu. Ayah Leyla bingung. Lantas Leyla menceritakan bahwa pada hari Kamis, 2 hari yang lalu kami sudah bertemu di plaza Semanggi. Langsung ayahnya berkata “Dasar bandit dua orang ini”. Kita bertiga lalu tertawa bersama. Setelah itu temanku itu bertanya lagi pada Leyla “Jdi gimana Le, papa boleh menikah dengan tante Hessy?” Leyla menjawab, “Terserah papa saja”. “Jangan terserah dong” kata temanku. “Ya boleh” Kata leyla. Persyaratan kedua terpenuhi. Selanjutnya aku masih melakukan beberapa verifikasi minor. (Verifikasi mayor adalah status pernikahan, anak dan pekerjaan).

Verifikasi minor adalah mengenal saudara-saudaranya dan teman-temannya. Aku selalu berusaha bersikap imbang terhadap setiap orang. Kalau aku ingin mengenal saudara-saudaranya, tentunya dia pun ingin mengenal saudara-saudaraku. Kebetulan pada tanggal 3 November 2007, adikku yang tinggal di pasar minggu mengundang aku bersaudara untuk acara halal bi halal. Lantas aku bercerita mengenai temanku itu. Adikku menyarankan untuk memperkenalkan temanku pada acara halal bi halal tersebut biar praktis dan langsung bertemu dengan semua saudara kandungku yang ada di Jakarta. Singkat kata aku memperkenalkan saudara-saudaraku pada acara tersebut. Pada hari Kamis, 8 November aku dan keluargaku yang gantian mengunjungi keluarganya di Depok. Setelah semua verifikasi dilakukan akhirnya pada tanggal 21 November orangtuaku datang ke Jakarta. Malamnya temanku langsung menemui orangtuaku dan mengatakan niatnya, memintaku secara langsung kepada ayahku. Ayahku menerimanya. Malam itu aku pun diantar pulang ke limus. Setiba di depan rumahku, temanku itu berkata dengan wajah memohon ”Boleh tidak aku masuk ke rumahmu? Sebentaaaaaaaaaar saja. Kalau tidak boleh, paling tidak masuk ke dalam halaman dan melihat tamannya saja. Ya itu juga kalau diijinkan. Kalau tidak, ya tidak apa-apa” Aku tertawa terbahak-bahak mendengar permohonan yang disertai wajah memelas itu. Ku jawab, ”Ha..ha..ha… ya boleh tapi ga boleh lama-lama, hanya sebatas secangkir kopi. Jika kopinya habis, harus pulang”. Dia tertawa senang ”Ya nanti ngabisin kopinya yang lama aja”. Ha..ha..ha.. kami tertawa bersama. Tapi temanku ini cukup tau diri, dia tidak lama di rumahku dan setelah kopinya habis, dia pamit. Aku memang sedikit agak keras soal aturan laki-laki masuk ke rumahku. Masalahnya aku tinggal sendiri dan mengenakan jilbab. Aku tidak mau tetangga menggunjingkan aku, karena ada lelaki yang bukan muhrim masuk ke rumahku. Aku sangat menjaga sikapku agar tidak menjadi bahan gunjingan orang. Kasihan orang berdosa gara-gara aku.

Singkat cerita setelah itu aku dilamar secara resmi pada tanggal 1 Desember 2007 di Depok. Ada cerita lucu juga pada peristiwa lamaran ini. Malam hari sebelum acara, temanku menelponku, bertanya mengenai acara lamaran. Aku bilang acaranya sederhana saja. Dia juga bertanya pakai baju apa, iparku nyeletuk  “Pakai batik”. (aku berbicara via HP dan menggunakan speaker). Lalu paginya, dia menelpon lagi menanyakan hal yang sama dan memastikan bahwa acaranya tidak akan memakai adat segala. Ku bilang “Tidak. Acaranya santai saja, tidak akan ada pepatah, petitih dari ninik mamakku. Masalahnya juga ga ada yang bisa.”.. “Syukurlah kalau demikian” katanya. Tapi tahukah apa yang terjadi pada saat keluarga mereka datang? Aku yang melihat dari dalam kamar kaget setengah mati. Onde mande, temanku itu datang dengan baju biasa dan bercelana jeans. Padahal aku memakai baju kurung melayu dan dandan abis. Begitu juga dengan keluargaku memakai baju setengah resmi. Keluarga dia, yang tua-tua memakai baju batik dan setengah resmi sih, cuma dianya kenapa pakai jeans, belel pula? Untung saja insiden kecil ini tidak berpengaruh pada jalannya acara. Ternyata usut punya usut dia sebenarnya membawa 2 buah baju batik dalam mobilnya, tapi karena aku mengatakan bahwa ini acaranya santai saja, dia tidak jadi memakai batiknya. Setelah acara selesai dia langsung minta maaf kepada ibu dan ayahku atas ”ketidak sopanannya” itu. Untung ayahku juga tidak begitu mempermasalahkan hal-hal sepele seperti itu, walau ada om dan makdangku yang sedikit berkomentar tidak enak. Bagiku yang penting ayah dan ibuku. Orang lain boleh saja berkata apa saja. The show must go on. Tepat pada tanggal 27 Desember 2007, jam 10.00 pagi, di Pekanbaru aku resmi menjadi istri Heru Suprantio. Itulah nama teman mayaku yang sekarang menjadi suamiku.

Bersamaan dengan resminya aku menjadi istri Heru Suprantio, lunas jugalah utang ayahku kepada Allah. Ayahku menangis sewaktu memelukku. Itu adalah satu-satunya airmata yang pernah jatuh dari kelima pernikahan anak ayahku. Terlihat ayahku begitu lega dengan menikahnya aku. Ternyata aku adalah beban yang sangat memberati dan menyesakkan rongga dada ayahku walau selama ini dia tidak pernah setitikpun memperlihatkan kecemasannya tersebut. Sampai aku pernah merasa bahwa ayahku tidak ambil pusing dengan belum menikahnya aku. Selama ini ku pikir hanya ibuku yang resah, tetapi ternyata aku salah besar. Ayahku adalah orang yang keras hati dan bukanlah orang yang ekspresif tapi dia menangis disaat pernikahanku, di depan para sanak saudara dan teman-temannya. Sebuah tangisan haru dan kelegaan yang tak tertahankan oleh sepotong hati tua. Maafkan Hessy pa, telah membuat susah papa. Akhirnya aku dapat bernafas lega karena akhirnya rongga dada itu tidak sesak lagi. Mudah-mudahan sebelum ayah ibuku pergi, mereka bisa melihat cucunya dariku. Amin

PENUTUP

Hanya butuh lebih kurang tiga bulan dari awal perkenalan sampai akhirnya aku menikah dengan teman mayaku. Sungguh waktu yang sangat singkat untuk mengenal seseorang dan tentu saja mengandung resiko yang sangat tinggi. Jika seseorang tidak berani mengambil risiko, orang itu tidak akan pernah melangkah. Orang yang tidak pernah berbuat salah, berarti orang yang tidak pernah melakukan apa-apa. Tentu saja tidak ada orang yang ingin salah pilih pasangan hidup. Tapi kita juga tidak akan tau apakah orang itu adalah pasangan jiwa kita atau tidak jika tidak melangkah kan?

Satu hal yang ku yakini, setiap usaha, setiap tindakan, pasti mengandung risiko dan jika Allah sudah menetapkan sesuatu hal, tidak akan ada yang bisa membatalkannya, biar setan sekalipun. Semua yang terjadi padaku tidak terlepas dari ketetapan takdirku. Aku sudah berusaha seoptimal mungkin untuk meminimalisir risiko yang mungkin timbul, and I’ll let Allah to take care the rest. Aku sangat percaya, bahwa apa yang diberikan Allah kepadaku, pasti yang terbaik bagiku. Walaupun mungkin menurut mata manusia tidak baik.

Terkadang aku juga suka bertanya-tanya dalam hati. Kenapa ya aku bersedia menerima orang ini menjadi suamiku? Kenapa orang-orang terdahulu ku biarkan lewat begitu saja? Apa karena dia pintar atau karena aku bisa menjadi diriku sendiri atau karena aku ingin melunasi utangku sekaligus utang orang tuaku kepada Allah atau karena usaha dia yang begitu gigih untuk mendapatkanku? Atau mungkin karena semuanya? Apa rahasia dibalik semua ini? Wallahualam bi sahwab. Yang jelas sekarang dia menjadi suamiku dan aku telah menjadi istrinya. Berarti semua kewajiban sebagai istri wajib untuk ku jalankan dan hak sebagai seorang istri, berhak untuk ku peroleh. Begitu juga sebaliknya. Until now, so far so good.

THE END

I Have a Dream

I have a dream………..

Someday i will live in a place that

near to the campus where i work

near to the mall where i shop

near to the school where my children study

near to my parent, my brothers and sister live

near to mosque where my family pray

I have a dream…

Someday there will be

no more traffic jump

no more flood

no more crazy motorbike

no more demonstration

… in the city where i live

Jakarta Oh Jakarta

Jakarta katanya ibu kota

Jakarta katanya sedang bersolek

Jakarta katanya sedang bebenah

Jakarta katanya kota internasional

Terkenal ke seluruh penjuru dunia

Di Jakarta katanya semuanya ada

Kenyataannya………

Jakarta adalah sebuah kampung besar

Jakarta bersolek tapi cuma dipermukaan

Orang Padang bilang : Rancak ka Labuah

Jakarta bebenah ga tau apa yang dibenahi

kenyataannya semuanya semrawut

Jakarta kota Internasional????

Yang ini betul…terkenal akan kejelekannya ngkalee

Semua ada di Jakarta…

Yang ini juga betul…ada banjir, ada pemukiman kumuh dan padat,

ada pemukiman elit di atas rawa yang ditimbun,

ada jalan yang berlobang-lobang, ada pohon yang rubuh pas hujan

badai, ada ribuan motor yang jalan seenaknya, ada busway yang bikin

jalan tambah macet, ada bus kota yang penuh sesak, ada kereta

listrik yang di atasnya ada penumpang, ada waterway berlayar di kali

yang busuk, ada juga ojek sepeda di kota.

Semua ini cuma ada di Jakarta…

Semua ini sehari-hari bikin warga Jakarta cenut-cenut…

Jakarta oh Jakarta…

Orchid, Cactus, Coarse Grass, Farmer

Orchid, Cactus, Coarse Grass, Farmer

Vs

Battle & War

Inspired by someone special

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. ( Al-Baqarah:187)

PENDAHULUAN

Hari ini, kamis 15 November 2007, sekitar jam 5 pagi seorang teman menelponku dan kami berbicara cukup lama. Percakapan itu membahas tentang perjalanan hidupnya yang menjadi pelajaran berharga baginya untuk melangkah kelak ke depan. Anda mungkin bertanya-tanya dalam hati dan mungkin juga mengira-ngira bahwa profesi temanku adalah seorang petani bunga, terus mengalami gagal panen, lalu mengambil hikmah dari kegagalan panen tersebut.  Terus mungkin anda bertanya apa hubungannya dengan pertempuran (battle) dan perang (war)? Sebenarnya perkiraan anda tidak terlalu meleset, temanku itu memang mengalami gagal panen yang luar biasa tapi bukan dalam arti yang harafiah melainkan dalam arti filosofis. Dia gagal panen atas segala upaya dan kerja keras untuk menyelamatkan “bunga” yang telah ditanam dan dirawatnya selama 20 tahun. Dan temanku itu sama sekali tidak habis pikir, kenapa dia bisa gagal panen padahal sudah melakukan segala sesuatu yang harus dilakukan oleh seorang pak tani dan merasa tidak ada yang salah dalam upayanya tersebut.  Temanku itu mengalami sekian kali kekalahan dalam pertempuran melawan “

hama

” yang menyerang lahan pertaniaannya. Karena kalah berkali-kali dalam pertempuran, maka akhirnya temanku betul-betul jadi kalah perang secara keseluruhan melawan pasukan

hama

. Lahan pertaniannya terpaksa harus di likuidasi alias dibubarkan.

I. AYAT PAK TANI

Dalam

surat

Al-Baqarah 223 tertulis “istri-istrimu adalah ladang bagimu maka datangilah ladangmu itu sebagaimanan kamu kehendaki dan kerjakanlah (amalan) untuk dirimu..”. Aku sering mengatakan dalam percakapan sehari-hari bahwa ayat di atas adalah ayat mengenai pak tani (farmer). Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan ayat ini merupakan “kamasutra dalam islam” alias adab bergaul suami istri. Aku ingat sekali, beberapa tahun yang lalu ada seorang sahabatku yang suaminya sering tugas luar

kota

dan selama 5 tahun pernikahan mereka belum juga dikarunia anak. Lalu secara bercanda aku berkata; “Ya jelas lah gimana lu mau hamil wong pak taninya jarang pulang jadi  sawahnya sering terlantar.” Sahabatku sewot mendengarnya, tapi alhamdulillah sekarang mereka sudah dikaruniai dua orang anak yang lucu dan manis. Tapi pada hari ini aku setelah percakapan panjang dengan temanku tiba-tiba aku memperoleh sebuah pandangan baru dalam menafsirkan ayat tersebut. Aku menjadi berpikir ulang, apakah benar makna ayat tersebut hanya soal cara pemenuhan kebutuhan dasar ala basic instingnya Sharon Stone dan Michael Douglas, jangan-jangan sebenarnya yang dimaksud dengan kebutuhan dasar bukan sekedar hal yang satu itu.

Mari kita elaborasi ayat ini lebih jauh. Allah sering menggunakan perumpamaan dalam menulis ayat-ayat Nya. Hal ini menunjukkan keagungan dan keanggunan cara penyampaian sebuah makna. Dalam ayat pak Tani, Allah menggunakan ladang dan bercocok tanam sebagai kiasan. Di ladang bisa ditanam berbagai macam tumbuhan. Kesuburan tanaman yang tumbuh di atasnya tergantung dari tipe tumbuhan yang ditanam. Ada tanaman yang butuh air, pupuk serta perawatan ekstra, dan jika diabaikan dalam waktu yang tidak terlalu lama, katakanlah 3 bulan, maka tanaman tersebut akan mati. Contohnya bunga angrek (Orchid).  Tapi ada tanaman yang diabaikan saja bisa tetap bertahan dalam segala kondisi dan media apapun.  Jika dirawat dengan baik malah akan tambah subur. Contohnya Ilalang (Coarse Grass). Ilalang dapat tumbuh di tanah keras sekalipun, dalam cuaca tak bersahabat. Pada musim hujan ilalang akan tumbuh subur dan kadang tumbuh bunga liar ditengah-tengahnya, sehingga jika diamati dengan seksama terkadang ilalang juga indah. Tapi tidak semua orang  bisa melihat keindahan karena sifatnya yang liar, mengganggu dan sulit diberantas. Malah terkadang orang takut masuk ke tengah ilalang karena khawatir ada  ular ditengah-tengah kerimbunan ilalang tersebut. Kemudian ada lagi tipe tumbuhan yang jika terlalu banyak disiram air, malah mati, dan tempat tumbuh yang nyaman bagi tanaman ini adalah pasir. Anda pasti sudah bisa menebak tanaman yang saya maksud. Betul. Kaktus namanya. Kaktus jika terlalu banyak air akan mati. Kaktus tipenya berduri, dan asli tanaman padang pasir. Tahukah anda jika anda kehausan di tengah padang pasir dan tidak menemukan oase, malah menemukan kaktus, berarti anda selamat. Anda potong kaktus tersebut dan ditengahnya akan anda temukan air yang bisa anda minum. Kaktus bisa menyelamatkan hidup anda. Tentu saja kaktusnya harus cukup besar agar airnya cukup banyak.(Jika kaktusnya cuma seukuran kaktus yang ada di pot rumah anda, saya jamin anda akan tetap mati kehausan J).

Terkait dengan tanaman, saya teringat pada sastra Indonesia. Dalam khasanah sastra kita, wanita sering diibaratkan sebagai bunga. Jadi menurut hemat saya, sebenarnya melalui ayat pak tani di atas Allah sedang berusaha menjelaskan pada kaum Adam yang bertugas sebagai petani untuk mengenali dengan baik karakter bunga yang ditanamnya. Dengan kata lain seorang suami wajib mengenali karakter istrinya agar dapat memberikan perlakuan yang pas dalam berhubungan dan bekerja sama membangun rumah tangga. Jadi untuk memudahkan pembahasan aku membagi 3 tipe wanita yaitu: wanita tipe anggrek, tipe ilalang dan tipe kaktus. Berikut kita bahas untuk setiap tipe.

a. Orchid Woman

Anggrek adalah bunga yang indah dan mahal. Wanita tipe anggrek adalah wanita yang butuh perhatian dan ”perawatan” sangat besar dari suaminya. Jika anda mempunyai istri berkarakter anggrek jangan pernah meninggalkan dia terlalu lama sendirian tanpa sentuhan dan belaian. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi jika anda terlalu lama meninggalkan atau terlalu sering meninggalkannya, 1) wanita itu akan mati merana karena tidak bahagia akibat jablai 2) wanita tersebut akan mencari pak tani yang lebih baik. Ingat anggrek itu indah, banyak yang menyukainya dan ingin memilikinya. Sayang tidak semua orang mampu merawatnya karena perawatan yang cukup rumit. Jadi anda tidak bisa menyederhanakan kebutuhan dasar sesuai versi anda. Banyak pria beranggapan selama dia telah mencukupi kebutuhan jasmani (sandang, pangan, papan) dan rohani (sex), maka dia sudah menjalankan kewajibannya dengan baik. Padahal kebutuhan dasar wanita tidak hanya sebatas itu. Kebutuhan untuk berkomunikasi, didengar, diperhatikan, diakui keberadaannya, keberhasilannya baik dalam berkarir dan merawat rumah tangga, juga merupakan kebutuhan dasar. (Pria juga begitu bukan?). Nah bagi wanita tipe anggrek terkadang komunikasi via teknologi (telepon) tidaklah cukup baginya. Kehadiran secara fisik sangat penting.

b. Coarse Grass Woman

Persis seperti ilalang, wanita berkarakter ilalang adalah wanita yang bisa survive dalam segala kondisi dan liar sifatnya. Wanita dengan karakter ini tidak butuh perawatan ekstra hanya perlu penanganan kreatif untuk ”mengendalikan” keliarannya. Wanita tipe  ini adalah wanita pencinta kebebasan..Terbukti bisa tumbuh dimana saja. Diperlukan imajinasi, kecerdasan dan kekuatan untuk memelihara ilalang sehingga ilalang liar bisa terlihat indah. Jadi hanya pria dengan karakter tertentu yang bisa menaklukan ilalang dan betah bersama ilalang. Wanita tipe ilalang biasanya ceria, penuh semangat hidup, cerdas, independen, dan tidak mudah menyerah bagi yang ingin mengendalikannya,  sekaligus mengandung misteri. Tidak semua pria sanggup dan berani menangani wanita tipe ini. Jika tipe ilalang bertemu pria lemah, ada kemungkinan pria itu akan teraniaya oleh wanita ini. Anda tau ilalang kan? Salah-salah masuk kulit anda akan gatal-gatal dan tau-tau ada ular ditengah ilalang yang siap mematuk anda. Anda bisa mati dipatuk ular..

c. Cactus Woman

Seperti telah tertulis di atas, kaktus adalah tanaman yang tumbuh di media pasir. Terlalu banyak disirami malah akan mati, sebaliknya bisa menyelamatkan kehidupan di tengah padang pasir. Jarang tumbuhan yang bisa tumbuh di media kering. Media kering bisa kita artikan sebuah kemiskinan atau kekurangan atau (kehampaan?). Anda bayangkan wanita tipe kaktus itu kira-kira seperti apa ya? Aku berpikir, wanita tipe ini mungkin adalah wanita yang sudah cukup mapan dalam hal materi, matang dalam berpikir dan baik hati sehingga dia tidak menuntut banyak dari pria yang menikahi sebaliknya lebih banyak memberi. Dia memperoleh kebahagiaan dengan cara memberikan kebahagian pada pasangannya. Wanita tipe ini  walau tidak terlihat indah tapi mampu memberikan kehidupan walau untuk itu dituntut sebuah pengorbanan besar dari dirinya. Ingat seperti saya bilang, kaktus mengandung air didalamnya. Untuk memperoleh air, kita harus memotong kaktus (sebuah pengorbanan kan?). Resiko memelihara kaktus juga mudah dikenali. Lihat saja besarnya duri dan anda bisa menentukan teknik yang tepat agar tidak terkena duri. Cuma sayang tidak semua orang suka memelihara kaktus karena tidak semua orang dapat melihat keindahan sebuah kaktus yang berduri. Padahal kaktus itu indah lho kalo ku liat-liat, mana gampang pula merawatnya, ditingal pulang kampung lama-lama ga mati-mati.

Pada dasarnya apapun tanaman yang ditanam oleh Pak Tani, selama penaganannya pas, maka tanaman akan tumbuh subur dan akhirnya akan memberikan kebahagian juga pada pak Tani. Akan tetapi sebaliknya, jika salah penanganan, pak Tani bisa gagal panen atau tanaman tidak akan tumbuh sesuai dengan yang dikehendaki oleh pak Tani. Pak Tani akan bersedih jika gagal panen. Tapi pak tani harus instropeksi jika gagal panen. Kesalahan bukan semata pada tanaman tapi bisa jadi mostly from ur self, akibat tidak mengenali karakter tanaman yang anda pelihara.

II. FARMER vs BATTLE n WAR

Dalam bercocok tanam, pak tani mempunyai musuh yang harus selalu diwaspadai yaitu:

hama

tanaman.

Hama

tanaman ada yang memberikan gangguan minor ada juga yang mematikan. Tapi biar

hama

yang menyerang tanaman anda bersifat minor, anda harus berhati-hati juga.

Ada

pepatah yang bilang: sedikit-sedikit jadi bukit. Dan kebanyakan hal-hal yang berbahaya berasal dari yang kecil. Jarang

kan

orang mati ketabrak gajah, banyak juga mati karena digigit nyamuk yang notabene keucil banget dibanding gajah. Trus kalo orang mendaki gunung salju, yang ditakutkan adalah masuknya sebutir pasir kedalam kaus kaki. Hanya sebutir man… ga sekarung pasir..Ternyata sebutir pasir yang masuk kedalam kaus kaki pendaki gunung es bisa mengancam jiwanya..Jadi sekali lagi nasehat saya..jangan pernah meremehkan atau underestimate terhadap sesuatu yang  kecil.

Kembali ke topic awal,

hama

yg paling berbahaya dalam pernikahan adalah

hama

yang tak tampak. Musuh yang tak tampak jelas lebih menakutkan dibanding musuh yang nyata. Kalo musuh itu nyata paling ga kita tau strategi apa yang akan diterapkan untuk menaklukkan musuh. Nah kalo kentutnya aja kita ga bisa mencium baunya, apalagi wajahnya, trus gimana mau mengalahkannya? Tul ga seh? Tahukah anda siapa musuh tak tampak itu? Ya betul, syaiton.

Tahu jugakah anda ada syaiton yang diciptakan Allah dengan special duty n special mission, the one and the only purpose yaitu syaiton yang ditugaskan oleh mbahnya syaiton yaitu iblis dengan tugas khusus membuat ricuh rumah tangga, membuat rumah tangga gonjang ganjing, membuat suami istri bak seteru abadi, membuat pasangan menjadi asing dan tak kenal satu sama lain. Sayangnya aku lupa nama syaiton dengan special mission itu. Maha Kreatif dan Dinamis Allah yang menciptakan syaiton tersebut. Anda mungkin bertanya-tanya, ngapain juga Allah menciptakan makhluk dengan tugas nyeleneh gitu… Jawabannya gampang.. Anda tidak mungkin naik kelas atau naik tingkat atau mendapat promosi di kantor anda kalau anda belum diuji dan terbukti teruji

kan

? Life is just like that. Hidup adalah never ending school. Anda selalu bisa belajar dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpa anda. Baik itu kejadian menyenangkan atau kejadian tidak menyenangkan. Pisau bisa tajam karena diasah. Besi bisa terbentuk karena ditempa. Tempaan atau terpaan cobaan dalam hidup membuat anda akan semakin teruji. Tim penguji pernikahan anda yang diutus Allah adalah syaiton itu tadi.

Aku adalah termasuk orang yang tidak pernah memandang hidup hanya dari dua warna. Hitam dan putih. Life is so colourful for me. Bagiku tidak ada sesuatu yang benar-benar hitam dan tidak ada sesuatu yang benar-benar putih. Yang ada adalah abu-abu terang, abu-abu gelap. Diantaranya banyak warna. Begitu juga dalam memandang syaiton. Syaiton yang sering digambarkan hitam kelam dalam pentas teater atau dalam buku komik anak-anak, sebenarnya tidaklah hitam benar. Ada sisi positif dari syaiton. (Ini sudah pernah ku tulis dalam artikel2 sebelumnya). Nah begitu juga syaiton dalam pernikahan. Allah Yang Maha Kreatif tentunya tidak sia-sia menciptakan syaiton dengan special purpose itu. Allah mungkin ingin kehidupan pernikahan sedikit diganggu agar hidup anda lebih dinamis sehingga tidak monoton. Kehidupan pernikahan yang terlalu tenang kadangkala juga mengandung bahaya. Anda ingat, laut tenang bukan berarti aman. Kehidupan pernikahan yang terlalu tenang bisa jadi terasa membosankan. Itulah gunanya syaiton tadi, untuk membuat anda agak sedikit gatal-gatal sehingga not feel bored with ur marriage. Hanya saja tentu perlu pengendalian terhadap rasa gatal tersebut, jangan sampai anda menggaruk terlalu dahsyat sehingga malah menimbulkan luka dalam terus infeksi terus bagian tubuh yang anda garuk tadi harus diamputasi. Jadi perlu ada manajemen rasa gatal. (halah apa coba? Manajemen rasa gataL..istilah apa pula itu?)

Manajemen Rasa Gatal

Anda pasti bingung, apa pula itu manajemen rasa gatal? Manajemen rasa gatal adalah suatu cara pengelolaan kekisruhan rumah tangga sedemikian rupa sehingga perasaan gatal bin pegel yang ditimbulkan oleh kisruh itu tadi tidak meluas apalagi infeksi. Naudzubilah, jangan sampai diamputasi. Lantas anda bertanya lagi, gimana caranya? Ya anda pikirlah sendiri? Masa apa-apa harus ditolongin jawabnya. Tidak ada seorang konsultan yang bisa menjawab semua permasalah secara cespleng. Apalagi masalah pernikahan. Setiap pernikahan itu unik dengan permasalahan yang unik karena perpaduan dari orang-orang yang karakternya unik juga. Tidak ada orang yang persis sama karakternya, yang ada cuma mirip-mirip. Hanya satu resep yang bisa aku berikan untuk mengelola rasa gatal pernikahan anda. Kita sebut saja resep manajemen rasa gatal. Ini dia resepnya:

  1. Kenali permasalahan anda dengan baik.

  2. Kenali karakter pasangan anda, bicarakan dengan pasangan anda masalah tsb

  3. Belajar dari Setan. Pahami trik setan yang membuat anda gatal

  4. Ungguli trik setan

  5. Jangan pernah merasa lelah. Kalo lelah, istirahat bentar, trus bangkit lagi.

(Note: Resep belum pernah diuji di dapur penulis. Jadi kalo gagal, maap aja ya..Lagi sapa su ruh juga percaya ama tulisan ini. Aku kan dah bilang tadi, pikirlah sendiri bagaimanan mengelola rasa gatal anda)

PENUTUP

Battle

with Satan and his staffs is never ending battle. Sometimes u loose, sometimes u win. The most important thing: never loose the war. U must come out as a winner, no matter how much the cost to win it. If u loose the war, its mean u gonna loose something most valuable in

ur

life,

ur

marriage,

ur

family.At the end, u have nothing at all. Naudzubillah min dzalik.

No matter how hard the battle is,u must face it. Jangan pernah desersi. Satukan langkah, rapatkan barisan especially with

ur

main partner (

ur

soulmate). Remember  Al-baqarah 187, pasanganmu adalah pakaianmu. Anda tau kan fungsi pakaian? Fungsi utama pakaian adalah melindungi.Melindungi dari macam-macam,hawa panas,dingin,dari rasa malu dan tentu juga dari rasa gatal. Jadi tiap pasangan wajib melindungi pasangannya. Kalo pasangannya merasa gatal maka dia wajib meredakan rasa gatal tersebut. Kenali karakter pakaian anda dengan baik. Kalau pakaian anda cantik, makalah pujilah pakaian anda itu. Kalau pakaian anda itu pintar dan doyan bicara maka ajaklah dia berdiskusi dan anda sendiri harus meningkatkan pengetahuan anda, biar diskusi lancar dan menyenangkan. Bila pakaian anda ”kotor” maka bersihkanlah. Tapi bersihkan dengan sabun dan cara mengucek yang lembut. Jangan kasar, nanti takutnya bila pakaiannya robek, anda tidak suka lagi memakainya.

At last, i want to say something for someone special (I believe he will read it J):

Please help me to be a good cloth for u, and please be a good cloth for me and

Please be a good farmer for me and I”ll be a beautiful flower for u..

Selesai, Kamis 13 Desember 2007,

10.55pm

PULANG KAMPUANG

PULANG  KAMPUANG

Allahuakbar 3x

Laailaahaillallahuallahuakbar

Allahuakbar walillah ilham

Pemerintah menetapkan bahwa 1 Syawal 1428H jatuh pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007. PP Muhamadiyah jauh-jauh hari telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1428H jatuh pada hari Jumat, 12 Oktober 2007. Gara-gara perbedaan ini banyak keluarga di

Indonesia

terpecah dalam berhari raya. Salah satu keluarga yang terpecah adalah sebuah keluarga yang berdiam di Jl. Riau gg Harapan II Pekanbaru. Itu adalah keluargaku. Muncul dua kubu dalam menentukan akhir puasa. Kubu pertama terdiri dari Ayahku, aku dan Reza yg meyakini 1 Syawal jatuh pada hari Jumat. Jadi anggota kubu 1 tidak sahur pada jumat dini hari. Kubu kedua terdiri dari ibuku, Iredh dan suaminya, serta Ami dan Mira. Sebenarnya Ami dan Mira sudah tidak ingin berpuasa lagi, tapi berhubung mereka masih dibawah umur  untuk mengambil keputusan (Ami baru kelas 5 SD, sedangkan Mira baru kelas 1 SD) jadilah mereka tetap sahur pada Jumat dini hari. Sedangkan Reza karena sudah kelas 3 SMP jadi lebih berani dan tetap tidur.  Tapi ada kejadian lucu dengan perbedaan pendapat ini, siang harinya aku dan Reza makan es krim, kebetulan kakakku sekeluarga pergi ke pasar. Akan tetapi sewaktu es krim belum habis mereka pulang, terbirit-biritlah kami masuk ke kamar, karena ingin menghormati keyakinan yang masih berpuasa dan untuk menjaga perasaan kleine-kleine yang 2 orang itu. Ternyata Ami dan Mira tau bahwa kami berdua bersembunyi di kamar lalu mereka mengetuk-ngetuk pintu. Terus tau ga? Ami berkata, “Papa bilang boleh batalin puasa”. Bingunglah aku dan Reza mendengarnya? “Loh kok boleh? Ga konsisten neh”. Lalu mereka ikutan makan es krim. Aku pun sempat memberi nasehat kepada Ami, begini bunyinya: “Ami, kalau Ami tidak ingin berpuasa sebenarnya boleh-boleh saja dari tadi, asal Ami punya alasan yang kuat untuk itu. Tidak apa-apa berbeda pendapat dengan orang tua.”. Ami hanya menatapku sambil makan es krim. Ku pikir-pikir, aku ini  tante gokil juga kali ya.. Lagian apa nasehatku itu tidak ketinggian untuk anak yang baru duduk di kelas 5 SD? Jangan sampai ponakan-ponakanku jadi ”liar” tak menentu gara-gara nasehatku tadi. Masalahnya Reza ikutan mendengarnya, dan Reza ini sudah agak-agak ”liar” juga. Yang lebih lucu lagi, ibuku malah marah-marah melihat kedua cucunya yang manis itu membatalkan puasa..Ha..ha..ha…kenapa nenek marah ya? Padahal di Arab memang sudah idul fitri pada hari Jumat tersebut. Masa Indonesia yang waktunya lebih duluan, malah telat hari rayanya.

Untuk soal 1 Syawal, kami boleh berbeda, tapi untuk pelaksanaan soal sholat idul fitri kami semua sepakat bahwa kami akan melaksanakannya pada hari Sabtu. Sebenarnya ini tidak konsisten ya. Harusnya kan kalo lebaran Jumat, sholatnya Jumat juga ya. Tapi pada dasarnya kan sholat idul fitri itu tidak wajib. Ekstrimnya kalo tidak melaksanakannya kan juga tidak berdosa. Jadi ndak apa-apalah kalo tidak konsisten. Kami sekeluarga sholat idul fitri di mesjid Agung Pekanbaru. Tapi idul fitri kali ini bisa dibilang ”wet idul fitri”, berhubung sering turun hujan. Karena hujan turun, maka sholat dilaksanakan didalam mesjid. Aku dan kakak serta ponakan mendapat tempat diteras mesjid. Ada yang bikin aku jengkel pada pagi hari pelaksanaan sholat kali ini. Sudah tau hari hujan, jemaah sudah membludak, banyak yang kehujanan, masak sholat belum dimulai-mulai juga. Bagaimana ini khotibnya, tidak mengerti kondisi umat. Mungkin ini cerminan para pemimpin di negeri ini, sering tidak paham kondisi lapangan, karena mereka berada ditempat yang nyaman. Pada saat sholat dimulai hujan mulai agak reda, sehingga jamaah yang tidak kebagian tempat sholat di rumput mesjid.

Idul Fitri di Pekanbaru tidak seperti Idul Fitri di kampung-kampung lain. Namanya saja yang aku balik kampung, mengunjungi tempat kelahiranku, tapi idul fitri disini tidak terasa setelah sholat usai. Kota ini sepi jika hari libur. Dikoran setempat aku baca, tingkat hunian hotel justru anjlok menjadi 30% saat idul fitri, sementara pada hari kerja, tingkat hunian hotel rata-rata 70%. Ini memang kota bisnis. Jika libur, penduduk menghilang pergi keluar kota. Oleh karena libur masih panjang, maka aku dan kakakku sekeluarga juga memutuskan untuk pergi berlibur ke Sumatera Barat pada hari Minggu, 14 Oktober 2007.

Minggu, 14 Okt 2007, tepat jam 7.30 WIP (Waktu Indonesia Bagian Pekanbaru) tour de west sumatra dimulai. Mobil sempat berbalik ke rumah karena lupa membawa bantal. Jam 10.00 kami berhenti sejenak untuk makan soto di Rantau Berangin. Di Rantau Berangin ini banyak para pemudik yang berhenti. Ada yang mudik naik mobil, ada yang naik motor ada juga yang beramai-ramai naik truk. Ada yang unik di Rantau Berangin dan sepanjang jalan yg termasuk wilayah Riau ini, yaitu banyaknya parabola. Walaupun rumahnya jelek, tapi ada parabola. Sepertinya kebutuhan informasi sangat tinggi  di daerah ini. Cuma ga jelas juga informasi apa yang mereka butuhkan. Kayanya sih informasi hiburan lah yaw. Tapi paling tidak menunjukkan orang Riau sadar informasi, tul ga seh?

Setelah perut kenyang, perjalanan dilanjutkan. Sesampai di daerah Rimbo Data perjalanan tersendat. Ada antrian kendaraan cukup panjang. Hal ini sudah diprediksi, karena menurut berita ada jalan longsor yang membuat Riau Sumbar sempat putus. Tapi jalan itu sudah bisa dilalui hanya saja harus bergiliran. Ternyata kami termasuk yang beruntung karena berangkat pagi sehingga tidak terlalu lama mengantri. Orang-orang yang berangkat dari Pekanbaru agak siang, terkena macet cukup lama di daerah ini. Sekitar jam 13.30 siang kami mendarat di Bukittingi, beberapa hotel didaerah sekitar jam Gadang yang ditelpon menyatakan fully booked. Lalu kami mencoba peruntungan di hotel Griya Muslim di jalan Landbow (Skrg nama jalan itu adalah Jl. Hamka kalo ga salah. Gw ingatnya nama yg lama, soale disinilah terletak eks rumah alm nenek). Alhamdulillah masih ada 3 kamar kosong, dan kami hanya butuh 2 kamar. Kami lalu makan siang dengan bekal yang dibawa dari rumah. Tadinya bekal ini diniatkan untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di tengah jalan. Setelah makan dan beristirahat sejenak, kami berjalan kaki untuk melihat bekas rumah nenek. Rumah tersebut sekarang sudah menjadi ruko. Aku ingat dulu waktu masih kecil, kalo pulang kampuang, selalu menginap di rumah ini. Rumah ini menyimpan banyak kenangan. Disini aku belajar mengambil air dari sumur. Dulu dibelakang rumah nenekku terhampar sawah menghijau. Aku dan sepupu suka bermain disana lalu naik ke atas bukit. Sekarang sawah sudah menjadi rumah, dan di bukit sudah ada hotel.

Setelah melihat-lihat dan memotret 3x klik rumah nenekku, kita kembali ke hotel, mandi dan sholat ashar. Setelah itu kita berjalan-jalan ke panorama. Dari namanya kita sudah tau, yang dijual dari tempat ini adalah pemandangan (panorama) Sianok Canyon alias ngarai Sianok. Menurut kisah turun temurun (taelah) alkisah nenek moyangku berasal dari Sianok Canyon ini.  Kata ibuku aslinya awak ko urang lambah lalu nenek awak naiak ka Sianok kemudian mambuek rumah disinan. Jadi rumah gadang nenek moyangku ada di sebuah kampung yang bernama Sianok. Aku bisa dihitung dengan jari ke Sianok  dan sama sekali belum pernah bermalam di rumah gadang itu. Rumah gadang itu sekarang sudah hampir runtuh, karena turunan nenekku sebagian besar merantau. Ada pepatah di minangkabau yang berbunyi (ini ku dengar dari ayahku):

Sayang kampuang ditingga kan (Sayang kampung ditinggalkan (merantau)

Sayang anak di lacuik… (Sayang anak dipukul)

Aneh kan bunyi pepatahnya. Mengandung paradox. Ada lagi ni bunyi pepatah yang mengandung paradok:

Kalau taimpik nak di ateh (Jika terhimpit ingin di atas)

Kalau takuruang nak di lua (Jika terkurung ingin di luar)

Ku pikir-pikir memang mantap dan cerdik cendikia orang Minang ini. Orang-orang baru abad ini mengenal konsep paradok, orang Minang sudah lama punya filosofi dan praktek soal nilai-nilai global paradok. Ha…ha..ha… Cuma gara2 pepatah kampung ditinggakan, rata-rata kampung di Sumatera Barat jadi sepi dan hanya ramai sewaktu Lebaran. Dan kalau konsep sayang anak di lacuik masih di praktekkan, salah-salah semua orang tua di Sumbar bisa dilaporkan ke komnas HAM perlindungan anak..Sedangkan pepatah kedua menunjukkan betapa cerdiknya orang Minang (Cerdik ato licik ato mau enaknya sendiri? Beda tipis kan?)

Kembali ke kisah tour d West Sumatra.  Di panorama ini ada lobang jepang. Lobang Jepang ini peninggalan penjajahan Jepang dan dibangun oleh para pekerja paksa (romusha). Konon romusha yang menggali lobang ini langsung dibunuh, agar persembunyian Jepang itu tidak diketahui. Lobang ini tembus ke ngarai. Setelah magrib menjelang kami kembali ke hotel.

Malam hari di hotel kakakku Iredh dan suaminya keluar untuk membeli makan malam. Tinggallah aku menjadi baby sitter untuk 3 kurcaci. Ponakan-ponakanku ini memang seperti kurcaci, lincah dan rada resek. Nah ceritanya ada seorang teman yang suka menelponku  dan 3 kurcaci ini selalu ingin tau terutama kurcaci nomor 1 dan kurcaci nomor 2. Temanku itu malah memberi nama mereka turbulentor. Karena kalau mereka masih ON pasti banyak gangguan alias turbulence sehingga sulit berbicara. Karena rasa ingin tahu mereka yang cukup besar atas temanku itu akhirnya ku ajak saja mereka berkenalan. Mereka menyambut dengan antusias, begitu juga dengan temanku yang di Jakarta itu. Lalu temanku memberikan kuis dengan hadiah jika menjawab dengan tepat hadiahnya adalah liburan ke Jogjakarta. Reza sebagai peserta kuis pertama gagal menjawab dengan tepat dan pemenangnya adalah Ami. Ami sangat senang dengan kemenangan yang diraihnya, sampai menceritakan kemenangannya itu pada mamanya dan nenekknya sewaktu sudah sampai ke pekanbaru lagi. Trus akibatnya setiap kali temanku itu menelpon pasti Ami akan berkata ” Tante Hessy tolong tanyakan jadi Ami ke Jogja?”…Begitulah anak-anak sekali sudah berjanji akan melekat dibenaknya.

Pagi hari, Senin, 15 Oktober 2007. Hujan membasahi kota Bukittingi. Jam 7.00 sarapan diantar ke kamar. Kami lalu sarapan dengan nasi goreng dan teh hangat. Jam 7.30 petualangan dimulai.  Ditengah guyuran hujan kendaraan melaju meninggalkan kota Bukittingi menuju Sawahlunto. Tujuan adalah tempat wisata water boom, kami sudah siap dengan peralatan renang. Sudah terbayang dibenak kami akan berenang dengan air gunung. Keluar dari kota Bukittinggi hujan mulai reda. Perjalanan sungguh menyenangkan udara sejuk dan di kiri kanan sawah terhampar dikelilingi oleh bukit barisan. Abang iparku mencoba rute baru menuju Sawah Lunto. Biasanya untuk ke Sawah lunto kita melalui Solok, tapi kali ini tidak. Kita sempat mampir di Padang Panjang. Disini kita membeli pergede jagung untuk camilan ditengah jalan.

Jam 11.30 kami tiba di Sawah lunto. Ternak di perut sudah meronta-ronta minta ransum. Untuk memenuhi hak-hak perut lalu kami berhenti di sebuah rumah makan yang khusus menjual soto. Ramai pengunjung di sana. Sotonya lumayan enak (gw kok jadi lapar ya pas nulis ini). Setelah perut kenyang kami melanjutkan perjalanan menuju water boom yang jaraknya sudah tidak jauh lagi. Tapi onde mande setelah sampai di TKP, panuah urang-urang dari kampuang di sinan. Indak jadilah kami jadinyo turun. Tampeknyo ketek, urang-urang sagarubak. Lah pasti bantuak cindua urang-urang di kolam tu. Terlihat dari luar, tempat wisata ini tidak dikelola dengan baik. Tiga kurcaci sedikit kuciwa karena tidak jadi berenang, padahal mereka sudah pernah ke water boom di Jakarta. Tapi setelah diberi pengertian, mereka dapat memahaminya. Akhirnya kami meneruskan perjalanan dengan tujuan danau Singkarak.

Ternyata hari ini bukan hari keberuntungan kami. Untuk menuju danau Singkarak, membutuhkan waktu berjam-jam karena lalu lintas yang macet di desa Sumani. Wah daku betul-betul tersiksa dengan kemacetan parah ini. Mobil asli tidak bergerak. Karena mobil cuma 1300 cc maka alat pendingin tidak dapat berfungsi dengan baik jika laju kendaraan sangat pelan. Karena takut overheated maka AC dimatikan. Bayangkan ditengah terik cuaca siang hari, jalanan macet dan tiada  AC. Bekuah lah kami di dalam mobil itu. Asiklah kami bakipeh-kipeh dek angeknyo udaro.  Usut punya usut ternyata kemacetan ini disebabkan oleh runtuhnya sebuah jembatan akibat gempa yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Jadi jembatan yang ada adalah jembatan darurat dan hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Jadi kudu nunggu giliran lah yaw.

Dengan penuh perjuangan dan peluh disekujur tubuh akhirnya kami berhasil menyelesaikan misi melalui jembatan darurat. (Halah emang misi apa seeeh?) Sungguh melegakan setelah melalui jembatan tersebut, mobil bisa melaju, AC bisa dinyalakan kembali…Thx God…Jam 4 sore kami berhasil mencapai danau Singkarak. Di Singkarak kebetulan ada teman kantor abang iparku, maka kami mampir sejenak ke rumahnya untuk numpang sholat sekalian melepas lelah sekalian berhari raya. Lumayanlah…Oh ya sewaktu kami mampir di sini, temanku itu menelpon lagi dan ku perkenalkanlah dia dengan kakak perempuanku. Kali ini dia tidak memberikan kuis spt pada para turbulentor, tapi menjelaskan kepada kakakku kalo dia tertarik dengan tulisanku yang ada di blog, lebih tepatnya telah jatuh cinta dengan tulisan-tulisanku di blog (trus sama penulisnya juga kayanya)…hua..ha..ha…aku sebenarnya heranlah ada orang yang bisa jatuh cinta melalui tulisan, padahal sama sekali belum pernah bertemu dengan penulisnya. Kalo sekedar senang atau tertarik, okelah ya. Tapi fall in love? Oh no man….its very weird…Aku sebagai penulisnya saja heran, gimana dengan kakakku. Dia tersenyum-senyum saja sewaktu bercakap-cakap via telpon dengan temanku itu. Tentu saja kakakku senyam senyum, soalnya kakakku sama sekali tidak pernah membaca apa yang ku tulis di blogku. Bahkan tidak ada satu orang pun dari anggota keluargaku yang akan tau kalau aku punya blog jika aku tidak memberi tahu. Selain itu walau sudah ku beri tau, aku jamin 1000% tidak satupun anggota keluargaku yang pernah membaca tulisanku. Mungkin dalam hati kakakku orang ini sedang ngombal, minimal sedeng…ha..ha..ha…ha… (sorry jika ada yang merasa tersungging…tapi aku yakin tidak ada yang tersungging).

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Danau Singkarak nan elok cuma kami pandangi dari atas mobil. Kami hanya berhenti sebentar untuk memotret 3x klik. Tadinya kami berniat untuk mampir sebentar di rumah sepupu abang ipar di Padang Panjang, tetapi karena senja mulai merambat niat ini dibatalkan dan kendaraan terus melaju ke kota Bukittingi. Mendekati kota Bukittingi tepatnya  di Padang Luar terlihat antrian panjang kendaraan.  Muacet berat. Onde Mande…iyolah sabana rami urang-urang di Bukiktinggi ko. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti di rumah makan Samba Lado. Kami makan malam karena perut sudah keroncongan. Rumah makan ini juga banyak pengunjungnya dan sepertinya pelayannya juga sudah kelelahan melayani para pengunjung, sehingga kami sedikit agak terlantar. Permintaan ayam goreng tambahan diabaikan. Sebenarnya mau marah, tapi berusaha untuk maklum, mungkin uda nan dimintai tolong alah panek seharian bakarajo melayani urang nan datang ka kadainyo ko. Kami juga menunaikan sholat magrib di rumah makan ini. Setelah itu perjalanan dilanjutkan mengikuti parade mobil menuju Bukittinggi. Asli kemacetan lalu lintas menuju pusat kota Bukittingi arah jam gadang sangat parah. Alhamdulillah  hotel kami tidak terletak di kawasan jam gadang, sehingga kami bisa berbelok arah ke aur kuning untuk menuju hotel. Jam 19.30 setelah perjuangan panjang nan melelahkan kami berhasil mencapai hotel dan langsung tewas.  Kesimpulan: Hari ini hanya mengukur jalan seharian. Tidak ada objek wisata yang dikunjungi dan dinikmati.

Selasa pagi, 16 Oktober 2007. Rencana semula kami akan balik ke Pekanbaru hari ini, tetapi karena kemarin hanya mengukur jalan, kami memutuskan untuk extend 1 hari lagi. Di pagi yang gerimis kami memulai petualangan hari ini menuju puncak Lawang. Puncak Lawang adalah tempat start / take off para pemain terbang layang (gantole) dan lokasinya tidak terlalu jauh dari kota Bukittinggi. Walau tidak terlalu jauh kami sempat nyasar ke desa Palembayan. Seingatku desa Palembayan ini kampung temanku si Riri Satria. (Ri, ternyata kampung lu lebih dusun daripada kampung gw ya… Asli sepi dan hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana). Setelah bertanya kepada seorang nenek, akhirnya kami berbalik arah dan berhasil menemukan puncak Lawang. Pada saat itu puncak Lawang tertutup kabut tebal sehingga pemandangan danau maninjau tertutup. Tapi setelah agak lama, kabut berangsur-angsur pergi dan pemandangan danau maninjau mulai terkuak…(kaya misteri aja,, pake bahasa terkuak segala..). Cuaca disini sejuk dan pemandangan indah sehingga membuat perut lapar. Cuma sayang yang jualan tidak menjual makanan hangat. Mereka cuma jualan makanan kering seperti biskuit dan kripik-kripik chiki and chitatos. Ku pikir kurang kreatif kalilah orang kampung puncak Lawang ni. Sudah tau daerahnya dingin, mbok ya jualan baso, soto atau sop atau apalah yang hangat dan mengenyangkan. Minimal jual kacang rebus. Ini malah jualan makanan kering. Manalah asoi makan kaya gitu dipuncak gunung macam ni.

Jam 9.30 akhirnya kami memutuskan untuk turun dari puncak Lawang dan mencari makanan hangat di desa dibawah puncak. Ternyata di desa Matur itu, susah juga cari makan. Yang banyak orang jualan kacang goreng..Aku sampai agak kesal, ku pikir apa orang di sini tidak pernah jajan ya, makannya kacang aja apa? Kok kaya makanan ”saudara tua”ya? Mungkin karena sekarang lagi lebaran, jadi yang jualan juga cuti jualan. Syukurlah akhirnya kami berhasil menemukan kedai baso. Untuk diketahui kalo di Sumbar ini yang jualan baso (disebut miso (mie baso)) bisa dipastikan orang Jawa. Terus antiknya lagi miso di Sumbar biasanya hanya terdiri dari bihun, jarang ada mie kuning. Kayanya mie kuning barang langka di Sumbar.

Setelah itu kami meneruskan tour menuju danau Maninjau dengan menuruni kelok 44. Selama menuruni kelok 44, Reza menutup matanya, tidur. Reza ini tidak tahan jalan berkelok-kelok, dia takut muntah. Sesampai di bawah, kami berhenti di Mesjid Raya Bayua. Mesjid ini sungguh indah arsitekturnya begitu juga landscapenya. Kami berhenti sejenak untuk sholat zuhur. Selesai sholat kami meneruskan perjalanan menyusuri tepian danau lalu berhenti makan siang di sebuah rumah makan. Rumah makan ini ramai pengunjung. Salah satu rombongan keluarga pengunjung membawa ”saudara tua” berbulu hitam dan diberi pampers. Saking ramenya pengunjung pelayanan disini juga kurang maksimal. Sama seperti rumah makan lain yang kami kunjungi selama tour de West Sumatra. Teh es tidak dingin, minta tambahan kripik rinuak, kripiknya habis. Alasannya ikan rinuak mahal (Rp 20.000/kg) dan karena lebaran, nelayan cuti melaut. Selesai makan siang kami melanjutkan perjalanan. Rencana awal kami mau melewati Painan untuk menuju Bukittinggi, tapi karena takut kesorean memasuki kota Bukittinggi, kami membatalkan rencana tersebut.

Jam 15.30 kami memasuki kota Bukittingi, hujan deras mengguyur kota ini dan lalu lintas macet. Rencana ingin ke pasar ateh dibatalkan dan kami kembali ke hotel. Sesampai di hotel kami sholat ashar. Ternyata setelah sholat, hujan agak reda dan kami memutuskan untuk ke pasar dengan berjalan kaki. Ternyata pasar tumpah ruah dengan pengunjung. Sama sekali tidak nyaman untuk berbelanja, sudahlah padat, becek pula. Niat membeli krupuk-krupuk untuk oleh-oleh dibatalkan. Di pasar ini kami hanya membeli kalung grafir untuk 3 kurcaci. Aku juga lumayan beruntung berhasil membeli titipan saudara yaitu klenengan sapi ganda. Tapi aku juga membeli 2 genta tunggal yang menyerupai lonceng, yang kemudian satunya ku berikan kepada temanku. J

Jam 17.00 kami sudahi acara shopping dan mencari ATM karena sudah kehabisan dana. Di dekat gerai ATM ada yang jualan es krim. Walau cuaca rintik-rintik yang namanya es krim sulit dihindari.

Para

kurcaci minta dibelikan, dan kebetulan ice cream is one of  my favorite meal.  Setelah dari ATM kami menuju kampuang Cino untuk mencari makan malam. Di rumah makan ini kakakku dan 3 anaknya memilih mie goreng, aku memilih lotek. Rasa loteknya lumayan, tapi gara-gara sudah makan es krim, kenikmatannya berkurang. Akan tetapi mie gorengnya tidak begitu enak kata kakakku. Alah tagang mie nyo…Selanjutnya kami kembali ke hotel dengan berjalan kaki. Mira, kurcaci terkecil, mengeluh capek..tapi toh akhirnya Mira mampu bertahan sampai hotel, karena semua juga capek dan tak ada yang sanggup menggendongnya. Sesampai di hotel, mandi terus ke pulau kapuk.

Rabu, 17 Oktober 2007. Hari ini adalah hari ulang tahun ayahku. Jam 7.30 kami check out dari hotel untuk menuju Pekanbaru. Udara cerah berawan. Kami sempat sarapan pagi yang ke dua kalinya di kota Payakumbuh. Disini kami makan lontong gulai paku. Ngeri kali ya makanan orang Minang, paku sampai di gulai lalu dimakan. Ku pikir ini ada hubungannya dengan asal usul orang Minang. Konon menurut sejarah, orang Minang itu turunan dari Bundo Kanduang (ya iyalah, mana ada juga orang turunan ibu tiri, dah pasti dari bunda kandung). Bundo Kanduang punya anak namanya Cindua Mato dan Cindua Mato punya kuda yang hebat bernama Gumarang. Tau tidak, Bundo Kanduang sekeluarga adalah orang Bunian. Orang Bunian itu…..adalah makhluk halus…hiiiiiiiiiiiiiiiiiiii seram kali lah…Makanya makannya paku..ha…ha..ha..ha…just kidding…paku adalah sayur pakis..dan rasanya eunak tenan… Dari semua makanan yang ku telan selama di tour de Sumatra selama 3 hari, baru inilah makanan yang badaso di lidah ambo. Selain tu lalu se rasonyo.

Dalam perjalanan kami mampir di Lubuk Bangku untuk membeli oleh-oleh krupuk khas Sumbar. Sesampai di Rimbo Data tempat longsor, ternyata ada truk yang mogok di puncak tanjakan. Untung lalu lintas sepi, jika tidak, sudah dapat dipastikan akan terjadi kemacetan lagi. Jam 11.00 kami sudah berada di daerah Riau. Karena hari masih siang, kami memutuskan untuk mampir ke situs sejarah yaitu Candi Muara Takus. Candi ini terletak di kecamatan XIII Koto Kampar. Kebetulan kami memang belum pernah melihat candi ini. Ada cerita lucu. Sewaktu kami akan berbelok menuju arah candi, kami sempat bertanya dengan seorang anak muda tentang jarak candi dari jalan raya. Dia bilang kira-kira 2 km. Kami pikir dekatlah itu. Ternyata para pembaca yang budiman……………. anak muda itu tidak punya meteran. Sudah 12 km, lokasi candi belum ditemukan. Aktualnya jarak candi ke jalan raya kira-kira 17 km. Sepanjang jalan menuju candi banyak anak-anak muda minta sumbangan yang tidak jelas. Kasian kali anak-anak muda ini ya.. Apa tidak ada lagi pekerjaan yang lebih terhormat daripada minta-minta pada kendaraan  yang lewat. Mana kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari. Sekalian dong mintanya di jalan raya Bangkinang, pasti lebih banyak yg bisa dimintai, tanggung amat. Candi Muara Takus ini peninggalan kerajaan Hindu terlihat dari arsitekturnya (Gw sok tau kali ya…Kalo ga kerajaan Hindu ya Budha lah..tapi kayanya Hindu sih). Pada saat kami sampai di lokasi udara sangat panas..jadi tidak nyaman. Dan sewaktu melihatnya, abang iparku berkomentar…”Ooooh cuma itu doang, Seonggok batu”…ha..ha..ha… tertawalah aku..ya iyalah…Dimana-mana candi di seluruh dunia memang cuma tumpukan batu. Mau kaya apa lagi..Candi borobudur yang termasuk keajaiban dunia juga kumpulan onggokan batu, cuma gede aja…Akhirnya setelah bergaya se klik, dua klik kami meninggalkan kawasan ini yang juga merupakan tempat gusuran ’korban” PLTA Koto Panjang. Dibilang korban, karena untuk membuat PLTA ada sekitar 13 desa yang ditenggelamkan untuk dibuat danau buatan. Lalu mereka dipindahkan ke daerah ini. Tapi keliatannya mereka tidak betah tinggal disini. Hal ini terlihat dari beberapa rumah yang ditinggalkan terlantar oleh pemiliknya. Daerah ini sangat sepi. Candi Muara Takus tidak dikelola secara profesional oleh pemda Riau. Mbok ya dibuat apa gitu supaya orang bisa berlama-lama di daerah wisata ini. Sehingga bisa menumbuhkan perekonomian warga setempat. Kayanya pemda Riau dan pemda Sumbar setali tiga uang. Tidak bisa menghargai apa yang dimiliki. Karena tidak bisa menghargai, jadi tidak bisa menjual juga sesuatu yang berharga yang dimilikinya itu. Ga kaya negeri jiran Malaysia. Barang jelek aja bisa mereka kemas sedemikian rupa, sehingga seolah-olah bagus, lalu mereka iklankan lah. Trus banyak pula orang Indonesia yang tertipu dan membelinya. Setelah datang ke sana, komentar kita..oooooooo cuma gitu doank..Masih bagusan kampung gw. Mana asli lagi, disana kebanyakan obyek wisatanya artifisial. Kayanya kita perlu banyak belajar bagaimana mengelola asset bangsa yang berharga ini sehingga bisa mendatangkan kemakmuran buat bangsa. (Halah ngapain juga gw pikirin ya. Emangnya gw mau nyalonin diri jadi DPRD Riau atau Sumbar gitu? Anggota DPRD aja ga mikirin).

Setelah dari candi Muara Takus kami makan siang di rumah makan Mira Sari yang letaknya tak terlalu jauh dari lokasi candi, tepatnya di Rantau Berangin. Wah disini aku sangat puas dengan makanannya. Ada udang sungai, ada ikan sungai, ada samba lado, ado pucuak ubi,  dan ada krupuk kesenangan Reza yaitu Karupuak Jariang…Reza suka malu-malu, padahal dia suka sekali dengan jariang crispy ini. Inilah makanan terlezat selama tour 3 hari ini. Riau still is the best for food…Jam 13.30 kami sholat zuhur di Mesjid Raya Bangkinang. Jam 15.30 kami sudah mendarat di rumah pekanbaru… Happy birthday Dad

SEKIAN

BALIK KAMPONG

BALIK KAMPONG

Lancang Kuning, Lancang Kuning berlayar malam, hai berlayar malam.

Haluan menuju, haluan menuju ke laut lepas

Tepat pada hari Selasa, 9 Oct 2007 (26 Ramadhan 1428 H) aku melaksanakan agenda rutin tahunanku yaitu balik kampong ke bumi lancang kuning. Aku berangkat dari puri hijauku di Limus pratama jam 6.20 di antar oleh abangku Iid dan istrinya Ningke. Sebenarnya penerbanganku di jadwalkan jam 11.00, tetapi karena takut terkena macet jadilah aku berangkat pagi-pagi sekali. Kan lebih baik kecepatan tiba di bandara daripada terlambat. Ternyata jalan raya pada hari tersebut cukup lengang, sehingga pada pukul 8.00 WIB kami sudah sampai di mesjid tempat peristirahatan sebelum masuk ke kawasan bandara. Lalu kami berhenti di sana dan melaksanakan sholat dhuha. Karena jadwal penerbanganku masih lama, jadi berhentinya cukup lama, lebih kurang 1 jam dan abangku tidur di mobil. Sebenarnya aku juga agak mengantuk dan sedikit pusing karena pada hari Seninnya aku pulang dari kampus sudah malam, terus harus bebenah barang2 yang akan dibawa ke pekanbaru ditambah lagi aku kena flu. Dah gitu kan sahur jam 3 sudah bangun dan aku tidak tidur lagi. Aku sepertinya kurang tidur. Ada beberapa hal yang bisa membuatku sakit jika kekurangan, salah satunya adalah kurang tidur. Yang lainnya aku tidak boleh telat makan, apalagi kurang makan. Kalo mau kurang makan, sekalian puasa aja, malah ga apa-apa. Yang ga boleh lagi adalah kurang duit..(hua..ha..ha.. kurasa semua orang tidak suka kekurangan hal yg satu ini). Kalo kurang kasih sayang, aku belum tau efeknya padaku, karena sepertinya aku belum pernah mengalaminya. Orang-orang disekitarku sepertinya sangat menyayangi dan memperhatikanku. (gw ke ge er-an ngkaleee ya?). Tapi mending GR dibanding minder. Tapi ku rasa perasaanku itu bener lho. Buktinya kalo aku lama ga muncul-muncul di depok pasti ditelponin, ditanyain kenapa ga datang-datang. Begitu juga kalo jarang mengunjungi Aji dan Kiki di ps minggu. Kata mama mereka, pasti Aji nanya-nanya ke mamanya, ”Kenapa tante Hessy ga ke sini?”, trus biasanya Aji heboh ngajak and rada maksa mamanya ke limus, walaupun hasil pemaksaannya sering tidak berhasil daripada berhasil. Belum lagi tetangga-tetangga limus yang sangat perhatian padaku. Kalo aku pulang cepat pasti ditanya: ”Dah pulang mba Hessy?”. Kalo pulang malam: ”Kok pulangnya telat mba Hessy?”. Kalo ga pulang dua hari, pasti juga ditanyain: ”Kemana mba Hessy, kok ga ada di rumah, nginep ya?”. Kalo ga masuk kerja: ”Ga ngajar hari ini mba Hessy?”. (gw kadang-kadang sampai bingung, jadi harusnya gw boleh pulang ke rumah gw sendiri jam berapa neh? Kalo libur apa harus lapor tetangga?). Kalo teman-teman akrab kampus juga begitu. Kalo aku ga muncul pada jadwal mengajarku, pasti di sms atau di telpon..”Kenapa lu ga masuk, lu sakit?” padahal aku cuma males aja dan bolos.. Jadi biasanya kalo aku mau bolos ngajar aku akan memberitahukan teman-teman, biar mereka tidak cemas. Taelaah…Karena agak mengantuk lalu aku juga mencoba untuk mengaso di atas mobil tapi cuma bisa sebentar, akhirnya aku ngobrol-ngobrol saja dengan kakak iparku.

Tepat jam 9.00 WIB aku di drop di bandara lalu abangku dan istrinya pulang. Aku tidak mau ditunggui karena kasian yang ngantar  kalo harus nungguin aku, mana inikan bulan puasa,  jadi ku suruh saja mereka pulang. Lalu aku masuk, check ini dan menuju ruang tunggu. Ternyata ruang tunggu penuh, jadi aku duduk di kursi yang di luar ruang tunggu dan membaca buku sambil mendengar radio. Aku sudah mempersiapkan buku untuk menemaniku menunggu burung besi Garuda mengangkutku ke Pekanbaru. Sewaktu aku sedang asik membaca, lalu ada telpon, ternyata telpon dari seseorang yang baru ku kenal kira-kira pada pertengahan puasa di Friendster. Selama ini kami hanya berkomunikasi melalui e-mail, karena aku mau balek kampong akhirnya ku berikan nomor HP ku. Dan ternyata temanku itu menelponku dan ternyata lagi menelponku sekarang menjadi kebiasaan barunya (i guess), sebaliknya menerima dan berbicara di telpon dengan temanku itu menjadi acara rutinku tiap hari, setidaknya sampai cerita ini ku tulis. J 

Jam 11.00 WIB burung besi terbang menuju tanah dimana darahku tumpah untuk pertama kalinya yaitu kota Pekanbaru, kota kelahiranku. Lebih kurang 1,5 jam kemudian burung besi selamat mendarat di bandara St Syarif Kasim II. Aku sudah dijemput oleh Ibu, kakakku dan 3 ponakan tercinta. Cuaca di Pekanbaru hari itu sangatlah panas, tapi ponakan2ku tetap berpuasa, even Mira yang baru kelas 1 SD. Kata mamanya puasa Mira belum ada yang batal.

Kepulanganku ke bumi lancang kuning membuat kenanganku di masa kecil kembali. Kota ini sudah sangat jauh berubah dibanding aku masih tinggal di sini. Sudah banyak kemajuan fisik yang dicapai oleh kota Pekanbaru. Kalo di bilang indah, ya lumayanlah, kota ini juga lebih bersih, hanya saja aku merasa kota ini sangat panas di siang hari dibanding aku masih kecil dahulu, bahkan dibanding dengan Depok atau Cilengsi (mungkin perasaanku saja ya, dan kebetulan cuaca memang tidak bersahabat, di Jakarta juga siangnya panas banget pas puasa tahun ini).

Aku dilahirkan di Rumbai salah satu distrik yang dibangun oleh PT Caltex Pacific Indonesia sebuah perusahaan minyak terkenal. Rumbai adalah pusat administrasi, sedangkan ladang minyak Caltex ada di Distrik Minas dan Duri. Kata ayahku, minyak Minas adalah minyak yang terbaik di dunia. Kualitas no. 1, numero uno. Distrik Dumai adalah kota pelabuhan, tempat minyak-minyak dari Minas dan Duri dikirimkan ke seluruh penjuru dunia.

Selain dilahirkan aku juga bersekolah dari TK sampai SMA di wilayah ini, tepatnya aku selalu bersekolah di tempat yang sama yi di Sekolah Cendana Rumbai. Ada yang unik dari anak-anak pegawai Caltex ini. Kita bersekolah di sekolah yang sama dari TK sampai SMA, jadi teman-teman kita dari TK sampai SMA ya itu-itu aja. Tidak seperti masyarakat pada umumnya, pasti punya teman SD yang berbeda dengan teman SMP dengan teman SMA. Kalo aku temannya nyaris sama. Murid baru sangat sedikit di sekolah ku itu, ada murid baru paling karena pindahan dari distrik yang lain. Biasanya malah sudah kenal, karena mungkin dulu SD nya di Rumbai, terus ayahnya dipindahkan ke Duri, lalu balik lagi ke Rumbai. Ayahku tidak pernah dipindah ke distrik lain, jadi otomatis teman-temanku hanyalah anak Rumbai dan anak Minas. Trus kita juga biasanya kenal dengan kakak atau adik dari teman kita. Sekolahku itu pada zamanku hanya menerima anak pegawai Caltex saja, tidak menerima murid dari luar. Kebijaksanaan ini akhirnya tidak bisa diteruskan pada tahun 1984 karena dilarang oleh P&K. Setelah tahun itu sekolah Cendana baik yang di Rumbai maupun di Duri menerima murid yang orang tuanya non pegawai Caltex. Tapi tetap persentase orang luar yang bersekolah di sinipun sangat kecil di zamanku. (Kalo sekarang sudah banyak orang luar yang bersekolah di Cendana)

Kehidupan di kompleks Caltex ini banyak suka dibanding duka. Semua sarana prasarana tersedia dan yang paling penting gratis. Berenang gratis, nonton film gratis, bahkan sekolah pun nyaris gratis karena biaya yang sangat murah dan buku-buku teks dipinjamkan. Selain itu listrik, telpon dan air juga ga perlu bayar. Bahkan air ledeng di kompleks Caltex dijamin hygienis dan bisa langsung minum. (Aku baru tau setelah aku besar bahwa air ledeng di kompleks itu tidak apa-apa kalo langsung di minum. Pan kalo menurut ajaran bu Guru, air harus direbus dulu baru boleh diminum. Nah makanya aku juga setelah besar baru mengerti kenapa waktu bulan puasa dan aku pura-pura cuci muka, padahal waktu kumur-kumur ada yang sedikit diminum, tapi ga sakit perut..hua..ha..ha..) Di sekolahku tersedia water cooler jadi setelah bermain kita ngantri di water cooler untuk minum. Di tempat-tempat tertentu seperti gedung olah raga juga tersedia water cooler. Kompleks Caltex ini dibilang orang luar sebagai little American karena dari bentuk rumah dan fasilitas dirancang mirip dengan asal tempat expatriat yang bekerja ditempat ini. Bahkan bus sekolah ku pun berwarna kuning, kaya di film-film Holywood itu loh. Kita menyebutnya bus kuning. Tapi dengan berjalannya waktu bus sekolah juga tidak berwarna kuning lagi. Terus ada lagi yang disebut dengan bus panjang. Bus ini memang panjang. Bus panjang ini untuk bus raun (kalo orang pekanbaru bilang keliling-keliling adalah raun-raun dari round-round ngkalee ya) keliling komplek.  Kita tidak perlu bayar. Yang perlu bayar adalah taxi komplek. Tapi ongkosnya juga sangat murah hanya Rp 25 sekali antar.

Yang indah lagi tinggal di komplek adalah suasana yang hijau. Banyak hutan yang dipelihara oleh pihak perusahaan. Rumah tempat aku dibesarkan dari lahir sampai TK nol besar terletak persis di depan hutan. Aku biasa main ke hutan dengan saudara dan teman-teman dekat rumah. Main di hutan tidak di tengah hutan sih, dipinggir-pingir hutan aja. Di sana kami suka mencari mata air, lalu kalau sudah ketemu juga suka mencari ikan-ikan kecil atau melihat gerundang (berudu). Selain mencari mata air, kami juga suka mencari buah selatut (aku tak tau bahasa latinnya, yg ku tau kita menyebutnya buah selatut, karena kalo dipencet berbunyi ”tut”) lalu memakannya. Selain itu kita juga suka mencari daun sabun. Maksudnya daun yang kalo digosokkan ketangan jadi kaya ada sabunnya. Oh ya, waktu kecil selain suka makan buah selatut, aku dan teman-teman suka juga menghisap sari dari bunga asoka, rasanya enak kala itu. Tapi kenapa setelah besar ku coba, kok tidak seenak sewaktu aku kecil ya rasanya? Mungkin bagi semua anak kecil semuanya enak.  Yg seru lagi tinggal di Rumbai adalah cerita ibuku (soalnya aku tidak menyaksikan sendiri), kalo malam pulang dari mesjid suka ada harimau yang nangkring depan rumah. Jadi ibuku dan ayahku masuk rumah melalui pintu belakang. Di Rumbai ini hewan-hewan liar memang bisa hidup nyaman, karena berburu di hutan dilarang oleh perusahaan. Jadi banyak hewan liar tinggal di hutan Rumbai dan aku sering melihatnya seperti burung enggang, babi liar, dan cingkuak. Mungkin dari pembaca ada yang tidak tau cingkuak itu apa. Cingkuak adalah sejenis monyet berbulu hitam (beda dengan lutung) dan tiap pagi dan sore suka berteriak-teriak dan bunyinya ”kuak, kuak. Kuak”. Jadilah kita menyebutnya Cingkuak, mboh la bahasa latinnya. Abangku dan teman-temannya suka bermain ke tengah hutan dan mereka biasanya pulang-pulang suka membawa nangka hutan (buahnya kecil dan panjang), terus juga gasing. Gasing hutan beda lho sama gasing yang dijual ditoko. Makanya sewaktu aku ke Jakarta aku heran, mengapa disini gasing dibeli? Padahal waktu aku kecil gasing dibuat sendiri, ndak usah beli. (Asli orang hutan gw ya, gasing dijual di toko aja bingung)

Setelah TK ayahku dipindahkan lagi ke rumah yang lain. Nah rumah ini dekat dengan sekolah dan rumah sakit. Jadi aku jalan kaki ke sekolah atau ke rumah sakit. Oh ya rumah sakit juga gratis disini. Dari SD aku sudah berani pergi ke rumah sakit sendiri. Dokternya, susternya  kan ayah atau ibu temanku. Trus waktu tinggal di rumah yang ini, abang tertuaku Nasrun dan temannya Amran Dalimunte pernah berhasil menangkap kera besar (aku tidak tau persis spesiesnya, pokoke sejenis kera tapi lebih gede). Lalu kera itu diikat di garasi mobil, aku senang melihatnya, ku pikir kami akan punya peliharaan baru. Tapi sayang kera itu cuma sebentar di rumah kami, karena akhirnya kera tersebut berhasil melepaskan diri dan kabur. Di rumah ini juga pernah ada ular nyasar. Waktu itu kita semua pergi ke sekolah, hanya ibuku di rumah, dan beliau berhasil membunuh ular tersebut..(Wah ibuku memang TOP Be Ge Te de..asli pemberani).

Dari rumah ini ke madrasah tempat aku mengaji cukup jauh, tapi masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Sebenarnya ada bus yang bisa ku naiki tapi aku lebih suka berjalan kaki. Ke madrasah biasanya aku lewat memotong rumah sakit . Tapi kalo pulang kadang aku main dulu ke rumah teman dan mengambil jalan memotong lewat hutan. Oh ya ada kejadian lucu soal hutan ini. Aku ingat sekali dengan adikku Nana. Waktu itu dia masih SD kelas 1 (kalo tidak salah). Harusnya kan anak kelas 1 SD pulangnya jam 10. Adikku ini tidak pulang-pulang, lalu ibuku sibuklah mencari di rumah teman-temannya yang dekat rumah. Dia tidak ditemui. Tau-tau dia muncul sore hari. Ibuku memarahinya, mungkin karena ibuku panik. Tapi adikku karena masih kecil malah dengan enteng cerita kalo tadi main ke rumah temannya dan pulang menyusuri hutan dan dengar suara szzzz..szzz. Lah itu kan suara ular ya..Namanya juga anak-anak, manalah mengerti bahaya suara itu. Di Rumbai ini juga ada sungai ambang dan di sungai ini banyak ular tikar. Ularnya kaya tikar katanya (masalahnya aku ndak pernah liat sendiri. Aku cuma pernah liat sungainya saja, tapi tidak berani bermain-main disana). Selain itu ada daerah di tengah hutan yang disebut dengan tanah merah. Semua anak Rumbai pasti tau tanah merah karena biasanya pernah bermain di sana. Disebut tanah merah karena memang tanahnya berwarna merah. Kalo di foto bagus de.

Itu tentang hal-hal indah tinggal di kompleks Caltex. Tapi bukan berarti tidak ada yang kurang dari kompleks ini. Yang kurang menyenangkan tinggal di kompleks adalah susunan tempat tinggal. Maksudku, cluster perumahan di Caltex disusun seperti perumahan militer. Jadi ada stratanya. Sebuah cluster berarti menunjukkan jabatan penghuni. Perumahan staff berbeda dengan perumahan associate (non staff). Dari nomor badge juga terlihat strata sosial ini. Sehingga ada istilah anak atas dan anak bawah di kompleks ini. Terus juga ada sebutan anak Pekan, untuk anak-anak yang tinggal di luar komplek (di Pekanbaru). Walau tidak terlalu terlihat jelas, tapi dalam pergaulan, strata sosial cukup terasa. Seorang anak bawah bisa cukup populer di sekolahanku minimal harus punya salah satu dari hal berikut: kalo tidak cantik/ganteng, paling ga berprestasi di bidang olahraga atau juara kelas. Kalo dia tidak memiliki salah satu dari 3 hal tersebut, dijamin dia ga bakal dianggap sama anak atas, mainnya paling sesama anak bawah. Bahkan yang lebih tidak enaknya lagi, anak-anak pegawai non staff banyak yang tidak mau bersekolah di Cendana. Mereka kebanyakan bersekolah di sekolah negeri yang terletak di dekat cluster rumah mereka. Aku ingat salah satu SDN di sana adalah SDN 5. Kita anak Cendana menyebutnya SD Limper (singkatan lima perak). Biasalah anak-anak suka jail bikin istilah.

Sekarang Caltex telah diakuisisi oleh Chevron, dan pegawainya sudah banyak berkurang karena sistem outsourcing yang diterapkan. Pegawai Chevron pun sekarang lebih banyak tinggal di luar komplek. Sewaktu kemarin aku berjalan-jalan ke Rumbai, komplek itu terasa sangat sepi, lengang. Tidak seperti masa kecilku yang penuh dengan anak-anak bermain di luar rumah. Mungkin ini ada hubungannya dengan kemajuan teknologi yg membuat anak-anak tidak bermain di luar rumah lagi.

Oh ya, aku tinggal di Rumbai cuma sampai kelas 5 SD, lalu ayahku memutuskan untuk pindah ke luar komplek. Ayahku membangun rumah dengan bantuan perusahaan di jalan Riau. Rumah di Pekanbaru ini jauh lebih besar daripada rumah di kompleks. Tapi  untuk mengurusi rumah ini orangtuaku tidak menyewa seorang pembantu pun. Kami berlima anak-anaknyalah yang jadi pembantu. Sistemnya bagi-bagi tugas. Kakakku memasak dan menyapu rumah, aku menyetrika, ibuku mencuci baju, adikku cuci piring. Yang enak ayah dan dua abang lelakiku, dinas cuma kalo libur sekolah, nyuci mobil, nyapu halaman, sama cukur rumput. Itupun kalo cukur rumput aku juga dikaryakan untuk bantu menyapu rumput-rumput itu. Kalo mobil rusak itu juga tugas kaum pria. Tapi kan mobil ga rusak tiap hari ya..memasak, menyetrika, nyuci baju, itu pan tiap hari. Aku suka protes dengan pembagian tugas yang tidak adil ini. Oh ya aku paling sebal kalo disuruh memasak. Ibuku kayaknya juga sebal lama-lama menyuruhku (maapin ane ya Nyak J) Setiap kali disuruh aku cuma mengerjakan apa yang disuruh, setelah itu aku kabur. Dipanggil lagi, nanti begitu lagi. Kalo ibuku marah, aku akan bilang, ”Mendingan disuruh mengerjakan soal matematika 100 buah daripada disuruh memasak”. Lain hari dimarahi lagi, aku jawab lagi, ”Nanti kalo Hessy sudah besar orang-orang sudah tidak perlu memasak lagi, karena semua orang akan makan pil dan sudah kenyang. Ndak perlu susah-susah kaya ini”. Ibu lalu bilang ”Ya sudah kamu ciptakan saja pil itu”. Lain kali dimarahi, aku jawab lagi; ”Selama orang bisa membaca, pasti bisa memasak (maksudku baca aja resep, ga usah pake praktek kebanyakan)”. Ku pikir ibuku pasti mengurut dada punya anak kaya aku. Dan terbukti sekarang, dua saudara perempuanku yang nurut sama ibuku mewarisi ilmu memasak ibuku. Sedang aku cuma mewarisi 1/100 ilmu memasak ibuku. Ya ndak pa pa lah, yang penting masih dapat warisan walau seiprit…hua..ha..ha…

Tinggal di rumah Pekanbaru ini sebenarnya sangat menyenangkan. Selain rumah yang lebih besar, halamannya juga luas (sisi minusnya, capek nyapunya). Dipekarangan yang luas tersebut tumbuh 6 buah pohon rambutan, 1 buah pohon jambu air, 1 buah pohon jambu bol, 1 buah pohon mangga, beberapa buah pohon jambu bangkok , 1 buah pohon sarikaya, pohon nangka dan pohon pisang. Belum pohon jeruk nipis dan empon-empon tanaman ibuku. Rambutan di rumahku itu disebut rambutan Tampan. Rasanya jangan di tanya, buahnya besar, lekang dan maniiiss sekali. Kalo lagi musim rambutan kita bersaudara pulang sekolah langsung memanjat pohon dan duduk di atas menikmati rambutan. Sering juga rambutan ini ku bawa ke sekolah dan ku bagi ke teman-temanku. Kadang teman-teman kami juga datang ke rumah untuk pesta rambutan. Jambu bangkok juga sering berbuah. Pertama-tama berbuah kami senang memakannya, lama-lama bosan juga. Kalo jambu air enaknya di rujak, seringnya dibiarkan jatuh. Kalo pisang, ya lumayan enak apalagi kalo pisang batu digoreng. Kalo panen pisang kebanyakan, ibuku membuatnya menjadi kripik pisang. Kalo kebanyakan, bosan juga makannya. Jadi kalo panen buah berlimpah, tetangga-tetangga juga kebagian. Mangga baru berbuah setelah aku kuliah di Jakarta. Tapi aku sempat dikirimi mangga dari Pekanbaru sampai ibu kos ku heran. Akibat aku sudah biasa memakan buah gratis, langsung petik dari pohonnya, sekarang ini kalo aku disuruh membeli rambutan atau jambu air aku merasa enggan. Ku pikir kenapa harus keluar uang untuk buah kaya gitu. Dulu semua bisa ku peroleh tanpa uang.

Selain itu ibuku juga memelihara ayam. Jadi kita sering makan telur ayam kampung. Cuma yang lucunya kalo ibuku memasak ayam hasil ternak, ayahku tidak mau memakannya. Jadi ibuku sempat protes “Kalo begitu buat apa pelihara ayam kalo tidak mau dimakan”.  Kami juga punya kucing dan memelihara anjing. Oh ya ada yang unik dari anjing dan kucingku ini. Biasanya kan anjing dan kucing tidak pernah akur kan. Tapi anjingku Brin-Brin dan kucingku Pixy bersahabat akrab. Mereka sering bergelut dan bercanda bersama. Tapi kalo Brin-Brin melihat kucing lain masuk rumah, sudah pasti dikejar. Dan ada satu ekor kucing tetangga yang tewas dengan sukses di moncong Brin-Brin. Bicara mengenai Pixy aku jadi ingat dengan kakakku Redh. Kakakku ini tidak suka dengan kucing itu. Padahal semua orang suka, karena Pixy itu cantik bulunya dan lucu tingkahnya. Hanya saja Pixy suka tidur di sofa dan meninggalkan bulunya yang rontok. Kakakku sebal, karena tugas dia untuk membersihkan sofa yang tercemar bulu Pixy. Jadi kadang kakakku memukul Pixy dengan sapu lidi. Mungkin karena Pixy jengkel dipukul kakakku lalu dia balas dendam. Tau ga Pixy pernah pipis disepatu kakakku dan menggigit sampai robek rok kakakku yang sedang digantung..hua..ha..ha.. kok Pixy tau ya yang mana milik kakakku…Animal instinc.

Tapi semua hal indah di rumah Pekanbaru itu hanya tinggal kenangan. Setelah Pekanbaru mengalami modernisasi, sepanjang jalan Riau yang tadinya penuh ditumbuhi pohon rambutan dan pohon karet berubah drastis menjadi ruko. Aku bersaudara dan teman-teman dulu terbiasa jalan kaki dari persimpangan jalan Riau menuju rumah. Jarak ini sebenarnya cukup jauh, tapi tidak terasa karena adanya pohon-pohon yang menaungi jalan, bahkan walau kita berjalan kaki disiang hari yang terik. Berbeda jauh dengan kondisi sekarang.Jalan Riau sangat padat lalu lintasnya, tidak adalagi pohon-pohon rambutan yang berbuah ranum dipinggir jalan menaungi pejalan kaki. Selain itu pembangunan di kota ini tidak memikirkan dengan baik soal drainage. Jadilah rumah ayahku di Pekanbaru ini sedikit kebanjiran jika hujan lebat. Lama-lama tanah menjadi sangat lembab dan akhirnya pohon-pohon di pekarangan rumah mati. Yang tumbuh dengan hijau hanyalah rumput. Jadi halaman belakang rumah sekarang kaya lapangan bola. Tinggal halaman depan yang masih ada tumbuhan. Masa jaya rambutan Tampan berakhir sudah. Rumah Pekanbaru juga sudah lama tidak memelihara hewan-hewan sejak munculnya berbagai penyakit yang ditularkan hewan, seperti toxoplasma dan flu burung.

Itulah kota kelahiranku, modern tapi sudah tidak senyaman dahulu lagi. Sekarang kota Pekanbaru juga macet. Padahal dulu jarak Rumbai-Pekanbaru bisa ditempuh dalam 10 menit (oleh ayahku). Ada cerita tersendiri soal perjalanan tiap pagi hari Rumbai-Pekanbaru. Ceritanya kami semua kan bersekolah di Rumbai masuk jam 7.15, begitu juga ayahku bekerja di Rumbai tapi masuknya lebih pagi yaitu jam 7.00. Di perusahaan Caltex ini peraturan sangat ketat, pegawai tidak  boleh terlambat. Nah ayahku itu sangat disiplin soal waktu masuk kerja, cuma soal waktu bangun tidurnya beliau kurang disiplin. Jadi biar kami berangkat jam berapa pun, pasti sampai di Rumbai jam 7.00 teng. Ayahku emang jagonya ngebut. Berangkat jam 6.30 maupun 6.50 hasilnya pasti jam 7.00 sampai Rumbai. Bakatnya ini menurun pada abangku Iid dan Nana adikku. Mereka jago ngebut. Kalo dididik dengan baik mungkin ayah, abangku dan adikku bisa jadi pembalap F1 yang handal..ha..ha..ha…Herannya bakat ini tak terlihat nyata padaku..kenapa ya?

Pekanbaru dan Rumbai dipisah oleh sebuah sungai yang bernama sungai Siak. Untuk menghubungkan Pekanbaru dan Rumbai ada dua jembatan yang sudah dibangun oleh pemkot Riau yaitu jembatan Siak I dan  jembatan Siak II. Jembatan Siak II relatif lebih baru dari Jembatan Siak I. Jembatan Siak I sudah ada sejak dari aku SD. Sebelum ada jembatan Siak I, Rumbai dan Pekanbaru dihubungkan oleh sebuah jembatan Ponton. Aku ingat sekali waktu masih kecil saat ayahku membawa kita raun-raun ke Pekanbaru, kita harus melewati jembatan Ponton yang terletak di Bom baru. Yang menarik dari jembatan Ponton adalah kalau kapal melewati sungai, maka jembatan Ponton akan terbelah dua dan mobil-mobil harus mengalah membiarkan kapal lewat. Sejak jembatan Siak I dibangun, pemandangan menarik ini juga hilang karena jembatan Ponton itu langsung dihancurkan. Sewaktu jembatan Siak I dibangun aku senang karena ke Pekanbaru tidak perlu pakai acara ngantri jembatan. Cuma sekarang ku pikir-pikir harusnya jembatan Ponton itu tidak dihancurkan ya, itu kan menarik juga untuk dilihat-lihat dan tidak semua manusia di muka bumi pernah melihat jembatan Ponton yang terbelah lalu melihat kapal melintasi sungai. Selain itu pencemaran sungai Siak juga tinggi. Di pinggir sungai Siak ada pabrik karet, pabrik karet ini sering mengeluarkan bau yang tidak sedap. Limbah di buang ke sungai, banyak ikan mati, kasian nelayan dan penduduk yang tinggal dibantaran sungai karena pencemaran ini. Ngomong-ngomong soal ikan, kalau aku pulang ke Pekanbaru, jika kita makan ikan pasti yang dimakan adalah ikan sungai. Ikan sungai itu enak, lebih enak daripada ikan laut, cuma harganya bow..mahal beeng. Ya ada harga, ada barang. Yang terkenal masakan orang Riau adalah gulai ikan patin. Ikan patin yang enak adalah ikan patin liar, kalau sudah hasil penangkaran biasanya kurang enak. Seorang temanku yang jago memasak pernah memberi tip kalo mau memasak ikan hasil penangkaran, baik ikan mas atau ikan patin, agar tidak terasa lumpur, maka sebelum dimasak ikan yang masih hidup dimasukkan ke dalam kolam bersih dulu sejenak. Tapi itu berarti kudu punya kolam di rumah dong..Susah juga untuk melaksanakan tip memasak tersebut. Weih karangan ini ga runtun banget ya, masak dari cerita jembatan trus aku cerita gulai ikan patin seh..

SEKIAN

LOGIKA LANGIT, REPUBLIK MIMPI

LOGIKA LANGIT, REPUBLIK MIMPI DAN

MUTIARA HIKMAH RAMADHAN

Ahad, 25 Ramadhan 1428 H

By: Hessy Zainal

PROLOG:

“Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Telah menciptakan manusia daripada segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. Yang mengajarkan dengan perantaraan kalam.. Yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tiada diketahuinya” (QS: Al-Alaq 1-5)]

“Bangunlah (untuk sembahyang) dimalam hari, kecuali sedikit daripadanya. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. (Tartil). Seungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat” (QS: Al- Muzzammil 1-5)

“Sesungguhnya usaha kamu bermacam-macam. Adapun orang yang memberi (hartanya di jalan Allah) danber taqwa. Dan membenarkan adanya kebajikan. Maka akan Kami mudahkan baginya jalan yang mudah” (QS: Al-Lail 4-7)

”Tahukah engkau, apakah kesulitan itu? Ialah memerdekan budak. Atau memberi makan pada hari kelaparan. Kepada anak yatim yang berkarib. Atau orang miskin yang telah tidur di tanah (sangat miskin). Kemudian ia (orang yang mengerjakan demikian itu) tergolong orang-orang yang beriman dan berwasiat dengan sabar dan berwasiat dengan berkasih sayang.Mereka itulah golongan kanan (ahli surga)” (QS: Al Balad 12-18)

”Katakanlah:”Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” (QS 39:9)

PENDAHULUAN

Kemarin Sabtu, 24 Ramadhan aku berkunjung ke rumah adikku yg terletak di Ps Minggu. Aku berkunjung ke rumah saudaraku biasanya jika liburku agak panjang dan pada saat itu aku tidak punya kerjaan yang harus segera diselesaikan atau tidak ada acara yang menarik. Nah akhir minggu kemarin ini karena acara buka bersama yang rencananya akan digelar seorang teman, batal dilaksanakan, maka aku mengundang diriku sendiri untuk buka bersama di rumah adikku. Ada 4 rumah yang dikarenakan status hukum mereka dan status hukumku (halah, emang gw residivis apa? J ) harus menerimaku baik secara terpaksa maupun tidak, karena scr hukum Islam aku berada dibawah perwalian mereka dan mereka wajib melindungiku. Tapi selama ini yang ku rasa belum ada dari 4 rumah tersebut yang merasa terpaksa menerimaku walau aku suka mendadak muncul di depan pintu rumah mereka tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Malah anak-anak mereka alias ponakan2ku sangat senang kalau aku berkunjung. Sepertinya aku adalah tante favorit mereka. Tante Idol kalo istilah Shanti si penyanyi. (Ge er dikit boleh dong). Apalagi Aji yang di Ps Minggu, kalau aku datang, maunya dia aku menginap di rumahnya. Kalo aku menginap 1 hari, masih ditawar harus 2 hari. Kalo sudah mau pulang, masih coba ditawar juga, pulangnya nanti sore aja. Kalo tawarannya tidak tembus, aku boleh pulang dengan cara sedikit ”menyuapnya”, agar dia tidak terlalu rewel sepeninggalku. Jumlah suap ini juga pake tawar-menawar..Ku pikir-pikir Aji ini cocok jadi businessman kelak kalau sudah besar. Kelas 2 SD aja, cukup alot tawar-menawar sama dia.

Nah ceritanya sholat Subuh tadi pagi, aku pergi sholat subuh dengan dikawal oleh Kiki dan Aji ke mesjid Pejaten. Selesai sholat subuh, ada kultum di mesjid tersebut. Walau ke dua pengawalku sudah datang menjemput di mulut tangga (mesjidnya terdiri dari dua lantai, perempuan di lt 2), aku kasi kode saja untuk tetap menunggu. Akhirnya pengawal yang bertahan Cuma Aji, sedang Kiki sudah kabur pulang.

Kultum pagi tadi itu berjudul ”Mutiara Hikmah Ramadhan”. Sungguh suatu judul yang indah, cuma sayang, mutiara yang disampaikan oleh ustadz gagal bersinar. Menurut hematku, ustadz gagal menggali harta karun orang islam yang hilang yaitu hikmah (kebetulan kali ini bahasannya adalah hikmah Ramadhan. Hikmah-hikmah lain yg belum ketemu masih banyak lagi ku rasa). Kenapa aku menilai demikian? Begini ceritanya……

Secara ringkas menurut ustadz ada 4 mutiara hikmah Ramadhan yi: 1) Qiyamul Lail 2) Sedekah 3) Baca Al-Qur’an 4) Lailatul Qadr. Yang sempat dibahas panjang lebar oleh ustadz adalah point 1 s/d 3, sedangkan yg ke 4, krn waktu sudah habis tidak dibahas. Oleh krn itu aku juga Cuma akan membahas 3 point tsb.

Qiyamul Lail

Qiyamul lail atau sholat malam adalah sholat sunnat yang diutamakan dan dianjurkan untuk diperbanyak di bulan suci ini. Dalam kaitannya ini ustadz mengajak umat untuk sholat berjamaah karena pahalanya 27x lipat atau 270% katanya. Terus ustadz juga cerita bagaimana gagah perkasanya pasukan islam sewaktu mengalahkan pasukan Romawi. Diceritakan bahwa pasukan Romawi yang terkenal gagah perkasa itu kucar-kacir sewaktu melawan tentara Islam. Sewaktu salah seorang prajurit ditanya, mengapa mereka lari, maka jawaban prajurit itu adalah: ”Pasukan islam itu hebat, pada malam hari mereka sholat, lalu mereka makan hanya seadanya dan jika ada tawanan, maka tawanan akan diperlakukan dengan baik dan penuh senyuman”. Jadi itulah kunci kemenangan Islam. Bahkan kata ustadz Hercules juga lari..Ha..ha..ha.. aku tertawa dalam hati. Bukannya Hercules itu cuma legenda? Dah gitu kalo aku ga salah legenda Yunani pula bukan Romawi. Karena aku ingat betul, Hercules itu manusia ½ dewa karena dia adalah anak dari Dewa Zeus, hasil perselingkuhan dengan wanita bumi. Selain itu dari buku-buku cerita dan film-film tentang Hercules yang ku tonton, musuh-musuh Hercules pastilah buatan Dewi Hera istri pertama Dewa Zeus yang benci sekali dengan anak tirinya itu. (Ternyata Dewa pun berpoligami dan bahkan seorang Dewi pun tidak bisa menerima hal tsb..hua..ha..ha..). Dan sama sekali tidak ada literature yg pernah ku baca Hercules melawan tentara Islam. Musuh2 Hercules biasanya BMB alias Bukan Makhluk Biasa atau Bukan Manusia Biasa, krn Hercules sendiri adalah BMB (Bukan Manusia Biasa). Atau ada buku cerita Hercules yg luput dari bacaanku?

Sedekah

Hal kedua yg diterangkan ustadz adalah mengenai sedekah. Ini yang paling parah menurutku dan perkataan ustadz ku jadikan judul artikel ini. Ustadz menyitir sebuah hadits yang mengatakan bahwa jika kita bersedekah maka kita akan diganjar sebanyak 700x. Aku juga sering mendengarkan hadist tsb. Untuk lebih menguatkan ganjaran 700x itu, ustadz pun menceritakan seseorang yang bersedekah, lalu dengan cepat secara tidak terduga orang tersebut mendapatkan uang berlipat ganda. Salah satunya juga karena menang undian. Pokoke ajaib banget de. ”Terbukti bukan, wahai bapak-bapak, ibu-ibu sekalian. Jika kita bersedekah, maka Allah akan segera membalasnya dengan berlipat ganda. Ini adalah Logika Langit!” Aku sampai terperangah mendengarnya. LOGIKA LANGIT? Bukannya kita ini makhluk bumi? Bukannya kata baginda Rasulullah SAW, kutinggalkan dua perkara yi: Al Qur’an dan Sunnahku, jikalau engkau mengikutinya maka engkau akan selamat”. Jadi menurut pendapatku pribadi apa-apa yang ada di Al-quran dan hadits itu seharusnya masuk akal dan menggunakan logika bumi. Masa logika langit sih? Kalo Al-Quran dan Hadits pake logika langit, berarti waktu nabi beserta para sahabat berhasil membuat negara Islam jadi sedemikian maju dan hebat, itu semua adalah Republik Mimpi dong. Dan mustahil zaman keemasan itu akan kembali, karena semuanya hanyalah mimpi belaka. Jadi gitu dong logikanya? Dan apa perkataan spt itu tidak berakibat fatal pada umat? Nanti jangan2 umat jadi lebih banyak bermimpi berharap keajaiban muncul untuk menyelesaikan masalah mereka,timbang berusaha keras untuk mewujudkan keajaiban itu menjadi nyata. Jangan-jangan emang spt itu, terbukti dari sinetron-sinetron religi, terlalu banyak menonjolkan aspek keajaiban yang tak masuk akal. Itulah yang jadi santapan sehari-hari umat, ternyata di masjid, santapannya juga sama.

Membaca Al-Quran

Seperti yang sudah bersama kita ketahui, banyak membaca Al-Quran juga disunnahkan pada bulan suci ini. Ustadz juga berkata demikian. Satu huruf akan memperoleh 10 kebaikan. Dan ustadz menanyakan apakah jamaah sudah mengkhatamkan Al-Qurannya. Ustadz bilang jika bisa khatam di bulan Ramadhan, pasti pada 11 bulan lainnya akan mudah mengkhatamkannya.

PEMBAHASAN

Dari sekian lama aku menjadi pemeluk Islam dan mendatangi berbagai pengajian serta ceramah, hanya sedikit kajian yang betul-betul merupakan kajian. Sedangkan sebagian besar  sisanya hanyalah sekedar membaca secara tekstual dari apa yang tertulis dalam Al-Quran dan hadits. Seharusnya kita tau, mengapa orang-orang tua kita dulu menyebut dengan kata mengaji sewaktu kita pergi belajar membaca Al-Quran. Karena yang diharapkan adalah semata-mata bukan belajar membacanya tapi juga menelaaah secara mendalam. Asal kata mengaji adalah kaji, dan kata itu lebih dari sekedar membaca. Diharapkan dari hasil kajian, kita akan mengetahui hikmah yang tersembunyi dari hal-hal yang kita baca. Kenapa aku sebut hal-hal dan bukan AlQuran? Karena pada dasarnya ayat-ayat Allah itu bertebaran di muka bumi, Al-Quran adalah sebagian dari ayat-ayat Allah yang harus kita baca.

Pada prolog ku tuliskan surat Al-Alaq 1-5. Surat itu adalah wahyu pertama yang diturunkan ke muka bumi. Kalau diartikan secara sederhana, berarti selama kita sudah pandai membaca al-quran berarti kita sudah mengamalkan ayat tsb. Padahal aku rasa tidaklah sesederhana itu. Menurutku  5 ayat tsb menyuruh kita untuk terus menerus belajar dan belajar, menelaah dan menelaah, berpikir dan berpikir sehingga pada akhirnya kita mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui melalui perantaraan Kalam Ilahi. Pada akhirnya diharapkan kita mampu untuk ”berkomunikasi” dengan Allah melalui ciptaanNya dan ilham yang diturunkan kedalam kalbu kita.

Lantas bagaimana cara mengaji al-quran yang benar? Jawabannya di surat Al-Muzzammil yang merupakan wahyu yang ke 3 turun. (Wahyu ke 2 adalah surat Al-Kalam, yang membela bahwa nabi bukan orang gila). Isi surat ini sungguh berat. (Gimana yg lain ya, padahal ini baru wahyu yang ke 3). Allah menyuruh kita bangun ditengah malam. Sebagian umat menafsirkan Allah menyuruh kita untuk sholat lail, ini terlihat ada dalam kurung. Tafsiran ini sah-sah saja. Tapi kalau kita mengaitkan dengan ayat ke 4 yang menyuruh baca Al-Quran, mungkin ayat 1 bisa ditafsirkan berbeda. Ayat pertama itu bisa ditafsirkan bangunlah dalam kegelapan untuk mencari pencerahan (melalui al-quran). Aku berpendapat ayat ini bukan menyuruh sholat, karena apa? Setau ku, perintah untuk sholat belum ada waktu ayat tsb turun. Jadi tafsiran untuk suruh sholat malam (sholat tahajut interpretasi kita selama ini), kurang tepat. (Gw pikir, gw belagu amat ya, nyalah2in tafsiran ulama, emang gw punya pendidikan apa dibidang tafsir? Ya beda pendapat kan ga dilarang asal niatnya baek). Lantas seharusnya kan wahyu 1, 2 dan 3 kudu nyambung. Masa lompat-lompat, wahyu pertama disuruh belajar, yang kedua Qalam (perkataan Ilahi) untuk menghibur nabi. Nah yang ketiga kudunya nyambung dong,tentunya masih terkait dengan perintah Iqra’. Dan sependek pengetahuanku surat-surat makiyah intinya menyuruh mentauhidkan Allah, belum ada ayat-ayat hukum. Perintaah ”bangun pada malam yang gelap” oleh Allah juga bisa dimaknai dengan perintah bangun atau bangkitlah dari kebodohan, dari kemiskinan dari kesulitan yang menghimpitmu.Kemiskinan, kebodohan, kesulitan adalah fase gelap pada kehidupan manusia. Surat Al-Muzammil artinya orang yang berselimut, selimut menandai adanya sesuatu yang menutupi. Singkirkan tabir penutup itu. Songsonglah hari yang lebih cerah, bangun potensi dirimu, bangun negaramu. Bagaimana cara bangkit dari segala hal yang buruk? Bacalah Al-Quran. Itu adalah tuntunan hidup. Kaji Al-Quran tersebut. Jangan tunggu keajaiban. Bangun..Bangkit … Usaha….

Kembali kepermasalahan cara mengaji al-quran yang benar. Jadi kalo menurut surat Al-Muzzammil ini, bangunlah seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu, bisa ditafsirkan mengajilah dalam kelompok yang jumlahnya 6 orang perkelompok atau kurang atau lebih. (Jika jam itu ada 12, jadi 1/2nya kan 6 tuh). Sistem ini dikenal dengan sistem Holaqoh. (kalau teroris juga pake sistem holaqoh, ada kantong-kantong yang berisi 5-7 orang per kantong. Tiap kantong belum tentu kenal. (Mungkin idenya dari tafsiran ayat ini juga). Kenapa harus dalam kelompok kecil? Karena kalo belajar dalam kelompok besar, transfer of knowledge kadang tidak merata. Ada murid yang luput dari perhatian mentor. (Ini pengalaman pribadi. Kalo aku mengajar di kelas yang mahasiswanya terlalu banyak, aku merasa begah, kesulitan menyampaikan materi, dan sulit untuk mengenali mereka satu persatu. Lalu antar mahasiswapun biasanya belum tentu mengenal di kelas yang besar itu. Jadi kelompok belajar yang kecil sangat baik dan efektif, karena disparitas intelektualpun jadi lebih sempit. Kalo mengaji orangnya terlalu banyak, lalu dg kapasitas berpikir yang sangat bervariasi, ini tentu sangat merepotkan. Kelompok kecil juga lebih mudah menjamin kontinuitas belajar.)

Terus mengaji itu harus tartil (ayat 4). Pada al-quran ku diterjemahkan perlahan-lahan. Tartil bisa diterjemahkan juga bacalah dengan benar. Benar bisa secara mahroj atau tajwid, ini kalo belajar membaca doang. Tapi bisa juga tartil berarti, bacalah dengan jelas. Jelas maknanya tentu maksud tartil tsb. Mentor yang mengajar harus memastikan bahwa para peserta didik paham dengan makna ayat, bukan sekedar membaca apa yang tersurat, melainkan juga dapat membaca apa yang tersirat pada ayat tersebut. Jadi menurut hematku bukan disuruh baca sampai khatam. Wong memahami 1 ayat aja susah dan lama gimana mau khatam. Makanya pahala ”membaca” 1 ayat itu besar. Karena memahami saja sudah susah, belum lagi tugas melaksanakannya. Memang para sahabat ada yang khatam al-quran dalam sehari, bahkan ada yang khatam 3x dalam sehari. Ya iyalah..itu kan sahabat, trus al-quran itu dalam bahasa mereka pula, terus pemahaman dia kan langsung dari nabi, jadi wajar bisa khatam. Gurunya langsung, ga kaya kita yang pake sistem MLM (Multi Level Mengaji). Saking multi levelnya, turun temurun kadang dah jadi ga jelas isi kajiannya. Trus kenapa mengaji al-quran harus tartil, karena memang isi al-quran itu berat. Jadi harus perlahan-lahan bacanya. Dan ku pikir-pikir sampai kita mati kita tidak akan pernah bisa khatam ”membaca” al-quran. Belum lagi al-quran yang bertebaran di muka bumi ini.

Kemudian tentang Qiyamul Lail dan perang dengan tentara Romawi. Beginilah tafsiran kalo ustadz menggunakan logika langit. Seharusnyakan ustadz itu menggali lebih jauh, mengapa dengan sholat tahajud, makan secukupnya dan bersikap ramah terhadap tawanan bisa membuat gentar hati lawan. Wong kenyataannya zaman sekarang  yang rajin sholat tahajud, rajin naik haji, umroh tapi justru merekalah para musuh rakyat. Sementara orang-orang yang tidak sholat, tidak puasa,  pada kenyataannya lebih islami cara hidupnya. Negara Finlandia sebagai contoh, mayoritas umat disana adalah nasrani. Tapi tingkat korupsi, tingkat polusi udara paling rendah sedunia. Dari hasil survey Helsinki, ibu kota Finlandia, adalah kota ternyaman untuk dihuni.  Warga negaranya tidak hidup berlebihan, sewajarnya saja. Tidak ada mobil mewah yang berseliweran spt di Jakarta yang notabene orang miskinnya juga banyak. Ternyata karena pemerintahan yang bersih  dan rakyat yang teratur, warga negara di Finlandia tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Tidak seperti negeri kita ini, sudah banting tulang, hutang masih menumpuk, keluarga tetap kelaparan, anak tetap tidak bisa sekolah. Padahal mesjid dimana-mana, yang sholat jumat banyak, yang mengadakan i’tikaf di mesjid-mesjid juga banyak. Yang sholat tahajud ku rasa banyak juga. Tapi mana hasil sujud itu?

Karena interpretasi itulah. Ku pikir kemenangan tentara Islam melawan tentara Romawi itu karena karakter pasukan yang sudah terbentuk dengan baik. Qiyamul lail adalah sholat yang sulit dilakukan karena dilakukan pada saat kita sedang mengantuk. Orang yang mampu melakukannya berarti orang yang mampu melawan sifat-sifat lemah dan hawa nafsu dalam dirinya. Bisa dikatakan orang itu gigih dalam berjuang mencapai cita-citanya. Cuma zaman sekarang, gigihnya jadi berbeda, ada yang gigih korupsi, ada yang gigih mengejar jabatan, padahal rajin tahajud. Krn sebatas itulah pemahaman tahajudnya. Dan pada masa perang itu, Qiyamul lail dilaksanakan secara berjamaah. Berarti membentuk rasa kesatuan pada pasukan Islam. Mereka akan saling mendukung satu sama lain, dan mereka saling percaya satu sama lain. Nah kalo umat islam sekarang spt itu kan bagus.

Terus makan secukupnya, berarti sikap hidup yang sederhana, tidak berlebih-lebihan. Dan ramah terhadap tawanan berarti sebuah sikap sopan santun tanpa pandang bulu dan strata sosial. Jadi kalo seorang umat Islam, jadi tukang jual, kudunya harus ramah, sopan pada pelanggan, jangan liat apa ini orang kaya atau miskin, trus baru dilayani. Kalo kita santun dan ramah pada setiap orang, orang kan jadi senang sama kita, urusan jd bisa lebih lancar. Nah kalo begini tafsirannya, kan jauh lebih membumi. Apa-apa yang dilakukan secara teratur, secara terorganisir, dan dengan keteguhan hati, saling bahu-membahu, saling percaya satu sama lain, tentu hasilnya akan lebih baik.

Terakhir soal sedekah dengan 1000 keajaiban. Makna shodaqoh yang sebenarnya adalah membenarkan. Perhatikan surat Al-Lail ayat 6 yang bunyinya: Washodaqo bil husna (Dan membenarkan adanya kebajikan). Jadi shodaqoh itu bukan berarti semata-mata berderma. Setiap kebajikan adalah shodaqoh. Senyum adalah shodaqoh, mengambil paku dijalan adalah shodaqoh, menyiram bunga adalah shodaqoh, memberi makan kucing tetangga adalah shodaqoh. Setiap kita melakukan amal kebajikan berarti kita telah membenarkan ayat-ayat Allah.

Aku pernah membaca suatu hadits bahwa sedekah mencegah bencana. Setelah ku pikir-pikir lagi betul juga ayat itu. Kalau semua orang melakukan shodaqoh, dalam artian melakukan amal kebajikan yang berarti membenarkan semua perkataan Allah beserta rasulnya, maka banyak bencana yg mungkin bisa dihindari. Bencana kelaparan, bencana kemiskinan, bencana kebodohan, bencana moral dlsb. Tapi apa yang terjadi sekarang? Shodaqoh diartikan berderma pada fakir miskin. Fakir miskin paham benar ayat yang menyatakan ”bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin”. Yang terjadi menjelang puasa dan idul fitri gepeng (gembel dan pengemis) makin banyak. Malah gepeng dijadikan profesi dan ironisnya sebagian besar mereka islam, malah kadang berkedok minta sumbangan untuk pembangunan mesjid. Yang terjadi adalah bencana dekadensi moral dan akhlak umat. Bencana kebodohan. Bencana kemalasan. Umat tidak malu jadi pengemis. Ya iyalah mending mengemis timbang mati kelaparankan. Salah siapa ini? Jelas salah kita-kita yang berpendidikan, salah ulama, salah pemimpin negri. Kenapa ayat ”bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin”, yang nyantol dibenak kaum duafa itu, mengapa bukan ”tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”.

Mengapa ku bilang salah orang yang berpendidikan? Karena tugas orang yang lebih tau untuk memberi tau. Orang2 Islam yang berpendidikan gagal mengamalkan wahyu pertama, surat Al-Alaq 1-5. Surat itu ruhnya menyuruh kita untuk belajar dan memberikan pelajaran atau memberikan pendidikan pada orang lain yang tidak terdidik. Awalnya kan Allah mendidik Rasul, trus Rasul mendidik umat, terus kudunya umat yang sudah terdidik, mendidik yang belum terdidik begitu seterusnya. Trus mungkin kita akan berkilah dengan mengatakan bahwa orang-orang miskin itu malas, tidak mau merubah nasibnya. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia adalah kemiskinan struktural. Mungkin benar mereka malas, tapi mungkin itu disebabkan mereka bodoh. Sekarang bagaimana supaya tidak bodoh, mereka harus dididik. Kalo mau sekolah sekarang butuh uang, mereka tidak punya uang itu. Untuk makan aja susah gimana mau sekolah? Terus bagaimana caranya memutuskan rantai kemiskinan ini? Untuk itulah ada mekanisme zakat dalam Islam. Cuma sayangnya zakat ini pun kenyataannya belum menunjukkan hasil nyata untuk memberantas kemiskinan.

Zakat ada dua jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat maal. Zakat maal terbagi lagi. Setiap jenis zakat ada aturan mainnya. Allah mengatur sedemikian rupa zakat ini. Zakat diwajibkan pada umat muslim karena Allah tidak suka dengan sistem kapitalis dimana modal hanya bertumpuk pada golongan tertentu. Sistem kapitalis menutup akses orang-orang miskin terhadap faktor-faktor ekonomi. Oleh karena itu ada ayat diatas yang menyatakan ”bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak orang miskin”. Tapi pemberian akses pada faktor-faktor perekonomian dengan menekankan pada faktor permodalan (yg berasal dari zakat) tidak otomatis akan merubah nasib orang miskin. Mereka kudu mau usaha juga. Untuk merangsang mereka mau usaha, maka dibilanglah: ”tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah”. Cuma sekarang kok jadi begini umat islam di negeri kita. Sama sekali tidak merasa hina menadahkan tangan. Negara ini juga, tidak malu-malu minta bantuan dari luar negeri. Selalu beranggapan yang berasal dari luar negeri pasti bagus. Katanya itu ciri khas manusia Indonesia kan ya?

Pada zaman nabi dan kekhalifaan khulafaur rasyidin ada yang namanya Baitul Maal. Lembaga inilah yang mengurusi zakat harta orang-orang kaya. Seperti departemen pajak zaman sekaranglah kira-kira. Fungsi zakat sebenarnya untuk menggerakkan perekonomian sebuah negara. Pada prinsipnya Islam tidak suka dengan orang-orang yang menumpuk harta. Oleh karena itu kita liat, harta yang disimpan, tidak disertakan dalam usaha, kena zakat lebih tinggi. Emas mengendap kena zakat lebih tinggi. Tapi kalau emas itu dijadikan modal usaha, malah tidak kena zakat, karena dengan membuka usaha berarti membuka peluang kerja, perekonomian bergerak, islam menghargai hal tsb, yang kena hanyalah laba usaha. Perekonomian bergerak, dampaknya berantai, multiplier effect istilah ekonominya. Kemiskinan berkurang, anak-anak bisa sekolah, kebodohan berkurang dstnya. (Jadi benar kalo bershodaqoh pahalanya 700x lipat. Maksudnya multiplier effect yang tercipta itu loh). Trus dimana letak salahnya negeri ini? Pajak sudah, zakat kayanya banyak tu yang bayar zakat. Tapi yang miskin tetap banyak, dan orang Islam pula. Sedang zaman nabi dan para sahabat, kemiskinan bisa ditekan melalui mekanisme zakat ini. Kupikir ada bbrp hal yang menyebabkan zakat gagal memutuskan rantai kemiskinann: 1) Zakat dilakukan scr sporadis tidak terorganisir. 2) Kalaupun ada yang bersedia mengorganisir, masih banyak muzakki yang meragukan kejujuran lembaga, 3) Penyaluran zakat oleh organisasi yang mungkin terlalu banyak birokrasi, membuat mustahik sulit kebagian haknya.

Coba ya tiap mesjid mengorganisir zakat dengan baik. Lalu zakat itu dijadikan modal usaha. Terus setiap yang menerima zakat (mustahik) juga bertanggungjawab terhadap modal yang dia terima. Jadi ada mekanisme tanggungjawab (responsibility) dan tanggunggugatnya (accountability) antara yang memberi dan yang menerima. Ya tentu saja dalam berusaha mustahik tak bisa dilepas, mereka harus didampingi, harus dididik terus menerus. Sebenarnya sistem ini adalah sistem yang digunakan dalam penyaluran kredit UKM, cuma alangkah lebih baiknya apabila zakat kita juga dikelola spt kredit UKM itu. Mana kan tidak perlu dikembalikan. Cuma kadang kita sebagai penganut islam tradisional (termasuk saya) seringkali merasa tidak afdol kalau tidak memberikan langsung zakat kepada mustahik, suka bertindak sendiri-sendiri, tidak mau berjamaah. Yang terjadi bukanlah proses pendidikan, proses pemutusan rantai kemiskinan, malah zakat berakhir di septic tank dan roda kemiskinan terus berlanjut.

PENUTUP

”Tahukah engkau, apakah kesulitan itu? Ialah memerdekan budak. Atau memberi makan pada hari kelaparan. Kepada anak yatim yang berkarib. Atau orang miskin yang telah tidur di tanah (sangat miskin). Kemudian ia (orang yang mengerjakan demikian itu) tergolong orang-orang yang beriman dan berwasiat dengan sabar dan berwasiat dengan berkasih sayang.Mereka itulah golongan kanan (ahli surga)” (QS: Al Balad 12-18).

Sungguh al-quran adalah sebuah perkataan yang berat. Sebenarnya bukan memberi makan orang miskin itu yang susah (Cuma ngasi makan 1x, berbuka bersama kayanya ga susah-susah amat kan?). Yang susah adalah menjamin bahwa mereka akan tidak akan pernah kelaparan lagi, memerdekan mereka dari kemisikinan, memerdekakan mereka dari kebodohan, memerdekakan mereka dari orang-orang yang ”memperbudak” mereka akibat kebodohan dan kemiskinan mereka. Dan itu adalah misi Islam dimuka bumi, rahmatan lil alamin. Dan misi ini hanya bisa diemban oleh orang-orang berakal yang menggunakan logika bumi bukan logika langit. AYO BANGUN, AYO BANGKIT JANGAN HANYA MENUNGGU KEAJAIBAN DATANG. KEAJAIBAN ITU HARUS KITA CIPTAKAN.

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri  (QS Ar-Ra’d 11)

SHOLAT: SEBUAH TAFSIRAN GAYA BEBAS

SHOLAT: SEBUAH TAFSIRAN

GAYA

BEBAS

Khomsa, 15 Ramadhan 1428H

Created by : Hessy Zainal

PROLOG

Salah satu hobi yang ku sukai adalah berenang. Berenang membuatku merasa riang bagaikan ikan di lautan. Apalagi kalau berenang di laut beneran yang ikan-ikan dan terumbu karangnya cantik alias snorkeling, aku lebih merasa senang lagi. Gaya berenang ada macam-macam, yi:gaya dada,gaya bebas,gaya punggung dan gaya kupu-kupu.Gaya yang ku kuasai dengan baik adalah gaya dada alias gaya kodok,gaya kupu-kupu agak lumayan,sedang gaya bebas dan gaya punggung aku tidak terlalu bisa,aku masih kesulitan cara mengambil nafasnya.Masing-masing gaya punya kelebihan,gaya dada kelebihannya kita tidak terlalu capek berenang,cuma lama nyampe ke titik finish,kalo gaya dada,bisa cepat sampai ke titik finish,tapi capek bo.Sedang gaya punggung sebenarnya bisa asik asal bisa tengadah terus,tapi kalo ga bisa,hidung bisa kemasukan air,terus muka jadi hitam karena langsung terpapar matahari.Gaya kupu-kupu lumayan juga sebenarnya,aku suka juga gaya ini, cuma agak capek juga berenang gaya ini dan berisik.

Itu sedikit cerita tentang hobiku, kali ini aku mau menulis tentang sholat dengan tafsiran

gaya

bebas. Kalo berpikir aku suka memakai

gaya

bebas, sebebas burung camar di langit dan seriang ikan-ikan di lautan. Walau bebas dan riang dalam berpikir, aku tetap berusaha menggunakan

gaya

dada alias menggunakan hati/qalbu  alias nurani dalam menuliskan pikiran-pikiran nyeleneh tersebut. Mudah-mudahan pikiran ini tidak terlalu melenceng dari koridor-koridor yang ada. Insya Allah…amin

PENDAHULUAN

Pada bulan Ramadhan ini kita sebagai umat muslim biasanya menjadi lebih rajin sholat, bukan hanya sholat wajib tapi juga sholat sunat dan berusaha melakukan sholat secara berjamaah. Tujuan kita rata-rata adalah mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya dibulan yang penuh barokah ini. Ibaratnya Allah sedang menjamu kita dengan hidangan yang maha lezat, masa mau disia-siakan. Para ustadz dan ustadzah di TV , radio, koran juga selalu mendengung-dengungkan pahala yang belipat ganda jika kita melakukan amal kebaikan dibulan suci ini.  Lama-lama aku berpikir, apakah sesederhana itu amalan-amalan kita, tak lain tak bukan hanya mengumpulkan pahala? Jika hanya berlomba-lomba mengumpulkan pahala dari amalan ritual, apa kita jadinya tidak sama dengan anak-anak dan ponakan-ponakan kita yang masih kecil, yang kita iming-imingi dengan hadiah jika puasa mereka penuh, tanpa batal satu haripun di bulan suci ini? Lalu timbul juga berbagai pertanyaan di benakku ini. Aku bertanya dalam hati, mengapa Allah sangat mengutamakan sholat berjamaah? Mengapa Rasul benci dengan para lelaki yang malas sholat berjamaah, sampai-sampai ingin membakar rumah mereka? Mengapa sholat rakaatnya berbeda-beda?  Mengapa sholat ada waktu-waktu tertentu dan kudu dilaksanakan tepat waktu? Mengapa sholat itu banyak sekali gayanya, ada gaya sholat selagi sehat (ini cuma satu gaya, tapi ada varian mazhab), ada gaya sholat sewaktu dalam ketakutan (kalo tidak salah ada 3 gaya), ada lagi cara sholat jika kita sedang sakit..terus mengapa sebelum sholat harus berwudhu, mengapa harus ada adzan? Mengapa Allah mengatur begitu detail cara untuk menyembahnya. Bukankah sebenarnya Allah itu Maha Besar, Maha Kuat, Maha Segalanya, Dia tidak butuh sholat kita, tidak butuh puasa kita, bahkan Dia tidak butuh kita sama sekali. Jadi sebenarnya kita mau menyembah dia dengan cara apapun sebenarnya tidak masalah kan? Tapi mengapa Dia mengaturnya sedemikian rupa dan harus ditaati pula, kalau tidak, sholat tidak sah. Itulah kira-kira pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar dibenakku. Terus aku mencoba menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu, soalnya kalo ku tanyakan pada orang lain, apalagi kalo sama ustadz, jangan-jangan aku dianggap orang aneh..(Seaneh-anehnya gw, gw ogah lagi dianggap aneh, lagi kan zikir dan pikir itu disuruh sama Allah. Dan bertanya sebenarnya kan menandakan kita berpikir, cuma tidak semua orang bisa menerima jalan pikiran yang agak menyimpang)

SHOLAT vs STRATEGI PERANG vs STRATEGI BISNIS

Melihat tata cara sholat kita aku berpikir sebenarnya terkandung filofi dahsyat didalamnya yang ingin disampaikan Allah kepada umat Muhammad. Jika kita perhatikan ada tata cara tertentu yang harus kita patuhi dalam melakukan sholat. Dimulai dengan adzan, berwudhu, baru kemudian kita sholat. Tatacara sholat berjamaah juga di atur, harus ada yang bertindak sebagai imam, dimana imam punya syarat-syarat tertentu, kemudian makmum. Susunan shaff pun ada caranya, laki-laki di depan, perempuan di belakang. Shaff pun harus rapat, bahu bertemu bahu, mata kaki bertemu mata kaki. Aku melihatnya sebenarnya beginilah caranya kalau kita ingin berhasil dalam berbisnis atau bernegara atau berumah tangga. Jika kita memahami filosofi sholat kita bisa sukses dalam hidup ini. Jika semua umat muslim memahami filosofi sholat, islam sebagai rahmat sekalian alam itu pasti terwujud. Jangan-jangan mengapa umat islam tidak maju-maju sekarang ini, karena kita masih memaknai sholat sebatas ibadah ritual semata, sehingga tidak terejawantahkan dalam perilaku hidup kita sehari-hari, maka jadilah kita orang yang merugi walau kita sholat. Mari kita kupas satu per satu.

Waktu Sholat.

Sholat wajib tidak bisa seenaknya kita lakukan, ada waktu-waktunya. Tafsiranku ”timing” itu sangat penting dalam berperang atau berbinis. (Sun Tzu mengatakan berbisnis itu ibarat berperang). Jika timing salah, maka bisa kalah perang atau kalah dalam berbisnis. Sholat ada 5 waktu. Sholat subuh dilaksanakan sebelum matahari terbit. Matahari melambangkan dimulainya aktifitas manusia, tapi sholat subuh dilaksanakan sebelum matahari terbit. Berarti, Allah menginginkan agar umat muslim bergerak (memulai bisnis atau usaha apapun) sebelum umat lain bergerak, alias curi start. Bilangan rakaat cuma 2, enteng kan. Biar cuma 2, faktanya sholat subuh paling banyak ditinggalkan orang, karena masih ngantuk. Jadi dengan kata lain, memulai sesuatu yang orang lain belum melakukannya memanglah sulit, dan Allah menyuruh cuma 2, mungkin maksudnya, untuk langkah awal, boleh lah dimulai dengan usaha yang ringan. Zuhur dan Ashar bilangan rakaat ada 4. Cukup banyak rakaatnya. Siang dan sore melambangkan usaha yang kita lakukan sedang hot-hotnya (waktu zuhur dan ashar itu kan matahari lagi terang-terangnya toh?, makanya angek alias hot). Di siang hari, banyak orang sudah berusaha juga, sebagaimana kita berusaha, agar berhasil, kita harus berusaha lebih keras, ga bisa nyante-nyante kalau tidak mau kesalib. Magrib dilaksanakan setelah ufuk jingga merekah  di langit biru. Kalo puasanya saatnya kita berbuka. Tafsirannya, usaha kita sudah mulai keliatan hasilnya, boleh lah kita sedikit menikmatinya dan mengurangi sedikit ritme kerja kita.. Trus sholat isha, 4 rakaat lagi. Isha dilaksanakan saat hari telah gelap gulita. Gelap gulita perlambang buruk dalam bisnis, tiada cahaya, agar tetap survive kita harus berusaha keras kembali agar fajar muncul kembali dan matahari menyinari bisnis kita. Terbukti, setelah usaha keras malam hari, besok kita sholat subuh kan, fajar melingkupi rumah tangga kita, perusahaan kita, dan negara kita. Selalu ada harapan apabila kita mau berupaya.

Terus sholat juga diminta dilakukan pada awal waktu. Untuk soal waktu  Allah bahkan sampai bersumpah dalam surat Al-Ashr yg bunyinya: Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi (QS 103:1-2).  Lalu ayat ini ku kaitkan dengan surat Al-Maun yang bunyinya: Maka celakalah orang yang sholat. Yang mereka lalai dalam sholatnya. (QS 107:4-5). Disini Allah berbicara soal waktu. Implisit tersirat bahwa ”time is money”. Jika dalam berperang atau berbisnis, salah perhitungan waktu, kita bisa kalah besar atau rugi besar. Jadi walau kita sudah usaha (sholat) tapi terlambat memulainya (lalai) kadang usaha itu bisa menjadi sia-sia, karena orang dah mulai duluan. Alias rejekinya dah dipatok ayam duluan. Dalam berperang, musuh dah bergerak duluan, kita masih berleha-leha, pas kita bergerak, musuh sudah ada di depan benteng kita, matilah kita semuanya. Jadi umat muslim itu kudunya disiplin dengan waktu. Kira-kira begitulah tafsiran gaya bebasku mengenai waktu sholat.

Wudhu

Sebelum sholat kita wajib berwudhu, mengapa harus berwudhu? Wudhu ada tatacaranya, dimulai dengan muka, tangan hingga siku, rambut, telinga, kemudian kaki. Mungkin makna wudhu ini adalah sbb: Pertama membasuh muka. Muka adalah cerminan hati. Jika kita sedih atau gembira akan tercermin pada air muka kita. Makanya muka harus di basuh, Allah ingin kita membasuh hati kita pada saat kita memulai sesuatu apakah itu bisnis atau mengatur negara. Bersihkan hati dari hal-hal yang mengganggu niat kita untuk berusaha, mantapkan hati untuk mulai berusaha. Kemudian kita mulai membasuh kedua lengan kita. Maknanya, kita sudah mau mulai berusaha neh, jadi kudu singsingkan lengan, siap-siaplah untuk mulai bekerja keras dengan cara yang bersih, dengan cara yang halal. Selanjutnya rambut kita basuh juga, maknanya, untuk memulai suatu usaha, mulailah untuk berfikir jernih, apa yang harus kita lakukan, bagaimana cara melakukannya, apa strateginya dst..Trus kita membasuh kedua telinga kita. Maknanya: untuk memulai suatu usaha banyak-banyaklah mendengar, memperhatikan, sebagai bahan pertimbangan, tapi pastikan mendengar yang baik-baik saja, hal-hal yang mengganggu, yang mematahkan semangat untuk berusaha tak perlu didengar. Terakhir kita membasuh kedua kaki kita. Ini berarti kita sudah siap untuk melangkah, siap untuk memulai usaha tentu saja usaha yang halal, makanya kaki dibasuh. Jangan sampai salah dalam melangkah.

Adzan

Soal adzan sudah pernah ku bahas dalam artikel ”Kepergian, Leadeship, sholat”. Silakan baca disana

Sholat Berjamaah

Sholat berjamaah sebagian juga sudah ku bahas dalam artikel ”Kepergian, Leadeship, sholat”. Tapi ada beberapa hal lain yang ingin ku tafsirkan lagi.

Pertama: soal hadits nabi. Ada dua hadist nabi yang kutau mengenai sholat berjamaah ini yang mengatakan: bahwa nabi sangat membenci laki-laki yang tidak mau sholat berjamaah, hampir-hampir nabi membakar rumah para lelaki yang malas tersebut. Kedua sebaik-baik sholat wanita adalah di rumahnya. Bunyi haditsnya kira-kira begini: sesungguhnya teras rumahnya lebih baik dari masjidku, tengah rumahnya lebih baik dari terasnya, kamarnya lebih baik dari tengah rumahnya. (Pembaca yang budiman, kalo bunyi haditsnya salah-salah dikit maklum ajalah ya, soalnya aku tak punya buku kumpulan hadits. Yang ku punya Quran doang. Lagian ini kan ku dengar dari pengajian, jadi aku tak punyalah bukunya).

Aku ingin memaknai ulang ke dua hadits tersebut. Menurut hematku laki-laki dan perempuan dalam hadits tersebut merujuk kepada sifat bukan arti harafiah fisik. Jadi laki-laki maknanya adalah orang yang kuat, wanita menunjukkan orang yang lemah. Terkait dengan makna sholat sebagai miniatur berperang atau berusaha, maka tidak heran nabi benci pada orang yang kuat tapi tidak mau ikut dalam peperangan. Dimana-mana peperangan dilakukan dalam kelompok, untuk menang dalam berperang, kita harus menggalang kekuatan. Tidak bisa sendiri-sendiri. Begitu juga dalam berusaha, usaha bisa berhasil, kalau kita berhasil menggalang orang-orang yang ahli dalam bidangnya sehingga bisa timbul synergi, ibaratnya energi yang dahsyat yang muncul akibat fusi partikel (halah, ini mo ngomong fisika atau apa ini. Tapi kan dalam penciptaan langit bumi terdapat ayat-ayat Allah). Jadi orang-orang yang ahli, jika sendirian dia hanyalah partikel, mempunyai energi tapi tidak dahsyat dampaknya (kalau orang nasrani bilang, domba yang hilang. Cuma aku ga suka dianggap domba, masalahnya domba kalo dikumpulkan berarti sebentar lagi mau idul adha).

Trus mengapa perempuan malah lebih utama untuk sholat di rumah? Karena perempuan ku tafsirkan sebagai sifat lemah, jadi nyambung dengan penjelasan di atas. Orang-orang yang lemah, yang tidak punya skill apa-apa ibaratnya adalah partikel penganggu yang bisa mengurangi kedahsyatan energi fusi. Oleh karena itu mereka harus di pilah, disembunyikan. Lagian jika orang ga punya keahlian berperang disuruh berperang, itu namanya kan bunuh diri. Bunuh diri haram lagi hukumnya. Selain itu, jika orang lemah ikut berperang, nanti malah jadi titik lemah pasukan secara keseluruhan, jadi selain mikirin musuh, kudu mikirin orang bego..Banyak kali yang harus dipikirkan. Bisa kalahlah kita. Begitu juga, orang yang tidak punya skill apa-apa dalam berbisnis, trus kita modalin, yang ada usaha bangkrut, modal lenyap, trus berantem karena merasa dirugikan. Runyamkan. Mengenai strata, teras, tengah rumah, dan kamar, aku menafsirkan, makin bego tu orang, makin dalam dia harus disembunyikan. Karena dia adalah titik lemah pasukan, jangan sampai pasukan mengenali kelemahan tersebut. Tapi di rumah mereka kudu belajar. Bukankah wanita adalah tiang negara. Kalau wanitanya sholeh, negaranya kuat. Jadi tak mungkinlah kita menyembunyikan wanita, karena berarti menyembunyikan tiang. Jadi makna kalimat tersebut, tetap ada orang yang berkewajiban melatih, mengajari orang-orang lemah yang disembunyikan di rumah, sehingga setelah lulus mereka bisa diberdayakan. Jadi wanita adalah tiang negara, melalui proses mendidik pasukan di rumah.

Kedua: soal baris (shaff dalam sholat. (Soal imam dalam sholat sudah pernah ku bahas dalam artikel sebelumnya, jadi tak ku bahas lagi di sini) Terkait dengan shaff, ada hadits yang ku ingat, yang bunyinya: sebaik-baiknya shaff pria adalah  paling depan dan seburuk-buruknya shaff pria adalah paling belakang. Sedang sebaik-baik shaff wanita adalah paling belakang dan seburuk-buruknya adalah paling depan. Ku liat ada sinkronisasi hadits ini dengan 2 hadist sebelumnya. Mungkin maknanya seperti ini, jika keadaan darurat, kurang pasukan, orang lemah boleh ikut berperang / berbisnis. Tapi tetap yang paling kuat harus di depan dan yang paling lemah ditaruh di posisi paling buncit. Jika keadaan terbalik anda bisa bayangkan sendiri

kan

. (Jadi pls dong, jangan diartikan secara harafiah, masalahnya kalau semua laki-laki mau sholat paling depan, sementara shaff paling depan

kan

cuma 1 shaff. Trus kalo perempuan kudu sholat di shaff paling belakang, ga khusu’ lagi. Banyak anak-anak yang main-main sholatnya. Belum lagi kalo mikrofon mati, komando ustad di depan ga kedengaran..)

Selanjutnya, dalam tatacara shaff  sholat, diwajibkan untuk merapatkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki. (Ini susah kali dilaksanakan makmum wanita. Aku pernah merapatkan kakiku ke kaki jamaah disebelahku, eh dia malah bergeser. Sewaktu hal ini ku ceritakan ke ibuku, ibuku bilang “Ndak usah kaya gitu kalilah, yang penting dekat saja.” Ku pikir ibuku bijaksana juga ya. Akhirnya aku sekarang cuma mendekat saja, tidak sampai kaki ku bersentuhan dengan jamaah di sebelahku). Shaff yang tidak rapat membuat shaff putus dan jatuhnya menjadi sholat sendiri. (Ini juga tidak begitu dipahami banyak ibu-ibu di mushola dekat rumahku. Kalo sholat, suka bawa sajadah gede-gede, trus kadang suka sholat jarang-jarang. Soalnya kalo dempet-dempet panas kali ya). Sebenarnya  makna shaff  harus rapat itu

kan

, sama seperti dalam perang, yaitu merapatkan barisan. Bahu ketemu bahu, berarti dalam berperang atau berusaha, kita harus saling bahu membahu, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Kaki bersentuhan maknanya, seragamkan, samakan langkah. Dalam melakukan perang, berusaha, langkah yang diambil harus seirama, terkoordinasi, sesuai komando imam (panglima perang atau CEO perusahaan). Kalo ada shaff putus, artinya sama dengan berantakannya barisan pasukan, sama dengan tidak terkoordinasinya gerak langkah perusahaan dalam berusaha, yang nantinya akan memudahkan musuh / pesaing untuk menyerang.

Ketiga: Sholat menghadap kiblat. Kiblat kita cuma satu, yaitu menghadap ke ka’bah. Sebenarnya ka’bah hanyalah symbol, pada dasarnya sholat itu

kan

menghadap Allah, dan Allah ada dimana-mana. Tapi mengapa Allah mensyaratkan demikian? Tafsiranku, Allah ingin bilang kalau mau mulai berperang, mulai berusaha, kudu konsentrasi. Pikiran jangan bercabang-cabang, fokuslah pada satu titik, pada satu tujuan.

Keempat: tuma’ninah dalam sholat. Salah satu rukun sholat adalah tuma’ninah. Tuma’ninah artinya diam sejenak. Artinya sholat tidak boleh dilakukan terburu-buru ada jedda sesaat setelah melakukan gerakan. Aku menafsirkan gerakan-gerakan ruku, sujud, duduk antara dua sujud adalah gerak langkah atau upaya yang kita lakukan dalam berperang atau berusaha. Berarti dalam setiap gerak langkah dalam rangka berupaya, hendaknyalah tidak dilakukan secara terburu-buru (tuma’ninah). Lakukan dengan khidmat, dengan khusu’ dan tenang. Karena sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru biasanya hasilnya tidak baik.

Kelima: mengenai salam setelah tahyat akhir dan (bersalam-salaman). Pada penghujung sholat selalu dilakukan salam kekanan dan kekiri dengan mengucapkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Itu adalah sebuah doa keselamatan dan kesejahteraan yang kita ucapkan untuk orang lain. Aku memaknainya, bagaimanapun kita berusaha keras, bagaimanapun kita berbisnis, untung yang kita peroleh bukan milik kita pribadi, tetaplah akhirnya usaha tersebut harus memberikan manfaat, kesejahteraan pada orang-orang disekitar / dilingkungan kita. Hal ini mungkin terkait dengan corporate social responsibility yang lagi trendy saat ini. Sebenarnya islam sudah lama memperhatikan hal tersebut. Terbukti dengan ayat yang mengatakan bahwa Islam diturunkan untuk menjadi rahmat sekalian alam. Jadi hendaklah sholat (semua upaya dalam hidup) kita mempunyai dampak positif bagi orang sekitar kita. Bagaimana caranya? Banyak… salah satunya adalah memperhatikan orang-orang yang tidak punya akses kepada sumber daya ekonomi yaitu anak yatim dan orang miskin. (Ingat surat Al-Maun kan, yang berbunyi: “Adakah engkau ketahui orang yang mendustai agama? Yaitu orang-orang yang tidak memperdulikan anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin?” QS 107 – 1-3). Selain itu dalam berusaha lingkungan harus dirawat juga. Ingat kan ayat yang bebunyi: “Telah tampak kerusakan di muka bumi akibat ulah tangan manusia”. Terlihat Allah tidak suka dengan orang yang merusak alam..

Gaya Dalam Sholat

Yang ku maksud dalam gaya sholat adalah tata cara sholat sesuai kondisi yang kita alami. Ada tatacara sholat dalam kondisi normal, ada cara jika kita sakit, ada cara sholat dalam kondisi ketakutan. Aku memaknainya: strategi dalam berperang / berusaha harus disesuaikan dengan kondisi lapangan yang sedang dihadapi. Jadi strategi itu bersifat fleksibel. Yang penting semua dilakukan dengan satu komando imam (panglima / CEO) dan terkoordinir. Terus mengapa jika kita sakit, tetap saja harus sholat. (Puasa aja boleh ditinggal kalo sakit, zakat aja ada PTKZ nya (Penghasilan Tidak Kena Zakat), naik haji hanya wajib jika mampu, tapi tidak ada excuse untuk sholat). Aku tafsirkan, seberapa burukpun kondisi atau keadaan hidup kita, kita wajib berusaha (sholat) semampu kita. Jadi orang miskin, bodoh, cacat (sakit) berusaha sesuai kemampuan kemiskinannya, kebodohannya, kecacatannya. Sedang orang kaya, sehat, pintar, apalagi, wajib-wajib banget berusaha dan berupaya sesuai dengan anugerah yang telah diberikan Allah pada mereka.

Sholat-sholat sunnah berjamaah

1. Sholat idul fitri & idul adha.

Diantara sholat sunnah, ada yang berjenis sholat sunnah mu’akad. Sholat sunnah yang dipentingkan, yaitu sholat idul fitri dan idul adha. Ini rutin dilaksanakan umat muslim 2x setahun. Disunnahkan untuk semua orang  hadir dalam sholat ini. Kupikir  sholat ini terkait dengan salam pada akhir sholat. Sholat harus mempunyai dampak positif pada lingkungan sekitar. Nah sholat idulfitri dan sholat idul adha ibaratnya seperti  Rapat Umum Pemegang Saham yang diadakan 2x setahun, untuk mempertanggung jawabkan usaha-usaha para pelaku ekonomi selama ini. Masyarakat adalah pemegang saham dari sumber daya alam yang digunakan oleh para pelaku ekonomi. Terbukti bahkan wanita yang sedang haid pun disunnahkan untuk hadir dalam “rapat umum tersebut”. Berarti semua masyarakat berhak untuk tahu. Dan kita tahu pula bahwa pada akhir puasa tersebut, diwajibkan bagi muslim yang mampu untuk membayar zakat fitrah dan pada hari raya idul adha, yang mampu diminta untuk melakukan Qurban. Ini bisa diibaratkan perusahaan yang berhasil meraih laba, membagi-bagikan deviden bagi para pemegang saham.

2. Sholat sunnah lain, sholat istisqo dan sholat gerhana

Sholat ini dilakukan sesuai keadaan yang dihadapi. Jadi kalo kemarau panjang, kita bisa memohon pada Allah melalui sholat minta hujan, dan jika ada gerhana kita juga disunnah kan untuk sholat. Aku memaknai ini adalah strategi alternatif dan pelengkap dalam kita berusaha. Adakalanya bisnis mengalami kemarau panjang, atau mengalami gerhana, alias tertutup oleh merek lain yang terkenal, sehingga produk kita cuma sedikit yang mengenalnya. Pada situasi khusus seperti ini tentu harus ada upaya tambahan,  strategi alternatif dan pelengkap dari upaya wajib yang kita lakukan selama ini.

PENUTUP

Pembaca yang dirahmati Allah,  sekarang kita bisa memaknai sholat-sholat yang kita lakukan dengan cara yang berbeda dengan yang biasa. Jadi jikalau kita sholat dan imam membaca ayat, dan kita mendengarkannya, kita bisa memaknai bahwa waktu pemimpin atau bos di kantor sedang bicara dalam rapat, berarti kita harus mendengarkannya, kalau bos kurang benar, kita kasi tau, kalau memang tau. Terus sekarang kita juga tau, mengapa setiap kali ada ayat mengenai sholat, sering digandeng dengan zakat..waaqimussholah, wa atauzzakah. Dirikanlah sholat dan bayarkanlah zakat. Kalo dipikir kenapa orang sholat trus kudu bayar zakat? Ya iyalah, kaya iklan pajak aja kan, orang baik taat pajak. Jadi orang yang rajin sholat itu kan berarti orang yang rajin berusaha. Kalau rajin berusaha kudunya kan termasuk orang beruntung alias dapat profit (laba). Dimana-mana laba usaha itu kena pajak, jadi bayarlah zakat. Zakat akhirnya akan digunakan untuk kemaslahatan umat. Berarti sholat memang membawa rahmat bagi sekalian alam. ”Jadi terlihatlah hasil sujud kita di muka  kita”. Ayat ini sering diartikan orang yang rajin sholat (lama sujudnya) maka hasilnya akan terlihat tanda biru dikeningnya (kapalan). Bayangkan jika semua umat islam mengartikan sesederhana ini. Yang ada kita ga kerja-kerja. Selayaknyalah itu diartikan: ”Hasil usaha atau kerja kerasmu (sholat) akan terlihat di depan (muka) mu”. Kalau kita rajin berusaha dan dengan cara yang benar, insha Allah hasil akan segera terlihat. Bayangkan jika semua umat muslim rajin berusaha dan dengan cara-cara yang lurus trus tidak lupa menafkahkan sebagian hasil usahanya untuk orang lain. Pasti tidak ada orang miskin, pasti tidak ada anak yatim gembel dan putus sekolah, pasti tidak ada global warming gara-gara eksploitasi sumber daya alam secara tidak bertanggungjawab, pasti lingkungan kita hijau dan menarik, pasti tidak ada kesulitan air bersih, tidak ada bencana kelaparan dan banyak pasti-pasti lainnya. Terbentuklah surga dunia itu. Maka terbuktilah islam adalah rahmatan lil alamin.

Terkait dengan hari akhir. Kita tau bahwa yang pertama kali yang dihisab adalah sholat kita. Jika sholat kita baik, maka akan dilanjutkan dengan perhitungan amal-amal lainnya. Jika tidak, maka amal-amal lain tidak dilihat. Jadi jika kita mengartikan sholat adalah usaha… (Waaaaaaaaaaaaaa. Kayanya sholat ku belum benar. Daku kayanya belum begitu berusaha keras dalam hidup ini….daku masih suka membuang-buang waktu untuk hal-hal tak bermanfaat, daku kadang masih suka cuek sama lingkungan, kadang suka malas menyirami bunga, tanaman yang sudah daku tanam sendiri, gimana dong ???) Tapi tidak heran mengapa sholat yang pertama kali dihisab. Karena sholat adalah tiang agama. Tiang rubuh maka rumah rubuh.  Bisa diartikan juga sholat juga adalah tiang sebuah negara. Sholat rubuh, negara rubuh. Jika umat suatu negara rajin sholat (rajin berusaha), maka orang-orang dalam negara itu adalah orang-orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain (menyebar keselamatan (salam) dan kesejahteraan (berkah)), maka negarapun akan adil dan sejahtera. Akhirul kalam biar kita tidak stres-stres amat mikirin apa sholat kita dah benar atau belum ada ayat yang mengatakan ”Sesungguhnya usaha kamu itu berbeda-beda”. (Makanya kita liat, lain mazhab kadang agak sedikit berbeda tatacara sholatnya. Yg penting tujuannya sama). Ayat ini agak sedikit menghibur. Karena Allah tau usaha kita itu berbeda-beda. Ada yang usaha jadi dosen, ada yang usaha jadi penulis, ada yang usaha jadi wartawan, ada yang usaha jadi pedagang, jadi dokter, jadi insinyur atau yang jadi mahasiswa, jadi murid, jadi tukang sampah, jadi tukang baso, jadi mbok jamu dlsb. Jadi sewaktu kita sedang bekerja, berarti kita sedang sholat. Dan ya kita usahalah bekerja dengan baik, dengan jujur, fokus penuh komitmen dan usahakan pekerjaan kita banyak bermanfaat bagi orang lain.. karena sebaik-baiknya orang adalah orang yang banyak manfaatnya bagi orang lain… So selama sudah usaha keras khusu’ (dalam artian seluas-luasanya) dalam bekerja  dalam berusaha (sholat), mungkin masih ada tempat buat kita di surga…(kudu tetap optimis dan berprasangka baik kan sama Allah). Amin

*** SEKIAN ***

SUNK COST, KEYNESIAN LAW VS TYPE OF MAN,

SUNK COST, KEYNESIAN LAW VS TYPE OF MAN,

MATCHING COST AGAINTS REVENUE

By : Hessy Zainal

Isnin, 12 Ramadhan 1428 H

Pada suatu hari aku mengajar Akuntansi Biaya untuk mahasiswa yang duduk di semester 3. Pada hari tersebut bab yang akan dibahas adalah bab mengenai konsep biaya. Pengenalan konsep biaya sangat penting bagi seorang akuntan maupun manajer karena terkait dengan pengambilan keputusan. Untuk memudahkan penjelasan, biasanya aku menggunakan contoh-contoh. Dari pengalaman mengajar belasan tahun, jika aku menggunakan contoh yang terlalu serius seperti yang  terjadi di dunia usaha, biasanya mahasiswa akan kesulitan untuk memahami contoh tersebut, apalagi konsepnya. Untuk itu aku biasanya akan mengambil contoh pada kehidupan yang dekat dengan mahasiswa, baru masuk ke contoh dunia bisnis. Metode ini biasanya lebih pas dan nyantol dibenak mahasiswa. Salah satu contoh adalah penjelasan mengenai konsep biaya kesempatan (opportunity cost). Jika secara definisi, opportunity cost adalah kesempatan yang hilang akibat memilih sebuah alternative. Aku biasanya memberi contoh sebagai berikut:

            Misalnya kamu cuma mempunyai uang Rp 10.000 untuk biaya makan siang. Dengan uang Rp 10.000 tersebut sebenarnya kamu mempunyai berbagai macam alternative pilihan sebagai menu makan siang. Kamu bisa pilih nasi ayam kremes, mie goreng, mie yamin atau mie baso, atau nasi

padang

. Jika kamu memilih untuk makan 1 porsi nasi

padang

, maka kamu kehilangan kesempatan untuk makan nasi ayam kremes, mie goreng, mie yamin, atau mie baso. Nah kesempatan yang hilang itulah yang disebut dengan opportunity cost. Jika dianalogikan ke perusahaan, uang Rp 10,000 adalah dana yang dimiliki perusahaan untuk melakukan investasi. Dengan dana sekian, perusahaan mempunyai berbagai alternative. Bisa investasi pada saham, investasi pada obligasi atau mungkin membuat sebuah proyek baru. Investasi yang tidak dipilih adalah opportunity cost. Biasanya mahasiswa manggut-manggut kalau urutan penjelasan seperti itu. Tapi kalau langsung, jangan harap mereka manggut-manggut, yang ada bengong menatapku..Paling satu, dua mahasiswa yang langsung paham. Tidak terpikir oleh mereka bahwa perusahaan pun sebenarnya mempunyai keterbatasan dana, sama seperti keterbatasan dana makan siang mereka.

Itu adalah salah satu contoh untuk menjelaskan konsep biaya. Yang sulit lagi adalah menjelaskan konsep biaya tertanam (sunk cost) dan biaya relevan (relevan cost).  Jika aku membacakan definisinya, seringkali mahasiswa bingung. Dengan pemberian contoh, baru mereka paham. Pada dasarnya sunk cost adalah biaya yang tidak perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan karena sudah terjadi, sedangkan yang relevan diperhatikan adalah differential cost yaitu perbedaan biaya diantara sejumlah alternative yang bisa dipilih. Seperti biasa aku akan mengambil contoh yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Dan biasanya contoh ini akan membuat kelas riuh rendah karena mereka tertawa. Tapi lumayan untuk menghangatkan suasana kelas. Apalagi jika aku mengajar siang hari, aku harus sedikit melucu agar mata mahasiswa tetap ON. Inilah contoh yang ku berikan:

            Misalkan kamu (yang cowok) sekarang sudah memiliki seorang pacar. Pacar kamu itu doyan sekali makan alias high cost kalo ngajak dia ngedate. Jadi kalo hari Sabtu ngedate sama dia neh, kudu nyiapin uang segepok. Karena sebelum nonton, harus makan siang dulu, dah gitu ga mau level warteg, minimal fast food. Waktu nonton kudu beli pop corn and soft drink. Setelah nonton minta ditraktir makan baso atau ice cream lagi sebagai hidangan penutup kencan. Kalo ice cream ga mau yang ice cream conenya Mc D, minimal Sundae Oreo. (Mahasiswa sudah tertawa biasanya, mereka pikir  ni cewek pasti gendut banget ya. Padahal

kan

ada orang yang makannya banyak tetap langsing ya?).

Terus saya bilang: “Tiba-tiba kamu naksir lagi seorang cewe lain, yang lebih oke dari pacar kamu yang sekarang. Kebetulan cewe itu juga naga-naganya naksir kamu juga. Nah kebetulan kamu juga dah empet banget sama pacar kamu yang sekarang, karena high cost nya itu. Pertanyaannya: Dalam mengambil keputusan untuk putus dari pacar yang lama dan beralih ke cewe yang baru, apakah kamu akan memikirkan uang kamu yang sudah “tertanam” ditubuh pacar kamu itu?

Kan

sudah banyak tu “investasi” kamu di dia. Sudah traktir makan berapa kali dan nonton sekian kali…Apa ga merasa rugi kalo mutusin dia?”  Biasanya serentak satu kelas akan menjawab: “Ga Buuuuuuuu…” Ku timpali lah kemudian. “Itulah yang dimaksud dengan sunk cost. Biaya yang sudah kamu keluarkan untuk mentraktir pacar kamu tadi itu, tidak relevan dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan untuk mutusin dia. Karena biaya itu sudah tertanam dan sudah tidak bisa diapa-apakan lagi. Jadi ikhlasin aja lah…lillahi taala, itung-itung ikut ngedein anak orang.”  Hua..ha..ha… kelas tambah riuh rendah.

Lalu untuk menjelaskan differential cost, saya memberi contoh berikut. “Ternyata kamu tidak hanya naksir satu cewe, ada 2 cewe yang kamu taksir. Dan alhamdulillah dua-duanya cantik dan sama-sama mau juga sama kamu. Nah timbul dilema

kan

.. Yang mana yang mau dipilih. Dua-duanya

kan

ga mungkin karena satu kampus. Ntar ketauan dong kamu berpoligami. Jadi kamu harus milih satu. Disamping itu ada keterbatasan dana kencan yang kamu miliki sehingga tidak memungkinkan untuk berpoligami..Cewe yang satu, cantik, langsing, ga suka makan, tapi suka dandan, maunya kemana-mana diantar pake mobil minimal taxi. Dandannya oke, karena branded alias bermerk semuanya. Sedang cewe yang satunya lagi ga secantik yang pertama sih, tapi lumayan manislah, langsing juga, ga doyan makan, dan dandannya sederhana dan bersedia ngedate naik bis.”. Lalu ku coba menunjuk salah seorang mahasiswa pria:

”Kamu pilih yang mana mas?”  Dia menjawab ”Pilih yang sederhana bu.” 

”Kenapa?” balik ku bertanya. Mahasiswa itu menjawab ”Ongkosnya lebih murah bu, ngirit”. Hua..ha..ha… teman-temannya tertawa.

”Nah itulah dia yang disebut dengan differential cost, ada perbedaan biaya antar dua alternative”. Kataku, dan kusambung sambil memandang mahasiswa wanita dan dengan setelan wajah jail ”Ntar jangan mau jadi cewenya ya, pelit soalnya… ”…Ha..ha…ha… kelas riuh rendah.

Eh tau-tau teman yang duduk disebelah mahasiswa pria yang  ku tanya tadi nyeletuk : ”Ga bu, kalo saya milihnya tergantung situasi kantong”. Wah ternyata dia berbeda pendapat, aku tidak membahasnya hanya tertawa saja. Tapi ini membuat ku berpikir ternyata ga semua cowo ya menganut hukum Keynes bapak Ekonomi itu.

Keynesian Law VS Type of Man

Berdasarkan cerita tadi aku jadi berkesimpulan, bahwa ada dua golongan besar atau type cowok di dunia (Tentu ada beberapa turunan varian, hanya tidak dibahas disini). Kelompok pertama adalah cowo kapitalis sejati. Mereka adalah penganut hukum Keynes dimana dengan modal sesedikit mungkin untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin. Kelompok inilah yang menggunakan biaya differential dalam mengambil keputusan untuk memilih pacarnya. Jadi pilihan akan jatuh pada gadis yang berbiaya rendah, ekonomis tapi cantik dan langsing. Ini seperti mahasiswa pria yang pertama ku tanya. Sedangkan golongan kedua adalah cowo kapitalis moderat. Kenapa dibilang kapitalis, karena masih tetap memperhitungkan biaya, hanya saja perhitungannya cukup moderat. Cowo tipe ini bisa saja memilih pacar dengan biaya yang agak tinggi, walaupun pada saat yang sama dia juga mempunyai pilihan untuk mempunyai pacar dengan biaya yang rendah. Adapun dasar pengambilan keputusan adalah:

Ada

barang ada harga. Jadi selama biaya yang dikeluarkan worth it, why not. Mereka berpikir ada intrinsic value yang mungkin diperoleh dari cewe high class. Misalnya menaikkan gengsi…Ini seperti mahasiswa pria yang nyeletuk tadi..

Matching Cost against Revenue

Ini adalah salah satu prinsip yang digunakan dalam akuntansi untuk menyusun laporan laba rugi (income statement) sebuah perusahaan. Menurut prinsip ini, yang boleh diperhitungkan dalam laporan laba rugi, adalah beban-beban (expenses) yang dikeluarkan pada periode yang sama untuk menghasilkan pendapatan (revenue) pada periode yang sama pula. Jadi jika ada pendapatan diterima dimuka, sedangkan pekerjaan belum dilaksanakan maka belum boleh dianggap sebagai pendapatan melainkan masih dianggap hutang. Terus apa hubungannya dengn topic kali ini. Ternyata ada. Aku sampai takjub. Ternyata  prinsip ini juga digunakan dalam siklus kehidupan manusia. Perhatikan dengan seksama:

 

Pada periode pacaran, focus pria ada pada pengeluaran. Untuk memilih pacar mereka akan menghitung-hitung berapa uang (expense) yang akan keluar untuk mendanai pacar atau kencan dengan pacarnya. Sedang wanita, pada periode ini akan fokus pada berapa banyak yang bisa dia peroleh (revenue) dari pria yang menjadi pacarnya. Jadi matching

kan

.. Pria melihat dari segi cost, wanita melihat dari segi revenue, Matching cost againts revenue, pada periode yang sama.

Pada periode menikah atau berumah tangga, masih matching, tapi dengan posisi terbalik. Sebagai kepala rumah tangga, pria akan focus mencari revenue sebanyak-banyaknya untuk membiayai rumah tangganya. Sedangkan sebaliknya wanita akan focus pada seberapa banyak pengeluaran (expense) yang bisa dilakukan berdasarkan revenue yang dihasilkan suami. Sekali lagi tetap matching

kan

? Tentu tetap harus pada periode yang sama…hua..ha..ha…

PENUTUP

Akhirul kalam tiada kata yang ingin ku ketikkan selain ternyata :  AKUNTANSI UNTUK SEMUA… (Kaya iklan SCTV aja ya, Ramadhan untuk semua, SCTV untuk Semua. Ternyata Akuntansi juga bisa untuk semua)…ha..ha…ha…